Arsip Kategori: Rekayasa Genetika

Fetal Therapy Tehnik Mempercantik Janin Sebelum Dia Dilahirkan

Fetal therapy atau fetal treatment adalah tindakan pada bayi pada saat masih dalam kandungan, Tindakan yang dilakukan pada bayi dalam kandungan (janin) dengan kelainan bawaan ini, bertujuan menyelamatkan janin dan kehamilan. Fetal treatment sebaiknya dilakukan pada janin yang telah melalui proses diagnostik lengkap, diantaranya pemeriksaan cordocentesis yang berfungsi mengetahui tipe kelainan kromosom yang dipunyai janin.

Tindakan fetal threatment ini dilakukan untuk tidak memperburuk keadaan pada janin. Sehingga tindakan dilakukan pada janin dimana janin masih mempunyai harapan untuk hidup diluar kandungan, dimana keberhasilan tindakan pada salah satu organ atau beberapa organ dapat memberikan kesembuhan pada janin.

Salah satu contoh proses fetal treatment, yaitu pada bayi dengan gangguan pertumbuhan saluran kemih sejak lahir (atresia urethrae). Kondisi tersebut membuat urine si bayi tidak dapat keluar ke rongga ketuban, sehingga air ketuban sangat sedikit. Pada keadaan seperti ini dokter akan memeriksa organ lain yang terlibat terlebih dahulu dengan pemeriksaan detail scan yang dilanjutkan dengan pemeriksaan cordocentesis untuk melihat tipe kelainan kromosom. Jika kelainan hanya satu atau kelainan lain tidak mengancam nyawa si janin, maka tindakan fetal treatment dapat dilakukan dengan pemasangan saluran kecil dari plastik (pigtail) yang menghubungkan kandung kemih dengan rongga ketuban, ini berfungsi mengalirkan air di kandung kemih yang terperangkap.

Fetal treatment ini sudah dilakukan di RSAB Harapan Kita sekitar 10 tahun lalu. Diantaranya, Transfusion intra uterine, yaitu pemberian darah ke janin selama masih dalam kandungan yang disebabkan janin mengalami anemia. Kemudian , Fetal thoracocentesis, yaitu pengeluaran cairan dari rongga dada janin karena terjadi penumpukan cairan yang disebabkan beberapa faktor diantaranya pembendungan aliran limfe dan infeksi virus. Juga Fetal paracentesis, yaitu pengeluaran cairan dari perut janin karena penumpukan cairan di rongga perut, yang bertujuan mengurangi tekanan ke dinding dada janin yang berhubungan dengan perkembangan paru paru janin.

Selanjutnya juga ada Fetal bladder stenting , yaitu pemasangan pigtail, seperti yang disebutkan pada kasus yang disebutkan sebelumnya. Lalu ada juga amnioreduction , yaitu pengeluaran air ketuban karena jumlah air ketuban yang berlebihan yang disebabkan multi faktor yang bertujuan untuk mencegah sesak nafas pada ibu dan risiko kontraksi dini. Dan amnioinfusion , yaitu pengisian air ke dalam rongga ketuban yang sangat sedikit yang bertujuan menghindarkan terjepitnya tali pusat antara dinding rahim dan badan janin, juga untuk mencegah gangguan pertumbuhan paru paru janin selama dalam kandungan.

Fetal treatment ini melibatkan banyak ahli. Termasuk dokter spesialis obgin, dokter spesialis anastesi, dokter ahli genetika, serta dokter anak subspesialis perinatologi.

Peneliti Amerika Berhasil Ciptakan Vagina Buatan

Para peneliti dari Wake Forest Baptist Medical Center Institute for Regenerative Medicine, North Carolina, AS, berhasil menciptakan impan vagina untuk empat perempuan yang tidak memiliki vagina lantaran menderita sindrom Mayer-Rokitansky-Kuster-Hauser, yakni suatu kelainan bawaan lahir yang ditandai dengan tidak adanya vagina, serviks, dan uterus (rahim).

