Informasi Tentang Dunia Teknologi Terkini

Entries categorized as ‘Space’

Sebuah Asteroid Nyaris Menabrak Bumi

Maret 7, 2009 · & Komentar

Sebuah asteroid melintas sangat dekat dan bisa saja menabrak Bumi jika terjadi sedikit perubahan jalur orbit. Betapa tidak, jarak terdekat dengan Bumi saat melintas hanya tinggal 66.000 kilometer. Bandingkan jarak Bumi-Bulan yang rata-rata 384.000 kilometer.

Lebih mengejutkan lagi kedatangan asteroid ini tidak diduga-duga sebelumnya. Astroid yang diberi nama 2009 DD45 ini baru terdeteksi beberapa hari lalu.

Pengamat yang beruntung di wilayah Asia, Australia, dan Kepulauan Pasifik dapat melihatnya saat melintas di natar Bumi dan Bulan pada Senin (2/3) pukul 20.44. Batuan angkasa itu bergerak dengan kecepatan hanya 20 kilometer per jam.

“Kita melihat objek-objek yang melintas sedekat ini atau bahkan lebih dekat hanya tiap beberapa bulan sekali,” ujar Timothy Spahr, direktur Pusat Planet Minor Himpunan Astronomi Internasional (IAU) di Massachusetts, AS.

Asteroid 2009 DD45 baru dilaporkan kedatangannya pada 28 Februari. Observatorium Siding Spring Australia hanya merekamnya sebagai sebuah titik kecil. Saat itu, asteroid berada pada jarak 2,4 juta kilometer dan melesat dengan kecepatan sangat tinggi.

Dibanding objek ruang angkasa lainnya, asteroid termasuk kecil dengan diameter antara 20-50 meter. Asteroid merupakan objek batuan padat yang banyak mengorbit di kawasan yang disebut sabut asteroid antara Planet Mars dan Jupiter.

“Objek sekecil itu sulit dilihat dengan mata telanjang meski berada pada jarak sangat dekat dengan Bumi,” ujar Spahr. Namun, penganat amatir maupun profesional dapat mengatinya dengan teleskop ke arah lintasan yang tepat.

Berkat bantuan para astronom amatir di berbagai belahan dunia, bentuk lintasan orbitnya dapat diperkirakan. Asteroid tersebut mengorbit di bagian dalam tata surya dan diperkirakan menghabiskan waktu 1,56 tahun untuk sekali mengelilingi Matahari.

Hal ini menunjukkan bahwa peluang asteroid tersebut dapat melintas kembali dekat Bumi cukup besar karena waktu orbit yang tidak terlampau jauh berbeda. Meski demikian, para astronom belum sampai pada kesimpulan bahwa objek tersebut mengancam Bumi.

“Sejauh ini tidak ada kejadian yang luar biasa,” ujar Spahr.

Kategori: Astronomy · Space

NASA Siapkan Misi Pencarian Planet Bumi Di Jagad Raya Lain

Maret 7, 2009 · 1 Komentar

NASA kini sedang mempersiapkan peluncuran pesawat antariksa Kepler, dengan teleskop antariksa baru yang untuk pertama kalinya akan mampu mendeteksi berbagai planet seperti Bumi di luar tata surya, manajer proyek itu menyatakan.

Kepler dijadwalkan akan diluncurkan dengan roket Delta II dari Pangkalan AU Tanjung Canaveral, di Frolida, pada 5 Meret pukul 10:48 waktu setempat atau 6 Maret pukul 10:48 WIB.

Misi tersebut merupakan misi pertama Badan Antariksa dan Aeronautika (NASA) AS dalam pencarian planet-planet yang mengorbit berbagai matahari sama seperti Matahari kita, pada jarak dan temperatur yang tepat sehingga memungkinkan adanya air yang mendukung kehidupan.

“Kepler akan merintis jalan menuju tapal batas tak dikenal pada galaksi kita, Bima Sakti. Dan berbagai penemuannya boleh jadi akan mengubah secara mendasar pandangan manusia atas galaksi tersebut,” kata Jon Morse, direktur astrofisika pada badan antariksa itu di kantor pusatnya Washington, dalam jumpa persnya, seperti dilaporkan AFP.

