Informasi Tentang Dunia Teknologi Terkini

Entries categorized as ‘Robotics’

Manusia Pertama Melintasi Selat Inggris Dengan Terbang Seperti Burung

Oktober 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Petualang Swiss, Yves Rossy, terbang dari Prancis ke Inggris, Jumat, dengan jetpack yang dipasang pada punggungnya, sehingga dia menjadi orang pertama yang melintasi Selat Inggris dengan cara demikian.

Rossy, seorang pilot yang biasa menerbangkan pesawat Airbus, melintasi selat selebar 35 kilometer antara Calais dan Dover itu dengan kecepatan 200 kilometer per jam dalam waktu 13 menit, kata jurubicaranya, seperti dilaporkan Reuters.

Ketika karang putih di Dover tampak, ia membuka parasut biru dan kuningnya dan melayang turun saat angin sepoi-sepoi untuk mendarat di sebuah lapangan di Inggris, tempat para penyambutnya telah menunggu.

“Segala sesuatu berjalan sempurna,” ujarnya kemudian. “Saya memperlihatkan bahwa terbang seperti burung bukan merupakan hal yang mustahil.”

Rossy menapak tilas rute penerbang Prancis Louis Bleriot, yang menjadi orang pertama yang terbang melintasi Selat Inggris dengan sebuah pesawat pada 1909.

Saat paling menegangkan

Pilot Swiss itu terbang dengan dorongan empat mesin jet berbahan bakar minyak tanah yang dipasang pada sebuah sayap pada punggungnya.

Dia menyalakan mesin jetnya dalam sebuah pesawat sebelum meloncat keluar pada ketinggian lebih dari 8.000 kaki (2.400 meter) di atas permukaan tanah.

Setelah melewati periode terjun bebas, ia membuka sayap tersebut dan terbang di atas permukaan air. Dengan tanpa alat pengendali, satu-satunya cara untuk mengubah arah adalah seperti burung, menggerakkan kepala dan punggungnya.

Pria berusia 49 tahun itu, yang menyebut dirinya sebagai “Fusion Man”, mengemukakan kepada BBC saat yang paling menegangkan ialah ketika dia meloncat dari pesawat “karena saya mengalami banyak masalah pada saat-saat sebelumnya.”

Namun saat ini dia melakukan lompatan yang sempurna dan segera memperbaiki arah menuju karang Selat Dover.
Rossy biasanya menerbangkan pesawat A-320 Airbus milik Swiss International antara Zurich dan Heatrow dan dia mengembangkan sendiri peralatan yang didorong jet itu.

Sayap itu, yang merentang sepanjang delapan kaki, terbuat dari komposit karbon dan beratnya sekitar 55 kilogram, termasuk bahan bakar.

Rencana mendatangnya antara lain terbang di atas Grand Canyon atau Ngarai Besar, dengan lepas landas dari posisi berdiri di permukaan tanah dan melakukan gerak akrobatik.

Kategori: Physics · Robotics · Transportation

Banyak Hasil Riset Putra Putri Indonesia Enggan Diaplikasikan Karena Pemerintah Lebih Senang Pakai Teknologi Yang Ditemukan Bangsa Asing

September 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI berhasil mengembangkan pembangkit listrik berteknologi sel surya, angin, dan hidrogen. Meski demikian, hasil riset putra-putra bangsa ini tidak diaplikasikan pemerintah daerah.

Wakil Kepala LIPI Lukman Hakim mengatakan hal itu, Selasa (2/9) di Jakarta.

Secara terpisah, Sekretaris Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Indroyono Soesilo mengatakan, inovasi energi yang dihasilkan LIPI itu sangat bermanfaat untuk penanggulangan kemiskinan masyarakat, antara lain, pada upaya pemenuhan kebutuhan listrik. Hal ini mengingat rasio elektrifikasi yang masih sangat rendah, yakni hanya 54 persen dengan produksi listrik terpusat di Pulau Jawa ( 80 persen) dan selebihnya di Sumatera (11 persen), serta di Kalimantan dan Indonesia Timur sebesar 9 persen.

