Informasi Tentang Dunia Teknologi Terkini

Entries categorized as ‘Physics’

Ahli Cuaca Dinamika Atmosfer Indonesia Semakin Tidak Mampu Memprediksi Hujan Di Indonesia

Desember 12, 2008 · 1 Komentar

Ahli dinamika atmosfer Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral Institut Teknologi Bandung Tri Wahyu Hadi mengatakan, iklim global termasuk di Indonesia saat ini makin kompleks, terutama dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Secara global, selain osilasi tahunan berupa muson barat, iklim di Indonesia sangat dipengaruhi El Nino dan La Nina, Dipole Mode di India, serta Osilasi Medden-Julian. Jika dulu, misalnya, pola La Nina dan El Nino bisa diprediksi termasuk daerah yang terkena dampaknya, saat ini hal itu sulit dilakukan.

“Dibandingkan tahun-tahun 60-an, peluang munculnya hujan lebat saat ini makin besar. Medden-Julian (MJO) yang bervariasi, kadang aktif, kadang pasif, beberapa tahun terakhir ini kerap aktif,” ucapnya mencontohkan kasus lain.

Satu hal yang ditekankannya, hujan ekstrem saat ini makin sering terjadi. Ini mencapai lebih dari 80 mm per jam. Dalam kasus banjir Jakarta 2002 dan 2007, curah hujan mencapai 250-300 mm per hari. Hujan dengan intensitas tinggi, tetapi dalam waktu pendek inilah yang memicu banjir besar.

Belum para ahli sepenuhnya memahami OMJ, lalu muncul cold surge, yaitu fenomena di mana muncul massa udara dingin dari arah utara akibat gangguan udara bertekanan tinggi di daerah Siberia. Fenomena yang terakhir ini oleh para ahli menjadi salah satu pemicu banjir besar di Jakarta.

Fenomena ini juga ikut memicu hujan tinggi di Bandung beberapa waktu lalu. Namun, ini masih menimbulkan perdebatan.

Kategori: Environment · Physics

Misteri Kilatan Cahaya Di Angkasa 400 Tahun Lalu Akhirnya Terpecahkan

Desember 5, 2008 · & Komentar

Kilatan cahaya terang di langit yang mengejutkan astronom Denmark, Tycho Brahe, lebih dari 400 tahun lalu bukanlah sesuatu yang aneh. Setidaknya setelah tim ilmuwan mengungkap rahasia di balik terjadinya peristiwa yang jarang terlihat kasat mata tersebut.

Sejauh ini, para ilmuwan yakin bahwa cahaya terang tersebut berasal dari ledakan bintang atau supernova. Namun, apa jenis supernova yang menyebabkannya masih menjadi teka-teki alam sampai kini.

Penelitian terakhir yang dimuat jurnal Nature menyimpulkan bahwa cahaya terang tersebut berasal dari ledakan bintang kembar jenis kerdil putih (white dwarf). Kesimpulan tersebut diperoleh setelah gabungan ilmuwan dari Jerman, Jepang, dan Belanda yang mengamati pantulan cahaya yang dihasilkan setelah bertahun-tahun.

Cerita mengenai peristiwa yang disebut supernova Tycho mulai menyebar pada 11 November 1572. Saat itu Brahe terkejut saat melihat cahaya terang di langit yang diduga sebagai bintang baru yang sangat terang di sekitar rasi bintang Cassiopeia. Namun, cahaya seterang Planet Venus tersebut ternyata hanya bertahan selama dua minggu dan hilang sepenuhnya setelah 16 bulan kemudian.

Karena belum ada teleskop saat itu, Brahe mencatatnya secara detail. Tidak seperti bulan atau planet, posisi obyek bercahaya tersebut tidak begerak relatif terhadap bintang lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa cahaya berada jauh di belakang.
Sesaat peristiwa tersebut menjadi pemandangan yang indah karena berada di tempat yang sama. Sejak peristiwa itu, Brahe berkomitmen untuk mempelajari bintang secara lebih intensif dan memulai tradisi astronomi modern.

