Arsip Kategori: Robotics

Robot Otomatis Untuk Membangun Konstruksi Berhasil Dibuat Ilmuwan

Manusia tidak berhenti mencari alternatif termudah dalam hidup. Salah satu golongan yang terus berkembang dan berusaha menemukan solusi tersebut adalah kaum akademisi. Dua tahun lalu, Petr Novikov, Inder Shergil, serta Anna Kulik mengawali proyek tesis mereka di Institute for Advanced Architecture of Catalonia. Mereka mengembangkan robot yang bisa mencetak benda, dinding, bahkan jembatan dengan menggunakan pasir dan tanah, serta tenaga matahari.

“Kami ingin menggunakan teknologi robotik untuk menyelesaikan masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan cara konstruksi tradisional,” ujar Petr Novikov. Ketiganya memutuskan untuk mengambil tantangan membangun di lokasi-lokasi sulit, seperti di gurun. Biasanya, lokasi semacam ini kekurangan material konstruksi dan tenaga kerja karena terik matahari.

Petr Novikov, Inder Shergil, dan Anna Kulik pun memastikan bahwa mereka menggunakan material lokal agar tidak perlu memindahkan material ke lokasi pembangunan. Cara ini juga memastikan tidka ada sampah, serta menekan biaya. Seperti dikutip dalam Fastcoexist.com, robot ini lebih baik dari Solar Sinter buatan Markus Kayser. Pasalnya, robot ini bisa menggunakan tanah.

Sementara itu, produk buatan Kayser hanya bisa menggunakan pasir dan ukurannya pun lebih besar. Selain itu, robot yang dibuat Petr Novikov dan rekannya dalam Stone Spray Project juga bisa mencetak secara horizontal. Mudah digunakan untuk membuat jembatan antara dua batu besar.

“Jika Anda lihat pada mesin cetak tiga dimensi pada umumnya, mereka bekerja dalam cara yang berbeda-beda, namun dengan prinsip serupa, yaitu membangun model dalam bagian horizontal. Ini tentu metode yang cerdas namun membawa banyak masalah dengan material penyangga. Ketika Anda ingin mencetak struktur menggantung, Anda punya masalah. Kami bisa mencetak pada permukaan apa pun, vertikal, horizontal, kasar, maupun halus,” terang Petr Novikov.

Selama penelitian, para cendekia ini berkesimpulan bahwa robot mereka bekerja maksimal dalam iklim panas dan kering. Iklim ini mampu mempercepat proses pengeringan dan pengerasan material. Perlu dua hari untuk membuat hasil cetak kuat. Karena itulah, hujan masih menjadi masalah besar. Namun, setelah mengeras, air tidak lagi menjadi masalah. Sayangnya, teknologi ini belum sempurna.

Petr Novikov beserta timnya pun tidak berniat melanjutkan pengembangannya. Hanya, Novikov menyatakan bahwa beberapa prinsip di balik mesin ini sudah menginspirasi proyek selanjutnya. “Saya masih bekerja di lapangan. Meski saya tidak akan melanjutkan proyek ini, namun saya pasti akan kembali pada ide menggunakan material ekologis,” kata Novikov.

Berita Gempa Los Angeles Ditulis Oleh Robot

Los Angeles Times merupakan koran pertama yang memublikasikan berita mengenai gempa bumi melalui robot. Wartawan dan programer Ken Schwencke menciptakan sebuah algoritme yang secara otomatis membuat sebuah berita pendek ketika gempa bumi terjadi.

Schwencke mengatakan kepada majalah Slate, penulisan berita oleh robot itu membutuhkan waktu sekitar tiga menit untuk kemudian dipublikasikan secara online. Penggunaan “Jurnalisme-Robo” di kantor media di seluruh dunia meningkat.

Koran LA Times merupakan pelopor dalam penggunaan teknologi dengan sumber yang tepercaya—seperti Survei Geologi AS—dan menempatkan data ke dalam sebuah pola tulisan. Seperti laporan tentang gempa bumi, juga digunakan algoritme lain untuk menghasilkan sebuah berita tentang kejahatan di kota—dengan seorang editor yang memutuskan tulisan mana yang lebih banyak menarik perhatian.