Menurut Indroyono, pemerintah sudah meningkatkan peluang investasi penanggulangan kemiskinan di tingkat kecamatan, di antaranya melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Kebijakan ini sebagai sinergi program antardepartemen yang bisa mengakumulasikan dana penanggulangan kemiskinan per kecamatan mencapai Rp 3 miliar dalam setahun.

”Ini peluang bagi LIPI untuk menawarkan inovasi-inovasinya yang sekarang makin terbuka lebar,” kata Indroyono.

Menurut Lukman, LIPI memproduksi pembangkit listrik hibrid sel surya, angin, dan hidrogen yang pertama kali di Indonesia, yaitu di Malingping, Banten. Kapasitas listrik yang dihasilkan mencapai 3.000 watt.

Menurut Indroyono, inovasi- inovasi dari lembaga riset seperti LIPI atau Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) harus terus disempurnakan sehingga aplikatif bagi masyarakat. Jangan sampai hasil inovasi lembaga riset kalah bersaing dengan hasil inovasi masyarakat. Harus diakui, saat ini masyarakat terkadang bergerak lebih cepat dan kreatif dalam melakukan inovasi teknologi, termasuk teknologi bidang energi.

Kategori: Bio Fuel · Computer · Electricity · Environment · Food · Gadget · Health · Medicine · Physics · Robotics · Telecomunication

Indonesia Sarang Para Ilmuwan Muda Dunia

Agustus 6, 2008 · 1 Komentar

”Seperti halnya satu permainan papan di mana kotak yang berisi aturan main hilang sejak lama, tidak ada seorang pun yang tahu persis bagaimana bisa memenangi (hadiah) Nobel.” (Hal Cohen, ”The Scientist”, 28/10/2002)

Agustus kini diperkaya dengan pelbagai event ilmiah. Ada Asian Science Camp di Bali dan LIPI Expo, serta Ritech Expo, dua-duanya di Jakarta. Ini membesarkan hati. Kita mengenang dan merayakan bulan kemerdekaan tidak semata dari sisi sejarah, tetapi juga dari sisi sains dan teknologi. Itulah dimensi yang seyogianya mewarnai perjalanan sejarah kebangsaan Indonesia.

Sekadar tambahan, Rabu (6/8) ini di LIPI juga berlangsung Temu Ilmiah Peneliti Muda Indonesia, ajang yang tidak kalah penting untuk mengenal sosok peneliti muda Indonesia yang telah menorehkan prestasi, baik di lingkup nasional maupun internasional.

Jadi, meski anggaran riset nasional masih di bawah 0,1 persen, peneliti Indonesia masih tetap bisa berprestasi dan berkontribusi bagi pengembangan sains nasional. Tentu menarik untuk diketahui, apa yang mendorong para ilmuwan muda tersebut setia pada sains, bidang yang di satu sisi semakin dinilai penting bagi upaya peningkatan kemakmuran dan kejayaan satu bangsa, tetapi pada sisi lain masih dipandang nonprioritas.

Sosok ilmuwan

Amy, mahasiswi berusia 20-an tahun, pernah bertanya dalam salah satu forum online mengenai karakteristik pribadi yang harus dikembangkan bila seseorang ingin menjadi ilmuwan yang baik. Jawaban pun muncul dari berbagai penjuru.

Seorang guru besar mencoba memberi jawaban dengan mengangkat ”SCIENCE” sebagai akronim. ”S” melambangkan bidang studi yang dihayati dengan serius. ”C” adalah curiosity dan kemauan untuk memperbaiki pendapat manakala muncul fakta yang bertentangan dengan pandangan yang kita yakini. ”I” adalah intelligence karena pengetahuan yang dituntut oleh sains sangat tinggi. ”E” adalah enthusiasm agar siapa pun yang ingin menjadi ilmuwan kuat manakala menemui kekecewaan. ”N” melukiskan never-ending attention to detail yang akan membuat riset calon ilmuwan bisa bertahan dari ujian rekan sejawat. ”C” adalah commitment terhadap hidup pribadi dan profesional yang jujur dan bertanggung jawab. Terakhir, ”E” untuk enduring respect dan apresiasi terhadap karya ilmuwan terdahulu yang telah membuka jalan bagi pekerjaan kita.

