Monthly Archives: Desember 2014

Sumur Injeksi Lebih Berguna Dalam Tangani Banjir dan Tenggelamnya Jakarta


“Kalau miring, kacanya mestinya pecah, lift-nya nggak jalan. Itu semestinya,” kata Sutanto kepada detikFinance September lalu. Menyambung soal penurunan permukaan air tanah dan persoalan banjir, Mohajit yang juga anggota asosiasi ilmuwan bergensi Humboldt Network Germany ini menjelaskan solusi penanganan banjir selama ini lebih banyak mempercepat mengalirnya air menuju sungai dan laut, yang mengakibatkan air banjir terbuang cuma-cuma.

“Penyediaan waduk penampung juga tepat namun memerlukan lahan dan biaya yang cukup tinggi, dan kendalanya selalu pada saat pembebasan lahan,” jelasnya. Mohajit menawarkan solusi dengan sitem sumur injeksi, yang biayanya jauh lebih murah dibandingkan dengan menyediakan waduk atau membuat sodetan yang membuang air cuma-cuma kelaut.

“Biayanya bisa mencapai sepersepuluh dari biaya membuat sodetan atau menyiapkan waduk baru,” terang pria kelahiran Ambarawa ini. Menurutnya teknologi sumur injeksi ini telah digunakan oleh Pemerintah Jerman untuk mengelolah sumber daya alam menjadi lebih berguna. Pemerintah Jerman mengunakan tekhnologi ini untuk menjaga kestabilan tanah sehingga bangunan yang ada diatasnya stabil dan tidak bergerak. Selain itu sistem ini juga berfungsi untuk mencegah intrusi air laut kedaratan.

Teknologi sistem injeksi tidak memerlukan lahan yang luas seperti halnya membuat waduk atau sodetan. “Cukup pilh area yang selalu banjir, lahan seluas 2 meter persegi sudah bisa menjadi sebuah sumur injeksi.” lanjutnya. Teknologi ini juga tidak memerlukan teknologi mutakhir karena sistem injeksi ini memanfaatkan gaya grativitasi bumi.

“Karena memanfaatkan grativitasi bumi maka biayanya cukup murah, satu sumur injeksi memerlukan dana sekitar Rp 500 juta,” jelasnya. Secara di atas kertas, untuk mengatasi banjir besar dengan limpahan air dititik maksimal 800 meter kubik/detik atau dalam keadaan siaga satu maka diwilayah Jakarta dibutuhkan 2.000 sumur injeksi.

“Pemerintah hanya mengeluarkan anggaran sekitar Rp 1 triliun dan ini jauh lebih murah dibandingkan dengan membuat sodetan atau waduk,” jelasnya.

Peralatan Dari Batu Yang Berusia 1,2 Juta Tahun Ditemukan Di Turki


Para ilmuwan telah menemukan alat batu bertanggal tertua di Turki. Temuan itu mengungkapkan bahwa manusia melewati pintu gerbang dari Asia ke Eropa jauh lebih awal daripada yang diperkirakan sebelumnya, sekitar 1,2 juta tahun lalu.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Quaternary Science Reviews, kesempatan menemukan sebuah serpihan kuarsit di sekitar Sungai Gediz, Turki barat, itu memberikan wawasan baru tentang kapan dan bagaimana manusia purba tersebar dari Afrika dan Asia.

Para peneliti dari Royal Holloway, University of London, bersama-sama dengan tim internasional dari Inggris, Turki, dan Belanda menggunakan peralatan presisi tinggi untuk menentukan tanggal endapan dari sungai kuno itu untuk memberikan kerangka waktu yang akurat kapan manusia menduduki daerah itu.

