Category Archives: Resep Obat

Ditemukan Protein Sintesis Untuk Mencegah Penyakit Flu


Peneliti di San Diego State University menemukan cara untuk membantu sistem kekebalan tubuh mengatasi gangguan flu sebelum virus ini menjadi parah dan membuat orang sakit.

Studi terbaru ini dipublikasikan di jurnal ilmiah PLoS ONE, 6 Juli lalu. Menurut para peneliti, sebuah protein sintetis, EP67, didapati mampu mengaktifkan sistem kekebalan dalam dua jam.

Joy Phillips, peneliti yang menjadi pimpinan penulis dalam studi ini menjelaskan, protein EP67 telah digunakan sebagai acuan bagi vaksin flu. Namun, berdasarkan studi yang mereka lakukan, terlihat potensi untuk mengembangkan EP67 untuk bekerja secara mandiri.

“EP67 bekerja bukannya untuk mematikan virus, melainkan terhadap fungsi sistem imun sendiri. Studi kami menunjukkan bahwa dengan ‘mengenalkan’ EP67 ke dalam tubuh 24 jam dari saat terpapar virus flu menyebabkan sistem imun bereaksi cepat. Dan hasilnya, tubuh kembali normal,” kata Phillips.

Ia menambahkan, virus flu adalah virus yang tidak terdeteksi sampai beberapa hari hingga tubuh sudah terpapar gejala-gejalanya. Oleh sebab itu, EP67 yang mengaktifkan sistem imun amatlah potensial sebagai terapi saat seseorang yang terpapar virus flu, yang tidak dapat dihindari, tetapi berupaya mencegah penyakit tersebut sampai melemahkan tubuh.

Meski studi kali ini berfokus pada penyakit flu, ujar Phillips lagi, EP67 pun kemungkinan dapat menjadi terapi pengobatan untuk berbagai penyakit infeksi pernapasan dan penyakit infeksi lainnya. Studi ini juga mempunyai implikasi bagi dunia kedokteran hewan, karena EP67 merupakan protein yang aktif di sejumlah hewan termasuk burung.

Rumput Laut Indonesia Ampuh Membunuh Tumor


Spesies ganggang coklat yang hidup di Indonesia memiliki potensi untuk mengobati kanker.

Demikian hasil bioprospeksi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi (BBRP2B) Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) baru-baru ini.

Jenis ganggang coklat yang berpotensi mengobat kanker tersebut adalah Turbinaria decurrens. Lewat pengujian, peneliti dari kedua lembaga tersebut mengetahui bahwa Turbinaria decurrens mampu membunuh sel tumor mulut rahim.

Laporan bahwa golongan ganggang atau rumput laut bisa mengobati ini sel kanker bukan pertama kalinya. Sebelumnya, ganggang merah jenis Rhodymenia palmata dan ganggang hijau jenis Ulva fasciata juga dilaporkan bisa membunuh sel tumor payudara.

“Rumput laut kaya akan senyawa flavonoids yang banyak dilaporkan mempunyai efek sebagai antitumor,” kata Nurrahmi Dewi Fajarningsih, salah satu peneliti yang terlibat riset ini.

Adanya fakta ini menunjukkan bahwa ganggang kaya manfaat. Pemanfaatannya kini harus diperluas, tak sebatas sebagai sumber karigin saja. Indonesia bisa mengelola ganggang sebagai sumber daya alam hayati bahan baku obat-obatan.

“Kalau kita berhasil menciptakan industri obat-obatan berbasis rumput laut, hasilnya bisa 5-6 kali lebih besar daripada nilai hasil budidaya ikan di Indonesia setahun,” Kepala Badan Litbang Kementerian Kelautan dan Perikanan, Rizald M. Rompas.

10 Langkah dan Cara Menanggulangi Serangan dan Sembuhkan Gigitan Serangga Tomcat


Apabila tomcat menyerang Anda, Profesor Dokter Tjandra Yoga Aditama, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, memberikan tip sebagai berikut.