Cahaya yang dihasilkan ledakan bintang tersebut memang sudah melewati Bumi jauh ratusan tahun lalu. Namun, debu dan gas yang dihasilkannya masih tercecer di luar angkasa sehingga peristiwa tersebut masih bisa dilacak. Penelitian terbaru juga dilakukan berdasarkan analisis terhadap pantulan gelombang yang masih dapat tercatat saat ini.

Kategori: Astronomy · Physics

Pengembangan Teknologi Nano Belum Terintegrasi Dengan Benar

November 10, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Indonesia masih tertinggal dalam pengembangan teknologi nano di tingkat Asia Tenggara, apalagi dunia. Ketiadaan lembaga nasional yang berfungsi sebagai koordinasi riset dan penentu jenis teknologi nano yang akan difokuskan adalah salah satu pemicunya.

Hal ini terungkap dalam seminar ”Pembaharuan Pendidikan Tinggi Teknik Mesin”, Sabtu (8/11) di kampus Institut Teknologi Bandung. Dalam seminar yang diadakan untuk menyambut 70 tahun Prof Filino Harahap (guru besar Teknik Mesin ITB) ini hadir sejumlah narasumber yang berkecimpung di dunia teknologi nano, antara lain Prof Gang Chen dari Massachusetts Institute of Technology; Ratno Nuryadi, peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, dan Prof Tresna P Soemardi dari Universitas Indonesia.

Ratno Nuryadi yang menghabiskan waktu bertahun-tahun meneliti dan melakukan survei teknologi nano di Jepang menceritakan, beberapa negara di Asia, seperti Thailand, Singapura, Malaysia, China, bahkan Vietnam, telah memiliki cetak biru kebijakan yang tegas dan jelas tentang pengembangan teknologi nano. Hampir seluruhnya memiliki pula lembaga bersifat nasional yang melakukan koordinasi riset itu. Di Vietnam, misalnya, ada Saigon Hi Tech Park, sedangkan di Thailand ada Nano Tech Center. Adapun Indonesia belum melakukan.

Tresna Soemardi mengatakan, untuk mengembangkan riset nano, pemerintah perlu mengadopsi manajemen sistem inovasi di universitas. ”Harus ada kesepakatan di bidang mana akan fokus. Perlu sharing riset antarlembaga. Tidak mungkin untuk infrastruktur riset itu dibangun sendiri- sendiri,” ucapnya. UI, misalnya, memilih fokus pada teknologi nano di bidang kesehatan. (

Kategori: Physics

Ketimpangan Pengembangan Riset Di Indonesia

November 4, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Ketimpangan pengembangan riset berupa rendahnya riset aplikatif dan tingginya riset dasar mulai dibenahi oleh Dewan Riset Nasional. Melalui pengumpulan data dasar kegiatan-kegiatan riset, lembaga ini mencoba memaparkan potensi-potensi kolaborasi dari hasil-hasil riset.

”Penyebab lebih tingginya intensitas riset dasar masih dikaji. Setidaknya, ini menunjukkan bahwa prakarsa kegiatan masih dari para periset, bukan dari kalangan pelaku industri,” kata Sekretaris Dewan Riset Nasional (DRN) Tusy A Adibroto, Senin (3/11) di Jakarta.

Sekretaris Menteri Negara Riset dan Teknologi Benyamin Lakitan mengungkapkan, dari program insentif riset Rp 100 miliar setiap tahun juga bisa disimpulkan, riset-riset dasar masih dominan–85 persen. Saat ini sedang dikaji kebijakan insentif riset untuk mendorong pengembangan riset aplikatif di sektor industri.

Menurut Tusy, jumlah lembaga riset yang tergolong banyak itu menyediakan hasil riset yang banyak pula. Dari situ dapat dihasilkan potensi-potensi kolaborasi untuk pemanfaatannya.

