Sumur Injeksi Lebih Berguna Dalam Tangani Banjir dan Tenggelamnya Jakarta


“Kalau miring, kacanya mestinya pecah, lift-nya nggak jalan. Itu semestinya,” kata Sutanto kepada detikFinance September lalu. Menyambung soal penurunan permukaan air tanah dan persoalan banjir, Mohajit yang juga anggota asosiasi ilmuwan bergensi Humboldt Network Germany ini menjelaskan solusi penanganan banjir selama ini lebih banyak mempercepat mengalirnya air menuju sungai dan laut, yang mengakibatkan air banjir terbuang cuma-cuma.

“Penyediaan waduk penampung juga tepat namun memerlukan lahan dan biaya yang cukup tinggi, dan kendalanya selalu pada saat pembebasan lahan,” jelasnya. Mohajit menawarkan solusi dengan sitem sumur injeksi, yang biayanya jauh lebih murah dibandingkan dengan menyediakan waduk atau membuat sodetan yang membuang air cuma-cuma kelaut.

“Biayanya bisa mencapai sepersepuluh dari biaya membuat sodetan atau menyiapkan waduk baru,” terang pria kelahiran Ambarawa ini. Menurutnya teknologi sumur injeksi ini telah digunakan oleh Pemerintah Jerman untuk mengelolah sumber daya alam menjadi lebih berguna. Pemerintah Jerman mengunakan tekhnologi ini untuk menjaga kestabilan tanah sehingga bangunan yang ada diatasnya stabil dan tidak bergerak. Selain itu sistem ini juga berfungsi untuk mencegah intrusi air laut kedaratan.

Teknologi sistem injeksi tidak memerlukan lahan yang luas seperti halnya membuat waduk atau sodetan. “Cukup pilh area yang selalu banjir, lahan seluas 2 meter persegi sudah bisa menjadi sebuah sumur injeksi.” lanjutnya. Teknologi ini juga tidak memerlukan teknologi mutakhir karena sistem injeksi ini memanfaatkan gaya grativitasi bumi.

“Karena memanfaatkan grativitasi bumi maka biayanya cukup murah, satu sumur injeksi memerlukan dana sekitar Rp 500 juta,” jelasnya. Secara di atas kertas, untuk mengatasi banjir besar dengan limpahan air dititik maksimal 800 meter kubik/detik atau dalam keadaan siaga satu maka diwilayah Jakarta dibutuhkan 2.000 sumur injeksi.

“Pemerintah hanya mengeluarkan anggaran sekitar Rp 1 triliun dan ini jauh lebih murah dibandingkan dengan membuat sodetan atau waduk,” jelasnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s