Category Archives: Rekayasa Genetika

Orang Tibet Punya Varian Gen Darah Yang Sangat Langka


Wilayah Tibet berada di ketinggian dengan kadar oksigen rendah. Namun orang Tibet sanggup tinggal di sana. Sebuah penelitian menyebut orang Tibet mampu tinggal di daerah dengan kondisi ekstrem itu karena memiliki varian gen langka yang diwarisi dari manusia purba yang telah punah.

Studi yang dimuat di jurnal Nature, 2 Juli 2014, menyatakan orang Tibet punya gen istimewa yang berperan dalam proses pengangkutan oksigen dalam darah. Gen ini diduga warisan dari kelompok manusia misterius yang melakukan perkawinan dengan ras manusia modern sekitar 10 ribu tahun lalu.

“Pertukaran gen melalui perkawinan dengan spesies yang sudah punah menjadi hal penting dalam evolusi manusia,” kata Rasmus Nielsen, profesor biologi dari University of California dan University of Copenhagen yang ikut melakukan studi tersebut.

Gen langka yang dikenal sebagai EPAS1 membuat orang Tibet bisa beradaptasi dengan kondisi rendah oksigen pada ketinggian 4.500 meter di atas permukaan laut seperti di daerah barat daya Cina. Sedangkan orang yang tidak punya varian gen itu akan kesulitan tinggal di sana. Mereka bisa mengalami penggumpalan darah yang memicu tekanan darah tinggi, kesulitan bernapas, serangan jantung, stroke, bayi lahir dengan berat badan di bawah normal, dan tingginya tingkat kematian bayi.

Manusia punya gen yang mengatur produksi hemoglobin–protein dalam darah yang mengangkut oksigen. Gen ini aktif ketika kadar oksigen dalam darah anjlok, sehingga mereka akan memproduksi lebih banyak hemoglobin.

Pada ketinggian di atas 4.000 meter, gen manusia biasa akan meningkatkan produksi hemoglobin dan sel darah merah sehingga menyebabkan efek samping berbahaya. Namun, untuk varian gen langka yang dimiliki orang Tibet, peningkatan produksi hemoglobin dan sel darah merah lebih sedikit, sehingga mereka terhindar dari bahaya.

Varian gen EPAS1 itu nyaris mirip dengan yang ditemukan pada Denisovan–kelompok manusia yang memiliki relasi dengan manusia purba Neanderthal. Denisovan yang juga sudah punah itu dikenali dari sisa tulang dan gigi di dalam gua di daerah Siberia. Hasil uji DNA terhadap tulang berusia 41 ribu tahun itu adalah Denisovan berbeda dengan spesies Neanderthal dan manusia modern saat ini.

Peneliti melakukan studi genetik pada 40 orang Tibet dan 40 orang Han asal Cina. Analisis statistik menunjukkan varian gen tersebut hampir dipastikan berasal dari Denisovan. Studi genetika menunjukkan hampir 90 persen orang Tibet punya gen istimewa itu. Sebagian kecil warga Han dari Cina yang punya leluhur orang Tibet juga memiliki gen serupa. Gen langka itu tidak terdeteksi pada orang lain.

Gen Penyebab Rasa Nyeri Berhasil Ditemukan


Terobosan berhasil dilakukan peneliti Program Studi Anestesiologi Fakultas Kedokteran Duke University Medical Center di Durham, Carolina Utara. Mereka berhasil memetakan berbagai macam kode genetis rasa nyeri dari pasien yang bisa dijadikan alasan kuat untuk diamputasi demi menyelamatkan hidupnya.

Penelitian ini dilakukan terhadap 49 prajurit militer yang harus diamputasi demi bertahan hidup. Sebelumnya penelitian yang dilakukan oleh The International Association for Study of Pain (IASP) mengemukakan bila 80 persen pasien yang diamputasi tungkainya akan mengalami nyeri. Hal ini sering dikeluhkan pasien. Bahkan, beberapa pasien mengeluh bila nyeri yang dirasakan menjadi lebih sakit ketimbang setelah operasi.