“Sensus keplanetan Kepler akan menjadi penting sekali bagi pemahaman banyaknya planet seperti Bumi pada galaksi kita dan perencanaan misi-misi yang akan mendeteksi secara langsung dan mengenali ciri-ciri dunia-dunia seperti ini di sekitar bintang-bintang di dekatnya,” imbuhnya.

Dilengkapi dengan kamera terbesar yang pernah diluncurkan ke antariksa, yang dikenal sebagai charged couple devices (CCD) 95 megapiksel, teleskop Kepler mampu mendeteksi bintang-bintang yang berkedip secara berkala akibat tertutup planet-planet saat benda langit itu melintas di dekat bintang-bintang tersebut.

Dengan biaya hampir 600 juta dolar, misi Kepler akan berlangsung selama tiga tahun dan meneliti lebih dari 100.000 bintang seperti Matahari di kawasan konstelasi Angsa dan Lira di galaksi Bima Sakti.

Tak terlalu panas dan juga dingin

Menurut William Borucki, penyelidik utama Kepler yang berkedudukan di Pusat Riset Ames, NASA, di California, proyek itu akan menemukan tempat-tempat dimana kondisi sempurna untuk mendukung kehidupan.

“Apa yang menarik perhatian dalam penemuan kami adalah planet-planet itu tak terlalu panas dan tak terlalu dingin. Suhunya cukup memadai,” katanya.

“Kami akan mencari planet-planet dengan suhu yang betul-betul memadai bagi adanya air cair di permukaan planet.”

Teleskop itu, yang siap memelototi sebuah tempat di langit dalam seluruh misinya, mampu melihat bintang-bintang yang kedipannya dipengaruhi planet-planet.

“Planet-planet seperti Bumi di kawasan yang dapat dihuni secara teoritis akan memerlukan waktu setahun untuk mengorbit,” jadi rentang kehidupan tiga tahun Kepler akan memungkinkan proyek itu untuk memastikan kehadiran sebuah planet dengan mengamati dampaknya yang tak kentara atas bintang-bintang yang diedarinya, kata NASA dalam sebuah pernyataannya.

“Jika kami menemukan banyak planet, ini tentu saja mengandung arti bahwa kehidupan boleh jadi suatu yang lazim di seluruh galaksi kita, dan ada peluang bagi kehidupan untuk memiliki tempat berkembang,” kata Borucki.

“Jika planet tak ditemukan atau hanya sedikit ditemukan, itu boleh jadi menegaskan bahwa planet-planet yang dapat didiami seperti Bumi sangat jarang dan Bumi kemungkinan satu-satunya pos terdepan bagi kehidupan,” katanya

Kategori: Astronomy · Space

Para Astronom Prancis Temukan “Planet Sauna”

Februari 8, 2009 · 1 Komentar

Sebuah observatorium Prancis yang mengorbit telah menemukan dunia jauh di luar Tata Surya, yakni planet yang sama dalam ukuran dengan Bumi namun sangat panas, sehingga pantas dijuluki sebagai “planet sauna”, para astronom melaporkan Selasa.

Planet itu besarnya hampir dua kali Bumi dan boleh jadi merupakan planet penuh dengan bebatuan, kata mereka dalam sebuah simposium di Paris.

Bahkan, penggemar fiksi ilmiah paling bergairah pun akan mengakui kalau planet itu tak dapat didiami.

CoRot-Exo-7B terletak begitu dekat dengan bintang induknya, sehingga permukaannya hangus terbakar, dengan suhu antara 1.000 hingga 1.500 derajat Celsius.

Benda langit yang disebut eksoplanet itu pertama kali dideteksi pada 1995 dan jumlah mereka yang telah diamati kini mencapai 337.

Hampir semua planet di luar Tata Surya itu merupakan gumpalan gas raksasa, serupa dengan Jupiter, ketimbang dengan planet yang terdiri atas bebatuan saja.

Benda langit baru itu dipergoki oleh sebuah tim dengan menggunakan pemburu eksoplanet Prancis, satelit CoRot, yang diluncurkan pada Desember 2006.

