Monthly Archives: Desember 2011

Spesies Baru Laba-laba Albino Ditemukan Di Australia


Ilmuwan mengklaim telah menemukan spesies baru laba-laba albino di Australia. Laba-laba tersebut memiliki kepala putih serta kaki berwarna coklat dan hitam.

Dr Mark Harvey, kurator Museum Australia Barat, yang juga terlibat penelitian, mengatakan, adanya keunikan pada bagian pedipalpus dan kaki depan mengindikasikan bahwa laba-laba yang ditemukan adalah spesies baru.

Laba-laba secara umum memiliki empat pasang kaki. Pedipalpus adalah bagian serupa kaki di dekat mulut yang membesar dan berfungsi membantu perkawinan. Kaki depan berfungsi untuk mengangkat tubuh.

“Membandingkan ukuran dan jumlah duri kecil pada struktur itu (pedipalpus dan kaki belakang) dengan laba-laba berkepala putih lainnya menunjukkan adanya cukup bukti untuk mengatakan bahwa ini spesies baru,” kata Harvey.

Harvey, seperti dikutip The Hindu Business Line, Senin (31/10/2011), mengatakan bahwa rentang habitat laba-laba albino itu sangat sedikit dan sudah digerus oleh konversi lahan.

“Laba-laba ini membuat liang yang memiliki penutup jebakan. Penutup ini kadang sulit dilihat, dan laba-laba sulit dideteksi tanpa pengamatan cermat. Ketika jantan telah dewasa, mereka akan meninggalkan liang dan mencari pasangan,” urai Harvey.

Laba-laba itu hingga kini belum dinamai. Harvey mengatakan, “Sangat menyenangkan melihat laba-laba dengan warna aneh seperti ini.”

Spesies Baru Laba-laba dari Bukit Menoreh Kulon Progo Yogyakarta


Spesies baru laba-laba ditemukan di tiga gua di Pegunungan Menoreh, pegunungan yang membentang di barat laut Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Spesies tersebut ditemukan oleh salah satu penelusur gua bernama Sidiq Harjanto dari Matalabiogama Universitas Gadjah Mada yang tergabung bersama tim penelitian yang dipimpin oleh Cahyo Rahmadi, ilmuwan dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

“Laba-laba gua yang berwarna putih pucat ini memiliki kaki-kaki yang memanjang dan lebih panjang dibandingkan jenis laba-laba dari luar gua. Selain itu, laba-laba ini memiliki mata yang mengecil dan hanya menyisakan bintik-bintik di bagian depan kepalanya,” Cahyo mendeskripsikan spesies baru laba-laba itu.

Menurut penjelasan Cahyo, spesimen pertama dari spesies laba-laba itu ditemukan oleh Sidiq pada tahun 2008. Untuk kepentingan studi taksonomis, akhirnya diambil dua spesimen lagi. Studi tentang spesies ini dilakukan oleh Cahyo yang saat itu berada di Jepang. Untuk menganalisis, ia bekerja sama dengan Dr M Kunter yang merupakan pakar arachnida asal Slovenia dan Dr Jeremy Miller dari Naturalis Museum, Leiden, Belanda.

Hasil studi mengonfirmasi bahwa spesies laba-laba yang ditemukan benar merupakan spesies baru. Dalam waktu dekat, bersama Miller, Cahyo akan memublikasikan hasil penelitiannya di salah satu jurnal internasional.

Dalam pernyataan yang dikirimkan ke Kompas.com, Rabu (26/10/2011), Cahyo mengatakan, laba-laba gua yang ditemukan termasuk dalam famili Ctenidae dan masuk dalam marga Amauropelma. Penempatan dalam marga tersebut, menurut Cahyo, sebenarnya belum pasti tepat. Namun hingga saat ini, marga itulah yang paling cocok.

Cahyo menjelaskan, Amauropelma merupakan salah satu marga dari famili Ctenidae yang sebaran utamanya ada di Australia. Temuan di Jawa merupakan catatan baru. “Temuan ini membuktikan, gua-gua di karst Jawa merupakan gudangnya jenis baru yang masih memerlukan waktu untuk dieksplorasi dan diungkap kekayaannya,” tutur Cahyo.

“Banyak temuan menarik yang saya temukan selama menyusuri gua-gua dari Banteng hingga Tuban, bahkan sampai Pulau Madura,” tambah ilmuwan LIPI yang telah menemukan beragam spesies baru tersebut.

