Indonesia Menang Juara 2 Sebagai Negara Pembuang Sampah Plastik Ke Laut


Indonesia menempati urutan nomor 2 dalam daftar 20 negara yang paling banyak membuang sampah plastik di laut. Urutan teratas ditempati China yang membuang hingga 3,5 juta ton sampah plastik ke laut setiap tahunnya. Data ini terungkap dalam hasil penelitian yang dimuat di jurnal Science yang terbit Jumat (13/2/2015). Disebutkan, setiap tahun lautan di seluruh dunia dipenuhi sampah plastik hingga 12,7 juta ton.

Besarnya jumlah sampah plastik yang dibuang ke laut oleh China, menurut Dr Christ Wilcox, pakar ekologi dari lembaga penelitian Australia CSIRO, disebabkan oleh berbagai faktor. “Ini adalah akibat dari kombinasi besarnya populasi dan tingkat pembangunan di negara tersebut,” katanya. Indonesia sendiri menempati urutan nomor dua disusul Filipina, Vietnam dan Sri Lanka.

Sementara Australia meskipun tidak termasuk dalam 20 besar, namun setipa tahunnya juga turut membuang sampah plastik ke lautan dengan jumlah sekitar 0,01 juta ton. “Itu data tahun 2010,” kata Dr Wilcox. “Dan populasi Australia tidak besar di samping telah memiliki sistem pengolahan sampah yang maju.”

Selama ini, besaran volume sampah plastik di lautan diukur dengan cara perkiraan kasar sehingga angkanya harus dilihat secara kisaran. Untuk mengatasi persoalan itu, tim peneliti yang dipimpin Dr Wilcox menggunakan model yang memasukkan faktor skala pembangunan ekonomi suatu negara, jumlah rata-rata sampah yang diproduksi, cara pengolahan sampah, serta jumlah populasi yang bermukim di radius 50 km dari garis pantai.

Dengan menggunakan data tahun 2010 untuk 192 negara, tim peneliti ini kemudian menghitung sebanyak 275 juta ton sampah dihasilkan tahun itu. Dan dari jumlah tersebut dibuat rentang antara jumlah minimal dan maksimal sampah plastik yang terbuang ke laut. Ditemukan angka antara 4,8 juta ton hingga 12,7 juta ton.

Dr Wilcox menyebutkan, insentif untuk memungut sampah plastik kurang menarik karena harga bahan plastik yang murah. “Plastik dihargai sangat murah,” katanya. “Kita bisa membantu suatu negara mengelola sampahnya dan mengenakan denda bagi yang membuat sampah sembarangan,” kata Dr Wilcox. “Tapi yang paling utama adalah membuat bahan baku plastik itu lebih berharga,” tambahnya.

Dijelaskan, dalam siklus 11 tahun, jumlah plastik mengalami peningkatan dua kali lipat, dengan kemasan dan bungkus makanan atau minuman yang menjadi jenis sampah plastik terbesar. ekitar 8 juta ton sampah plastik beredar di lautan dunia setiap tahun, menurut riset yang dikemukakan pada pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science (AAAS).

Dr Jenna Jembeck, kepala tim ilmuwan dari Universitas Georgia, AS, berupaya mengetahui seberapa banyak sampah plastik yang beredar di lautan dunia dengan mengumpulkan data internasional mengenai populasi, sampah yang dihasilkan, tata kelola sampah, dan kesalahan dalam mengelola sampah. Dari data-data tersebut, Jembeck dan rekan-rekannya menciptakan beberapa model skenario untuk mengestimasi kemungkinan jumlah plastik yang masuk ke laut. Untuk tahun 2010, misalnya, jumlah sampah diperkirakan mencapai 4,8 hingga 12,7 juta ton. Batas bawah yang ditetapkan sebesar 4,8 juta ton itu kurang lebih sama dengan jumlah ikan tuna yang ditangkap di seluruh dunia.

“Kita seperti mengambil ikan tuna dan menggantikannya dengan plastik,” komentar salah satu peserta studi, Kara Lavender Law, dari Sea Education Assocation di Woods Hole. Dari kisaran 4,8 juta ton hingga 12,7 juta ton, para ilmuwan menetapkan 8 juta ton sebagai perkiraan rata-rata. Jumlah itu hanyalah sekian persen dari total sampah plastik yang dihasilkan penduduk dunia setiap tahun. “Kuantitas sampah plastik yang ditemukan di laut sama dengan sekitar lima kantong belanja berisi plastik untuk setiap meter garis pantai di dunia,” kata Jembeck kepada BBC.

Produksi sampah
Dalam kajian yang juga diterbitkan jurnal Science tersebut, para peneliti telah membuat daftar negara-negara yang punya andil atas sampah plastik di lautan. Sebanyak 20 negara teratas dalam daftar bertanggung jawab atas 83 persen dari semua sampah yang berujung di lautan. China, yang menghasilkan lebih dari satu juta ton sampah di laut, bertengger pada posisi puncak daftar tersebut.