  1. Apabila Anda menemukan serangan ini jangan dipencet supaya racun tidak mengenai kulit. Masukkan serangga ini ke dalam plastik dengan hati-hati dan buang ke tempat yang aman.
  2. Hindari terkena kumbang ini pada kulit terrbuka.
  3. Usahakan pintu selalu tertutup dan bila ada jendela sebaiknya diberi kawat nyamuk untuk mencegah kumbang ini masuk ke dalam rumah.
  4. Sebaiknya tidur menggunakan kelambu jika memang di daerah yang Anda tinggali sedang dilanda serangan kumbang ini.
  5. Bila mendapati serangga ini dalam jumlah yang banyak sebaiknya pada setiap lampu perlu diberi pelindung untuk mencegah kumbang ini jatuh ke manusia.
  6. Apabila kumbang ini mengenai kulit, usahakan supaya Anda tidak menggosok kulit atau bagian mata.
  7. Bila kumbang ini berada di kulit, singkirkan dengan hati-hati-hati, dengan meniup atau menggunakan kertas untuk mengambil kumbang dengan hati-hati.
  8. Lakukan inspeksi ke dinding dan langit-langit dekat lampu sebelum tidur. Bila Anda menemukan kumbang ini segera matikan dengan menyemprotkan racun serangga, lalu singkirkan tanpa menyentuhnya.
  9. Segera beri air mengalir dan sabuni kulit Anda yang bersentuhan dengan serangga ini.
  10. Bersihkan lingkungan rumah, terutama tanaman yang tidak terawat yang ada di sekitar rumah yang bisa menjadi tempat atau sarang hidup kumbang ini.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Profesor Dokter Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan tentang gejala klinis serangan tomcat. Antara lain, kulit yang terkena biasanya di daerah kulit yang terbuka dalam waktu singkat yang akan terasa panas. Kemudian setelah 24 sampai 48 jam akan muncul gelembung pada kulit dan sekitarnya berwarna merah menyerupai lesi akibat terkena air panas atau luka bakar.

Pada kasus yang jarang terjadi tidak menimbulkan gejala kulit yang berarti. Perlu dipastikan bila tidak ada riwayat terkena bahan kimia atau luka bakar. Kemudian lesi pada mata menyebabkan conjunctivitis atau biasa disebut Naerobi Eye.

Untuk pengobatan, Tjandra menyarankan apabila menemukan serangga ini sebaiknya jangan dipencet agar racunnya tidak mengenai kulit. Kemudian masukkan ke plastik dengan hati-hati lalu buang ke tempat yang aman. Segera beri air mengalir dan sabun pada kulit yang bersentuhan dengan serangga ini.

Tjandra juga mengatakan demi memastikan serangga ini tidak ada lagi, untuk mencegah bertambahnya lesi di kulit, kompres kulit dengan cairan antiseptik dingin. Apabila sudah timbul lesi seperti luka bakar, untuk pengobatan lanjutan sebaiknya periksa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.

Pakar serangga dari Institut Pertanian Bogor Aunu Rauf mengatakan kalau Tomcat menempel di tubuh manusia, mengusirnya cukup ditiup saja. Ia menyarankan tidak ada kontak fisik atau menggosok Tomcat dengan tangan. Sebab, cairan racun serangga asli Indonesia ini justru keluar kala Tomcat merasa terancam.

“Kalau terlanjur terkena cairannya, segera basuh dengan air bersih dan sabun. Efek racun Tomcat bisa sembuh sendiri dalam waktu satu minggu,” kata Aunu di Bogor Selasa 20 Maret 2012.

Racun serangga Tomcat memang lebih dahsyat 15 kali lipat dibandingkan bisa ular kobra. Namun masyarakat tidak perlu khawatir, karena serangga ini mengeluarkan cairan “payderin” hanya jika merasa terganggu.

“Memang berdasarkan literatur racunnya lebih kuat dibanding racun kobra. Tapi masyarakat jangan khawatir sama Tomcat,” kata Aunu.

Menurut Aunu, habitat asli Tomcat berada di daerah lembab dan di bawah permukaan tanah, terutama sawah. Sebenarnya Tomcat adalah sahabat para petani. “Tomcat adalah predator hama wereng cokelat. Keberadaannya justru membantu petani dalam mengusir hama pengganggu tanaman. Asal jangan diganggu, Tomcat tidak berbahaya,” kata Aunu.

Lalu apa alasan Tomcat bisa hijrah dari lahan pertanian ke sebuah apartemen Surabaya? Aunu menduga habitat serangga ini berada di lahan apartemen. Tomcat menyukai cahaya.

