Arsip Kategori: Web Development

Mari Mengaji Lewat Facebook

Kemajuan teknologi dimanfaatkan Masjid Al Akbar Surabaya, Jawa Timur. Selama Ramadan 1432 Hijriah ini di masjid itu digelar “ngaji Internet”, yang akan dipandu melalui situs jejaring sosial Facebook ataupun Twitter.

Pengajian tersebut dimulai sejak puasa pertama hari ini hingga Lebaran mendatang. “Ngaji Internet kami gelar tiap hari mulai pukul 13.00 hingga 14.30 WIB,” kata Helmy M. Noor, Humas Masjid Al-Akbar Surabaya, Senin, 1 Agustus 2011.

Untuk mengaji, para jemaah membawa perangkat komputer atau laptop. Komputer atau laptop tersebut lantas dihubungkan dengan WIFI yang ada di masjid Al-Akbar.

Dipandu seorang moderator, peserta ngaji Internet lantas diminta browsing atau mencari tema-tema yang telah ditentukan. “Setelah bahan dari Internet ditemukan, barulah secara bersama-sama kami lakukan kajian yang dipandu oleh para ustad yang telah kami tunjuk,” ujar Helmy.

Para ustad yang akan membimbing peserta ngaji Internet di antaranya Prof. Dr. Ahmad Zahro MA yang akan memandu mengenai pembahasan fikih kontemporer, Prof. Dr. Roem Rowi dengan spesialisasi tafsir tematik, atau Dr. Hasniah Hasan mengenai gaya hidup dan keluarga sakinah.

Ngaji Internet ini juga akan dipandu secara khusus oleh beberapa ustad terkenal di antaranya Jefri Albukhori. Juga Ustad Yusuf Mansur yang secara khusus akan memandu peserta ngaji Internet melalui jejaring sosial Facebook ataupun Twitter.

Bagi peserta yang tidak memiliki laptop, pengurus masjid setidaknya telah menyediakan 10 sarana komputer yang bisa digunakan untuk ikut pengajian ini.

Terpisah, Prof. Ahmad Zahro berharap ngaji Internet tak hanya untuk menambah pengetahuan mengenai agama, tapi juga memanfaatkan teknologi untuk kemajuan umat. “Selama ini Internet dinilai negatif, tapi Masjid Al-Akbar sudah dua tahun ini bisa mengubahnya,” kata guru besar Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya itu.

Mahasiswa UGM Kembangkan Alat Lacak ATM Yang Bisa Langsung Terhubung Ke Facebook Pelaku Perampokan ATM

Facebook dimanfaatkan oleh lima mahasiswa UGM untuk melacak mesin ATM yang dicuri. Dikombinasikan dengan beberapa teknologi sederhana dan situs web-situs web lain, pelaku bisa dilacak dengan cepat.

“Situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter, dimanfaatkan untuk mengakses keberadaan si pelaku. Bahkan posisi pelakunya pun dapat diketahui dengan fasilitas Google Maps,” papar Muhammad Anis Al Hilmi, salah satu mahasiswa yang mengembangkan sistem tersebut.

Alat dengan sensor khusus dipasang di mesin ATM. Sensor tersebut didesain khusus agar bisa terhubung pada sebuah akun Facebook atau Twitter. Akun tersebut hanya dapat diakses kepolisian. Ketika perampokan terjadi, akun Facebook tersebut akan menerima pesan khusus berisi nama bank, nama dan nomor mesin, serta keberadaan pelaku.

“Kerja alat ini berbeda dengan CCTV yang harus selalu diawasi. Keberadaan pelakunya pun tidak bisa dideteksi langsung. Kalau dengan alat ini, sambil bermain Facebook, kejahatan bisa dikontrol,” jelas Anis.

Alat yang dikembangkan sejak Januari lalu ini sudah diuji di kantor Polda Daerah Istimewa Yogyakarta. Pihak Polda pun memberikan apresiasi pada alat tersebut dan mengharapkan ada pengembangan lebih lanjut. Anis mengaku sudah ada beberapa bank yang tertarik dengan sistem buatannya.