Mereka mendeteksi planet itu berkat kedipan cahaya yang kecil yang berlangsung setiap planet itu lewat di depan sebuah bintang jingga sekitar 400 tahun cahaya jauhnya.

Setahun hanya 20 jam

CoRot-Exo-7B menempuh lintasan yang sangat cepat. Ini  berarti “tahunnya”, yakni waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan satu kali orbit, lamanya hanya 20 jam saja.

Metode observasi tersebut menghasilkan perkiraan diameter planet itu, namun bukan massanya, yang harus dikalkulasi dengan menggunakan berbagai teleskop berpangkalan di darat.

“Planet itu kemungkinan benda penuh bebatuan dan ditutupi oleh lava cair,” kata para penemunya kepada AFP.

Menurut Daniel Rouan, pemimpin para penemu dari Observatorium Paris, planet itu boleh jadi masuk kategori planet setengah batu dan setengah air.

Dalam kasus ini, planet tersebut berupa “planet sauna”, mengingat betapa panasnya suhu di planet itu.

Sebuah planet dapat dihuni mahluk hidup kalau orbitnya cukup dekat dengan bintangnya, sehingga memungkinkan munculnya cairan dan memiliki atmosfir.

Orbit yang terlalu dekat merupakan aset berharga untuk melindungi diri dari ledakan radiasi surya dan terlalu jauh dapat membuat planet itu menjadi bola es abadi atau permanen

Kategori: Astronomy · Space

Satelit India Memburu Es di Kawah Bulan

Januari 25, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dengan menggunakan radar khusus yang dibawanya, satelit Chandrayaan-1 milik India yang terbang di orbit Bulan mengamati bagian dasar kawah bulan yang gelap gulita. Para ilmuwan berharap dapat melihat bagian dalam kawah Bulan yang dingin dan gelap sehingga diduga terdapat es di dalamnya.

Instrumen yang disebut Mini-SAR, sebuah radar ringan dengan lubang bidik kamera sintetis, telah berhasil bekerja dengan baik dalam uji coba pertama dan mengirimkan data pertama berupa gambar. Gambar tersebut menunjukan dasar kawah kutub di bagian Bulan yang tidak terlihat dari Bumi. Alat tersebut digunakan untuk memetakan dan mencari air pada bagian kawah tersebut.

“Satu-satunya cara untuk menjelajahi area tersebut adalah dengan menggunakan radar foto orbit, seperti Mini-SAR. Ini langkah pertama yang menarik untuk tim yang telah bekerja selama lebih dari tiga tahun,” kata Wakil Kepala Penyidik Mini-SAR Benjamin Bussey dari Laboratorium Fisika Terapan Universitas Johns Hopkins.

Gambar-gambar tersebut, yang diambil 17 November 2008, menampilkan sebagian kawah Haworth, yang terletak di kutub selatan Bulan, dan bagian barat kawah Seares. Bagian cerah dalam setiap gambar mencerminkan kekasaran permukaan atau lereng yang mengarah ke satelit. Pengumpulan data lebih lanjut oleh Mini-SAR dan analisa akan membantu para ilmuwan dalam menentukan apakah simpanan es tersebut secara permanen berada di dalam kawah yang terletak di dekat kutub bulan itu.

“Selama beberapa bulan ke depan kami berharap memiliki alat dengan kalibrasi penuh yang dapat mengumpulkan data ilmiah berharga di Bulan,” kata program eksekutif Mini-RF Jason Crusan.

Mini-SAR adalah salah satu dari 11 instrumen yang dibawa Chandrayaan-1 dan satu dari dua instrumen sumbangan NASA. Alat satunya lagi adalah Moon Mineralogy Mapper, spectometer yang akan menghasilkan peta Bulan secara keseluruhan dengan resolusi tinggi.

Chandrayaan-1 diluncurkan dari India’s Satish Dhawan Space Center pada tanggal 21 Oktober, dan mulai mengorbit di Bulan pada tanggal 8 November 2008. Misi utama satelit ini adalah memetakan permukaan Bulan.

