Arsip Kategori: Physics

Mahasiswa ITS Temukan Kran Hemat Air Untuk Wudhu

Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro ITS Surya Mahendra bersama dua rekannya merancang kran hemat air, terutama untuk kran air wudhu.

“Kalau dipakai kran air wudhu bisa menghemat 1,5 liter air. Biasanya, setiap orang membutuhkan empat liter air wudhu, tapi dengan kran itu hanya 2,5 liter,” katanya di Surabaya, Rabu.

Didampingi dosen pembimbing Suwito, ia menjelaskan, penghematan itu dapat dilakukan dengan menggunakan sensor dan alat otomatis yang disebut “solenoid valve”.

“Kran hemat air itu memang memakai baterai berdaya enam watt, tapi dalam kondisi tidak dipakai memakai 0,1 watt. Untuk pengganti baterai bisa menggunakan sel surya,” kata mahasiswa semester 6 itu.

Menurut dia, sel surya mampu menyerap energi 100 watt saat matahari bersinar terang dan bisa disimpan untuk kebutuhan malam hari.

“Yang jelas, saat merancang alat yang dapat dibuat dalam waktu satu jam itu karena saya sering menyaksikan kran wudhu di masjid yang tidak dimatikan,” katanya.

Dipuji Dahlan

Suwito mengatakan, kran hemat air itu sempat dipuji Menteri BUMN Dahlan Iskan saat berkunjung ke ITS pada 1 April 2012.

“Pak Dahlan Iskan memuji karena ajaran agama bahwa boros itu saudaranya setan seringkali sulit dipraktikkan, tapi ajaran agama untuk tidak boros itu akan terlaksana dengan kran hemat air. Jadi, teman-teman ITS bisa berdakwah lebih efektif,” katanya.

Alat itu juga sempat dipamerkan dalam Expo ITS dan loka karya “Selamatkan Air Sekarang” beberapa waktu lalu.

“Insya Allah, kami akan mencoba untuk merealisasikan alat itu pada Masjid Manarul Ilmi ITS untuk menyemarakkan Hardiknas,” katanya.

Lain halnya dengan alat rancangan mahasiswa Jurusan Elektro lainnya yakni Maulana Djatikusuma.

“Saya merancang alat deteksi kedalaman air banjir di kawasan tertentu,” katanya.

Dengan alat itu, kata mahasiswa semester 6 tersebut, kedalaman air banjir di wilayah tertentu dapat dihubungkan dengan “traffic light” untuk menampilkan kedalaman air banjir pascalampu merah itu.

“Kalau ketinggian air banjir melebihi ukuran ban mobil, maka seorang pengendara dapat membelokkan mobilnya untuk menghindarinya, sekaligus tidak menyebabkan mobilnya mogok yang akhirnya menimbulkan kemacetan panjang,” katanya.

Hingga saat ini, alat yang dirancangnya itu masih memiliki radius deteksi 200 meter hingga satu kilometer.

“Jadi, alat itu mirip `early warning system` yang mendeteksi cekungan kedalaman air,” katanya.

Ilmuwan Jepang Berhasil Ciptakan SpeechJammer Untuk Membuat Orang Cerewet Tidak Bisa Bicara

Apakah Anda adalah orang cerewet atau orang yang selalu berbicara dengan suara keras? Jika iya, sebaiknya Anda berhati-hati dengan keberadaan alat yang satu ini. Sekelompok ilmuwan Jepang menciptakan sebuah perangkat untuk mengecilkan suara pembicara yang keras atau membungkam orang yang cerewet.

Alat berjuluk SpeechJammer ini merupakan perangkat prototipe hasil pengembangan atas penemuan di bidang psikologi. Temuan psikolog menunjukkan bahwa hampir mustahil bagi seseorang untuk berbicara saat kata-kata yang dilontarkan dikembalikan ke orang tersebut dengan penundaan sepersekian detik.

Alat nyentrik ini dirancang oleh Kazutaka Kurihara, seorang peneliti di National Institut of Advanced Industrial Science and Technology, bersama Koji Tsukada, seorang profesor di Ochanomizu University, Tokyo. Kurihara dan Tsukada mengklaim kerja alat ini sangat sederhana.

Berbentuk perangkat genggam, SpeechJammer terdiri dari mikrofon yang menunjuk ke speaker dan rekaman suara. Ketika alat ditujukan ke arah seseorang yang sedang berbicara, mikrofon akan menangkap dan memindahkan suara orang itu ke speaker lalu dikirim ke perekam suara. Perekam akan memutar kembali suara dan ditujukan ke arah orang tersebut dengan penundaan sekitar 0,2 detik.