“Kemungkinan Tomcat terbang ke apartemen karena banyak cahaya lampu. Tapi saya belum ke lapangan, jadi belum tahu penyebab pastinya,” kata Aunu.

Peneliti Universitas Cornell Australia Temukan Obat Kanker Yang Khusus Menyerang Sel Kanker dan Tidak Merusah Sel Lain


Para peneliti dari Universitas Cornell, Australia, menguji coba pengobatan pasien leukimia menggunakan obat anti-kanker yang dirancang khusus hanya untuk menyerang sel-sel kanker. Beda dengan obat kanker yang ada sebelumnya, obat baru ini tidak akan mempengaruhi sel-sel tubuh yang sehat.

Obat bernama KB004 ini merupakan semacam antibodi terapik yang dirancang untuk membidik dan menghancurkan sel-sel kanker pada penyakit kanker darah dan tumor ganas. KB004 adalah hasil penelitian yang dipimpin Profesor Martin Lackmann dari Departemen Biokimia dan Biologi Molekuler Universitas Cornell.

Uji coba perdana obat KB004 disponsori perusahaan Amerika Serikat, KaloBios Pharmaceuticals. Percobaan dimulai di Rumah Sakit Alfred pada pekan-pekan awal di tahun ini. Negeri Abang Sam terlibat dalam uji coba obat ini sejak tahun lalu.

Lackmann bersama sejawatnya, termasuk Profesor Andrew Boyd dari Institut Riset Medis Queensland dan Profesor Andrew Scott dari Institut Riset Kanker Ludwig, mengembangkan versi awal dari antibodi yang kelak dikembangkan menjadi KB004.

“Kami sangat senang melihat perkembangan KB004 di dunia klinik, khususnya menjadi bagian dari sejumlah percobaan yang memungkinkan kita mengobati penderita leukemia di Rumah Sakit Alfred,” kata Lackmann.

Andrew Wei dari Pusat Penyakit Darah Australia di Universitas Monash menjadi pemimpin tim medis dalam percobaan klinik di RS Alfred. Ia bekerja sama dengan dokter yang berbasis di MD Anderson and Moffitt Cancer Centres di Amerika Serikat.

“Target yang disasar KB004 diyakini hanya pada sel kanker dan sel-sel dalam jaringan kanker yang menjaga sel-sel kanker hidup. Ini berarti KB004 hanya langsung mempengaruhi sel-sel ganas, sedangkan sel darah normal tetap aman, tidak seperti kemoterapi yang memiliki efek samping yang parah,” kata Wei.

KB004 adalah hasil rekayasa tim ilmuwan di KaloBios Pharmaceuticals di San Francisco Selatan, menggunakan teknologi khusus untuk mengembangkan penelitian sebelumnya oleh Lackmann menjadi obat dengan fungsi terapi yang ditingkatkan.

Kepala Penelitian KaloBios Pharmaceuticals, Geoffrey Yarranton, mengatakan keunggulan KB004 adalah kekhususannya sebagai antibodi untuk sel-sel kanker dikombinasikan dengan potensi yang sangat rendah bagi tubuh untuk bereaksi.

“Pengalaman kami sampai saat ini menunjukkan bahwa KB004 hanya dapat menarget sel-sel kanker, tetapi tidak pada sel-sel darah putih yang sehat. Ini menjadi keunggulan yang membedakannya dari banyak obat kanker lainnya,” kata Yarranton.

Uji coba pengobatan sampai hari ini masih diterapkan pada penderita kanker darah seperti leukemia akut dan kronis, sindrom myelodysplastic, penyakit myeloproliferative, dan multiple myeloma. Namun protein yang disasar KB004 ternyata juga dijumpai pada tumor padat, yang berarti antibodi tersebut dapat efektif terhadap berbagai kanker.

“Kami percaya antibodi ini memiliki potensi untuk memberikan manfaat signifikan bagi berbagai pasien dengan kanker darah atau tumor padat, mengingat potensi untuk menyerang berbagai jenis sel kanker,” kata Lackmann menandaskan.

Kulit Siap Pakai Untuk Penderita Luka Bakar Tingkat Lanjut Ditemukan Oleh Ilmuwan Prancis Lewat Stem Cell


Luka bakar adalah salah satu bentuk luka trauma yang paling kompleks. Rusaknya lapisan pelindung terluar tubuh ini membuat pasien rentan terhadap infeksi, bahkan tak jarang mengakibatkan kematian pada pasien dengan kondisi luka bakar tingkat lanjut.