Sistem ini dihargai Rp 10 juta. Anis mengatakan bahwa tingkat akurasi posisi pelaku akan ditingkatkan dari radius 8 meter menjadi 1 meter. Jadi, kalau brankas yang dicuri dibawa pergi, polisi bisa lebih cepat menyisir pelaku yang mungkin masih ada di sekitarnya.

Anis dan timnya, yang terdiri dari Abdul Rokhman Assyukur, Fajar Aji Nugroho, dan Sean Satya Henura, meraih medali emas dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional XXIV di Makassar, 22 Juli lalu, atas pembuatan sistem keamanan ini

Seiring Dengan Maraknya Demontrasi Anarkis Kini Tersedia Teknologi Anti Demonstran

Pertengahan Februari lalu, di tengah maraknya aksi demo prodemokrasi di sejumlah negara Timur Tengah, di kolom ini diketengahkan teknologi yang berperanan dalam mendukung aksi demo (Kompas, 16/2). Saat itu, dua teknologi yang dimaksud—seperti telah banyak diberitakan—adalah internet dan seluler. Keduanya merupakan teknologi yang kini sering disebut sebagai ICT/TIK (teknologi informasi dan komunikasi).

TIK memang potensial untuk mengomunikasikan ide, rencana aksi, koordinasi, pengumpulan dana, dan sebagainya. Karena peranan strategisnya, TIK menjadi tulang punggung revolusi (yang didukung oleh teknologi) digital. Selain untuk mendukung demo, TIK juga potensial untuk mendukung aktivitas prodemokrasi, yang dicirikan oleh pemerintahan yang transparan.

Kini, ketika ada banyak pemerintahan yang risau melihat perkembangan di Timur Tengah, TIK yang potensial untuk mendukung aksi demo tersebut juga coba ditangkal.

Antidemo konvensional

Pada masa lalu, aksi demo lazim ditangkal dengan semprotan meriam air.

Sarana lain adalah gas air mata. Gas yang juga dikenal dengan nama lakrimator ini menyebabkan mata perih dan mengucurkan air mata. Selain untuk membubarkan kerumunan massa, gas ini juga bisa digunakan dalam perang kimia. Pengguna melontarkan gas ini dalam wadah bertekanan, bisa juga dalam wujud granat, yang dilemparkan atau diluncurkan dari senapan khusus.

Masuk dalam jenis ini adalah gas yang bisa membuat orang batuk-batuk hebat dan mata tak bisa melihat, yang hilang efeknya bila korban lalu menghirup udara segar. Efek gas ini memang tidak menetap. Gas pelepuh, seperti mustar atau gas saraf, jauh lebih berbahaya dan bisa menyebabkan luka permanen atau bahkan kematian.

Berikutnya, aparat juga tidak jarang menggunakan peluru karet. Meski diklaim tidak mematikan, ada juga korban peluru jenis ini yang meninggal. Karena karet berpotensi memantul dengan arah yang sulit dikontrol, bahan ini pun kemudian diganti dengan bahan lain.

Kini, ketika lebih banyak aparat ditugaskan untuk memelihara perdamaian dan melumpuhkan demonstrasi, senjata mematikan sebenarnya merupakan pilihan yang jarang, kecuali seperti dilakukan oleh loyalis Moammar Khadafy di Libya. Sejak awal dekade ini pun Pentagon lebih banyak mencurahkan dollar untuk penelitian dan pengembangan senjata yang bisa mengejutkan, menakutkan, memusingkan, atau apa saja kecuali yang mematikan (Time, 21/7/2002).

Hanya, pengembangan senjata semacam ini tak lepas dari kritik, sebagian besar dari aktivis hak asasi manusia yang berpandangan bahwa teknologi seperti itu akan lebih banyak digunakan untuk menindas para pembangkang, selain melanggar kesepakatan senjata internasional.

Antidemo nonkonvensional

Perhatian terhadap upaya menangkal aksi demo modern tentu saja kini banyak diberikan oleh rezim yang merasa diri rawan dari aksi semacam itu. China adalah salah satunya. Salah satu jendela untuk mengintip kesiapan China dalam penangkalan aksi demo berbasis TIK adalah pameran perlengkapan militer IDEX, yang pekan silam berlangsung di Abu Dhabi.