Dikutip dari Live Science, Kamis, 10 April 2014, semua pasien dalam penelitian ini telah menjalani operasi dalam lima sampai delapan tahun lalu, saat mereka berusia 13-18 tahun. Implan vagina yang ditanamkan di tubuh mereka dikembangkan dari sel-sel pasien itu sendiri.

Sejauh ini, upaya implan tersebut telah berhasil dan pasien yang kini sudah memasuki masa aktif secara seksual melaporkan bahwa vagina implan mereka berfungsi dengan normal.

Dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Lancet edisi 10 April 2014, peneliti menggunakan sepotong kecil jaringan vulva yang berukuran kira-kira setengah dari ukuran perangko. Jaringan ini kemudian dikembangkan di laboratorium hingga membentuk vagina lengkap beserta saraf-sarafnya.

Setelah implan ini tumbuh, dokter kemudian melakukan pembedahan untuk menciptakan rongga di tubuh pasien sebagai tempat peletakkan vagina. Seluruh proses ini membutuhkan waktu setidaknya 5-6 minggu.

Dr. Anthony Atala, salah satu peneliti dalam program ini mengatakan, keberhasilan ini bisa dikembangkan untuk pengobatan baru bagi pasien kanker vagina atau perekonstruksian vagina akibat cedera.

Ilmuwan Berhasil Ciptakan Kehidupan Dengan Media Ragi

Lewat penelitian selama tujuh tahun, sebuah tim ilmuwan internasional berhasil menciptakan kromosom sintetis dari sel ragi untuk pertama kalinya. Terobosan baru ini adalah lompatan besar dari penelitian sebelumnya yang sukses membuat rantai kromosom sintetik untuk bakteri dan virus. Kini jalan para “perancang” organisme makin terbuka lebar.

Dalam studinya, para peneliti membuat molekul deoxyribonucleic acid (DNA) buatan dan menggabungkannya untuk menyusun kromosom artifisial ragi. Ragi merupakan organisme kompleks eukariotik yang memiliki nukleus dalam selnya. Tanaman, hewan, dan manusia juga tergolong organisme eukariotik karena memiliki nukleus di dalam selnya.

Keberhasilan menciptakan kromosom ragi adalah langkah besar dalam ilmu biologi sintetik. “Hal yang paling membanggakan adalah kami mampu mengubah rangkaian kromosom alami lalu menyusun seluruh rantainya dari nol,” kata kepala penelitian Jef Boeke, ahli biologi sintetik dari Langone Medical Center Universitas New York. Hasil penelitian mereka telah dimuat dalam jurnal Science, 27 Maret 2014.

Sejak 4.000 tahun lalu, manusia sudah menggunakan ragi untuk membuat minuman beralkohol. Penggunaan ragi makin luas, termasuk untuk membuat roti, bir, dan anggur. Pada era modern, jamur itu juga digunakan dalam pembuatan vaksin, obat-obatan, dan biofuel.

Boeke dan timnya memakai program khusus komputer untuk merancang kromosom III, dilabeli synIII, dari ragi. Hasil rancangan itu lalu digabungkan dengan ragi Saccharomyces cerevisiae yang biasa digunakan untuk membuat bir dan roti. Kromosom itu dipilih karena ukurannya paling kecil dari 16 kromosom ragi. Kromosom itu mengatur bagaimana sel membelah dan menerima perubahan genetik.

Boeke mengatakan kromosom yang mereka buat terlihat normal. Menurut dia, ragi yang punya DNA sintetik pada kromosom memiliki sifat yang nyaris identik dengan ragi alami. Dengan teknik yang dikenal sebagai “pengacakan”, para ilmuwan bisa memutar-balik rangkaian gen ragi layaknya tumpukan kartu. Mereka bisa membuat jutaan susunan baru dari tumpukan “kartu” genetik itu.