Dia mencontohkan, potensi kolaborasi ada pada hasil 11 riset terkait sawit oleh sembilan lembaga. Riset itu ditujukan untuk menunjang produksi bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel.

Tusy mengakui, sejauh ini memang muncul persoalan ketika hasil-hasil riset hanya menjadi tumpukan laporan. DRN dalam hal ini menetapkan program Open Method Research Coordination (OMRC) untuk mengatasi masalah tersebut.

”OMRC ini sistem informasi terbuka untuk menyampaikan hasil-hasil riset satu sama lain. Saat ini sudah ada 6.000 kegiatan riset dihimpun DRN,” kata Tusy.

OMRC tengah disusun menjadi sistem informasi berbasis internet. Menurut Tusy, melalui OMRC nantinya sesama periset atau calon pengguna hasil-hasil riset bisa berinteraksi.

Kategori: Physics

Tsunami Di Aceh Merupakan Tsunami Terbesar Sepanjang Sejarah Samudra Hindia

Oktober 31, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Gelombang tsunami yang menyapu hingga 230 ribu nyawa manusia hampir empat tahun lalu adalah yang terbesar yang pernah dibangkitkan dari Samudra Hindia sepanjang 600 tahun. Kesimpulan ini didapat oleh dua studi geologi yang hasilnya dimuat dalam jurnal Nature edisi terbaru.

Panjangnya waktu itu pula yang membuat tsunami dahsyat di pengujung 2004 ini masuk akal. Sepanjang 600 tahun tekanan geologis menghimpun energi di dasar samudra, untuk kemudian “meletus” hingga mampu mengoyak lautan dan membangkitkan gelombang sangat tinggi yang mematikan ke daratan.

Studi dilakukan oleh dua tim peneliti di Thailand dan Sumatera (Utara) yang sama-sama menggali sumur dan mengambil sampel dari dalamnya. Dari sana mereka mengaku bisa melihat bukti tsunami terakhir yang sebanding dengan yang terjadi pada 26 Desember 2004 itu, yang menerjang antara tahun 1300 dan 1400. Sampel yang dianalisis berupa endapan pasir dasar laut yang berdasarkan usianya (lewat teknik pengukuran karbon) diduga ditinggalkan oleh gelombang laut saat itu.

Tim peneliti itu, dalam jurnal Nature, mengatakan bahwa tsunami 2004 menelan korban di 14 negara. Di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera bagian utara, gelombang yang datang setinggi lebih dari 30 meter. Adapun di Thailand, endapan pasir yang ditinggalkannya sejauh 2 kilometer dengan ketebalan 5-20 cm

Kategori: Archeology · Environment · Geology · Physics

Para Ilmuwan Inggris Berhasil Membuat Mobil Lebih Cepat Dari Peluru

Oktober 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Para peneliti Inggris sedang berencana membuat mobil yang secepat, bahkan bisa lebih cepat dari tembakan peluru.

Sebagaimana dikutip dari Reuters, kecepatan kendaraan roda empat itu bisa 1600 kilometer perjam dengan biaya pembuatan sekitar 12 juta pounds.

Mobil “Bloodhound SSC” itu, jika berhasil dibuat, tentunya akan memecahkan rekor mobil tercepat saat ini yaitu 400 kilometer per jam. Bloodhound SSC adalah nama yang diambil dari Rudal supersonik Inggris di zaman perang dingin.

Para ahli itu bahkan menyebut mobil mereka dapat ditingkatkan kecepatannya hingga 1690 kilometer per jam — artinya, lebih cepat dari peluru yang melesat dari revolver 357 Magnum.