“Dengan mengidentifikasi gen rasa sakit, kami mungkin dapat menemukan alasan mengapa nyeri terjadi dan memprediksi apa tindakan yang mungkin dilakukan pada pasien,” ujar dokter Andrew D. Shaw, Profesor Anestesi dan Pengobatan Kritis Duke University, yang juga peneliti utama dalam studi ini, Kamis, 17 Oktober 2013.

Para peneliti mengklaim bahwa urutan DNA yang berhasil dipetakan baru dapat memaparkan versi jalur biologis yang menjadi sumber rasa nyeri kronis pasien amputasi. Hasil ini diperoleh dokter Shaw dan tim penelitinya dengan cara mengumpulkan, kemudian mengurutkan atau memetakan DNA, RNA dan plasma darah 49 prajurit militer yang diamputasi.

Penelitian ini juga berhasil memetakan ratusan variasi DNA lain yang belum pernah dipetakan sebelumnya. Studi ini merupakan penelitian pertama tentang gen sakit yang telah diidentifikasi pada manusia dengan mengurutkan DNA Gen. “Karena itu, kami perlu mempelajari urutan semua gen ini dan kemudian membuat obat-obatan baru demi mencegah dan meringankan sakit kronis bagi pasien,” kata Shaw.

Arab Saudi Berhasil Lakukan Pemetaan Genetik Terhadap Seluruh Rakyatnya


Sebuah penelitian baru telah memetakan kode genetik seratus ribu orang warga Arab Saudi. Penelitian ini akan mencermati gen yang terkait dengan penyakit. Data tersebut nantinya bisa digunakan sebagai persyaratan pra-nikah.

Proyek yang didanai oleh lembaga ilmu pengetahuan nasional Arab Saudi ini, akan membuat database DNA sehingga dapat mengembangkan obat-obatan pribadi. Studi genom tersebut menganalisis kode DNA setiap individu. Pemerintah Saudi akan fokus pada 100 ribu genom manusia selama 5 tahun ke depan. Upaya tersebut bertujuan untuk mempelajari gen normal dan yang terkait dengan penyakit.

“Kami memiliki strategi dan kebijakan pentingnya ilmu pengetahuan untuk masyarakat,” kata Presiden King Abdulaziz City for Science and Technology, Dr Mohammed Bin Ibrahim Al Suwayl. Menurutnya, program genom manusia di Saudi ini akan membantu membentuk pemahaman kesehatan dan penyakit yang nantinya dapat mengantarkan kepada era obat pribadi.

Penelitian ini akan berlangsung di 10 pusat genom, Arab Saudi. Selebihnya, 5 pusat genom lain akan didirikan tahun depan.

Tak hanya Arab Saudi, negara yang memetakan genom masyarakatnya adalah Inggris. Negara ini akan memetakan genom hingga 100 ribu pada pasien NHS dengan kanker dan penyakit langka pada 2017.

Ayam Adalah Mahluk Yang Paling Cepat Bermutasi Genetik


Ayam merupakan salah satu hewan ternak yang paling banyak dipelihara. Sebuah studi menunjukkan adanya perubahan drastis asam deoksiribonukleat (DNA) atau rangkaian genetik pada ayam ternak modern.

Berdasarkan pemeriksaan DNA yang diambil dari tulang ayam yang hidup di Eropa 200-2.300 tahun silam, peneliti menemukan wujud hewan ternak tersebut pada masa itu mungkin jauh berbeda dengan kerabatnya saat ini.

Studi yang dimuat dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, 21 April 2014, ini menunjukkan adanya beberapa karakter fisik ayam ternak modern yang tidak dimiliki nenek moyangnya. Kulit ayam ternak modern yang berwarna kekuningan, misalnya, baru muncul dan meluas dalam 500 tahun terakhir. “Dalam perspektif evolusi, waktu selama itu seperti kedipan mata saja,” kata Greger Larson, peneliti dari Durham University, Inggris, Kamis, 24 April 2014.

Riset ini merupakan bagian dari penelitian tentang bagaimana manusia mulai mengubah tumbuhan dan hewan liar menjadi sumber pangan dan ternak seperti dikenal saat ini. Secara umum, setiap mutasi yang menyebar pada tumbuhan dan hewan peliharaan tapi tidak dimiliki para pendahulunya dinilai sebagai faktor penting penyebaran tanaman pangan dan ternak ke seluruh dunia. Kenyataannya, riset tentang DNA ayam purba menunjukkan cerita yang berbeda.

