Yang Perlu Diketahui Mengenai Teknologi 6D Z-LASIK dan Keunggulannya


Melakukan operasi lasik kini jadi pilihan banyak orang yang tak mau memakai kacamata untuk mengoreksi kelainan matanya. Dengan teknologi lasik terbaru kini pasien hanya perlu meluangkan waktu tujuh menit untuk operasi ini. Teknologi lasik (laser assiste insitu keratomileusis) terbaru disebut 6D Z-Lasik. Menurut dr.Setiyo Budi, spesialis mata dari JEC @ Kedoya, Jakarta, teknologi tersebut mampu membidik lensa mata secara akurat karena mengikuti setiap gerakan mata.

“Tidak seperti mesin lasik yang sebelumnya yang hanya dapat bergerak tiga dimensi, 6D eye tracker dapat bergerak enam dimensi dan sangat sensitif dengan sedikit saja gerakan mata,” paparnya seusai peresmian klinik mata yang dilakukan oleh Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi, Sabtu (2/2/13). Kelebihan lain dari 6 D Z-LASIK adalah kecepatan laser yang dimilikinya mencapai 750 Hz, yang saat ini dikategorikan sangat cepat sehingga meningkatkan daya akurasi, sekaligus mengurangi efek panas dari sinar laser saat mengenai mata.

“Mesin lasik sebelumnya kecepatan lasernya paling hanya mencapai 400 hingga 500 Hz,” paparnya. Lama proses operasi pun dapat dipangkas menjadi hanya 7 menit setiap matanya, sehingga total waktu pengerjaan untuk dua mata adalah 14 menit. “Dari segi proses, teknologi 6 D Z-LASIK lebih cepat, dan lebih presisi. Pemulihannya pun semakin cepat, yaitu sekitar 2 jam,” tambahnya.

Teknologi lasik terbaru ini dapat diaplikasikan pada orang yang menderita presbyopia yaitu kondisi dimana mata mengalami penurunan karena usia tua. Selama ini operasi lasik biasanya dilakukan bagi orang yang menderita kelainan refraksi kaca mata ataupun kelainan organ pada mata, misalnya lensa mata. “Dengan lasik, kita dapat memperoleh pengelihatan seperti mata elang,” pungkasnya.

Apakah Anda seseorang yang membutuhkan kacamata untuk membantu penglihatan menjadi lebih baik? Jika iya, apakah Anda merasa nyaman? Untuk sebagian orang, kondisi ini mungkin diterima karena dianggap bagian dari kekurangan mata yang dialami. Kacamata memang membantu penglihatan, tapi kenyamanannya ditentukan oleh ukuran refraksi (minus, plus dan silinder) mata, semakin besar ukurannya tentu semakin tebal lensa yang berarti semakin tidak nyaman.

Menyiasati fisik kacamata, lensa kontak menjadi pilihan berikut yang dianggap lebih praktis. Alat bantu optik ini mampu membantu penglihatan Anda tanpa harus mengorbankan penampilan. Namun, karena penggunaannya langsung bersinggungan dengan kornea mata menjadikannya sangat sensitif, diperlukan penanganan khusus dalam penggunaannya. Mulai dari cara pasang maupun penyimpanan. Bila terjadi salah penanganan tak jarang bisa menyebabkan risiko iritasi mata.

Nah, bila Anda yang menginginkan penglihatan lebih baik tanpa kacamata maupun lensa kontak, tindakan LASIK (Laser Assisted In-Situ Keratomileusis) bisa menjadi solusi optimal masalah penglihatan Anda. Sebetulnya LASIK telah lama dikenal dan populer di kalangan masyarakat, tapi belum banyak yang mengetahui bagaimana prosedur dan teknologi LASIK.

Awal kemunculannya LASIK masih menggunakan pisau bedah, tapi seiring berjalannya waktu teknologi LASIK semakin berkembang dengan penggunaan sinar laser. Metode ini jauh lebih baik karena menghasilkan sayatan yang jauh lebih halus, tipis, cepat dan akurat/presisi. Saat ini telah muncul teknologi 6 Dimension Z-LASIK yang digunakan oleh rumah sakit mata Jakarta Eye Center (JEC). 6 Dimension Z-LASIK merupakan generasi terbaru Laser Excimer, yaitu LASIK tercepat di dunia dengan tingkat akurasi tinggi dengan keamanan lebih baik.

