Rumah Kuno Tambora Ternyata Tidak Pakai Paku dan Sambungan


Rumah masyarakat Tambora yang tertimbun material letusan Gunung Api Tambora ternyata sama sekali tak memakai paku dalam sambungan-sambungannya. Dari hasil penelitian tim arkeologi di Tambora selama lima tahun, diketahui bahwa masyarakat Tambora memakai tali dari akar-akaran pohon untuk mengikat konstruksi rumah. “Talinya dari akar-akaran pohon Mone,” kata Sonny Wibisono, arkeolog yang terlibat di tim itu, di Jakarta, Jumat (8/5).

Ternyata ikatan dengan akar pohon Mone kuat juga. “Malah orang lokal bilang nanti makin lama akan makin kuat ikatannya,” kata Sonny lagi. Tapi masih banyak misteri yang belum terungkap pada rumah tersebut. Pertama adalah soal pembagian ruang-ruang di dalam rumah berukuran 3×5 meter yang cukup luas.

Sampai sekarang arkeolog belum menemukan bukti dan data bagaimana masyarakat Tambora membagi ruangan di rumahnya. Mana ruang tamu, mana kamar, dan sebagainya. Tapi untuk orientasi depan belakang, bisa diketahui dengan ditemukannya bukti umpak-umpak. Kalau membandingkan rumah masyarakat Tambora sekarang, umpak bagian belakang biasanya ditandai dengan tumpukan batu-batu atau yang disebut peturasan.

Biasanya, kata Sonny, di atas peturasan ada aktivitas yang berhubungan dengan air. Nah, di situs juga ditemukan umpak seperti itu sehingga sudah jelas bahwa bagian itu adalah bagian belakang rumah. Tapi dia yakin, tak semua aktivitas mandi cuci kakus (MCK) dilakukan di rumah. Ada dugaan masyarakat juga memanfaatkan sungai yang terletak tak jauh dari pemukiman.

Lokasi rumah Tambora yang direkonstruksi berada sekitar 200 meter dari Sungai Sori Somba yang berhulu di Gunung Tambora. Sayang kini sungai itu tak stabil debit airnya akibat pembalakan yang parah di hulu. Masih banyak detail rumah yang menjadi misteri sehingga menimbulkan kesulitan tersendiri bagi tim. Namun, kata Sonny, untungnya para tukang yang membantu tim merekonstruksi rumah ternyata mewarisi pengetahuan lama tentang metode pembuatan rumah tradisional.

“Jadi kami kumpulkan ingatan-ingatan mereka jika pada satu titik kami merasa ragu bagaimana bentuknya,” tutur Sonny lagi.Letusan Gunung Api Tambora pada dua abad silam telah menewaskan puluhan ribu orang. Termasuk warga yang berdiam di kaki gunung yang terdapat di Nusa Tenggara Barat itu. Satu tim arkeologi berhasil merekonstruksi ulang rumah milik warga yang terkubur material letusan Tambora yang superdahsyat tersebut. Tapi kesulitan pertama, “Data-data awal masih terfragmentasi,” tutur Sonny Wibisono, arkeolog yang terlibat di tim itu, Jumat (8/5).

Untungnya tim itu akhirnya bisa menggali satu rumah yang relatif lebih lengkap. Mulai dari unsur tiang sampai lubang-lubang pasak pun ditemukan. Dari data teranyar ini tim kemudian merekonstruksi ulang, dan disandingkan dengan data-data terdahulu. Tak cuma data, tim juga melakukan analogi dengan rumah-rumah tradisional yang masih ada di sekitar Tambora, contohnya di daerah Wawu.

Tapi muncul kesulitan kedua, material kayu untuk membangun rumah ternyata sudah sulit dicari. Dua jenis kayu yang kemungkinan besar dipakai masyarakat Tambora praletusan adalah kayu bintango dan duabanga atau dikenal juga dengan nama kayu kelanggo. Tapi kayu itu nyaris tak bisa lagi ditemukan lantaran terjadinya pembalakan tak terkendali di lereng Tambora sejak 1990-an. “Akhirnya kami menemukan kayu-kayu yang istilahnya mati berdiri,” kata Sonny.

Bahan dinding rumah yang ditemukan dalam penggalian adalah anyaman bambu atau gedheg. Masalahnya tak ada lagi bambu di sekitar Tambora. Akhirnya tim membeli gedheg dari tempat lain. Begitu pun bagian atap. Tak ada contoh modelnya di dekat situs penggalian. Akhirnya tim melakukan perbandingan ke Pulau Moyo, tak jauh dari daratan Pulau Sumbawa Besar, tempat Tambora berdiri.

Setelah melalui penelitian panjang, akhirnya contoh rumah masyarakat Tambora bisa direkonstruksi juga.Dari data terdapat beberapa jenis material atap yang dipakai masyarakat Tambora pada masa lalu. Di antaranya adalah atap ijuk, atap alang-alang, anyaman rotan, daun nipah, atau daun kelapa. Untuk kemiringan atap, mereka melakukan sejumlah percobaan dan diskusi juga dengan masyarakat dan ilmuwan. Dari sana mereka menyimpulkan sudut kemiringan atap adalah 45 derajat.

“Karena pada kemiringan itu air hujan sudah bisa mengalir dengan lancar dan tidak sampai bikin atap bocor,” kata Sonny lagi.Menariknya, saat melakukan penggalian tim juga menemukan jejak jatuhan air di tanah. Dari jejak itu kemudian bisa diproyeksikan sampai batas mana atap berada dalam konstruksi rumah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s