Tiga Jenis Virus Ebola Dan Vaksinnya


Penyebaran virus ebola amat mengkhawatirkan. Sebagian besar pasien yang terpapar virus ini tak tertolong lagi. Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama, ada lima tipe virus ebola yang ditemukan di Afrika. Kelima varian virus itu sedang menjadi sorotan dunia yaitu Bundibugyo Ebolavirus (BDBV), Zaire Ebolavirus (EBOV), Reston Ebolavirus (RESTV), Sudan Ebolavirus (SUDV), dan Tai Forest Ebolavirus (TAFV).
Dari kelima spesies yang ada, tiga di antaranya BDBV, EBOV, dan SUDV merupakan jenis virus yang menyebabkan wabah Ebola di Afrika. “Ketiganya menimbulkan wabah pada manusia dan angka kematian yang tinggi,” kata Tjandra, Ahad, 10 Agustus 2014. Sementara itu untuk virus jenis RESTV, pernah ditemukan di Filipina dan Cina. Pernah menimbulkan wabah ebola pada monyet berjenis Macaque Monkeys di Filipina, virus ini bila menular ke manusia. Meski demikian, virus ebola jenis ini tidak menimbulkan kesakitan dan kematian.

Beberapa waktu terakhir ini, Ebola termasuk sebagai masalah besar yang dihadapi beberapa negara di Afrika dan menjadi sorotan dunia. Salah satu virus mematikan bagi manusia ini kini masuk dalam kategori Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), seperti halnya virus H1N1 dan Wild Polio Virus.

Uji klinis terhadap vaksin untuk virus mematikan Ebola tengah dilakukan dan mungkin baru akan siap untuk digunakan secara luas pada awal tahun depan. Hal ini ditegaskan perwakilan Badan Kesehatan Dunia (WHO) setelah melakukan pertemuan maraton beberapa hari ini. “Saya pikir (ketersediaan vaksin pada 2014) itu realistis,” kata Marie-Paule Kieny, asisten direktur jenderal badan kesehatan PBB itu.

Saat ini tidak ada obat atau vaksin yang tersedia untuk mengatasi Ebola, salah satu virus paling mematikan yang pernah ada. Tapi Kieny menyatakan optimistis vaksin ini akan tersedia pada 2015. Sebelumnya, Jean-Marie Okwo Bele, pimpinan divisi vaksin di WHO, mengatakan perusahaan farmasi raksasa asal Inggris, GlaxoSmithKline, tampaknya akan memulai uji klinis terhadap vaksin tersebut bulan depan. Dia juga mengutarakan optimismenya tentang penyediaan vaksin secara komersial setelah uji klinis itu.

“Karena ini adalah keadaan darurat, kita bisa meletakkan prosedur darurat pada tempatnya, sehingga kita bisa menyediakan vaksin pada 2015,” katanya kepada stasiun radio Prancis, RFI, Sabtu. Kieny mengakui, bagaimana pun, vaksin itu tak akan diuji secara ketat sebagaimana vaksin dan obat-obatan lain. Targetnya, vaksin segera tersedia di pasar untuk membantu membendung epidemi, yang telah menewaskan hampir 1.000orang di Afrika Barat.

“Apakah diuji seperti vaksin lainnya? Tidak, sama sekali tidak. Itu tidak mungkin,” katanya, sehari setelah WHO menyatakan ebola sebagai epidemi darurat kesehatan internasional, Jumat. “Kami berharap, karena keadaan darurat, vaksin ini tidak akan diperlakukan sebagai sembarang obat atau vaksin lainnya.”

Beberapa vaksin dan obat ebola sedang diuji, antara lain, yang diproduksi oleh Mapp Biopharmaceutical di San Diego, Amerika Serikat. Dalam skala laboratorium, percobaan menunjukkan hasil yang menjanjikan terhadap monyet, dan mungkin efektif mengobati dua warga AS yang terjangkit virus itu di Afrika. Namun penggunaan obat eksperimental telah memicu perdebatan etis tentang apakah dibenarkan tim medis menggunakan obat-obatan yang belum teruji. Dan, jika dibenarkan, siapa yang harus diobati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s