Kalau saat menghadapi aksi demo di Lapangan Tiananmen tahun 1989 China mengerahkan tentara dan tank, kini ada banyak cara untuk membubarkan massa, bahkan untuk mencegah mereka berkumpul, tulis Jeremy Page di harian The Wall Street Journal (1/3).

Di antara perlengkapan yang dipamerkan China adalah peralatan pengintaian canggih, juga peralatan untuk pengendalian massa.

Adapun yang secara khusus ditujukan untuk menangkal pemanfaatan TIK, baik oleh aktivis prodemokrasi maupun kelompok perlawanan lain, adalah alat pemacet internet dan telepon seluler.

Di antara perusahaan China yang memproduksi peralatan semacam ini adalah CETC International. Perusahaan ini, seperti disinggung dalam laporan The Wall Street Journal di atas, juga mengiklankan alat pengendali massa yang menyerupai senjata bunyi (sonic weapon) yang ditawarkan kepada kepolisian.

Dialektika

Di luar aspek politik, ketika menyimak teknologi yang digunakan baik oleh pihak perlawanan maupun penguasa, kita melihat adanya perkembangan dialektis yang sebelum ini juga menjadi ciri dalam penerapan iptek.

Salah satu contoh populer dari prinsip yang dulu acap digunakan oleh mendiang teknolog Iskandar Alisjahbana ini adalah insektisida. Ketika menghadapi hama wereng, petani menggunakan insektisida untuk membasminya. Namun, seiring dengan waktu, wereng mengembangkan resistensi terhadap insektisida tadi sehingga selanjutnya insektisida tidak efektif lagi dan manusia harus menemukan insektisida baru dengan teknologi yang lebih canggih. Hal serupa bisa dikatakan untuk antibiotik.

TIK sendiri pada dasarnya juga bukan teknologi yang imun dari tantangan. Ada virus yang harus dihadapi dengan antivirus dan dalam teknologi militer dikenal adanya electronic counter measures (ECM) manakala ada upaya untuk memacetkan sistem atau peralatan. ECM bahkan sempat dilawan dengan electronic counter-counter measures (ECCM).

Saat ini, pendemo masih bisa menikmati kecanggihan TIK untuk menggalang dan mengoordinasikan demo. Akan tetapi, manakala aparat rezim yang diktatorial dan represif juga menguasai TIK dan sistem penangkalnya, bisa jadi TIK yang menjadi andalan para aktivis antirezim totaliter bisa kurang atau bahkan tidak efektif lagi.

Dalam kaitan inilah aktivis dan pendemo juga perlu mengembangkan sumber daya manusia TIK untuk mendukung kegiatannya.

Benar seperti yang sering disinggung mantan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, dewasa ini yang berlaku adalah brainwarfare, adu pintar di antara pihak-pihak yang punya kepentingan berseberangan. Dalam kaitan adu pintar ini pula, pendemo modern juga perlu memahami bahwa kenyataannya pada TIK juga terkandung titik lemah. Tanpa menyadari hal ini, bisa terjadi aksi yang sudah dirancang rapi untuk momen yang menentukan tidak bisa dijalankan karena TIK yang mendukungnya telah di-hack, di-crack, atau dimacetkan lawan.

Riset Bahan Murah dan Berbiaya Murah Lebih Disukai

Indikasi pemerintah meningkatkan dana riset untuk masa mendatang hingga kini belum terlihat. Kegiatan riset dana rendah yang berbahan murah, tetapi memberi manfaat besar bagi masyarakat, lebih diutamakan.

”Sekarang, ilmuwan, lembaga riset, dan universitas yang harus bertanggung jawab memilah-milah riset dengan anggaran terbatas tetapi berbahan murah dan memberi manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat,” kata ahli astronomi dari Institut Teknologi Bandung, Bambang Hidayat (76), sebagai pembicara tamu pada penyerahan ke-17 Penghargaan Sains dan Teknologi oleh Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) di Jakarta, Kamis (10/2).

