Arsip Kategori: Telecomunication

Cara Memakai Teknologi Cat Semprot Untuk Mengatasi Sinyal Wifi atau 3G Yang Lemah

Akhir minggu lalu Google mengumumkan program “Solve for X”, yaitu ajang bertukar ide untuk memecahkan suatu masalah dengan menggunakan ide radikal dan teknologi pendobrak.

Pada event pertama program ini, Chamtech, start up yang fokus mengembangkan teknologi militer, memperkenalkan cat semprot aerosol yang berfungsi sebagai antena. Teknologi ini dapat mengatasi masalah sinyal ponsel atau radio yang lemah.

“Antena semprot” ini dapat digunakan pada berbagai permukaan, mulai dari pohon, tembok, hingga kain.

Dikutip dari The Verge, Senin, 13 Februari 2012, CEO Chamtech, Anthony Sutera, menjelaskan ketika disemprotkan cat ini akan membentuk lapisan yang terdiri dari ribuan nano-kapasitor yang dapat bertindak sebagai antena wireless untuk berbagai perangkat.

Kepala Divisi Teknologi Chamtech, Rhett Spencer, menyatakan cat ini dapat diaplikasikan pada antena ponsel dan diklaim dapat meningkatkan level sinyal hingga sepuluh persen.

Selain itu, dalam sebuah video demo, Sutera menjelaskan bahwa pohon yang diubah menjadi antena dapat menyiarkan sinyal VHF lebih dari 14 mil, dua kali lipat dari jangkauan antena tradisional. Selain itu cat ini juga dapat mengirimkan sinyal radio sejauh lebih dari satu mil di bawah air.

Perusahaan ini menjelaskan salah satu pengguna cat semprot ini berasal dari pemerintah, tapi Chamtech tidak bersedia menjelaskan lebih detail siapa pembeli produk ini. Tahun ini Chamtech berencana memperluas pangsa pasar, tidak hanya kalangan pemerintah dan militer, tapi juga produsen ponsel dan alat medis.

Sutera yakin teknologi ini dapat digunakan oleh para peneliti cuaca dan oseanografi, teknisi ynag bekerja di bawah air, petugas penyelamat, operasi militer, penerbangan, dan oleh produsen mobil, telepon, TV, radio dan barang elektronik lainnya.

Penelitian Harvard Business Review Menunjukan Bahwa Bill Gates Lebih Baik Dari Steve Jobs Untuk Diteladani

- Bill Gates dan Steve Jobs. Dua nama ini paling populer di dunia teknologi.

Gates merupakan pendiri Microsoft, sebuah perusahaan software raksasa dan masuk daftar orang terkaya sejagad. Sementara Jobs adalah bos Apple Inc, yang fenomenal karena mampu menghasilkan produk yang nyaman dipakai.

Sejak meninggal dunia pada 6 Oktober lalu, Jobs mendapat banyak simpati dan pengakuan dari seluruh pencinta teknologi di seluruh dunia. Dia dianggap berjasa karena mampu menciptakan teknologi baru melalui produk Apple.

Namun, menurut penilaian Harvard Business School, bukan Jobs yang layak dijadikan panutan bagi mereka yang ingin menjadi pengusaha di bidang teknologi alias teknopreneur. Adalah Bill Gates yang lebih tepat untuk mendapat pengakuan sebagai teknopreneur yang baik dan layak ditiru.

Penilaian itu diambil dari tulisan Maxwell Wessel, seorang peneliti di Harvard Business School, yang sedang menulis untuk Forum for Growth and Innovation.

Wessel menilai, meskipun Steve Jobs adalah seorang visioner dan kemungkinan menjadi pemimpin generasi yang paling penting dalam dunia bisnis, Bill Gates merupakan orang yang lebih baik untuk dijadikan model pebisnis secara keseluruhan.

“Saya tidak yakin kita harus mengidolakan Steve Jobs,” kata Wessel seperti dikutip situs teknologi PC World, Senin, 7 November 2011.

Alasannya sederhana, Bill Gates memberikan warisan utama untuk membantu orang lain dan mengubah dunia melalui filantropi. Adapun Jobs membentuk warisan utamanya dengan sebuah bangunan perkantoran besar.

Untuk membuktikannya, Wessel sampai mengutip pernyataan Gates yang disampaikan kepada komunitas Harvard.

“Saya harap Anda merefleksikan perilaku dari bakat dan energi yang Anda miliki. Saya harap Anda tidak hanya memposisikan diri pada prestasi profesional Anda, tetapi juga menunjukkan seberapa besar Anda bisa bekerja untuk mengatasi ketidakadilan dan memperlakukan orang lain dari sudut pandang yang sama dan kemanusiaan,” kata Gates.

