Cara Mengatasi Gangguan Makan Drinkorexia


Gangguan makan seperti anoreksia dan bulimia kerap terjadi pada wanita, terutama di usia remaja. Gejala anoreksia ditandai dengan perasaan selalu merasa gemuk sehingga membiarkan tubuh kelaparan, sedangkan bulimia adalah keinginan makan sebanyak-banyaknya namun setelah kenyang makanan tersebut segera dimuntahkan kembali.

Kini bertambah satu lagi gangguan makan yang bisa membahayakan jiwa, yang kerap disebut para ahli dengan drinkorexia. Pengidap gangguan makan ini terlalu terobsesi dengan asupan kalori dari makanan hingga akhirnya tak berani mengonsumsinya dan lebih memilih hanya minum. Lebih mengkhawatirkan lagi, minuman yang mereka pilih adalah wine atau minuman beralkohol lainnya.

Wanita dengan gangguan makan ini lebih memilih minuman ketimbang makanan sebagai sumber energinya sehari-hari. Orang-orang ini adalah mereka yang sangat memerhatikan jumlah kalori dan terobsesi membatasi asupannya namun dengan cara yang ekstrem. Makanan pun mereka anggap tak penting lagi untuk dikonsumsi, tapi digantikan dengan minuman beralkohol. Biasanya mereka lebih memilih minum dalam keadaan perut kosong agar efek dari minuman beralkohol lebih maksimal.

Belum diketahui secara pasti kenapa para pengidap drinkorexia menganggap kalau minuman beralkohol bisa menggantikan makanan. Namun diduga informasi kandungan kalori dalam kemasan minuman yang jadi penyebabnya. Jika ditelaah, dalam segelas wine putih mengandung 130 kalori. Itu setara dengan satu potong ayam dan satu potong tempe. Sedangkan bir lebih tinggi lagi, sekitar 200 kalori per gelasnya yang setara dengan dua potong ayam. Padahal yang sama hanya jumlah kalori sementara kandungan nutrisi berbeda jauh.

Adrienne Key, pakar kesehatan dari Priority Hospital mengatakan kini makin banyak orang terutama di Inggris yang mengganti asupan kalori dari makanan dengan wine, bir atau champagne secara reguler. “Orang yang menolak makan biasanya akan berkata, ‘Aku membiarkan perutku kosong untuk segelas wine’. Orang kini cenderung menggunakan metode ini untuk mengontrol asupan makan namun dengan cara yang tidak benar,” tutur Adrienne, seperti dikutip dari Daily Mail.

Drinkorexia biasanya mengancam orang yang memang sudah mengalami gangguan makan. Tapi bagi yang tidak mengalami gangguan makan seperti anoreksia dan bulimia, ancaman terkena drinkorexia tetap ada. Susan Ringwood dari Beat, organisasi non-profit yang khusus menangangi penderita gangguan makan mengatakan orang yang pola makannya normal juga berisiko mengidap drinkorexia.

“Biasanya orang akan minum-minum di akhir pekan. Sebenarnya tidak mutlak disebut dengan gangguan makan, tapi perilaku ini berhubungan dengan pola makan dan orang bisa terperangkap dalam kebiasaan yang sama secara jangka panjang,” jelas Susan.

Orang dengan drinkorexia umumnya beranggapan bahwa sedikit saja mengonsumsi alkohol bisa menggantikan asupan kalori harian mereka. Sehingga mereka merasa lebih baik minum segelas wine atau bir ketimbang menyantap makanan secara utuh. Padahal nutrisi yang dikandung dalam minuman jauh lebih sedikit ketimbang makanan. Hal itu bisa mengakibatkan terjadinya malnutrisi yang bisa berujung pada kematian jika sudah dalam tahap kronis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s