Kategori: Astronomy · Space

Teleskop Antariksa Hubble Temukan CO2 di Planet Luar Tata Surya

Desember 12, 2008 · & Komentar

Teleskop Antariksa Hubble telah menemukan karbon dioksida (CO2) di atmosfir sebuah planet yang mengorbit bintang lain, badan antariksa AS, NASA, menyatakan Selasa.

Terobosan itu adalah langkah penting ke arah ditemukannya jejak biokimia mengenai kehidupan di luar bumi.

Planet sebesar Jupiter, yang disebut HD 189733b itu, berada sejauh 63 tahun-cahaya dari Bumi.

Planet tersebut terlalu panas untuk kehidupan, tetapi pengamatan Hubble memberikan petunjuk bukti konsep bahwa bahan kimia dasar bagi kehidupan dapat diukur di planet yang mengorbit bintang lain.

Susunan organik juga dapat menjadi produk tambahan proses kehidupan dan jejak mereka di planet Bumi pada suatu hari bisa menyediakan bukti pertama mengenai kehidupan di luar planet kita.

Pengamatan sebelumnya mengenai HD 189733b oleh Teleskop Antariksa Hubble dan Spitzer mendapatkan uap air. Awal tahun ini, Teleskop Hubble menemukan gas methane di atmosfir planet tersebut.

“Semua studi atmosfir ini akan mulai menetapkan susunan dan proses kimia yang beroperasi di dunia jauh yang mengorbit bintang lain. Masa depan perbatasan ilmu pengetahuan yang terkuak ini sangat menjanjikan karena kami berharap akan menemukan banyak lagi molekul di atmosfir planet di luar tatasurya,” kata ilmuwan program Teleskop Hubble NASA, Eric Smith, seperti dikutip Xinhuanet

Kategori: Astronomy · Space

Karbon Dioksida Ada di Planet Lain Sebesar Jupiter Dengan Kode HD 189733b

November 25, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Karbon dioksida yang merupakan salah satu gas penting dalam siklus kehidupan terdeteksi keberadaannya di planet asing. Gas tersebut ditemukan di planet bernama HD 189733b yang berada 65 tahun cahaya dari Bumi (1 tahun cahaya setara dengan 9,5 triliun kilometer).

“Ini merupakan penemuan pertama karbon dioksida di atmosfer sebuah planet ekstrasolar,” ujar Alan Boss, seorang pakar formasi planet dari Carnegie Institute, Washington, AS yang melaporkannya dalam Astrophysical Journal terbaru. Di planet tersebut sebelumnya para astronom telah mendeteksi keberadaan uap air dan gas metan.

Artinya, ujar Boss, tinggal satu komponen lagi yaitu oksigen untuk memastikan ada kehidupan di sana. Selama ini, para ilmuwan yakin bahwa suatu lokasi dapat mendukung kehidupan jika minimal menyediakan empat komponen tersebut.

Meski demikian, kemungkinan planet asing tersebut dihuni makhluk hidup kelihatannya kecil. Sebab, HD 189733b merupakan jenis planet gas raksasa yang mengorbit dekat sekali dengan bintangnya sehingga suhunya terlalu panas.

Para ilmuwan belum tahu dari mana karbon dioksida di planet tersebut berasal. Namun, mereka memprediksi radiasi yang tinggi menyebabkan senyawa kimia bereaksi menghasilkan gas karbon dioksida. Keberadaan karbon dioksida terdeteksi menggunakan Near Infrared Camera and Multi-Object Spectrometer (NICMOS) di Teleskop Ruang Angkasa Hubble.

Kategori: Environment · Space

Laba Laba Ternyata Sukses Membuat Sarang Di Angkasa

November 25, 2008 · 1 Komentar

Apa yang belum pernah dilihat itu akhirnya terbuka, ketika salah satu dari dua laba-laba bertubuh bulat beraksi: memintal jaring simetris pada eksperimen di Stasiun Luar Angkasa Internasional. ”Sangat indah,” kata pemimpin misi, Michael Fincke, melalui radio ke stasiun kontrol di Bumi.

Dua ekor laba-laba itu dibawa ke stasiun luar angkasa internasional (ISS) menggunakan pesawat ulang-alik NASA Endeavour, awal pekan lalu. Awalnya, kedua laba-laba kesulitan ”bekerja” di laboratorium, saat hari-hari pertama dalam keadaan tanpa gravitasi.

