Resep Rahasia Membuat Telur Asin Tidak Amis Diungkap Oleh Peternak Di Brebes


Kurang lengkap rasanya, jika singgah di Kabupaten Brebes, tanpa membeli telur asin. Sebab, selain menjadi ikon oleh-oleh khas, telur asin Brebes memiliki sejumlah keunikan, dibanding telur asin daerah lain.

“Banyak pelanggan bilang, telur asin Brebes tidak amis,” kata Tripuro, 42 tahun, saat Tempo bertandang ke toko, sekaligus tempat produksi telur asin miliknya, di Kelurahan Limbangan Wetan, Kecamatan Brebes, kemarin.

Menurut ibu satu anak itu, proses pembuatan telur asin pada prinsipnya sama. Yakni, telur bebek dibungkus adonan pengasin yang terbuat dari garam, abu gosok, dan tanah liat. Setelah disimpan 13 hari, telur dicuci dan direbus.

Ihwal telur asin buah tangannya tidak berbau amis, menurut Tripuro, terletak pada cara memilih telur bebek. Selama belasan tahun menekuni usaha itu, dia mempercayakan pilihan pada telur bebek peternak asal Blitar, Jawa Timur, dan Indramayu, Jawa Barat.

“Bebek dari dua peternak itu, tidak makan ikan. Jadi telurnya tidak amis,” kata Tripuro. Selain tidak amis, kuning telurnya berwarna merah bata. Warna merah itu lantaran bebek dari dua peternak itu diberi pakan organik yang dicampur udang.

Tiap pekan, Tripuro mendapat pasokan telur dari dua peternak itu sekitar 90 ribu butir. Di hari biasa, dengan bantuan sepuluh karyawan, Tripuro mengolah sekitar 5.000 butir telur dalam sekali produksi. Di musim libur, produksinya menjadi sekitar 14 ribu butir.

Khusus Lebaran, Tripuro mampu mengolah hingga 25 ribu butir dalam sekali produksi. Lebaran lalu, harga telur asin naik menjadi Rp 2.800 dan Rp 3.000 per butir. Setelah Lebaran, permintaan pasar menurun.

Pemilik toko Cah Angon itu, mengembalikan harga seperti semula, Rp 2.600 per butir telur asin biasa, dan Rp 2.800 telur asin bakar dan oven. “Harganya beda karena proses pengolahannya memakan waktu lebih lama,” kata Yati, 35, salah satu karyawan Tripuro.

Pada 2005, Tripuro termasuk eksportir telur asin dari Brebes dengan tujuan Cina dan Singapura. Telur asin diekspor dalam kondisi mentah. Karena kekurangan karyawan dan banyaknya target yang harus dipenuhi, ekspor itu hanya bertahan hingga 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s