Menghemat waktu

Organisasi media lain telah melakukan uji coba dengan metode pelaporan berdasarkan algoritme di bidang yang berbeda, terutama olahraga. Berita yang dihasilkan tidak menggantikan posisi wartawan, menurut Schwencke, tetapi mengumpulkan dan menyebarkan data lebih cepat.

“Ini merupakan tambahan,” kata dia kepada majalah Slate. “Ini membuat orang banyak menghemat waktu, dan untuk berita tertentu, dapat memperoleh informasi sama baiknya dengan yang dilakukan orang lain.”

“Cara saya memandangnya, ini tidak menghilangkan pekerjaan seseorang, malah membuat pekerjaan seseorang menjadi lebih menarik.”

Google Patenkan Kedipan Mata

ita biasa berinteraksi dengan gagdet melalui ketikan. Banyak perintah yang kita atur melalui keyboard. Atau, dengan suara seperti Siri di iOS atau Google Now di Android. Google, yang Januari lalu mengumumkan lensa kontak pintar, kali ini mengajukan paten baru terkait dengan interaksi atas komputer. Interaksi ini bentuknya lewat kedipan mata (blink). Menurut aplikasi yang diajukan ke USPTO (United States Patent and Trademark Office), Sabtu pekan lalu, Google menginginkan paten user interface lewat kedipan mata.

Paten ini mengambarkan akan ada beberapa sensor di lensa kontak yang bisa mendeteksi mata penggunanya saat berkedip. Akurasi sensor ini disebut sangat luar biasa. Sensor yang ada, di antaranya, mencakup sensor cahaya, tekanan, suhu, konduktivitas, dan medan listrik.

Dengan beragam sensor tersebut, interaksi ini bisa digunakan dalam perangkat biasa atau peringat wearable gadget, seperti kaca mata Google Glass atau jam tangan Moto 360. Kedipan mata bisa diaplikasikan menggunakan setelan dengan pola kedipan tertentu. Misal, satu kedipan berarti “Ya”atau dua kali kediipan berarti “Tidak”. Belum jelas, perangkat apa yang bisa dicangkokkan interaksi kedipan ini.

Google pertengahan Januari lalu mengumumkan lensa kontak pintar. Selain itu, sejak tahun lalu, Google juga telah mengembangkan kaca mata pintar Google Glass. Dengan kedipan, kaca mata ini bisa langsung mengambil gambar. Proyek Google Glass terus dikembangkan dengan sejumlah aplikasi canggih. Perkembangan terakhir dari proyek ini, munculnya aplikasi yang memungkinkan pengguna kaca mata Google mengambil foto hanya kedipan sebelah mata. Klik.Gambar pun terekam dalam kaca mata.

Winky, itulah nama aplikasi ini. Pengembang fitur Google Glass, Mike DiGiovanni, bekerja sama perusahaan konsultasi digital, Roudarch Isobar. Dan pada Kamis, 2 Mei 2013, DiGiovanni mengumumkan aplikasi ini di Google+. Kata DiGiovanni, Winky diciptakan agar tidak menyulitkan si pemotret.

“Dengan mengedipkan mata, Anda nyaris tidak mengeluarkan tenaga.” Dia juga menambahkan, Google Glass memiliki teknologi yang dapat membedakan antara kedipan sengaja dan kedipan yang terarah.

Selain dengan kedipan, Google Glass juga mampu menjepret dengan sekali sentuhan saja. Pun hanya dengan perintah suara, “Oke kaca mata, ambil foto”. Maka, terfoto lah subyek yag diinginkan.

Google Glass memang canggih. Tapi, tidak membuat semua kalangan senang dengan kehadirannya. Seperti organisasi online Stop The Cyborgs yang menginginkan pembatasan penggunaan kaca mata sekaligus kamera. Alasannya, kepedulian privasi. “Jika teknologi ini diluncurkan, akan membuka peluang pembajakan dan tercipta aplikasi yang menakutkan,” ungkap Stop The Cbyerborgs” Orang-orang tidak lagi memiliki tanda peringatan kalau mereka tengah direkam.”