Walhasil, ragi bisa memiliki beragam properti dan fungsi. Peneliti bisa membuat ragi sintetik untuk memproduksi obat langka seperti artemisinin yang digunakan dalam pengobatan malaria. Vaksin hepatitis B juga bisa dibuat dengan “mengakali” rangkaian kromosom ragi. Dalam skala besar, ragi sintetik bisa dipakai membuat biofuel yang lebih efisien, seperti alkohol, butanol, atau biodiesel. “Hal ini membuat manusia bisa melakukan transisi dari ketergantungan minyak bumi,” kata Boeke.

Keberhasilan membangun kromosom eukariot, organisme yang memiliki inti sel, mendapat apreasi. “Ini adalah contoh luar biasa bahwa biologi sintetik bisa dipakai untuk menulis ulang rangkaian kromosom dalam skala besar,” kata Craig Venter dari J. Craig Venter Institute, yang sukses menciptakan bakteri sintetik pertama pada 2010. Paul Freemont dari Imperial College London mengatakan temuan ini mengubah pemahaman dalam rekayasa genom dan kromosom. “Ini adalah bukti bahwa kromosom bisa didesain ulang, disintensis, dan bekerja dalam sel hidup,” kata dia.

Ahli Genetika Temukan Bahwa Manusia Merupakan Hasil Kawin Silang Antara Simpanse dan Babi

Ahli genetika Amerika mengklaim bahwa manusia berasal dari hibridisasi babi jantan dan simpanse betina. Klaim tersebut diungkapkan oleh Dr Eugene McCarthy dari University of Georgia yang juga ahli hibridisasi hewan terkemuka di dunia.

McCarthy mengatakan, kemiripan manusia dan simpanse memang banyak ditemukan. “Tapi kami juga menemukan banyak ketidakmiripan karakteristik manusia dan primata itu,” katanya. Ketidakmiripan itu, menurut McCarthy, adalah hasil hibridisasi waktu lampau dalam sejarah evolusi manusia.

Bahkan ada satu hewan yang memiliki semua ciri-ciri yang membedakan manusia dengan primata dalam kerajaan hewan. “Hewan itu adalah babi,” kata McCarthy. Ia menjelaskan hipotesis yang mengherankan itu dalam Macroevolution.net. Meskipun hanya hipotesis, namun ia menyertakan bukti kuat sebagai pendukungnya.

Para ilmuwan menganggap bahwa simpanse adalah kerabat terdekat evolusi manusia dengan pembuktian genetik. Namun McCarthy menunjukkan, meski terdapat banyak kesamaan genetik, tapi ada sejumlah besar karakteristik anatomi yang membedakan keduanya. Perbedaan ini seperti kulit berbulu, lapisan lemak yang tebal, warna mata yang cerah, hidung menonjol dan bulu mata yang berat. Dan, menurut dia, karateristik ini justru lebih mirip dengan babi.

Memang, jaringan kulit babi dan katup jantung dapat dilakukan untuk pengobatan karena kesamaan dan kompatibilitasnya dengan tubuh manusia. McCarthy menjelaskan, percampuran babi dan simpanse pada masa lalu kemungkinan diikuti oleh generasi silang balik. Keturunannya menjadi lebih mirip simpanse ketimbang babi.

Hipotesis ini mengundang kritikan keras. Namun McCarthy percaya bahwa dalam kasus manusia dan makhluk lainnya, modifikasi hibrid dalam teori evolusi dapat menjelaskan berbagai fenomena. Bahkan teori evolusi Darwin pun kesulitan untuk menjelaskan.

Batan Ciptakan Varietas Kedelai Super Dengan Masa Panen 66 Hari

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) berhasil menciptakan varietas kedelai baru yang masuk kategori super-genjah atau memiliki umur panen hanya 66-68 hari. Varietas unggul kedelai yang diberi nama Gamasugen 1 dan Gamasugen 2 ini merupakan pengembangan dari benih induk kedelai Tidar melalui pemuliaan tanaman dengan teknik mutasi radiasi.

