Kronologi Letusan Gunung Tambaro Yang Mengubah Sejarah Dunia


Tepat 200 tahun lalu, Tambora marah besar. Amarahnya secara langsung dan tidak langsung menewaskan 88.000 orang. Tiga kerajaan tamat riwayatnya, Napoleon kalah perang, tahun tanpa musim panas terjadi, dan kelaparan serta wabah melanda dunia. Bagaimana sesungguhnya bencana itu terjadi? Tak banyak dokumen yang bisa menjadi rujukan untuk menceritakannya. Tiga dokumen berharga antara lain The History of Java (1817) dari Raffles, gubernur Inggris penguasa Jawa saat Tambora meletus, memoir Raffles (1830), dan Asiatic Journal volume 1 (1816).

Menurut dokumen itu, Tambora sebenarnya sudah mulai aktif tahun 1812, sering mengeluarkan asap hitam. Namun, banyak orang yang menganggap bahwa Tambora kala itu sudah “punah” atau bukan gunung berapi aktif. Erupsi besar pertama dimulai pada 5 April 1815, berlangsung selama 2 jam. Merujuk pada dokumen Raffles dan Asiatic Journal, Richard B Stothers dalam makalahnya di jurnal Science 15 Juni 1984 mengatakan, gemuruh aktivitas Tambora pada tanggal itu terdengar hingga kota Makassar (berjarak 380 km), Jakarta (1260 km), dan bahkan Maluku (1400 km).

Dalam memoirnya, Raffles menceritakan, “Gemuruh itu awalnya dikaitkan dengan adanya meriam pada jarak jauh, sedemikian sehingga tentara dibariskan di Yogyakarta untuk mengantisipasi serangan pihak lain dan kapal juga dibariskan di pantai mewaspadai kondisi sulit.” Raffles seperti dikutip Clive Oppenheimer dalam makalahnya di jurnal Progress in Physical Geology pada 2003 melanjutkan, “Namum pada pagi hari berikutnya, abu tipis menghapus semua keraguan, dan seiring erupsi terus terjadi, suara terdengar begitu dekat, terdengar begitu dekat di setiap daerah sehingga dikaitkan dengan letusan gunung Merapi, Kelut, dan Bromo.”

Orang yang tinggal di wilayah sekitar Tambora meminta pemerintah di Bima untuk melihat situasi. Pihak berwenang kemudian mengirim seseorang bernama Israel, tiba di sekitar Tambora pada 9 April 1815. Tapi belum sempat penyelidikan dimulai, tanggal 10 April 1815 sekitar pukul 19.00 WITA, Tambora kembali mengamuk. Kali itu, erupsinya berlangsung kurang dari 3 jam namun dengan skala lebih besar. Letusannya menurut volcanic explosivity index mencapai skala 7 dari 8. Hanya gunung Toba yang meletus 74.000 tahun lalu dengan magnitudo 8 yang mengalahkannya.

Cerita terbaik kedahsyatan letusan pada malam datang dari Letnan Owen Phillip. Dia diutus Raffles ke Sumbawa membawa beras dan menyelidiki dampak letusan pada 5 April. Di Dompu, dia bertemu raja Sanggar yang ajaibnya selamat dari bencana letusan, mengungsi. ”Sekitar pukul 7 malam pada 10 April (1815), tiga kolom muncul dari puncak Gunung Tambora. (Semuanya terlihat berasal dari kawah) Setelah naik secara terpisah ke ketinggian, ketiga kolom bergabung secara aneh dan mengerikan,” demikian Phillips menceritakan kemudian pada Raffles.

Phillip melanjutkan, “Dalam sekejap, seluruh bagian gunung di Sanggar tampak bagai cairan api, melebar ke segala arah. Api dan kolom asap terus saja membumbung hingga gelap sebab banyaknya material yang jatuh mengaburkannya sekitar pukul 8 malam.” Abu kemudian mulai turun antara pukul 9 hingga 10 malam. Kemudian, pohon-pohon yang tercerabut dari akarnya serta batu-batu raksasa mulai terlempar ke Sanggar antara pukul 10 hingga 11 malam. Stothers dalam makalahnya mengatakan, kolom erupsi mungkin musnah akibat massanya sendiri sebelum pukul 10 malam dan kaldera terbentuk pada saat yang sama.

