Cara Membuat Kopi Luwak Fermentasi Ala IBI Darmajaya Lampung


Mahasiswa Information and Business Institute (IBI) Darmajaya Lampung yang berlatih menjadi entrepreneur muda berbakat, mengembangkan cara membuat produk kopi luwak fermentasi “Kopilani” yang bertujuan membangun usaha sejak dini di perkuliahan. Suroyo, salah satu penggagas produk tersebut, di Bandarlampung, Minggu, mengatakan bermula dari salah seorang rekannya yang sedang mengembangkan kopi luwak hasil fermentasi buatan, mendorong dia bersama rekan-rekannya sesama mahasiswa mencoba membuat produk kopi dengan inovasi yang berbeda.

Menurutnya, Kopilani merupakan terobosan baru dalam menghasilkan kopi luwak tanpa memanfaatkan luwak. “Prinsip kerja fermentor ini adalah reaksi enzimatis dan fermentasi mikrobial yang terjadi alami di dalam saluran pencernaan hewan luwak atau musang. Kandungan dan rasanya sama persis dengan kopi yang diproses alami dalam perut luwak,” katanya.

Di sini, kami mendapatkan pendampingan dari Inkubator Bisnis dan Teknologi (Inkubitek) Darmajaya untuk masalah manajemen dan pengembangan pasarnya, ujar Suroyo pula. Mahasiswa Jurusan Manajemen semester lima ini menambahkan, Kopilani memiliki beberapa keunggulan dibandingkan kopi yang memanfaatkan luwak, antara lain lebih mudah diproduksi dalam skala besar, kualitas produk terkontrol secara baik, harga ekonomis dan tidak merusak kelestarian populasi hewan luwak.

“Selama ini juga masih ada pro dan kontra tentang kehalalan kopi luwak lantaran kopinya bercampur dengan kotoran luwak. Dengan ditemukanya cara pembuatan kopi luwak hasil fermentasi buatan, mereka tak perlu meragukan lagi masalah tersebut, mengingat Kopilani lebih higienis karena tidak menggunakan luwak,” katanya.

Menurut dia, perlu perencanaan yang matang untuk mengembangkan produknya tersebut. Suroyo mengakui, saat ini pihaknya baru tahap pengenalan dan promosi kepada konsumen. Produksi skala besar, kemungkin dilakukan setelah adanya kerja sama yang terjalin dengan pihak retailer. Sedangkan saat ini pihaknya baru memproduksi kemasan 100 gram dengan harga Rp45.000 per bungkus.

Masalah manajemen, menurut mahasiswa yang juga aktif berorganisasi ini, sepenuhnya ditangani oleh mahasiswa yang dibantu Inkubitek IBI Darmajaya. “Kami berdelapan, mahasiswa yang bersama-sama mengembangkan Kopilani. Ada yang berperan sebagai marketing, keuangan, bagian produksi, desain kemasan dan komisaris. Saat ini sudah ada beberapa pusat pembelanjaan dan kafe yang siap memasarkan dan menggunakan produk kami. Mudah-mudahan produk kita bisa diterima lebih luas lagi,” ujar Suroyo.

Dia bersama teman-temannya juga berencana memproduksi Kopilani Blackcoffe dengan bahan baku 100 persen kopi robusta. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Pengembangan Sumber Daya IBI Darmajaya, Novita Sari, SSos, MM, memberikan apresiasinya.

“Menanamkan jiwa entrepreneur penting dilakukan dalam menumbuhkan potensi mahasiswa di bidang bisnis, sehingga diharapkan dapat melahirkan generasi-generasi yang tak hanya bisa mencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain,” ujarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s