6 Spesies Baru Ditemukan Di Gunung Tambora


Para peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan enam spesies hewan baru di wilayah sekitar Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat (NTB).‎ Berikut adalah wujud enam spesies yang diperkirakan selamat dari letusan dahsyat Tambora 200 tahun lalu itu. “Bisa dibilang hewan-hewan ini adalah yang selamat dari letusan dua abad lalu,” kata ‎Ketua Tim LIPI di Ekspedisi NKRI, Cahyo Rahmadi. Cahyo memaparkan temuan timnya di ‎Gedung LIPI, Jl Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (12/4/2015).‎ Fauna-fauna itu bisa dibilang hewan yang berhasil bertahan hidup setelah letusan Tambora karena hewan-hewan itu merupakan satwa endemik (asli tempat itu), bukan satwa migrasi.

“Kalau saat ini bisa dipastikan endemik. Meskipun ke depan sesuai perkembangan bisa bukan endemik Tambora, tapi bisa untuk level Pulau Sumbawa,” kata Cahyo.‎

Berikut adalah enam spesies baru temuan LIPI itu:
1. Cicak Hutan (Cyrtodactylus Sp 1)
Cicak hutan ini bermarga Cyrtodactylus‎, dan masih belum diberi nama spesies, maka disebut saja Cyrtodactylus Sp 1. Cicak ini berukuran tubuh 8 centimeter, terlihat berwarna coklat dengan corak hitam yang melintang dan melingkar. “Jari-jarinya seperti busur, melengkung,” kata peneliti herpet (Herpetologis) yang menemukan dua cicak hutan di Tambora, Awal Rianto. Semula, Awal tak mengira ini adalah spesies baru. Namun setelah diamati ada ciri yang khas yang tak ditemui pada cicak sejenis, yakni cicak ini tidak punya lubang di sekitar paha untuk mengeluarkan zat kimia dari tubuhnya. “Jadi, ini spesies baru. Tak perlu penelitian molekuler untuk memastikan bahwa ini cicak jenis baru,” kata Awal. Cicak ini ditemukan di ketinggian 400 meter di atas permukaan laut, mudah ditemui menempel di pohon dan bebatuan‎. Cicak tak berbisa ini memangsa serangga dan menjadi mangsa ular.

2. Cicak Hutan ‎(Cyrtodactylus Sp 2)
Cicak hutan kedua yang ditemukan awal ini berukuran lebih kecil, berwarna lebih terang, dan corak gelapnya lebih kecil. Cyrtodactylus Sp 2 ini berukuran 4 centimeter. Tak seperti cicak hutan yang pertama, cicak yang ini sulit ditemui. “Cicak ini saya temukan di lantai selasar hutan, di ketinggian maksimal 100 ‎meter di atas permukaan laut,” kata Awal. Ciri khusus yang membedakan dari cicak yang sudah ditemukan‎, spesies ini tak punya ceruk di depan lubang pembuangan. “Saya sudah cek di reptile database yang memuat katalog publikasi ilmiah seluruh dunia, spesies ini belum ada,” kata dia. Indonesia disebutnya merupakan rumah dari seperempat spesies cicak jenis Cyrtodactylus di seluruh dunia. Ada sekitar 200 spesies Cyrtodactylus di seluruh dunia.

3. ‎Kupu-kupu Malam (Xyleutes Sp 1)
Spesies baru yang ketiga adalah jenis kupu-kupu malam‎ bermarga (genus) Xyleutes. Kupu-kupu malam biasa juga disebut sebagai ngengat. Xyleutes Sp 1 (belum diberi nama spesies) ditemukan oleh peneliti kupu-kupu malam dari LIPI bernama Hari Sutrisno. Apa ciri yang membedakan dari kupu-kupu malam lainnya? “Bagian belakang sayap depan dan belakannya tidak bersisik. Tidak pernah ada yang seperti ini,” kata Hari. Hewan ini bertubuh rapuh, maka perlu kehati-hatian dalam menelitinya agar morfologinya tak rusak. Ngengat dewasa akan memakan nektar, sama seperti kupu-kupu lainnya‎. Namun larva ngengat akan memakan kayu. Bila penelitian ini dikembangkan, maka ini berguna untuk mencegah dampak negatif yang ditimbulkan dari ngengat ini bagi masyarakat sekitar, agar kayu-kayu masyarakat tak dimakan ngengat.

4. Kupu-kupu Malam (Xyleutes Sp 2)
Kupu-kupu malam spesies kedua yang ditemukan hari ‎mempunyai ciri khusus yang membedakan dengan spesies lainnya dalam genus yang sama. Ciri itu ada di sayapnya. “Memiliki titik hitam pada sayap depan. Tidak pernah ada yang seperti ini,” kata Hari. Ciri khusus ini juga membedakan dengan 230 spesies kupu-kupu malam di sekitar Tambora. Jumlah itu terbilang sedikit untuk wilayah seukuran Tambora. Ini karena banyak satwa yang habis diterjang letusan Tambora dua abad yang lalu. “Kupu-kupu malam alias ngengat ini adalah bioindikator ekosistem, mencerminakn keanekaragaman hayati di lingkungannya,” kata Hari.

‎5. Kalacemeti (Sarax Sp)
Serangga kalacemeti spesies baru ditemukan oleh Arachnologis LIPI Cahyo Rahmadi. Kalacemeti adalah hewan yang sekilas mirip laba-laba dan kalajengking. Ciri-ciri umum kalacemeti adalah punya enam kaki, capit berduri, kaki paling depan menjadi antena, dan hidup di tempat yang lembab dan gelap. Hewan ini tidak berbisa.”Bentuknya saja sangar, tapi tidak berbisa,” kata Cahyo yang juga menjadi pemimpin tim eksplorasi di Tambora ini.Khusus untuk hewan bermarga Sarax yang ditemukan Cahyo di Tambora, ada ciri yang membedakan dari kalacemeti yang umum.”Warnanya lebih terang daripada yang di Jawa. Duri di capit ada empat, memanjang ke arah luar. Rambut halus di kaki lebih sedikit daripada yang ada di Jawa. Ukurannya lebih besar sedikit,” kata Cahyo.Hewan predator jangkrik, kumbang kecil, dan kecoa ini bertubuh kurang dari 2 centimeter dengan panjang kaki sekitar 4 hingga 5 centimeter. Serangga ini hidup di sirkum tropikal, ada 170an spesies di seluruh dunia, dan Indonesia mempunyai 25 spesies di antaranya. “Ini hidup di hutan, hewan nocturnal (aktif di malam hari). Hidup di bawah batu. Jadi pas kita mencari ini seperti sedang mencari akik,” ujarnya santai.

6. ‎Opiliones (Stylocellus Sp)
Serangga spesies baru kedua yang ditemukan Cahyo adalah Opiliones. Cahyo belum menemukan nama lokal dari serangga ini. Hewan ini merupakan kerabat laba-laba, mempunyai delapan kaki, hanya saja badan dan kepalanya menyatu. Opiliones hidup di kayu lapuk dan seresah-seresah daun.”Ditemukan jauh dari pemukiman. Dia hidup di daerah yang alami,” kata Cahyo.Ciri-ciri khusus spesies baru dari marga Opiliones ini adalah kakinya yang lebih panjang dibanding badannya. “Dan cakar di kaki nomor dua ada dua pasang. Selama ini belum pernah ditemukan yang seperti ini,” kata dia. Ukuran tubuh hewan ini memang mini, yakni 9 milimeter, sehingga perlu ketelitian untuk mengetahui keberadaan Opiliones.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s