Awan panas lalu turun gunung dan menerjang desa Tambora, meluluhlantakkannya. Lalu, angin ribut terjadi di Sanggar. Angin ribut yang terjadi sekitar 1 jam itu tak mencapai Bima yang terjarak 60 kilometer dari Tambora. Material vulkanik mengalir ke lautan, menyebabkan tsunami. Gelombang tsunami dengan ketinggian 4 meter mencapai Sanggar pukul 10.00 malam. Gelombang menjalar hingga Besuki di Jawa bagian timur, mencapai wilayah itu dengan ketinggian sekitar 1 – 2 meter beberapa saat kemudian. Tsunami juga diperkirakan mencapai Madura dengan ketinggian 1 meter.

“Mawar laut setinggi hampir 12 kaki yang tak pernah terjadi sebelumnya menghantam Sanggar yang cuma seperti sebulir padi, menghanyutkan rumah dan apapun yang ada dalam jangkauannya,” demikian cerita Phillip tentang tsunami. Suara ledakan mulai terdengar pukul 11 malam. Setelah itu, suara tersebut tak berhenti hingga 15 April 1815. Suara terdengar hingga Cirebon, Bengkulu, Makassar, Ternate dan sejumlah wilayah Indonesia lainnya. Abu pun menghujani banyak kota.

Dalam The History of Java, Raffles menceritakan penafsiran koresponden dari Gresik tentang gemuruh dan abu. Menurut koresponden Gresik itu, banyak warga mengaitkan gelap dan abu akibat letusan Tambora sebagai peristiwa pernikahan Nyi Loro Kidul dengan putranya. Suara gemuruh adalah ucapan selamat dari prajuritnya dan abu adalah ampas senjatanya. Kota Bima sendiri tetap gelap hingga pukul 12 siang pada 12 April 1815. Sementara di Makassar, hingga 11 April 1815 pukul 8.00, langit tetap gelap. Pada dasarnya, seluruh kota dalam radius 600 km terdampak oleh hujan abu dan letusan hingga gelap 2 hari.

Udara di sejumlah kota setelah letusan awalnya panas tetapi kemudian terasa dingin. Hingga wilayah Jakarta, dilaporkan bahwa udara berbau nitrogen. Di Tambora sendiri, asap masih terlihat hingga tanggal 23 April 1815. Sementara, getaran akibat aktivitas vulkanik masih terjadi hingga 23 Agustus 1815. Letusan Tambora kali itu memangkas badannya sendiri. Semula berketinggian sekitar 4.300 meter, kini Tambora hanya 2.850 meter. Letusan juga mengakibatkan terbentuknya kaldera selebar 6 kilometer dan sedalam 600-an meter.

Begitulah letusan dahsyat itu terjadi tepat 200 tahun lalu. Setelah berlalu, saatnya kini mengambil pelajaran dari peristiwa itu. Indonesia rawan bencana gempa dan gunung api. Oleh karena itu, penting untuk mengenal gunung dan mewaspadainya. Hidup di gunung yang membawa kesuburan boleh, tetapi tidak mengabaikan risikonya. Letusan Tambora sendiri berdampak besar pada iklim global saat itu. Tahun tanpa musim panas terjadi di Eropa. Gagal panen terjadi di China dan wabah melanda Amerika. Bagaimana cerita dampak itu?

Di belahan utara, salju biasanya turun antara bulan Desember hingga Maret. Namun akibat letusan dahsyat Tambora 1815 lalu, salju pernah turun pada bulan Juni 1816. Salju pada bulan musim panas itu adalah satu diantara sekian dampak salah satu letusan gunung terbesar sepanjang masa tersebut. Aerosol dan sulfat yang disemburkan Tambora ke atmosfer memicu pendinginan global.

