Arsip Kategori: Resep Obat

Industri Vaksin China Kian Aman dan Tangguh Serta Murah

Siapa yang tak kenal barang-barang buatan China? Aneka produk dari negeri “Tirai Bambu” itu dalam beberapa tahun terakhir ini “membanjiri” pasar dunia, mulai dari mainan anak-anak hingga persenjataan berteknologi tinggi, bahkan pesawat terbang.

Bukan hanya itu. Sebagaimana diberitakan media massa belum lama berselang, China (Tiongkok) dalam waktu dekat siap mengekspor vaksin dengan motto “vaksin murah”. Industri vaksin dunia memang semakin menggiurkan dan menarik negara-negara yang baru masuk, termasuk China.

Baru-baru ini, dalam acara Pacific Health Summit di Seattle, Amerika Serikat, delegasi China menyampaikan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) China telah mendapatkan prakualifikasi (pengakuan) dari Badan Keseharan Dunia (WHO) serta menyebutkan kesiapan industri vaksinnya untuk memasuki pasar global dalam tiga tahun mendatang.

Oleh karena itu dalam tiga tahun ke depan persaingan bisnis vaksin dunia akan mengalami perubahan, dan tentunya harus diantisipasi, khususnya oleh produsen vaksin PT Bio Farma (Persero) yang merupakan salah satu BUMN kebanggaan nasional.

Sejauh ini, terkait dengan vaksin yang diakui WHO, negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim mengeluhkan sulitnya mendapat pengakuan atau prakualifikasi dari WHO atas produk vaksin mereka.

Dari 23 negara penghasil vaksin yang mayoritas berpenduduk Muslim, baru Indonesia (dalam hal ini Bio Farma) yang mendapatkan berbagai sertifikat prakualifikasi untuk produk vaksin, yakni untuk vaksin Polio dan Campak serta vaksin Td.

WHO menetapkan, vaksin yang akan diproses untuk mendapatkan prakualifikasi harus memenuhi persyaratan badan regulasi nasional.

National Regulatory Authority (NRA) itu ada di masing-masing negara pembuat vaksin. Khusus untuk Indonesia, misalnya, perlu memenuhi persyaratan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Sementara itu pertemuan ke-64 World Health Assembly (Majelis Kesehatan Dunia) yang diselenggarakan WHO pada April 2011, antara lain menetapkan “Dekade vaksin untuk seluruh negara di dunia tahun 2011-2020″. Arahan WHO itu semakin memperkuat arti pentingnya vaksin bagi kesehatan masyarakat internasional.

Arahan tersebut sangat strategis mengingat vaksinasi merupakan salah satu upaya penting dalam pembangunan kesehatan masyarakat, terutama dalam hal pencegahan infeksi dari berbagai penyakit khususnya pada balita seperti Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, dan campak.

Selain itu, vaksin merupakan salah satu instrumen penting dalam pencapaian Millenium Development Goals (MDGs), terutama goal (tujuan) yang ke-4, yakni menurunkan tingkat kematian balita hingga dua-pertiga dalam periode 1990-2015.

Dengan demikian, semakin jelas bahwa upaya yang berkelanjutan dalam pengembangan vaksin-vaksin baru atau improvement (perbaikan) dari vaksin yang sudah ada memang sangat diperlukan oleh penduduk dunia.

Strategi Kemitraan
Dalam Dekade Vaksin 2011-2020 antara lain juga disebutkan bahwa pelayanan imunisasi pada dekade ini adalah “Meningkatkan kesadaran pentingnya imunisasi sebagai hak asasi manusia serta pemerataan imunisasi untuk
seluruh masyarakat dari segala usia”.

Dalam upaya mendukung arahan tersebut, Bio Farma bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan menyelenggarakan Simposium Riset Vaksin Nasional dengan tema “Harmonisasi Riset Vaksin Nasional dalam Menyongsong Dekade Vaksin tahun 2011-2020″ pada 26 – 27 Juli 2011 di Jakarta.

Kepala Bagian Humas Bio Farma, Neneng Nurlaela baru-baru ini kepada ANTARA di Jakarta menjelaskan, simposium riset vaksin tersebut dilaksanakan sebagai langkah awal menuju Dekade Vaksin tahun 2011-2020 yang telah direkomendasikan WHO.