6D Z-LASIK menggabungkan kecepatan ablasi kornea yang sangat tinggi dengan sistem pelacak turbo aktif dalam 6 dimensi gerakan mata. Itu berarti bila mata pasien bergerak tak beraturan sekalipun, sinar laser tetap bekerja ditempat yang tepat. Hadir dengan kecepatan 750Hz teknologi ini sangat unggul menghilangkan minus, plus maupun silinder.

Syarat dan kandidat 6D Z-LASIK diantaranya:

  • Disarankan pasien berusia minimal berusia 18 tahun untuk mendapatkan tindakan LASIK, hal ini berkaitan dengan stabilitas perubahan mata dan kurang disarankan dilakukan di bawah usia tersebut.
  • Kedua mata harus dalam keadaan sehat (dokter akan memeriksa terlebih dahulu kondisi memungkinkan mata sebelum tindakan LASIK).
  • Melepas soft contact lens dan hard contact lens 14 hari selama 30 hari berturut-turut sebelum tindakan LASIK.
  • Tidak sedang hamil atau menyusui.

Tindakan LASIK memang hanya berlangsung kurang dari 20 menit untuk kedua belah mata. Tapi, dalam waktu yang singkat tersebut begitu banyak keputusan penting yang harus diambil. Oleh karena itulah mempercayakan tindakan LASIK kepada pusat pelayanan kesehatan mata yang berpengalaman dan memiliki faslitas lengkap adalah tindakan yang bijaksana. JEC sebagai pionir bedah LASIK di Indonesia memiliki pengalaman menangani lebih dari 27000 pasien sejak tahun 1997 yang tidak dimiliki oleh penyedia jasa lainnya. Untuk hasil terbaik serahkan kesehatan mata Anda hanya kepada ahlinya.

Gangguan refraksi pada mata umumnya memang dimulai sejak usia muda. Itulah kenapa orang bisa sejak muda memakai kacamata. Namun dengan berkembangnya teknologi, gangguan refraksi atau rabun jauh bisa dihilangkan, yaitu dengan menggunakan lasik (laser-assisted in-situ keratomileusis). Namun, ketika operasi ini dilakukan di bawah usia dewasa atau 18 tahun, lasik ternyata tidak terlalu memberikan banyak manfaat. Setelah menjalani lasik, kemungkinan mengalami gangguan refraksi masih sangat besar.

Dokter spesialis mata dari Jakarta Eye Center (JEC) Setiyo Budi Riyanto mengatakan, operasi lasik sebaiknya dilakukan setelah usia 18 tahun. Ini karena biasanya ukuran bola mata sudah tidak mengalami perubahan, dengan demikian hasil lasik pun tidak akan berubah. “Usia 18 tahun adalah batas usia pertumbuhan. Sebelumnya, seluruh anatomi tubuh bisa berubah, berkembang, termasuk anatomi mata,” tuturnya pekan lalu, di Jakarta.

Karena masih berkembang hingga usia 18 tahun, maka perubahan yang dilakukan dengan lasik untuk memulihkan gangguan refraksi pun tidak akan bertahan lama. Oleh sebab itu daripada hasilnya tidak optimal, Setiyo menyarankan supaya lasik dilakukan setelah melewati usia 18 tahun. “Daripada setelah dilasik, kemudian gangguan refraksi datang lagi, jadi harus pakai kacamata lagi, lebih baik setelah usia 18 tahun saja,” tegas Direktur Medik JEC Kedoya ini.

Pada prinsipnya, dalam operasi lasik, dokter melakukan pengikisan pada kornea atau bagian terluar dari bola mata. Tujuannya supaya cahaya yang masuk ke mata tepat tiba di titik fokus. Hal itu didasari oleh gangguan refraksi yang sejatinya adalah gangguan anatomi mata yang membuat cahaya yang masuk ke mata tidak diteruskan tepat pada titik fokus. Inilah yang membuat penglihatan menjadi tidak fokus.

