Cacing Cacing Juga Bermunculan dan Berbaris Di Texas


Di Texas, Amerika Serikat, juga ditemukan cacing-cacing yang bermunculan dari tanah. Anehnya, mereka seperti berkerumun dan ‘berbaris’ di garis tengah jalan tol. Kawasan tempat kemunculan cacing itu memang baru saja dilanda banjir besar baru-baru ini. Tapi kemunculan cacing dan posisinya yang ‘berbaris’ itu menimbulkan tanda tanya tersendiri. Ribuan cacing berkerumun dalam kelompok-kelompok, persis spageti, di Eisenhower State Park di Denison, Texas. Ranger di taman itu mengatakan, cacing-cacing itu membentuk barisan kerumunan cacing di tengah jalan, di garis pemisah.

“Kami masih bertanya-tanya, mengapa mereka berbaris di tengah jalan,” kata Ben Herman, pengawas taman itu, kepada ABC News. Kemunculan cacing dari dalam tanah bukanlah hal baru. Selain pengaruh musim penghujan, ada juga kasus kemunculan cacing sebelum terjadinya gempa bumi. Tapi kemunculan cacing di Texas ini aneh betul. Ada yang menduga itu ada kaitan dengan banjir dan posisi jalan raya yang memang paling tinggi dari area sekitarnya. Dan garis tengah jalan raya adalah area tertinggi di jalan itu.

Cacing disebut memang suka berkumpul dalam kelompok besar dan saling berkomunikasi melalui kontak tubuh. Mereka cenderung berkerumun secara massal ketika ada kondisi yang tak semestinya dan mencari tempat yang aman bersama-sama. Munculnya cacing-cacing tanah ke permukaan dan pesan berantai telah meresahkan warga Yogyakarta dan sekitarnya, yang pernah menjadi korban gempa dahsyat pada 2006. Meski para pakar yang dihubungi mengatakan fenomena itu tak ada kaitannya dengan gempa besar, wajar saja jika warga resah. Soalnya, sebelum gempa besar melanda Yogyakarta pada 27 Mei 2006, fenomena yang sama terjadi. Tak cuma cacing, perilaku aneh juga diperlihatkan burung, ular, dan hewan lainnya.

Munculnya cacing-cacing tanah di permukaan mulai terjadi sekitar 10-12 hari sebelum gempa melanda. Saat itu musim kemarau dan cacing bermunculan di mana-mana, tak hanya di permukaan tanah. Kemunculan cacing makin tinggi sekitar dua hari sebelum gempa terjadi. Tapi untuk fenomena yang disebut terjadi baru-baru ini, Kepala Badan Geologi Surono mengatakan fenomena itu lebih kepada masa transisi musim hujan ke musim kemarau.

Mbah Rono, demikian ia akrab dipanggil, mengatakan tak yakin selama selama sembilan tahun sejak 2006 ada energi yang cukup untuk menyebabkan gempa sebesar 2006. Gempa besar di kawasan Yogyakarta, kata Mbah Rono, pernah juga terjadi pada 1943. Artinya perlu cukup waktu yang lama untuk kemudian terjadi gempa yang besar pada 2006. Profesor Sunarno dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada juga berpendapat serupa. Menurutnya, masyarakat tak perlu panik karena fenomena cacing lebih kepada perubahan musim. Lagi pula, menurut Sunarno, belum ada bukti empirik bahwa keluarnya cacing dari dalam tanah kemudian akan disusul terjadinya gempa bumi

asyarakat Yogyakarta heboh dengan munculnya fenomena cacing tanah yang keluar dari dalam tanah dalam keadaan lemas. Situasi ini mengingatkan pada keadaan sebelum terjadinya gempa besar pada 2006. Tapi pakar yang dihubungi CNN Indonesia menyatakan fenomena itu tak ada hubungannya dengan gempa. Kepala Badan Geologi Surono mengatakan fenomena itu lebih kepada masa transisi musim hujan ke musim kemarau.

Mbah Rono, demikian ia akrab dipanggil, mengatakan tak yakin selama selama sembilan tahun sejak 2006 ada energi yang cukup untuk menyebabkan gempa sebesar 2006. “Gunung Merapi pun dalam status yang normal,” katanya . Gempa besar di kawasan Bantul, Yogyakarta, kata Mbah Rono, pernah juga terjadi pada 1943. Artinya perlu cukup waktu yang lama untuk kemudian terjadi gempa yang besar pada 2006. Masyarakat, kata Mbah Rono, tak perlu panik. Namun tetap diminta selalu waspada sebab ada atau tidak fenomena cacing, kawasan selatan Pulau Jawa memang termasuk rawan gempa.

Menurut Mbah Rono, pihaknya selalu memantau aktivitas tektonik maupun vulkanik di sekitar Yogyakarta. Namun kedatangan gempa, katanya, tak bisa diramalkan oleh siapapun. Profesor Sunarno dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada juga berpendapat serupa. Menurut ahli fisika ini, masyarakat tak perlu panik karena fenomena cacing lebih kepada perubahan musim. Lagi pula, menurut Sunarno, belum ada bukti empirik bahwa keluarnya cacing dari dalam tanah kemudian akan disusul terjadinya gempa bumi.

Alat Early Warning System (EWS) yang dimiliki Sunarno dan timnya pun tak mendeteksi adanya aktivitas bumi yang patut dikhawatirkan akhir-akhir ini. “Semua dalam keadaan stabil,” tuturnya. Sunarno menduga, keluarnya cacing dari dalam tanah terjadi karena perubahan kelembaban tanah ke arah musim kemarau. “Cuaca akhir-akhir ini pun sering cepat berubah, mendung mendadak yang berarti terjadinya kondensasi karena penguapan air tanah yang cukup besar,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s