Namun, tak lama lagi luka bakar yang parah pun memiliki peluang besar untuk pulih seperti sedia kala karena sejumlah ilmuwan Prancis menemukan cara menciptakan kulit manusia dalam waktu singkat dari sel punca. Penemuan yang dipublikasikan dalam jurnal Lancet pada akhir November lalu itu dapat menyelamatkan nyawa korban luka bakar yang rentan terhadap infeksi dan harus menunggu waktu berminggu-minggu untuk memperoleh transplantasi kulit.

Para ilmuwan melakukan terobosan tersebut dengan mencangkokkan sepetak kulit manusia pada punggung seekor tikus dengan menggunakan sel punca, sel istimewa yang mempunyai kemampuan berkembang menjadi sel tubuh apa pun.

Transplantasi kulit sebenarnya bisa dibuat secara tradisional dengan menumbuhkan kultur sel keratinosit pasien itu sendiri. Terapi sel semacam ini memang telah mengubah kehidupan korban luka bakar serius secara radikal. Selama lebih dari dua dekade, dokter menggunakan teknik kultur sel untuk memperoleh lapisan kulit yang cukup luas untuk merekonstruksi epidermis yang rusak dari contoh lapisan kulit pasien.

Meskipun tipe pencangkokan kulit ini terbilang sukses, cara itu kurang efektif. Proses tersebut memerlukan waktu sedikitnya tiga pekan, terlalu lama bagi pasien luka bakar tingkat lanjut yang amat parah.

Dalam interval waktu itu, pasien tak terlindung dari risiko infeksi. Selama bertahun-tahun, para ilmuwan berlomba mengembangkan kulit pengganti yang dapat menolong melindungi pasien selama periode tersebut. Sayangnya, teknik ini belum mampu mengeliminasi risiko penolakan sistem imun dan penularan penyakit.

Metode baru yang menggunakan sel punca ini memungkinkan rumah sakit memesan kulit manusia siap pakai begitu memiliki pasien luka bakar. Metode ini dianggap sebagai solusi ideal karena memasok jumlah sel pembentuk epidermis (lapisan terluar kulit) yang tak terbatas dan tersedia dalam waktu singkat. Epidermis dari sel punca ini juga terkontrol dengan sempurna di laboratorium sebelum digunakan.

“Temuan kami ini menyediakan cara untuk menutup daerah kulit yang terbakar selama tiga pekan itu dengan epidermis kulit, yang diproduksi di dalam pabrik dan dikirimkan ke dokter atau rumah sakit begitu mereka menerima pasien dengan luka bakar yang amat parah,” kata Marc Peschanski, Direktur Riset Institut for Stem Cell Therapy and Exploration of Monogenic Diseases (I-Stem), Paris, Prancis. “Mereka cukup menelepon pabrik dan dengan segera mereka akan memperoleh 1 meter persegi epidermis sebagai kulit pengganti temporer untuk menutup luka bakar itu.”

Tujuan penelitian yang dilakukan I-Stem adalah menyediakan sumber daya sel yang tak terbatas sebagai pengobatan alternatif bagi korban luka bakar tingkat tiga dan pasien yang menderita penyakit kulit genetik.

Untuk menghasilkan epidermis utuh itu, tim ilmuwan I-Stem menggunakan sel punca embrionik manusia. Sel ini digunakan karena memiliki dua karakteristik fundamental, yaitu kapasitas untuk berproliferasi atau memperbanyak diri secara tak terbatas dan pluripotensi–kemampuan berdiferensiasi menjadi segala tipe sel tubuh.

Sasaran pertama mereka adalah membuat sel punca kulit atau keratinosit yang serupa dengan keratinosit alami dalam epidermis kulit dari sel punca embrionik. Keratinosit memungkinkan kulit diperbarui secara konstan.

Setelah memperoleh keratinosit dari sel punca, para ilmuwan menyusun strategi untuk mengisolasi sel punca keratinosit untuk mengetes kemampuannya menyusun kembali epidermis fungsional. Pada tahap awal, mereka mencobanya secara in-vitro, kemudian in-vivo atau jaringan hidup. “Sel inilah yang kami cari karena mereka adalah satu-satunya sel yang mampu menciptakan kembali seluruh lapisan epidermis manusia,” kata Christine Baldeschi, Ketua Tim Genodermatosis I-Stem.

