Hujan Di Jakarta Pada Senin Lalu Sama Dengan Curah Hujan Sebulan Karena Udara Dingin Di Siberia


Intensitas hujan di wilayah Jabodetabek pada Senin (9/2/2015) luar biasa. Kepala Balitbang Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edvin Aldrian mengatakan, hujan hari ini setara dengan rata-rata hujan dalam sebulan. “Rata-rata hujan dalam sebulan itu 300-400 mm. Hari ini kita ukur dari stasiun kita di kantor BMKG mencapai 360 mm per hari untuk wilayah Jakarta Pusat. Jadi, hujan untuk sebulan tumpah dalam sehari. Luar biasa,” kata Edvin.

Hujan mulai mengguyur Jakarta pada Senin dini hari. Sejak dini hari hingga tengah hari, intensitas hujan di wilayah Jakarta Pusat mencapai 177 mm, sementara pada siang hari, total intensitas hujan mencapai 198 mm. “Besok (Selasa, 10/2/2015) kemungkinan hujan sudah mereda, tetapi masih akan tetap basah,” ungkap Edvin saat dihubungi Warga Jabodetabek masih harus mewaspadai hujan dan banjir. Peneliti meteorologi tropis Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Tri Handoko Seto, menduga hujan Jakarta hari ini disebabkan oleh seruak dingin dari Siberia, aliran udara dingin dari utara Bumi.

Namun, Edvin meyakini bahwa penyebabnya bukan seruak dingin, melainkan awan hujan yang terkonsentrasi di Jabodetabek. “Kalau seruak dingin wilayah Selat Karimata itu kering, ini tidak,” katanya. Peneliti meteorologi tropis dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Tri Handoko Seto, mengungkapkan bahwa hujan berdurasi lama yang memicu banjir Jakarta pada Senin (9/2/2015) disebabkan oleh seruak dingin.

“Terjadi peristiwa meteorologis yang disebut dengan cold surge (seruak dingin), yaitu masuknya massa udara dingin dari Siberia menuju Jawa bagian barat,” kata Seto yang juga Kepala Bidang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan Buatan, UPT Hujan Buatan BPPT, Senin. Seruak dingin yang masuk ke Jawa bagian barat bertemu dengan udara yang bergerak ke timur sehingga terjadi konvergensi angin. Akibatnya, terjadi pembentukan awan yang memicu hujan.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memperkirakan bahwa hujan hari ini akan mereda pada sore hingga malam. Menurut Seto, hujan bisa kembali terjadi dan diperkirakan hingga Selasa (9/2/2015). Ia mengatakan bahwa banjir tetap perlu diwaspadai. Data yang dikumpulkan Seto menunjukkan bahwa intensitas hujan hari ini mencapai 100 mm per hari di beberapa wilayah Jabodetabek. Dengan tingginya intensitas hujan, Seto mengungkapkan perlunya modifikasi cuaca. Hasil prakiraan cuaca Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dengan Sadewa (Sattelite Disaster Early Warning System) menyatakan bahwa hujan di area Jabodetabek Senin (9/2/2015) akan mereda pada sore hingga malam nanti.

“Menurut prakiraan Sadewa, sore ini hujan mulai mereda. Semoga bajir pun segera teratasi,” kata Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin, hari ini. Thomas menyebut, hujan hari ini disebabkan oleh pertemuan dua angin dingin dari utara. Pertemuan itu memicu pembentukan awan secara intensif di Jabodetabek dan Laut Jawa sehingga hujan terjadi.

Seperti yang terjadi, Lapan dengan Sadewa menyajikan informasi bahwa hujan mengguyur Jakarta sejak Minggu (8/2/2015) malam. Hujan semakin deras pada Senin pagi. Intensitas hujan di wilayah Jabodetabek mulai pukul 05.00 WIB hingga tengah hari mencapai 5 mm/jam. Dengan intensitas itu, hujan yang mengguyur tergolong hujan sedang. Intensitas 5 mm/jam sendiri berarti bahwa setiap jamnya, ada akumulasi air hujan dengan ketinggian 5 mm di wilayah seluas 1 meter persegi.

