Universitas Gadjah Mada Ciptakan Nyamuk Pemberantas Nyamuk Demam Berdarah


Sebagian masyarakat Sleman, Yogyakarta, menolak rencana program Eliminate Dengue Program (EDP) yang digarap Universitas Gadjah Mada (UGM). Padahal tujuannya baik. Mereka menggunakan nyamuk Aedes aegypti ‘sakti’ untuk memberantas Aedes aegypti yang menimbulkan demam berdarah.

Seperti apa sebetulnya nyamuk kembar yang ‘sakti’ itu? Sejumlah literatur dari peneliti di Monash University membeberkannya. Meski proyeknya tidak bisa instan, ada beberapa daerah di dunia yang sudah menunjukkan perubahan positif.

Berikut gambaran tentang proyek tersebut dan nyamuk yang mereka gunakan untuk membasmi demam berdarah:

Nyamuk Berbakteri
Semua cerita soal temuan nyamuk ini dimulai tahun 2008. Kala itu Profesor Scott O’Neill sangat terkagum-kagum dengan pesona bakteri Wolbachia. Bakteri itu rupanya bisa mencegah nyamuk Aedes aegypti terkena demam berdarah. Bila nyamuknya tidak kena demam berdarah, maka dia tak bisa menularkannya pada manusia.

Wolbachia secara umum ditemukan pada serangga, termasuk lalat buah. Namun tak semua nyamuk memilikinya, apalagi Aedes aegypti. Lalu, O’Neill membuat penelitian memasukkan bakteri tersebut ke tubuh nyamuk Aedes aegypti. Awalnya, dia hanya ingin membuat hidup nyamuk itu pendek. Namun ternyata ada keuntungan lain yang diperoleh, yakni nyamuk Aedes aegypti dengan bakteri tidak hanya mati cepat tapi juga menjadi vaksin alami untuk mencegah demam berdarah.

“Virus dengue tak bisa tumbuh di nyamuk bila ada Wolbachia,” kata O’Neill.

Uji Coba di Lab
Uji coba di dalam laboratorium akhirnya berhasil. Seorang peneliti memasukkan tangannya ke dalam kandang nyamuk Aedes aegypti yang sudah dimasuki bakteri. Dengan lahap, nyamuk itu mengisap darah sang peneliti, bahkan hingga tubuhnya ‘gendut’. Peneliti itu akhirnya tersenyum. Sebab dia hanya menderita bentol-bentol saja. Tak ada gejala-gejala demam berdarah yang dirasakannya.

Tes di Lapangan
Setelah berhasil di lab, O’Neill dan timnya lalu melakukan pengujian di beberapa wilayah dunia. Awalnya mereka meneliti sebuah komunitas kecil di Australia, di mana kawasan itu tidak terdampak demam berdarah. Hasilnya, setelah 2,5 tahun, nyamuk Aedes aegypti dengan bakteri mampu mengambil alih populasi nyamuk lama hampir 95 persen! Percobaan pun berlanjut ke beberapa wilayah lain di Australia dan cukup sukses menekan angka demam berdarah. Dengan dukungan dana dari para donatur dan universitas, proyek ini berlanjut ke berbagai negara lain.

Khusus di Asia Tenggara, Vietnam dipilih sebagai negara pertama pada Mei 2013 lalu. Nyamuk berbakteri disebar di kawasan pulau Tri Nguyen. Sejumlah relawan dipilih untuk mengerjakannya. Warga setempat sangat antusias karena yakin bisa membantu mengurangi demam berdarah. Data terakhir, ada 390 juta yang terinfeksi demam berdarah, sebagian besar di Asia. Perbandingannya di tengah 18 orang dalam sebuah populasi, satu di antaranya terkena demam berdarah.

Di Indonesia
Proyek Eliminate Dengue Program (EDP) di Indonesia akan dimulai di Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada (UGM) akan digandeng sebagai pelaksananya. Warsito Tantowijoyo, PhD, ketua tim proyek tersebut pernah memaparkan proyek ini di sebuah forum di UGM dan videonya diunggah ke YouTube. Menurutnya, proyek akan berjalan tahun ini hingga beberapa tahun ke depan. Ada 6 titik yang jadi lokasi persebaran nyamuk, yakni 3 di Bantul dan 3 lagi di Sleman. Kawasan itu dipilih karena memiliki 300-1.200 rumah dan beberapa faktor lainnya. Proyek ini akan berjalan dari beberapa fase, mulai dari fase persiapan, pelepasan nyamuk berbakteri dalam skala kecil, lalu beralih ke skala besar, dan full implementasi.