David Jacobs, Dewan Perlindungan Konsumen, Pusat Informasi Privasi Elektronik Amerika Serikat, mengatakan, Google Glass dapat menimbulkan potensi pengintaian meluas. Tapi ia yakin, pengembang Google Glass akan memberikan aplikasi peringatan terhadap orang di sekitar pengguna kaca mata itu, bila proses memotret tengah dilakukan.

DiGiovanni sendiri mengatakan bahwa Google Glass memiliki sistem peringatan. Seperti suara yang dikeluarkan Winky ketika hendak memotret. Orang-orang di sekitar pengguna Google Glass pun akan melihat cahaya lampu, dari kaca mata, setelah perekaman foto. “Kaca mata ini tidak akan menjadi hal yang menakutkan,” kata DiGiovanni. “Karena waktu memotret atau merekam video, penggunanya harus memusatkan wajah ke objek yang dituju.”

Tangan Super Bionik Yang Mampu Merasakan Sentuhan Berhasil Dibuat

Dennis Aabo Sorensen tidak pernah berharap bisa merasakan apa-apa lagi dengan tangan kirinya yang buntung karena roket kembang api yang dia pegang meledak pada Malam Tahun Baru sepuluh tahun lalu. Namun untuk sesaat tahun lalu dia mendapatkan kembali sensasi menyentuh setelah ditempeli dengan satu tangan bionik yang memungkinkan dia untuk menggenggam dan mengidentifikasi obyek bahkan dengan mata tertutup.

Prototipe alat itu, yang dihubungkan ke syaraf-syaraf pada tangan kiri Dane yang berusia 36 tahun, mengaburkan batasan antara tubuh dan mesin dan para ilmuwan berharap suatu saat alat itu bisa mengubah kehidupan banyak orang yang menjalani amputasi. Masih ada pekerjaan yang harus dilakukan untuk memperkecil komponen dan merapikan kabel-kabel pada robot tangan yang sejauh ini hanya digunakan di laboratorium, tapi Sorensen mengatakan tim peneliti Eropa yang mengerjakan proyek itu sudah punya dasar yang benar.

“Ini adalah pengalaman hebat. Menakjubkan bisa merasakan sesuatu yang tidak bisa kau rasakan selama bertahun-tahun,” katanya kepada kantor berita Reuters dalam wawancara lewat telepon. “Ini sangat dekat dengan merasakannya dengan tangan normal,” katanya. Detil tentang waktu satu bulan dia menggunakan tangan bionik, yang meliputi hasil pemeriksaan harian selama sepekan, dilaporkan oleh para peneliti dari Italia, Swiss, Jerman, Inggris dan Denmark dalam jurnal Science Translational Medicine pada Rabu (5/2).

Alastair Ritchie, ahli rekayasa biologi dari University of Nottingham yang tidak terlibat dalam penelitian itu, mengatakan perangkat tersebut merupakan langkah lanjut yang logis tapi uji yang lebih klinis sekarang dibutuhkan untuk mengonfirmasi kelayakan sistem.

“Ini adalah data awal yang sangat menarik tapi ini adalah studi satu kasus dan kita sekarang perlu melihat lebih banyak kasus,” katanya. Selama ini tangan buatan belum bisa memberikan umpan balik sensorik–elemen kunci ketangkasan. Dalam kehidupan sehari-harinya Sorensen menggunakan tangan buatan yang bisa mendeteksi gerakan otot pada tangannya yang buntung untuk membuka dan menutup tangan, tapi tidak memberikan rasa menyentuh dan mengharuskan dia melihat terus menerus untuk memastikan barang yang dipegang tidak hancur.

Tangan palsu baru yang disebut LifeHand 2 jauh lebih canggih dalam menggabungkan ilmu intra-syaraf, robotik dan komputer untuk menciptakan perasaan-seperti-hidup.

Tempelan elektroda
Elektroda ultra-tipis selebar satu rambut manusia ditanam pada syaraf ulnaris dan median pada tangan Sorensen sebelum dia ditempeli tangan robotik, yang dilengkapi dengan beragam sensor buatan.