Kepala Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Batan, Hendig Winarno, mengatakan varietas kedelai Gamasugen 1 dan Gamasugen 2 ini cocok sebagai tanaman sela, khususnya di lahan sawah yang berpengairan. “Padi kan biasanya panen dua kali setahun, tidak cocok kalau tiga kali, makanya cocok ditanam kedelai Gamasugen karena masa panennya cepat sehingga lahan sawah tidak mubazir,” kata Hendig saat memperkenalkan varietas Gamasugen, di kantor Patir Batan, Lebak Bulus, Jakarta, Senin, 2 Desember 2013.

Ia menyebutkan, varietas Gamasugen 1 dan Gamasugen 2 memiliki tingkat produksi rata-rata 2,4 ton per hektare bahkan memiliki potensi hingga 2,6 ton per hektare. Meski masih kalah dibanding rata-rata produksi di negara penghasil kedelai, angka ini jauh lebih tinggi daripada tingkat produksi kedelai nasional, yang rata-rata hanya 1,5 ton per hektare. Kedua varietas unggul ini juga terbukti tahan terhadap penyakit karat daun, penyakit hawar daun cokelat, dan tahan terhadap serangan hama penggerek pucuk.

Dari segi rasa, Gamasugen 1 dan Gamasugen 2 diakui lebih enak, dengan tingkat rendemen tahu dan tempe lebih tinggi dibanding kedelai impor. Selain itu, kandungan protein pada kedua varietas ini mencapai 37 persen, dan kandungan lemaknya 13,2 persen.

Peneliti kedelai di Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Batan, Arwin, menambahkan, varietas Gamasugen adalah satu-satunya varietas kedelai di Indonesia yang memiliki umur panen di bawah 70 hari. Sebab, varietas kedelai yang sudah ada memiliki umur panen paling pendek hanya 73 hari.

Arwin menjelaskan, meski kedelai adalah tanaman subtropis, varietas Gamasugen sudah terbukti bisa tumbuh di lahan tropis baik saat musim hujan ataupun kemarau. Varietas kedelai Gamasugen 1 dan Gamasugen 2 sangat cocok ditanam di lahan sawah karena tak perlu lagi mengolah tanah dan bisa mengurangi penggunaan pupuk urea pada penanaman padi selanjutnya karena biji akarnya mampu mengikat nitrogen. “Biasanya setelah dua kali musim hujan petani padi membiarkan lahannya. Dengan varietas Gamasugen, satu minggu setelah panen padi bisa langsung tanam kedelai, dan ini bisa menguntungkan petani,” ucapnya.

Untuk membuktikan varietas ini layak dan memenuhi kriteria untuk pelepasannya, peneliti melakukan uji adaptif di 16 lokasi, di antaranya di wilayah Banyumas, Purbalingga, Palembang, Malang, Bogor, dan Majalengka. Pengujian dilakukan pada dua musim, yaitu musim hujan dan kemarau. Hasilnya, produktivitas paling tinggi berada di wilayah Kalimanah, Purbalingga, dengan produktivitas 2,59 ton per hektare, dan di Baturraden, Banyumas, dengan produktivitas 2,51 ton per hektare. Keduanya diuji di atas tanah berjenis Latosol.

”Selain itu, kami sudah uji untuk pembuatan tahu dan tempe. Ternyata hasilnya tidak kalah sama kedelai impor. Rasanya lebih gurih dan lebih segar,” kata Arwin.

Batan Berhasil Ciptakan Varietas Gandum Daerah Tropis

Badan Tenaga Nuklir Nasional berhasil membuat varietas gandum baru yang bisa dikembangkan di daerah tropis. Gandum varietas baru ini merupakan pengembangan dari bibit yang menjadi andalan pertanian di Cina. Bibit asli gandum yang diperoleh dari Cina itu tidak bisa ditanam di Indonesia. Faktor geografis dan iklim tropis Indonesia mempengaruhi pertumbuhan gandum tersebut.

