Informasi Tentang Dunia Teknologi Terkini

Entries categorized as ‘War Machine’

Indonesia Siap Kembangkan Senjata Nuklir Karena Sudah Ditemukan Tambang Uranium Di Bengkulu

Desember 20, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamdin, Jumat, mengungkapkan hasil penelitian beberapa ilmuwan menyimpulkan bahwa dalam perut bumi Provinsi Bengkulu ternyata ada kandungan uranium, sumber energi nuklir, namun belum tergali benar.

“Kita masih terus kembangkan penelitian, isu awal itu dijadikan referensi bila memang ada potensinya bisa digunakan untuk kesejahteraan masyarkat,” katanya di Bengkulu, Jumat.

Walaupun tidak menjelaskan secara rinci letak dan keberadaan potensi uranium tersebut, tapi Gubernur menyebutkan bahwa uraniuam selalu dekat dengan keberadaan emas.

Bengkulu sendiri sudah terkenal sebagai penghasil emas, dengan situs pertambangannya yang paling terkenal di Kabupaten Lebong dan sebagian kecil Bengkulu Utara.

Dari situ, Agusrin mencoba menarik kesimpulan sementara bahwa kandungan uranium tersebut diperkirakan juga berada di dua daerah itu.

Uranium adalah salah satu unsur kimia dalam tabel periodik memiliki lambang U dan nomor atom 92.

Uraniam termasuk logam berat, beracun, berwarna putih keperakan dan merupakan unsur radioaktif alami yang termasuk seri aktinida (actinide series).

Isotopnya, 235U ,digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir dan senjata nuklir.

Agusrin mengungkapkan, bila memang potensi itu ada, salah satunya dapat dimanfaatkan untuk menjadi sumber pembangkit tenaga listrik.

Tetapi untuk mengambilnya dibutuhkan biaya besar, terutama pada tahap eksplorasi lebih mengetahui kandungan terukur Uranium dan perlu ada peran pihak ketiga untuk penelitian lebih lanjut.

Sebab jika tak diolah dengan baik akan menjadi bumerang dan membahayakan kehidupan manusia, apalagi jika dipakai bagi kepentingan tak bertanggungjawab.

Namun bila diolah dengan baik dan sempurna dapat mendukung kesejahteraan kehidupan manusia.

“Dahulu pernah ada ada kebocoran pengolahan uranium di Uni Soviet, sehingga radiasinya bisa menyebabkan kerugian bahkan hingga kematian bagi manusia dan benda hidup disekitarnya,” ujarnya.

Radiasi yang dihasilkan Uranium, kata Gubernur, tidak hanya berguna sumber energi seperti listrik dan senjata, namun juga sektor lain, seperti rekayasa genetika dalam bidang kesehatan, peternakan dan pertanian.

Kewenangan atas urusan barang strategis seperti uranium berada di tangan pemerintah pusat, pemerintah daerah tidak mempunyai kewenangan untuk mengolah energi tersebut.

“Jauh lebih penting memagari uranium Indonesia agar tidak dicolong dan digunakan untuk merusak perdamaian dunia. Apalagi Indonesia adalah salah satu penandatangan konsensus internasional uranium untuk perdamaian,” tandas Agusrin

Kategori: Electricity · Energy · Environment · War Machine

Jaringan Mata-Mata Internet Terbesar GoshNet Berhasil Dibongkar

Maret 30, 2009 · & Komentar

Sebuah jaringan mata-mata siber yang berbasis di China terbongkar. Jaringan itu berhasil membobol dokumen rahasia milik pemerintah dan organisasi swasta dari 1.295 komputer yang ada di 103 negara, di antaranya milik pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama.

Para peneliti Kanada, Sabtu (28/3), mengatakan, jaringan mata-mata siber, yang mereka sebut ”GoshNet” itu juga menyusupi komputer Kementerian Luar Negeri Iran, Banglades, Latvia, Indonesia, Filipina, Brunei, Barbados, dan Butan. Komputer di sejumlah kedutaan besar, seperti India, Korea Selatan, Indonesia, Romania, Siprus, Malta, Thailand, Taiwan, Portugal, Jerman, dan Pakistan, juga dibobol.