Sensor-sensor ini mengukur tegangan tendon-tendon buatan pada setiap jari untuk menilai tekanan yang digunakan untuk menjangkau obyek-obyek berbeda, sementara algoritma komputer mengubah informasi ini menjadi sinyal elektrik yang bisa diinterprestasikan oleh syaraf.

Hasilnya adalah sensasi seketika, termasuk gradasi rasa yang memungkinkan Sorensen menguji bentuk dan konsistensi selama tes. Dalam serangkaian eksperimen, dia bisa mengenali bentuk-bentuk dasar obyek, seperti bentuk silinder botol, dan merasakan perbedaan kekakuan jeruk mandarin dan bola baseball.

Ini adalah kemajuan besar dari perangkat awal LifeHand 1 yang diungkap tahun 2009, yang kurang halus dan tidak ditanam di tubuh pasien tapi hanya dihubungkan melalui elektroda. Namun masih ada pekerjaan yang harus dilanjutkan supaya tangan yang baru bisa membedakan tekstur secara lebih detil, termasuk membedakan panas dan dingin.

Silvestro Micera, seorang insinyur di Ecole Polytechnique Federale de Lausanne dan Cuola Superiore Sant’Anna di Pisa, mengatakan tantangannya sekarang adalah untuk memastikan sistem itu bisa dimasukkan ke tubuh pasien selama “berbulan-bulan.”

“Tujuan akhir kami adalah menguji alat ini dalam praktik klinik selama lima, enam atau tujuh tahun–tapi langkah selanjutnya adalah menunjukkan dalam dua sampai tiga tahun bahwa ini bisa bekerja dalam jangka panjang tidak hanya pada satu pasien, tapi pada sejumlah pasien,” katanya. Jika uji klinik selanjutnya berjalan baik, tim peneliti sepertinya bisa menggandeng mitra komersial.

Satu hal besar yang belum diketahui adalah biaya. Perangkat berteknologi tinggi tidak akan murah. Tapi Micera mengatakan operasi untuk menanamkan elektroda ke tubuh pasien relatif langsung, sehingga seharusnya bisa membatasi biaya rumah sakit.

University of California Ciptakan Robot Ninja Dengan Kecepatan Manuver Kecoak Yaitu 50 Kali Tinggi Badan per Detik

Reputasi kecoak sebagai ahli meloloskan diri mengundang minat peneliti University of California membuat robot yang sanggup menghindar dari kejaran musuh. Gerakan akrobatik layaknya ninja ini terbukti membuat kecoak hilang dari pandangan manusia yang memburunya.

Ada saja cara yang dipakai kecoak menghindar dari kejaran manusia. Binatang yang dicap menjijikkan ini berukuran sangat tipis sehingga bisa meloloskan diri dengan masuk ke dalam celah. Kecoak juga bisa berlari cepat, mencapai 50 kali panjang tubuh dalam satu detik, untuk lolos dari kejaran manusia.

Sebuah gerakan meloloskan diri ditemukan peneliti University of California. Kecoak merayap ke pinggir meja lalu menghilang dalam sekejap mata. Kamera supercepat merekam gerakan akrobat itu dalam gerakan lambat. Terlihat kecoak mengaitkan tubuh menggunakan pengait di kedua kaki belakangnya lalu meloncat ke udara membuat gerakan mengayun.

Hap, kecoak kini menempel di balik permukaan. “Mata manusia tak bisa melihat gerakan ini,” ujar ahli biologi integratif dasri University of California, Robert Full, melalui laman universitas.

Selama penelitian, mahasiswa master biofisika Michel Mongeau dan mahasiswa sarjana teknik biologi Brian McRae menemukan kecoak tak menjatuhkan diri saat bermanuver. Serangga ini berlari pada kecepatan penuh ke pinggir lalu menyangkutkan kait kaki belakang ke permukaan sambil meloncat sehingga mengayun seperti pendulum.

Teknik ini menghemat energi sebesar 75 persen dibandingkan merayap perlahan. Ahli robot Ron Fearing dari Universitas California membuat robot berkaki enam mirip kecoak. Robot tersebut disebut Dynamic Autonomous Sprawled Hexapod (DASH).

