Cara Menggunakan Mortar Untuk Mencegah Ubin dan Keramik Pecah dan Retak


Selama ini, masyarakat cenderung tidak memperhatikan bagaimana mengaplikasikan perekat ubin, pengisi nat, pelapis anti bocor, pelapis batu alam, dan aplikasi acian. Akibatnya, ubin atau keramik mudah pecah atau rusak. Produsen perekat ubin PT Adiwisesa Mandiri telah mengedukasi masyarakat, khususnya para tukang dan kontraktor, dengan mengadakan workshop atau pelatihan selama sehari penuh sejak 2012.

Menurut Direktur PT Adiwisesa Mandiri Building Albertus Indra Sasmitra, kesadaran masyarakat dalam menggunakan mortar atau perekat, masih sangat kurang. “Di Indonesia masih kecil kesadaran untuk memakai mortar. Untuk high rise memang sudah umum digunakan. Tapi kalau untuk residensial, sebagian besar masih konvensional,” ujar Albertus, di Kantor Pusat AM, Jakarta, Rabu (20/5/2015).

Hingga saat ini, lanjut Albertus, konsumen senang memilih keramik, keran, atau toilet. Konsumen bahkan mau datang langsung ke toko. Namun, menempel benda-benda tersebut pada permukaan atau media tertentu, tidak pernah dipikirkan dan menyerahkannya pada tukang. Sayangnya, seringkali para tukang mempertahankan metode konvensional, yaitu dengan cara mengayak pasir, baru kemudian dicampur dengan air. Metode seperti ini tidak efektif karena menghabiskan waktu dan tenaga. Kesadaran konsumen dalam menggunakan perekat ubin atau mortar diakui masih kurang. Masyarakat masih bertahan dengan cara konvensional. Perekat cara lama dihasilkan dengan mengayak pasir dan semen, kemudian dicampur air.

Meski sudah membudaya dalam proses konstruksi, menurut Direktur PT Adiwisesa Mandiri Building Albertus Indra Sasmitra, lama kelamaan metode ini akan ditinggalkan oleh kontraktor. “Penggunaan perekat sudah sangat populer di Eropa, Amerika, dan negara-negara maju lainnya. Di Indonesia, masih sedikit sekali yang sudah menggunakan mortar,” ujar Albertus di Kantor Pusat AM, Jakarta, Kamis (20/5/2015). Ia menuturkan, penggunaan perekat mulai umum digunakan pada bangunan-bangunan tinggi. Sementara di residensial, keberadaannya masih sangat jarang. Penyebabnya, para tukang yang biasa disewa oleh pemilik bangunan, tidak memahami betul bagaimana mengaplikasikan perekat.

Selama ini, tukang-tukang yang bekerja membangun rumah tidak menjadikan pekerjaannya sebagai profesi tetap. Mereka dasarnya adalah petani yang pada saat sepi atau masa tidak panen, baru pergi ke kota untuk menjadi tukang. Dengan demikian, wajar saja para tukang ini tidak paham betul tentang konstruksi bangunan yang baik. Sementara para konsumen seringkali lebih tertarik memilih sendiri keramik, cat, keran, atau toilet. Untuk perekat, konsumen menyerahkan kepada tukang. Karena para tukang ini tidak fokus dalam pekerjaannya serta masih menggunakan metode lama, tidak jarang kualitas perekat yang dihasilkan di tiap proyek, berbeda-beda.

Selain itu, jika menggunakan metode lama, lanjut Albertus, banyak kesempatan untuk mengakali bahan-bahan perekat. Misalnya, pada tempat-tempat di rumah yang jarang dilewati, atau area yang tidak dibebankan furnitur berat, maka campuran pasirnya lebih banyak daripada semen. “Kalau menggunakan perekat yang sudah ada, tidak perlu lagi mengayak dulu. Kadar adonannya sudah pas, pasirnya pun pilihan,” kata Albertus.

Dengan menggunakan perekat baru, tambah dia, konsumen tidak perlu khawatir kualitasnya akan berkurang. Mortar yang baik harus bisa menjamin mutu lantai tidak akan meledak. Untuk mengedukasi tukang dan stakeholder, Adiwisesa pun menyediakan Truck Wacker sejak 2013. Truk ini merupakan fasilitas dari perusahaan untuk memberikan informasi bagaimana mengaplikasikan perekat ubin, pengisi nat, pelapis anti bocor, pelapis batu alam, dan aplikasi acian dengan benar.

Melalui truk ini, konsumen atau tukang, bisa mendapatkan penjelasan langsung dari pegawai Adiwisesa. Kegiatan ini merupakan rangkaian program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan melalui program “Ayo Membangun” di Jakarta. “Sebelumnya kita rutin mengadakan workshop, kita yang mendatangi. Tahun ini diubah penyampaiannya, yaitu dengan menyediakan wadah untuk edukasi bagaimana membangun rumah yang baik,” ujar National Sales & Marketing Manager Jenmie Srihartaty.