“Penemuan ini sangat penting untuk menentukan waktu dan rute penyebaran manusia purba ke Eropa. Penelitian kami menunjukkan serpihan tersebut adalah artefak bertanggal paling awal dari Turki yang pernah tercatat dan dijatuhkan oleh hominin awal lebih dari satu juta tahun lalu,” ujar Profesor Danielle Schreve dari Departemen Geografi di Royal Holloway, sebagaimana dikutip Sciencedaily, Selasa, 23 Desember 2014.

Para peneliti menggunakan penanggalan radioisotopic presisi tinggi dan pengukuran paleomagnetic dari aliran lava untuk membuktikan bahwa manusia purba yang ada di daerah itu sekitar 1,24 juta dan 1,17 juta tahun lalu. Sebelumnya, fosil hominin tertua di Turki barat ditemukan pada 2007 di Koçabas, tapi penanggalan alat batu dan temuan lain itu tidak pasti.

“Serpihan ini adalah temuan sangat menarik,” kata Profesor Schreve. “Saya telah mempelajari sedimen, dan mata saya tertarik pada batu merah muda di permukaan. Ketika saya membaliknya untuk melihat lebih jelas, fitur artefak itu tampak jelas,” ujar Schreve.

“Dengan bekerja sama dengan ahli geologi dan penanggalan, kami telah mampu menentukan kronologi temuan ini dan memberi cahaya baru pada perilaku nenek moyang kita yang paling jauh.” Simak berita tekno lainnya di sini

10 Proyek Gagal NASA Yang Dirahasiakan


Roket Antares dari Orbital Sciences meledak beberapa detik setelah lepas landas, Selasa, 28 Oktober 2014. Rencananya kendaraan peluncur tersebut membawa Cygnus, alat yang memuat dua ribu kilo lebih bahan makanan dan perlengkapan eksperimen, menuju Stasiun Antariksa Internasional. Peluncuran Antares ini merupakan proyek Lembaga Antariksa Amerika Serikat atau NASA. Ledakan tersebut membuat NASA dan Orbital Sciences merugi US$ 1,9 miliar atau setara Rp 23,8 triliun. Namun ternyata, sebelumnya NASA juga pernah mengalami kegagalan saat meluncurkan roket ke luar angkasa. Berikut beberapa kegagalan tersebut, menurut situs Popular Science.

1. Satelit NOAA-19
NOAA-19 adalah satelit pemantau cuaca dan kondisi atmosfer Bumi. NOAA-19 juga memantau kondisi gunung dan memotret alur lahar ketika meletus. Satelit ini tiba-tiba hilang di ruang angkasa. Ilmuwan NASA yang berkantor di Lockheed-Martin Facility di California, Amerika Serikat, gagal merekam pantauan terakhir satelit ini.

2. Mars Climate Orbiter (MCO)
Alat ini memiliki tugas sebagai “otak” dari misi eksplorasi Mars. MCO berfungsi menerima sinyal yang dikirimkan satelit untuk mempelajari atmosfer planet merah tersebut. Namun ilmuwan dari subkontraktor Lockheed-Martin membuat perangkat lunak MCO dengan satuan koordinat metrik yang tidak digunakan NASA. Akibatnya satelit yang memantau Mars menghantam atmosfer pada sudut yang salah dan terbakar.

3. Deep Space 2
Satelit ini dikirim ke Mars dengan pesawat tanpa awak bernama Mars Polar Lander. Deep Space 2 bertugas mengumpulkan data tentang air dan komposisi kandungan bahan kimia di Mars. Nahas, sama seperti MPL, keberadaan DS2 tak diketahui hingga kini.

4. Mars Polar Lander (MPL)
MPL merupakan kendaraan tanpa awak yang diluncurkan pada 1998 untuk meneliti Mars. Sebagai kendaraan peluncur, pesawat ini harusnya sudah dirancang untuk mendarat di planet merah tersebut dan mendukung penelitian Deep Space 2. Tapi, MPL tak pernah mendarat. Rusaknya pemancar pesawat ini menyebabkan keberadaannya tak diketahui hingga kini.