Sebanyak 142 warga Dusun Karang Tengah, Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping, Sleman, diwakili oleh LBH KAHMI Yogyakarta, akan mengirim somasi ke Eliminate Dengue Project (EDP) Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada. Somasi itu dikirim untuk menuntut pembatalan riset berupa penebaran nyamuk pengidap bakteri wolbachia di kampung mereka. “Kami kirim somasi ke EDP pada Sabtu,” kata Direktur LBH KAHMI Yogyakarta, Daris Purba, pada Jumat siang, 31 Januari 2014.

Pada Ahad, 26 Januari 2014, 142 warga Karang Tengah sudah menyatakan penolakannya. Saat itu tim EDP Pusat Kedokteran Tropis UGM sedang menggelar sosialisasi ulang ke warga di kawasan tersebut.

Daris mengatakan 142 warga Karang Tengah yang meminta pendampingan ke lembaganya khawatir dengan risiko penelitian. Apalagi, menurut Daris, materi sosialisasi mengenai riset yang berada di bawah koordinasi Monash University Australia itu tidak banyak menjawab kekhawatiran warga. “Warga menganggap risikonya tinggi. Nyamuk berjenis aedes aegypti dan berasal dari Australia,” kata Daris.

Menurut Daris, keberatan warga juga muncul karena warga tidak menerima pemberitahuan memadai ketika mempertanyakan izin riset tersebut. Dia menganggap riset ini semestinya memerlukan izin dari level menteri.

Hal ini berdasar Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 2009 tentang Perizinan Pelaksanaan Kegiatan Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Berisiko Tinggi dan Berbahaya. “Karena itu, kami mengirim surat ke Bupati Sleman agar menjelaskan perizinan riset ini,” kata dia.

Daris menganggap riset tersebut bisa masuk kategori berbahaya sebab nyamuk yang ditebar di lingkungan warga merupakan penyebar virus dengue penyebab demam berdarah. Makanya, warga menolak nyamuk ini disebar di seluruh kawasan Dusun Karang Tengah. “Mereka juga resah sebab sekarang ada ketegangan antara warga yang menyetujui dan menolak,” kata dia.

Keberatan warga paling penting karena pelaksana riset ini tidak memberikan jaminan dan kompensasi pembiayaan apabila ada warga menerima akibat buruk dari penyebaran nyamuk. Kalau ada warga sakit demam berdarah setelah pelepasan nyamuk, menurut Daris, EDP Pusat Kedokteran Tropis UGM hanya bersedia mengantar warga ke puskesmas atau mengurus klaim asuransi bagi yang memilikinya. “Ada azas etika penelitian yang dilanggar,” kata Daris.

Dia menyarankan EDP Pusat Kedokteran Tropis UGM memakai relawan khusus untuk riset ini.

Peneliti utama EDP Yogyakarta, Riris Andono Ahmad, mengatakan belum bisa menanggapi rencana pengiriman somasi ini. Menurut dia, lembaganya sudah memenuhi permintaan 142 warga penolak riset yang bermukim di lima Rukun Tetangga (RT), Dusun Karang Tengah. “Kami tidak menyebarkan nyamuk di lima RT itu,” kata Riris.

Dia mengatakan lembaganya sudah melepaskan nyamuk di sembilan RT lain di Dusun Karang Tengah. Alasannya, warga yang bermukim di sembilan RT tersebut setuju terlibat dalam riset ini. “Kami menghormati yang menolak, tapi juga menghargai yang menerima,” kata dia.

Iklan

One response to “Universitas Gadjah Mada Ciptakan Nyamuk Pemberantas Nyamuk Demam Berdarah

  1. Kasian memang hanya karena kita kurang bersih penyakit mamatikan menghinggapi. Jangan biarkan nyamuk berkembang biak dengan cara hidup sehat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s