Selain itu, metode ini juga tidak menjamin kualitas perekatnya kuat dan tahan lama, karena bisa saja campurannya kurang. Padahal, fungsi mortar yang baik harus memiliki jaminan mutu bagus, misalnya tidak membuat ubin meledak (popping). Pemakaian mortar juga memungkinkan konsumen tidak perlu membongkar ubin seluruhnya, namun bisa langsung ditimpakan dengan ubin yang baru. Hal ini cukup disarankan, karena selain lebih bersih juga hemat waktu.

Mulai 2013, Adiwisesa menggagas cara pengedukasian baru yaitu menyediakan satu truk khusus bernama Truck Wacker. Melalui truk ini, konsumen atau tukang, bisa mendapatkan penjelasan langsung dari pegawai Adiwisesa. Kegiatan ini merupakan rangkaian program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan melalui program “Ayo Membangun” di Jakarta. “Sebelumnya kita rutin mengadakan workshop, kita yang mendatangi. Tahun ini diubah penyampaiannya, yaitu dengan menyediakan wadah untuk edukasi bagaimana membangun rumah yang baik,” ujar National Sales & Marketing Manager Jenmie Srihartaty.

Jenmie menuturkan, perusahaan tengah mencanangkan 100 acara di 7 cabang AM untuk mengedukasi masyarakat. Mereka bekerja sama dengan para mitra yang punya visi serupa, yaitu pemasok bahan baku dari Jerman. Sudah sewajarnya konsumen menggunakan mortar sebagai perekat karena hemat waktu, lebih bersih, dan efisien.

Produksi mortar atau perekat menjadi salah satu indutri penunjang properti yang menjanjikan. Pasalnya, belum banyak yang memahami pentingnya perekat ini di dalam konstruksi bangunan. Direktur PT Adiwisesa Mandiri Building Albertus Indra Sasmitra mengatakan hal tersebut di Kantor Pusat AM, Jakarta, Rabu (20/5/2015). “High rise building setidaknya di atas 50 persen yang sudah menggunakan perekat. Residensial masih sangat sedikit,” ujar Albertus.

Ia menuturkan, penggunaan perekat sudah sangat populer di Eropa, Amerika, dan negara-negara maju lainnya. Namun tidak demikian di Indonesia. Para kontraktor ataupun tukang, masih menggunakan metode lama, yaitu membuat perekat sendiri. Mereka bertahan dengan cara lama ini karena berpikir biayanya lebih murah dibandingkan membeli perekat instan seperti yang diproduksi oleh Adiwisesa. Meski begitu, Albertus yakin metode ini lama kelamaan akan tergerus oleh waktu.

Nantinya, end user atau konsumen lebih menginginkan perekat yang instan. Hal ini dimungkinkan karena rumah-rumah yang ada saat ini, khususnya di kota besar, memiliki halaman yang kecil. Sementara pasir yang diayak untuk membuat perekat, membutuhkan tempat yang luas. Dengan demikian, jika pemilik ingin mengganti keramik atau ubin dan para tukang bertahan dengan cara lama, mau tidak mau, pasir harus diayak di luar halaman rumah atau di jalan. “Tahu sendiri kalau mengayak itu butuh paling tidak 5 meter. Itu tidak sedikit lho. Lama-lama bisa ganggu tetangga juga,” jelas Albertus.

Ada pun pada bangunan tinggi di atas lima lantai, tambah dia, mengayak juga menyulitkan. Ia menggambarkan, para tukang ini harus mengangkut ayakan sampai ke beberapa lantai saat pembangunan gedung. Hal ini, sangat tidak praktis. Oleh sebab itu, Albertus yakin, ceruk pasar untuk perekat ini masih sangat luas. Ditambah lagi, pembuatan kolam renang juga semakin umum. “Kami juga sediakan perekat untuk ubin kolam renang. Sekarang sudah banyak permintaan kolam renang di rumah. Biasanya, konsumen ingin buat kolam renang yang dempet dengan dinding rumah. Kalau perekatnya asal-asalan, air bisa merembes,” sebut Albertus.

Dengan tingkat kaporit yang tinggi, lanjut dia, maka potensi korosi juga ikut meningkat. Kalau sudah bocor dan lembab dinding bisa terkelupas. Perawatannya malah semakin mahal. Tidak sampai di situ, Albertus menambahkan, bukti lainnya ceruk pasar perekat cukup besar adalah karena pembangunan properti di Indonesia terus meningkat. Mengingat kebutuhan rumah masih tinggi, yaitu 13 juta unit. Dalam setahun, pemerintah setidaknya membangun 800.000 unit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s