Ikan Hiu Paus Rhyncodon typus Yang Terjebak Di PLTU Paiton Akhirnya Tewas Mengenaskan


Hiu paus (Rhyncodon typus) yang terjebak di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton akhirnya mati. Tim penyelamatan hiu paus mengonfirmasinya saat dihubung, Rabu (11/2/2015). “Berdasarkan identifikasi awal, hiu mati terjebak dalam waktu lama serta mengalami luka yang cukup dalam,” kata Dwi Suprapti, Marine Species Coordinator WWF Indonesia, yang ikut mengobservasi hiu paus tersebut.

Dwi menambahkan, luka yang dialami hiu paus menyebabkan daya tahan tubuhnya turun. Berpadu dengan waktu terjebak yang cukup lama, kondisi hiu makin menurun sehingga akhirnya mati. “Saat ini, nekropsi (otopsi pada hewan) baru akan kita lakukan,” kata Dwi saat dihubungi hari ini. Otopsi akan menjawab lebih detail tentang penyebab kematian satwa langka yang terjebak sejak 31 Januari 2015 lalu.

Menurut observasi awal, hiu paus itu telah mati selama delapan jam. Saat ini, penyebab terjadinya luka belum diketahui, apakah sebelum atau sesudah terjebak. “Yang bisa dipastikan itu karena benda tajam,” kata Dwi. Hiu paus tergolong binatang dilindungi di Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 18/2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus.

Sebelum mati, sejumlah skenario sempat digagas untuk mengembalikan hiu paus ke habitatnya. Sayang, sejumlah skenario itu masih gagal menyelamatkan satwa dengan kulit keras dan penuh totol itu. Sejumlah skenario sempat digagas untuk menyelamatkan hiu paus (Rhincodon typus) yang terjebak di PLTU Paiton. Namun sayang, sejumlah upaya gagal, satwa langka tersebut secara resmi dinyatakan mati pada Rabu (11/2/2015).

Dwi Suprapti, Marine Species Coordinator WWF Indonesia, yang terlibat observasi hiu yang terdampar sejak 31 Januari 2015 itu mengatakan bahwa nekropsi (otopsi pada hewan) akan segera dilakukan.Namun, hasil penyelidikan awal menyebutkan bahwa kematian hiu paus disebabkan oleh luka dan terjebak dalam waktu lama. “Dua faktor itu, kombinasi,” kata Dwi hari ini.

Observasi awal yang dilakukan pada Selasa (10/2/2015) menunjukkan, hiu mengalami luka sayat pada bagian punggung sepanjang 4 cm. Sementara luka lain juga terdapat pada bagian perut. Dwi beserta Dewa Ayu Putu Arie S, volunteer WWF Indonesia, serta Hadi Sutrisno, asisten tim forensik dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, menduga luka memicu infeksi.

“Diduga terdapat jamur pada bagian dekat luka anteriolateral et sinister (bagian depan, samping sebelah kiri),” demikian dinyatakan Dwi dan rekan dalam keterangan yang diterim. Kepastian akan didapatkan setelah nekropsi. Hiu paus tersebut diduga telah mati selama delapan jam. Aroma menyengat muncul akibat satwa tersebut telah melewati fase rigor mortis (penegangan sendi dan otot beberapa lama setelah kematian).

Hiu paus tergolong binatang dilindungi di Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 18/2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus. Hiu paus yang terjebak di PLTU Paiton memiliki ukuran panjang sekitar 6,3 meter.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s