Batan menggunakan teknologi radiasi sinar gamma untuk menghasilkan varietas gandum baru yang diberi nama Ganesha. “Varietas ini cocok untuk wilayah Indonesia dan kami sudah dapatkan sertifikat pengujiannya,” kata Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi Hendig Winarno kepada wartawan, Selasa, 4 Maret 2014.

Sertifikat hasil pengujian dan pelepasan benih untuk ditanam dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian. Batan melakukan uji coba di 16 lokasi. Lokasi uji coba tanam di antaranya di Cipanas, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara. “Gandum ini sangat cocok ditanam di dataran tinggi karena produktivitasnya lebih banyak,” kata Hendig.

Dari hasil uji coba tersebut, angka produksi gandum mencapai 5 ton per hektare. Usia tanam hingga panen sekitar 90 hari. Gandum ini juga bisa ditanam di daerah dataran sedang dengan ketinggian 300-800 meter di atas permukaan laut. “Pernah ditanam juga di lokasi penelitian di Pasar Jumat, Jakarta, dan berhasil tumbuh,” kata peneliti dan pengembang benih PAIR, Soeranto Human.

Varietas gandum baru ini juga tahan terhadap penyakit karat daun. Penyakit ini merupakan ancaman terbesar bagi tanaman gandum. Tanaman yang terserang penyakit ini biasanya menunjukkan gejala kerusakan daun dengan warna kuning kecokelatan.

Manusia dan Anjing Memiliki Nenek Moyang Yang Sama

Anjing sangat sensitif terhadap isyarat emosi dalam suara manusia, demikian sebuah studi baru mengisyaratkan. Dalam Current Biology disebutkan, para peneliti menduga area otak yang bertanggung jawab untuk suara dan bunyi pada anjing dan manusia berevolusi pada saat yang sama pada 100 juta tahun yang lalu, ketika dua spesies berbagi nenek moyang yang sama.

“Anjing dan manusia berbagi lingkungan sosial yang sama,” kata Attila Andics, peneliti dari MTA-ELTE Comparative Ethology Research Group di Hungaria. “Temuan kami menunjukkan bahwa mereka juga menggunakan mekanisme otak yang sama untuk memproses informasi sosial. Ini dapat mendukung keberhasilan komunikasi vokal antara dua spesies ini.”

Untuk studi mereka, para peneliti melatih 11 anjing untuk duduk diam dalam pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI). Mereka kemudian menganalisis aktivitas otak dari anjing dan manusia saat mereka memperdengarkan 200 suara yang berbeda, mulai dari menangis ke menggonggong, dari suara yang lucu dan orang tertawa.

Dalam penelitian ini, anjing dan manusia memiliki respon paling kuat untuk suara yang dihasilkan oleh spesies mereka sendiri. Suara itu diproses dengan mekanisme yang sama. Sebagai contoh, kedua spesies mengalami aktivasi yang lebih besar dari korteks pendengaran primer otak ketika mendengar suara bahagia.

Yang membedakan, anjing merespon lebih kuat terhadap suara non-vokal. Sedang pada manusia, terjadi hal sebaliknya.

Para peneliti percaya bahwa studi ini meningkatkan pemahaman yang lebih baik tentang mengapa anjing begitu selaras dengan emosi pemilik mereka. “Metode ini menawarkan cara yang sama sekali baru dalam menyelidiki proses syaraf pada anjing,” kata Andics.