Mikrofon dan speaker tersusun sangat terarah sehingga alat dapat ditujukan ke seorang pembicara dari kejauhan, seperti pistol.

“Sistem dari alat ini dapat mengganggu pidato seseorang tanpa mengurangi kenyamanan fisiknya,” kata para ilmuwan dalam makalah yang dilaporkan di MIT Technology Review.

Dari pengujian yang dilakukan, Kurihara dan Tsukada menemukan sejumlah hal tak terduga. Misalnya, alat berfungsi lebih efektif jika penundaan suara bisa disetel dalam beragam waktu. Alat juga bekerja lebih baik saat pembicara melontarkan kata-kata dengan suara keras daripada berupa monolog spontan.

Penelitian mereka juga mengungkapkan bahwa SpeechJammer tetap bisa menangkap dan mengolah urutan suara yang tidak memiliki arti, seperti kata “aaaargh.”

Kurihara dan Tsukada mengaku belum terpikir untuk memproduksi alat temuan mereka secara komersial meski kemungkinan itu terbuka lebar. Mereka mengatakan, SpeechJammer dapat digunakan untuk menjaga kesunyian di perpustakaan umum atau memfasilitasi diskusi dalam pertemuan kelompok.

“Kita harus menetapkan dan mematuhi aturan untuk tepat bergiliran ketika berbicara,” kata mereka. “Masih banyak aspek-aspek negatif dari pidato yang justru menjadi penghalang untuk terciptanya resolusi damai atas suatu konflik.”

Misteri Tsunami Awan Di Langit Alabama Amerika Serikat

Barisan awan raksasa itu bagai mengepung langit kota Birmingham di Alabama, Amerika Serikat, Jumat lalu. Awan berbentuk gelombang tsunami yang bergulung-gulung itu membuat stasiun cuaca setempat kebanjiran pertanyaan penduduk yang datang membawa foto awan aneh itu, “Apakah ini tsunami di langit?”

Para pakar mengatakan awan ini adalah contoh “gelombang Kelvin-Helmholtz.” Entah di langit atau di samudera, jenis turbulensi itu selalu terbentuk ketika lapisan atau cairan yang bergerak cepat meluncur di atas lapisan tebal yang bergerak lebih lambat sehingga menyeret permukaannya.

Gelombang air, misalnya, terbentuk ketika lapisan fluida di atasnya (udara) bergerak lebih cepat daripada lapisan fluida di bawahnya (air). Ketika perbedaan antara kecepatan angin dan air meningkat ke titik tertentu, gelombang pecah, membentuk seperti cabit yang condong ke depan. Bentuk itulah yang disebut sebagai bentuk gelombang Kelvin-Helmholtz.

Menurut Chris Walcek, ahli meteorologi di Atmospheric Sciences Research Center di State University of New York di Albany, angin yang bergerak cepat di langit dapat menyeret puncak awan tebal yang bergerak lambat di bawahnya dengan cara yang sama.

“Dalam gambar langit Birmingham, kemungkinan ada lapisan udara dingin dekat permukaan yang kecepatan anginnya rendah,” kata Walcek. “Itulah sebabnya ada awan atau kabut di lapisan itu. Di atas lapisan awan dingin yang bergerak lambat itu kemungkinan ada lapisan udara hangat yang bergerak lebih cepat.”

Umumnya, perbedaan kecepatan angin dan temperatur antara dua lapisan atmosfer ini begitu kecil sehingga udara yang bergerak cepat ini meluncur dengan lancar di atas udara yang bergerak lambat,” kata Walcek. Ada kalanya, perbedaannya begitu ekstrem. Jika perbedaan kecepatan angin terlalu besar, antarmuka antara kedua lapisan itu pecah menjadi turbulensi acak.

Gelombang Kelvin-Helmholtz terbentuk ketika perbedaan kecepatan angin dan temperatur di kedua lapisan menyentuh titik yang tepat. “Foto ini menunjukkan udara di antara dua lapisan atmosfer ini amat mendekati ambang batas turbulensi dan bercampur untuk menggabungkan kedua lapisan itu menjadi satu,” ujarnya.

Berhasil Ditemukan Kamera Yang Dapat Mengatur Fokus Lensa Setelah Gambar Di Ambil

Teknologi light fields memang sudah ditemukan di Universitas Stanford 15 tahun lalu, namun mungkin masyarakat baru akan merasakan manfaatnya sekarang ketika sejumlah ilmuwan menyematkan teknologi itu dalam sebuah kamera.