Wessel menambahkan, sebagaimana cintanya kepada Apple Inc, dia akan dengan senang hati menyerahkan iPhone kesayangannya untuk memberi makan anak-anak yang kelaparan.

Rahasia Itu Kini Hanya Sementara dan Bukan Rahasia Lagi Berkat Teknologi Informasi

Tampaknya keliru, atau sebuah kenaifan, bila menganggap dengan pecahnya kasus WikiLeaks maka yang guncang adalah sistem kerahasiaan negara. Dalam kasus WikiLeaks, yang terungkap adalah rahasia negara. Namun, di luar itu, yang bisa guncang adalah rahasia dalam level individu atau rahasia pribadi. Hal-hal menyangkut pribadi seseorang, yang disebut sebagai privasi pun, sebenarnya telah guncang di era kemajuan teknologi informasi (TI) dan kemudian TI-komunikasi (TIK).

Tak diragukan lagi, apa yang telah dilakukan oleh Julian Assange dan situs internet (website) revolusioner WikiLeaks telah memaksa pemerintah di dunia bertanya kembali tentang apa sebenarnya yang disebut sebagai ”rahasia”. (Time, 13/12)

Terkait dengan merebaknya kasus ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, kasus WikiLeaks menjadi pelajaran penting, yaitu agar dokumen rahasia dijaga ketat. (Kompas, 20/12)

Pertanyaannya adalah pada era kemajuan TIK sekarang ini, apakah yang disebut sebagai rahasia tadi benar-benar masih bisa dijaga?

Sebagaimana pesan baru yang pasti telah disampaikan kepada para diplomat untuk lebih saksama dalam berkomunikasi dan mengutarakan pendapat, satu hal yang juga dituntut adalah perubahan perilaku. Ini karena moda komunikasi yang ada sekarang ini memungkinkan komunikasi yang diandaikan bersifat pribadi pun bisa segera tersebar ke seluruh dunia dalam sekejap mata. Sekadar menyebut contoh, apa yang dialami Prita Mulyasari beberapa waktu lalu memperlihatkan hal itu, di mana berbagi keluhan melalui e-mail kepada teman bisa merebak ke khalayak luas.

Dalam lingkup pribadi, perkembangan jejaring sosial memperlihatkan fenomena lain. Dalam situs seperti Facebook, ada banyak hal atau informasi yang dalam konteks konvensional dianggap bersifat pribadi justru disiarluaskan.

Itu boleh jadi disebut sebagai pembocoran privasi secara sukarela.

Sudah diramalkan

Jauh hari sebelum merebaknya pembocoran informasi rahasia oleh WikiLeaks, para ahli informasi telah meramalkan bahwa di era kemajuan pesat TIK akan sulit bagi siapa pun untuk mengamankan informasi.

Dalam edisi khusus tentang masa depan privasi, majalah Scientific American (9/08) telah mengangkat pertanyaan, ”Dapatkan kita mengamankan informasi di dunia yang berteknologi tinggi dan tak aman ini?”

Dalam pengantar edisi itu Pemimpin Redaksi John Rennie menyebutkan, privasi sulit dipertahankan bagi warga masyarakat karena semakin banyak kota memasang kamera untuk memantau aktivitas warga masyarakat.

Dengan realita baru bahwa rahasia dan privasi sulit diamankan, sosok seperti David Brin menyarankan bahwa upaya yang lebih penting dilakukan adalah mencegah penyalahgunaan privasi atau informasi rahasia. Pemerintah dalam hal ini juga diminta sama-sama bersifat terbuka, sebagaimana warga masyarakat yang semakin terbuka, seperti dalam Facebook atau MySpace.

Sebagaimana telah disinggung dalam ”Laporan Iptek” tentang peran dan tanggung jawab baru Chief Informationa Officer (Kompas, 11/10) yang dihadapi pemerintah—dan sebenarnya juga masyarakat—dewasa ini adalah sosok revolusioner militan seperti Julian Assange, yang mengklaim tidak ingin melihat hal-hal yang korup.

Sosok Assange sendiri sebenarnya bisa disebut sebagai pengikut Rev Robert Browne, pimpinan Anglikan yang tahun 1582 pernah mengucapkan kalimat bahwa ”Kita semua harus saling mengawasi satu sama lain”. Ia mengucapkan hal itu karena—seperti dikutip Scientific American—menurut pandangannya, jiwa manusia pada dasarnya adalah lemah dan rawan terhadap godaan berbuat jahat sehingga harus ditopang oleh komunitas mata-mata dan informan.

Pandangan yang amat berpengaruh besar di kalangan kaum puritan Inggris Baru itu, dalam era kemajuan TIK, mendapat dukungan besar dari para pembuat alat-alat pemantau, pengintai, penyadap, yang teknologinya semakin canggih.