Catatan Chester Dewey, profesor matematika dan ilmu alam di William College Massachusetts menyatakan, “kebekuan jarang terjadi pada musim panas, namun kali ini di mana-mana beku.” Catatan Dewey yang dikutip dalam publikasi Clive Oppenheimer di jurnal Progess in Physical Geology tahun 2003 tersebut menggambarkan kondisi cuaca pada 1816, tahun yang sering dijuluki tanpa musim panas.”Tanggal 6 Juni suhu 44 derajat sepanjang hari dan beberapa kali turun salju. 7 Juni tidak begitu beku namun tanah begiru dingin dan air beku di mana-mana,” catatnya lagi.

Bukan hanya wilayah Massachusetts, pada 6 Juni 1816, salju turun di sejumlah wilayah Amerika Utara, termasuk jantung dunia New York, kemudian Albany, Maine, dan Dennysville. Di Quebec, Kanada, salju terakumulasi hingga ketebalan 30 cm dari 6-10 Juni 1816.Cuaca dingin terjadi pula di Amerika Utara bagian selatan, meliputi Trenton, New Jersey, dan lainnya. Kondisi itu bertahan tiga bulan hingga panen pun gagal.

KR Briffa dan PD Jones melakukan analisis lingkaran pohon untuk menguak cuaca setahun setelah letusan Tambora di Eropa. Dalam publikasinya di jurnal Nature tahun 1992, dia menemukan bahwa musim panas tahun 1992 memang luar biasa dingin, terdingin sejak 1750.Suhu musim panas di Eropa 1-2 derajat Celsius lebih dingin dari rata-rata tahun 1810-1819 dan 3 derakjat Celsius lebih dingin dari rata-rata tahun 1951-1970.Tahun 1998, Briffa kembali memublikasikan makalah di Nature tentang efek Tambora pada pendinginan global. Ia menyatakan, Tambora menciptakan salah satu musim panas terdingin dalam 6 abad, kedua terdingin setelah tahun 1601 akibat letusan Huaynaputina di Peru.

Briffa menambahkan, Eropa juga mengalami musim dingin yang lebih banyak badai akibat letusan gunung yang kini tingginya tinggal 2.850 meter itu. Suhu dingin mengakibatkan krisis terbesar di dunia barat pada era modern. Begitu Tambora meletus, suhu dingin menyebabkan kalahnya Napoleon Bonaparte. Selanjutnya, suhu dingin juga menyebabkan ternak kekurangan makanan, gagal panen, kelaparan, dan wabah.Di Bima, abu letusan Tambora mencemari air. Akibatnya, manusia yang meminum terserang diare. Kuda-kuda juga mati.

Di Bengal, antara tahun 1816-1817, wabah kolera melanda. Sementara, wilayah North Carolina gagal panen. Dan, di New England, hewan ternak kekurangan makanan dan banyak yang mati. Orang-orang Wales kelaparan hingga harus berjalan jauh mencari makanan. Demikianlah dampak letusan Tambora pada iklim dunia. Gunung api sanggup melumpuhkan, memengaruhi iklim dunia. Tapi, manusia lebih mampu lagi. Emisi karena gunung berapi ditakir antara 0,15 – 0,26 gigaton per tahun. Namun, emisi karena manusia mencapai 35 gigaton per tahun. Bukan tak mungkin kelaparan, penyakit, dan kerugian besar terjadi akibat perilaku manusia yang memengaruhi iklim.

Hingga sebelum meletus pada April 1815, Gunung Tambora di Semenanjung Sanggar, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, itu tertidur panjang. Selain catatan John Crawfurd pada tahun 1812, nyaris tak ada sumber lain yang menyebut mengenai aktivitas gunung ini sebelum letusan. John Crawfurd, dokter dari Skotlandia yang berlayar melewati pantai Sumbawa pada tahun itu, melihat asap yang membubung tinggi dari puncak Tambora. Bahkan, abu tipis jatuh di geladak kapalnya. Namun, 10.000 penduduk di tiga kerajaan yang berada di lereng gunung yakni Tambora, Pekat, dan Sanggar, tidak menyadari bahwa gunung itu telah terbangun. Periode letusan Tambora yang sangat panjang membuat aktivitas gunung tak terekam oleh masyarakat lokal.