Simposium dalam rangkaian kegiatan peringatan hari ulang tahun (HUT) Bio Farma ke-121 itu juga diselenggarakan dalam kaitan dengan program Millenium Development Goal’s (MDG’s) bidang kesehatan.

Tujuannya adalah menjalin komunikasi antara akademisi, kalangan bisnis dan pemerintah serta membangun komitmen bersama dalam hal kemandirian riset vaksin nasional. Tujuan lain adalah membentuk forum riset vaksin nasional dan menyusun roadmap riset vaksin nasional.

Pembicara pada simposium itu antara lain Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi Litbangkes Kementrian Kesehatan Ondri Dwi Sampurno, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Dr Fasli Jalal, Anggota Komisi IX DPR Prof Dr Hj. A. Dinajani H Mahdi, dan Dirut Bio Farma Iskandar.

Selain itu juga diadakan Round Table Discussion yang membahas pengembangan riset vaksin khususnya yang dibutuhkan oleh Indonesia seperti Rotavirus, Tuberkulosis, Malaria, dan HIV serta kebijakan riset vaksin nasional dan regulasi plus pendanaannya.

Bio Farma yang pada 6 Agustus 2011 genap berusia 121 tahun dalam simposium riset vaksin nasional itu juga menandatangani tiga nota kesefahaman (MoU), masing-masing dengan Universitas Brawijaya Malang, Universitas Indonesia, dan Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani).

Pada akhir tahun depan Bio Farma juga akan melaunching produk baru, yakni vaksin pentavalent (vaksin yang memberikan kekebalan tubuh bagi bayi/anak) yang terdiri dari lima antigen (zat yang merangsang respon imun) sekaligus, yakni Difteri, Tetanus, Pertusis, Hepatitis B dan HIB.

Terkait dengan makin dibutuhkannya vaksin oleh masyarakat dunia serta meningkatnya persaingan industri vaksin sehubungan dengan kesiapan China mengekspor vaksin dengan harga murah, Dirut Bio Farma Iskandar baru-baru
ini kepada ANTARA di Jakarta menjelaskan bahwa pihaknya akan berupaya mengubah persaingan atau ancaman menjadi tantangan dan peluang.

Menurut Iskandar, salah satu upaya yang dipertimbangkan Bio Farma adalah strategi partnership (kemitraan) dengan industri vaksin China serta strategi efisiensi dan efektivitas dalam pembiayaan, sehingga Bio Farma akan tetap bersaing di pasar global, selain juga tetap mengkampanyekan “vaksin aman”.

Bio Farma Selenggarakan Simposium Riset Vaksin Nasional Harmonisasi Riset Vaksin Nasional dalam Menyongsong Dekade Vaksin

PT Bio Farma (Persero) bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Kementerian Kesehatan menyelenggarakan Simposium Riset Vaksin Nasional dengan tema “Harmonisasi Riset Vaksin Nasional dalam Menyongsong Dekade Vaksin tahun 2011-2020″ pada 26 – 27 Juli di Jakarta.

Kepala Bagian Humas Bio Farma, Neneng Nurlaela, kepada ANTARA di Jakarta, Selasa menjelaskan, simposium riset vaksin tersebut dilaksanakan sebagai langkah awal menuju Dasawarsa Vaksin tahun 2011-2020 yang telah direkomendasikan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Simposium dalam rangkaian kegiatan peringatan HUT Bio Farma ke-121 itu juga diselenggarakan dalam kaitan dengan program Millenium Development Goal’s (MDG`s) bidang kesehatan.

Tujuannya adalah menjalin komunikasi antara akademisi, kalangan bisnis dan pemerintah serta membangun komitmen bersama dalam hal kemandirian riset vaksin nasional. Tujuan lain adalah membentuk forum riset vaksin nasional dan menyusun roadmap riset vaksin nasional.

Acara tersebut akan dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan perguruan tinggi, DPR, dan Pemerintah (Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Nasional, dan Kementerian Riset dan Teknologi) serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Komite Inovasi Nasional (KIN), dan jajaran Direksi Bio Farma.

Pada simposium itu akan hadir peneliti dari dalam maupun luar negeri sebagai pembicara, antara lain Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi Litbangkes Kementerian Kesehatan Ondri Dwi Sampurno, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, Anggota Komisi IX DPR Prof Dr Hj. A. Dinajani H Mahdi, dan Dirut Bio Farma Iskandar.