Transformasi sel punca menjadi sel epidermis dapat berlangsung berkat kombinasi pendekatan biologi sel dan farmakologi. Para ilmuwan menciptakan sebuah “niche” di sekitar sel punca untuk memandu mereka menjadi sel epidermis dan agen farmakologi yang tepat kemudian ditambahkan ke dalam media kultur.

Baldeschi dan timnya, yang beranggotakan 28 orang, memutuskan memelihara perlakuan ini selama 40 hari, waktu yang normalnya dibutuhkan janin untuk membentuk epidermisnya. Dengan menerapkan konsep tersebut, sel punca embrionik itu akhirnya berdiferensiasi menjadi epitelium dan akhirnya membentuk keratinosit. Populasi sel yang menunjukkan seluruh penanda karakteristik keratinosit dewasa itu kemudian diisolasi dan diperbanyak. Para ilmuwan I-Stem yakin perlakuan selama 40 hari inilah yang menjadi kunci sukses mereka, sementara tim lain gagal.

Tingkat keberhasilan epidermis dari sel punca itu menutup luka bakar sudah terbukti ketika diuji coba pada tikus. “Kami mencangkokkan sel pada punggung seekor tikus yang terluka, dan hasil pantauan 12 pekan kemudian memperlihatkan bahwa epidermis kulit yang luka telah memperbaiki dirinya sendiri,” kata Xavier Nissan, peneliti yang terlibat dalam riset I-STEM, khususnya studi pengembangan terapi regenerasi menggunakan sel punca.

Pengujian terhadap makhluk hidup dilakukan I-Stem dengan menggandeng sebuah tim riset Spanyol yang menguasai teknik pencangkokan pada binatang dengan sistem imun yang dilemahkan untuk mengatasi kemungkinan timbulnya penolakan terhadap transplantasi. Dalam waktu 12 pekan, area pencangkokan pada punggung tikus memperlihatkan epidermis manusia dewasa yang normal dan fungsional. “Dalam riset selanjutnya, kami akan menerapkannya pada manusia,” kata Baldeschi.

Di Prancis, 200 hingga 300 orang mengalami risiko kematian akibat luka bakar tingkat lanjut setiap tahun, kata Peschanski. Dia berharap metode baru ini akan menjadi perangkat pengobatan umum di kemudian hari. “Ini benar-benar sebuah harapan baru bagi mereka, dan sesungguhnya, siapa pun di antara kita dapat menjadi korban luka bakar tingkat lanjut,” ujarnya.

Industri Vaksin China Kian Aman dan Tangguh Serta Murah


Siapa yang tak kenal barang-barang buatan China? Aneka produk dari negeri “Tirai Bambu” itu dalam beberapa tahun terakhir ini “membanjiri” pasar dunia, mulai dari mainan anak-anak hingga persenjataan berteknologi tinggi, bahkan pesawat terbang.

Bukan hanya itu. Sebagaimana diberitakan media massa belum lama berselang, China (Tiongkok) dalam waktu dekat siap mengekspor vaksin dengan motto “vaksin murah”. Industri vaksin dunia memang semakin menggiurkan dan menarik negara-negara yang baru masuk, termasuk China.

Baru-baru ini, dalam acara Pacific Health Summit di Seattle, Amerika Serikat, delegasi China menyampaikan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) China telah mendapatkan prakualifikasi (pengakuan) dari Badan Keseharan Dunia (WHO) serta menyebutkan kesiapan industri vaksinnya untuk memasuki pasar global dalam tiga tahun mendatang.

Oleh karena itu dalam tiga tahun ke depan persaingan bisnis vaksin dunia akan mengalami perubahan, dan tentunya harus diantisipasi, khususnya oleh produsen vaksin PT Bio Farma (Persero) yang merupakan salah satu BUMN kebanggaan nasional.

Sejauh ini, terkait dengan vaksin yang diakui WHO, negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim mengeluhkan sulitnya mendapat pengakuan atau prakualifikasi dari WHO atas produk vaksin mereka.