Lembaran Velcro kecil dipasangkan di kaki belakang robot ini untuk menirukan gerakan akrobat kecoak. “Binatang memiliki banyak manuver mengagumkan yang sanggup menginspirasi perancangan robot lincah,” ujar Fearing.

Menurut dia, insinyur hanya berpacu membuat robot yang hebat berjalan, berlari, atau memanjat. Namun sedikit yang mempelajari gerakan ekstrem yang membuat robot lebih lincah. Manuver peralihan antara satu gerakan ke gerakan lain justru membuat robot semakin sulit diburu. “Robot kaya manuver bisa menyelusup ke daerah berbahaya yang tak bisa dicapai penyelamat,” kata dia.

Inilah Data Data Pesawat Siluman AS Sentinel RQ-170 Yang Bakal Dirilis Iran Ke Publik Agar Dapat Ditiru

Iran menyatakan akan merekayasa ulang sebuah pesawat siluman AS Sentinel RQ-170 yang jatuh di wilayahnya. Namun hal itu diragukan oleh Barat yang menganggap Iran tak memiliki kemampuan teknologi untuk melakukannya. Mampukah Iran mengkloning pesawat itu?

Nick Brown, pemimpin redaksi Jane’s International Defence Review, mengatakan hal itu tergantung pada kondisi pesawat saat mereka mendapatkannya.

“Bisa saja pesawat itu jatuh dan hancur. Versi yang terlihat di klip video bisa saja hasil rekonstruksi. Tapi jika pesawat ini relatif utuh, Anda bisa mengambil sedikit manfaat.”

Satu hal yang mungkin dilakukan Iran adalah mengujinya dengan radar di ruang bebas gema untuk mengukur seberapa terdeteksi benda itu. Iran juga bisa belajar beberapa bentuk dan bahan pesawat yang dapat mengecoh radar.

Beberapa bagian dari RQ-170 telah dilepas dari pesawat, sehingga tidak akan menawarkan banyak hal yang baru. “Tapi tambang emas yang sebenarnya mungkin muatannya. Kita tidak tahu muatan apa saja di sana, tapi mungkin ada sinyal intelijen, sensor elektro-optik atau radar.”

“The RQ-170 tidak membawa senjata dan dua gundukan di bagian atas pesawat adalah sebuah pemindai atau struktur pelindung uplink satelit yang mengirim informasi dari sensor ke stasiun pengendali pesawat.”

Untuk RQ-170 itu sendiri tantangannya bukan pada membangunnya, tapi membuatnya layak terbang, kata Brown.

“Ada algoritma rumit yang mengendalikan pesawat. Membuat obyek berbentuk bumerang terbang sesuai dengan keinginan Anda adalah susah dan hanya benar-benar mungkin dengan model penerbangan lanjutan, komputer, dan perangkat lunak yang bagus.”

“Jadi, jika tidak memiliki informasi yang diperoleh dari perangkat keras dan sirkuit pesawat, Anda tidak akan dengan mudah dapat melakukan apa-apa, tapi Anda hanya akan membangun sesuatu yang berbentuk sama.”

Semua algoritma kontrol dienkripsi, sehingga tidak semudah membaca hard drive dan kemudian mereplikasinya, tambahnya.

Mungkinkah Iran melakukannya?

Menurut Brown, Iran cukup menguasai rekayasa ulang dan mereka mempunyai banyak kemampuan tanpa bantuan pihak lain. Namun dengan berbagi platform itu Iran bisa mendapatkan manfaat politik.

“Apa pun mungkin dan secara teoretis Iran dapat meniru cukup banyak dari platform dasar, tapi kontrol dan avionik yang membuatnya dapat digunakan.”

Teknologi pesawat tak berawak sangat penting bagi Iran, Rusia, dan Cina, kata Elizabeth Quintana, seorang peneliti senior di Royal United Services Institute.

“Tapi seberapa besar manfaatnya tergantung pada seberapa utuh pesawat itu, dan apakah dia punya kemampuan merusak dirinya sendiri, atau memiliki mekanisme penonaktifan sendiri. Saya menduga ia memilikinya. Tampaknya itu di satu bagian.”