Teknologi lasik (laser-assisted in-situ keratomileusis) seringkali menjadi andalan bagi orang yang tak ingin memakai kacamata. Kerap kita mendengar, mata yang minus, silinder, atau plus sekalipun dapat kembali nol berkat menjalani operasi lasik. Namun ketika minus yang diderita sudah sangat tinggi, misalnya minus sembilan atau lebih dari 10, apakah teknologi lasik mampu membuatnya nol kembali?

Menurut dokter spesialis mata dari Jakarta Eye Center Setiyo Budi Riyanto, kemampuan operasi lasik untuk membuat nol kembali gangguan refraksi pada mata tergantung pada teknologinya. “Semakin canggih teknologi lasik yang digunakan, semakin bisa memulihkan gangguan refraksi pada mata,” ujarnya , Kamis (26/6/2014) di Jakarta.

Kecanggihan teknologi lasik berhubungan dengan kemampuan menurunkan besarnya minus pada mata karena semakin canggih alat, semakin sedikit kornea mata yang dikikis. Artinya, semakin besar penurunan gangguan refraksi yang bisa dilakukan. Gangguan refraksi merupakan gangguan anatomi mata yang membuat cahaya yang masuk ke mata tidak diteruskan tepat pada titik fokus. Inilah yang membuat penglihatan menjadi tidak fokus.

Sementara, operasi lasik pada prinsipnya mengikis kornea atau bagian terluar dari bola mata agar cahaya yang masuk ke mata tepat tiba di titik fokus. Semakin canggih teknologi lasik yang digunakan, semakin tipis kornea yang dikikis untuk mengurangi gangguan refraksi. “Dengan teknologi yang lama, untuk mengurangi minus satu membutuhkan pemotongan hingga 20 mikron, sekarang hanya sekitar enam sampai 10 mikron saja,” kata dia.

Kornea mata manusia rata-rata memiliki ketebalan sekitar 500 mikron. Saat dilasik, kornea perlu dibuat sayatan sedalam 110 mikron dan perlu disisakan 250 mikron. Berarti, “sisa” kornea yang bisa dikikis yaitu 140 mikron.
Misalnya, seseorang dengan minus sembilan tidak bisa menjadi pulih total dengan pemotongan 20 mikron untuk setiap minus yang dimiliki. Sementara, akan berbeda hasilnya jika pengurangan satu minus setara dengan pemotongan 6-10 mikron.

“Dengan teknologi baru, batas minus yang bisa dikoreksi yaitu dari minus setengah hingga minus 14. Bila lebih dari itu, mungkin hanya bisa diturunkan,” ungkap Setiyo. Operasi lasik (laser-assisted in-situ keratomileusis) memang mampu mengatasi gangguan refraksi pada mata. Sehingga setelah menjalaninya, orang tidak perlu menggunakan kacamata lagi untuk menunjang aktivitasnya.

Namun setelah menjalani operasi lasik, bukan berarti orang tidak perlu menjaga kesehatan matanya. Pasalnya, gangguan refraksi bisa datang kembali meskipun sebelumnya sudah normal berkat lasik. “Minus bisa saja kembali datang jika mata tidak dirawat. Itu namanya regresi. Bahkan, jika tidak mengikuti tatacara perawatan mata yang benar usai dilasik, akan ada komplikasi,” kata dokter spesialis mata dari Jakarta Eye Center Setiyo Budi Riyanto, Kamis (26/6/2014) di Jakarta.

Perawatan mata ketika baru saja usai dilasik antara lain menjaga mata supaya tidak terkena air selama tiga hari, tidak mengucek mata, dan sebisa mungkin menghindari mata dari paparan debu dan polusi yang berlebihan.
“Nah, kalau setelah dilasik malah berenang, itu kan namanya cari masalah. Hal-hal seperti itulah yang harus diperhatikan untuk menjaga kesehatan mata usai dilasik,” tutur dia.