Selain itu juga akan diadakan Round Table Discussion yang membahas pengembangan riset vaksin khususnya yang dibutuhkan oleh Indonesia seperti Rotavirus, Tuberkulosis, Malaria, dan HIV, serta kebijakan riset vaksin nasional dan regulasi plus pendanaannya.

Kabag Humas Bio Farma juga menjelaskan, salah satu tujuan Dekade Vaksin 2011-2020 adalah meningkatkan kesadaran pentingnya imunisasi sebagai hak asasi manusia dan pemerataan imunisasi untuk seluruh masyarakat dari segala usia.

Dalam upaya mendukung tujuan tersebut, Bio Farma juga akan melakukan penandatanganan dua Nota Kesepahaman (MoU), masing-masing dengan Universitas Brawijaya untuk riset vaksin kontrasepsi pria, dan dengan Universitas Jendral Achmad Yani untuk riset vaksin Rabies.

Selain itu juga akan dilakukan penandatanganan perjanjian dengan Universitas Indonesia untuk riset vaksin HPV, HIV, dan AI. Pada akhir tahun depan Bio Farma juga akan meluncurkan produk baru yaitu vaksin pentavalent yang terdiri atas lima antigen sekaligus, terdiri atas Difteri, Tetanus, Pertusis, Hepatitis B dan HIB.

“Dengan diadakannya simposium ini diharapkan Pemerintah dapat memberikan dukungan terhadap kegiatan riset vaksin nasional, selain juga dapat diwujudkannya pemerataan pemberian vaksin sedini mungkin kepada seluruh masyarakat,” kata Kabag Humas Bio Farma

Kaos Kaki Bekas dan Bau Terbukti Merupakan Obat Nyamuk Malaria Yang Paling Mujarab

Tahukah Anda, ada yang lebih efektif untuk mengusir nyamuk selain obat semprot atau kelambu, yakni kaus kaki bekas. Ya, kaus kaki bekas yang baunya mungkin tak sedap itu sangat disukai nyamuk malaria.

Adalah Dr.Bart Knols, ilmuwan dari Belanda, yang pertama kali mengetahui bahwa nyamuk tertarik pada bau kaki manusia. Ia sengaja berdiri telanjang di dalam kamar gelap untuk mengetahui bagian tubuh mana yang paling disukai nyamuk untuk digigit. Ternyata bagian kaki adalah favorit nyamuk.

Akan tetapi selama 15 tahun, “ilmu” tersebut belum banyak membantu para ilmuwan dalam mencegah gigitan nyamuk, terutama yang bisa menimbulkan penyakit seperti halnya nyamuk malaria.

Kemudian Dr.Fredros Okumu, kepala projek riset dari Tanzania Ifakara Health Institute, menciptakan campuran 8 jenis zat kimia untuk menemukan bau yang paling tepat untuk menarik nyamuk.

Nyamuk-nyamuk yang dipancing dengan bau seperti bau kaus kaki bekas itu kemudian masuk dalam perangkap lalu diberi zat racun. Cara ini cukup efektif untuk membunuh 95 persen nyamuk. Jebakan itu diletakkan di luar ruangan.

“Jebakan dengan bau khas kaki manusia itu menarik nyamuk empat kali lebih banyak,” kata Okumu yang mengerjakan projek ini selama 2 tahun.

Ia menjelaskan penelitian masih akan dilanjutkan untuk mengetahui tempat yang paling cocok untuk meletakkan jebakan. Bila diletakkan terlalu dekat dengan manusia maka ada kemungkinan nyamuk lebih tertarik untuk menggigit manusia, tapi jika jaraknya terlalu jauh jebakannya akan kurang efektif.

Prototipe jebakan yang dibuat Okumu masih cukup mahal karena itu ia berharap ada pabrik yang bisa memproduksi jebakan itu secara mahal sehingga bisa dijangkau masyaraktat luas.

Atas inovasinya ini Okumu yang tahun lalu menerima dana riset 100.000 dollar Amerika mendapat tambahan 775.000 dollar AS dari Yayasan Bill and Melinda Gates untuk melanjutkan projeknya dalam pencegahan penyakit malaria.

Walau pun secara global infeksi penyakit malaria telah berkurang tetapi masih ditemukan 220 juta kasus malaria baru setiap tahunnya. PBB menyebutkan dari jumlah tersebut 800.000 orang meninggal dunia, terbanyak adalah anak-anak.