ITSF dibentuk perusahaan dari Jepang. Penghargaan yang disertai dana riset masing-masing Rp 20 juta diberikan kepada sembilan pengajar pendidikan sains di tingkat SMA. Di antaranya kepada Cece Sutia yang mengajukan judul riset ”Penggunaan Alat dan Bahan dari Dapur untuk Membuktikan Prinsip-prinsip Keilmuan dalam IPA”.

Hibah dana riset berkisar Rp 36 juta sampai Rp 46 juta diberikan untuk 15 peneliti dari berbagai universitas dan lembaga riset. Penghargaan tertinggi disertai dana riset Rp 75 juta diberikan kepada Suryadi Ismadji dari Universitas Katholik Widya Mandala Surabaya.

Suryadi mengajukan proposal riset berjudul ”Pemanfaatan Bahan Murah dan Limbah Pertanian untuk Pengelolaan Lingkungan dan Konversi Menjadi Bahan Lain yang Mempunyai Nilai Ekonomis”.

”Salah satunya, riset itu ingin menjadikan limbah kulit ketela pohon (singkong) untuk karbon aktif sebagai bahan superkapasitor,” kata Suryadi.

Superkapasitor dibutuhkan sebagai elemen pembuatan baterai atau penyimpan arus listrik. Limbah gergajian kayu dan limbah jarak juga disebutkan sebagai bahan murah yang dapat dioptimalkan manfaatnya untuk sumber energi.

”Riset ini memanfaatkan secara total sumber daya yang ada di sekitar masyarakat sehingga temuan inovasi bisa diaplikasikan masyarakat dengan bahan baku yang murah dan tersedia sebagai limbah pertanian melimpah,” kata Suryadi.

Facebook dan Twitter Membuat Pengusaha Merugi Milyaran Karena Pegawai Jadi Malas Kerja

Para pegawai yang membuang-buang waktu dengan menggunakan Facebook, Twitter dan laman lain jejaring sosial membuat para pengusaha Inggris rugi miliaran poundsterling, demikian hasil penelitian baru.

Jejaring tenaga kerja Inggris, MyJobGroup.co.uk menyatakan lembaga itu melakukan jajak pendapat terhadap 1.000 pekerja Inggris dan mendapati bahwa hampir enam persen atau 2 juta dari 34 juta tenaga kerja di negeri tersebut menghabiskan waktu lebih dari satu jam per hari di jejaring sosial sewaktu mereka di tempat kerja.

Jumlah itu naik jadi lebih dari satu per delapan dari seluruh hari kerja mereka.

“Hasil kami secara jelas memperlihatkan bahwa tenaga kerja di Inggris menghabiskan makin banyak waktu sewaktu di tempat kerja untuk mengunjungi jejaring media sosial, yang tanpa diketahui, dapat memiliki dampak negatif pada produktivitas banyak perusahaan di seluruh negeri ini,” kata Direktur Pelaksana Myjobgroup.co.uk Lee Fayer dalam satu pernyataan mengenai hasil survei tersebut sebagaimana dikutip Reuters Life!

MyJobGroup.co.uk menyatakan hilangnya jam kerja di Facebook, Twitter dan jejaring lain media sosial dapat berpotensi membuat Inggris menderita kerugian sampai 14 miliar pound (22,16 miliar dolar AS).

Penelitian itu memperlihatkan lebih separuh dari seluruh tenaga kerja di Inggris –55 persen– mengaku mereka mengakses profil media sosial di tempat kerja, dan banyak menghabiskan waktu sangat banyak untuk ngobrol dengan teman, mengirim pesan, menambah foto dan video, serta memperbarui profil mereka. Akibat ulah mereka, produktivitas perusahaan mengalami pukulan.

Kendati memiliki dampak negatif pada bidang ekonomi di tengah pemulihan yang masih rapuh, banyak pekerja yang ditanyai membantah adanya dampak negatif media sosial pada efisiensi mereka.

Hanya 14 persen responden mengakui jadi kurang produktif akibat media sosial dan 10 persen bahkan mengaku media sosial “membuat mereka lebih produktif”.