Ilmuwan Berhasil Membalikan Sel Tua Menjadi Sel Muda

Para ilmuwan membuat terobosan baru dengan menemukan cara sederhana untuk memrogam ulang sel-sel binatang dewasa kembali ke kondisi serupa sel punca embrionik yang memungkinkan mereka menghasilkan banyak tipe jaringan. Penelitian itu menunjukkan bahwa sel-sel manusia pada masa mendatang kemungkinan juga bisa diprogram ulang dengan teknik yang sama, menawarkan cara yang lebih sederhana untuk mengganti sel-sel rusak atau menumbuhkan organ baru untuk orang-orang yang terluka dan sakit.

Hasil penelitian yang dilaporkan dalam dua makalah di jurnal ilmiah Nature pada Rabu (29/1) melibatkan para ilmuwan dari RIKEN Center for Developmental Biology di Jepang serta Brigham and Women’s Hospital dan Harvard Medical School di Amerika Serikat.

Para peneliti mengambil sel-sel kulit dan darah, membiarkan mereka mengganda, kemudian mengenakan mereka dengan tekanan “hampir ke titik kematian” dengan memaparnya dengan beragam kejadian termasuk trauma, tingkat oksigen rendah dan lingkungan asam.

Salah satu dari situasi “stress” ini antara lain diciptakan dengan memandikan sel-sel dengan cairan asam lemah selama sekitar 30 menit. Dalam beberapa hari, para peneliti menemukan bahwa sel-sel tidak hanya bertahan dari stress tapi juga bisa kembali pulih secara alami ke kondisi yang serupa dengan sel punca embrionik.

Sel-sel punca ini, yang oleh para peneliti disebut sel Stimulus-Triggered Acquisition of Pluripotency (STAP), selanjutnya mampu berdiferensiasi dan dewasa menjadi macam-macam sel dan jaringan tergantung pada lingkungan tempat mereka ditempatkan.

“Jika kita bisa membuat mekanisme dimana tahap diferensiasi terjaga dan hilang, ini bisa membuka peluang yang lebih besar untuk riset-riset baru dan penerapannya menggunakan sel-sel hidup,” kata Haruko Obokata, yang memimpin penelitian itu di RIKEN, seperti dilansir kantor berita Reuters.

Chris Mason, ketua bagian kedokteran regeneratif di University College London, yang tak terlibat dalam penelitian itu mengatakan pada tikus penggunaan pendekatan itu merupakan “metode yang paling sederhana, paling hemat biaya dan paling cepat” untuk membangun apa yang disebut sel pluripoten–yang bisa berkembang menjadi banyak macam tipe sel–dari sel-sel dewasa.

“Jika bekerja pada manusia, ini bisa menjadi pengubah permainan yang pada akhirnya membuat terapi sel dengan cakupan luas tersedia dengan menggunakan sel-sel pasien itu sendiri sebagai bahan awal–era pengobatan personal akhirnya akan tiba,” katanya.

Sementara Robin Lovell-Badge, ahli sel punca di National Institute for Medical Research di Inggris, mengatakan, butuh waktu sebelum perilaku alami dan kemampuan sel-sel STAP sepenuhnya dipahami oleh para ilmuwan dan hanya setelah itu potensi mereka dalam pengobatan akan lebih jelas.

“Tapi yang sangat menarik untuk dicari tahu adalah mekanisme dibalik bagaimana kejutan pH rendah memicu pemrograman ulang. Dan mengapa itu tidak terjadi ketika kita makan lemon atau cuka, atau minum cola?” katanya.

Sel-sel punca adalah sel-sel utama tubuh dan mampu berdiferensiasi menjadi semua tipe sel. Ada dua tipe utama sel punca, sel punca embrionik dan sel-sel dewasa atau iPS, yang diambil dari kulit atau darah dan diprogram kembali menjadi sel punca.

Karena untuk mendapatkan sel punca embrionik membutuhkan perusakan embrio manudia, teknik untuk menghasilkan jenis sel punca itu menimbulkan masalah etik dan menjadi sasaran protes. Para ilmuwan mengatakan, mereka bisa menawarkan penanganan penyakit yang selama ini hanya bisa diatasi dengan cara terbatas melalui pembentukan jaringan dan penumbuhan organ baru dari sel-sel punca.