Jika mampu membukanya, ujarnya, cukup banyak informasi di pesawat itu–bagaimana ia bekerja, bagaimana ia berkomunikasi dengan satelit dan bagaimana Amerika mengoperasikannya. Juga mengidentifikasi material yang memungkinkan pesawat menyerap energi yang dipancarkan–bukan membalikkannya–yang akan sangat berguna.

“Saya tidak tahu tingkat keahlian ilmiah yang ada di Iran. Tapi jika benar Rusia dan Cina telah mengirim delegasi, maka mereka memiliki keahlian itu.”

Anak Indonesia Dari Sekolah Jubilee International School Abu Dhabi Juara Olimpiade Robot Internasional

Prestasi membanggakan berhasil diraih oleh putra-putri Indonesia di Abu Dhabi dalam Kompetisi Rancang Robot di Olimpiade Robot Internasional (WRO) Arabia yang meliputi kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Kompetisi yang diselenggarakan pada 4 Mei 2011 itu diikuti oleh 1.500 pelajar dari negara-negara Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, Oman, dan Mesir, demikian siaran pers Kedubes RI di Abu Dhabi yang diterima ANTARA Sabtu.

Tim dari sekolah Jubilee International School Abu Dhabi, UAE, yang diwakili oleh Sita Ilmidani Taribi (11 tahun), Suta Ilmidani Taribi (11) dan Adinda Naura Salsabila (10) berhasil merebut juara pertama di tingkat Sekolah Dasar.

Mereka adalah putra-putri dari kalangan professional asal Indonesia yang bekerja di industri perminyakan Abu Dhabi.

KBRI Abu Dhabi mencatat terdapat 248 pelajar/mahaiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan dari tingkat dasar hingga master dan doktor di berbagai sekolah/universitas setempat yang memiliki akreditasi internasional.

Para pelajar asal Indonesia tersebut berhasil merebut juara pertama pada jenis Kategori Umum (Regular) dengan merancang dan memprogram sebuah robot dalam jangka waktu tertentu.

Juri menetapkan ketiga anak Indonesia tersebut sebagai pemenang karena robot rancangan mereka berhasil dengan sangat baik melalui serangkaian tugas yang ditentukan panitia, yakni melalui lorong yang berliku-liku dalam waktu sesingkat mungkin dan naik turun tangga di permukaan yang tidak rata.

Menurut Kepala Badan Pendidikan Abu Dhabi (ADEC), Dr Mugheer Al Khaili, pemenang kompetisi WRO Arabia 2011 akan diikutkan dalam kompetisi sejenis tingkat internasional yang akan diselenggarakan pada November 2011 di Abu Dhabi juga. WRO Arabia 2011 yang diselenggarakan oleh Abu Dhabi Education Council (ADEC) mempertandingkan tiga kategori yaitu Regular, Open dan Football category, dengan tiga kelompok umur: Elementary (SD), Junior High (SMP) dan High School (SMA).

Dubes RI M. Wahid Supriyadi dalam sambutannya yang disampaikan di tengah-tengah acara pertemuan masyarakat bersamaan dengan kedatangan Kepala BKPM, Gita Wirjawan, menyatakan kegembiraannya karena hal ini dapat mengangkat nama baik Indonesia di UAE. Indonesia selama ini lebih dikenal sebagai salah satu negara pengirim pembantu terbanyak.

Penelitian Robotik Di Indonesia Hanya Membuat Program Tanpa Membuat Perangkat Keras

Penelitian robotika di Indonesia sebagian besar masih seputar pemrograman dan jarang menyentuh ke penguasaan teknologi perangkat keras. Pendanaan menjadi kendala para peneliti.

Biaya untuk merancang dan menciptakan perangkat keras, menurut Ketua Umum Asosiasi Robotika Indonesia (ARI) Wahidin Wahab, Jumat (25/3) di Jakarta, sangat mahal. ”Kita belum sampai ke situ, tetapi jangan sampai masalah pendanaan membuat kami, peneliti, menjadi pesimistis,” katanya di sela-sela ”Seminar Robot Humanoid Nao” di World Robotic Explorer, Thamrin City, Jakarta.

Ia mengatakan, selama 13 tahun Kementerian Pendidikan Nasional berperan mendorong perkembangan dunia robotika di Indonesia. Tiap tahun, ada lomba robotika antarsekolah atau siswa sehingga mendorong generasi muda untuk menekuni.