Terlebih lagi, masih ada penentangan luas terhadap pelarangan akses ke jejaring sosial di tempat kerja. lebih dari dua-pertiga (68 persen) menyarankan suatu bentuk akses selama jam kerja. Hanya sepertiga mengingini laman seperti Facebook, Twitter, Flickr dan YouTube dilarang selama jam kerja. Itu memperlihatkan bertambahnya kepentingan media sosial bagi kehidupan rutin setiap hari dan penentangan luas jika aksesnya dibatasi.

“Meskipun kami tentu saja tak ingin membunuh kegembiraan, orang yang menghabiskan waktu lebih dari satu jam kerja per hari di Facebook dan Twitter sangat menghambat upaya perusahaan untuk mendorong produktivitas, yang lebih penting daripada sebelumnya mengingat rentannya kondisi ekonomi kita,” kata Fayer.

“Semua perusahaan harus berusaha sebaik mungkin untuk memantau penggunaan laman jejaring sosial selama jam kerja dan memastikan bahwa pegawai mereka tak menyalah-gunakan kebebasan akses ke semua laman itu,” katanya.

Aplikasi Skype 3G Banyak Diminati Orang

Hampir lima juta konsumen telah mengunduh aplikasi ponsel Skype yang diluncurkan Minggu (30/5), memungkinkan pengguna iPhone Apple untuk menggunakan layanan swasta, Skype, melalui jaringan selular untuk pertama kalinya, kata Skype pada Rabu.

Sebelum dikenalkan aplikasi jaringan generasi ketiga (3G) berkecepatan tinggi pada 30 Mei, konsumen hanya menggunakan Skype di iPhonenya ketika mengakses Wi-Fi, sebuah teknologi nirkabel jarak dekat yang bisa ditemukan di tempat-tempat seperti kedai kopi, rumah-rumah, dan kantor.

“Sampai saat ini sudah terdapat jutaan download,” kata Russ Shaw, general manager ponsel Skype kepada Reuters dan merujuk pada pengguna iPhone global. “Itu benar-benar positif.”

Seorang juru bicara Skype mengatakan jumlah download aplikasi hampir lima juta pada Rabu pagi waktu bagian timur.

Shaw mengatakan, aplikasi itu menunjukkan permintaan bagus di tiga daerah operasi utama Skype: Eropa, Amerika Utara, dan wilayah Asia Pasifik.

Namun, Skype menghadapi banyak keluhan dari para komentator Web setelah Skype Minggu mengatakan bahwa baru akan melayani panggilan 3G untuk pengguna Skype tahun depan.

Ini terlihat sebagai perubahan besar karena alasan utama Skype menjadi populer dikarenakan panggilan Skype-to-Skype selalu digunakan pelanggan pada komputer atau ponsel mereka.

Shaw mengatakan perusahaan perlu meningkatkan jaringan untuk layanan sehingga mendapatkan dana investasi yang diperlukan agar kualitas panggilan Skype 3G tetap tinggi.

Dia menolak memberikan rincian spesifik mengenai rencana harga, hanya saja layanan akan masih kompetitif dengan layanan rivalnya termasuk panggilan ponsel tradisional.

“Kami tidak ingin harga kami keluar dari pasar,” katanya. “Saya tidak bisa mengabaikan fakta bahwa konsumen (saat ini) menggunakan kita secara gratis.”

Apple akan mengumumkan iPhone baru pada 7 Juni. Shaw mengatakan Skype untuk mendukung iPhone berikutnya juga, tapi dia tidak mempunyai rincian tentang pengumuman Apple.

AT & T Inc merupakan penyedia eksklusif jaringan iPhone di AS, demikian Reuters.

Indonesia Adalah Pengguna Terbanyak Jejaring Sosial Di Dunia

Berdasarkan statistik menujukkan bahwa masyarakat Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna jejaring sosial terbanyak di dunia.

General Manager Nokia Indonesia, Bob McDougall, di Medan, Sabtu, mengatakan, bahwa di antara jejaring sosial yang banyak digunakan masyarakat Indonesia tersebut diantaranya adalah facebook, twitter, taggged dan friendster.