Kulit Katak Mampu Menjadi Obat Anti Kanker

Peneliti dari Universitas Queens, Belfast, Irlandia Utara, menemukan dua jenis protein di kulit katak, yang berpotensi sebagai obat penyembuh kanker.

“Dua jenis protein yang dapat menghambat pertumbuhan pembuluh darah sekaligus digunakan untuk membunuh sel tumor,” ujar Chris Shaw, pemimpin tim penelitian, hari Selasa (7/6/2011), kepada BBC News.

Menurut Shaw, kebanyakan sel tumor hanya dapat tumbuh sampai ukuran tertentu sebelum sel itu memerlukan pembuluh darah untuk tumbuh ke dalam tumor guna menyalurkan zat makanan dan zat oksigen yang amat penting.

Dalam penelitian, para ilmuwan menangkapi katak-katak dan mengambil protein hasil sekresi pada kulit, kemudian melepaskannya kembali ke alam bebas. Shaw sendiri menyatakan, ia yakin akan alam punya solusi atas berbagai penyakit yang dihadapi manusia, “Tinggal bagaimana menemukannya.”

Penelitian tersebut memperoleh penghargaan untuk penemuan medis dalam Medical Futures Innovation Awards di London baru-baru ini.

Manfaat Buah Sirsak Sebagai Obat Anti Kanker dan Anti Bakteri Terbukti Secara Klinis

BUAH yang di Spanyol dikenal dengan nama graviola atau dengan nama Inggris soursop atau sirsak diakui sebagai pembunuh alami sel kanker yang ajaib dengan 10.000 kali lebih kuat daripada terapi kemo atau chemotherapy.

Tapi kenapa kita tidak tahu?

Karena salah satu perusahaan dunia merahasiakan penemuan riset mengenai hal ini serapat-rapatnya, mereka ingin agar dana riset yang sangat besar telah dikeluarkan, selama bertahun-tahun, dapat kembali lebih dulu plus keuntungan berlimpah dengan cara membuat pohon Graviola Sintetis sebagai bahan baku obat dan obatnya dijual ke pasar Dunia!

Ironis sekali, beberapa orang meninggal sia-sia, mengenaskan, karena keganasan kanker, sedangkan perusahaan raksasa, pembuat obat dengan omzet milyaran dollar menutup rapat-rapat rahasia keajaiban ini.

Khasiat dari buah sirsak ini memberikan efek anti tumor/kanker yang sangat kuat, dan terbukti secara medis menyembuhkan segala jenis kanker.

Selain menyembuhkan kanker, buah sirsak juga berfungsi sebagai anti bakteri, anti jamur (fungi), efektif melawan berbagai jenis parasit/cacing, menurunkan tekanan darah tinggi, depresi, stress, dan menormalkan kembali sistem syaraf yang kurang baik.

Salah satu hal betapa pentingnya keberadaan Health Sciences Institute bagi orang Amerika adalah Institute ini membuka tabir rahasia buah ajaib ini. Riset membuktikan “pohon ajaib” dan buahnya ini berfungsi :

1. Menyerang sel kanker dengan aman dan efektif secara alami, TANPA rasa mual, berat badan turun, rambut rontok, seperti yang terjadi pada terapi kemo.

2. Melindungi sistem kekebalan tubuh dan mencegah dari infeksi yang mematikan.

3. Pasien merasakan lebih kuat, lebih sehat selama proses perawatan / penyembuhan.

4. Energi meningkat dan penampilan fisik pun membaik.

5. Secara efektif memilih target dan membunuh sel jahat dari 12 tipe kanker yang berbeda, diantaranya kanker : Usus Besar, Payu Dara, Prostat, Paru2, dan Pankreas.

6. Daya kerjanya 10.000 kali lebih kuat dalam memperlambat pertumbuhan sel kanker dibandingkan dengan Adriamycin dan Terapi Kemo yang biasa digunakan!

7. Tidak seperti terapi kemo, sari buah ini secara selektif hanya memburu dan membunuh sel-sel jahat dan TIDAK membahayakan/membunuh sel-sel sehat!

Riset telah dilakukan secara ekstensive pada pohon “ajaib” ini,selama bertahun-tahun tapi kenapa kita tidak tahu apa-apa mengenai hal ini? Jawabnya adalah : Begitu mudah kesehatan kita, kehidupan kita, dikendalikan oleh yang memiliki uang dan kekuasaan!