5. Space-Based Infrared System (SBIRS)
SBIRS harusnya dapat menjawab kebutuhan Angkatan Udara untuk melacak peluncuran rudal balistik. Sistem ini terdiri dari satelit yang terbang tinggi dan rendah. Meskipun baru akan diaktifkan tahun depan, proyek senilai US$10 miliar (setara Rp 120 trilun) ini dituding oleh banyak pihak tak dapat berfungsi. Sebab, salah satu satelit langsung mati saat mencapai orbit bumi.

6. Genesis
Genesis dirancang untuk menangkap potongan-potongan dari matahari. Dia pun dikirim ke ruang angkasa untuk mengumpulkan angin matahari di lembaran yang dirancang khusus dari emas, berlian, dan safir. Dengan mempelajari potongan matahari, para ilmuwan berharap dapat mempelajari komposisi tata surya.

Bukannya menangkap potongan dan kembali ke bumi, Genesis malah sulit kembali. Satelit ini diduga akan hancur jika melewati atmosfer bumi dengan muatan tersebut. Para ilmuwan NASA pun akhirnya berusaha membawa muatan tersebut dengan pesawat bantuan.

7. Teleskop ruang angkasa Hubble
Teleskop ini menjadi yang pertama dapat melihat bintang-bintang di ruang angkasa tanpa terhalang atmosfer. Hanya, lensa bawaan teleskop ini tak dapat beradaptasi dengan cepat saat memperhatikan bintang yang tak memiliki gravitasi. Akhirnya para ilmuwan menambahkan lensa baru yang cocok. Hubble pun dapat digunakan.

8. NASA Helios
Helios bukan alat untuk memantau ruang angkasa. Pesawat tanpa awak bertenaga surya ini dirancang untuk terbang di wilayah atmosfer. Masalahnya, pada penerbangan pertamanya, Helios menabrak angin kuat dan jatuh ke Samudera Pasifik.

9. Demonstration for Autonomous Rendezvous Technology (DART) Spacecraft
Menyerah dari peluncuran pesawat ulang-alik dan satelit yang memerlukan biaya perawatan mahal dan berisiko, NASA menciptakan DART untuk menghubungkan satu satelit dengan satelit lain. Tujuannya, mengumpulkan seluruh data dalam satu “rumah”. Tapi para ilmuwan salah memperhitungkan jarak orbit pesawat ini. Akhinya, DART menabrak satelit dan jatuh ke laut.

10. The Orbiting Carbon Observatory (OCO) Satellite
NASA menciptakan OCO dengan tujuan melihat karbon dioksida bergerak di atmosfer. Target ke depannya, satelit ini dapat memetakan proses pemanasan global dan perubahan iklim. Sayangnya, OCO tak pernah berhasil masuk ke orbit bumi. Dia jatuh ke laut setelah 17 menit lepas landas. Simak

Batu Meteor Mars Ungkap Rahasia Iklim dan Air Planet Mars


Hasil analisis terbaru dari batuan Mars yang diambil dari medan es Antartika 30 tahun lalu mengungkap catatan iklim planet merah. Batu ini juga membantu mengungkap tentang kondisi air dan setiap kehidupan yang pernah ada di Mars.

Para ilmuwan dari University of California di San Diego, NASA, dan Smithsonian Institution melaporkan analisis rinci mineral meteorit tersebut dalam jurnal Prosiding National Academy of Sciences. “Mineral dalam meteorit bercampur dengan kimia kuno di planet ini,” kata Robina Shaheen, pemimpin studi ini, seperti dikutip dari Livescience, Selasa, 23 Desember 2014.

Batu Mars yang bentuknya mirip kentang ini diduga jatuh ke bumi 13 ribu tahun lalu. Batu yang diberi nama ALH84001 ini merupakan meteorit tertua dari Mars yang dimiliki bumi. Sepotong magma padat yang keluar dari gunung berapi empat miliar lalu dan jatuh ke bumi. “Sejak saat itu sesuatu cairan meresap melalui pori-pori batu dan disimpan di dalamnya,” ujar Shaheen.

