Katak Aneh Bertaring dan Beranak Ditemukan Di Mamuju Sulawesi Barat


Djoko Tjahjono Iskandar dan Jimmy A. McGuire takjub ketika katak di dalam genggamannya melahirkan kecebong. Katak itu mereka temukan di Desa Uaemate, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. Di lapangan, mereka menyaksikan perilaku unik satwa itu. “Kami mengamati kelahiran itu secara langsung dalam 19 kesempatan,” kata Djoko, ahli herpetologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pada kesempatan lain, Djoko, Jimmy, dan Ben J. Evans menemukan kecebong hidup dalam bagian sistem reproduksi bernama oviduk serta di dalam tas plastik tempat tim mengumpulkan katak. “Katak baru ini adalah satu dari 10 atau 12 spesies yang fertilisasi internalnya berkembang, dan hanya satu-satunya yang melahirkan kecebong,” kata Jimmy A. McGuire dari University of California, Berkeley. Temuan McGuire bersama Djoko dan Ben J. Evans dari McMaster University di Kanada memang mengejutkan.

Maklum, biasanya katak berkembang-biak dengan cara bertelur, bukan melahirkan. Karena itu, katak baru ini dimasukkan ke golongan hewan yang berkembang biak secara ovovivipar. Artinya, embrio tetap berkembang di telur yang berada di dalam tubuh induk, tapi keluar dari tubuh induk dalam kondisi sudah menetas. Ovovivipar ini berbeda dengan ovipar (bertelur) dan vivipar (melahirkan). Spesies katak baru ini dinamai Limnonectes larvaepartus, sesuai dengan sifatnya: mampu melahirkan larva atau kecebong. Temuan unik ini mereka publikasikan di jurnal PLOS ONE edisi Rabu, 31 Desember 2014.

Menurut Djoko, katak jenis ini sudah dia jumpai saat melakukan survei keragaman kodok di Sulawesi pada 1996. Namun perilaku melahirkan baru dia saksikan dalam penelitian lapangan beberapa waktu lalu. Bagaimana katak yang biasanya melakukan pembuahan eksternal (tidak ada penyatuan antara sel sperma dan sel telur di dalam tubuh) bisa melahirkan masih menjadi misteri.

Hampir semua dari 6.000 spesies katak di dunia menggunakan fertilisasi eksternal. Yaitu betina bertelur saat kawin, sedangkan katak jantan melepaskan sperma untuk membuahi telur itu. Walhasil, Limnonectes larvaepartus disebut-sebut sebagai satu-satunya jenis katak yang mampu melahirkan kecebong. Ben Tapley, koordinator herpetologi di Zoological Society of London, takjub atas temuan baru ini. Dia menyebutnya “totally out of the blue” alias benar-benar di luar dugaan. “Sebenarnya, ini katak yang hampir punah,” kata Tapley. “Sangat jarang ditemui di hutan.”

Memang ada 25 spesies Limnonectes di Sulawesi, tapi hanya empat yang telah diteliti, termasuk larvaepartus ini. Dua kecebong yang lahir memiliki panjang sekitar 1,5 sentimeter. Menurut Tapley, spesies ini sepertinya menemukan modus reproduksi baru. “Ada lebih dari 40 spesies pada amfibi, tapi temuan yang satu ini jelas benar-benar unik.”

Dia menjelaskan, Pulau Sulawesi, tempat katak itu ditemukan, merupakan salah satu wilayah yang memiliki tingkat deforestasi tertinggi di dunia. Ancaman alih fungsi hutan di pulau itu terus meningkat, dan ini mengancam kelangsungan hidup satwa, termasuk Limnonectes larvaepartus. “Kita harus meneliti spesies ini sebelum terlambat,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s