TEGANJAL HAK PATEN

Salah satu perusahaan obat terbesar di Amerika dengan omzet milyaran dollar melakukan riset luar biasa pada pohon Graviola yang tumbuh dihutan Amazon ini.

Ternyata beberapa bagian dari pohon ini : kulit kayu,akar, daun, daging buah dan bijinya, selama berabad-abad menjadi obat bagi suku Indian di Amerika Selatan untuk menyembuhkan : sakit jantung, asma, masalah liver (hati) dan rematik.

Dengan bukti-bukti ilmiah yang minim, perusahaan mengucurkan Dana dan Sumber Daya Manusia yang sangat besar guna melakukan riset dan aneka test. Hasilnya sangat mencengangkan. Graviola secara ilmiah terbukti sebagai mesin pembunuh sel kanker!

Tapi… kisah Graviola hampir berakhir disini. Kenapa?

Dibawah Undang2 Federal, sumber bahan alami untuk obat dilarang / tidak bisa dipatenkan.

Perusahaan menghadapi masalah besar, berusaha sekuat tenaga dengan biaya sangat besar untuk membuat sinthesa/kloning dari Graviola ini agar bisa dipatenkan sehingga dana yang dikeluarkan untuk Riset dan Aneka Test tersebut bisa kembali, dan bahkan meraup keuntungan besar.

Tapi usaha ini tidak berhasil. Graviola tidak bisa dikloning! Perusahaan pun gigit jari setelah mengeluarkan dana milyaran dollar untuk Riset dan Aneka Test.

Ketika mimpi untuk mendapatkan keuntungan besar berangsur memudar, kegiatan riset dan test juga berhenti. Lebih parah lagi, perusahaan menutup proyek ini dan memutuskan untuk TIDAK mempublikasikan hasil riset ini.

Beruntunglah, ada salah seorang ilmuwan dari tim riset tidak tega melihat hal ini terjadi. Dengan mengorbankan karirnya, dia menghubungi sebuah perusahaan yang biasa mengumpulkan bahan-bahan alami dari hutan Amazon untuk pembuatan obat.

Ketika para pakar riset dari Health Sciences Institute mendengar berita keajaiban Graviola, mereka mulai melakukan riset. Hasilnya sangat mengejutkan. Graviola terbukti sebagai pohon pembunuh sel kanker yang efektif.

The National Cancer Institute pun mulai melakukan riset ilmiah yang pertama pada tahun 1976. Hasilnya membuktikan bahwa daun dan batang kayu Graviola mampu menyerang dan menghancurkan sel-sel jahat kanker. Sayangnya hasil ini hanya untuk keperluan intern dan tidak dipublikasikan.

Sejak 1976, Graviola telah terbukti sebagai pembunuh sel kanker yang luar biasa pada uji coba yang dilakukan oleh 20 Laboratorium Independent yang berbeda.

Suatu studi yang dipublikasikan oleh the Journal of Natural Products menyatakan bahwa studi yang dilakukan oleh Catholic University di Korea Selatan, menyebutkan bahwa salah satu unsur kimia yang terkandung di dalam Graviola, mampu memilih, membedakan dan membunuh sel kanker Usus Besar dengan 10.000 kali lebih kuat dibandingkan dengan Adriamycin dan Terapi Kemo! Penemuan yang paling mencolok dari study Catholic University ini adalah: Graviola bisa menyeleksi memillih dan membunuh hanya sel jahat kanker, sedangkan sel yang sehat tidak tersentuh/terganggu.

Graviola tidak seperti terapi kemo yang tidak bisa membedakan sel kanker dan sel sehat, maka sel-sel reproduksi (seperti lambung dan rambut) dibunuh habis oleh Terapi Kemo, sehingga timbul efek negatif : rasa mual dan rambut rontok.

Sebuah studi di Purdue University membuktikan bahwa daun Graviola mampu membunuh sel kanker secara efektif, terutama sel kanker: Prostat, Pankreas, dan Paru-paru.

Setelah selama kurang lebih 7 tahun tidak ada berita mengenai Graviola, akhirnya berita keajaiban ini pecah juga, melalui informasi dari lembaga-lembaga tersebut di atas.

Pasokan terbatas ekstrak Graviola yang dibudidayakan dan dipanen oleh orang-orang pribumi Brazil , kini bisa diperoleh di Amerika.