Menurut koran Guardian, proyek tersebut dikerjakan secara rahasia sejak 18 bulan lalu di hangar pesawat di Bristol. Mobil itu adalah impian dari Drayson, seorang pecinta mobil yang ingin mengilhami generasi baru Inggris agar tertarik menjadi ilmuwan dan insinyur. Inggris saat ini sangat kekurangan tenaga untuk dua bidang tersebut.

Tim Bloodhound rencananya akan menyelesaikan proyek mereka kurang dari setahun lagi.team plans to have the car built within a year, with the land speed record attempt expected in three years.

Mobil itu memadukan mesin jet Eurofighter Typhoon dengan roket sehingga menghasilkan dorongan 20 ribu kilogram.

“Ini kesempatan untuk berbuat sesuatu yang luar biasa di bidang permesinan dan untuk memecahkan rekor kecepatan di darat,” kata seorang ahli matematika sekaligus pilot pesawat tempur, Andy Green. Dia adalah pemegang rekor kecepatan tertinggi di darat yaitu 1228 kilometer perjam pada tahun 1997.

Green bekerja sama dengan Richard Noble, yang mengepalai usaha pemecahan rekor tahun 1997 itu.

Green adalah seorang komandan pilot di salah satu kesatuan AU Inggris (RAF). Dia akan menggunakan akselerator untuk menyalakan mesin jet hingga kecepatan 563 kilometer per jam, setelah itu kecepatan ditambah dengan cara menyalakan “solid rocket booster”.

Mesin balap A V-12 mulai memompa lebih dari satu ton hidrogen peroksida ke dalam “booster” sehingga mobil itu dalam waktu 20 detik akan melesat hingga 1660 kilometer perjam .

“Saat itu akan tidak nyaman. Tempat saya duduk persis di bawah ‘intake’ mesin jet, jadi pasti sangat bising,” kata Green.Rem mobil itu adalah dua parasut dan “airbrakes

Kategori: Physics · Transportation

Amerika Serikat Mengembangkan Pesawat Siluman Yang Bisa Terbang, Berlayar dan Menyelam Untuk Operasi Pasukan Khusus

Oktober 25, 2008 · & Komentar

AS ingin mengembangkan pesawat yang mampu menyelam dan dapat terbang ratusan mil laut jauhnya, menerjang laut ganas dan kemudian menyelam untuk mendaratkan pasukan komando di pantai musuh.

Badan Proyek Riset Lanjut Pertahanan AS (DARPA) mengakui pihaknya belum pernah melakukan hal ini sebelumnya, “karena persyaratan desain bagi pesawat yang dapat menyelam dan pesawat biasa secara diametris bertentangan.”

Namun demikian, dalam sebuah permintaan bagi usulan seperti ini pada bulan ini, pihaknya menyatakan sedang mencari “teknologi baru yang radikal yang mampu memberikan kemampuan seperti itu kepada Departemen Pertahanan bagi penyusupan tim-tim kecil secara diam-diam di pantai lawan.

DARPA sangat terkenal sebagai pelopor dari banyak inovasi paling revolusioner Pentagon, mulai dari Internet hingga teknologi siluman yang mendukung pembom siluman B-2.

Usulan-usulannya membutuhkan studi kelayakan dan eksperimen untuk membuktikan konsep pesawat yang dapat menyelam dengan kecepatan dan jangkauan seperti pesawat biasa, kemampuan menjelajah seperti perahu dan sifat siluman seperti kapal siluman.

Pesawat yang diusulkan itu harus mampu menerbangkan pasukan komando sejauh 1.000 mil laut atau 1.850 kilometer ke medan operasi, terbang dekat permukaan laut sejauh 185 kilometer lainnya dan kemudian bergerak di bawah air sejauh 22 kilometer.

Dan pesawat tersebut dapat melakukan semua itu selama delapan jam.

Pesawat itu juga akan mampu berkeliaran selama tiga hari di laut dengan ombak setinggi empat meter.

Bukan itu saja. Pesawat harus memiliki bahan bakar yang cukup untuk menjemput pasukan komando dan membawa mereka titik pertemuan 185 kilometer jauhnya.