Dalam konteks lain tapi dalam semangat senada, majalah The Economist (19/12) mengangkat isu ”Kemajuan dan Kerugiannya” (Progress and Its Perils). Dalam hal pemanfaatan TIK, manusia telah mendapat berbagai manfaat. Kebutuhannya akan informasi mendapat dukungan penuh dari teknologi mutakhir yang dilengkapi mesin pencari dan alat sunting canggih.

Namun, seiring dengan itu, ia juga terikat— dan dengan itu terperangkap—dalam jaringan mahaluas yang bisa membelenggu dan menelikung. Dalam kemudahan itu, virus atau aksi hacker dan cracker dapat menyelinap masuk dalam rahasia kita yang amat dalam.

Meminjam ulasan The Economist tentang gagasan kemajuan, bisa juga dalam kaitan privasi ini kita merujuk pada karya Imre Madach, penulis drama Hongaria, yang berjudul Tragedi Manusia (1861). Dalam buku yang disebut sebagai padanan ”Surga yang Hilang” untuk zaman industri ini dilukiskan, antara lain, Adam setelah turun dari Taman Firdaus turun ke Bumi dan mencoba menegakkan kejayaan. Di Mesir, hal itu ia capai di piramid. Tapi segera ia sadari bahwa itu dibangun di atas kesengsaraan para budak.

Kalau ia tiba di dunia pada abad ke-21, ia juga akan melihat kejayaan di pemanfaatan TIK. Namun, gebyar itu akan dia lihat juga disertai dengan terpaparnya rahasia, dan boleh jadi juga aib, para pengguna fanatiknya. Bukankah itu juga ”Tragedi Manusia”?

9 Bahaya Nyata Akibat Terlalu Banyak Mengirim SMS dan BlackBerry

Dewasa ini remaja makin ketagihan SMS dan BlackBerry hingga betah berjam-jam menyendiri. Terlepas dari apapun materi Short Message Service (SMS), aktivitas tersebut menimbulkan banyak dampak buruk.

Sebuah studi oleh Case Western Reserve School of Medicine di Cleveland, Ohio, AS menemukan efek buruk bagi remaja yang telah mengirim lebih dari 120 SMS dan BlackBerry message sehari. Para remaja itu cenderung akan merokok, minuman keras dan melakukan hubungan seks bebas.

DAMPAK BURUK SMS dan BlackBerry Message
- Merokok
- Minuman Keras
- Seks bebas
- IQ menurun
- Kurang konsentrasi
- Stress
- Kurang tidur dan kurang belajar
- Rawan kecelakaan
- Cidera persendian lengan

Selain itu, remaja kebanyakan SMS dan BlackBerry Message juga akan menderita stress, kurang tidur dan terganggu konsentrasi belajarnya. Belum lagi persendian tulang di pergelangan tangan juga terancam cidera. Ini merupakan temuan terbaru terkait perkembangan maraknya para remaja keranjingan SMS dan BlackBerry Message di seluruh dunia.

Penelitian yang melibatkan 4.000 remaja di Amerika Serikat ini juga terungkap, terlalu banyak SMS dan BlackBerry Message menurunkan kemampun IQ. Hal ini diketahui setelah diadakan tes IQ kepada remaja yang berSMS dan BlackBerry Message ria dibanding dengan yang tidak ketagihan, diketahui remaja yang banyak SMS dan BlackBerry Message hasil tes IQ menurun.

Sedangkan dari sisi lalulintas kendaraan, SMS dan BlackBerry Message menjadi pemicu tinggi bagi bertambahnya angka kecelakaan. Penelitian ini juga bersesuaian dengan survey sebelumnya yang dilakukan oleh peneliti dari Monash University di Melbourne, Australia.

Seorang profesor ilmu syaraf, Baroness Susan Greenfield dari Universitas Oxford mengatakan, orang yang terlalu banyak SMS akan mengganggu konsentrasi dan perhatiannya.

Jika di usia remaja, otak sudah terkontaminasi dengan gangguan over SMS maka di usia dewasa dan tua akan makin parah efeknya. Demikian ditulis the sun (1/12)

Dr Richard Graham juga mengakui, saat ini remaja lebih mahir menggunakan teknologi hingga orang dewasa dan orangtuanya kesulitan mengikutinya. Remaja yang terlalu banyak SMSan dan menggunakan jaringan internet berlebihan justru membuat lambat dalam memberikan respon, lalai dalam membaca SMS penting, terutama yang tidak menyenangkan.

Dalam kaitan ini, di beberapa negara sudah mengurangi layanan SMS gratis demi menekan risiko yang akan ditimbulkan bila para remaja terlalu banyak SMSan.

Dr Graham menyarankan, agar membatasi penggunaan ponsel untuk SMS pada waktu tertentu dan di tempat tertentu agar dampak buruk bisa dihindarkan. Dan lebih utama, para remaja dianjurkan untuk melepas headset saat akan tidur.