Ia mengatakan, sebagian besar masyarakat Indonesia menggunakan jejaring sosial tersebut dari ponsel mereka masing-masing. Ini merupakan perwujudan nyata dari conneting people yang selalu menjadi inti dari merk Nokia.

Tingginya pengguna jejaring sosial tersebut menjadi salah satu latar belakang nokia meluncurkan produk terbaru tipe C3 yang dilengkapi dengan Nokia messaging yang memungkinkan pengguna untuk mengatur email dan chat langsung dari perangkat tanpa komputer pribadi (PC).

Nokia Messaging mendukung akun email seperti Ovi Mail, Gmail, Yahoo Mail, Windows Live Hotmail, beberapa penyedia email lokal dam juga chat lewat ovi Chat, Yahoo massenger, Windows Live Mesengger dan Google Talk.

Termasuk fitur penting lainnya adalah konektivitas Wi-Fi, kamera, 2 megapiksel, layar warna, dan dukungan untuk kartu memori hingga 8 GB.

Nokia C3 akan tersedia dalam warna golden White, Slate grey dan Hot Pink. Ovi store tersedia di nokia C3 bagi pengguna untuk mengunduh aplikasi, permainan, audio dan video dan opsi personalisasi.

Untuk mengenalkan Nokia C3 tersebut, lanjut dia, Nokia mengadakan berbagai kegiatan untuk mempromosikannya. Salah satunya dengan mengadakan kompetisi Online “Nokia C3 eksismeter:se-eksis apa sih kamu”.

Dalam kompetisi ini para peserta mengumpulkan nilai terbanyak lewat aktivitas di jejaring sosial seperti facebook dan twitter dengan mendapatkan lebih banyak pengikut dan teman, memperbaharui status dan mengomentari komentar teman.

Tiap minggunya sepasang peserta pria dan wanita akan dipilih berdasarkan nilai tertinggi dan masing-masing akan mendapatkan Nokia C3.

“Diakhir kompetisi online ini, dua pemenang utama akan diumumkan.Para pemenang bis amengundnag teman-teman mereka untuk menonton film secara eksklusif disalahsatu studio di bioskop pilihan mereka yang akan di buka hanya untuk mereka,” katanya.

BPPT Siapkan e Votting Untuk Pemilu 2014

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi siap mendukung penyelenggaraan Pemilu Legislatif ataupun Pemilu Presiden 2014 secara elektronik. Untuk menuju kesiapan penyelenggaraan itu, dukungan penyediaan sistem dan teknologi pemilu elektronik oleh BPPT itu akan diuji coba penggunaannya dalam sejumlah pemilu kepala daerah.

Kesiapan itu disampaikan Kepala BPPT Marzan Aziz Iskandar, didampingi sejumlah peneliti BPPT lainnya, di Jakarta, Jumat (14/5). Selain Kabupaten Jembrana, Bali, yang sejak awal mengusulkan penggunaan pemilihan elektronik (e-voting), daerah lain yang juga mengusulkan penggunaannya, antara lain, Kota Bogor dan Kota Depok.

Agar pemilihan elektronik dapat dilaksanakan, dibutuhkan data kependudukan yang pasti. Menurut Marzan, Kementerian Dalam Negeri telah menyatakan kesiapan penggunaan kartu tanda penduduk (KTP) elektronik bagi seluruh rakyat Indonesia pada akhir 2012.

Marzan menambahkan, pemilu elektronik harus menjamin penghematan biaya, kecepatan diperolehnya hasil pemilu, kemudahan bagi pemilih dalam memberikan suaranya, serta terjaganya asas pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Model pemilihan elektronik yang digunakan di Indonesia juga harus disesuaikan dengan sistem pemilu Indonesia yang berbeda dengan negara-negara lain.

Tiga model

Kepala Bidang Sistem Informasi dan Komputasi BPPT Dwi Handoko mengatakan, saat ini setidaknya sudah ada tiga pilihan jenis peralatan yang digunakan dalam pemilihan elektronik, yaitu sistem layar sentuh yang digunakan dalam pemilihan kepala dusun di Jembrana, sistem mesin dengan tombol seperti di India, atau penghitungannya saja yang dilakukan secara elektronik seperti di Filipina.