Penyelidikan terhadap jaringan mata-mata siber itu berlangsung selama 10 bulan oleh Monitor Perang Informasi (IWM) yang terdiri atas peneliti dari SecDev Group yang berbasis di Ottawa dan Pusat Kajian Internasional Munk di University of Toronto. Mereka melakukan penyelidikan atas permintaan kantor pribadi Dalai Lama.

”Kami menemukan bukti program perusak yang menyusupi sistem komputer Tibet, mengekstrak dokumen sensitif dari kantor pribadi Dalai Lama,” kata Greg Walton, salah satu peneliti.

Awalnya penyelidikan itu difokuskan pada dugaan mata-mata siber China terhadap komunitas Tibet di pengasingan. Dari situ ditemukan jaringan yang lebih luas.

Para peneliti yakin sistem itu difokuskan pada pemerintah negara-negara di Asia. Meskipun analisis mengarah pada China sebagai sumber utama jaringan, identitas dan motivasi pembobol itu belum bisa disimpulkan.

Peneliti juga tidak memiliki bukti konklusif bahwa Pemerintah China berada di balik jaringan mata-mata tersebut. Beijing juga membantah terlibat dalam jaringan mata-mata siber.

Aktivis Mahasiswa untuk Tibet Merdeka, Bhutila Karpoche, mengatakan, komputer di organisasinya sering disusupi selama 4-5 tahun terakhir. Dia sering menerima surat elektronik berisi virus yang merusak komputer.

Terbesar

Dengan memasang program perusak pada jaringan komputer, pembobol bisa mengendalikan komputer itu untuk mengirim dan menerima data rahasia kepada mereka. Dalam kasus ini, perangkat lunak juga memberi pembobol kemampuan untuk menggunakan alat rekaman video dan audio untuk memonitor ruangan di mana komputer-komputer itu berada.

Dua peneliti pada Cambridge University di Inggris, Shishir Nagaraja dan Ross Anderson, mengatakan, serangan menggunakan program perusak bukan hal yang baru. Namun, serangan dari ”GoshNet” ini harus diwaspadai karena kemampuannya mengumpulkan tindakan atau aksi-aksi intelijen yang digunakan polisi dan aparat keamanan di negara represif. Konsekuensinya sangat fatal apabila tindakan tersebut diekspos.

Menurut surat kabar The New York Times, jaringan mata-mata ini merupakan yang terbesar yang pernah dibongkar dalam hal jumlah negara yang terkena dampaknya.

Nagaraja dan Anderson mengatakan, pencegahan serangan siber sangat sulit karena pertahanan tradisional terhadap program perusak di badan pemerintah memerlukan langkah yang mahal, mulai dari kontrol akses hingga prosedur keamanan operasional yang panjang

Kategori: Internet · Telecomunication · War Machine · Web Development

MIliter Amerika Serikat Hentikan Proyek Pesawat Siluman F-22

Desember 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Seorang perwira militer penting AS menyatakan keraguannya, Rabu, terhadap masa depan program jet tempur mahal F-22, mengingat kondisi ekonomi yang memburuk akan memaksa Pentagon memangkas anggaran.

Jet tempur siluman F-22 Raptor buatan Lockheed Martin/Boeing, yang digagas saat berlangsungnya Perang Dingin, dipandang oleh para pengecamnya, antara lain Menhan Robert Gates, sebagai pesawat yang sulit disesuaikan penggunaannya dalam konflik yang lain daripada biasanya, seperti di Irak dan Afghanistan.

“Penting sekali bagi kita semua, juga di Departemen Pertahanan, untuk menekan anggaran kita, untuk memangkasnya sebisa kita,” kata Ketua Kepala Staf Gabungan, Laksamana Michael Mullen, kepada para wartawan, sebagaimana dilaporkan AFP.

“Saya mengkhawatirkan kurangnya pengendalian biaya pada begitu banyak program kita,” kata Mullen. “Kita harus mampu melakukannya atau kita tak bisa membelinya.”