Menurut prakiraan dengan Sadewa, awan hujan mulai menjauh dari wilayah Jabodetabek pada pukul 14.00 WIB siang ini. Dengan demikian, walaupun sejumlah awan masih menutupi, hujan akan mulai mereda mulai pukul 15.00 WIB. Prakiraan dengan Sadewa menyatakan bahwa hingga malam, wilayah Jabodetabek masih akan berawan namun tidak hujan atau hanya terjadi hujan ringan.

Sementara hujan bakal mereda di Jabodetabek, wilayah selatan Jawa, seperti Tasikmalaya dan Yogyakarta akan mengalami hujan pada sore hingga malam nanti. Selain Jawa, hujan juga diperkirakan akan mengguyur sejumlah wilayah di pantai timur Sumatera.

Akibat hujan hari ini, wilayah Jakarta seperti MH Thamrin, Rawamangun, bahkan kantor Gubernur mengalami banjir. Beberapa stasiun kereta ditutup sehingga rute perjalanan tidak seperti biasanya. Pelayanan Transjakarta juga mengalami gangguan. Sejumlah koridor tidak berpoerasi.Hujan mengguyur wilayah Jabodetabek sejak Minggu (8/2/2015) petang hingga Senin (9/2/2015) dan belum berhenti. Sejumlah 49 titik genangan banjir muncul di area Jabodetabek akibat hujan berdurasi lama tersebut.

Prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berdasarkan pola angin dan hasil penginderaan jauh yang dirilis di situs web-nya mengungkap kondisi yang menyebabkan hujan berdurasi lama itu. Menurut pola angin, terdapat perlambatan kecepatan gerak udara di utara Laut Jawa. Kecepatan angin di wilayah itu sekitar 10 knot. Dengan wilayah Sumatera, Jawa, hingga Papua yang cenderung lembab, pembentukan awan hujan mudah terjadi.Citra satelit yang diambil terakhir kalinya pada Senin pukul 10.00 WIB berdasarkan pemantauan dengan pita gelombang inframerah mengungkap banyaknya awan-awan tebal di atas wilayah Jabodetabek.

Tergambar sebagai wilayah berwarna oranye dan merah jingga muda pada hasil pencitraan satelit, suhu puncak awan tebal di atas wilayah Jabodetabek diperkirakan mencapai -100 derajat Celsius. Perlambatan kecepatan angin yang memicu pembentukan awan tebal itulah yang menyebabkan di wilayah Jabodetabek. Senin hari ini, wilayah Jabodetabek diprediksi terus diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang sepanjang hari. Citra radar BMKG mengungkap intensitas hujan yang mengguyur Jabodetabek. Citra itu dihasilkan lewat pengukuran besaran energi radar yang dipantulkan oleh butiran-butiran es dalam awan. Reflektivitas dinyatakan dalam satuan decibel (dBZ).

Berdasarkan pengukuran itu, diketahui reflektivitas di wilayah Jabodetabek berkisar antara 30 – 40 dBZ. Artinya, walaupun berlangsung seharian, intensitas hujan yang mengguyur masih ringan (30-38 dBZ) hingga sedang (38 – 48 dBZ). Dengan intensitas itu, diperkirakan, setiap jamnya ada 1 – 10 mm air hujan yang terakumulasidi wilayah seluas 1 meter persegi. Air ini yang kemudian diserap tanah, mengalir lewat saluran ke sungai, ataupun menjadi genangan.

Genangan atau banjir di wilayah Jabodetabek setiap hujan tidak selalu terkait dengan hujan itu sendiri. Banjir disebabkan oleh banyak faktor, termasuk kelancaran drainase. Hasil penelitian mengungkap, banjir besar Jakarta tahun 2013 lalu lebih dipicu oleh kegemaran warga jakarta menganggap got dan kali adalah tempat sampah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s