Komentar lain masih banyak, tetapi umumnya menyebut ”rasa ingin tahu”, ”ulet”, ”mengandalkan data”, dan ”punya kemampuan analisis data” sebagai sifat-sifat penting lain.

Karena dipenuhi dengan proses yang sering tidak jelas ujungnya, tak jarang peneliti dilanda keletihan mental kalau bukan frustrasi. Kadang hanya keyakinan kepada diri sendiri dan keyakinan bahwa pengetahuan yang sedang diteliti akan bernilai bagi orang banyaklah yang membuat peneliti bisa terus bertahan.

Ada pula penelitian di bidang psikologi, juga ilmu sosial, yang coba mengungkap sifat-sifat yang bisa mendorong seseorang untuk menerjuni dan unggul di bidang ilmiah. Namun, secara umum dipercayai bahwa anak yang tumbuh di lingkungan yang di sekelilingnya dipenuhi oleh orangtua dan orang-orang yang berpendidikan menyukai pemikiran, penuh rasa ingin tahu, dan senang memberi dorongan kepada anak untuk mengembangkan rasa ingin tahunya mempunyai peluang lebih baik untuk menjadi seorang ilmuwan dibandingkan dengan anak lain yang tidak memiliki hal-hal di atas.

Akhirnya, peneliti dari Argonne National Laboratory, Ali Khounsary, mengatakan bahwa—meski tidak ada jaminan— kombinasi orangtua yang tercerahkan dan penuh dedikasi, serta lingkungan rumah, sekolah, dan guru, role model, serta teman, bisa mendorong seorang anak untuk belajar dan menjelajahi dunia dan mungkin memilih karier di bidang sains (www.newton.dep.anl.gov).

Dalam Temu Ilmiah Peneliti Muda di LIPI, atau pertemuan siswa SMA dengan peneliti dunia dan pemenang Nobel, diharapkan muncul pula penjelasan mengenai hal-hal yang terkait dengan karakter untuk menjadi ilmuwan.

Menuju Nobel?

Penggagas Asian Science Camp Prof Yohanes Surya acap mengaitkan program Olimpiade Fisika atau acara di Bali sebagai jalur untuk menuju Hadiah Nobel. Dengan program itu, sepertinya hadiah Nobel menjadi one step closer. Sebagai sarana untuk memotivasi tentu saja tidak ada kelirunya.

Namun, selanjutnya, program pengembangan ilmuwan masih perlu dilengkapi dengan segi-segi yang lain. Misalnya saja, kita juga perlu menanamkan daya imajinasi calon ilmuwan? Juga daya konsentrasinya—hal yang semakin relevan ketika distraksi dalam wujud hiburan dan godaan duniawi semakin kuat— serta integritasnya mengingat di tengah masyarakat juga cenderung tumbuh budaya ”jalan pintas” dan ”sukses instan”.

Berikutnya, terlalu berorientasi pada Nobel boleh jadi juga membatasi keleluasaan minat dan imajinasi. Memang setelah pemberian hadiah ke-107 tahun lalu, Nobel tetap diakui sebagai prestise prestasi ilmiah. Namun, di kalangan ilmiah juga muncul kemasygulan bahwa hadiah tersebut terbatas dalam jumlah dan bidangnya, seperti dikemukakan oleh Harriet Zuckerman, penulis buku Scientific Elite yang mengupas hadiah Nobel, para pemenangnya, dan penciptaan kelas yang dimunculkannya pada sains abad ke-20.

Dengan hanya diberikan untuk bidang fisika, kimia, dan kedokteran—di luar perdamaian dan ekonomi—Nobel memang masih menyisakan banyak bidang sains lain, seperti sains kelautan, matematika, dan astronomi. Untuk Indonesia, ketiga bidang terakhir termasuk penting dan sebagian telah menjadi tradisi. Kita juga membutuhkan ilmuwan di bidang-bidang yang berkaitan dengan lingkungan alam kita, seperti vulkanologi dan geologi serta geofisika dan meteorologi.