Mengenai F-22, “Masalahnya bukan terletak apakah kita membutuh atau memilikinya,” katanya. “Masalahnya adalah berapa banyak yang kita perlukan untuk mesa mendatang?”

“Saya merasa prihatin dengan program mahal seperti ini,” katanya, sambil menambahkan Angkatan Udara membutuhkan tambahan 60 pesawat di luar 183 F-22 yang telah dipesan.

Program ini hingga sejauh ini telah menelan biaya 65 miliar dolar, sehingga setiap F-22 harganya 350 juta dolar.

Namun demikian, para pejabat penting Angkatan Udara AS mempertahankan program itu, dengan menyatakan jet tempur itu disesuaikan dengan baik sekali untuk menghadapi calon-calon musuh AS, seperti China.

Para anggota Kongres terkemuka juga merasa enggan mengakhiri program itu, sehubungan program ini menjadi sumber lapangan kerja bagi ribuan orang di seluruh AS.

“Saya kira … di dunia kedirgantaraan, masa depan kita ada di Joint Sterike Fighter (JSF),” kata Mullen.

Ia merujuk pada jet tempur siluman Lockeed Martin F-35, yang dirancang untuk menggantikan jet tempur F-16, yang kini banyak dipakai di Angkatan Udara.

Namun begitu, program ini, yang juga melibatkan beberapa negara lain, juga mengalami kelambatan dan biaya yang membengkak.

Petangon merencanakan akan membeli 2.400 JSF hingga 2027

Kategori: War Machine

Facebook Digunakan Untuk Menangkal Pengaruh Terorisme Yang Menjamur Lewat Internet

Desember 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Senjata Amerika Serikat (AS) dalam memenangi “perang ide-ide”  melawan kelompok ekstremis adalah lewat situs-situs jaringan sosial dan berbagai “tools” lainnya dari Web 2.0.

“Dalam perang ide, tugas inti kami pada tahun 2008 adalah menciptakan lingkungan yang memusuhi ekstremisme,” kata tokoh penting penyusun kebijakan di AS sebagaimana dikutip AFP.

James Glassman, menteri muda Wakil Menlu AS Bidang Diplomasi dan Urusan Publik,  mengemukakan bahwa cara memusuhi kekerasan ekstremisme dilakukan dengan dua jalan yaitu menggoyang ideologi ektremis sekaligus  mengajak kaum muda untuk menempuh jalan produktif yang menjauh dari terorisme.

Glassman mengemukakan hal tersebut saat pidato di  New America Foundation, lembaga pemikir yang bermarkas  di Washington.

“Cara terbaik mencapai tujuan kami dalam diplomasi publik adalah lewat pendekatan baru berkomunikasi, pendekatan ini jauh lebih mudah menyusul munculnya Web 2.0 atau teknologi-teknologi jaringan sosial,” katanya.

“Kami menyebut pendekatan baru ini ‘Public Diplomacy 2.0′,” kata Glassman.

“Al-Qaeda dan organisasi ekstremis lainnya telah memanfaatkan Internet namun keuntungan itu dengan segera  lenyap,” katanya. “Teknologi-teknologi baru memberi keunggulan komparatif yang berarti kepada AS dibanding para teroris.”

Glassman mengemukakan, penting bagi pemerintah AS untuk menyesuaikan perkakas dan pesan mereka dalam zaman Internet.

“Di dunia baru orang berkomunikasi ini, setiap pemerintah yang menolak teknik-teknik baru Internet akan menghadapi risiko semakin besar diabaikan,” katanya.

“Sasaran utama kita, khususnya kaum muda, tidak ingin dikuliahi, tidak ingin disuruh berpikir atau diberitahu tentang betapa indahnya kita,” kata Glassman.

Dia mengemukakan, Departemen Luar Negeri AS dan badan-badan pemerintah AS melakukan berbagai usaha untuk terlibat secara interaktif dengan masyarakat.

Biro Pendidikan dan Kebudayaan Departemen Luar Negeri AS punya halaman di “Facebook”  dan Glassman mengatakan tim departemen tersebut menggunakan berbagai blog dan situs web berbahasa Arab, Persia,  Urdu dan sebentar  lagi Rusia.