Ayam adalah keturunan burung liar yang dikenal sebagai Red Junglefowl. Manusia mulai memelihara burung liar itu sebagai hewan ternak sekitar 4.000-5.000 tahun lalu di wilayah Asia Selatan. Untuk mencari perubahan karakter ayam, peneliti menganalisis DNA dari tulang-tulang 81 hewan itu yang didapat dari berbagai situs arkeologi di seluruh penjuru Eropa. Usia fosil-fosil tulang ayam itu bervariasi 200-2.300 tahun.

Para peneliti memeriksa dua gen yang menentukan karakter ayam ternak modern dan leluhurnya sebagai burung liar. Gen pertama yang dicek adalah BCDO2, berhubungan dengan warna kekuningan pada kulit ayam, serta gen TSHR yang mempengaruhi produksi hormon tiroid. Meski fungsi asli TSHR belum diketahui, gen itu diduga berhubungan dengan kemampuan ayam ternak menghasilkan telur sepanjang tahun.

Kemampuan bertelur sepanjang tahun ini tidak dimiliki oleh Red Junglefowl atau burung liar apa pun. Kurang dari separuh ayam purba yang diperiksa memilki gen TSHR seperti yang didapat pada ayam ternak modern. Ketika peta gen seluruh fosil hewan itu dibandingkan, hanya ada satu ayam purba yang memiliki kulit berwarna kekuningan mirip dengan dengan ayam ternak saat ini.

Peneliti menduga perubahan gen ini baru terjadi dalam 500 tahun terakhir atau ribuan tahun sejak ayam ternak pertama dipelihara. “Hanya karena karakter tanaman atau hewan begitu umum saat ini bukan berarti mereka sudah memilikinya sejak awal,” kata Larson, seperti dikutip Science Daily.

Menurut Larson, hewan peliharaan dan ternak yang dikenal saat ini seperti anjing, ayam, kuda, dan sapi kemungkinan mengalami perubahan radikal dan tampil berbeda dari yang dipahami nenek moyang manusia dulu. “Hewan-hewan itu dipengaruhi perilaku dan kontrol manusia sehingga perubahan radikal bisa terjadi terjadi dalam beberapa generasi saja,” katanya.

Trauma Orangtua Diturunkan Lewat Gen Kepada Anak


Anak-anak yang terlahir dari orangtua yang pernah mengalami trauma hidup berat beresiko tinggi mengalami gangguan perkembangan mental. Hal ini terjadi karena trauma bisa diturunkan ayah ke anaknya melalui sel sperma.

Pengalaman traumatik bisa terjadi oleh banyak peristiwa, misalnya saja kekerasan, pelecehan, kecelakaan, bencana alam, atau pertempuran militer. Para ahli psikologi sejak lama telah mengetahui bahwa pengalaman traumatik bisa menyebabkan gangguan perilaku yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Beberapa gangguan jiwa memang dipengaruhi oleh faktor keturunan, tetapi selama ini belum diketahui dengan jelas bagaimana mekanismenya.

Tim peneliti dari Universitas Zurich, Swiss, menemukan bahwa molekul RNA pendek (molekul yang punya peran penting dalam tubuh) dibentuk dari DNA dengan enzim yang bisa membaca secara spesifik bagian dari DNA lalu dipakai sebagai model untuk menghasilkan komunikasi RNA. Enzim lain kemudian memangkas RNA ini menjadi bentuk yang lebih matang.

Sel-sel secara alamiah mengandung sejumlah besar berbagai molekul pendek RNA yang disebut microRNA. Mereka memiliki fungsi yang berbeda, misalnya mengendalikan berapa salinan dari protein tertentu yang dibuat.

Para ilmuwan meneliti jumlah dan jenis ekspresi microRNA pada tikus dewasa yang mengalami kondisi traumatik saat mereka masih kecil, kemudian dibandingkan dengan tikus yang tidak pernah trauma.