Kini, habitat karst terancam oleh pembukaan pabrik semen baru di beberapa kawasan yang secara otomatis akan mengancam spesies-spesies yang ada. Menurut Cahyo, perlu pengelolaan kawasan karst yang baik sehingga potensi biologi, hidrologi, atau lainnya yang tidak dapat dinilai dengan uang bisa dipertahankan.

Laba Laba Langka Ladybird Akan Dilepas Ke Alam Setelah Tinggal Hanya 56 Ekor Didunia


Laba-laba langka asal Inggris, yang juga dikenal dengan nama “laba-laba ladybird”, dikembalikan ke alamnya di Dorset, Inggris, pada Kamis (11/8/2011). Sebelumnya, laba-laba ini diperkirakan akan punah, namun penelitian terbaru mengatakan bahwa jumlah dari laba-laba ladybird mulai meningkat.

Sekitar 30 laba-laba telah dilepaskan oleh Royal Society for the Protection of Birds (RSPB) ke daerah yang kaya akan berbagai spesies. Laba-laba diletakkan dalam botol plastik kosong berisi lumut sebagai sarang sementara mereka di alam bebas.

“Mengenalkan spesies langka ke alamnya sangat menyenangkan, kami berharap spesies ini akan berkembang di kemudian hari,” kata Toby Branston dari RSP.

Menurut data RSPB, pada tahun 1994, hanya tersisa satu koloni yang ada di Inggris-jumlahnya 56 laba-laba. Namun, populasi laba-laba dengan ciri warna merah dan hitam yang cerah ini, telah meningkat beberapa tahun setelahnya. Populasinya sekarang mencapai sekitar 1.000.

Walaupun jumlahnya mencapai 1000, di Dorset sendiri hanya sedikit yang tersisa, karena itu pelepasan 30 laba-laba ini diharapkan dapat memperbanyak populasinya

Rahasia Laba Laba Bernafas Dalam Air Terungkap Prosefor


Laba-laba genta penyelam (Argyroneta aquatica) atau laba-laba air yang hidup di kolam dan sungai berarus lambat hanya perlu mengambil udara ke permukaan air sekali sehari. Kesimpulan para ilmuwan peneliti laba-laba Eropa itu dimuat di Journal of Experimental Biology.

Para peneliti mengukur kadar oksigen di dalam dan di sekitar jaring gelembung udara yang menyungkup kepala hewan yang hidup di air itu. Mereka menemukan, gelembung itu berfungsi seperti insang, menyaring oksigen dari air dan mengeluarkan karbon dioksida.

Laba-laba yang hidup di Eropa dan Asia utara ini membuat jaring dengan rambut halus dari perutnya. Untuk mengetahui berapa kali laba-laba mengambil udara, ahli invertebrata, Prof Roger Seymour dan Dr Stefan Hetz, mengumpulkan contoh laba-laba dari Sungai Eider, Jerman. Mereka membangun tiruan habitat laba-laba di laboratorium.

Ternyata dengan mengukur perbedaan kadar oksigen dalam gelembung dan lingkungan air, peneliti mendapatkan pertukaran gas seperti halnya insang pada hewan yang bernapas dalam air.

“Saat laba-laba menghirup oksigen dalam gelembung, kadar oksigen menurun sehingga oksigen dari air masuk ke dalam gelembung,” kata Seymour sebagaimana dikutip BBC, Kamis (9/6/2011)

Laba Laba Kecil Ternyata Memiliki Otak Dikaki Apabila Kepalanya Terlalu Kecil


Laba-laba yang berukuran kecil, kadang kurang dari satu milimeter, ternyata memiliki otak besar. Saking besarnya, otak sampai “menjalar” hingga ke kaki.

Bill Ebenhard dari Smithsonian Tropical Research Institute dan profesor di Universitas Costa Rica, meneliti 9 spesies laba-laba. Ia menemukan bahwa semakin kecil laba-laba, semakin besar ukuran otak relatif tehadap tubuh.

Ebenhard, seperti diuraikan di National Geographic, Senin 19/12/2011) lalu, menjelaskan, pada beberapa laba-laba, otak bisa mengisi 80 persen tubuh. Pada bayi laba-laba spesies Leucauge Mariana, otak memadati tidak hanya kepala, tapi juga tubuh.

Sementara itu, Ebenhard juga menemukan keanehan pada spesies Phidippus Clarus. Tubuh bayi laba-laba spesies itu diisi oleh otak. Ketika dewasa, organ pencernaan justru tumbuh di bagian kepala dan dada.

Besarnya otak mungkin akan menggangu perkembangan organ lain dan mekanisme lain di dalam tubuh laba-laba itu. Namun, kata Ebenhard, sejauh ini belum ada studi tentang hal tersebut.

