Ilmuwan Teliti Fosil Sel Mata Ikan Dinosaurus


Fosil sel batang dan sel kerucut yang merupakan bagian dari organ penglihatan, baru pertama kali ditemukan. Temuan tersebut mengungkapkan sel mata setidaknya sudah ada sejak 300 juta tahun lalu. Ia ditemukan dari ikan purba Acanthodes bridge.

Ikan yang memiliki panjang 10 sentimeter ini merupakan nenek moyang dari ikan berahang, termasuk ikan berkerangka tulang, seperti barakuda dan hiu. Peneliti berhasil mencatat salah satu fosil sel batang dan sel kerucut mata dari ikan ini. “Ini temuan yang mengejutkan, karena biasanya jaringan tersebut hancur,” ujar pemimpin penelitian Gengo Tanaka, yang juga seorang ahli paleontologi, seperti dikutip dari Livescience, Senin, 29 Desember 2014.

Penglihatan memang tergantung dari jumlah pigmen yang menyerap cahaya. Pigmen tersebut berbentuk batang dan kerucut. Pigmen kerucut peka terhadap warna dan detail halus, serta membantu memahami perubahan yang cepat. Sedangkan pigmen batang lebih sensitif terhadap cahaya, bertanggung jawab untuk penglihatan periferal dan penglihatan malam hari. Kedua pigmen ini berada di lapisan jaringan bagian belakang mata atau biasa disebut retina.

Myllokunmingia mungkin salah satu makhluk bertulang punggung dan memiliki sistem mata kamera dasar. Makhluk ini hidup pada 520 juta tahun lalu. Hanya, evolusi penglihatan memang belum banyak diketahui lantaran jaringan lunak mata biasanya cepat hancur setelah makhluk hidup mati.

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang evolusi penglihatan, tim ilmuwan dari Kumamoto University, Jepang, meneliti spesimen fosil ikan A. bridge yang pernah hidup 300 juta tahun lalu. Fosil ini digali di Kansas, Amerika Serikat, dan selama ini disimpan di National Museum of Nature and Science di Tokyo.

Tim Tanaka menemukan beberapa butiran pigmen, yang jika dilihat dari kandungan kimia, mirip dengan yang ada di ikan modern. Pigmen tersebut, kata Tanaka, dapat menyerap cahaya dan mengandung eumelanin. A. bridge diperkirakan tinggal di perairan dangkal yang terkena langsung dengan matahari. Tempat tinggalnya tersebut, menurut Tanaka, dapat membantu membentuk banyak warna dalam pigmen. “Dengan menganalisis spesimen fosil ini, kita dapat merekonstruksi warna dari hewan yang sudah punah,” kata Tanaka. Temuan ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, 23 Desember 2014 lalu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s