Kecepatan Teknologi Broadband Indonesia Masih Sebatas Kata Kata

Koneksi broadband atau jaringan telekomunikasi pita lebar semakin menjadi kebutuhan, terutama ketika perangkat mobile broadband mulai membanjiri pasar. Namun, kehadiran gadget-gadget pintar itu terasa terlalu cepat sehingga tidak atau belum didukung jaringan yang memadai.

Sepertinya selalu ada kesenjangan penerapan teknologi komunikasi, selalu terlambat. Bahkan, kalau toh sudah ada, penerapannya tidak maksimal. Operator sudah sangat berbangga memiliki sekian ribu BTS, tetapi tidak pernah dijelaskan BTS dengan kualitas seperti apa.

Terminologi seperti broadband, akses unlimited sudah menjadi jargon sehari-hari yang dijual operator saat ini. Terkesan canggih, tetapi bisa berarti tidak bermakna apa-apa karena keluhan berkaitan dengan layanan itu masih banyak muncul di sana-sini.

Hadirnya ponsel-ponsel canggih (smartphone) menjadi tidak ada artinya ketika koneksi broadband tidak bisa diandalkan. Barang canggih itu hanya berfungsi seperti ponsel biasa, sekadar komunikasi suara dan SMS, selebihnya fitur yang tidak memerlukan jaringan.

Hal ini menjadi semakin terasa ketika mulai muncul iPhone, terlebih lagi ponsel canggih berbasis Android dalam setahun ini. Meski berfitur canggih, ya tetap saja terlihat ”dungu” dengan koneksi broadband yang tersendat-sendat.

Bisa jadi ini karena sampai sekarang operator masih melihat koneksi suara sebagai primadona sehingga koneksi data masih tetap nomor dua. Selain luasnya negeri ini juga merupakan kendala, apalagi daya beli masyarakat juga masih rendah.

Walaupun vendor jaringan Ericsson akhir tahun lalu menemukan bahwa lalu lintas data sudah melebihi suara di tingkat global. Trafik itu meningkat 280 persen tiap tahun selama dua tahun terakhir dan diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada lima tahun ke depan.

Akankah perubahan seperti ini juga akan terjadi di negeri ini?

Korelasi

Sebuah studi yang dibuat Ericsson belum lama ini memperlihatkan adanya korelasi yang positif antara pengembangan penetrasi broadband dan tambahan pertumbuhan GDP, termasuk terciptanya pekerjaan baru. Misalnya seperti setiap penambahan 1.000 pengguna broadband akan menciptakan sekitar 80 pekerjaan baru.

Mats Otterstedt, Presiden Direktur Ericsson Indonesia, beberapa waktu lalu mengungkapkan, ”Indonesia memiliki potensi pertumbuhan di bidang mobile broadband yang menakjubkan. Sebagai negara keempat dengan populasi terbesar, Indonesia merupakan pasar besar dengan permintaan akan layanan telekomunikasi yang besar pula.”

Raksasa jaringan dari Swedia itu melihat pertumbuhan mobile broadband di Indonesia seiring dengan pertumbuhan indikator sosial ekonomi negara. Mobile broadband telah berkembang menjadi syarat utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan koneksi internet.

Pada kesempatan yang berbeda, pihak GSMA (Asosiasi GSM) pada Selasa (16/11) mengungkapkan hasil riset independen yang menekankan pada dampak positif alokasi spektrum frekuensi untuk komunikasi bergerak di Asia Pasifik. Laporan yang dibuat GSMA dan Boston Consulting Group itu tentang alokasi pada pita frekuensi 700 MHz untuk komunikasi broadband.

Apabila pihak pemerintah di kawasan Asia Pasifik mengalokasikan frekuensi itu untuk komunikasi bergerak, maka akan memberikan keuntungan ekonomis dan sosial yang lebih besar dibandingkan dengan jika hanya digunakan untuk layanan seperti siaran. Sepertinya harmonisasi pita frekuensi 700 MHz ini memberi isyarat bagi masuknya teknologi Long Term Evolution (LTE), sebuah teknologi komunikasi yang saat ini bisa disebut para-generasi keempat (4G).

Riset itu memperlihatkan, alokasi pita 700 MHz untuk LTE akan meningkatkan jumlah pelanggan internet di Indonesia sampai 22 persen, Korea hingga 14 persen, India 21 persen, dan Malaysia 23 persen. Di negeri ini akan bertambah 9,7 juta pelanggan internet hingga tahun 2020.

Barangkali hal ini juga akan memberi jalan pada teknologi LTE di Indonesia untuk membuka kemacetan broadband. Akan tetapi, lalu muncul pertanyaan lain, bagaimana dengan WiMAX, teknologi pra-4G yang bahkan sudah mulai menjalankan aktivitas pembangunan infrastrukturnya?