Kamera hasil inovasi sembilan ilmuwan itu berjuluk Lytro, memungkinkan anda bisa mengatur fokus gambar (foto) setelah pengambilan gambar, bukan sebelum pengambilan gambar seperti pada kamera umumnya.

Bahasa sederhananya;”Jepret dulu, fokus bisa diatur belakangan.”

Light fields adalah konsep fundamental dalam ilmu pencitraan, merepresentasikan data fundamental yang lebih powerfull dibanding pada foto-foto biasa, kata penyataan yang ditulis di web site resmi Lytro.

“Light fields benar-benar mendefinisikan bagaiaman sebuah adegan ditampilkan. Ini mengenai jumlah cahaya memancar ke segala arah melalui setiap titik dalam ruang. Kamera konvensional tidak dapat merekam bidang cahanya ini,” katanya.

Ilmu pengetahuan yang bagaimana yang ada di balik kecanggihan kamera ini? Setidaknya ada tiga bagian penting dalam Lytro yang membuat sesuatu yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin.

Pertama, lensanya. Lensa kamera Light Field Lytro memulai dengan 8X optical zoom, bukaan lensa f/2. Pembukaan lensanya konstan sepanjang rentang zoom sehingga memungkinkan untuk menangkap cahaya lebih banyak dan lebih sempurna.

Kedua adalah Light Field Engine 1.0, memungkinkan proses data sinar ray ditangkap dengan baik oleh sensor kamera ini. Light Field Engine membuat setiap gambar yang dihasilkan seperti sudah terbagi-bagi (obyek dalam gambar seperti sudah membentuk kelompoknya sendiri-sendiri).

Kecanggihan itu memungkinkan anda mengatur ulang obyek yang menjadi fokus, baik dari kamera, PC desktop yang sudah di-install software Lytro, atau tool online.

Ketiga adalah sensor Light Field di dalamnya yang mampu menangkap 11 juta cahaya ray.

Kamera ini memiliki desain baru yang mengingatkan kita pada teleskop. Sederhana, karena hanya mempunyai dua tombol, satu tombol on/off, dan satu tombol untuk mengambil gambar (memotret).

Foto-foto yang dihasilkan dinamis dan interaktif. Ketika hasil “jepretan” ditampilkan di kamera, melalui layar sentuhnya, anda bisa memilih obyek yang menjadi fokus dengan mudah.

Semua obyek jauh maupun dekat dalam foto disajikan kabur (blur), dan anda bisa memilih obyek yang ingin anda jadikan fokus, atau semuanya bisa anda atur menjadi tajam.

Bukan hanya kenyamanan untuk para fotografer pemula, foto yang dapat diatur ulang fokusnya juga lebih menyenangkan dan kreatif, kata Ren Ng, yang mendirikan Lytro untuk mengkomersilkan hasil penelitian yang ia mulai di Standford University.

“Memfokuskan kembali gambar menjadi cara baru untuk menceritakan kisah,” kata Ren Ng dalam laporan yang ditulis Technology Review.

Delapan ilmuwan lainnya yang bersama Ren Ng menghasilkan inovasi ini adalah Kurt Akeley, Charles Chi, Adam Fineberg, Kira Wampler, Bob Groppo, Mariana Antcheva, Vanita Wells, Kim Jabal, Shamik Sharma, dan David Cox.

Lalu berapa harga kamera ini? Model berkapasitas penyimpanan 16GB (750 gambar) dan berbalut warna merah dihargai 499 dolar, warna graphite 8GB 399 dolar, dan warna electric blue berkapasitas 8GB juga 399 dolar.

Anda tertarik dengan kamera yang juga bisa menampilkan gambar 3D ini? Anda bisa pesan sekarang, tetapi harus bersabar karena kameranya baru bisa dikirim mulai tahun depan.

Daniel Shechtman Raih Nobel Kima tahun 2011 Karena Penemuan Struktur Materi Quasicrystal

Peneliti kimia asal Israel Institute of Technology, Daniel Shechtman hari ini diumumkan meraih Nobel bidang kimia. Pria berusia 70 tahun ini melakukan penelitian signifikan terhadap struktur material.

“Penghargaan diberikan atas penemuan quasicrystal,” sebut Royal Swedish Academy of Sciences di laman resminya.

Struktur quasicrystal memiliki keteraturan sebagaimana kristal pada umumnya. Meski susunan ini tidak periodik, struktur kristal bisa memenuhi keseluruhan ruang.