Tak lama kemudian, adaptasi dalam kondisi tanpa bobot bisa dijalani dengan cepat. Laba-laba itu ”asyik” dan sukses dengan aksinya. Eksperimen ini misinya, antara lain, untuk menimbulkan ketertarikan siswa-siswi di Bumi terhadap ilmu pengetahuan. Tak lama lagi, para murid di Bumi dapat membandingkan jaring laba-laba yang dianyam di luar angkasa dengan yang di Bumi. Selain laba-laba, eksperimen dilakukan terhadap siklus hidup larva kupu-kupu betina.

Kedua eksperimen itu di bawah pengawasan Universitas Colorado di Boulder, termasuk yang menyiapkan lalat buah makanan laba-laba dan nektar bagi kupu-kupu dalam jumlah cukup.

Berbarengan dengan eksperimen laba-laba dan kupu-kupu, sejumlah awak Endeavour merenovasi hunian utama di ISS. Dari Bumi, kru membawa dapur dan kamar mandi, dua tempat tidur baru, perlengkapan kebugaran tambahan, sebuah penyimpan makanan, dan sistem daur ulang yang mampu mengubah urin menjadi layak minum.

Beberapa hari terakhir, para kru menghabiskan waktu memperbaiki panel surya. Setidaknya, sudah tiga kali perjalanan untuk memperbaiki panel surya itu.

Misi kali ini diharapkan rampung sebelum Endeavour balik ke Bumi pada 30 November 2008 mendatang. Namun, misi perbaikan itu tampaknya tak mudah. Pada perjalanan luar angkasa beberapa hari sebelumnya, sebuah insiden terjadi ketika kotak perkakas senilai 100.000 dollar AS hilang.

Sementara kesulitan dihadapi para teknisi, eksperimen laba-laba dan kupu-kupu terus berlangsung.

Di saat berbagai perbaikan dilakukan di ISS, sejumlah kru dihibur aksi langka. Laba-laba terus menganyam dan menganyam. Mereka membongkar jaring yang telah jadi, lalu membuat jaring baru lagi. Begitu seterusnya.

Sungguh mencengangkan laba-laba yang dikirim ke stasiun antariksa internasional (ISS) sukses membuat sarang. Keberhasilan ini menarik untuk dipelajari karena hewan tersebut melakukannya di ruang tanpa bobot.

“Dua ekor laba-laba yang pemberani di stasiun antariksa internasional telah berhasil mengatasi kebingungannya sampai dapat menenun jaring yang menakjubkan di gravitasi nol,” ujar salah seorang astronot, Jumat (21/11) lalu.

Laba-laba penenun itu diangkut ke ISS awal minggu lalu bersama para astronot yang menumpang pesawat ulang alik Endeavour. Saat sehari di ruang angkasa, laba-laba tersebut terlihat membuat pola jaring yang tidak jelas. Namun, beberapa hari kemudian laba-laba tersebut berhasil membuat jaring yang teratur.

“Kami perhatikan laba-laba tersebut membuat jaring yang simetris. Sungguh cantik,” ujar Michael Fincke, komandan ISS. Ia mengatakan para astronot terkejut melihat betapa cepatnya laba-laba beradaptasi dengan antariksa.

Pengiriman laba-laba ke ruang angkasa merupakan bagian dari eksperimen ilmiah yang ditujukan untuk meningkatkan minat anak-anak sekolah mempelajari sains. Apalagi jenis laba-laba yang dipilih sama dengan laba-laba yang dipakai sebagai karakter di buku cerita anak Charlotte’s Web karya E.B. White. Anak-anak nantinya akan diminta membandingkan antara bentuk jaring laba-laba yang dibuat di Bumi dengan yang dibuat di antariksa.

Selain laba-laba, para astronot juga membawa larva kupu-kupu. Ilmuwan dari UNiversitas Colorado, Boulder, AS akan memantau perkembangannya hingga kelak menjadi kupu-kupu dewasa.  Sebagai makanan laba-laba, turut dibawa pula lalat buah. Sementara untuk makan kupu-kupu yang tengah bermetamorfosis sudah disediakan nektar secukupnya.