Dari 23 negara penghasil vaksin yang mayoritas berpenduduk Muslim, baru Indonesia (dalam hal ini Bio Farma) yang mendapatkan berbagai sertifikat prakualifikasi untuk produk vaksin, yakni untuk vaksin Polio dan Campak serta vaksin Td.

WHO menetapkan, vaksin yang akan diproses untuk mendapatkan prakualifikasi harus memenuhi persyaratan badan regulasi nasional.

National Regulatory Authority (NRA) itu ada di masing-masing negara pembuat vaksin. Khusus untuk Indonesia, misalnya, perlu memenuhi persyaratan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Sementara itu pertemuan ke-64 World Health Assembly (Majelis Kesehatan Dunia) yang diselenggarakan WHO pada April 2011, antara lain menetapkan “Dekade vaksin untuk seluruh negara di dunia tahun 2011-2020″. Arahan WHO itu semakin memperkuat arti pentingnya vaksin bagi kesehatan masyarakat internasional.

Arahan tersebut sangat strategis mengingat vaksinasi merupakan salah satu upaya penting dalam pembangunan kesehatan masyarakat, terutama dalam hal pencegahan infeksi dari berbagai penyakit khususnya pada balita seperti Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, dan campak.

Selain itu, vaksin merupakan salah satu instrumen penting dalam pencapaian Millenium Development Goals (MDGs), terutama goal (tujuan) yang ke-4, yakni menurunkan tingkat kematian balita hingga dua-pertiga dalam periode 1990-2015.

Dengan demikian, semakin jelas bahwa upaya yang berkelanjutan dalam pengembangan vaksin-vaksin baru atau improvement (perbaikan) dari vaksin yang sudah ada memang sangat diperlukan oleh penduduk dunia.

Strategi Kemitraan
Dalam Dekade Vaksin 2011-2020 antara lain juga disebutkan bahwa pelayanan imunisasi pada dekade ini adalah “Meningkatkan kesadaran pentingnya imunisasi sebagai hak asasi manusia serta pemerataan imunisasi untuk
seluruh masyarakat dari segala usia”.

Dalam upaya mendukung arahan tersebut, Bio Farma bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan menyelenggarakan Simposium Riset Vaksin Nasional dengan tema “Harmonisasi Riset Vaksin Nasional dalam Menyongsong Dekade Vaksin tahun 2011-2020″ pada 26 – 27 Juli 2011 di Jakarta.

Kepala Bagian Humas Bio Farma, Neneng Nurlaela baru-baru ini kepada ANTARA di Jakarta menjelaskan, simposium riset vaksin tersebut dilaksanakan sebagai langkah awal menuju Dekade Vaksin tahun 2011-2020 yang telah direkomendasikan WHO.

Simposium dalam rangkaian kegiatan peringatan hari ulang tahun (HUT) Bio Farma ke-121 itu juga diselenggarakan dalam kaitan dengan program Millenium Development Goal’s (MDG’s) bidang kesehatan.

Tujuannya adalah menjalin komunikasi antara akademisi, kalangan bisnis dan pemerintah serta membangun komitmen bersama dalam hal kemandirian riset vaksin nasional. Tujuan lain adalah membentuk forum riset vaksin nasional dan menyusun roadmap riset vaksin nasional.

Pembicara pada simposium itu antara lain Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi Litbangkes Kementrian Kesehatan Ondri Dwi Sampurno, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Dr Fasli Jalal, Anggota Komisi IX DPR Prof Dr Hj. A. Dinajani H Mahdi, dan Dirut Bio Farma Iskandar.

Selain itu juga diadakan Round Table Discussion yang membahas pengembangan riset vaksin khususnya yang dibutuhkan oleh Indonesia seperti Rotavirus, Tuberkulosis, Malaria, dan HIV serta kebijakan riset vaksin nasional dan regulasi plus pendanaannya.

Bio Farma yang pada 6 Agustus 2011 genap berusia 121 tahun dalam simposium riset vaksin nasional itu juga menandatangani tiga nota kesefahaman (MoU), masing-masing dengan Universitas Brawijaya Malang, Universitas Indonesia, dan Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani).

Pada akhir tahun depan Bio Farma juga akan melaunching produk baru, yakni vaksin pentavalent (vaksin yang memberikan kekebalan tubuh bagi bayi/anak) yang terdiri dari lima antigen (zat yang merangsang respon imun) sekaligus, yakni Difteri, Tetanus, Pertusis, Hepatitis B dan HIB.

