Informasi Tentang Dunia Teknologi Terkini

Entries categorized as ‘Psychology’

Orang Optimis Hidup Lebih Lama Dari Pesimis

Maret 9, 2009 · 1 Komentar

Orang yang optimistis hidup lebi lama, lebih sehat dibandingkan orang yang pesimistis, kata beberapa peneliti AS, Kamis (5/3), dalam studi yang mungkin memberi kaum pesimistis satu lagi alasan untuk menggerutu.

Para peneliti di University of Pittsburgh mengkaji angka rata-rata kematian dan kondisi kesehatan kronis di kalangan pasien dalam studi Women`s Health Initiative –yang telah mengikuti perkembangan lebih dari 100.000 perempuan yang berusia 50 tahun ke atas sejak 1994.

Perempuan yang memiliki sifat optimistis –orang yang memperkirakan sesuatu yang baik dan bukan buruk akan terjadi– 14 persen kurang mungkin untuk meninggal akibat penyebab apa pun dibandingkan dengan orang yang pesimistis, dan 30 persen kurang mungki untuk menghembuskan nafas akibat sakit jantung setelah delapan tahun pengamatan dalam studi tersebut.

Orang yang optimistis juga kurang mungkin untuk menghadapi tekanan darah tinggi, diabetes atau menghisap rokok.

Tim tersebut, yang dipimpin oleh Dr. Hilary Tindle, juga meneliti perempuan yang sangat tak percaya pada orang lain –satu kelompok yang mereka sebut “bermusuhan sangat sinis”– dan membandingkan mereka dengan perempuan yang lebih mempercayai orang lain.

Perempuan di dalam kelompok bermusuhan secara sinis cenderung untuk setuju dengan pertanyaan seperti: “Saya seringkali harus menerima perintah dari seseorang yang tak mengetahui sebanyak yang saya ketahui” atau “Paling aman tak mempercayai seorang pun”, kata Tindle dalam suatu wawancara telefon dengan wartawan kantor berita Inggris, Reuters.

“Pertanyaan ini membuktikan rasa tak percaya umum pada orang lain,” kata Tindle, yang menyajikan studinya pada Kamis dalam pertemuan tahunan American Psychosomatic Society di Chicago. Pola berfikir semacam itu merenggut korban.

“Perempuan yang bermusuhan secara sinis 16 persen lebih mungkin untuk meninggal (selama masa studi) dibandingkan dengan perempuan yang tak terlalu bermusuhan secara sinis,” kata Tindle.

Mereka juga 23 persen lebih mungkin menemui ajal akibat kanker.

Tindle mengatakan studi itu tak membuktikan sikap negatif mengakibatkan dampak kesehatan negatif, tapi ia mengatakan semua temuan tersebut benar-benar akan memperlihatkan keterkaitan pada suatu hari nanti.

“Saya kira kita benar-benar memerlukan penelitian lebih lanjut guna merancang pengobatan yang akan ditujukan kepada sikap manusia guna melihat apakah semua itu dapat diubah dan apakah perubahan itu bermanfaat bagi kesehatan,” katanya.

Dan Tindle mengatakan meskipun seorang pesimitis mungkin berpendapat, “Takdir saya sudah diputuskan. Tak ada yang dapat saya lakukan, saya tak yakin itu benar. Kita `kan tidak tahu”

Kategori: Health · Psychology

Menjadi Makin Bahagia Dengan Makin Sedikit Seks

Desember 19, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sebuah survai di Amerika Serikat yang menjaring 1.000 responden berusia 55 sampai 75 tahun menunjukkan bahwa masa pensiun membuat banyak keluarga di AS menjadi lebih bahagia, stres jauh lebih berkurang, tetapi kehidupan seksual makin menurun.

Jajak pendapat yang diadakan AARP The Magazine dan kemudian dikutip msnbc.com memperlihatkan, 96 persen responden mengaku kehidupan mereka kokoh harmonis bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

“Itu hampir 100 persen lho. Saya kira itu adalah salah satu statistik paling mengejutkan yang pernah saya saksikan, terutama karena di situ terlihat orang-orang di usia pensiun menjadi makin bijaksana untuk saling memahami kelemahan masing-masing,” ungkap Nancy Perry Graham, editor AARP The Magazine.

Yang lebih mengejutkan adalah 74 persen responden mengaku hidupnya menjadi lebih bahagia justru ketika mereka pensiun, ketimbang semasa mereka masih bekerja.