Ternyata, tekanan traumatik mengubah jumlah beberapa microRNA dalam darah, otak, dan sperma. Perubahan ini menghasilkan gangguan kerja dari proses selular yang normalnya dikontrol oleh microRNA ini.

Setelah mengalami pengalaman traumatik, tikus-tikus itu berperilaku secara berbeda, misalnya mereka kehilangan minat pada ruang terbuka dan cahaya terang, serta menunjukkan gejala depresi.

Gangguan perilaku tersebut ternyata juga ditransfer ke generasi berikutnya melalui sel sperma saat terjadinya pembuahan. Meski anak-anak tikus itu tidak mengalami pengalaman trauma seperti para ayah mereka tetapi gejalanya sama.

Selain gangguan perilaku, metabolisme para anak tikus itu juga ikut terganggu. Kadar insulin dan gula darah mereka lebih rendah dibanding anak tikus yang orangtuanya tidak pernah trauma.

“Untuk pertama kalinya kami bisa menunjukkan bahwa pengalaman traumatik berdampak pada metabolisme jangka panjang dan perubahan ini diturunkan,” kata Isabelle Mansuy, peneliti.

Ia menambahkan, gangguan pada RNA dimulai ketika tubuh memproduksi terlalu banyak hormon stres.

Keragaman Genetik Manusia Neanderthal Rendah Sebabkan Kepunahannya


Manusia Neanderthal ternyata hanya memiliki ragam genetik yang minim. Kondisi ini diduga mempengaruhi kelangsungan hidup spesies Neanderthal yang diprediksi lenyap dari Eropa sekitar 30 ribu tahun lalu.

Manusia Neanderthal adalah kerabat terdekat manusia modern yang hidup saat ini. Nenek moyang Neanderthal dan manusia modern diduga berpisah dan menyebar sekitar 550.000-765.000 tahun lalu.

Manusia adalah satu-satunya makhluk cerdas yang bisa bertahan hidup dalam seleksi alam. Namun manusia masih memiliki sedikit kemiripan genetik dengan Neanderthal. Dengan adanya perkawinan campur antar-spesies di masa silam, saat ini sekitar 1,5-2,1 persen dalam deoxyribonucleic acid (DNA) atau rantai gen manusia modern di luar Afrika berasal dari Neanderthal.

Svante Paabo dan koleganya dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman, mengeksplorasi variasi genetik dengan menganalisis tiga genom Neanderthal. Masing-masing milik Neanderthal berusia 49 ribu tahun dari Spanyol, Neanderthal berusia 44 ribu tahun dari Kroasia, dan dari Siberia yang berumur sekitar 50 ribu tahun. Sebagai perbandingan, tim peneliti yang berisi 30 pakar genetika dan paleontologi juga memeriksa DNA manusia modern dari Afrika, Prancis, Sardinia, dan seorang keturunan Italia Amerika dari Eropa.

Riset itu menunjukkan Neanderthal menjalani perubahan genetik yang berpengaruh pada bentuk rangka tubuh. Namun manusia purba itu hanya mengalami sedikit perubahan gen yang berimbas pada perilaku dan pigmentasi. “Ragam genetik Neanderthal lebih sedikit ketimbang manusia modern yang diketahui juga lebih sedikit dari simpanse dan sebagian besar kera,” kata Paabo.

Laporan yang dimuat dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, 21 April 2014, menyebutkan para peneliti memeriksa 17.367 gen yang mengendalikan pembentukan protein. Mereka berfokus pada mutasi yang mengubah jenis asam amino apa saja yang masuk ke dalam protein-protein tersebut. Mutasi itu menyebabkan struktur dan fungsi protein ikut berubah.

Meski ada yang membawa keuntungan, mutasi yang mengubah asam amino pada protein lebih sering berdampak buruk. Gen yang berpotensi merusak biasanya hilang dalam perjalanan seleksi alam makhluk hidup karena percampuran dalam populasi yang besar. Akan tetapi, mereka yang masih memiliki mutasi tersebut menjadi tidak fit dan tak mampu untuk bereproduksi hingga akhirnya punah. Mutasi itu terakumulasi dalam populasi kecil yang terisolasi seperti yang terjadi pada Neanderthal.