Menurut Shaheen, jumlah karbonat yang bervariasi tergantung pada sumber karbon dan atom oksigen di dalam batu. Kelimpahan jumlah relatif isotop ini membentuk “tanda tangan” kimia yang secara ilmiah bisa dianalisis. Atmosfer Mars sebagian besar berupa karbon dioksida, tapi juga mengandung ozon. Jumlah isotop oksigen dalam ozon tersebut aneh. “Ketika ozon bereaksi dengan karbon di atmosfer, mereka menghasilkan molekul baru,” ujar Mark Thiemens, anggota tim penelitian.

Tingkat keanehan isotop dalam karbonat mencerminkan berapa banyak air dan ozon hadir ketika mereka terbentuk. “Ini merupakan catatan iklim 3,9 miliar tahun lalu yang terkunci dalam mineral,” ujar Thiemens. Semakin banyak air, dia menambahkan, semakin kecil sinyal ozon.

Tim mengukur sinyal ozon yang dikandung dalam karbonat meteorit. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun Mars memiliki air saat itu, tapi tidak memiliki lautan luas. Sebaliknya, lanskap planet merah memungkinkan untuk memunculkan laut kecil.

Campuran isotop karbon juga menunjukkan bahwa mineral yang berbeda dalam meteorit memiliki asal-usul terpisah. ALH84001 ditempatkan dalam tabung kecil karbonat. Lantas peneliti meneliti dan menemukan bukti potensi kehidupan mikroba. Pada 16 Desember, NASA juga mengumumkan potensi kehidupan di Mars dalam bentuk metana yang diendus oleh wahana Curiosity.

Dengan mengukur isotop, para ahli kimia menemukan karbonat hilang dalam karbon-13 dan diperkaya dengan oksigen-18. Artinya, atmosfer Mars pada era itu mengandung jauh lebih sedikit karbon-13 daripada kondisi sekarang. Perubahan jumlah relatif isotop karbon dan oksigen juga dapat terjadi melalui kehilangan luas atmosfer Mars. “Kami sekarang memiliki wawasan yang lebih dalam dan spesifik ke dalam sistem oksigen dan air pada awal tata surya,” kata Thiemens.

Ditemukan Batu Langka Berisi 30 Ribu Berlian


agi para ilmuwan, mungkin ini hadiah Natal yang paling dinanti: sebuah batu merah dan hijau berornamen dengan 30 ribuan berlian kecil. Batu langka tersebut diambil dari tambang berlian Udachnaya, Rusia, dan disumbangkan untuk ilmu pengetahuan.

“Hal yang paling menarik memang 30 ribuan permata kecil, octahedrons yang sempurna,” ujar Larry Taylor, pakar geologi dari University of Tennessee, Knoxville, yang memaparkan penemuan ini dalam pertemuan tahunan American Geophysical Union.

Konsentrasi berlian pada satu batu merupakan proses yang sangat langka dibandingkan pembentukan satu berlian, yang rata-rata hanya menyimpan 1-6 karat per ton. Satu karat sama dengan seperlima gram, atau 0,007 ons.

Jumlah berlian dalam satu batu membuat Taylor dan tim penelitian terperangah. “Dapat memberikan petunjuk penting untuk sejarah geologi bumi serta asal-usul batu permata berharga,” ujarnya seperti dikutip dari Livescience, Senin, 22 Desember 2014. Menurut dia, asal-usul batu mulia tersebut sangat misterius.

Para ilmuwan berpikir bahwa berlian lahir jauh di bawah permukaan bumi, tepatnya di lapisan antara kerak dan mantel bumi. Letusan gunung berapi kemudian membawa bongkahan mantel kaya berlian ke permukaan. Sebagian besar mantel hancur selama perjalanan dan meninggalkan kristal di permukaan. “Batu Udachnaya merupakan batu langka yang tercipta selama perjalanan itu,” Taylor menambahkan.

