Tren Paedofilia Semakin Meningkat Di Indonesia


Tren kasus paedofilia di Jawa Timur dilaporkan terus meningkat. Jumlah kasus yang terjadi naik dari tahun 2014 ke 2015. Data di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya menujukkan, sepanjang 2014, ada 132 kasus paedofilia yang dilaporkan .Sementara itu, di Kabupaten Malang, Unit PPA Polres Malang 2014 menangani 290 kasus pedofilia sepanjang 2014 dan pada 2015 sudah muncul 27 kasus selama Januari-Maret.

Kepala Unit PPA Polres Malang Iptu Sutiyo mengingatkan warga dan orangtua agar memberi perlindungan penuh terhadap anak-anak. Pasalnya, dari sekian banyak kasus kekerasan seksual terhadap anak, banyak pelakunya adalah orang-orang terdekat.

“Lingkungan dalam keluarga bisa membentuk karakter anak. Jangan didik anak dengan kekerasan. Itu tidak memberikan dampak positif kepada anak,” kata Sutiyo, Selasa (14/4/2015). Sutiyo juga meminta orangtua agar bisa mengawasi anak dari jangkauan teknologi. Pesatnya teknologi berbanding lurus dengan pesatnya informasi yang diterima. Jika salah memilih informasi, anak cenderung terjerumus.

Polres Malang berupaya menekan angka kekerasan seksual terhadap anak melalui pendekatan terhadap warga. Polres Malang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Malang dan P2TP2A secara rutin mengedukasi warga tentang bahaya kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Kekerasan seksual dinilai menjadi bahaya besar yang mengancam anak-anak dan remaja di Jawa Timur. Dari tahun ke tahun, kasus paedofilia atau ketertarikan seksual kepada anak-anak menunjukkan tren terus meningkat.

Sampai-sampai Pemprov Jatim memasukkan ini dalam daftar peringatan empat bahaya di Jatim. Tiga bahaya lainnya berupa narkotika dan obat berbahaya (narkoba), pornografi dan penyebaran paham radikal. Peringatan serupa juga datang dari Kepolisian Daerah (Polda) Jatim saat sosialiasi Gerakan Nasional Anti-kekerasan Seksual terhadap Anak (Aksa) di Surabaya, Selasa (14/4/2015). Semua Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Kesehatan, dan LSM pemerhati anak diundang dalam acara itu.

Kompol Yashinta Ma’u, Kepala Unit Perlindungan Anak Ditreskrimum Polda Jatim, saat itu mengungkapkan data kasus kekerasan seksual kepada anak yang menurut dia mengkhawatirkan. Sepanjang 2014, ada 227 kasus pedofilia yang ditanganinya.

“Tempat kejadian atau locus delicti terbanyak untuk kasus kekerasan terhadap anak, termasuk kekerasan seksual adalah di rumah dan sekolah,” kata Yashinta, usai sosialisasi itu. Angka Unit PPA Polda Jatim itu baru dari sembilan polres. Masih ada 29 polres di Jatim yang belum memasukkan data.

Polres Malang dan Polrestabes Surabaya belum memasok data kasus paedofilia atau kekerasan seksual terhadap anak-anak ke Polda Jawa Timur, padahal di dua kota ini jumlah korban tergolong besar . Data di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya menujukkan, sepanjang 2014, ada 132 kasus paedofilia yang dilaporkan.

Itu berarti, setiap dua hari sekali, ada paedofil yang melakukan aksinya di Surabaya. Angka itu meningkat 100 persen dibanding 2013 yaitu 70 kasus. Di Kabupaten Malang, angkanya lebih tinggi. Unit PPA Polres Malang 2014 menangani 290 kasus pedofilia sepanjang 2014. Sementara itu, pada 2015 sudah muncul 27 kasus selama Januari-Maret.

Jumlah korban bisa lebih tinggi dari jumlah kasus. Pasalnya, dalam satu kasus, pelaku bisa merenggut lebih dari satu korban. Di Surabaya, misalnya, seorang paedofil memangsa hingga tujuh anak. Kompol Yashinta Ma’u, Kepala Unit Perlindungan Anak Ditreskrimum Polda Jatim menyebutkan bahwa pelaku kekerasan seks ini umumnya orang sangat dekat, seperti ayah, paman, atau saudara, atau guru yang sudah dikenal akrab.

Kasus kekerasan seksual terhadap M adalah contohnya. Bocah kelas 6 SD ini menjadi korban ayah dan gurunya hingga melahirkan. TMN (45), warga Jalan Pacar Kembang, Surabaya, yang beberapa kali mencabuli anak tirinya (siswi SMA) mengaku khilaf. Setahun terakhir, dia mengaku sulit mengendalikan nafsu sejak sang istri mendekam di penjara karena mencopet. Aksi TMN ini terungkap dari kerabat korban. Korban yang duduk di bangku SMA itu menangis dan menceritakan kepada temannya. Teman korban itu pun sempat menemui pelaku dan melaporkannya ke polisi. “Kami sudah amankan dan masih terus periksa,” kata Kanit PPA Polrestabes Surabaya, AKP Imaculata Sherly Mayasari,

Jumlah kasus paedofilia atau pelecehan terhadap anak menduduki posisi kedua tertinggi setelah narkoba di Jawa Barat. Hal ini disampaikan oleh Kapolda Jabar Irjen Pol Moch Iriawan, di Bandung, Selasa (11/11/2014). “Yang menjadi pelaku, rata-rata adalah korban paedofilia pada masa lalu,” ujarnya. Dari data Kepolisian RI, kasus narkoba di Jabar pada 2012 mencapai 1.200 kasus. Dengan jumlah itu, Jabar menduduki peringkat keempat setelah Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah.

Sementara itu, kasus kekerasan seksual terhadap anak menurut Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak Jawa Barat (P2TP2A) ialah sebanyak 108 kasus. “Tapi, kasus paedofilia ini seperti fenomena gunung es,” ucap Iriawan. Artinya, jumlah kasus yang muncul di permukaan hanya sebagian kecil dari kasus yang terjadi sebenarnya. Salah satu penyebabnya ialah keengganan korban melapor karena berbagai alasan.

Meski demikian, pihaknya terus merapatkan barisan untuk kasus paedofilia. Beberapa waktu lalu, pihaknya sudah melakukan rapat khusus, bahkan bekerja sama dengan sejumlah pihak, seperti P2TP2A. Sementara itu, Ketua P2TP2A Jabar Neti Heryawan mengatakan, pelaku paedofilia biasanya orang dekat atau yang dikenalnya. Ia pernah melakukan riset, sebanyak 56 kasus yang ditangani, mayoritas kasus paedofilia dilakukan oleh keluarga seperti ayah tiri, ayah kandung, saudara, dan lain-lain.

“Kasus kekerasan pada anak jumlahnya bertambah hingga 80 persen,” imbuhnya. Pemerhati anak, Rani Razak Noe’man, mengatakan, ada banyak faktor kenapa korban enggan melaporkan kasus pelecehan seksual, di antaranya malu karena berhubungan dengan aib keluarga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s