Virus Computer Stuxnet Dibuat Khusus Untuk Cyberwar dan Serang Instalasi Nuklir Iran Supaya Meledak Sendiri

‘Senjata Super’ cyber pertama di dunia telah dirancang untuk menyerang sebuah stasiun tenaga nuklir di Iran, para ahli percaya.

Sebuah virus komputer yang disebut Stuxnet digambarkan sebagai ‘worm’ yang paling canggih yang pernah dibuat dan telah menginfeksi lebih dari 45.000 jaringan di seluruh dunia.

‘Worm’ adalah jenis virus komputer yang dapat mereproduksi dengan mengirimkan salinan dirinya ke setiap PC yang terhubung ke mesin yang terinfeksi.

Sekarang pakar keamanan Internet takut bahwa Stuxnet, yang pertama kali terdeteksi pada Juni, adalah ‘worm’ pertama yang secara khusus dibuat untuk menyerang infrastruktur dunia nyata seperti pembangkit listrik dan pembangkit tenaga air.

Dan mereka mengatakan bahwa virus tersebut sangat canggih hanya sebuah negara dengan pemrograman komputer tingkat tinggi tahu bagaimana menciptakannya.

Banyak yang percaya bahwa virus itu dirancang untuk menyerang fasilitas industri di Iran termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr yang semula akan dibuka bulan lalu.

Setelah virus meretas PC, Stuxnet mencari perangkat lunak Siemens yang menjalankan sistem kontrol fasilitas di industri seperti pabrik dan pembangkit listrik.

Kemudian meluncurkan serangan dengan memprogram ulang perangkat lunak untuk menyebarkan instruksi berbahaya pada mesin industri.

Sehingga dapat mengendalikan perintah dan memicu rangkaian yang dapat menyebabkan seluruh sistem hancur dengan sendirinya, kata para ahli.

David Emm, seorang peneliti senior keamanan di Kaspersky mengatakan, apa yang membuat Stuxnet berbeda dari virus lainnya adalah virus itu dapat menyerang dengan sendirinya.

Perusahaannya telah bekerja sama dengan Microsoft untuk menemukan lubang dalam kode mereka yang dapat dimanfaatkan oleh worm.

Mr Emm mengatakan: Apa yang membuatnya beda adalah bahwa virus itu tidak pandang bulu. Kebanyakan virus yang dibuat dapat meledak seperti sebuah blunderbuss. Namun Stuxnet hanya menargetkan sistem tertentu.

“Virus itu menemukan celah dalam kode dan beroperasi seperti membuka jendela di rumah, dengan linggis kecil untuk membuat celah yang lebih besar,” katanya.

Dia mengatakan Stuxnet tampaknya dirancang murni untuk sabotase.

Ralph Langner, seorang peneliti keamanan cyber Jerman, telah memecahkan kode Stuxnet dan membuat temuan publik. Dia mengatakan, virus itu dirancang untuk mencari dan menghancurkan potongan kunci infrastruktur.

Dia berkata: “Stuxnet adalah 100 persen diarahkan untuk serangan cyber yang bertujuan menghancurkan proses industri di dunia fisik. Ini bukan tentang spionase, karena beberapa mengatakan ini adalah serangan sabotase 100 persen. “

Iran yang paling terpukul oleh Stuxnet hampir 60 persen dari semua PC yang terinfeksi ditemukan di sana.

Mr Langer berpendapat bahwa pabrik nuklir Bushehr menjadi sasaran penyerangan.

Bushehr saat ini memuat bahan bakar nuklir tetapi tidak diaktifkan pada Agustus seperti yang telah direncanakan.

Mr Langer mengatakan bahwa kecanggihan virus hanya sebuah nation state yang bisa mengembangkannya.

Dia menulis: “Dengan forensik kita telah membuat Stuxnet sebagai bukti dan serangan sabotase yang melibatkan pengetahuan insider berat.

“Ini tidak seperti beberapa peretas yang duduk di basement rumah orang tuanya. Bagi saya, virus itu seperti sumber daya yang dibutuhkan untuk tahapan serangan ke sebuah negara.”

Mr Langer juga berpendapat bahwa virus Stuxnet sudah mengincar targetnya – kita hanya belum mendengarnya, demikian Daily Mail.

Sekitar 30.000 penyedia layanan internet atau internet provider di Iran terserang virus canggih bernama Stuxnet. Virus ini diduga sengaja diciptakan oleh sebuah organisasi yang disponsori Israel dan AS. Sasarannya adalah sektor industri, terutama lagi fasilitas nuklir Iran.