Taylor bekerja sama dengan peneliti dari Russian Academy of Sciences untuk mempelajari batu Udachnaya. Para ilmuwan memeriksa semua batu dengan sinar X tomografi. Teknologi pemindai ini mirip dengan CT Scanner medis, tapi memiliki intensitas sinar X yang lebih tinggi. Dalam sinar ini, berlian akan muncul dengan warna hitam pekat.

Terdapat ribuan berlian dalam berbagai lapisan batu. Kristal berukuran 1 milimeter dan membentuk octahedral, yang berarti membentuk seperti dua piramida yang direkatkan pada pangkal. Kandungan lainnya berupa garnet merah, olivin hijau, dan piroksen. Mineral sulfida juga terdapat dalam batu ini. Sebuah model tiga dimensi yang dibentuk melalui sinar X mengungkapkan berlian terbentuk setelah garnet, olivin, dan mineral piroksin.

Bahan-bahan tersebut kemudian diambil sampelnya dan disimpan dalam kapsul inklusi. Para ilmuwan pun memasukkan elektron ke dalam batu tersebut untuk mengidentifikasi bahan kimia yang ada di dalamnya.

Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan berlian mengkristal dari cairan subduksi kerak samudra, yang mungkin terdiri atas batuan padat bernama peridotit. Subduksi merupakan proses ketika salah satu lempeng tektonik bumi meremas piringan lain di bawahnya. Hasil kajian ini akan diterbitkan Taylor dan kawan-kawannya dalam jurnal Russian Geology and Geophysics pada Januari 2015.

Seks Sebelum Nikah Bikin Wanita Sulit Orgasme Karena Wanita Malu Kemukakan Keinginan Seksnya


Pada ajaran agama, budaya, dan norma tertentu, seks pranikah merupakan sebuah hal yang tabu dan bertentangan. Namun, kenyataanya hal tersebut tidak menghentikan sejumlah orang untuk melakukannya, baik tanpa pengaman maupun menggunakan pengaman. Alhasil, dari waktu ke waktu jumlah penderita penyakit yang ditularkan lewat hubungan seksual terus meningkat.

Ternyata, selain merugikan kesehatan, menurut sebuah studi, seks pranikah cenderung merugikan pihak wanita. Pasalnya, hasil studi mengatakan bahwa wanita tidak mendapatkan manfaat atau kenikmatan yang setara dengan pria.

Studi yang dipresentasikan dalam pertemuan anual International Academy of Sex Research ini, menyajikan informasi bahwa wanita yang terbiasa melakukan seks pranikah terbilang sulit mencapai orgasme ketimbang saat mereka melakukannya dalam ikatan pernikahan dengan pasangan resmi. Kondisi yang demikian tidak dialami oleh pria. Umumnya, seks pranikah atau seks dalam pernikahan, dinikmati oleh pria dengan kepuasaan seksual yang sama.

Profesor Neuroendokrinologi Emory University, Kim Wallen, menjelaskan, di zaman sekarang di mana kebebasan seksual merupakan bagian dari gaya hidup, banyak pasangan memilih melakukan aktivitas seks tanpa komitmen jangka panjang, padahal level kepuasan yang diperoleh lebih menguntungkan pria.

Selanjutnya, Wallen membeberkan, studi yang melibatkan 600 mahasiswa ini menemukan bahwa responden wanita yang mengaku merasakan orgasme dari seks pranikah hanya setengah dari mereka yang mengatakan baru meraih orgasme saat bercinta dengan suami setelah resmi menikah.