Dari analisis geologi yang dilakukan belakangan, Tambora diduga pernah meletus tahun 740 dan 3050 sebelum Masehi. Letusan pada 1815 dianggap yang terkuat. Terkuat yang tercatat dalam sejarah manusia, tapi bisa jadi letusan-letusan sebelumnya juga sangat kuat, hanya tak tercatat.Deskripsi tentang Gunung Tambora sebelum 1815 sangat minim, termasuk tentang keberadaan kerajaan-kerajaan di kaki gunung ini. Namun, dengan menghitung material vulkanik yang dilontarkan Tambora dalam letusan kolosal 1815, para peneliti menyimpulkan bahwa ketinggian gunung ini sebelum letusan itu 4.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Bandingkan dengan Gunung Kerinci, gunung api tertinggi di Indonesia saat ini yang 3.805 mdpl.

Volume material vulkanik yang dilontarkan ke udara mencapai 100-150 kilometer persegi. Tinggi payung letusan diperkirakan mencapai 30-40 kilometer (km) di atas gunung, sedangkan energi letusan mencapai 1,44 x 1027 Erg atau setara dengan 171.428,60 kekuatan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima pada 1945.Dalam waktu cepat, material vulkanik itu memenuhi langit Bumi, hingga menciptakan tahun tanpa musim panas di Eropa setahun kemudian. Di masa lalu, transportasi utama antarpulau masih dilakukan dengan kapal. Transportasi udara baru ditemukan 88 tahun kemudian, saat Wright bersaudara menemukan pesawat terbang pada Desember 1903. Bayangkan kekacauannya jika letusan Tambora ini terjadi saat ini. Lalu-lintas udara di dunia bakalan lumpuh.

Letusan itu memangkas tubuh Tambora hingga nyaris separuhnya menjadi 2.730 mdpl. Tubuh gunung yang kosong menciptakan lubang menganga dengan kedalaman hingga 1.100 meter dan lebar 6,2 km. Kaldera ini salah satu yang terbesar di Indonesia, setelah Rinjani di Lombok dan Toba di Sumatera Utara.Setelah 1815, di dasar kawah Tambora muncul anak gunung api. Warga setempat menyebutnya Doro Api Toi, bahasa Bima yang artinya gunung api kecil. Terakhir, Tambora meletus 1967, tetapi sangat kecil, tak sampai skala 1 dalam VEI, dibandingkan letusan Tambora pada 1815 yang mencapai 7 skala VEI. Walaupun tak ada lagi aktivitas seismik yang berarti sejak letusan 1815, PVMBG terus memantau gunung ini. Pusat pemantauannya berada di Doro Peti.

Awal Agustus 2011, aktivitas Doro Api Toi meninggi, ditandai gempa vulkanik terus-menerus dan asap putih tebal membubung hingga 20 meter dari puncak. Pada 29 Agustus 2011, tercatat 14 gempa vulkanik dalam dari Tambora, dan sehari kemudian PVMBG menaikkan status menjadi Waspada level II. Pada 8 September status dinaikkan menjadi Waspada level III. Namun, aktivitas anak gunung ini kembali menurun.Agustus 2014 lalu, kami menuruni kaldera Tambora dan melihat anak gunung telah tumbuh hingga setinggi sekitar 30 meter. Asap putih tebal menguar dari Doro Api Toi tanpa henti, menandakan dapur magma di perut Tambora masih menyala.

Namun, bagi PVMBG, Tambora memang bukan prioritas.Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono, dalam berbagai kesempatan mengatakan, setelah menemukan keseimbangan dengan letusan besar 1815, Tambora membutuhkan waktu panjang untuk kembali mengumpulkan daya.Menurut Surono, PVMBG juga telah membuat peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Tambora. Dalam peta, Tambora dibagi dua zona, kawasan bahaya dan waspada. Kawasan bahaya berpotensi terdampak langsung aliran awan panas dan lava meliputi wilayah 58,7 kilometer persegi. Adapun daerah waspada berpotensi terkena aliran lahar dan hujan batu apung, seluas 185 kilometer persegi.