“Mayoritas luas mengaku lebih bahagia dan mayoritas lainnya menyebut hubungan mereka semakin kuat sehingga semuanya sangat positif.  Ini kabar besar untuk banyak orang dalam melihat hidupnya ke depan, mengingat hidup orang-orang makin panjang.  Kami tidak sedang membicarakan tahun-tahun selama pensiun, melainkan dekade-dekade semasa pensiun,” sambung Nancy.

Survai yang membidik pasangan-pasangan nikah yang baik salah seorang maupun keduanya sudah pensiun ini menujukkan bahwa pasangan-pasangan bahagia ini menjadi lebih suka melancong, makan di luar, berolahraga, berbakti sosial, menggeluti hobi dan makin kerap berselancar di internet.

Kegiatan hidup sehari-hari lainnya yang meningkat di masa pensiun adalah merawat rumah, menonton televisi dan tidur.

Seks berkurang

Namun, di balik statistik-statistik naik itu, ada juga kecenderungan menurun, yaitu hubungan seks di mana 22 persen responden mengaku kehidupan seksual berkurang di masa pensiun.

Tetapi, para ahli kesehatan seperti Sallie Foley, Direktur Pusat Kesehatan Seksual pada Universitas Michigan, menyebutkan penurunan itu tidak mengejutkan karena aktivitas seksual memang bakal menurun di usia tua karena berbagai alasan khusus.

“Benar lho, orang banyak yang salah sangka mengenai penuaan ini dan salah satu kekeliruaan itu adalah pendapat yang mengatakan semakin tua orang menjadi semakin tidak menyukai seks.  (Padahal) orang tetap menyukai seks, kecuali mereka menghadapi dua faktor yaitu kesehatan dan depresi,” kata  Sallie.

“Itu yang membuat kita mesti bertanya, apakah bekerja bisa menghindarkan depresi?” tambah Sallie.

Untuk itu, Sallie menyarakan tiga langkah bagi mereka yang kehidupan seksualnya menurun, yaitu jangan menunda pekerjaan, berolahraga, dan berkomunikasilah selalu di ranjang meskipun tidak harus selalu dengan berhubungan seks.

Kembali ke hasil survai, lebih dari tigaperempat responden menyatakan romantisme hubungan mereka sekokoh sebelum pensiun, sementara 12 persen mengaku menjadi lebih romantis, dan 30 persen menjadi makin akur, tidak gampang bertengkar.

“Orang semakin menyelami kelemahan dan kekuatan masing-masing.  Mereka seperti berpacaran kembali, menikmati kebersamaan mereka, mengerjakan banyak hal bersama-sama, seperti melancong atau makan di luar bersama,” kata Nancy.

21 persen responden mengaku sering bertengkar selama masa pernikahannya, kemudian naik menjadi 27 persen ketika mereka mulai mempertanyakan masa depan keluarga mereka.

Survai itu juga menunjukkan wanita menjadi kelompok yang paling hirau dengan masa depan keluarganya di mana 24 persen wanita ingin masa kerja yang lebih panjang karena mereka takut kekurangan uang, kehilangan pekerjaan, menguapnya tunjangan kesehatan, atau merasa bosan dan frustrasi ada di rumah terus

Kategori: Cognitive Science · Psychology

Wanita Lebih Memilih Akses Internet Daripada Berhubungan Seks

Desember 16, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hampir satu dari dua wanita akan lebih suka tidak melakukan aktivitas seksual selama dua pekan ketimbang tanpa akses Internet, demikian menurut survei yang disiarkan Senin.

Sebaliknya, jauh lebih sedikit kaum pria akan memilih tanpa seks, demikian menurut survei atas 2.119 orang dewasa yang dilakukan perusahaan riset online Harris Interactive dan disponsori oleh Intel Corp., perusahaan pembuat chip komputer terbesar di dunia.

Empat puluh enam persen wanita yang diminta pendapatnya dalam jajak pendapat (poll) mengemukakan mereka lebih memilih tanpa seks selama dua minggu daripada tanpa okses ke Internet pada periode yang sama, kata survei tentang “Kepercayaan Terhadap Internet dalam Perekonimian Dewasa Ini”.

Hanya 30 persen kaum pria yang menyatakan mereka lebih suka hubungan yang intim daripada menjelajah dunia maya.

Sebanyak 95 persen dari mereka yang disurvei mengatakan “sangat penting atau agak penting” untuk dapat mengakses Internet.