Peneliti menemukan bahwa manusia purba itu memiliki duplikat mutasi yang mengubah asam amino pembentuk protein lebih banyak ketimbang manusia modern. “Jumlah Neanderthal tampaknya sangat sedikit dan ada indikasi mereka terbagi-bagi dalam populasi yang lebih kecil dan tidak berhubungan satu sama lain,” kata Paabo.

Sergi Castellano, peneliti yang ikut dalam riset tersebut mengatakan mutasi dengan potensi merusak itu tidak langsung berhubungan dengan kepunahan Neanderthal. “Tak ada klaim yang menyebut mutasi itulah penyebab mereka punah,” kata Castellano.

Peneliti justru menemukan gen tulang belakang Neanderthal berubah lebih dari yang diperkirakan. “Gen yang memberikan pengaruh lengkung tulang belakang Neanderthal telah berubah,” kata Paabo. “Hal itu menunjukkan bagaimana tulang rangka mereka berubah drastis selama evolusi.”

Sementara pada manusia modern, gen yang mempunyai pengaruh pigmentasi dan perilaku justru paling banyak berubah. “Kami belum tahu pasti bagaimana mutasi itu mempengaruhi perilaku manusia, itu jadi bahan penelitian yang menarik,” kata Paabo.

Fetal Therapy Tehnik Mempercantik Janin Sebelum Dia Dilahirkan


Fetal therapy atau fetal treatment adalah tindakan pada bayi pada saat masih dalam kandungan, Tindakan yang dilakukan pada bayi dalam kandungan (janin) dengan kelainan bawaan ini, bertujuan menyelamatkan janin dan kehamilan. Fetal treatment sebaiknya dilakukan pada janin yang telah melalui proses diagnostik lengkap, diantaranya pemeriksaan cordocentesis yang berfungsi mengetahui tipe kelainan kromosom yang dipunyai janin.

Tindakan fetal threatment ini dilakukan untuk tidak memperburuk keadaan pada janin. Sehingga tindakan dilakukan pada janin dimana janin masih mempunyai harapan untuk hidup diluar kandungan, dimana keberhasilan tindakan pada salah satu organ atau beberapa organ dapat memberikan kesembuhan pada janin.

Salah satu contoh proses fetal treatment, yaitu pada bayi dengan gangguan pertumbuhan saluran kemih sejak lahir (atresia urethrae). Kondisi tersebut membuat urine si bayi tidak dapat keluar ke rongga ketuban, sehingga air ketuban sangat sedikit. Pada keadaan seperti ini dokter akan memeriksa organ lain yang terlibat terlebih dahulu dengan pemeriksaan detail scan yang dilanjutkan dengan pemeriksaan cordocentesis untuk melihat tipe kelainan kromosom. Jika kelainan hanya satu atau kelainan lain tidak mengancam nyawa si janin, maka tindakan fetal treatment dapat dilakukan dengan pemasangan saluran kecil dari plastik (pigtail) yang menghubungkan kandung kemih dengan rongga ketuban, ini berfungsi mengalirkan air di kandung kemih yang terperangkap.

Fetal treatment ini sudah dilakukan di RSAB Harapan Kita sekitar 10 tahun lalu. Diantaranya, Transfusion intra uterine, yaitu pemberian darah ke janin selama masih dalam kandungan yang disebabkan janin mengalami anemia. Kemudian , Fetal thoracocentesis, yaitu pengeluaran cairan dari rongga dada janin karena terjadi penumpukan cairan yang disebabkan beberapa faktor diantaranya pembendungan aliran limfe dan infeksi virus. Juga Fetal paracentesis, yaitu pengeluaran cairan dari perut janin karena penumpukan cairan di rongga perut, yang bertujuan mengurangi tekanan ke dinding dada janin yang berhubungan dengan perkembangan paru paru janin.

Selanjutnya juga ada Fetal bladder stenting , yaitu pemasangan pigtail, seperti yang disebutkan pada kasus yang disebutkan sebelumnya. Lalu ada juga amnioreduction , yaitu pengeluaran air ketuban karena jumlah air ketuban yang berlebihan yang disebabkan multi faktor yang bertujuan untuk mencegah sesak nafas pada ibu dan risiko kontraksi dini. Dan amnioinfusion , yaitu pengisian air ke dalam rongga ketuban yang sangat sedikit yang bertujuan menghindarkan terjepitnya tali pusat antara dinding rahim dan badan janin, juga untuk mencegah gangguan pertumbuhan paru paru janin selama dalam kandungan.