Kategori: Biology · Environment · Space

Fasilitas Internet Dunia Maya Antar Planet Lebih Canggih Dari Yang Ada Di Bumi

November 22, 2008 · 1 Komentar


Untuk pertama kalinya, badan antriksa AS (NASA) sukses menguji pengiriman data melalui sambungan Internet khusus yang didesain untuk komunikasi ruang angkasa. Dalam uji coba tersebut dikirimkan foto yang dipotret sebuah wahana ruang angkasa yang sedang mengarungi antariksa pada jarak 32 juta kilometer dari Bumi.

“Ini merupakan langkah awal untuk membangun kapasitas baru komunikasi ruang angkasa, sebuah Internet antarplanet,” ujar Adrian Hooke, ketua tim peneliti yang bermarkas di Washington DC, AS. Keberhasilan tersebut diumumkan Selasa (18/11) lalu.

Jaringan Internet antarplanet ini dikembangkan bersama antara NASA dan Vint Cerf, wakil presiden Google yang dikenal pula sebagai “bapak Internet.” Selama 10 tahun terakhir, Cerf membantu pengembangan protokol software yang digunakan untuk transmisi data di ruang angkasa yang disebut DTN (Disrupt-Tolerant Networking).

DTN mengirimkan informasi menggunakan metode yang berbeda dengan TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol), yang juga dikembangkan Cerf bersama koleganya. Protokol tersebut harus mampu menangani delay yang cukup lama, gangguan sinyal, dan mempertahanakn koneksi sehingga data yang dikirimkan tetap utuh.

Gangguan bisa datang dari badai Matahari atau saat wahana ruang angkasa bergerak ke belakang objek yang diamati. Jarak yang sangat jauh juga menjadi tantangan tersendiri seperti proses pengiriman data dari Mars yang membutuhkan delay antara 4-20 menit meski dikirim dengan kecepatan cahaya.

Jika pengiriman terpaksa berhenti di tengah jalan, setiap simpul jaringan akan menyimpan informasi tersebut dan kembali menersukannya jika sambungan normal. Hal ini berbeda dengan jaringan Internet di Bumi yang langsung mengabaikan data yang dikirimkan begitu sambungan terputus.

“Dalam dunia ruang angkasa saat ini, tim operasi harus secara manual mengatur jadwal setiap link komunikasi yang dipakai, data yang akan dikirim, dan tujuannya,” ujar Leigh Togerson, manajer DTN Experiment Operation di Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena, AS.

Dengan DTN, hal tersebut tidak perlu dilakukan. Data akan terkirim secara otomatis sehingga lebih efisien. Uji coba pengiriman data melalui DTN dilakukan dari wahana ruang angkasa bernama Deep Impact yang tengah memburu Komet Hartley 2 setelah sukses mendekati Komet Tempel tiga tahun lalu.

Kategori: Internet · Space · Telecomunication

Ilmuwan NASA Pastikan Ada Cadangan Air Beku Di Bawah Mars

November 21, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Para ilmuwan NASA telah menemukan waduk air beku di bawah tanah di Mars, jauh dari tudung kutubnya.

Penemuan ini merupakan tanda terbaru bahwa kehidupan boleh jadi dapat bertahan di Planet Merah.

Radar yang mampu menembus tanah dari Mars Reconnaissance Orbiter mengungkapkan gletser dalam jumlah banyak dengan ketebalan hingga setengah mil terkubur di bawah lapisan karang dan debu.

Para ilmuwan menyatakan sebuah gletser besarnya mencapai tiga kali daripada ukuran kawasan Los Angeles.

“Secara keseluruhan, gletser-gletser ini hampir dapat dipastikan sebagai waduk air es terbesar di Mars, dan bukan tudung es di kutub,” kata John Holt, seorang pakar geofisika pada Universitas Texas di Austin dan penyusun utama laporan tentang penemuan tersebut.

Laporan mengenai penemuan merekamunculdi jurnal Science edisi 21 Nopember.

“Di samping nilai ilmiah mereka, gletser-gletser ini dapat menjadi sumber air guna mendukung penjelajahan Mars mendatang, ujar Holt, seperti dilaporkan AFP.