Ilmuwan Temukan Terapi Gen Untuk Sembuhkan Down Sindrom

Kabar gembira bagi para penderita sindrom Down. Tim ilmuwan dari University of Massachusetts Medical School di Worcester, Amerika Serikat, telah menemukan cara baru untuk menyembuhkan kelainan genetik itu.

Penelitian dilakukan dengan mengambil sel kulit dari laki-laki penderita sindrom Down dan “memutar ulang” mereka kembali ke tahap embrio.

“Kromosom ekstra yang menyebabkan sindrom Down harus dibungkam,” kata pemimpin penelitian, Jeanne Lawrence, seperti dikutip Newscientist, Jumat 19 Juli 2013.

Penderita sindrom Down memiliki salinan ekstra kromosom 21 yang mengubah cara sel-sel mereka berkembang. Ke dalam kromosom ekstra ini, Lawrence dan timnya menyisipkan salinan gen XIST. Gen yang ditemukan dalam kromosom X ini berfungsi membungkamnya. Gen XIST biasanya diperlukan untuk menekan satu dari dua kromosom X pada wanita.

Pengaktifan gen XIST seketika membungkam ekspresi kromosom 21. Akibatnya, sel-sel tubuh dapat berkembang normal dan dalam dua pekan telah membentuk kumpulan neuron yang membentuk sistem saraf pusat. “Efek ini tidak dijumpai pada sel yang tidak disisipi XIST,” ujar Lawrence.

Aktivasi gen XIST juga mencegah ekspresi gen APP pada kromosom ekstra yang memicu pembentukan beta-amiloid, protein yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer dan yang mempercepat perkembangan sindrom Down.

Robin Lovell-Badge dari National Institute of Medical Research di London mengatakan intervensi dalam embrio hidup tidak mungkin dilakukan. “Saya tidak yakin cara ini bisa diterapkan di semua sel bersamaan dengan diagnosis sindrom Down,” kata dia mengomentari penelitian Lawrence.

Adapun menurut Elizabeth Fisher dari University College London, temuan Lawrence tetap berpotensi digunakan untuk mengobati beberapa gejala sindrom Down. Caranya dengan membungkam kromosom di daerah tertentu pada tubuh.

Australia Berhasil Kembangkan Nanas Dengan Rasa Buah Kelapa Muda Segar

Australia mengumumkan bahwa mereka telah mengembangkan buah yang revolusioner. Mereka telah mengembangkan nanas jenis baru yang tidak hanya manis tetapi juga memiliki rasa kelapa muda segar tropis. Kini, penelitian itu berada dalam tahap akhir pengembangan varietas baru.

Penelitian yang dilakukan di Queensland ini memberi nama pada varietas nanas sebagai AusFestival. “Nanas ini memiliki rasa kelapa yang lezat dan Anda tak akan menemukannya pada tiap nanas di Australia,” ujar Garth Senewski, hortikulturis.

Menurutnya, nanas AusFestival ini berasa manis, rasa asam yang rendah dan sangat juicy. Rasa yang unik, tambahnya, harus dapat membuktikan bahwa buah baru ini populer di kalangan pelanggan.

Generasi baru dari nanas ini memiliki potensi untuk merevolusi teknik mencampur koktail. Saat pina colada koktail harus dibuat dengan mencampurkan rum, krim kelapa dan jus nanas bersama dengan es, maka AusFestival akan melakukannya tanpa kebutuhan kelapa.

Senewski awalnya tidak berniat membuat nanas yang memiliki rasa kelapa. “Ketika kami melakukan isolasi, kami tidak sedang mencari nanas rasa kelapa atau rasa yang lainnya. Kami sedang mencari nanas rasa yang bagus, manis, asam rendah dan aromatik,” katanya.