Fetal treatment ini melibatkan banyak ahli. Termasuk dokter spesialis obgin, dokter spesialis anastesi, dokter ahli genetika, serta dokter anak subspesialis perinatologi.

Peneliti Amerika Berhasil Ciptakan Vagina Buatan


Para peneliti dari Wake Forest Baptist Medical Center Institute for Regenerative Medicine, North Carolina, AS, berhasil menciptakan impan vagina untuk empat perempuan yang tidak memiliki vagina lantaran menderita sindrom Mayer-Rokitansky-Kuster-Hauser, yakni suatu kelainan bawaan lahir yang ditandai dengan tidak adanya vagina, serviks, dan uterus (rahim).

Dikutip dari Live Science, Kamis, 10 April 2014, semua pasien dalam penelitian ini telah menjalani operasi dalam lima sampai delapan tahun lalu, saat mereka berusia 13-18 tahun. Implan vagina yang ditanamkan di tubuh mereka dikembangkan dari sel-sel pasien itu sendiri.

Sejauh ini, upaya implan tersebut telah berhasil dan pasien yang kini sudah memasuki masa aktif secara seksual melaporkan bahwa vagina implan mereka berfungsi dengan normal.

Dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Lancet edisi 10 April 2014, peneliti menggunakan sepotong kecil jaringan vulva yang berukuran kira-kira setengah dari ukuran perangko. Jaringan ini kemudian dikembangkan di laboratorium hingga membentuk vagina lengkap beserta saraf-sarafnya.

Setelah implan ini tumbuh, dokter kemudian melakukan pembedahan untuk menciptakan rongga di tubuh pasien sebagai tempat peletakkan vagina. Seluruh proses ini membutuhkan waktu setidaknya 5-6 minggu.

Dr. Anthony Atala, salah satu peneliti dalam program ini mengatakan, keberhasilan ini bisa dikembangkan untuk pengobatan baru bagi pasien kanker vagina atau perekonstruksian vagina akibat cedera.

Ilmuwan Berhasil Ciptakan Kehidupan Dengan Media Ragi


Lewat penelitian selama tujuh tahun, sebuah tim ilmuwan internasional berhasil menciptakan kromosom sintetis dari sel ragi untuk pertama kalinya. Terobosan baru ini adalah lompatan besar dari penelitian sebelumnya yang sukses membuat rantai kromosom sintetik untuk bakteri dan virus. Kini jalan para “perancang” organisme makin terbuka lebar.

Dalam studinya, para peneliti membuat molekul deoxyribonucleic acid (DNA) buatan dan menggabungkannya untuk menyusun kromosom artifisial ragi. Ragi merupakan organisme kompleks eukariotik yang memiliki nukleus dalam selnya. Tanaman, hewan, dan manusia juga tergolong organisme eukariotik karena memiliki nukleus di dalam selnya.

Keberhasilan menciptakan kromosom ragi adalah langkah besar dalam ilmu biologi sintetik. “Hal yang paling membanggakan adalah kami mampu mengubah rangkaian kromosom alami lalu menyusun seluruh rantainya dari nol,” kata kepala penelitian Jef Boeke, ahli biologi sintetik dari Langone Medical Center Universitas New York. Hasil penelitian mereka telah dimuat dalam jurnal Science, 27 Maret 2014.

Sejak 4.000 tahun lalu, manusia sudah menggunakan ragi untuk membuat minuman beralkohol. Penggunaan ragi makin luas, termasuk untuk membuat roti, bir, dan anggur. Pada era modern, jamur itu juga digunakan dalam pembuatan vaksin, obat-obatan, dan biofuel.

Boeke dan timnya memakai program khusus komputer untuk merancang kromosom III, dilabeli synIII, dari ragi. Hasil rancangan itu lalu digabungkan dengan ragi Saccharomyces cerevisiae yang biasa digunakan untuk membuat bir dan roti. Kromosom itu dipilih karena ukurannya paling kecil dari 16 kromosom ragi. Kromosom itu mengatur bagaimana sel membelah dan menerima perubahan genetik.