Sekitar 65 persen responden memberikan peringkat akses Internet di atas pengeluaran lainnya, seperti langganan televisi kabel (39 persen), makan di luar (20 persen), membeli baju (18 persen) atau keanggotaan klub kesehatan (10 persen).

Kebanyakan responden wanita (61 persen) mengatakan mereka lebih senang tak menonton televisi selama dua pekan ketimbang tak mempunyai akses internet seminggu saja.

Menurut Harris Interactive dan Intel, survei tersebut dilakukan pada 18-20 Nopember. Mereka tidak memberikan berapa persen toleransi kesalahan (margin error) hasil survei.

Kategori: Cognitive Science · Computer · Internet · Psychology · Telecomunication

Bunuh Diri Karena Ketiadaan Cinta dan Dukungan

Desember 4, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Psikolog yang juga pengajar di FKIP Universitas Lampung (Unila) Diah Utaminingsih, mengatakan maraknya aksi bunuh diri diantaranya karena kehilangan dukungan sosial dan kegagalan mendapatkan cinta dan perhatian baik dari pasangan maupun lingkungan.

“Umumnya pelaku bunuh diri adalah remaja dan orang dewasa, bahkan mereka pun berpendidikan. Hal itu diantaranya karena tidak adanya faktor protektif, cinta dan kehilangan dukungan sosial,” kata dia, di Bandarlampung, Kamis.

Ia mencontohkan, kasus ayah bunuh istri dan anak di Jawa Timur, kemudian bunuh diri, dari keterangan beberapa saksi pelaku sebagai sosok ramah dan pandai bergaul yang mendadak menjadi pendiam karena faktor kehilangan dukungan sosial.

Artinya, ketika mendapatkan suatu masalah tidak bisa membagi ke orang lain yang dapat memberikan solusi karena seluruh lingkungan sudah membenci dia.

Selain itu, sebagai orang dewasa dituntut harus mandiri, mampu menanggung konsekuensi tanpa menyalahkan orang lain dan karena kurang berhasilnya dalam kehidupan sosial (mungkin disebabkan karena terlalu berfokus pada diri sendiri), ia merasa dilabel oleh lingkungan pribadi yang gagal, sehingga jalan pintas yang diambil adalah bunuh diri.

Terkait mengajak atau membunuh orang lain, seperti yang juga terjadi di Lampung beberapa hari lalu seorang ayah sebelum bunuh diri membunuh kedua putranya, Diah mengatakan dari perspektif ilmu psikologi seseorang yang ingin bunuh diri ada tiga yakni mempunyai sifat untuk membunuh, dibunuh dan mati.

“Sehingga, punya keinginan untuk membunuh orang lain terlebih dahulu sebelum bunuh diri,” katanya.

Menurut Diah, yang juga mantan atlet senam itu, pada kasus ayah membunuh anak kemudian bunuh diri, bisa saja adanya kekecewaan, yakni selama ini telah melaksanakan tugas sang istri, kemudian mendapat label tidak menyenangkan dari lingkungan.

Ketika berkumpul kembali dengan istri, keinginan yang diharapkannya tidak tercapai, sehingga membunuh anak-anak sebagai tanggungjawabnya selanjutnya bunuh diri.

Sementara pada kasus remaja bunuh diri, biasanya pelaku hanya ingin protes terhadap orang-orang di sekitarnya, bahwa tidak ada yang menyayanginya.

“Maka, beberapa kasus sering ditemukan remaja mencoba bunuh diri dan masih dapat diselamatkan, karena pelaku sebenarnya tidak ingin mati hanya berusaha untuk selalu menjadi pusat perhatian,” kata dia lagi.

Psikolog itu menambahkan, umumnya pelaku bunuh diri adalah sosok pribadi yang ramah dan pandai bergaul yang mendadak kehilangan dukungan sosial karena terlalu fokus pada diri sendiri hingga akhirnya menjadi pendiam dan pemurung.

Sementara itu, di Lampung dalam dua hari terakhir terjadi aksi bunuh diri yakni seorang ayah sebelum bunuh diri, membunuh kedua putranya yang masih berusia sembilan dan delapan tahun. Ketiganya ditemukan tewas tergantung.

Kemudian, seorang yang diduga waria, bunuh diri juga dengan cara mengikat lehernya dan menggantungkan ke bagian rumah, dan sempat membawa keponakannya dengan cara digantung.

Namun, keponakannya tersebut sempat tertolong sehingga selamat.

