Hubungan Puasa dan Menahan Diri


Puasa dalam arti menahan diri untuk tidak makan dan minum dikenal oleh manusia dalam berbagai berbentuk dan motivasi. Bagaimana dengan saat Ramadan?

Selama ini, ada yang melaksanakan puasa demi kesehatan atau kelangsingan badan dan sebagai bentuk protes terhadap suatu kebijakan atau mogok makan. Ada juga yang memanfaatkannya sebagai sarana membersihkan jiwa, membebaskan diri dari dosa, dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Menurut Rifqiyati, M.Si, dosen di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), apapun motivasi serta bentuk dari puasa itu, puasa tidak dapat dipisahkan dari usaha pengendalian diri. Sebab, pengendalian diri akan mengantarkan manusia pada kebebasan dari belenggu kebiasaan yang mungkin dapat menghambat kemajuannya.

“Pengendalian sangat dibutuhkan oleh manusia, baik secara pribadi ataupun secara kelompok,” ujarnya. Secara umum, dia menambahkan, jiwa manusia berpotensi untuk terpengaruh dengan cepat. Khususnya bila tidak memiliki kesadaran mengendalikannya serta tekad kuat untuk menghadapi bisikan-bisikan negatif.

Rifqiyati menjelaskan, tekad untuk mengatasi problem dan meraih kejayaan harus dibarengi dengan kesadaran dan ketenangan jiwa. Inilah penafsiran bahwa hakikat pengendalian diri dan pengarahan hasrat melalui puasa hanya diketahui oleh Allah Stw dan pelaksananya. Dari sinilah bentuk kesadaran tersebut diperoleh, sedang niat melakukannya, demi karena Allah, menimbulkan ketenangan dan ketenteraman jiwa.

Sebab, kata dia, setiap tekad apabila tidak disertai dengan kesadaran, niscaya hanya membuahkan sikap keras kepala. Sementara tidak terpenuhinya unsur ketenangan membawa kecemasan dan kegelisahan pelakunya.

Itulah, katanya, peran puasa dalam membina mutu dan kualitas manusia untuk menghadapi kebutuhan masa kini dan masa depan. “Baik dalam rangka membentengi diri dari kesulitan yang mungkin dihadapi, maupun demi mencapai sukses dan keberhasilan,” ujarnya.

Oleh karena itu, Riqiyati menegaskan, puasa dibutuhkan oleh semua manusia demi memelihara serta mengembangkan diri. Maka tidak heran jika puasa, sebagaimana termaktub dalam Alquran, telah diwajibkan oleh Allah sejak dahulu kala: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Q,2:183).

Puasa juga bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari segala kata-kata dan sikap yang tercela. Rasulullah SAW mengingatkan dalam sabdanya: “Shaum (puasa) itu perisai. Apabila salah seorang di antara kalian shaum, janganlah ia menuturkan kata-kata keji dan janganlah ia mengingar-bingarkan. Jika seseorang memarahi atau memukulinya, hendaklah ia mengatakan saya sedang shaum” (HR Muslim).

Hal tersebut membuktikan betapa pentingnya pengendalian diri. Puasa Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk berlatih menjadi manusia yang mampu mengendalikan diri. Sehingga, setelah Ramadan berlalu, telah siap menghadapi tantangan hidup nyata, yang salah satu aspek pentingnya merupakan kemampuan mengendalikan diri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s