Banyak kontradiksi

“Mengingat banyaknya persyaratan yang berbeda dan pertimbangan rancangan, jelas berbagai kesulitan menghadang dalam pengembangan pesawat yang mampu menyelam, kata DARPA, sebagaimana dilaporkan AFP.

Pesawat dirancang seringan mungkin dan dapat mengapung. Sebaliknya, kapal selam perlu bobot untuk tetap berada di bawah air, serta bekulit tebal agar mampu menahan tekanan di bawah air.

Usulan DARPA tersebut menyatakan berbagai upaya sebelumnya mengalami kegagalan karena perhatian mereka lebih terfokus pada kapal selam terbang.
“Amat sulit untuk menciptakan sistem propulsi yang mampu membuat pesawat dengan bobot seperti kapal selam mengudara, sebaliknya boleh jadi hal yang mungkin bagi anjungan seringan pesawat terbang untuk dapat menyelam ke dalam air asalkan kedalaman operasi dapat diminimalkan.”

Kategori: Computer · Physics · Transportation · War Machine

Selotip Mampu Menghasilkan Sinar X

Oktober 24, 2008 · 1 Komentar

Benda yang satu ini wajib ada di setiap kantor, juga di rumah. Namun, baru sekarang para ilmuwan mengetahui bahwa scotch tape atau selotip transparan yang biasa digunakan sebagai perekat sampai alat pengoreksi bentuk mata itu ternyata dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan sinar-X.

Terungkap bahwa bila Anda mengelupaskan selotip transparan dari gulungannya dalam sebuah bilik hampa udara, selotip itu akan memancarkan sinar-X. Para ilmuwan bahkan membuat sebuah citra sinar-X dari salah satu jari mereka.

Sebenarnya, lebih dari 50 tahun lampau, beberapa ilmuwan Rusia melaporkan bukti sinar-X yang dihasilkan ketika mengelupaskan selotip dari gelas. Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa Anda bisa memperoleh sinar-X dalam jumlah besar. “Kami sangat terkejut,” kata Juan Escobar. “Tenaga yang Anda bisa peroleh hanya dari mengelupaskan selotip sangat besar.”

Escobar, sarjana dari University of California, Los Angeles, melaporkan temuannya itu dalam jurnal Nature kemarin. Dia menduga, dengan sedikit pemurnian, proses itu dapat dimanfaatkan untuk membuat mesin sinar-X murah bagi petugas paramedis atau tempat terpencil yang sulit listrik.

Namun, pada dasarnya setiap orang bisa menghasilkan sinar-X cukup dengan mengelupaskan selotip atau melakukan sesuatu yang mirip apa yang dilakukan mesin dengan tenaga manusia, seperti memutar engkol. Escobar dan UCLA mengajukan paten untuk penemuan mesin penghasil sinar-X dari selotip.

Mesin buatan Escobar dan teman-temannya itu mampu mengelupaskan selotip dari gulungannya dalam sebuah bilik hampa udara dengan kecepatan 3 sentimeter per detik. Pulsa sinar-X yang amat cepat, sekitar sepermiliar dari satu detik, terpancar dari tempat selotip terlepas dari gulungannya.

Dari tempat itulah elektron berlompatan dari gulungan selotip ke bagian bawah selotip yang lengket. Lompatan itu menempuh jarak sekitar dua perseribu dari satu inci, kata Escobar. Ketika elektron tersebut menyentuh bagian yang lengket itu, mereka melambat dan memancarkan sinar-X.

Kategori: Energy · Gadget · Physics

Hadiah Nobel Untuk Bidang Fisika Tahun 2008 Dimenangi Oleh Tiga Orang

Oktober 8, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Yoichiro Nambu (87) seorang warga Amerika Serikat kelahiran Tokyo dan Makoto Kobayashi (64) bersama Toshihide Maskawa (68) dari Jepang berbagi penghargaan Nobel Fisika yang diumumkan Royal Swedish Academy of Sciences pada Selasa (7/10) di Stockholm, Swedia, karena penemuan mereka di bidang fisika subatomik.