“Anggota-anggotanya memperkenalkan diri sebagai perwakilan dari Deplu AS,    dan mereka melibatkan diri dalam percakapan, dan menginformasikan atau memperbaiki distorsi mengenai kebijakan-kebijakan AS,” kata Glassman.

Dia juga mengatakan blogger berbahasa Persia Deplu AS belum lama ini terlibat dalam “serangkaian ‘posting’ panjang” dengan penasehat bidang media Presiden Mahmoud Ahmadinejad dari Iran.

Deplu AS setiap tahun menghabiskan anggaran 900 juta dolar untuk diplomasi publik dan dua pertiganya untuk pertukaran pendidikan dan budaya seperti program Fulbright

Kategori: Computer · Internet · Telecomunication · War Machine · Web Development

Amerika Serikat Mengembangkan Pesawat Siluman Yang Bisa Terbang, Berlayar dan Menyelam Untuk Operasi Pasukan Khusus

Oktober 25, 2008 · & Komentar

AS ingin mengembangkan pesawat yang mampu menyelam dan dapat terbang ratusan mil laut jauhnya, menerjang laut ganas dan kemudian menyelam untuk mendaratkan pasukan komando di pantai musuh.

Badan Proyek Riset Lanjut Pertahanan AS (DARPA) mengakui pihaknya belum pernah melakukan hal ini sebelumnya, “karena persyaratan desain bagi pesawat yang dapat menyelam dan pesawat biasa secara diametris bertentangan.”

Namun demikian, dalam sebuah permintaan bagi usulan seperti ini pada bulan ini, pihaknya menyatakan sedang mencari “teknologi baru yang radikal yang mampu memberikan kemampuan seperti itu kepada Departemen Pertahanan bagi penyusupan tim-tim kecil secara diam-diam di pantai lawan.

DARPA sangat terkenal sebagai pelopor dari banyak inovasi paling revolusioner Pentagon, mulai dari Internet hingga teknologi siluman yang mendukung pembom siluman B-2.

Usulan-usulannya membutuhkan studi kelayakan dan eksperimen untuk membuktikan konsep pesawat yang dapat menyelam dengan kecepatan dan jangkauan seperti pesawat biasa, kemampuan menjelajah seperti perahu dan sifat siluman seperti kapal siluman.

Pesawat yang diusulkan itu harus mampu menerbangkan pasukan komando sejauh 1.000 mil laut atau 1.850 kilometer ke medan operasi, terbang dekat permukaan laut sejauh 185 kilometer lainnya dan kemudian bergerak di bawah air sejauh 22 kilometer.

Dan pesawat tersebut dapat melakukan semua itu selama delapan jam.

Pesawat itu juga akan mampu berkeliaran selama tiga hari di laut dengan ombak setinggi empat meter.

Bukan itu saja. Pesawat harus memiliki bahan bakar yang cukup untuk menjemput pasukan komando dan membawa mereka titik pertemuan 185 kilometer jauhnya.

Banyak kontradiksi

“Mengingat banyaknya persyaratan yang berbeda dan pertimbangan rancangan, jelas berbagai kesulitan menghadang dalam pengembangan pesawat yang mampu menyelam, kata DARPA, sebagaimana dilaporkan AFP.

Pesawat dirancang seringan mungkin dan dapat mengapung. Sebaliknya, kapal selam perlu bobot untuk tetap berada di bawah air, serta bekulit tebal agar mampu menahan tekanan di bawah air.

Usulan DARPA tersebut menyatakan berbagai upaya sebelumnya mengalami kegagalan karena perhatian mereka lebih terfokus pada kapal selam terbang.
“Amat sulit untuk menciptakan sistem propulsi yang mampu membuat pesawat dengan bobot seperti kapal selam mengudara, sebaliknya boleh jadi hal yang mungkin bagi anjungan seringan pesawat terbang untuk dapat menyelam ke dalam air asalkan kedalaman operasi dapat diminimalkan.”

Kategori: Computer · Physics · Transportation · War Machine