Mafia Pemburu Gading Gajah Di Sumatera Berhasil Ditangkap Polisi


Aksi mafia pemburu gading gajah terbongkar. Polda Riau berhasil meringkus delapan orang tersangka yang terlibat perburuan gading gajah di Riau pada Selasa (10/2/2015). Berdasarkan laporan Tribun Pekanbaru, Rabu (11/2/2015), mafia pemburu gajah ditangkap bersama gading gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) senilai ratusan juta rupiah hasil perburuan di kawasan hutan pinus, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau.

“Sejumlah barang bukti yang diamankan antara lain 2 gading gajah seberat 40 kilogram, senjata api laras panjang Mouser yang sudah dimodifikasi, 6 butir peluru kaliber 7,62 mm, 3 golok, 2 kapak, dan 1 unit mobil Taft,” ujar Kabid Humas Polda Riau Guntur Ario Tejo. Penangkapan mafia pemburu gajah berawal dari informasi masyarakat. Kepolisian kemudian melacak dan akhirnya berhasil meringkusnya di Simpang Rimbung, Rumbai, Pekanbaru.

Dalam keterangan kepada polisi, salah satu tersangka berinisial HA (40) sempat berkelit dengan mengatakan bahwa aksinya di hutan tidak bermaksud untuk memburu gading gajah. Ia mengungkapkan, ia membunuh karena takut sebab gajah bergerak mendekati mobil. Namun, keterangan itu terbantahkan oleh tersangka lain berinisial FA (50) yang mengaku membiayai rekannya memburu gajah. “Itu senjata saya. Saya anggota Perbakin. Pelurunya juga dari Perbakin. Kita biasa kasih modal. Uang bensin Rp 500.000,” katanya.

Tersangka lain mengatakan bahwa dia diberi modal Rp 1,5 juta per orang untuk memburu, menguliti, dan mengambil gading gajah. Polisi sampai saat ini masih mendalami tujuan perburuan gading gajah. Dugaan sementara, gading gajah akan dijual ke luar negeri. Salah seorang pelaku sempat menyebutkan bahwa gading akan dibawa ke mancanegara.

Gading gajah yang disita Polda Riau masing-masing sepanjang 2 meter. Nilai gading ditaksir Rp 10 juta per kilogram. Dengan berat 40 kilogram, total nilai gading gajah itu sekitar Rp 400 juta. “Pelaku dijerat dengan Pasal 21 huruf d UU No 5 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati. Ancamannya lima tahun penjara dan denda 200 juta,” kata Guntur. Penyidik Polda Riau kembali menemukan enam gading gajah dari tangan mafia pemburu gading gajah sumatera yang ditangkap pada Selasa (10/2/2015) kemarin.

Gading temuan tersebut merupakan hasil pengembangan penyidikan dan olah TKP yang dilakukan, Rabu (11/2/2015) kemarin, di Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. “Hasil interogasi, mereka mengaku melakukan pembunuhan gajah tiga hari sebelumnya di Pelalawan di Taman Nasional Teso Nilo (TNTN). Ada tiga (tiga pasang, red) yang diambil gadingnya. Jadi, barang bukti ada enam buah,” kata Kabid Humas Polda Riau Guntur Aryo Tejo, Kamis (12/2/2015), di Direskrimsus Polda Riau.

Dengan tambahan itu, jumlah gading gajah yang disita dari para mafia itu sudah sejumlah delapan buah. Selasa (10/2/2015) kemarin, Polda Riau telah mengamankan dua gading gajah seberat 40 kilogram. Pemburu gajah ditangkap dan dinyatakan sebagai tersangka. Mereka adalah FA (50), HA (40), R (37), MU (52), S (30), I (25), dan AS (50). Mereka terancam hukuman lima tahun penjara dan denda Rp 200 juta.

Diduga, gading akan dijual ke luar negeri. Polda Riau menaksir, dari dua gading gajah saja, nilainya bisa mencapai Rp 400 juta. Aksi mafia pemburu gading gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang ditangkap Polda Riau ternyata tak sebatas di kota itu saja, tetapi merambah hingga kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Pelalawan dan Jambi.

“Pengakuan pelaku, selain Kecamatan Mandau, mereka juga berburu gajah di hutan TNTN Pelalawan dan Jambi,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau Kombes Yohanes Widodo. Yohanes mengatakan, pada tiga hari lalu, mafia tersebut berburu di TNTN hingga berhasil membunuh tiga ekor gajah untuk diambil gadingnya. “Dua dari gajah yang dibunuh mereka adalah gajah jantan dan satu gajah betina,” katanya.

Yohanes mengungkapkan, para pelaku masing-masing FA (50), HA (40), R (37), MU (52), S (30), I (25), dan AS (50) juga sempat berburu gajah di kawasan hutan Jambi dengan misi yang sama, mengambil gadingnya untuk dijual secara ilegal. “Untuk di hutan Jambi mereka melakukannya pada September 2014 lalu. Ada dua ekor gajah yang diambil gadingnya, keduanya jantan,” katanya seperti diwartakan Tribun Pekanbaru pada Rabu (11/2/2015).

Hasil pemeriksaan tujuh tersangka yang ditangkap, terungkap otak sindikat ini adalah FA (50), yang berperan sebagai pemodal sekaligus pembayar warga sekitar untuk membantu berburu gajah liar Sumatera. Pengakuannya FA, gading gajah dijual seharga Rp 8 juta per kilogramnya. Walau demikian, Yohanes menuturkan, pengakuan tersangka tidak dapat dipercaya begitu saja. Penyelidikan masih akan dilakukan. Pembunuhan gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) oleh mafia yang diringkus oleh Polda Riau pada Selasa (10/2/2015) ternyata berlangsung di area konsesi perkebunan.