Daun direbus

Di Indonesia, sirsak sebagai obat alami juga sudah lama dikenal. Dosis yang pernah dicoba para terapis herbal untuk mengatasi pertumbuhan sel kanker adalah 10 helai daun sirsak yang telah hijau tua direbus dengan 3 gelas air (600 cc), dan dibiarkan hingga tersisa satu gelas air (200 cc). Setelah dingin, lalu disaring dan airnya diminum setiap pagi (ada beberapa pasien yang minum pagi-sore).

Efek dari konsumsi rebusan daun sirsak adalah perut terasa hangat atau panas, lalu badan akan berkeringat deras. Perlu dipahami bahwa penggunaan ramuan herbal tidak berkhasiat langsung atau cespleng alias sembuh seketika seperti efek yang ditawarkan obat kimia. Artinya, butuh kedisiplinan untuk minum ramuan selama 3-4 minggu.

Sekarang anda tahu manfaat buah sirsak yang luar biasa ini. Rasanya manis-manis kecut menyegarkan. Buah alami 100% tanpa efek samping apapun. Sebarluaskan kabar baik ini kepada keluarga, saudara, sahabat, dan teman yang anda kasihi.

Madu Efektif Melawan Bakteri Super Yang Tahan Antibiotik

Penelitian terbaru menunjukkan, sejenis madu yang biasa digunakan untuk menyembuhkan luka ternyata berpotensi besar menjadi obat ampuh untuk mengatasi bakteri super yang resisten terhadap antibiotik.

Seperti dilansir Daily Mail, madu jenis manuka dilaporkan efektif membunuh tiga jenis bakteri yang biasa menginfeksi saat tubuh terluka, termasuk antara lain kuman super Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA).

Madu manuka adalah sejenis madu yang diproduksi lebah penghuni pohon manuka di Selandia Baru. Para ahli telah mengenal jenis madu ini sejak lama karena juga sering digunakan dalam produk-produk penyembuh luka modern. Masalahnya, rahasia dari kekuatan madu manuka dalam mengatasi luka masih menjadi misteri.

Tim yang dipimpin Profesor Rose Cooper dari University of Wales Institute Cardiff (UWIC), dalam risetnya, menemukan bahwa madu manuka ternyata mampu mencegah perkembangan bakteri dengan cara yang tidak biasa. Madu ini dapat menghalangi proses ikatan bakteri pada jaringan, tahap yang penting dalam proses infeksi.

“Mencegah ikatan juga dapat menghambat pembentukan biofilm, yang dapat melindungi bakteri dari antibiotik dan membiarkan mereka menimbulkan infeksi secara terus menerus,” ungkap Cooper.

Studi lainnya yang dilakukan Cooper menunjukkan, madu manuka membuat MRSA menjadi lebih sensitif terhadap antibiotik seperti oksasilin atau secara efektif membalikkan resistensi antibiotik.

“Ini mengindikasikan bahwa antibiotika saat ini mungkin akan lebih efektif mengatasi infeksi yang disebabkan bakteri resisten jika dikombinasikan dengan madu manuka,” paparnya.

Menurut Prof Cooper, riset lanjutan bakal dilakukan dengan cara meningkatkan penggunaan madu secara klinis karena para dokter kini tengah dihadapkan pada masalah kian meningkatnya kasus resistensi obat.

“Kami perlu cara yang inovatif dan efektif dalam mengendalikan infeksi yang kemungkinannya takkan berkontribusi pada meningkatnya resistensi antibiotik,” ujar Cooper, yang memublikasikan temuannya dalam konferensi “Society for General Microbiology” di distrik Harrogate, Yorkshire Utara, Inggris.

Slovenia Kembangkan Payudara Buatan dari Jaringan Lemak Perut Tubuh

AHLI bedah di Slovenia berhasil mengembangkan metode baru rekonstruksi payudara bagi pasien kanker, menurut laporan Slovenia Press Agency (STA), Selasa (12/4).

Ahli bedah di Rumah Sakit Pusat Ljubljana ini menggunakan cetakan tiga dimensi untuk membentuk payudara baru dari lemak perut pasien kemudian menanamkan jaringan di area di mana payudara telah diangkat.

Teknik pembuatan cetakan yang dikembangkan Fakultas Teknik Mesin Ljubljana, menggunakan laser untuk membuat cetakan payudara yang sesuai dan sehat.Cetakan itu lalu digunakan untuk membuat cetakan tiga dimensi untuk rekonstruksi.