Koran Iran Daily di halaman 2, edisi Minggu (26/9), menuliskan, Sekretaris Dewan Teknologi Informasi Kementerian Industri Iran Mahmoud Liayi mengatakan, virus diciptakan sejalan dengan agenda perang elektronik Barat terhadap Iran. Virus itu berperan mentransfer informasi soal industri negara Iran.

Kebanyakan sistem otomatisasi komputer di Iran dan negara lain diproduksi di bawah merek Siemens SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition). ”Sistem ini menjadi sasaran utama. Jka semua internet provider (IP) yang terinfeksi dibersihkan, ancaman tetap ada, virus belum hilang,” ungkap Liayi.

Stuxnet adalah virus canggih. ”Jika IP diaktifkan, Stuxnet mulai mentransfer data tentang jalur-jalur produksi industri dan otomatisasi ke tempat yang ditentukan. Di sana, data diproses oleh para arsitek virus untuk dibiakkan dan dikirim balik untuk menyerang,” lanjut Liayi.

Sistem dan unit industri Iran kini sedang berjuang untuk melengkapi sebuah sistem antivirus khusus untuk menghadang Stuxnet. Semua perusahaan Iran disarankan tidak menggunakan peranti lunak (software) antivirus yang disediakan Siemens SCADA karena bisa membawa virus versi baru. Perusahaan bisa juga menggunakan mekanisme khusus membarui komputernya.

Liayi berpendapat, maksud di balik produksi dan penggandaan Stuxnet sangat mirip dengan sebuah proyek pemerintah. Ia dengan tegas mengatakan, ”Stuxnet bukanlah virus biasa atau spam.” Sebuah kelompok kerja khusus terdiri dari wakil-wakil departemen dan badan-badan eksekutif terkait telah dibentuk untuk memerangi virus Stuxnet.

Terancam

Menteri Telekomunikasi dan Teknologi Informasi Reza Taqipour mengatakan, Stuxnet belum sampai merusak sistem industri dan sistem pemerintah. Namun, lembaga yang tidak memiliki pengaman memang terancam.

Dirut Perusahaan Teknologi Informasi Saeid Mahiyoon mengatakan, proses penghapusan virus sudah berjalan.

Virus itu mungkin merupakan bagian AS atau Israel untuk menyerang Iran. Stuxnet dilihat sebagai bagian malware komputer paling berbahaya yang pernah ditemukan. Virus canggih ini mengenali jaringan pengendali fasilitas khusus, lalu merusaknya.

Mereka juga mengatakan, virus ini memiliki desain yang sangat canggih itu. Virus ini mungkin juga diciptakan oleh sebuah organisasi khusus yang didukung AS atau Israel. Tujuannya adalah menyerang perangkat lunak pengendali khusus yang digunakan di sektor industri, termasuk reaksi nuklir Iran yang berada di kota pelabuhan Bushehr di sekitar Teluk Persia.

”Berdasarkan ciri-ciri yang ada, saya menegaskan bahwa ini (virus Stuxnet) diciptakan oleh sebuah negara,” ungkap Frank Rieger, pakar teknologi yang berkecimpung dalam perakitan telepon seluler, seperti disiarkan Bloomberg Television.

”Fasilitas-fasilitas nuklir Iran mungkin menjadi target,” kata Rieger, yang juga dibenarkan Richard Falkenrath dari Chertoff Group, penasihat perusahaan keamanan di Washington.

Falkenrath mengungkapkan, ”Secara teoretis, kecil kemungkinan (virus) dibuat oleh Pemerintah AS. Mungkin saja Israel.”

Cara Kelelawar Bergaul Diteliti Karena Mirip Dengan Manusia

Kelelawar mengenali suara individu-individu lainnya yang dikenal. Ini mirip manusia mengenali suara orang-orang yang dikenal di sekitarnya. Demikian hasil penelitian yang dipimpin Silke Voigt-Heucke dari The Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research, Berlin, pekan lalu.

Penelitian dilakukan di Panama yang menunjukkan bahwa kelelawar dapat mengidentifikasi anggota spesies mereka sendiri. Para peneliti menguji kelelawar spesies Noctilio albiventris untuk menanggapi panggilan echolocation dari individu lainnya yang akrab dan yang tidak akrab.

Kelelawar akan menanggapi panggilan individu yang dikenal akrab dengan perilaku kompleks. Misalnya, dengan merentangkan sayap atau mengekspos bau dari kelenjar yang terdapat di ketiak mereka. Kelelawar ini akan bereaksi lebih sering jika panggilan datang dari kelelawar yang tidak dikenal sebelumnya.

Penelitian ini hasil kerja sama dengan Institut Max Planck untuk Ornitologi pada Universitas Wina dan Universitas Bern. Para peneliti menyimpulkan, dengan gelombang suara ultrasonik yang tidak bisa terdengar telinga manusia, ternyata kelelawar yang saling mengenal saling berkomunikasi.