“Bangkainya kita temukan di dekat daerah perbatasan wilayah konsesi, tapi masih masuk kawasan konsesi. Konsesinya akasia,” ungkap Kasubdit IV Kriminal Khusus Polda Riau, AKBP Fadilah ketika dihubung, Kamis (12/2/2015). Fadilah mengungkapkan, pihak Polda masih terus melakukan penyelidikan. Dua hari ini, pihaknya menggelar rekonstruksi pembunuhan gajah. Rekonstruksi pertama dilakukan di Duri pada Rabu (11/2/2015) sementara yang kedua hari ini di Pelalawan.

Hingga hari ini, Polda Riau sudah menyita 8 gading gajah sebagai barang bukti. Delapan tersangka yang dibekuk diduga tak hanya melakukan perburuan di Riau, tetapi juga di wilayah Jambi. Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Krismanko Padang, mengapresiasi keberhasilan kepolisian membekuk pelaku pembunuhan gajah. “Selama ini, kasus pembunuhan gajah jarang terungkap dan diproses hukum,” katanya.

Terkait pembunuhan yang dilakukan di wilayah perkebunan, ia berharap kepolisian bisa menyelidiki kemungkinan keterlibatan pihak konsesi. “Karena selama ini konsesi itu dijaga ketat tapi tampaknya untuk pemburu longgar,” ungkapnya. Dalam 10 tahun terakhir, ratusan gajah Sumatera mati. Dahulu, pembunuhan kerap dilakukan sebab gajah mengganggu. Namun, pengamatan terhadap gajah yang mati dan kehilangan gading akhir-akhir ini menunjukkan bahwa tujuan pembunuhan adalah untuk mendapatkan gading.

Kematian banyak menimpa pejantan. Hal itu semakin menyulitkan spesies eksotik yang kini populasinya sudah turun drastis itu. Ketimpangan gender akibat pembunuhan bisa semakin menggiring jenis itu lebih cepat ke arah kepunahan.Mafia pemburu gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang diringkus Polda Riau pada Selasa (10/2/2015) diduga sangat profesional. Mereka tahu betul gading gajah yang bernilai tinggi.

Dugaan tersebut diungkapkan Syamsidar Sandy dari WWF Indonesia saat dihubungi pada Kamis (12/2/2015).
Syamsidar mengungkapkan, selama ini terdapat dua cara untuk mendapatkan gading gajah. Cara pertama dilakukan dengan memotong langsung gading gajah sementara cara kedua dengan mencongkelnya. “Kalau dipotong itu harganya murah, cuma Rp 5 juta per kilogram. Kalau dicongkel harganya bisa 30 juta per kilogram,” katanya.

Menganalisis foto dua gading hasil buruan pelaku yang menjadi barang bukti, Syamsidar mengungkapkan bahwa dengan melihat panjangnya, pelaku mendapatkan gading dengan cara mencongkelnya. “Jadi kalau melihat foto itu, mereka tahu betul gading yang harganya mahal,” ungkap Syamsidar. Syamsidar berharap kasus perburuan gajah ini bisa diselesaikan dan pelakunya bisa dihukum secara maksimal. Selama ini, perburuan yang berujung kematian gajah sering terjadi namun tindakan hukum jarang dilakukan.

Polda Riau sejauh ini telah menetapkan 8 tersangka. Mereka ditangkap Selasa kemarin bersama barang bukti seperti gading gajah, senjata tajam, peluru, dan senjata api.

Rabu (11/2/2015), Polda Riau kembali menyita 6 gading gajah. Dengan demikian, jumlah gading yang ditemukan sudah 8 buah. Berdasarkan hukum yang berlaku, pelaku pembunuhan gajah bisa dijerat hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda Rp 200 juta.Ancaman hukuman untuk pemburu gajah menurut UU No 5 tahun 1990 adalah 5 tahun penjara dan denda Rp 200 juta. Namun juru bicara WWF Riau, Syamsidar, berharap pemburu gading gajah yang dibekuk Selasa (10/2/2015) bisa dihukum lebih berat.

Syamsidar mengungkapkan, dalam kurun waktu tahun 2004 – 2014, ada 145 gajah yang mati dibunuh. Namun, penangkapan pada pelaku yang ditindaklanjuti dengan proses hukum yang memberikan efek jera jarang sekali dilakukan. Menurutnya, kasus penangkapan mafia pemburu gading gajah di Riau bisa menjadi momentum bagus untuk menunjukkan ketegasan hukum pada para pemburu satwa liar. Syamsidar menuturkan, pemberlakuan pasal berlapis pada pemburu gajah pernah dilakukan pada tahun 2005 lalu. Pemburu dikenakan pasal melawan petugas, di mana 2 orang sampai harus ditembak hingga tewas di tempat, lalu juga penggunaan senjata api dan perburuan.

“Dengan pemberlakuan pasal berlapis itu akhirnya satu pelaku bisa dihukum hingga 12,5 tahun penjara,” katanya. Dalam kasus perburuan gading gajah di Riau kali ini, kepolisian berhasil mengamankan barang bukti berupa senapan api, peluru, dan 8 gading gajah. Adanya barang bukti berupa senapan dan peluru bisa menjadi dasar pemberlakuan pasal penggunaan senjata api. Syamsidar mengatakan, hukuman semaksimal mungkin pada pemburu gading gajah diperlukan. “Agar mereka takut, jera,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s