Capung Rubyspot Merah Harus Bertarung Sampai Mati Sebelum Kawin


Mengapa hewan perlu bertarung dengan anggota dari spesies lain? Sebuah studi selama sembilan tahun dari para peneliti biologi dari University of California, Los Angeles, berusaha menjawab pertanyaan ini. Menurut mereka, untuk memperoleh akses kawin terhadap betina dari spesies lain.

Para ilmuwan mengamati dan menganalisis perilaku 100 ekor serangga Hetaerina, atau biasa juga dikenal dengan capung rubyspot. Serangga ini tersebar di sepanjang sungai di Texas, Arizona dan Meksiko. Capung rubyspot jantan selalu merespon dengan agresif pejantan dari spesies sama yang memasuki wilayah mereka. Sebaliknya, mereka akan saling cuek ketika pejantan dari spesies lain datang. Dengan catatan, tidak untuk mengawini betina dari spesies mereka.

Betina hampir selalu menolak jika diajak kawin dengan laki-laki dari spesies berbeda. Tapi, tidak mencoba untuk menghindari pejantan yang datang, terutama mereka yang berasal dari spesies dan memiliki kemiripan warna.

“Ternyata kompetisi capung rubyspot untuk kawin begitu kental,” kata Gregory Grether, profesor ekologi dan evolusi biologi di UCLA, yang juga peneliti utama studi, seperti dikutip dari Science Daily edisi 23 April 2015. Temuan Grether dan timnya ini diterbitkan dalam Proceedings of the Royal Society B.

Grether bekerja sama dengan Kenichi Okamoto, peneliti pascadoktoral di North Carolina State University, mengembangkan model matematis untuk memprediksi persaingan antarspesies capung rubyspot itu.

Umumnya, kata Jonathan Dury, penulis utama studi ini, dalam satu lokasi terdapat dua spesies rubyspot. Namun, agresi antarspesies lambat laun menghilangkan perbedaan substansial dalam hal warna tubuh. Sebagian besar spesies yang Dury dan Grether pelajari memiliki sedikit perbedaan warna.

Capung rubyspot jantan juga biasanya sulit membedakan betina dari spesies mereka sendiri dan spesies lainnya saat hendak memutuskan betina mana yang akan dikawini. “Saya menduga itu penyebab gigihnya agresi antarspesies,” ujar Dury. Penyebab lainnya lantaran serangga ini hanya hidup dalam beberapa pekan dan hanya memiliki kesempatan kawin selama beberapa jam.

Grether percaya bahwa temuannya ini juga berlaku pada spesies lainnya, khususnya dalam hal kawin dan teritori. Dia berniat untuk melanjutkan studinya terhadap spesies lain, seperti burung. Sedangkan implikasinya pada manusia, kata Grether, terkait dengan pola reproduksi dan agresi antar spesies. Kedua faktor tersebut memainkan peran penting dalam evolusi manusia.

Manusia modern telah ada setidaknya sejak 200 ribu tahun lalu dan Neanderthal baru diduga punah pada 40 ribu tahun lalu. “Sudah ada bukti genetik kalau kedua jenis manusia ini telah mengalami perkawinan,” dia menjelaskan. Agresi dan evolusi, menurut Grether, masih menjadi sesuatu yang belum terjelaskan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s