Membaca Tulisan Arab Ternyata 100 Persen Menggunakan Otak Kiri Logika – Jadi Benar Al Quran Untuk Orang Yang Berpikir

Salah satu fungsi otak kanan manusia adalah untuk menangkap obyek visual, termasuk huruf. Namun, khusus untuk tulisan Arab, otak kanan tak digunakan untuk mengenali dan membaca huruf akibat kompleksnya huruf Arab.

Karena itu, untuk membaca tulisan Arab dibutuhkan kemampuan lebih tinggi dibandingkan membaca tulisan dalam bahasa Inggris. Temuan itu didasarkan atas studi berkelanjutan Departemen Psikologi bersama Pusat Penelitian Otak untuk Studi Ketidakmampuan Belajar Edmond J Safra di Universitas Haifa, Israel, selama lebih dari 10 tahun terakhir.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Neuropsychology itu menunjukkan, kemampuan membaca tulisan Arab lebih berat dibandingkan tulisan bahasa lain. Untuk membandingkan kompleksitas tulisan Arab, Prof Zohar Eviatar dan Raphiq Ibrahim membandingkan kecepatan dan akurasi membaca sejumlah anak dan orang dewasa yang bahasa ibunya bahasa Arab, bahasa Ibrani (sebagai bahasa yang mirip dengan Arab), dan bahasa Inggris. Mereka juga menguji kecepatan dan akurasi anak-anak dengan bahasa ibu bahasa Arab untuk mengeja huruf dalam tulisan Arab, Ibrani, dan Inggris.

Hasilnya, otak kanan yang biasa digunakan dalam proses membaca dalam bahasa Inggris dan Ibrani ternyata tak digunakan dalam mengenali huruf tulisan Arab

Facebook dan Twitter Membuat Pengusaha Merugi Milyaran Karena Pegawai Jadi Malas Kerja

Para pegawai yang membuang-buang waktu dengan menggunakan Facebook, Twitter dan laman lain jejaring sosial membuat para pengusaha Inggris rugi miliaran poundsterling, demikian hasil penelitian baru.

Jejaring tenaga kerja Inggris, MyJobGroup.co.uk menyatakan lembaga itu melakukan jajak pendapat terhadap 1.000 pekerja Inggris dan mendapati bahwa hampir enam persen atau 2 juta dari 34 juta tenaga kerja di negeri tersebut menghabiskan waktu lebih dari satu jam per hari di jejaring sosial sewaktu mereka di tempat kerja.

Jumlah itu naik jadi lebih dari satu per delapan dari seluruh hari kerja mereka.

“Hasil kami secara jelas memperlihatkan bahwa tenaga kerja di Inggris menghabiskan makin banyak waktu sewaktu di tempat kerja untuk mengunjungi jejaring media sosial, yang tanpa diketahui, dapat memiliki dampak negatif pada produktivitas banyak perusahaan di seluruh negeri ini,” kata Direktur Pelaksana Myjobgroup.co.uk Lee Fayer dalam satu pernyataan mengenai hasil survei tersebut sebagaimana dikutip Reuters Life!

MyJobGroup.co.uk menyatakan hilangnya jam kerja di Facebook, Twitter dan jejaring lain media sosial dapat berpotensi membuat Inggris menderita kerugian sampai 14 miliar pound (22,16 miliar dolar AS).

Penelitian itu memperlihatkan lebih separuh dari seluruh tenaga kerja di Inggris –55 persen– mengaku mereka mengakses profil media sosial di tempat kerja, dan banyak menghabiskan waktu sangat banyak untuk ngobrol dengan teman, mengirim pesan, menambah foto dan video, serta memperbarui profil mereka. Akibat ulah mereka, produktivitas perusahaan mengalami pukulan.

Kendati memiliki dampak negatif pada bidang ekonomi di tengah pemulihan yang masih rapuh, banyak pekerja yang ditanyai membantah adanya dampak negatif media sosial pada efisiensi mereka.

Hanya 14 persen responden mengakui jadi kurang produktif akibat media sosial dan 10 persen bahkan mengaku media sosial “membuat mereka lebih produktif”.

Terlebih lagi, masih ada penentangan luas terhadap pelarangan akses ke jejaring sosial di tempat kerja. lebih dari dua-pertiga (68 persen) menyarankan suatu bentuk akses selama jam kerja. Hanya sepertiga mengingini laman seperti Facebook, Twitter, Flickr dan YouTube dilarang selama jam kerja. Itu memperlihatkan bertambahnya kepentingan media sosial bagi kehidupan rutin setiap hari dan penentangan luas jika aksesnya dibatasi.

“Meskipun kami tentu saja tak ingin membunuh kegembiraan, orang yang menghabiskan waktu lebih dari satu jam kerja per hari di Facebook dan Twitter sangat menghambat upaya perusahaan untuk mendorong produktivitas, yang lebih penting daripada sebelumnya mengingat rentannya kondisi ekonomi kita,” kata Fayer.