Sekalipun diyakini tidak akan meletus dalam waktu dekat, letusan Tambora harusnya menjadi penanda sejarah tentang begitu labilnya kondisi geologi Nusantara. Sayang, hingga dua abad letusan Tambora, gunung ini sepertinya lebih banyak dikenal di luar negeri daripada di Indonesia. Literasi tentang Tambora dalam khazanah Nusantara sangat minim. Bahkan, di Tambora sendiri, baru hari-hari ini saja gunung ini dibicarakan. Itu pun kebanyakan bukan dari aspek kegunungapian ataupun jejak peradaban yang terkubur karena letusannya. Barangkali, gagasan Ketua Tim Penelitian Situs Tambora, Sony Wibisono, dari Pusat Arkeologi Nasional (Pusarnas), untuk membuat Situs Tambora sebagai ekomuseum penting untuk diwujudkan.

Ekomuseum ini dapat mengangkat kembali Tambora sebagai tempat wisata, tempat pembelajaran sejarah, tempat konservasi sumber daya alam, dan sarana pemberdayaan masyarakat. Jika Pompeii bisa direkonstruksi dan menjadi tempat belajar warga dunia, kenapa Tambora dilupakan? Padahal, dampaknya jauh lebih hebat dibandingkan Vesuvius yang mengubur Pompeii, dan peristiwanya ratusan tahun lebih muda. April 1815, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, meletus hebat. Dunia Barat didera ”tahun tanpa musim panas” setahun setelah itu. Belakangan, mereka mengenal Tambora sebagai, ”…penyebab krisis kemanusiaan terbesar pada era modern” (Clive Oppenheimer, 2003). Tahun-tahun setelah letusan itu juga dikenal di Barat sebagai ”Eighteen Hundred and Froze to Death” (Erik Conway, 2009).

Kegagalan panen dan wabah penyakit menular seperti tipus, disentri, hingga kolera, yang kemudian melanda dunia, menempatkan Tambora sebagai pembunuh global. Di Nusantara, dampak letusan melenyapkan dua kerajaan di lerengnya, Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat, serta menghancurkan Kerajaan Sanggar. Kehancuran dan kematian massal juga melanda Lombok dan Bali hingga bertahun-tahun kemudian.

Jika kehancuran di sekitar Tambora disebabkan terpaan awan panas, kematian massal berskala global justru disebabkan pendinginan Bumi pasca letusan. Total penurunan suhu Bumi mencapai 0,4–0,7 derajat celsius (Richard B Stother, 1984), tetapi di beberapa tempat lebih tinggi, seperti di New England dan Selat Inggris yang turun hingga 2,5 derajat celsius (Sigurdsson, 2000). Dampaknya adalah kegagalan panen global.

Menurut Sigurdsson (2000), Benjamin Franklin kemungkinan adalah orang pertama yang menghubungkan letusan gunung api dengan anomali cuaca, ketika tahun 1784 dia menemukan ”kabut basah” dan musim dingin tak biasa yang melanda Eropa. Franklin berspekulasi bahwa kabut itulah yang mendinginkan musim panas, berasal dari asap tabrakan meteor atau letusan gunung api di Iceland (Gunung Laki meletus pada 1783). Hipotesis itu terkonfirmasi ketika Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus tahun 1883 dan menciptakan perubahan cuaca global. Saat itu dunia telah terhubung oleh teknologi telegraf sehingga kabar letusannya mendunia dalam waktu singkat. Orang dengan cepat bisa menghubungkan langit jingga dan anomali cuaca di berbagai belahan dunia dengan letusan Krakatau.

Sebaliknya, letusan Tambora pada 1815 nyaris tak diketahui masyarakat Barat. Selama lebih dari seratus tahun, mereka tidak tahu penyebab ”tahun tanpa musim panas” pada 1816. Baru pada tahun 1920-an, WJ Humphreys, peneliti di kantor meteorologi AS, menemukan hubungan antara cuaca buruk pada 1816 dan letusan Tambora. Dia berteori, abu yang terlontar telah menghalangi sinar matahari ke Bumi. Teori itu belakangan dibantah ahli lain yang menyatakan bahwa pendinginan bumi tersebut disebabkan aerosol asam sulfat dari Tambora.