Para peneliti pun akhirnya menyimpulkan, kondisi sulit orgasme yang dirasakan saat berhubungan seks pranikah disebabkan wanita merasa risih dan malu untuk mengatakan keinginannya agar merasakan kenikmatan bercinta. Nah, saat sudah menikah, mereka mengaku lebih bisa berterus terang mengenai gaya dan posisi bercinta yang dapat merangsang diri untuk merasakan orgasme.

Penjelasan Ilmiah Mengapa Manusia Suka Nonton Film


Mengapa manusia lebih suka menikmati informasi dan hiburan yang bersifat audio visual seperti film daripada teks? Bukankah teks lebih memberikan detail daripada tayangan audio visual? Kenyataan itu mungkin mengherankan. Namun, bagi pakar seni cadas dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Pindi Setiawan, kenyataan tersebut wajar. Manusia memang berevolusi untuk menonton film. “Manusia belum utuh bila sekadar bernaskah (literate),” katanya.

Petunjuk bahwa manusia berevolusi untuk menonton film atau bentuk hiburan audio visual lain bisa didapatkan pada gambar kuno pada cangkang kerang air tawar dari Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Gambar kuno itu terungkap lewat penelitian Josephine CA Jordens dari Fakultas Arkeologi Universitas Leiden, Belanda. Riset mengungkap gambar itu dibuat bukan oleh manusia modern (Homo sapiens), melainkan Manusia Jawa Kuno (Homo erectus).

Dalam publikasi penelitian di jurnal Nature, Jordens menyatakan bahwa gambar kuno berupa garis zig zag itu berusia 500.000 tahun. Dengan usia itu, gambar kuno tersebut dinyatakan sebagai yang tertua di dunia.

Pindi mengungkapkan, kenyataan bahwa Manusia Jawa Kuno sudah bisa menggambar melemahkan teori ledakan kreativitas. Teori itu menyatakan bahwa kreativitas baru berkembang setelah manusia modern ada. Manusia tiba-tiba meletup kreativitasnya 40.000 tahun terakhir. “Letupan tersebut merujuk pada gambar dan patung prasejarah buatan manusia yang ‘kebetulan’ banyak ditemukan sekitar 40.000 tahun lalu,” kata Pindi, Minggu (7/12/2014).

Fakta yang terungkap dalam hasil riset Jordens mengungkap bahwa kreativitas manusia berkembang secara bertahap, seperti yang dinyatakan ilmuwan pada kubu lain dalam teori kreativitas gradual. “Teori ini merunut evolusi kreatif ‘hominid’ (ancient human) lebih dari 500.000 tahun lalu,” tutur Pindi. Menurut teori itu, kreativitas manusia sudah mengakar jauh sebelum manusia modern itu sendiri ada.

Pindi menjelaskan, teori kreativitas gradual itu pula yang bisa menjawab pertanyaan mengapa manusia lebih gemar menikmati tayangan audio visual daripada membaca sebuah naskah. Teori kreativitas gradual menyatakan, selama ribuan tahun, manusia terus mengembangkan koordinasi mata-tangan. Manusia mencanggihkan kemampuan mewujudkan imajinasi mulai dari wirama (verbal audio) hingga perupaan (wirupa visual).

Manusia belajar kreasi wirupa dari alam. Kreasi dimulai dari memungut bentukan alami, misalnya pada seni batu akik, kemudian meniru yang terlihat, hingga menciptakan perupaan seperti yang dipikirkan, seperti gambar manusia sempurna atau pun makhluk jadi-jadian. “Dan hasil dari tahap gradual itu, manusia masa kini sebenarnya telah berevolusi lebih dengan cara wirupa. Sehingga tidaklah mengherankan bila manusia senang membuat gambar bercerita, bahkan tanpa text, yang diperkaya dengan wirama (audio),” jelas Pindi.

