Polusi Udara Sebabkan Penyakit Jantung dan Stroke


Polusi udara ternyata mempunyai kaitan dengan terjadinya detak jantung yang tidak beraturan dan penggumpalan darah di dalam paru-paru. Temuan ini menurut hasil riset terbaru di Inggris, menunjukkan bahwa dampak polusi udara pada serangan jantung dan stroke sangatlah jelas. Para ilmuwan menganalisis data dari England dan Wales. Ditemukan bahwa polusi udara secara khusus berbahaya bagi orang-orang lanjut usia (lansia).

Menurut situs BBC edisi 4 Juni 2014, sebuah tim dari London School of Hygiene & Tropical Medicine menganalisis data di England dan Wales pada periode 2003 hingga 2009 dan hubungannya dengan masalah kardiovaskuler dan polusi udara jangka pendek. Mereka menemukan bahwa polusi udara jangka pendek terkait dengan arrhythmia (ritme jantung yang tidak normal) dan penggumpalan darah di paru-paru.

Hasil riset menunjukkan bahwa hubungan terkuat terjadi pada lansia wanita berusia di atas 75 tahun, kata ketua penulis hasil riset Dr Ai Milojevic. Menurut data WHO, tujuh juta orang meninggal pada 2012 akibat polusi udara. “Kami menemukan sejumlah bukti efek polusi udara terhadap denyut jantung yang tidak normal, tapi tidak ada bukti kuat atas dampak polusi udara pada stroke atau serangan jantung yang pada akhirnya menunjukkan proses penggumpalan darah,” katanya.

Mengomentari hasil riset yang dipublikasikan di jurnal Heart ini, British Heart Foundation mengatakan bahwa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa polusi udara bisa membuat kondisi jantung dan sirkulasi darah, termasuk serangan jantung, memburuk pada orang-orang yang memang rentan. “Riset ini mempertegas sesuatu yang sudah kita ketahui sebelumnya tetapi melangkah lebih jauh dengan menyebutkan bahwa ada hubungan antara polusi udara dengan peningkatan risiko penggumpalan darah di paru-paru dan gangguan ritme jantung,” kata Julie Ward, perawat senior.

Temuan ini menunjukkan adanya hubungan antara polusi udara dan serangan jantung, masalah sistem pernapasan dan kanker. Kualitas udara yang buruk bisa mempengaruhi kondisi kesehatan seseorang, bahkan tak jarang menyebabkan kematian. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia WHO, polusi udara berkontribusi pada sekitar tujuh juta kematian di seluruh dunia pada tahun 2012.

“Polusi udara, baik di dalam maupun di luar ruangan, kini menjadi masalah kesehatan lingkungan terbesar. Itu mempengaruhi semua orang, baik yang tinggal di negara maju atau berkembang,” kata Maria Neira, kepala kesehatan masyarakat dan lingkungan WHO, kepada Telegraph. Secara global, polusi dikaitkan dengan satu kematian dalam delapan kematian pada 2012, demikian penelitian WHO baru ditemukan.

Polusi udara menjadi pemicu beberapa penyakit penyebab kematian, seperti penyakit jantung, stroke, penyakit paru, dan kanker paru. Asia Tenggara, yang mencakup dari India hingga Indonesia, Pasifik Barat, Cina, Korea, dan Filipina, merupakan wilayah yang menderita polusi udara terburuk di dunia. Bersama-sama mereka menyumbang 5,9 juta kematian. Sekitar 4 juta kematian dilaporkan terjadi karena polusi udara di dalam ruangan, terutama yang disebabkan oleh penggunaan batu bara, kayu, dan kompor biomassa untuk memasak. Sementara itu, sekitar 3 juta kematian dilaporkan terjadi karena polusi udara di luar ruangan yang disebabkan oleh kebakaran pemanas batu bara atau mesin diesel.

Jumlah ini, kata Neira, meningkat dengan tajam dan mengejutkan. Sebelumnya, pada 2008, angka kematian akibat polusi udara di dalam ruangan hanya berada di angka 1,9 juta, sedangkan di luar ruangan berada di angka 1,3 juta. Jakarta dan kota lain di Indonesia dilanda cuaca tak menentu seperti sekarang. Sebentar panas, lalu tiba-tiba mendadak hujan turun dengan derasnya. Menurut Tjandra Yoga Aditama, dalam situasi musim tak menentu ini polusi udara juga menjadi bahaya bagi kesehatan.

Tjandra mengatakan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 163, menerangkan bahwa lingkungan yang sehat bisa terwujud bila terhindar dari unsur salah satunya adalah udara yang tercemar.

Menurut Dirjen Pengedalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan ini, sumber pencemaran udara dapat berasal dari berbagai kegiatan, antara lain industri, transportasi, perkantoran, dan perumahan. Sumber pencemaran udara juga dapat disebabkan oleh berbagai kegiatan alam, seperti kebakaran hutan, gunung meletus, dan gas alam beracun. Penggunaan bahan bakar yang kurang ramah lingkungan seperti bahan bakar minyak atau batu bara dengan kadar sulfur tinggi,

Tjandra mengatakan kontribusi pencemaran udara di kota besar sekitar 70-80 persen berasal dari sektor transportasi. Pencemaran udara dari kendaraan bermotor yang melebihi ambang batas akan mengakibatkan gangguan kesehatan. Kemudian parameter pencemar udara ambien menurut Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1999, meliputi: sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO2), oksidan (O3), hidrokarbon (HC), PM 10, PM 2,5, TSP (debu), Pb (Timah Hitam), dustfall (debu jatuh).

Dia juga menjelaskan pada kebakaran lahan dan hutan merugikan aspek ekonomis, sosial, ekologis, politis, dan kesehatan, baik pada skala regional (ASEAN) maupun global (climate change dan global warming) dan menjadi bagian dari skema ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP) yang terdapat di lima provinsi di Indonesia, tentang kebakaran lahan dan hutan atau penyumbang hotspot terbanyak. Antara lain wilayah Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Riau, Jambi, dan Kalimantan Tengah.

“Pencemar udara tersebut akan berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat sekitar dan para pekerja di bandara,” kata dia. Tjandra juga mencatat data menurut WHO, setiap tahun diperkirakan terdapat sekitar 200 ribu kematian akibat outdoor pollution yang menimpa daerah perkotaan, di mana sekitar 93 persen kasus terjadi di negara berkembang.

“Dampak pencemaran udara terhadap kesehatan manusia berkisar dari yang relatif ringan hingga menyebabkan kematian demikian terangkum dalam catatan Badan Kesehatan Dunia, WHO, pada 1991,” kata dia. Dia juga mengutip laporan WHO dari negara-negara Eropa pada tahun 2004, antara lain menyebutkan adanya hubungan antara partikel debu di udara dan berbagai penyakit saluran pernapasan. “Di samping kualitas udara ambien, lalu kualitas udara dalam ruangan (indoor air quality) juga merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian karena akan berpengaruh terhadap kesehatan manusia.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s