Dari sisi upaya untuk mencapai apa yang sering disebut sebagai ”stratosfer sains eksklusif” ini, yang dibutuhkan bukan hanya riset super unggul. Ini karena tidak seorang pun tahu secara pasti, bagaimana sebenarnya memenangi hadiah Nobel.

Justru oleh kenyataan itu, yang sebenarnya perlu ditanamkan adalah karakter untuk menjadi ilmuwan sejati dan bukan untuk menjadi pemenang Nobel. Namun, diakui bahwa inisiatif seperti dilakukan oleh Prof Yohanes Surya maupun oleh LIPI melalui Temu Ilmuwan Muda berperan dalam penciptaan massa kritis bagi bergulirnya tradisi ilmiah yang baik untuk penyemaian ilmuwan muda.

Kategori: Biology · Cognitive Science · Computer · Geology · Internet · Math · Medicine · Nuclear · Physics · Robotics · Space · Telecomunication

Digelar 100 Penemuan Bangsa Indonesia untuk Peringati Hari Kebangkitan Teknologi

Juli 29, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan menggelar LIPI Expo 2008, di Jakarta, (4-6 Agustus), yang akan memamerkan 100 hasil penemuan (invensi) LIPI untuk memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) sekaligus 100 tahun Kebangkitan Nasional.

“Alhamdulillah Wakil Presiden berkenan membukanya,” kata Kepala LIPI Prof Dr Umar Anggara Jenie seusai menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di kantor Wapres, di Jakarta, Selasa.

Dalam acara tersebut, selain memamerkan 100 invensi LIPI, juga digelar seminar hasil penelitian kompetitif LIPI dengan pidato kunci lima manteri, dua Gubernur, Ketua Kamar Dagang dan Industri serta Dirut Pertamina.

Menteri yang hadir yaitu Menkokesra Aburizal Bakrie, Menteri Kesehatan Fadilah Supari, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, Menperin Fahmi Idris, dan Mendiknas yang diwakili oleh Dirjen Fasli Djalal.

Menurut Umar, Wapres Jusuf Kalla pada pertemuan itu memberi sugesti bahwa hasil penelitian harus bisa diserap dan dimanfaatkan masyarakat.

“Artinya kalau penelitian itu baik dan canggih tetapi mahal maka tidak ada artinya,” kata Umar menirukan pernyataan Wapres.

Hasil-hasil penelitian di bidang pangan yang akan dipamerkan antara lain mengunggulkan padi tahan kekeringan dan tahan hama. Selain itu juga ada kedelai plus yang dengan teknologi rizobium, produktivitasnya bisa ditingkatkan, serta teknologi inseminasi buatan untuk ternak.

Di bidang energi LIPI misalnya menghasilkan perangkat penghemat listrik Electrical Fuel Treatment (EFT) untuk menghemat bahan bakar yang sudah dipasarkan dan diekspor.

Selain itu di acara LIPI Expo akan ada peluncuran buku berjudul “Beranda Perdamaian: 3 Tahun MOU Helsinki” karya pakar politik LIPI Prof Dr Ikrar Nusa Bhakti diikuti paparan LIPI, Universitas Syahkuala Aceh dan Pemda Nanggroe Aceh Darussalam.

Umar mengatakan, acara yang akan memamerkan hasil penelitian LIPI kepada masyarakat itu juga akan dihadiri para “stakeholder” LIPI seperti Lembaga Penelitian Non Departemen (LPND) lainnya di bawah Kementrian Ristek, perguruan tinggi, dan kalangan industri.

Selain itu acara tersebut juga akan menghadirkan para finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) dan Pemilihan Peneliti Muda Indonesia (PPMI) yang penghargaannya akan diserahkan oleh Menristek

Kategori: Biology · Cognitive Science · Computer · Electricity · Environment · Food · Gadget · Geology · Health · Internet · Math · Medicine · Nuclear · Physics · Psychology · Robotics · Space · Telecomunication · Web Development

Kontes Robot Indonesia Digelar Bulan Mei 2008

Maret 24, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sedikitnya 107 universitas negeri maupun swasta di Indonesia telah mengajukan proposal untuk mengikuti Kontes Robot Indonesia (KRI) dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) yang digelar Mei-Juni 2008.