Boeke mengatakan kromosom yang mereka buat terlihat normal. Menurut dia, ragi yang punya DNA sintetik pada kromosom memiliki sifat yang nyaris identik dengan ragi alami. Dengan teknik yang dikenal sebagai “pengacakan”, para ilmuwan bisa memutar-balik rangkaian gen ragi layaknya tumpukan kartu. Mereka bisa membuat jutaan susunan baru dari tumpukan “kartu” genetik itu.

Walhasil, ragi bisa memiliki beragam properti dan fungsi. Peneliti bisa membuat ragi sintetik untuk memproduksi obat langka seperti artemisinin yang digunakan dalam pengobatan malaria. Vaksin hepatitis B juga bisa dibuat dengan “mengakali” rangkaian kromosom ragi. Dalam skala besar, ragi sintetik bisa dipakai membuat biofuel yang lebih efisien, seperti alkohol, butanol, atau biodiesel. “Hal ini membuat manusia bisa melakukan transisi dari ketergantungan minyak bumi,” kata Boeke.

Keberhasilan membangun kromosom eukariot, organisme yang memiliki inti sel, mendapat apreasi. “Ini adalah contoh luar biasa bahwa biologi sintetik bisa dipakai untuk menulis ulang rangkaian kromosom dalam skala besar,” kata Craig Venter dari J. Craig Venter Institute, yang sukses menciptakan bakteri sintetik pertama pada 2010. Paul Freemont dari Imperial College London mengatakan temuan ini mengubah pemahaman dalam rekayasa genom dan kromosom. “Ini adalah bukti bahwa kromosom bisa didesain ulang, disintensis, dan bekerja dalam sel hidup,” kata dia.

Ahli Genetika Temukan Bahwa Manusia Merupakan Hasil Kawin Silang Antara Simpanse dan Babi


Ahli genetika Amerika mengklaim bahwa manusia berasal dari hibridisasi babi jantan dan simpanse betina. Klaim tersebut diungkapkan oleh Dr Eugene McCarthy dari University of Georgia yang juga ahli hibridisasi hewan terkemuka di dunia.

McCarthy mengatakan, kemiripan manusia dan simpanse memang banyak ditemukan. “Tapi kami juga menemukan banyak ketidakmiripan karakteristik manusia dan primata itu,” katanya. Ketidakmiripan itu, menurut McCarthy, adalah hasil hibridisasi waktu lampau dalam sejarah evolusi manusia.

Bahkan ada satu hewan yang memiliki semua ciri-ciri yang membedakan manusia dengan primata dalam kerajaan hewan. “Hewan itu adalah babi,” kata McCarthy. Ia menjelaskan hipotesis yang mengherankan itu dalam Macroevolution.net. Meskipun hanya hipotesis, namun ia menyertakan bukti kuat sebagai pendukungnya.

Para ilmuwan menganggap bahwa simpanse adalah kerabat terdekat evolusi manusia dengan pembuktian genetik. Namun McCarthy menunjukkan, meski terdapat banyak kesamaan genetik, tapi ada sejumlah besar karakteristik anatomi yang membedakan keduanya. Perbedaan ini seperti kulit berbulu, lapisan lemak yang tebal, warna mata yang cerah, hidung menonjol dan bulu mata yang berat. Dan, menurut dia, karateristik ini justru lebih mirip dengan babi.

Memang, jaringan kulit babi dan katup jantung dapat dilakukan untuk pengobatan karena kesamaan dan kompatibilitasnya dengan tubuh manusia. McCarthy menjelaskan, percampuran babi dan simpanse pada masa lalu kemungkinan diikuti oleh generasi silang balik. Keturunannya menjadi lebih mirip simpanse ketimbang babi.

Hipotesis ini mengundang kritikan keras. Namun McCarthy percaya bahwa dalam kasus manusia dan makhluk lainnya, modifikasi hibrid dalam teori evolusi dapat menjelaskan berbagai fenomena. Bahkan teori evolusi Darwin pun kesulitan untuk menjelaskan.