Kategori: Cognitive Science · Health · Psychology

Remaja Amerika Serikat Banyak Yang Suka Berbohong, Menyontek dan Mencuri

Desember 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Suatu studi menunjukkan bahwa remaja Amerika Serikat ternyata berada pada “tingkat yang tidaka diduga-duga” dalam hal berbohong, mencuri dan menyontek.

Hasil penelitian atas hampir 30.000 siswa sekolah menengah itu merupakan sesuatu yang pertanda jelek bagi mereka saat menjadi orang tua, jenderal, wartawan, staf eksekutif perusahaan, polisi dan dan politikus generasi mendatang, ungkap lembaga nirlaba Josephson Institute.

Dalam “2008 Report Card on the Ethics of American Youth”, organisasi yang berpusat di Los Angeles tersebut, menyatakan jawaban para remaja itu atas pertanyaan mengenai berbohong, mencuri dan menyontek, mengungkapkan kebiasaan mengenai ketidakjujuran yang menjadi akar angkatan kerja masa depan.

Anak laki-laki didapati berbohong dan mencuri lebih banyak dibandingkan dengan anak perempuan.

Secara keseluruhan, 30 persen siswa mengaku mereka mencuri dari satu toko dalam waktu satu tahun terakhir, naik dua persen dari 2006.

Lebih dari sepertiga anak laki-laki (35 persen) mengatakan mereka pernah  mencuri barang, sedangkan anak perempuan yang mencuri berjumlah 26 persen.

Sebesar 83 persen siswa sekolah agama, swasta maupun negeri, mengaku berbohong pada orang-tua mereka mengenai sesuatu yang penting, jumlah lebih rendah yaitu 78 persen didapat dari siswa sekolah non-agama yang independen.

“Menyontek di sekolah terus merebak dan bertambah parah,” kata studi tersebut. Di antara mereka yang ditanyai, 64 persen mengatakan mereka telah menyontek dalam tes, dibandingkan dengan 60 persen pada 2006. Dan 38 persen menyatakan mereka telah melakukannya dua kali atau lebih.

Kendati tak ada perbedaan jenis kelamin yang mencolok dalam masalah menyontek saat ujian, siswa dari sekolah independen nonagama memiliki angka menyontek paling rendah, 47 persen, dibandingkan dengan 63 persen siswa yang belajar di sekolah agama.

Studi itu memperingatkan, “Jumlah ini memang buruk, dan tampaknya  menggarisbawahi tingkat ketidakjujuran yang diperlihatkan oleh kaum muda Amerika.”

Lebih seperempat siswa (26 persen), katanya, mengakui mereka telah berbohong setidaknya satu atau dua kali mengenai pertanyaan jajak pendapat tersebut.

“Meskipun tingkat ketidakjujuran ini tinggi, anak-anak ini memiliki citra-diri yang juga tinggi ketika sampai pada masalah etika,” katanya.

Sebanyak 93 persen siswa menyampaikan kepuasan dengan etika dan watak mereka sendiri, dan 77  persen mengatakan, “Ketika sampai pada masalah melakukan apa yang benar, saya lebih baik dibandingkan dengan yang diketahui kebanyakan orang

Kategori: Cognitive Science · Psychology

Orang Tidak Bahagia Lebih Lama Nonton TV Daripada Orang Bahagia

November 17, 2008 · 1 Komentar

Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa orang yang hidupnya tak bahagia menghabiskan sebagian waktu luangnya dengan menonton televisi. Mereka berada di depan televisi 30 persen lebih banyak dibanding orang yang kehidupannya menyenangkan.

“Orang tidak bahagia makin banyak menonton TV diwaktu senggang sedangkan orang yang “sangat bahagia” akan banyak menghabiskan waktu dengan membaca koran dan buku ilmu pengetahuan” kata sosiolog Universitas Maryland, John P. Robinson. Robinson adalah salah satu penyusun penelitian itu dan perintis berbagai penelitian pemanfaatan waktu dan seorang ahli sosiologi di University of Maryland, College Park, Amerika Serikat

Tingkat pendidikan, pendapatan, usia, dan status perkawinan tidak mempengaruhi hasil penelitian itu. Sebagai tambahan, orang berbahagia memiliki kehidupan yang lebih aktif seperti senang olahraga, jalan kaki ataupun bekerja hingga melakukan pekerjaan rumah sendiri, sering mengikuti kegiatan religius, gemar memberikan amal dan sedekah, dan lebih sering membaca koran dan buku ilmu pengetahuan dibanding tetangga mereka yang hidupnya kurang menyenangkan.