Setelah itu, pada 1960-an, ahli meteorologi Hubert Lamb membuat indeks yang membandingkan jumlah semburan partikel gunung api saat meletus sehingga dampak letusan terhadap iklim bisa diukur. Erupsi Krakatau pada 1883 berada di indeks 1.000. Letusan Tambora memiliki skor tertinggi, 4.200. Kini, para ilmuwan mengetahui, gunung api berpengaruh terhadap perubahan iklim global dalam dua cara; memanaskan sekaligus mendinginkan. Karbon dioksida yang rutin dikeluarkan gunung api dalam aktivitasnya menyumbang gas rumah kaca sehingga berpotensi menyebabkan pemanasan global. Namun, menurut hitungan Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), sumbangan emisi karbon seluruh gunung api dunia relatif kecil, hanya 0,26 giga ton per tahun, dibandingkan dengan emisi dari faktor antropogenik yang 35 giga ton per tahun.

Gunung api lebih signifikan mendinginkan Bumi. Selama letusan besar, sejumlah gas, aerosol, dan abu dilontarkan ke stratosfer. Abu yang dilontarkan akan cepat jatuh sehingga tidak berdampak pada perubahan iklim. Namun, gas-gas vulkanik, seperti sulfur dioksida, mampu memantulkan sinar matahari sehingga berdampak pada pendinginan Bumi. Sosialisasi terkait potensi bencana erupsi Gunung Tambora di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, kepada masyarakat yang bermukim di kaki dan lereng gunung itu masih minim. Padahal, sosialisasi penting untuk menanamkan kesadaran dan kesiapan masyarakat jika sewaktu-waktu bencana terjadi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar geladi kesiagaan bencana erupsi Gunung Tambora di Lapangan Dusun Pancasila, Desa Tambora, Kecamatan Pekat, Dompu, Selasa (7/4). Acara simulasi penanganan erupsi Tambora itu melibatkan warga desa, semua BPBD kabupaten dan kota di NTB, serta instansi terkait.

Kepala BPBD Dompu Imran M Hasan mengatakan, dari 12 desa di Kecamatan Pekat, baru sebagian yang telah mendapat sosialisasi kebencanaan. Kecamatan Pekat adalah wilayah di Dompu yang bersentuhan langsung dengan gunung setinggi 2.850 meter di atas permukaan laut itu.Terdapat empat desa di Pekat dengan kerawanan tinggi yakni Doro Peti, Sori Tatanga, Sori Nomo, dan Nanga Kara. Keempat desa itu posisinya paling dekat dengan Tambora dan terkena dampak paling parah dari erupsi dahsyat tahun 1815. “Dari keempat desa itu, baru Doro Peti yang sudah mendapatkan sosialisasi bencana erupsi tahun 2012 lalu,” kata Imran.

Camat Pekat Syaifullah menambahkan, keempat desa itu terletak di sisi selatan Tambora yang merupakan jalur lintasan lahar erupsi pada tahun 1815. Jumlah penduduk di keempat desa itu pun padat yakni separuh dari total 35.000 jiwa warga di seluruh Kecamatan Pekat. Imran mengatakan, idealnya sosialisasi kebencanaan di desa-desa di Tambora dilakukan minimal sekali dalam setahun. Hal itu dilakukan agar secara rutin mengingatkan warga akan potensi bahaya, dan cara menekan risiko jika erupsi terjadi.

Namun, Imran menambahkan, hal tersebut terkendala minimnya anggaran yang dimiliki BPBD Dompu. Dalam setahun, kemampuan anggaran daerah untuk membiayai BPBD hanya Rp 500 juta-Rp 600 juta. “Paling tidak kami membutuhkan anggaran Rp 1 miliar. Namun, itu sulit dipenuhi jika mengandalkan APBD kabupaten yang terbatas. Kami berharap pemerintah pusat memberi perhatian,” katanya.Terkait masalah itu, fasilitator manajemen bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Sardiyarso, yang hadir dalam geladi itu, mengatakan, sosialisasi kepada warga adalah tanggung jawab pemerintah daerah. Agus menambahkan, status Tambora saat ini masih Normal atau level I. Tahun 2011, status Tambora pernah Siaga (level III) atau satu level sebelum erupsi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s