Ilmuwan Amerika Serikat dan Jepang tersebut mengerjakan penelitian secara terpisah yang akhirnya mampu membantu menjelaskan mengapa sebagian besar dari alam semesta terbuat dari materi dan bukan dari anti-materi. Penjelasan itu didapatkan dari sebuah proses yang disebut sebagai broken symmetries.

Melalui penelitian tersebut mereka mencari penjelasan tentang keberadaan (eksistensi) dan perilaku partikel terkecil yang disebut quarks.

Mendasari model standar

Nambu, seorang profesor pada University of Chicago, dikenal luas akan penemuannya pada tahun 1964 tentang mekanisme spontaneous broken symmetry. Penemuan itu kemudian mendasari Model Standar fisika yang menyatukan tiga dari empat kekuatan fundamental alam: kuat (strong), lemah (weak), dan elektromagnetik—meninggalkan hal yaitu gravitasi (gravity).

Hasil penelitian Nambu juga memengaruhi perkembangan quantum chromodynamics-—sebuah teori yang menjelaskan sejumlah interaksi antara proton dan neutron yang membentuk atom, dan quarks yang membentuk proton dan neutron.

Sementara itu, Kobayashi dan Maskawa tahun 1972 menemukan enam tipe quarks, yaitu atas (up), bawah (down), asing (strange), menarik (charm), dasar (bottom), dan bagian atas (top). Semua itu kemudian ditemukan dalam percobaan-percobaan fisika partikel energi tinggi (high-energy particle physics).

”Fakta bahwa dunia kita tidak beperilaku secara simetris sempurna karena ada penyimpangan dari simetri yang terjadi pada ukuran mikroskopik,” demikian diungkapkan Komite Nobel. Broken symmetry memungkinkan partikel dari materi mengatasi partikel anti-materi.

Terkait ledakan besar

Dari hasil penelitian di tingkat mikroskopis tersebut kini diketahui bahwa proses seperti itulah yang menyelamatkan semua bentuk kehidupan. Hal ini kemudian dikaitkan dengan Teori Ledakan Besar, teori tentang asal mula terbentuknya alam semesta.

Pasalnya, jika alam semesta simetris, anti-materi akan secara konstan berjumpa dengan materi dan akan menghasilkan ledakan energi.

Para ahli fisika kini mencari spontaneous broken symmetry dan mekanisme Higgs yang membawa ketidakseimbangan pada peristiwa Ledakan Besar, sekitar 13,7 miliar tahun lalu. Para ilmuwan pada akselerator terbesar dan berkekuatan amat tinggi, Large Hadron Collider (LHC) di European Organization for Nuclear Research (CERN) di Swiss saat ini sedang mencari partikel Higgs saat mengoperasikan lagi LHC pada musim semi 2009.

Komentar berbeda

Dua peneliti Jepang berbeda komentarnya akan penghargaan yang mereka terima.

Kobayashi menyatakan, ”Ini benar penghormatan besar bagi saya dan saya tidak percaya ini.”

Namun, Masakawa mengungkapkan kepada kantor berita Kyodo, ”Ada pola tentang Penghargaan Nobel. Sampai tahun lalu, saya tidak berharap mendapat Nobel, namun tahun ini saya telah meramalkannya.” Namun, ”Saya tidak terlalu suka karena hiruk pikuk perayaannya.”

Nambu akan menerima separuh hadiah uang tunai sebesar 10 juta krone Swedia (sekitar Rp 14 juta)—berarti sekitar Rp 7 juta. Sementara Kobayashi dan Masakawa mendapat masing-masing seperempatnya.