Penemuan yang diumumkan pada Kamis lalu itu adalah hasil survei terhadap hampir 300 ribu orang dewasa Amerika yang dilakukan antara 1975 dan 2006 sebagai bagian dari survei sosial umum. Survei itu menunjukkan bahwa orang yang hidup bahagia menonton televisi sekitar 10 jam per minggu. Sebaliknya, orang tak bahagia menghabiskan 25 jam per minggu.

Menurut para peneliti di University of Maryland, menghabiskan waktu dengan menonton televisi akan membantu menyenangkan penonton tapi hanya sesaat dan tidak banyak dampak positifnya untuk jangka panjang. Studi yang dilakukan para sosiolog itu akan dimuat di jurnal “Social Indicators Research”.

Rasa bahagia yang didapat dari acara televisi tidak berlangsung selamanya. “Data ini mengungkap bahwa TV memberikan kesenangan jangka pendek, namun dalam jangka panjang justru membawa depresi,” kata John Robinson.

Dalam skenario itu, bahkan seorang yang paling bahagia pun bisa berubah menjadi orang paling menyedihkan bila mereka terus-menerus memelototi televisi. Kesimpulan studi tersebut adalah hasil dari analisa terhadap penelitian-penelitian pemanfaatan waktu berdasarkan data nasional sepanjang 30 tahun. Studi itu juga melanjutkan hasil survai serangkaian sikap sosial. .

“TV itu lebih pasif dan bisa jadi pelarian – khususnya pada saat beritanya sedang tidak menyenangkan sebagaimana keadaan ekonomi. Data menyarankan kita bahwa kebiasaan menonton TV bisa memberi kesenangan sesaat tapi merugikan untuk jangka panjang.”

Berdasarkan data survai pemanfaatan waktu, Robinson memperkirakan orang akan semakin banyak menonton TV seiring ekonomi kian memburuk.

Menurut penelitian tersebut, orang yang tidak bahagia 20 persen lebih banyak menonton televisi dibandingkan orang yang sangat bahagia. Menurut data tersebut, TV dipandang sebagai sesuatu yang “gampang” dan nyaman untuk menikmatinya tidak perlu beranjak, berdandan, merencanakan terlebih dulu, mengeluarkan energi, dikerjakan dahulu, atau keluar uang.

“Anda jadi mengerti alasan orang Amerika menghabiskan lebih dari setengah waktu senggang mereka untuk menonton televisi,” kata para peneliti tersebut. Kesimpulan lainnya adalah menonton televisi mirip dengan ketagihan. “Orang yang paling gampang ketagihan adalah yang cenderung punya masalah pribadi.

Kategori: Cognitive Science · Health · Psychology

Internet Memberi Pengaruh Positif Dan Mempererat Keluarga Apalagi Bila Semua Anggota Keluarga Suka Chatting

Oktober 22, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sejumlah analis khawatir, teknologi baru akan mengganggu kebersamaan keluarga, tetapi tampak (dari survei ini) bahwa teknologi baru memungkinkan terciptanya ketersambungan baru yang terbangun di sekitar ponsel dan internet

(Tracy Kennedy, Universitas Toronto, penulis Laporan ”Networked Families”/Keluarga yang Tersambung).

Ketika kolom ini mengulas soal multitasking (Kompas, 4 April 2007), komentar yang masuk umumnya mengiyakan maraknya gejala mengerjakan berbagai aktivitas sekaligus dalam waktu yang sama. Memang multitasking – ditambah dengan multiple sensory input (memasukkan informasi dalam berbagai ragam rupa/media)—tampaknya sudah begitu meluas, bahkan menurut Linda Stone, mantan periset di perusahaan Apple dan Microsoft, gejala itu levelnya sudah epidemik.

Salah satu akibatnya, banyak orang mengalami apa yang disebut continuous partial attention atau tidak bisa berkonsentrasi pada satu urusan karena pikirannya terbagi-bagi untuk berbagai urusan dalam satu waktu.

Kekhawatiran akan hal itu terutama ditujukan pada kaum muda atau mereka yang disebut sebagai ”generasi digital”. Dengan stimulasi SMS, MP3, telepon, dan chatting, yang bersifat terus-menerus, pada anak-anak akan terbentuk ketidakpekaan dan ketidakacuhan saat mereka berusia 25 atau 30 tahun nanti (Time, 19/3/2006). Ya, orangtua khawatir anak-anak akan tumbuh sebagai orang yang tidak acuh terhadap dunia di sekeliling mereka.

