Cara Mendeteksi Diabetes Tipe 1 Pada Anak Kecil


Diabetes tipe 1 menjadi jenis diabetes yang paling sering dijumpai pada anak dan remaja. Diagnosis ditegakkan selain dengan merujuk pada simtom yang muncul, juga didukung oleh pemeriksaan laboratorium. Namun, dengan hasil penelitian terbaru, dokter bisa mendeteksi diabetes tipe 1 pada anak, sebelum simtomnya muncul.

Diabetes tipe 1 merupakan penyakit kronis dan terjadi karena berkurangnya, atau tidak adanya produksi insulin di dalam tubuh. Penyakit ini kerap terjadi di masa kanak-kanak. Secara garis besar, angka kejadian diabetes tipe 1 paling tinggi dijumpai pada anak usia 6-7 tahun dan usia menjelang pubertas. Diabetes tipe 1 terjadi karena ada proses otoimun yang membuat kerusakan pada sel pankreas yang menghasilkan insulin. Sebagai akibatnya, tubuh tidak mampu menghasilkan insulin.

Para ahli yang ambil bagian dalam proyek The Environmental Determinants of Diabetes in the Young (TEDDY) telah menemukan empat penanda atau otoantibodi, dalam darah dari partisipan studi yang memungkinkan untuk mendeteksi penyakit lebih dini. Yang berarti pengobatannya juga dapat dimulai lebih dini.

Peneliti utama, Ake Lernmark, dari Sweden’s Lund University mengatakan bahwa mengukur kadar otoantibodi pada darah anak akan mengindikasikan sistem imunitas mereka sudah mulai menyerang sel beta atau belum. Otoantibodi ini, dikatakan Lernmark, muncul tahunan sebelum penyakit didiagnosis.

Studi TEDDY yang melibatkan 8.600 anak dari Swedia, Amerika Serikat, Jerman, dan Finlandia, menjumpai bahwa kemunculan otoantibodi pelawan sel penghasil insulin, muncul di tahun-tahun pertama kehidupan. Tetapi penyakit ini tidak terdiagnosis hingga 10 tahun kemudian. Jadi inilah temuannya. “Kita sekarang tahu dimana melihat pemicunya sehingga kita perlu menjelaskan mengapa otoantibodi muncul. Sekarang kita tahu bahwa ada baiknya melihat di tahun pertama kehidupan,” urai Lernmark.

Temuan studi yang didanai oleh US National Institutes of Health ini juga akan memungkinkan pengobatan lebih dini maupun menurunkan dosis insulin yang digunakan untuk mengatasi kondisi tersebut. Bahkan memungkinkan penderita untuk menunda atau menghindari simtomnya ketika penyakitnya muncul. Hingga saat ini masih belum diketahui penyebab sistem imunitas mulai menyerang sel insulin tubuh sendiri dan mulai berkurang. Satu teorinya adalah bahwa virus selesma bisa menjadi pemicunya. Saat ini, belum ada obat untuk diabetes tipe 1. Tetapi, dikatakan Lernmark, sasaran jangka panjang adalah menemukan vaksinnya.

“Jadi asumsikan atau hipotesis bahwa ada virus yang bertanggung jawab terhadap pemicu otoantibodi ini, sasarannya kemudian untuk membuat vaksin yang dapat melawan virus ini dan bisa dapat ditemukan maka kemungkinan mencegah diabetes tipe 1 secara bersamaan menjadi sangat tinggi,” tambahnya.

Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa anak-anak yang mengalami stres tiga kali lebih berisiko terkena diabetes tipe 1. Stres pada anak-anak bisa terjadi ketika orangtua mereka bercerai, orangtua sering bertengkar, tekanan dari orangtua, maupun kehilangan salah satu anggota keluarga.

Para ilmuwan dari Swedia membuktikannya dengan menganalisis 10.000 keluarga yang memiliki anak-anak berusia 2-14 tahun. Peneliti mengamati apakah terdapat konflik keluarga, kehilangan keluarga, hingga masalah sosial.
Sebanyak 58 anak pun didiagnosis diabetes tipe 1. Menurut peneliti, banyak di antara mereka yang terpengaruh peristiwa di masa lalu yang kurang baik.

Sementara itu, penelitian dari Linkoping University menyatakan bahwa penyebab diabetes tipe 1 biasanya dimulai dari sistem kekebalan tubuh yang membunuh sel-sel beta di pankreas. Akibatnya, pankreas tidak bisa memproduksi insulin, yaitu hormon untuk mengatur gula darah menjadi energi.

Mereka menduga bahwa peristiwa buruk di masa kecil dapat mempengaruhi sel-sel beta tersebut. Hormon stres yang meningkat kemudian akan membuat tubuh semakin resistensi insulin. Faktor lainnya yaitu, infeksi virus, pola makan, berat badan lahir dan berat badan awal.

Studi ini pun menyimpulkan bahwa peristiwa buruk selama 14 tahun pertama kehidupan seseorang dapat menjadi faktor risiko. Namun, perlu penelitian lebih lanjut untuk menentukan kapan kondisi stres dapat memengaruhi autoimun.
Di sisi lain, faktor genetik tetap menjadi faktor utama yang membuat anak-anak 12 kali lipat lebih berisiko diabetes tipe 1. Bagi yang tidak berisiko diabetes tipe 1, jagalah pola makan agar tidak terkena diabetes tipe 2.

Untuk mendiagnosis penyakit diabetes diperlukan pemeriksaan sampel darah. Tetapi cara tersebut sering memberi pengalaman trauma bagi sebagian anak. Kini dikembangkan suatu cara sederhana untuk mengetahui adanya diabetes, yakni lewat bau napas.

Bau napas yang tidak enak dan agak berbau manis merupakan salah satu efek samping dari diabetes. Peneliti dari Universitas Oxford Inggris, Profesor Kimia Gus Hancock mengatakan, hal tersebut terjadi karena penumpukan zat kimia yang disebut keton dalam darah pasien.

“Bau manis keton tertentu yang dikeluarkan disebut dengan aseton. Dokter sering mencium bau ini dari pasiennya yang berada dalam kondisi ketoasidosis diabetik dan ini bisa digunakan sebagai diagnosis awal, “kata Hancock. Para peneliti Inggris mengatakan mereka telah mengembangkan alat analisa bau mulut portable yang dapat mendeteksi aseton walaupun pada jumlah yang sangat kecil dalam napas pasien.

CEO of Oxford Medical Diagnostics, Ian Campbell, mengatakan itu bukan tugas yang mudah, karena nafas mengandung jutaan molekul senyawa, sementara untuk melakukan pendeteksian dalam tes ini hanya dibutuhkan salah satu dari senyawa yang ada. “Dengan alat ini subyek diminta untuk meniup ke dalam alat, lalu akan diekstrak senyawa organik yang keluar dan mudah menguap, dalam hal ini aseton. Kami kemudian melepaskan molekul yang tertarik ke dalam rongga untuk melakukan pengukuran, “kata Campbell.

Portable breath analyzer hanya dapat digunakan sebagai alat deteksi pertama, dan tetap harus dikonfirmasi dengan tes darah yang akurat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s