Untuk sistem yang digunakan di Filipina, pemilih memberikan suara dengan memberikan bulatan hitam seperti dalam ujian nasional di sekolah. Data di kertas itu selanjutnya dibaca dengan mesin pemindai optical mark reader (OMR). Penghitungan semacam ini juga mempercepat diketahuinya hasil pemilu.

Sistem layar sentuh atau mesin tombol hanya dapat digunakan untuk pemilu kepala daerah, pemilu presiden, atau pemilu dengan sistem distrik, seperti di India, yang dalam satu daerah pemilihan maksimal hanya ada belasan calon yang harus dipilih. Untuk digunakan dalam pemilu legislatif Indonesia, baik pemilu DPR, DPRD provinsi, maupun DPRD kabupaten/kota, dengan sistem proporsional terbuka, yang diikuti 38-44 partai politik dan setiap partai bisa memiliki puluhan calon anggota legislatif, tentu sangat sulit.

Lebih murah

Peneliti Jaringan Komputer, Divisi Sistem Komunikasi Multimedia, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi BPPT, Husni Fahmi, mengatakan, pengalaman India menyelenggarakan pemilu elektronik hanya membutuhkan biaya 0,75 dollar Amerika Serikat untuk setiap pemilih.

Bandingkan dengan biaya pemilu Indonesia 2009 yang menurut Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran mencapai 13,64 dollar AS per pemilih. Dengan kurs Rp 9.000 per dollar AS, biaya pemilu untuk setiap pemilih di India hanya Rp 6.750 dan di Indonesia mencapai Rp 122.760.

Secara terpisah, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengatakan, standardisasi kesiapan suatu daerah yang akan melakukan pilkada dengan e-voting harus diatur. Gamawan menyebutkan beberapa hal terkait dengan pelaksanaan pemungutan suara e-voting, seperti kesiapan tenaga listrik dan data penduduk dengan e-KTP.

Akses Mobile Broadband Makin Banyak Penggemar

Apa situs Internet yang paling banyak dibuka orang Indonesia? Jawabnya adalah Yahoo.com. Begitu menurut catatan Torsten Leibner (Global Network Solution Manager, Nokia Siemens Network) yang mengutip data situs Alexa.com tanggal 25 Maret 2009.

Urutan-urutan berikutnya berturut-turut adalah Google.co.id, diikuti oleh Facebook.com, Google.com, Blogger.com, Friendster.com, YouTube.com, dan WordPress.com. Sementara itu situs-situs lain, seperti detik.com, Windows Live, kompas.com, dan detiknews.com, dan klikbca ada di bawah situs-situs pertemanan sosial di atas.

“Social network adalah yang paling populer, seperti juga di negara-negara lain di seluruh dunia,” kata Torsten.

Jika ditilik dari Top 10 Mobile Internet, tambah, Torsten, tetap saja jaringan pertemanan sosial yang populer. Untuk kategori ini, urutan pertama diduduki oleh friendster.com. Urutan-urutan berikutnya, begitu dikutip dari Opera, State of Mobile Web (02/09) adalah google.com, facebook.com, yahoo.com, waptrick.com. peperonity.con, gamejump.com, getjar.com, wikipedia.org, dan digg.com.

Sementara itu chatting menjadi kegiatan yang paling banyak dilakukan oleh para pengguna aplikasi mobile. “Ini termasuk bagi pengguna berat Internet yang mengaksesnya setiap hari, dengan lebih 3 jam sekali akses, maupun bagi pengguna ringan yang mengakses Internet 2x – 3x per minggu dan melakukannya sekitar 1 – 2 jam setiap kali akses,” papar Torsten.

Perilaku di atas – selalu ingin terhubung dengan teman – itulah yang juga membuat kian banyak pengguna yang memilih broadband Internet ketimbang mobile Internet saat ini. “Bisa membuat hidup lebih nyaman dan menyenangkan,” kata Torsten. “Lebih efisien bagi kehidupan profesional, juga hemat uang dan meningkatkan kehidupan sosial untuk kehidupan pribadi,” urainya.