“Evolusi itulah yang menyebabkan manusia sekarang, lebih mudah menerima pesan melalui wirama-wirupa (audio visual). Tingkat daya alih pesan wirupa dapat mencapai 70-80 persen,” imbuhnya. Pemahaman tentang evolusi kreatif manusia bisa digunakan sebagai dasar dalam penentuan metode penyampaian informasi. Transfer pengetahuan sebaiknya tidak hanya dilakukan lewat teks saja. Pindi mengungkapkan, dalam era kreatif masa kini, program kampanye untuk belajar misalnya, jangan hanya berupa ajakan “Ayo membaca/membuat Buku”, tetapi juga “Ayo menonton/membuat Film.”

“Karena menonton film yang bersifat wirama wirupa itu akan membuat manusia menjadi lebih manusiawi,” kata Pindi. Jangan ragu membuat narasi narasi pengetahuan dengan cara wirama-wirupa. Torehan tertua di dunia yang terdapat pada cangkang ternyata berasal dari tanah Jawa, tepatnya dari situs Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Penelitian yang dipublikasikan di Nature pada Senin (1/12/2014) mengungkapnya.

Josephine CA Jordens, peneliti pada Fakultas Arkeologi di Universitas Leiden, Belanda, beserta rekannya adalah pihak yang mengonfirmasi bahwa torehan tersebut merupakan yang tertua, berasal dari masa 500.000 tahun lalu. Jordens sedang mengerjakan proyek penelitian tentang penggunaan sumber daya laut oleh spesies manusia purba Homo erectus di situs Trinil, Jawa Timur. Ia kemudian menganalisis cangkang kerang air tawar spesies Pseudodon vondembuschianus trinilensis.

Saat menganalisis, ia menemukan perforasi atau lubang-lubang kecil selebar beberapa milimeter pada permukaan cangkang kerang. Menurut dia, hal itu merupakan indikasi adanya orang pada masa itu yang berupaya membuka cangkang dengan alat tajam macam gigi hiu. Rekan Jordens kemudian memotret cangkang tersebut dan mengamatinya lebih detail. Lewat pengamatan saksama, diketahui bahwa permukaan cangkang tersebut memiliki torehan-torehan berbentuk zig-zag.

Pengamatan di bawah mikroskop kemudian menguak bahwa pola zig-zag itu dibuat secara sengaja. Garis zig-zag yang masing-masing memiliki panjang 1 cm tersebut kontinu, tidak putus-putus, menunjukkan bahwa pembuatnya menaruh perhatian pada detail. Jordens dan rekannya melakukan penanggalan pada sedimen yang terdapat pada cangkang dengan argon dan luminescence. Hasil penanggalan mengungkap bahwa pola zig-zag itu berasal dari masa 500.000 tahun lalu, bukan dibuat oleh Homo sapiens, melainkan Homo erectus.

“Penemuan ini sangat spektakuler dan berpotensi mengubah cara pandang kita tentang Homoawal (manusia purba),” kata Nick Barton, arkeolog dari Universitas Oxford yang tak terlibat studi. Apakah torehan tersebut merupakan bentuk seni? Jordens mengatakan, “Jika Anda tidak mengetahui tujuan dari seseorang yang membuatnya, maka tidak mungkin untuk menyebutnya sebagai seni.”

“Akan tetapi, di sisi lain, ini adalah gambar purba. Ini adalah cara untuk mengekspresikan diri. Apa tujuan dari orang yang membuatnya, kita tidak tahu,” ungkap Jordens seperti dikutip Nature, Rabu (3/12/2014). Clive Finlayson, pakar hewan dari Museum Gibraltar yang juga terlibat dalam studi, mengatakan, yang terpenting dari temuan ini adalah bahwa manusia purba sudah punya kemampuan berpikir abstrak, sama seperti manusia modern.

Cangkang kerang yang dianalisis ditemukan oleh paleontolog Eugene Dubois di situs Trinil pada tahun 1896. Dubois juga menemukan kerangka Homo erectus. Kerangka dan cangkang itu lalu dikirim ke Museum Leiden pada tahun 1930