Pengajar di Universitas Indonesia ini menjelaskan, kualitas anak-anak dan mahasiswa Indonesia di bidang robotika membanggakan. ”Anak-anak sering meraih medali saat lomba. Namun dari sisi pembuatan robot dan penguasaan teknologi harus diakui kita tertinggal jauh di kancah internasional,” katanya.

Umumnya, para peserta lomba membeli robot yang komponennya diimpor dan merakit robot untuk diisi program sendiri. Hal ini juga terjadi di kampusnya. Penelitian sebagian besar masih seputar algoritma dan pendeteksian. Teknologi seperti penguasaan sensor, elektronika, dan desain belum didalami karena biayanya puluhan juta rupiah.

Pebisnis robotika dan pendiri World Robotic Explorer (WRE), Jully Tjindrawan, mengatakan, teknologi robotika di Indonesia tertinggal 20-30 tahun dibandingkan negara maju. Ia berharap kehadiran WRE menjadi solusi keterbatasan laboratorium dan peralatan yang menjadi kendala peneliti. WRE diklaim sebagai rumah robot pertama di Asia Tenggara. WRE mendatangkan robot humanoid bernama Nao, asal Perancis. Robot yang diproduksi perusahaan Aldebaran tahun 2005 itu telah terjual 1.000 unit di 30 negara.

UGM Temukan Alat Mekanik Pembunuh Jentik Nyamuk Dalam Bak Mandi

Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menciptakan alat isap jentik nyamuk elektrik mekanik sederhana yang diberi nama Gama Kuras.

“Gama Kuras adalah alat untuk membersihkan jentik nyamuk di bak mandi atau bak penampungan air tanpa menguras atau membuang air yang ada di bak,” kata Ketua Tim Pencipta Gama Kuras, Tri Baskoro Unggul Saptoto di Yogyakarta, Jumat.

Alat itu, menurut dia dapat digerakkan mengikuti sasaran jentik nyamuk yang akan dituju. Alat ini tanpa menggunakan bahan kimia racun pembunuh jentik nyamuk.

Ia mengatakan keunggulan Gama Kuras antara lain sebagai alat isap elektrik mekanik dengan sistem resirkulasi air yang mampu menangkap 50 jentik nyamuk dalam waktu 140 detik.

“Dengan demikian, masyarakat tidak perlu lagi membuang air dengan sia-sia saat menguras bak untuk membersihkan jentik nyamuk,” kata Ketua Minat Entomologi Kedokteran Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran UGM ini.

Menurut dia, pembuatan prototipe Gama Kuras sangat sederhana. Alat itu menggunakan pompa aerator dengan daya isap maksimum, dan dihubungkan dengan sebuah botol plastik berlubang kecil pada dindingnya dengan dibalut kain yang berfungsi sebagai penyaring (filter).

“Jentik yang terisap kemudian akan masuk ke perangkap saringan, sedangkan air akan kembali ke bak penampungan, sehingga tidak ada air yang terbuang. Semua komponen lokal tersebut disatukan di sebuah pipa pralon yang berfungsi sebagai pegangan,” katanya.

Ia mengatakan pihaknya berharap ada mitra usaha yang bisa bekerja sama untuk menyederhanakan bentuk dan memproduksi alat tersebut.

Dengan demikian, menurut dia, alat itu dapat diproduksi dalam jumlah banyak, guna menekan penyebaran nyamuk aedes aegypti penyebab demam berdarah dengue.

“Penggunaan alat ini merupakan cara yang efektif untuk menghentikan penyebaran penyakit demam berdarah dengue, karena membersihkan jentik nyamuk di tempat apa pun merupakan cara paling jitu dalam menurunkan populasi nyamuk penular penyakit itu,” katanya.

Penemunan Ajaib Siswa SMP dan SMA Dalam NYIA 2010 Pantas Untuk Di Paten Kan

Temuan para siswa SMP dan SMA/SMK finalis Penghargaan Penemu Muda Nasional Ke-3 Tahun 2010 layak untuk dipatenkan. Meski masih memerlukan penyempurnaan agar dapat digunakan lebih baik, temuan tersebut bisa menjadi incaran industri.

