Cara Menggunakan Mangrove Sebagai Bahan Baku Pembuatan Sirup dan Kerupuk


Selama ini, masyarakat di Kabupaten Kepulauan Meranti Riau mengandalkan hutan mangrove sebagai kayu arang. Kini, pemerintah setempat membina masyarakat untuk mengalihkan mangrove, menjadi sirup dan pakan ternak. Kepala Dinas Kehutanan (Kadishut) Kab Meranti, M Murod mengungkapkan hal itu. Dia menjelaskan, sudah puluhan tahun lamanya, sebagian masyarakat memanfaatkan hutan mangrove atau hutan bakau untuk dijadikan kayu arang. Karena selama ini, kayu bakau menjadi pilihan terbaik untuk dijadikan arang.

Satu sisi, hutan bakau dijadikan arang, juga mengancam kelestariannya. Karena itu, beberapa tahun belakangan ini, Pemda Meranti melakukan pembinaan ke masyarakat untuk beralih menjadi bahan bakau untuk dijadikan sirup, kerupuk, dan pakan ternak. “Kita ajak para petani bakau yang selama ini mengandalkan kayu, kita alihkan untuk memanen daun dan bunganya. Bunga dari pohon bakau bisa kita jadikan sirup dan bisa dijadikan kerupuk,” kata Murod.

Khusus untuk sirup, lanjut Murod, selama ini Dishut Meranti menggandeng Dekranasda untuk melakukan pembinaan pembuatan sirup. Hasil pembuatan sirup bunga bakau sudah bisa diproduksi dalam skala kecil untuk kebutuhan di Kabupaten Kepulauan Meranti. “Produksinya memang belum keluar daerah lainnya. Kita baru memproduksi untuk kebutuhan di daerah kami sendiri. Tapi ini menjadi andalan kami untuk ke depan tak lagi bakau harus dijadikan arang,” kata Murod

Selain bunga bakau, lanjut Murod, pihaknya juga membina warga sekitar menjadikan daunnya untuk pakan ternak. Lewat pengelolaan, daun bakau yang dijadikan pakan ternak bisa menghasilkan daging yang lebih nikmat. “Sudah dilakukan penelitian, ternak sapi, atau kambing yang pakannya dengan daun bakau yang sudah kita olah, akan menghasilkan daging yang lebih empuk dan gurih. Serta dagingnya tidak terlalu amis jika dibandingkan ternak yang makan rumput secara alami,” kata Murod.

Kini Pemkab Meranti lewat Dinas Kehutanannya, melakukan pembinaan untuk warga mengembangkan penanaman hutan bakau. Saat ini ada 90 kelompok dengan jumlah setiap kelompok 20 orang sudah dibina untuk mengembangkan bakau. “Mereka kita bina dengan memberikan bibit bakau untuk ditanam. Masyarakat kita harapkan ke depan bisa menghasilkan bakau non kayu, tapi daun dan bunganya bisa lebih bernilai lagi,” kata Murod. Pembinaan ini, bisa diharapkan ke depan akan akan penambahan luasan hutan bakau mencapai 25 ribu hektar.

“Dengan pembinaan ini, maka otomatis kita juga menyelamatkan hutan bakau yang selama ini dijadikan andalan untuk membuat arang. Ke depan bakau dapat dilestarikan dengan menghasilkan produksi hilirnya,” harap Murod.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s