Para ilmuwan pada tim riset beranggotakan 12 orang itu menduga cadangan air beku itu adalah peninggalan Jaman Es di Mars pada jutaan tahun silam.

Karena air merupakan salah satu keperluan dasar bagi kehidupan, para ilmuwan mengatakan waduk beku itu adalah tanda yang menjanjikan bagi kehidupan di luar Bumi.

Mars adalah satu-satunya planet yang permukaannya dapat dilihat secara terinci dari Bumi. Suhunya antara -140 derajat Celsius hingga20 derajat celsius

Kategori: Space

Karena Terlalu Asyik Melakukan Spacewalk Astronot Kehilangan Peralatannya

November 19, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kehilangan peralatan kerja di ruang angkasa bukan sesuatu yang menyenangkan karena dalam kondisi tanpa gravitasi, benda-benda bisa melayang dan hilang dalam gelapnya jagad raya.

Inilah yang dialami astronot Heidemarie Stefanyshyn-Piper saat melakukan spacewalk di luar Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Ia kehilangan peralatannya setelah penyemprot pelumas di dalam tasnya meletus dan terlepas dari pegangan. Ia pun terpaksa pasrah menyaksikan tas peralatan itu mengambang dan menjauh.

Tas berisi peralatan ini adalah benda terbesar yang pernah hilang saat astronot melakukan spacewalk dan terjadi saat ia berencana membersihkan dan melumasi sambungan-sambungan panel surya ISS.

Menurutnya, semprotan pelumas itu meletus sehingga isinya yang berwarna abu-abu gelap mengotori kamera dan sarung tangannya. Saat mengibaskan tangan, tas putih seukuran ransel yang dibawanya terlepas dan ia kehilangan semua peralatannya.

“Oh, great,” gerutunya.

Stefanyshyn-Piper dan rekan spacewalk, Stephen Bowen, kemudian terpaksa berbagi peralatan untuk menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu 6 jam 52 menit. “Kecuali kejadian kecil atau besar tadi, saya rasa kami telah berhasil menyelesaikan pekerjaan di luar tadi,” kata Stefanyshyn-Piper setelah kembali ke stasiun.

Saat ini pengendali misi sedang memperhitungkan akibat hilangnya tas peralatan itu pada spacewalk yang direncanakan selanjutnya.

Sebelumnya, beberapa astronot yang melakukan spacewalk sempat melihat sebuah sekrup melayang-layang di dekat mereka, tetapi mereka tidak berhasil meraihnya. “Saya tidak tahu dari mana benda itu berasal,” ujar Stefanyshyn-Piper.

Menurut pengendali misi, sekrup terbang itu tidak dianggap ancaman, tetapi mereka belum tahu dampak hilangnya tas peralatan. Mereka saat ini sedang berusaha melacak keberadaan tas itu di orbit Bumi.

Hilangnya tas peralatan itu merupakan noda dari misi Endeavour dan tujuh awaknya yang selama ini dianggap berlangsung mulus tanpa cacat.

Di luar kekecewaanya, Stefanyshyn-Piper, perempuan pertama yang ditugaskan memimpin spacewalk dalam misi ulang alik ini, berhasil memperbaiki sambungan panel surya.

Sejak lebih dari setahun lalu, sambungan tersebut macet dan tidak bisa mengarahkan panel surya secara otomatis ke Matahari. Sambungan itu berada dekat ujung stasiun yang mengorbit 352 kilometer di atas Bumi. Astronot yang melakukan spacewalk dilengkapi tali pengaman sepanjang 25 meter agar tidak terlepas ke luar angkasa.

Seperti diberitakan sebelumnya, pesawat Endeavour tiba di ISS pada Minggu. Pesawat ini membawa berbagai peralatan baru untuk dipasangkan di ISS.

Pada Selasa, pengendali misi menyatakan bahwa Endeavour bisa pulang ke Bumi pada akhir bulan ini. Pemeriksaan menyeluruh terhadap pesawat menunjukkan tidak adanya kerusakan pada perisai penahan panasnya, seperti yang dialami Columbia dan membuatnya meledak pada 2003.

Kategori: Space