“Seleksi proposal akan ditentukan setelah 107 universitas dan 10 perusahaan IT mengirimkan laporan kemajuan robot rancangannya pada 14 April,” kata juri KRI-KRCI 2008, Gigih Prabowo, saat ditemui ANTARA di Surabaya, Senin.

Salah seorang juri yang juga dosen Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS itu mengemukakan, panitia tidak akan melakukan visitasi (kunjungan) seperti tahun-tahun sebelumnya, tapi dengan laporan kemajuan secara video.

“Dengan cara begitu, kami berharap akan lebih banyak proposal yang lolos, sehingga persaingan semakin sengit. Apalagi kontes juga tidak terpusat di satu tempat, tapi dibagi dalam empat regional,” katanya menjelaskan.

KRI di regional I (Riau) akan diikuti 16 tim dari Sumatera, Batam, dan Bangka, sedangkan KRI di regional II (Jakarta) diikuti 16 tim dari Jakarta dan Jawa Barat.

Setelah itu, KRI di regional III (Jateng) diikuti 14 tim dari Jateng, Yogyakarta, dan Kalimantan, sedangkan KRI di regional IV (Surabaya) diikuti 22 tim dari Jatim, Sulawesi, dan NTT.

Untuk KRCI, di regional I diikuti 34 tim, di regional II ada 62 tim, di regional III ada 39 tim, dan di regional IV ada 53 tim. “Jadi, ada 256 tim yang menjadi peserta, baik KRI maupun KRCI,” katanya.

Menurut dia, KRI-KRCI di tingkat regional akan dilaksanakan pada 10 Mei untuk regional III (Jateng), kemudian pada 17 Mei untuk regional I (Riau) dan IV (Surabaya), sedangkan regional III pada 24 Mei.

“Untuk final KRI-KRCI se-Indonesia akan digelar di Jakarta pada 14 Juni dengan peserta ada 24 tim untuk KRI dan 48 tim untuk KRCI. KRCI sendiri dibagi empat kategori yakni divisi senior beroda, senior berkaki, expert single, dan expert swarm,” katanya.

Ia menambahkan, KRI 2008 berbeda dengan tahun sebelumnya, karena setiap universitas hanya diperbolehkan mengirimkan satu tim, sehingga KRI juga lebih kompetitif, karena setiap universitas hanya mengirimkan robot unggulan.

Kategori: Robotics

Ilmuwan Jepang Membuat Ponsel Yang Dapat Berubah Menjadi Robot

Maret 5, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Orang Jepang memang gila robot, sampai-sampai ponsel pun dibuat agar bisa berevolusi menjadi robot. Tentu tak secanggih robot-robot Transformers.Sebuah ponsel yang segera dirilis Softbank Mobile Corp ini mungkin akan membangkitkan kembali memori Anda mengenai robot-robot mainan yang bisa diubah dari bentuk pesawat tempur, tank, atau mobil menjadi robot.

Ponsel Softbank 815T PB (PhoneBraver) yang dibuat di pabrik Toshiba ini bentuknya seperti ponsel pada umumnya, bentuk flip dengan layar LCD di satu sisi dan tombol di sisi lainnya. Bedanya, di sisi kanan dan kirinya dapat ditarik menjadi dua tangan dan kaki.

Ponsel robot tersebut telah dilengkapi software kecerdasan buatan untuk mempelajari kebiasaan pemiliknya. Ponsel tersebut juga seolah-olah dapat berbiacra dengan pemiliknya.

“Jika penggunanya menelepon satu nomor berulang kali, maka akan muncul suara ‘Anda menelepon beberapa kali hari ini, benarkah?” kata Katsuhida Furuya, jurubicara Softphone. Pemilknya bisa berkomunikasi terbatas dengan jawaban ya dan tidak.

Ponsel tersebut belum bisa berjalan sendiri seperti robot-robot humanoid yang tekenal di Jepang. Namun, kaki dan tangannya bergoyang-goyang dan sendinya menekuk sehingga seolah-olah hidup. Ponsel tersebut baru akan dirilis April 2008.

Kategori: Robotics