“Semua perusahaan harus berusaha sebaik mungkin untuk memantau penggunaan laman jejaring sosial selama jam kerja dan memastikan bahwa pegawai mereka tak menyalah-gunakan kebebasan akses ke semua laman itu,” katanya.

Kejahatan Melalui BlackBerry Meningkat

Jaminan keamanan dan privasi yang tinggi bagi penggunanya membuat penggunaan BlackBerry rawan disalahgunakan untuk kepentingan kejahatan. Pemerintah perlu mewaspadai potensi kejahatan tersebut dengan segera membuat regulasi yang mengatur secara tegas tindak pidana di bidang teknologi informasi.

Wakil Ketua Tim Insiden Keamanan Internet dan Infrastruktur Indonesia (Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure/ ID-SIRTII) M Salahuddien Manggalany di Jakarta, Rabu (4/8), mengatakan, potensi tindak kejahatan dalam penggunaan Blackberry cukup tinggi, mengingat jaringannya tidak bisa disadap.

Segala jenis data yang dikirim menggunakan layanan BlackBerry terenskripsi atau dikunci oleh penyedia layanannya, yaitu Research in Motion Ltd (RIM). Kunci data ini hanya bisa dibuka oleh RIM yang berpusat di Kanada.

Jika Pemerintah Indonesia ingin mengakses atau menyadap data yang dikirim lewat BlackBerry, Pemerintah RI harus meminta terlebih dahulu kepada Pemerintah Kanada. Pemerintah Kanada-lah yang selanjutnya akan meneruskan permintaan tersebut kepada RIM. Data pun akan diserahkan RIM lewat Pemerintah Kanada kepada Indonesia.

Prosedur akses data yang panjang, belum adanya jaminan kepastian pemberian akses data, serta posisi pusat data atau server yang ada di luar negeri membuat Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait, dan India berencana melarang peredaran BlackBerry. Namun, sejumlah negara mengajukan kompensasi jika RIM tetap ingin memasarkan BlackBerry di negaranya, seperti India yang meminta agar RIM membagi sejumlah kunci data. Sejumlah negara juga meminta RIM membuat pusat data di negara mereka.

Kondisi serupa telah dilakukan Amerika Serikat. Menurut Salahuddien, di AS telah ada undang-undang yang bisa memaksa RIM untuk membuka akses datanya jika ingin produk mereka dipasarkan di AS.

Salahuddien mengatakan, banyak pengguna handphone biasa yang beralih ke Blackberry setelah banyaknya kasus korupsi dibongkar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui penyadapan. BlackBerry sulit disadap.

”Privasi yang tinggi membuat banyak pihak menikmati layanan BlackBerry. Namun, persoalan privasi itu bisa disalahgunakan untuk melakukan kejahatan,” katanya.

Indonesia bisa

Secara terpisah, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Iwan Krisnadi, mengatakan, jika pelarangan BlackBerry di sejumlah negara karena alasan keamanan nasional, hal tersebut semestinya bisa dilakukan di Indonesia. BRTI bersama sejumlah lembaga lain perlu membahas persoalan tersebut lebih lanjut.

”Seharusnya Indonesia memiliki sistem yang bisa mengatur agar sejumlah perusahaan layanan data memiliki server di Indonesia, seperti yang sudah dilakukan Google dan Yahoo,” katanya.

Untuk mengantisipasi tindak kejahatan menggunakan teknologi informasi, menurut dia, pemerintah dan DPR perlu segera membahas Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana di Bidang Teknologi Informasi. RUU itu sudah masuk dalam Program Legislasi Nasional tahun ini, tetapi pembahasannya belum dilakukan hingga kini. UU itu penting, mengingat pesatnya perkembangan dunia cyber yang telah menghilangkan batas-batas negara.

Meski ada potensi penggunaan BlackBerry untuk tujuan tidak baik, Iwan menilai, manfaat kehadiran BlackBerry juga harus diperhatikan jika akan ada wacana pelarangan telepon seluler itu di Indonesia. Masyarakat banyak memanfaatkan BlackBerry karena membuat komunikasi lebih murah dan terjaganya privasi.

Di Indonesia, tercatat 1,3 juta-1,4 juta pengguna Blackberry. Operator Excelcomindo (PT XL Axiata, Tbk) tercatat mempunyai pengguna Blackberry terbanyak dengan jumlah 450.000 pelanggan.

Nadira Febriati, Corporate Communication Manager PT XL Axiata, Tbk, menegaskan, pada prinsipnya operator akan tunduk kepada peraturan yang ditetapkan oleh regulator, termasuk apabila ada perubahan regulasi.