Populasi Tarsius Hewan Langka Kini Terancam Punah Karena Dikonsumsi Masyarakat


Populasi satwa langka tarsius, primata terkecil di dunia yang hidup di hutan-hutan Sulawesi, menurun drastis dalam 10 tahun terakhir. Diperkirakan jumlah satwa yang bernama Latin Tarsius spectrum ini, di sejumlah hutan di Sulawesi Utara, tersisa 1.800 ekor. Padahal, pada tahun 1998, jumlah tarsius masih berkisar 3.500 ekor. Sejumlah kalangan mencemaskan penurunan populasi tarsius.

Hal itu mengemuka dalam pertemuan internasional mengenai satwa tarsius di Manado yang berakhir pada hari Jumat (7/11). Kegiatan itu dilanjutkan dengan aksi kerja dan workshop hingga 9 November besok. Pertemuan ini adalah konferensi internasional pertama yang khusus diselenggarakan untuk tarsius. Peserta datang berasal dari Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Amerika Serikat.

Tarsius sering disebut sebagai monyet terkecil di dunia, tetapi satwa ini bukan monyet, walaupun keduanya termasuk dalam ordo primata bersama orangutan dan kera besar lainnya. Satwa ini tubuhnya berwarna coklat kemerahan dengan kulit dasarnya berwarna kelabu. Telinganya lebar menghadap ke depan, sedangkan matanya besar. Hewan ini lebih melakukan aktivitasnya pada malam hari, sedangkan pada siang hari lebih banyak tidur. Hewan yang bisa melompat hingga 3 meter ini memakan serangga.

Dikonsumsi masyarakat

Dr Johny Tasirin, ahli ekologi konservasi dari Universitas Sam Ratulangi Manado, mengatakan, penurunan jumlah tarsius karena rusaknya hutan lindung Tangkoko dan sejumlah habitat di Pulau Siau serta Sangihe.

Ia mengatakan, tarsius merupakan satwa dilindungi, ditangkap masyarakat untuk dikonsumsi dalam pesta anak muda. ”Mereka makan tarsius sebagai camilan saat meneguk minuman beralkohol cap tikus,” katanya.

Oleh karena itu, ia mendesak Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara membuat Peraturan Daerah mengenai larangan menangkap tarsius diikuti sanksi pidana dan denda yang tinggi. ”Semua pihak seharusnya mendukung upaya konservasi tarsius yang merupakan simbol daerah,” katanya.

Dr Myron Shekelle, direktur situs internet mengenai tarsius, mengatakan, Sulawesi Utara terpilih menjadi tempat pertemuan internasional karena daerah itu merupakan satu dari dua tempat di dunia yang melaksanakan riset, konservasi, dan ekowisata yang berobyek tarsius. Satu tempat lainnya di Pulau Bohol, Filipina.

Untuk Indonesia, Tangkoko di Bitung, Sulawesi Utara, adalah satu dari dua tempat di dunia di mana wisatawan secara mudah dan teratur bisa menikmati satwa unik di dunia itu.

2 responses to “Populasi Tarsius Hewan Langka Kini Terancam Punah Karena Dikonsumsi Masyarakat

  1. hewan yang dilindungi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s