Rahasia Candi Borobudur Terungkap


Terdapat sebuah danau purba berumur 10 ribu tahun. Adalah Helmy Murwanto, mahasiswa doktoral Departemen Geografi Universitas Gadjah Mada, yang mengungkap danau purba tersebut. Dia memperkirakan danau ini terbentuk pada Zaman Pleistosen Akhir itu.

“Danau purba itu hilang akibat mengalami pendangkalan secara alamiah dan intervensi manusia,” kata dia, dalam sebuah pernyataan dalam laman situs UGM, Rabu, 8 April 2015. Sebelumnya dia mempresentasikan temuannya ini dalam ujian promosi doktoral pada akhir Februari 2015.

Pendangkalan danau tersebut, tulis Helmy, dapat diamati dari material penutup endapan danau berupa hasil aktivitas vulkanis, tektonis, dan gerakan massa tanah serta batuan. Material penutup tersebut berupa tanah lempung berwarna hitam yang tersingkap oleh proses geomorfologis.

Sebaran endapan lempung hitam itu cukup luas. Mulai dari Sungai Pacet di kaki Bukit Tidar, Mertoyudan, yang diperkirakan bagian utara danau, hingga mencapai lembah hilir Sungai Sileng di kaki Pegunungan Menoreh. “Sebaran tersebut berjarak 8 kilometer,” ujar Helmy, yang juga mengajar di Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Yogyakarta.

Sedangkan perubahan bentuk danau menjadi dataran lakustrin disebabkan aktivitas tektonik dan longsoran lahan. Pendangkalan tersebut tidak terjadi dalam satu waktu, melainkan bertahap. Keberadaan jalan lurus penghubung antaran Candi Mendut-Pawon-Borobudur pun muncul setelah danau mengering sebagian.

Helmy menduga, keberadaan jalan lurus penghubung antara Candi Mendut, Pawon dan Borobudur, dibuat setelah danau mengalami pengeringan secara sebagian. Aktivitas manusia di sekitar candi Borobudur dipengaruhi oleh keberadaan danau dan sungai. Hal itu terefleksikan dalam relief Candi Borobudur dan troponin di sekitar candi Borobudur.

Dari hasil penelusurannya, Helmy mengungkap bahwa material penutup danau berasal dari material vulkanik dan sedimen Pegunungan Menoreh. Didukung hasil interpretasi citra satelit, penelitiannya juga menunjukkan beberapa tempat yang menyerupai bekas alur sungai di sekitar Desa Bumisegoro, Pasuruhan, Saitan dan Deyangan, yang berujung ke danau purba tersebut.

Sungai tersebut, kata dia, pernah dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk pengairan lahan pertanian. Aliran sungai tersebut mengering akibat pendangkalan dan pengeringan danau.

Berdasarkan pemetaan spasiotemporal yang dilakukan Helmy, danau purba ini dibagi menjadi tiga periode. Yakni, Zaman Pleistosen Akhir, Holosen dan Resen. Pembagian waktu ini berdasarkan uji penanggalan bebatuan di tiap wilayah. Yang jelas, tulis Helmy, belum ada peradaban saat danau ini beru terbentuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s