Diduga, otak berukuran besar berkaitan dengan kemampuan laba-laba membuat jaring-jaring. Namun, dugaan dimentahkan sebab laba-laba kleptoparasitic yang tak punya kemampuan membangun jaring-jaring ternyata juga punya otak besar. Belum ada kepastian tentang konsekuensi otak besar itu.

Penelitian tentang laba-laba ini dipublikasikan di jurnal Arthropod Structure and Development bulan November lalu.

Sekumpulan Awan Akan Terhisap Kelubang Hitam Pada Tahun 2013


Selama 20 tahun terakhir, astrofisikawan telah mengamati bintang-bintang atau pun objek angkasa lainnya bergerak di dekat Sagitarius A (baca: bintang A), sebuah lubang hitam di galaksi Bimasakti. Namun, mereka belum pernah menjumpai adanya massa yang terhisap dalam lubang hitam tersebut.

Kini, dengan peralatan yang ada, astrofisikawan mampu membuat perkiraan. Observasi dengan Very Large Telescope di Chile yang berbasis inframerah menunjukkan, segumpal awan gas tengah bergerak menuju lubang hitam tersebut dengan kecepatan 1600 kilometer/jam.

Pada tahun 2013, massa gas itu akan tiba di mulut lubang hitam, tanpa ada kesempatan untuk kembali. Massa gas itu mungkin akan segera dilahap lubang hitam setelahnya.

Pada saatnya nanti, gravitasi lubang hitam akan mempercepat gerak massa gas dan memampatkannya. Massa gas akan dipanaskan hingga setidaknya 612 juta derajat Celsius dari sebelumnya hanya 227 derajat Celsius. Massa gas ketika dihisap akan mengemisikan sinar X.

“Biasanya, yang kami lakukan adalah melihat cahaya. Dan, kita harus menemukan apa yang sedang terjadi,” kata Eliot Quataert, astronom di Universitas California, Berkeley, seperti dikutip New York Times, Senin (19/12/2011).

Quataert mengungkapkan, meski sinar X sering terobservasi, namun sumbernya tidak pernah diketahui. Momen tahun 2013 nanti akan sangat istimewa karena ilmuwan untuk pertama kalinya bisa mengobservasi sinar X dan sumbernya. Momen ini juga akan menjadi pembuktian dari teori yang berkembang.

Indonesia Segera Miliki Kapal Perang Super Canggih “Trimaran” Dari Bahan Serat Karbon


Indonesia segera memiliki satu kapal perang canggih berpeluru kendali “Trimaran” yang merupakan produk dalam negeri.

“Kapal ini terbuat dari serat karbon, dengan kecepatan 35 knot dan dipersenjatai peluru kendali yang memiliki jarak tembak 120 kilometer,” kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin usai meninjau industri kapal dalam negeri PT Lundin Industry Invest di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa.

Ia mengatakan, dalam lima bulan mendatang kapal perang canggih yang merupakan prototipe itu langsung bisa dioperasionalkan memperkuat jajaran armada tempur TNI Angkatan Laut.

“TNI Angkatan Laut memesan empat unit kapal, dan dalam lima bulan mendatang sudah jadi satu kapal perang `Trimaran`, sedangkan tiga unit lainnya akan segera dibangun secara bertahap hingga 2014,” kata Sjafrie menambahkan.

Satu unit kapal “Trimaran” dihargai sekitar Rp114 miliar yang diambil dari APBN 2011.

“Jika proyek pengadaan ini berhasil maka ini merupakan sejarah bagi Indonesia karena telah berhasil membuat kapal perang dengan komposit serat karbon, dan ini akan dipatenkan dan diekspor ke luar negeri,” kata Sjafrie.

Direktur PT Lundin Industry Invest, John Lundin, mengatakan pihaknya telah melakukan ujicoba terhadap kapal dengan panjang sekitar 62,52meter tersebut.

“Ini merupakan kapal `Trimaran` pertama yang dibuat dari serat karbon. Amerika pernah membuat kapal sejenis dengan panjang 120 meter namun dari bahan alumunium atau baja.

Komposit serat karbon juga telah digunakan untuk pembuatan pesawat airbus Boeing-777 dan mobil formula 1. Ketahanannya 20 kali lebih kuat dibandingkan baja.

Kapal cepat berpeluru kendali itu memiliki panjang keseluruhan 62,53 meter, panjang “water line”, 50,77 meter panjang “water draft” 1,17 meter, bobot mati 53,1 GT, kecepatan maksimum 30 knot, kecepatan jelajah 16 knot, dengan mesin utama 4X marine engines MAN nominal 1.800 PK.