Hal itu diungkapkan Ketua Dewan Juri Penghargaan Penemu Muda Nasional (National Young Inventor Awards/NYIA) 2010 yang juga peneliti Pusat Inovasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Subiyatno, di Jakarta, Kamis (21/10). Temuan mereka umumnya masih bersifat penyelesaian teoretis sehingga untuk bisa diaplikasikan, apalagi dikomersialkan, perlu penyempurnaan lebih lanjut.

Secara kualitas, temuan pelajar SMP-SMA/SMK Indonesia yang umumnya bersifat mekanik itu tidak kalah dengan penemuan sejenis yang dilakukan anak-anak SMA di negara-negara ASEAN. Namun, jika dibandingkan dengan temuan pelajar Jepang atau Taiwan, kondisinya berbeda karena temuan mereka sebagian besar sudah bersifat digital dan robotik.

”Temuan pelajar Indonesia memiliki keunikan, yaitu berakar pada persoalan sehari-hari dan budaya Indonesia. Sifatnya yang mekanik juga membuat temuan mereka mudah digunakan masyarakat Indonesia yang kurang terbiasa dengan peralatan yang bersifat robotik,” katanya.

NYIA 2010 diikuti 154 peserta, baik kelompok maupun individu, yang mewakili sejumlah SMP dan SMA di 12 provinsi. Sebaran asal peserta untuk perlombaan tahun ini dianggap lebih baik dengan semakin banyaknya peserta dari Indonesia timur.

”Keikutsertaan siswa SMK masih sangat kurang. Padahal, seharusnya lebih banyak siswa SMK yang ikut karena pelajaran mereka lebih aplikatif,” ujarnya.

Untuk finalis lomba yang dipilih sebanyak 15 peserta, dominasi siswa dari Jawa dan Sumatera masih cukup tinggi. Demikian pula untuk pemenang lomba yang akan diikutkan dalam Pameran Internasional Penemu Muda di Vietnam, Desember nanti.

Diraih Yogyakarta

Juara pertama NYIA 2010 diraih tim SMAN 1 Yogyakarta yang beranggotakan Ikhsan Brilianto, Andreas Diga, dan Ahmed Reza. Mereka menemukan plasmurator atau plasma-generator untuk meminimalkan emisi kendaraan bermotor. Alat yang dibuat dari kaleng bekas dan hanya memerlukan biaya Rp 20.000 ini terbukti mampu mengurangi kadar karbon dioksida yang keluar dari knalpot kendaraan bermotor hingga 25,76 persen dan meningkatkan jumlah oksigen hingga 4,76 persen.

Pemenang kedua diperoleh tim SMA Plus Negeri 17 Palembang yang beranggotakan Eddy Yuristo, Reijefki Irlastua, dan Priyanka dengan temuan berupa alat semprot herbisida untuk menahan pertumbuhan gulma di perkebunan yang jauh lebih ekonomis dibandingkan teknik yang sudah ada. Sedangkan juara ketiga dianugerahkan kepada tim SMA Negeri 6 Yogyakarta yang terdiri atas Erlinda Nurul Kusuma, Maria Fransisca Simbolon, dan Delphine Yustica Ratnasari dengan temuan pot tanah yang langsung mengandung pupuk organik sehingga membuat tanaman tidak perlu diberi pupuk lagi.

Selain ketiga pemenang itu, tim juri yang beranggotakan peneliti dari sejumlah lembaga penelitian dan perguruan tinggi itu juga memberikan kesempatan kepada dua tim lain untuk diberangkatkan ke Vietnam. Mereka adalah tim SMA Stella Duce I, Yogyakarta, yang menemukan kuas cat tembok yang dilengkapi sekaligus dengan penampung catnya dan tim SMAN 3 Padang dengan temuan berupa penggabungan sikat gigi dan pasta gigi dalam satu benda.

Kepala LIPI Lukman Hakim mengatakan, lomba ini dapat menjadi ajang pembelajaran bagi para siswa SMP/SMA/SMK untuk mengenal dan mengetahui perkembangan penelitian yang dilakukan siswa di daerah lain.