Sekarang saja sering terlihat bagaimana anak, di antara saudara dan orangtua, bahkan mungkin juga antara suami dan istri, yang ketika fisiknya bersama-sama di satu tempat, masing-masing sibuk dengan gadget-nya sendiri. Ada yang sibuk ber-SMS, ada yang sibuk dengan laptop-nya, dengan blackberry- nya. Padahal, yang diidealkan adalah pada saat bersama, mereka justru lupa pada gadget dan hangat berkomunikasi secara konvensional, bercakap dan bercanda.

Namun, benarkah itu satu-satunya arah yang akan dituju oleh masyarakat pada era teknologi? Masih adakah peluang teknologi justru mempersatukan dan menghangatkan keluarga?

AS membantah

Ketika semakin banyak orang merisaukan maraknya kebiasaan multitasking karena akan menjauhkan diri dari konsentrasi dan kedalaman, di AS terbit hasil survei yang hasilnya berlawanan dengan kerisauan di atas. Dalam arti, meskipun ada pemakaian teknologi secara luas, pada dasarnya keluarga masih bisa mendapatkan manfaat positif dari teknologi.

Dalam survei Pew Internet dan American Life Project yang mengikutsertakan 2.252 responden dewasa itu diperlihatkan, secara umum keluarga inti Amerika memiliki ponsel, menggunakan internet, dan memiliki komputer di rumah (AFP/MSN, 19/10).

Yang disebut keluarga inti di sini adalah keluarga yang terdiri dari pasangan menikah dengan beberapa anak kecil. Apa yang diamati pada keluarga inti tersebut dibandingkan dengan apa yang ada pada orang dewasa yang hidup membujang, rumah yang dihuni anggota-anggota yang tidak mempunyai hubungan keluarga, atau pasangan tanpa anak.

Survei menyebutkan, 66 persen rumah tangga (RT) pasangan menikah dengan anak-anak punya koneksi internet berkecepatan tinggi di rumah. Ini jauh di atas rata-rata RT nasional yang angkanya hanya 52 persen. Ditemukan pula bahwa dalam 65 persen RT menikah dengan beberapa anak, kedua orangtua dan sedikitnya satu anak berinternet.

Survei juga menambahkan, anggota-anggota keluarga sering mengontak saudara dengan ponsel dan mereka menggunakan ponsel untuk mengoordinasikan kehidupan keluarga saat masing-masing sibuk di luar rumah.

Survei menemukan, 42 persen orangtua mengontak anak- anaknya setiap hari dengan menggunakan ponsel. Hal itu membuat ponsel menjadi alat komunikasi paling populer di antara orangtua dan anak.

Internet dan TV

Selain komunikasi dengan ponsel, berinternet ternyata juga sering menjadi salah satu aktivitas sosial. Sebanyak 50 persen pengguna internet yang hidup bersama pasangan dan satu/lebih anak sambung ke internet beberapa kali seminggu.

”Keluarga-keluarga kini semakin menjadi jaringan,” kata Barry Wellman, juga dari Universitas Toronto yang ikut menulis laporan itu. Ia menambahkan, bahwa masing-masing anggota keluarga bisa menjadi hub (simpul) komunikasi, dan itu mengubah banyak hal baik di dalam maupun di luar rumah.

Yang menarik adalah bahwa pemanfaatan teknologi baru ini telah mengubah pula penggunaan teknologi lama. Memang di kalangan dewasa, 74 persen responden mengaku masih menonton TV hampir tiap hari. Namun, di kalangan kaum muda usia 18-29 tahun, persentase di atas lebih kecil, hanya 58 persen. Sebagian lain (29 persen) mengatakan, mereka menonton TV lebih sedikit karena lebih banyak menghabiskan waktu dengan internet.

Penurunan jumlah penonton TV, demikian pula pembaca media cetak, disebut merupakan konsekuensi langsung dari meningkatnya pemanfaatan media baru, yang telah mengubah masyarakat menjadi konsumen multimedia.

Pengaruh Positif

Survei di atas tentu saja membesarkan hati, khususnya setelah muncul kecemasan yang terkait dengan maraknya sindroma kehilangan perhatian (attention deficiency syndrome/ADS), yang wujudnya berupa individu yang tidak acuh dengan lingkungan sekitar, termasuk ketika ada anggota keluarga atau teman di dekatnya.

