Tanaman Asing Berbahaya Tumbuh Invansif di Gunung Semeru Tapi Indah Untuk Pemandangan


Hamparan Verbena brasiliensis di Pos Oro-Oro Ombo Gunung SemeruToni Artaka, petugas Pengendali Ekosistem Hutan pada Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mengungkapkan temuan tanaman asing, Verbena Brasiliensis Vell, yang tumbuh invasif di Gunung Bromo. Tumbuhan yang berasal dari Amerika Selatan itu diketahui sudah membentuk hamparan luas di Oro-Oro Ombo Semeru.

Tanaman itu kini ‘menguasai’ lahan seluasa 20-an hektare Oro-Oro Ombo yang sebelumnya hanya berupa padang rumput (sabana) itu. Bunga Verbena Brasiliensis Vel ini berwarna ungu, mirip warna bunga lavender. Kombinasi warna kuning kehijauan dan ungu membentuk lanskap indah mirip taman bunga di beberapa negara Eropa, terutama Belanda dan Prancis. Tak heran bila banyak pendaki menyempatkan berpose di lapangan luas di pos lima (dari sepuluh pos) pendakian di Gunung Semeru tersebut. Seperti disaksikan Tempo sat mendaki Semeru 4 Juni lalu.

Namun, kata Toni, keindahan tanaman itu tak berarti baik untuk Semeru. “Ada ancaman ekologis di balik keindahan itu. Tanaman ini bisa menjadi masalah serius seperti halnya Salvinia molesta (kiambang atau kayapu) yang sempat menutupi permukaan air Ranu Pani pada Juni-Juli tahun lalu, atau serangan akasia berduri (Acacia nilotica) di (Taman Nasional) Baluran yang sampai sekarang belum sepenuhnya teratasi,” kata Toni kepada Tempo pekan lalu.

Menurut Toni, belum ada yang mengekspos bahaya laten dari Verbena brasiliensis Vell. Kebanyakan pendaki mengira itu lavender, padahal bukan. “Mana tahu ada peneliti botani yang berminat meneliti tanaman tersebut,” kata Toni.

Toni mendeskripsikan, Verbena brasiliensis berasal dari keluarga Verbenaceae yang merupakan tumbuhan semak tahunan atau berumur pendek. Tanaman ini tumbuh tegak setinggi antara 1,5 sampai 2 meter, dengan batang segi empat seperti keluarga Verbenaceae lainnya, serta berbulu kasar di tiap persegi.

Cabang atas panjangnya 4-9 sentimeter, berpasangan, dan naik. Daun berpasangan (composit), berbentuk bulat memanjang yang sederhana dan bergerigi (serate), dengan panjang 4-10 sentimeter dan lebar antara 0,8 sampai 2,5 sentimeter. Perbungaan silinder pada ujung cabang (terminal), umumnya 3 silinder yang berukuran antara 0,5 sampai 7 sentimeter dan berdiameter antara 0,5 sampai 0,7 sentimeter. Bunga berwarna ungu yang muncul dari silinder perbungaan kadang-kadang tiga kuntum bersamaan.

Verbena brasiliensis mereproduksi diri secara seksual dengan memproduksi benih. Tanaman ini mulai tumbuh, berbunga, hingga mengering sepanjang Januari-Agustus. “Buahnya sangat kecil sehingga mudah sekali terpencar oleh angin, lengket di tubuh pendaki atau lengket di tubuh binatang. Itu sebabnya penyebaran Verbena brasiliensis bisa meluas di dalam kawasan TNBTS,” kata Toni.

Sampai sekarang Toni dan kawan-kawan tidak mengetahui pasti masa kehadiran tanaman asli Amerika Selatan itu di dalam kawasan TNBTS. Di tempat asalnya Verbena brasiliensis biasa tumbuh di padang rumput, zona riparian, daerah perkotaan dan lahan basah. Ia biasa dijadikan sebagai tanaman hias dan dibudidayakan untuk taman.

Meski tampak indah, kehadiran Verbena brasiliensis justru mencemaskan. Tanaman asing ini bersifat invasif, bisa terus mendominasi dan menguasai habitat sehingga menggusur spesies tanaman asli TNBTS, seperti sabana di Ranu Kumbolo, Oro-Oro Ombo, Jambangan, dan Kalimati. Ekosistem pun kemudian terganggu.

Diduga Verbena brasiliensis masuk ke kawasan TNBTS pada masa kolonialisme. Berdasarkan buku Flora Pegunungan Jawa karya van Steenis yang dibaca Toni, pada masa kolonial daerah Nongkojajar di Pasuruan menjadi loji (kompleks perumahan Belanda) dan di sana hidup seorang ahli botani yang gemar mendatangkan jenis-jenis tumbuhan dari luar negeri, termasuk Verbena brasiliensis. “Kami menduga, tanaman itu masuk ke TNBTS akibat intervensi manusia masa itu,” kata Toni.

Kini, Verbena brasiliensis menyebar hampir merata di wilayah Semeru bagian barat, di tepi jalan dari Coban Trisula hingga Ranu Pani, padang rumput dan riparian Ranu Regulo, zona riparian Ranu Pani, Ranu Kumbolo, sepanjang jalur pendakian Ranu Pani-Cemoro Kandang. tanaman itu juga bisa dijumpai di sabana Bromo, Penanjakan, dan Blok Argowulan.

“Tapi booming-nya di Oro-Oro Ombo. Luasannya sekitar seperlima dari luas Oro-Oro Ombo. Sejak bekerja tahun 2000, saya belum pernah lihat Verbena brasiliensis di luar kawasan TNBTS,” ujar dia.

Menurut Toni, penyebaran Verbena brasiliensis bisa dikendalikan dengan cara mengisolasinya. Ia tak harus ditanam atau dijual sebagai tanaman hias. Pemanenan bunga sebelum buahnya masak juga dapat mengurangi resiko penyebaran biji.

Keberadaan Verbena brasiliensis bisa pula dimusnahkan dengan pembabatan dan atau mencabut tumbuhan secara berkala sebelum musim berbunga. Pemusnahan dengan cara menggunakan herbisida sintetik, apalagi dengan membakar, dilarang. Namun, hingga sekarang, upaya penanggulangan tersebut belum pernah dilakukan.

Iklan

2 responses to “Tanaman Asing Berbahaya Tumbuh Invansif di Gunung Semeru Tapi Indah Untuk Pemandangan

  1. Ping-balik: Bunga Lavender tidak ada di gunung semeru | yogabara34's Blog

  2. Ping-balik: Tanaman Penjajah TNBTS | G4D4 Adventure

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s