Terkait dengan makin dibutuhkannya vaksin oleh masyarakat dunia serta meningkatnya persaingan industri vaksin sehubungan dengan kesiapan China mengekspor vaksin dengan harga murah, Dirut Bio Farma Iskandar baru-baru
ini kepada ANTARA di Jakarta menjelaskan bahwa pihaknya akan berupaya mengubah persaingan atau ancaman menjadi tantangan dan peluang.

Menurut Iskandar, salah satu upaya yang dipertimbangkan Bio Farma adalah strategi partnership (kemitraan) dengan industri vaksin China serta strategi efisiensi dan efektivitas dalam pembiayaan, sehingga Bio Farma akan tetap bersaing di pasar global, selain juga tetap mengkampanyekan “vaksin aman”.

Bio Farma Selenggarakan Simposium Riset Vaksin Nasional Harmonisasi Riset Vaksin Nasional dalam Menyongsong Dekade Vaksin


PT Bio Farma (Persero) bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Kementerian Kesehatan menyelenggarakan Simposium Riset Vaksin Nasional dengan tema “Harmonisasi Riset Vaksin Nasional dalam Menyongsong Dekade Vaksin tahun 2011-2020″ pada 26 – 27 Juli di Jakarta.

Kepala Bagian Humas Bio Farma, Neneng Nurlaela, kepada ANTARA di Jakarta, Selasa menjelaskan, simposium riset vaksin tersebut dilaksanakan sebagai langkah awal menuju Dasawarsa Vaksin tahun 2011-2020 yang telah direkomendasikan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Simposium dalam rangkaian kegiatan peringatan HUT Bio Farma ke-121 itu juga diselenggarakan dalam kaitan dengan program Millenium Development Goal’s (MDG`s) bidang kesehatan.

Tujuannya adalah menjalin komunikasi antara akademisi, kalangan bisnis dan pemerintah serta membangun komitmen bersama dalam hal kemandirian riset vaksin nasional. Tujuan lain adalah membentuk forum riset vaksin nasional dan menyusun roadmap riset vaksin nasional.

Acara tersebut akan dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan perguruan tinggi, DPR, dan Pemerintah (Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Nasional, dan Kementerian Riset dan Teknologi) serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Komite Inovasi Nasional (KIN), dan jajaran Direksi Bio Farma.

Pada simposium itu akan hadir peneliti dari dalam maupun luar negeri sebagai pembicara, antara lain Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi Litbangkes Kementerian Kesehatan Ondri Dwi Sampurno, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, Anggota Komisi IX DPR Prof Dr Hj. A. Dinajani H Mahdi, dan Dirut Bio Farma Iskandar.

Selain itu juga akan diadakan Round Table Discussion yang membahas pengembangan riset vaksin khususnya yang dibutuhkan oleh Indonesia seperti Rotavirus, Tuberkulosis, Malaria, dan HIV, serta kebijakan riset vaksin nasional dan regulasi plus pendanaannya.

Kabag Humas Bio Farma juga menjelaskan, salah satu tujuan Dekade Vaksin 2011-2020 adalah meningkatkan kesadaran pentingnya imunisasi sebagai hak asasi manusia dan pemerataan imunisasi untuk seluruh masyarakat dari segala usia.

Dalam upaya mendukung tujuan tersebut, Bio Farma juga akan melakukan penandatanganan dua Nota Kesepahaman (MoU), masing-masing dengan Universitas Brawijaya untuk riset vaksin kontrasepsi pria, dan dengan Universitas Jendral Achmad Yani untuk riset vaksin Rabies.

Selain itu juga akan dilakukan penandatanganan perjanjian dengan Universitas Indonesia untuk riset vaksin HPV, HIV, dan AI. Pada akhir tahun depan Bio Farma juga akan meluncurkan produk baru yaitu vaksin pentavalent yang terdiri atas lima antigen sekaligus, terdiri atas Difteri, Tetanus, Pertusis, Hepatitis B dan HIB.

“Dengan diadakannya simposium ini diharapkan Pemerintah dapat memberikan dukungan terhadap kegiatan riset vaksin nasional, selain juga dapat diwujudkannya pemerataan pemberian vaksin sedini mungkin kepada seluruh masyarakat,” kata Kabag Humas Bio Farma