Tantangan Dalam Mengembangkan Energi Surya Di Indonesia


Kedatangan Luhut disambut Direktur Utama PT Len Industri, Abraham Mose. Sebelum meninjau ke sejumlah fasilitas produksi, Luhut mendapat pemaparan terkait transformasi bisnis dan sasaran strategis PT Len dari 2015-2019, yakni di bidang energi terbarukan (renewable energy), sistem transportasi kereta api (railway transportation system), sistem informasi dan komunikasi (information and communication system), sistem kontrol dan elektronik pertahanan (defence electronic and control system), serta sistem navigasi (navigation system).

PT Len memiliki proyek-proyek investasi dari 2015-2019 senilai Rp 5,5 triliun, yakni di bidang transportasi kota berbasis rel (4 proyek investasi light rail transit/LRT), proyek Independent Power Producer (IPP) non renewable energy 100 megawatt (MW), proyek IPP Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 megawatt peak (MWp), serta proyek IPP Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) 50 MW.

PT Len yang kini memiliki total aset sekitar Rp 2,5 triliun itu juga merencanakan berinvestasi untuk mengembangkan bisnisnya dengan nilai investasi selama 5 tahun Rp 1,7 triliun, yaitu berupa pembangunan Len Technopark, semacam fasilitas produksi utama PT Len, fasilitas inovasi produk dan pengembangan, serta fasilitas manajemen. Pembangunannya dimulai tahun ini di Kabupaten Subang, Jabar. Len Technopark juga diproyeksikan menjadi semacam Silicon Valley, pusat teknologi di Amerika Serikat.

“Pembebasan lahan untuk Len Technopark sudah dilakukan seluas 10 hektar. Pembangunan tahap pertama juga sudah dilaksanakan, di antaranya untuk proyek rudal Startreak di bidang elektronik pertahanan. Bahkan untuk lahan, kini diupayakan pula diperluas lagi menjadi sekitar 26 hektar,” kata Abraham Mose.

Direncanakan yang akan dibangun dalam Len Tenchnopark meliputi fasilitas pertahanan (rudal startreak) dan industri radar pertahanan (kapasitas produksi 15 unit per tahun), pabrik sel surya (kapasitas 100 MWp per tahun), dan pabrik modul/panel surya (kapasitas 60 MWp per tahun) guna menghasilkan energi dengan mengubah sinar matahari menjadi listrik. Pembiayaan Len Technopark mengandalkan dari dana Penyertaan Modal Negara (PMN) Tahun 2016 Tahap I sekitar Rp 1,25 triliun, di antaranya untuk pembangunan pabrik sel surya dan pabrik panel surya, serta proyek IPP PLTS kapasitas 20 MWp.

Abraham menjelaskan, pembangunan pabrik sel surya dan panel surya sangat penting untuk mendukung pemenuhan 100 persen rasio elektrifikasi tahun 2019, juga menunjang ketahanan energi. Terkait internal rate of return (IRR) atau kelayakan investasi relatif bagus, yakni sebesar 14 persen untuk pabrik sel surya dan pabrik panel surya dengan pendapatan berkisar 80 juta dolar AS per tahun.

Diproyeksikan, akumulasi dalam 5 tahun laba bersih PT Len dengan adanya PNM tahun 2016 itu mampu mencapai Rp 996 miliar. Peningkatan pendapatan tahun 2017 sebesar Rp 600 miliar hingga Rp 2 triliun (tahun 2019), juga peningkatan laba bersih tahun 2017 sebesar Rp 50 – Rp 200 miliar (tahun 2019). Akumulasi laba bersih PT Len dalam 5 tahun terakhir (2010-2014) mencapai Rp 252,74 miliar.

Namun yang patut dicermati terkait pembangunan pabrik sel surya dan pabrik panel surya di Subang itu masih terfokus pada industri di kawasan hilir dalam urusan fotovoltaik. Yakni sektor yang berhubungan dengan aplikasi panel surya untuk menghasilkan energi dari sinar matahari menjadi listrik. Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menguasai dari hulu.

Komisaris Utama PT Len Industri Arifien Habibie mengungkapkan, amat disayangkan Indonesia yang banyak memiliki gunung berapi yang kaya dengan unsur mineral Silika (Silikon dioksida/ SiO2) sebagai bahan baku atau komponen sel surya, tapi sampai saat ini Indonesia baru mampu membuat modul/panel surya.

“Pemerintah perlu segera mengambil peluang yang lebih besar lagi di hulu dengan menguasai industri pengolahan pasir silika hingga pembuatan wafer, yang selanjutnya dibuat menjadi sel surya. Sampai saat ini, komponen sel surya masih diimpor dari Tiongkok, sehingga produksi masih berbiaya tinggi. Padahal Tiongkok juga memperoleh silika dari Indonesia. Cadangan pasir silika sangat besar, yakni 17 miliar meter kubik ton,” kata Arifien Habibie.

Menurut Abraham, apabila pengolahan pasir silika hingga wafer dapat dibuat di dalam negeri, maka Indonesia mampu menguasai proses dari hulu hingga hilir, yakni sampai pada pembuatan sel surya dan panel surya. Dampaknya lebih kurang 50 persen dapat menurunkan harga produksi, biaya tenaga kerja relatif lebih murah, devisa negara yang diperoleh pun akan makin besar.

Vice President Divisi Pengembangan Bisnis dan Investasi PT Len Industri, Bambang Iswanto, mengemukakan, penguasaan proses di hulu sangat memungkinkan bekerja sama dengan PT Antam (Persero) Tbk atau PT Timah (Persero) Tbk. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengemukakan, produk PT Len berupa panel surya sangat berpeluang untuk digunakan di wilayah Jabar, karena adanya program listrik desa yang rata-rata 70.000 rumah setiap tahun harus dipasok listrik.

Proyek Len Technopark hingga pengolahan pasir silika di hulu merupakan investasi masa depan yang bersifat jangka panjang. Pemerintah perlu cepat menangkap peluang besar ini. Di sisi lain, proyek ini pun harus dikaji secara komprehensif, sehingga dapat bersaing di tingkat global.

One response to “Tantangan Dalam Mengembangkan Energi Surya Di Indonesia

  1. Energi surya memang dapat menjadi alternatif di Indonesia, tapi saya rasa balik lagi kepemerintah dan rakyat mau bekerja sama atau tidak mambangun hal itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s