Meskipun minus bisa datang kembali setelah dilasik, biasanya menurut Setiyo, angkanya tidak akan banyak, hanya sekitar seperempat dan tidak terlalu mengganggu penglihatan. Namun regresi bisa juga terjadi cukup tinggi. Nah, bila dirasa sudah mulai mengganggu, operasi lasik bisa dilakukan kembali. “Boleh saja melakukan lasik kembali, asalkan ketebalan kornea masih cukup,” katanya. Pada prinsipnya, dalam operasi lasik, dokter melakukan pengikisan pada kornea atau bagian terluar dari bola mata. Tujuannya supaya cahaya yang masuk ke mata tepat tiba di titik fokus.

Hal itu didasari oleh gangguan refraksi yang sejatinya adalah gangguan anatomi mata yang membuat cahaya yang masuk ke mata tidak diteruskan tepat pada titik fokus. Inilah yang membuat penglihatan menjadi tidak fokus. Meskipun sering menjadi andalan memulihkan gangguan refraksi pada mata, operasi lasik (laser-assisted in-situ keratomileusis) tidak selamanya memberikan hasil yang diharapkan. Namun ternyata operasi lasik bisa dilakukan berkali-kali hingga mendapatkan hasil yang optimal.

Dokter spesialis mata dari Jakarta Eye Center Setiyo Budi Riyanto mengatakan, setelah menjalani operasi lasik, seseorang sebenarnya bisa menjalaninya kembali. Bahkan, operasi lasik bisa dilakukan berkali-kali. “Asalkan ketebalan kornea matanya masih mencukupi, operasi lasik masih bisa dilakukan,” kata dia kepada Kamis (26/6/2014) di Jakarta. Ketebalan kornea yang cukup adalah syarat mutlak dalam menjalani operasi lasik. Pasalnya, prinsip operasi lasik adalah pengikisan pada kornea atau bagian terluar dari bola mata. Tujuannya supaya cahaya yang masuk ke mata tepat tiba di titik fokus.

Pada dasarnya, gangguan refraksi adalah gangguan anatomi mata yang membuat cahaya yang masuk ke mata tidak diteruskan tepat pada titik fokus. Namun bila cahaya sudah jatuh tepat di titik fokus, maka penglihatan pun tidak lagi kabur sehingga tidak perlu lagi memakai kacamata. Kornea mata manusia rata-rata memiliki ketebalan sekitar 500 mikron. Saat dilasik, kornea disayat sedalam 110 mikron dan perlu disisakan 250 mikron. Berarti, “sisa” kornea yang bisa dikikis yaitu 140 mikron.

Sebelum melakukan operasi lasik, dokter akan terlebih dulu memperhitungkan “sisa” kornea tersebut. Jika sekiranya sudah tidak cukup untuk dikikis lagi, maka operasi pun tidak dapat dilakukan. Meskipun dengan teknologi lasik yang terbaru, pengikisan tidak perlu dilakukan sebanyak dulu. “Jika dengan teknologi yang lama, untuk mengurangi minus satu membutuhkan pemotongan hingga 20 mikron, sekarang hanya sekitar enam sampai 10 mikron saja,” kata dia.

Hasil yang kurang memuaskan, misalnya, gangguan refraksi mata tidak sepenuhnya hilang, sehingga seseorang masih harus menggunakan kacamata. Atau gangguan refraksi timbul kembali atau yang dikenal juga dengan istilah regresi.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai 6 Dimension Z-LASIK Anda dapat mengunjungi

  1. Jakarta Eye Center @Menteng
    Jl. Cik Ditiro No. 46, Menteng
    Jakarta Pusat 10310
    F. (021) 390 4601
  2. Jakarta Eye Center @Kedoya
    Jl. Terusan Arjuna Utara No.1, Kedoya
    Jakarta Barat 11520
    F. (021) 2569 6060
  3. Jakarta Eye Center Banjarmasin
    RS.Sarimulia
  4. Jl. Pangeran Antasari No. 139B
  5. Banjarmasin, Kalimantan Selatan
    T-F (0511) 326 6960
    Call Center JEC (021) 2922 1000
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s