2 Hari Dibuka Posko Selamatkan Kakatua Jambul Kuning Telah Menerima 10 Kakatua


Dua hari sejak dibuka oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), posko #SaveSiJambulKuning kedatangan 10 pemilik hewan langka nan eksotis tersebut. Mereka merelakan hewan kesayangannya untuk direhabilitasi kemudian dilepas ke alam bebas. “Hari ini yang diserahkan sebanyak 6 kakatua jambul kuning. Satwa lain belum ada. Dengan kemarin jadi total sudah ada 10 diserahkan ke negara,” kata Menteri LHK Siti Nurbaya , Minggu (10/05/2015).

Saat ini semuanya sudah dibawa ke karantina. Setelah itu satwa langka tersebut akan segera direhabilitasi agar siap dilepas ke alam bebas. “Semua langsung dibawa ke karantina di TMII,” kata Siti. Siti mengapresiasi pihak yang telah mengembalikan satwa langka itu untuk direhabilitasi dan dikembalikan ke alam bebas. Posko masih dibuka selama lebih dari sebulan ke depan untuk menampung satwa liar lain milik masyarakat yang tergugah dengan kelestarian lingkungan hidup.

Pemilik satwa langka yang menyerahkan ke posko Kementerin LHK tidak dipidana. Karena itu lekas kembalikan satwa langka anda ke negara untuk dilindungi demi kelestarian alam dan lingkungan hidup. Gerakan #SaveSiJambulKuning makin menarik respon masyarakat untuk beramai-ramai merelakan burung kakatuanya ke alam liar. Petugas BKSDA DKI merespons untuk segera menjemput burung eksotis itu bagi masyarakat yang ingin melepasliarkan burung itu.

Kami berkesempatan ikut mengawal proses evakuasi burung kakatua jambul kuning. Sejak tadi pagi pukul 10.00 WIB Tim Satgas BKSDA DKI mendatangi kediaman pasangan Rizal dan Fenny di Perumnas II, Jalan Bandeng, Bekasi Selatan, Minggu (10/5/2015). “Setelah melihat di berita dan media sosial, kami berniat mengembalikan Jambul Kuning kami bernama Jacob hari ini ke BKSDA. Sudah berkoordinasi dengan BKSDA,” ujar Fenny saat berbincang di kediamannya. Fenny dan keluarga sudah merawat Jacob hampir 1 tahun.

Mereka pun merelakan burungnya dibawa oleh petugas untuk dibawa ke penangkaran. Mereka berharap agar si jambul kuning itu hanya dibiarkan begitu saja di kebun binatang atau penangkaran. “Ya jangan cuma sampai ngenes aja di penangkaran atau kebun binatang,” ujar Fenny. Hal serupa juga disampaikan oleh Faisal, pegawai swasta yang sudah 5 tahun merawat dan memelihara Jacob burung kakatua jambul putih. Selama 5 tahun dirawat kakatua jambul kuning yang biasa di panggil Jacob itu akrab dan sering memanggil anak-anaknya.

“Ikatannya ya sudah lengket juga. Bisa sering nyebut nama anak saya, Japran dan Nizwan. Sudah aktif setiap hari,” tutur Faisal ditemui di rumahnya di Vila Nusa Indah III, Jalan Mutiara, Bekasi hari ini. Terakhir, Uci sudah merawat burung kakatua jambul putih sejak 2007 bahkan sudah menganggapnya bagian dari keluarga. Karena kedekatan mereka terlihat jelas saat si kakatua terus hinggap di pundak Uci dan matanya tampak berkaca-kaca menahan air mata tidak jatuh ketika burung kakatuanya dibawa oleh petugas.‎

“Kakak, jangan sedih ya. Kan nanti di sana ada temannya,” pesan Uci sambil memandang kakatuanya di rumahnya, di Harapan Baru Regency, Bekasi Barat. Uci dan ketiga orang lainnya yang hari ini merelakan satwa kesayangannya untuk di bawa oleh petugas BKSDA. Tentunya mereka akan merasa kehilangan tapi demi menjaga kelestarian habitannya mereka tidak mempermasalahkannya. “Rasa kehilangan pasti ada, tapi kalau harus dikembalikan lagi ke habitat agar tidak punah ya saya nggak masalah,” ujar Uci saat melepas kepergian kakatua‎nya. Ketiga burung kakatua yang dibawa oleh BKSDA ini lalu di bawa ke Taman Burung TMII untuk ditangkarkan terlebih dahulu sebelum dilepasliarkan.

Bagi pemilik yang telah menyerahkan burung kakatua jambul kuning ke Balai Konservasi dan Sumberdaya Alam (BKSDA) DKI Jakarta tak perlu bersedih. Sebab, mereka bisa menengoknya ke tempat penangkaran kakatua di Taman Burung TMII, Jakarta Timur. “Ya boleh dipersilakan bagi pemiliknya jika merasa kangen dengan peliharaannya dan ingin melihat mereka, boleh datang ke Taman Burung TMII,” ujar Kasi Umum Taman Burung TMII, Basuki, ketika dikonfirmasi di lokasi, Jakarta Timur, Minggu (10/5/2015).

Basuki menyebut, untuk dapat melihat keadaan kakatua di Taman Burung itu, penyumbang cukup menunjukkan surat-surat kepemilikan atau surat yang diberikan oleh Satgas Polhut. Setiap burung di penangkaran juga diberi tanda berupa gelang dengan nomor identitasnya di bagian kaki. “Cukup menunjukkan surat-surat kepemilikan bagi mereka yang telah menyumbangkan atau surat-surat dari Satgas Polhut kita izinkan. Kan kita mendata setiap burung yang masuk ke Taman Burung untuk dirawat dan dikembangbiakkan,” terangnya.

“Kita berikan tanda di setiap burungnya sesuai data serah terimanya. Tanda itu dipasangkan di kaki burung berupa gelang dengan nomor identitasnya. Ya mungkin repot kalau sampai dilepas lagi ke alam bebas, untuk itu kita rawat di sini,” tutup Basuki. Menurut Kepala BKSDA DKI Jakarta, Awen Supranata, penangkaran-penangkaran tersebut memerlukan induk, sementara kebun binatang memerlukan koleksi. Beberapa kebun binatang sudah memiliki koleksi kakatua, namun biasanya hanya perkawinan sejenis (inbreeding).

Nantinya sebelum dilepas, si jambul kuning itu harus direhabilitasi terlebih dahulu. Sebab binatang yang sebenarnya liar tersebut, sudah terbiasa dipelihara manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s