Dari uraian di atas yang tampak justru kesatuan keluarga dapat terus dipelihara atau bahkan ditingkatkan dengan menggunakan ponsel atau internet.

Meskipun demikian, satu hal yang tetap perlu disadari adalah bahwa teknologi hanyalah sekadar alat. Unsur yang lebih mendasar adalah saling pengertian di antara keluarga itu sendiri, yang setiap saat harus dipupuk melalui komunikasi, secara tradisional ataupun dengan memanfaatkan sarana teknologi.

Berkembangnya ”keluarga teknologi” memberi kemungkinan baru. Hanya saja, di Indonesia, hal itu belum bisa seluas di negara maju, mengingat masih terbatasnya tingkat pendapatan dan akses terhadap teknologi. Pada sisi lain, digital divide atau kesenjangan digital ini lah yang pertama harus ditanggulangi sebelum manfaat teknologi baru dapat sepenuhnya dirasakan masyarakat.

Kategori: Computer · Gadget · Internet · Psychology · Telecomunication · Web Development

Dalam Hal Orgasme Wanita Yang Berjalan Cepat dan Enerjik Cenderung Hebat Menurut Penelitian

Oktober 19, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Cara berjalan bisa jadi menunjukkan sesuatu hal yang orang itu sendiri tidak tahu, sebagaimana yang dikemukakan suatu studi belum lama ini..

Studi berjudul “cara berjalan mungkin bisa dihubungkan dengan kemampuan orgasme,” dimuat dalam Journal of Sexual Medicine edisi September.

Sebagaimana dimuat MSNBC.com belum lama ini, sekelompok peneliti dalam studinya menyebutkan, perempuan yang bisa mencapai kepuasan adalah yang langkahnya energetik, mengalir dan berjalan cepat.

Penelitian itu dilakukan gabungan ilmuwan Universitas Katolik Louvain, Belgia dengan ilmuwan Universitas West Scotland di Paisley, Skotlandia.

Para peneliti itu minta sekumpulan mahasiswi untuk menjawab kuesioner tentang prilaku seksual mereka.

Sekumpulan mahasiswi itu dibagi dalam dua kelompok yaitu yang “sering” atau “selalu” mencapai kepuasan sedangkan kelompok lainnya adalah yang menjawab “tidak pernah” atau jarang”.

Semua responden kemudian disuruh berjalan sejauh 100 meter sambil berpikir yang menyenangkan, misalnya sedang berada di hangatnya tepi pantai. Selanjutnya mereka kembali diharuskan berjalan sejauh 100 meter , dengan skenario serupa tapi ditambah dengan berkhayal bahwa mereka sedang bersama seorang pria pasangannya.

Dua seksolog bertugas merinci cara berjalan setiap responden. Dua seksolog itu tidak diberitahu mana kelompok masing-masing mahasiswi tersebut, tapi dengan ketepatan 81 persen, mereka cocok dalam menggolongkan setiap responden ke dalam kelompok masing-masing.

Kaum hawa tidak perlu terlalu khawatir jika penelitian tersebut membuat setiap orang dapat menerka mereka dalam kemampuan orgasme.

Stuart Brody, peneliti yang profesor psikologi pada Universitas West Scotland, mengemukakan respondennya tidak memakai alas kaki karena “sepatu berhak tinggi mengaburkan cara jalan”. Jadi, perempuan dengan hak tinggi tidak termasuk yang bisa ditebak.

Dia juga mengatakan, cara jalan dari mereka yang bisa “orgasme” adalah yang langkahnya normal dan berjalan cepat dan tidak ada gangguan alami dalam hubungan antara kaki, pelvis, dan gerakan tulang belakang.

Yang diukur Brody dan para koleganya adalah keseluruhan dari panjang langkah dan jumlah rotasi ruas tulang belakang.

Penelitian itu menyimpulkan bahwa cara berjalan yang “menggoda” dan lambat kebanyakan menunjukkan “tidak mampu orgasme”. Dia mengatakan, cara jalan yang dia teliti mungkin adalah tanda dari jiwa yang sehat, rasa percaya diri dan hubungan seksual yang sehat.

Kategori: Biology · Health · Psychology

Suara Wanita Semakin Sexy Bila Mendekati Masa Subur Untuk Menarik Hati Pria

Oktober 10, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Seorang wanita meningkatkan nada suaranya selama masa tersuburnya setiap bulan, sehingga secara tak sadar kewanitaannya kian tampak, demikian menurut pengkajian yang disiarkan Rabu dalam jurnal Inggris, Biology Letters.