Menurut Torsten, setelah beralih ke broadband Internet yang cepat, biasanya para pengguna akan lebih sering lagi mengakses Internet. “50% akses setiap hari di rumah, 15% akses setiap hari secara mobile untuk mereka yang bekerja maupun yang tidak bekerja.” Ia mengatakan bahwa mobile broadband kini penting secara ekonomi.

Jaringan Mata-Mata Internet Terbesar GoshNet Berhasil Dibongkar

Sebuah jaringan mata-mata siber yang berbasis di China terbongkar. Jaringan itu berhasil membobol dokumen rahasia milik pemerintah dan organisasi swasta dari 1.295 komputer yang ada di 103 negara, di antaranya milik pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama.

Para peneliti Kanada, Sabtu (28/3), mengatakan, jaringan mata-mata siber, yang mereka sebut ”GoshNet” itu juga menyusupi komputer Kementerian Luar Negeri Iran, Banglades, Latvia, Indonesia, Filipina, Brunei, Barbados, dan Butan. Komputer di sejumlah kedutaan besar, seperti India, Korea Selatan, Indonesia, Romania, Siprus, Malta, Thailand, Taiwan, Portugal, Jerman, dan Pakistan, juga dibobol.

Penyelidikan terhadap jaringan mata-mata siber itu berlangsung selama 10 bulan oleh Monitor Perang Informasi (IWM) yang terdiri atas peneliti dari SecDev Group yang berbasis di Ottawa dan Pusat Kajian Internasional Munk di University of Toronto. Mereka melakukan penyelidikan atas permintaan kantor pribadi Dalai Lama.

”Kami menemukan bukti program perusak yang menyusupi sistem komputer Tibet, mengekstrak dokumen sensitif dari kantor pribadi Dalai Lama,” kata Greg Walton, salah satu peneliti.

Awalnya penyelidikan itu difokuskan pada dugaan mata-mata siber China terhadap komunitas Tibet di pengasingan. Dari situ ditemukan jaringan yang lebih luas.

Para peneliti yakin sistem itu difokuskan pada pemerintah negara-negara di Asia. Meskipun analisis mengarah pada China sebagai sumber utama jaringan, identitas dan motivasi pembobol itu belum bisa disimpulkan.

Peneliti juga tidak memiliki bukti konklusif bahwa Pemerintah China berada di balik jaringan mata-mata tersebut. Beijing juga membantah terlibat dalam jaringan mata-mata siber.

Aktivis Mahasiswa untuk Tibet Merdeka, Bhutila Karpoche, mengatakan, komputer di organisasinya sering disusupi selama 4-5 tahun terakhir. Dia sering menerima surat elektronik berisi virus yang merusak komputer.

Terbesar

Dengan memasang program perusak pada jaringan komputer, pembobol bisa mengendalikan komputer itu untuk mengirim dan menerima data rahasia kepada mereka. Dalam kasus ini, perangkat lunak juga memberi pembobol kemampuan untuk menggunakan alat rekaman video dan audio untuk memonitor ruangan di mana komputer-komputer itu berada.

Dua peneliti pada Cambridge University di Inggris, Shishir Nagaraja dan Ross Anderson, mengatakan, serangan menggunakan program perusak bukan hal yang baru. Namun, serangan dari ”GoshNet” ini harus diwaspadai karena kemampuannya mengumpulkan tindakan atau aksi-aksi intelijen yang digunakan polisi dan aparat keamanan di negara represif. Konsekuensinya sangat fatal apabila tindakan tersebut diekspos.

Menurut surat kabar The New York Times, jaringan mata-mata ini merupakan yang terbesar yang pernah dibongkar dalam hal jumlah negara yang terkena dampaknya.

Nagaraja dan Anderson mengatakan, pencegahan serangan siber sangat sulit karena pertahanan tradisional terhadap program perusak di badan pemerintah memerlukan langkah yang mahal, mulai dari kontrol akses hingga prosedur keamanan operasional yang panjang