Posisi China itu, menurut para peneliti, merupakan konsekuensi dari jumlah penduduk China yang banyak dan sebagian besar tinggal di sepanjang garis pantai. Demikian juga Amerika Serikat yang masuk 20 besar dalam daftar itu. Kendati AS memiliki pengelolaan sampah yang lebih baik, volume sampah yang dihasilkan oleh masing-masing individu di sana luar biasa banyak.

Solusi
Sebagai solusi, Dr Jembeck dan rekan-rekannya mengimbau kepada negara-negara kaya agar mengurangi konsumsi barang-barang plastik sekali pakai, seperti tas belanja. Adapun negara-negara berkembang harus meningkatkan praktik pengelolaan limbah mereka. Hal ini terbukti dari daftar yang termasuk beberapa negara yang sedang berkembang pesat dan memiliki pendapatan menengah yang sedang mengalami kesulitan akut.

“Saat ini, pertumbuhan ekonomi memang positif, tetapi yang sering Anda lihat di negara-negara berkembang adalah infrastruktur pengelolaan sampah dikesampingkan. Memang demikian karena mereka lebih peduli pada mendapatkan air minum bersih dan meningkatkan sanitasi. “Namun, dari perspektif limbah, saya tidak ingin mereka melupakan masalah pengelolaan ini karena bila dilupakan hanya akan bertambah buruk,” kata Dr Jembeck.

Studi ini menunjukkan bahwa bila sampah plastik dibiarkan, 17,5 juta ton plastik per tahun dapat memasuki lautan pada 2025. Bila jumlah sampah plastik diakumulasikan dari tahun ini sampai 2025, sedikitnya 155 juta ton plastik akan beredar di lautan. Salah satu peneliti lain, Roland Geyer, dari University of California di Santa Barbara, mengatakan, membersihkan lautan dari sampah plastik sangatlah tidak mungkin.

“Menghentikan membuang sampah ke laut dari awal merupakan satu-satunya solusi. Bagaimana mungkin Anda membersihkan plastik di dasar laut yang rata-rata kedalamannya mencapai 4.200 meter?” Indonesia menempati urutan nomor 2 dalam daftar 20 negara yang paling banyak membuang sampah plastik di laut. Urutan teratas ditempati China yang membuang hingga 3,5 juta ton sampah plastik ke laut setiap tahunnya.

Data ini terungkap dalam hasil penelitian yang dimuat di jurnal Science yang terbit Jumat (13/2/2015). Disebutkan, setiap tahun lautan di seluruh dunia dipenuhi sampah plastik hingga 12,7 juta ton. Besarnya jumlah sampah plastik yang dibuang ke laut oleh China, menurut Dr Christ Wilcox, pakar ekologi dari lembaga penelitian Australia CSIRO, disebabkan oleh berbagai faktor. “Ini adalah akibat dari kombinasi besarnya populasi dan tingkat pembangunan di negara tersebut,” katanya.

Indonesia sendiri menempati urutan nomor dua disusul Filipina, Vietnam dan Sri Lanka. Sementara Australia meskipun tidak termasuk dalam 20 besar, namun setipa tahunnya juga turut membuang sampah plastik ke lautan dengan jumlah sekitar 0,01 juta ton. “Itu data tahun 2010,” kata Dr Wilcox. “Dan populasi Australia tidak besar di samping telah memiliki sistem pengolahan sampah yang maju.”

Selama ini, besaran volume sampah plastik di lautan diukur dengan cara perkiraan kasar sehingga angkanya harus dilihat secara kisaran. Untuk mengatasi persoalan itu, tim peneliti yang dipimpin Dr Wilcox menggunakan model yang memasukkan faktor skala pembangunan ekonomi suatu negara, jumlah rata-rata sampah yang diproduksi, cara pengolahan sampah, serta jumlah populasi yang bermukim di radius 50 km dari garis pantai.

Dengan menggunakan data tahun 2010 untuk 192 negara, tim peneliti ini kemudian menghitung sebanyak 275 juta ton sampah dihasilkan tahun itu. Dan dari jumlah tersebut dibuat rentang antara jumlah minimal dan maksimal sampah plastik yang terbuang ke laut. Ditemukan angka antara 4,8 juta ton hingga 12,7 juta ton.

Dr Wilcox menyebutkan, insentif untuk memungut sampah plastik kurang menarik karena harga bahan plastik yang murah. “Plastik dihargai sangat murah,” katanya. “Kita bisa membantu suatu negara mengelola sampahnya dan mengenakan denda bagi yang membuat sampah sembarangan,” kata Dr Wilcox. “Tapi yang paling utama adalah membuat bahan baku plastik itu lebih berharga,” tambahnya. Dijelaskan, dalam siklus 11 tahun, jumlah plastik mengalami peningkatan dua kali lipat, dengan kemasan dan bungkus makanan atau minuman yang menjadi jenis sampah plastik terbesar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s