Ini merupakan metode pertama di dunia untuk membantu pasien perempuan mengatasi rasa malu kehilangan payudara mereka setelah mastektomi. Uros Ahcan, kepala ruang bedah plastik di Rumah Sakit Pusat Ljubljana, mengatakan bahwa rekonstruksi payudara ini dibuat sesimetris mungkin untuk membentuk payudara yang sehat.

Metode rekonstruksi payudara terbaru ini memiliki keunggulan lebih dari implan buatan, karena payudara direkonstruksi dari jaringan adiposa tumbuh dan bisa menyusut seiring dengan penambahan dan penurunan berat badan. Selain itu, jaringan ini memiliki suhu yang sama seperti tubuh kita.

Sejauh ini, Rumah Sakit Pusat Ljubljana telah melakukan delapan operasi rekonstruksi payudara untuk pasien kanker. Semuanya pun dinilai sukses dan rencananya ada sepuluh operasi dalam beberapa minggu mendatang.

Sekitar 1.200 perempuan Slovenia didiagnosis menderita kanker payudara setiap tahunnya. Adapun sekitar 70 persen pasien berharap dapat memiliki rekonstruksi payudara setelah mastektomi.

Pemakaian Antibiotik Tak Rasional Membuat Pandemi Baru Dengan Bakteri Super Kebal

Ketidakrasionalan penggunaan antibiotik mendorong terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik di dunia. Masalah ini menimbulkan ancaman pandemi.

Hal itu mengemuka dalam seminar Antimicrobial Resistance-Containment and Prevention di Jakarta, Kamis (7/4), dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Sedunia. Dalam kesempatan yang sama diluncurkan Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik oleh Kementerian Kesehatan.

Kepala Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Indonesia Khanchit Limpakarnjanarat menyatakan, di dunia lebih dari 50 persen antibiotik tidak layak diresepkan dan sekitar 50 persen pasien tidak mengonsumsi obat secara tepat. Akibatnya, terjadi resistensi bakteri terhadap antibiotik.

Dia mencontohkan, di dunia ada sekitar 180.000 kasus tuberkulosis resisten obat (MDR-TB) per tahun. Selain itu, ada kuman penyebab kolera yang resisten terhadap kotrimoksazol dan tetrasiklin. Di Thailand, 69 persen Streptococcus pneumoniae penyebab infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) resisten terhadap penisilin.

”Resistensi obat dapat mengakibatkan ledakan kasus dan ancaman pandemi. Kuman yang resisten menyebar melintasi batas-batas negara,” kata dia.

Di Indonesia, kesadaran akan penggunaan antibiotik secara rasional minim. Guru Besar Farmakologi dari Universitas Gadjah Mada Iwan Dwiprahasto mengatakan, penggunaan antibiotik tidak rasional dalam kasus ISPA mencapai 94 persen dan diare 87 persen. Sebaliknya, untuk penyakit yang membutuhkan antibiotik justru hanya 20 persen yang mendapatkan antibiotik.

Data tersebut hasil riset yang diselenggarakan di lima provinsi, yakni Kalimantan Timur, Sumatera Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Barat oleh Universitas Gadjah Mada tahun 2004. Iwan menduga, sampai kini tidak banyak perubahan. Hasil penelitian lain yang dilakukan di 56 puskesmas di 3 distrik di Aceh tahun 2010 menunjukkan, 60 persen anak yang tidak membutuhkan diresepkan antibiotik.

Menurut Iwan, ada penggunaan antibiotik lewat pakan untuk unggas sekitar 20-25 persen. Antibiotik itu tersisa dalam telur dan daging sehingga manusia tanpa sadar mengonsumsi.

Untuk mencegah pandemi, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengimbau kerja sama berbagai pihak mulai pengelola fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, hingga masyarakat. Dokter diharapkan rasional dalam meresepkan obat. ”Kalau ada dokter yang melanggar pedoman pemberian antibiotik atau obat keras lain akan diberikan sanksi mulai dari peringatan, sanksi administrasi, hingga pembekuan izin praktik,” kata Endang. Apotek juga diminta tidak sembarangan memberikan antibiotik.

Terbukti Plastik PFC Sebabkan Menopuase Dini

Para ilmuwan mengatakan unsur-unsur kimia yang terdapat dalam berbagai produk yang kita gunakan sehari-hari -mulai dari tempat makan hingga pakaian- mungkin menyebabkan menopause dini pada perempuan.