Kategori: Hadiah Nobel Prize · Physics

Disleksia Mempengaruhi Kemampuan Membaca – Ada Kaitan dengan Gen Dan Menyebabkan Peningkatan Kecerdasan

Oktober 5, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

a Disleksia ada hubungannya dengan gen atau plasma pembawa sifat tertentu. Namun, gen tersebut hanya memengaruhi kemampuan membaca, tetapi tidak memengaruhi intelegensia bahkan cenderung meningkatkan intelegensia secara signifikan terutama kecerdasan spasial/gambar.

Disleksia merupakan gangguan yang memengaruhi pengembangan keterampilan literasi dan bahasa, yaitu seperti membaca dan mengeja.

Para peneliti dari Welcome Trust Center for Human Genetics di University of Oxford tengah meneliti gen yang disebut KIAA0319. Para peneliti itu sebelumnya telah mengidentifikasi sebuah haplotipe atau karakteristik genetik yang menandai suatu populasi (sekuen DNA-deoxyribose nucleic acid bagian ter- tentu dari gen tersebut).

Gen itu rupanya terlibat dalam perkembangan area otak yang bertanggung jawab untuk proses membaca. Mereka meneliti 6.000 anak dari keluarga-keluarga di Inggris usia sembilan tahun.

Penelitian itu dikenal juga Avon Longitudinal Study of Parents and Children (ALSPAC). Studi yang mirip pernah dilakukan secara independen oleh para peneliti di Cardiff University terhadap anak kembar. ”Umumnya, orang yang membawa variasi genetik tersebut cenderung kurang baik dalam tes kemampuan membaca,” ujar Silvia Paracchini dari Welcome Trust Center for Human Genetics di University of Oxford, pemimpin studi itu.

Sekitar 15 persen dari responden yang membawa versi mutasi gen itu cenderung mempunyai masalah membaca, termasuk mereka yang tidak masuk kategori disleksia. ”Bahkan, ketika mereka tidak dinyatakan memiliki gangguan disleksia masih punya masalah membaca,” ujar Silvia.

Haplotipe yang sama mampu mengurangi aktivitas gen KIAA0319 selama masa perkembangan fetus (janin) yang memengaruhi pengembangan cerebral cortex, area yang berperan dalam proses membaca.

Bagian otak tersebut merupakan pusat-pusat sensor. Percobaan terhadap binatang menunjukkan, dengan mengurangi aktivitas KIAA0319 akan memengaruhi migrasi neuron pada bagian otak yang berperan pada proses membaca.

Proses tersebut memungkinkan sel syaraf yang menciptakan lapisan bagian dalam area cerebral cortex untuk bermigrasi keluar, ke tujuan akhir mereka.

Penemuan lain yang menarik, gen tersebut terkait dengan lambatnya pertumbuhan di daerah tertentu otak dan percepatan pada bagian lain daerah otak yang bertanggung jawab atas proses berpikir kritis, logika, matematika hingga spasial. Riset itu jadi sangat dibutuhkan untuk identifikasi awal disleksia dan usulan intervensi dini saat otak masih berkembang sehingga nantinya ada hasil positif terkait keterampilan membaca.

Hasil penelitian itu hanya menemukan sebagian jawaban teka teki mengapa sejumlah orang memiliki kemampuan membaca rendah namun cerdas dalam bidang sains dan berpikir kritis. ”Ada faktor-faktor lain yang berkontribusi,” ujar Silvia.

Wakil Presiden British Dyslexia Association Prof Margaret Snowling mengatakan, gen lainnya dan faktor lingkungan juga memainkan peran penting dalam menentukan kemampuan membaca. Dia menekankan, banyak sekali individu dengan gangguan disleksia terbukti berhasil mengompensasi gangguan tersebut dengan kemampuan spasial dan berpikir diatas rata-rata hingga sukses berkarier, sekalipun mereka membawa variasi gen tersebut.

Kategori: Biology · Cognitive Science · Health · Math · Physics