Dua ilmuwan di Universitas California di Los Angeles (UCLA) mengajukan pertanyaan kepada 69 wanita untuk merekam suaranya saat mereka dalam puncak kesuburannya dan ketika berada di titik rendah fertilitasnya menurut siklus menstruasi.

Kian dekat seorang wanita ke periode ovulasi, semakin meningkat pula nada suaranya, para investigator melaporkan, seperti dikutip AFP.

Meningkatnya nada suara seorang wanita hanya terdengar samar, namun puncak peningkatan cukup memadai untuk direkam atau boleh jadi didengar telinga kaum pria.

Bedanya, peningkatan terbesarnya muncul pada dua hari menjelang ovulasi, saat kesuburannya dalam siklus tertinggi.

Para ilmuwan berpendapat perubahan nada terjadi karena kaum pria terpikat oleh suara yang lebih “feminin” dan kaum wanita menanggapinya dengan naluri.

Sinyal seksual dan kebugaran reproduktif terkait erat dengan suara. Oleh karena itu, tak heran kalau wanita tertarik pada suara besar dan kuat, yang biasanya dimiliki pria dengan pembawaan menarik atau memiliki rasa percaya diri maskulin yang kuat.

Riset sebelumnya menemukan perubahan dalam aroma tubuh, peningkatan kegenitan, suatu perubahan menuju gaya busana yang lebih mengikuti mode dan meningkatnya rasa senang kepada pria yang lebih “maskulin” pada siklus pertengahan.

Tanda-tanda ini semakin tampak pada para penari di berbagai bar atau klub malam, yang tentu saja berpakaian seksi, pada masa subur mereka, demikian menurut penemuan para investigator pada tahun lalu.

Sebaliknya, perubahan vokal menuju ke suara parau ditemukan pada saat menstruasi, kata Greg Bryant dan Martie Haselton, dari Pusat Tingkah Laku, Evolusi dan Budaya universitas itu

Kategori: Biology · Cognitive Science · Psychology

Wewangian Sebelum Tidur Dapat Membuat Mimpi Indah

Oktober 3, 2008 · 1 Komentar

Apa yang Anda cium saat tidur mungkin akan menentukan seperti apa mimpi yang mungkin Anda alami. Hasil penelitian terakhir memang menunjukkan indikasi keterkaitan antara bau dengan mimpi.

Jika orang yang tidur diberi bau mawar, mimpinya pun menjadi berbunga-bunga. Sebaliknya, jika mencium bau telur busuk, mimpi buruk siap menghadang.

Meski demikian, bau-bauan tidak secara langsung menentukan jenis mimpi seseorang. Namun, bau-bauan terbukti mempengaruhi tingkat emosional mimpi seseorang.

“Jika bau memiliki pengaruh kuat terhadap emosi Anda saat bangun, ia juga punya pengaruh yang kuat saat Anda tidur,” ujar Boris Stuck, peneliti dari University Hospital Mannheim, Jerman yang mempresentasikan temuannya itu dalam pertemuan tahunan Akademi Otolaringologi Amerika-Bedah Kepala dan Leher baru-baru ini.

Dalam penelitiannya, Stuck menghadapkan bau mawar dan telur busuk kepada 15 perempuan sehat yang rata-rata berusia 20 tahunan. Perempuan muda sengaja dipilih karena memiliki sensor penciuman yang paling tajam.

Bau-bauan dialirkan dengan penuh seksama agar tidak sampai mengganggu dan membangunkan mereka saat tidur. Selama mereka tidur, aktivitas otaknya diamati. Saat mereka telah berada pada tahap REM (rapid eye movement), kondisi yang biasanya mimpi muncul, bau-bauan dilairkan ke lubang hidung selama 10 detik.

Setelah beberapa menit, masing-masing dibangunkan dan ditanya mimpi apa yang dialaminya. Mereka diuji selama tiga kali, masing-masing jiak diberi bau mawar, bau telur busuk atau sulfur, dan tanpa diberi bau apapun.

Hasil kesimpulannya menunjukkan bahwa bau-bauan yang wangi membuat mimpi indah. Sementara bau busuk membuat mereka mimpi buruk. Selama ini sensor penciuman diketahui terkait erat dengan sistem limbik pada otrak manusia yang mengatur emosi dan perilaku.

Kategori: Biology · Cognitive Science · Psychology