Berdasarkan Telegraph, penelitian pada 26.000 perempuan, menemukan bahwa mereka yang memiliki level tinggi PFC (perfluorocarbons) lebih cenderung melewati perubahan hidup sebelum waktunya.

“Tidak diragukan lagi bahwa ada kaitan antara paparan PFC dan permulaan menopause, tetapi hubungan sebab akibat tidak jelas,” kata Dr. Sarah Knox, dari West Virginia University School of Medicine.

Penelitian itu dipublikasikan dalam “The Endocrine Society’s Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism”. Peneliti menemukan level PFC lebih tinggi dikaitkan dengan kenaikan aneh pada wanita yang mengalami menopause dalam usia 42 hingga 64 tahun.

Perempuan dalam kelompok usia ini dengan PFC lebih banyak memiliki sedikit hormon estrogen dibandingkan ke mereka yang memiliki tingkat rendah juga ditemukan dalam perabot rumah tangga, karpet dan cat.

Penggunaan barang-barang itu secara luas itu tersebar luas dalam air, tanah, tanaman hidup, binatang dan manusia bahkan dalam bagian terpencil di seluruh dunia.

Sampel probabilitas dari orang dewasa di AS menemukan tingkat konsentrasi PFC yang bisa diukur pada 98 persen mereka yang dites.

“Penelitian saat ini adalah yang terbesar yang pernah dilakukan pada endokrin (hormon) mengganggu pengaruh perfluorokarbon pada perempuan,” kata Dr. Knox.

Dalam penelitian yang melibatkan permpuan berusia 18 hingga 65 tahun itu para peneliti memastikan status menopause pada para partisipan. Mereka kemudian mengukur tingkat konsentrasi serum PFC dan estradiol.

Mereka menemukan hubungan antara paparan PFC, menurunnya estradiol dan menopause dini pada perempuan di atas usia 42 tahun.

Tingkat PFC lebih tinggi pada wanita usia melahirkan estrogen mereka lebih sedikit juga tetapi kaitan ini tidak signifikan secara statistik.

PFC dikenal merugikan kesehatan termasuk meningkatkan risiko kardiovaskular dan penurunan sistem kekebalan.

“Penemuan kami menunjukkan PFC terkait dengan gangguan endokrin pada wanita dan riset lebih lanjut pada mekanisme ini dijamin.”

Cara Murah Pembuatan Obat Malaria Dengan Bantuan Ragi

Para ahli di Kanada dan Amerika Serikat mengaku berhasil menemukan proses pembuatan obat malaria yang lebih cepat dan murah. Mereka menemukan cara membuat artemisinin, kandungan utama pada beberapa obat malaria, menggunakan ragi, gen, dan fermentasi. Para peneliti menyatakan bahwa cara ini lebih baik dan efisien daripada mengekstrak artemisinin dari tanaman.

Peneliti dari OneWorld Health, Amyris, Unversity of California di Berkeley, dan pemerintah Kanada, mengidentifikasi gen yang memproduksi artemisinin pada tanaman penghasil. Kemudian mereka mencoba gen tersebut pada ragi dan membuat artemisinin di lab mereka.

“Teknik ini membuat produksi lebih banyak dua kali lipat dan lebih cepat,” jelas peneliti.

Menteri sains dan teknologi Kanada Gary Goodyear mengatakan bahwa perkembangan ini merupakan kemajuan besar dalam perang melawan penyakit. “Menegaskan posisi Kanada sebagai penyedia solusi kesehatan yang andal dan murah,” kata Goodyear kepada The Star Phoenix.

Tanaman yang menghasilkan artemisinin tumbuh di Afrika dan Asia. Tetapi, tumbuhan ini sulit untuk dipelihara sehingga biaya pemeliharaan melambung. Selain itu, tanaman penghasil artemisinin memiliki siklus produksi setahun sekali sehingga risiko kekurangan obat malaria sangat tinggi.

Saat ini malaria merupakan salah satu penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian. Nyaris 1 juta orang meninggal tiap tahun akibat penyakit yang dibawa nyamuk ini. Malaria juga jadi penyebab utama kematian anak-anak di bawah umur 5 tahun. meskipun mereka sembuh, mereka bisa mengalami kerusakan otak dan anemia.