Shechtman menemukan struktur ini setelah mempelajari campuran logam aluminium dan manganese pada 8 April 1982. Sejak saat itu, berbagai material quasicrystal ditemukan di laboratorium, termasuk saat ilmuwan meneliti mineral dari sebuah sungai di Rusia.

Pola quasicrystal sendiri sudah dikenal sejak abad pertengahan lampau. Ketika itu ahli matematika dan arsitek merancang pola teratur tak periodis sebagai penghias dinding istana, perpustakaan, dan mesjid di Ishafan, Iran.

Pola yang menyita perhatian seniman dan matematikawan ini kemudian dirayakan lagi oleh ahli matematika setelahnya. Mereka mencari pola quasicrystal paling minimal yang bisa menyusun ruang.

Di kemudian hari, Roger Penrose menemukan dua jenis keping unik yang tersusun membentuk “Ubin Penrose”. Pola ini menjadi struktur paling unik yang pernah ditemukan.

Shechtman berhak mendapatkan uang sekitar US$ 1,5 juta atau sekitar Rp 13,3 miliar. Upacara penyerahan baru dilakukan Desember mendatang.

Memori Super Komputer Dari Kaca Bagaikan Difilm Superman Ditemukan Oleh Southampton University

ANDA tentu ingat kristal memori dalam film Superman?

Benda ajaib itu ternyata menginspirasi sejumlah peneliti di Southampton University mengembangkan hard drive yang terbuat dari kaca.

Mereka menggunakan laser guna mengatur ulang atom dalam potongan kaca dan membentuknya menjadi memori komputer jenis baru. Alat penyimpan memori yang terbuat dari kaca diklaim dapat menahan suhu hingga 982 derajat celsius dan tahan air sehingga dapat bertahan ribuan tahun tanpa kehilangan data.

”Informasi dapat ditulis, dihapus dan ditulis ulang ke dalam struktur molekul kaca menggunakan laser,” kata Ketua Peneliti Martynas Beresna seperti dikutip telegraph.co.uk.

Proses pengubahan perjalanan cahaya melalui kaca juga menciptakan pusaran cahaya yang terpolarisasi, lalu dapat dibaca dalam banyak cara sebagai data dalam serat optik.

Menurut Beresna, memori kristal yang bentuknya tidak lebih besar dari layar ponsel mampu menampung data setara blu-ray disc berkapasitas 50GB.

Proyek penelitian Optoelektronik di Southampton University itu sudah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Applied Physics Letters.

Memecahkan Misteri Penampakan Awan Aneh Di Atas Bandara

Awan itu berbentuk khas, berlubang di bagian tengah seperti terkena pelubang kertas. Awan hole punch itu biasanya terbentuk di dekat bandar udara (bandara) atau pangkalan udara militer.

Awan itu memancing perhatian para ilmuwan. Mereka menemukan bahwa daerah-daerah di dekat bandara komersial kadang-kadang mengalami peningkatan curah hujan ataupun salju—kecil tapi dapat diukur–ketika pesawat udara lepas landas dan mendarat dalam kondisi atmosfer tertentu.

Awan berbentuk aneh itu bisa berbentuk lubang atau kanal panjang, terbentuk ketika pesawat terbang melalui awan level tengah tertentu menekan udara di sekitarnya hingga tersebar dan mendingin dengan cepat. Hal itu menyebabkan butiran air halus membeku menjadi es dan berubah menjadi salju ketika mereka jatuh ke permukaan bumi, meninggalkan celah berbentuk aneh di awan.

Studi baru yang dipimpin oleh National Center for Atmospheric Research (NCAR) itu merupakan bagian riset yang difokuskan pada awan aneh itu. Tim riset, termasuk sejumlah peneliti dari NASA Langley Research Center dan University of Wyoming di Laramie, menggunakan citra satelit dan simulasi komputer ramalan cuaca untuk memeriksa seberapa sering tipe awan yang tak pernah dihiraukan sebelumnya itu terjadi dalam radius 100 kilometer dari 6 bandara komersial, yaitu London Heathrow, Frankfurt, Charles De Gaulle (Paris), Seattle-Tacoma, O’Hare (Chicago), Yellowknife (Kanada), dan Byrd Station di Antartika.

Mereka menemukan bahwa, tergantung pada bandar udara ataupun jenis pesawatnya, kondisi atmosfer yang tepat umumnya terjadi sekitar 6 persen. Awan aneh juga biasanya lebih sering terjadi di iklim yang lebih dingin.

Peneliti utama studi itu, Andrew Heymsfield dari NCAR, menyatakan fenomena itu tampaknya terjadi di banyak bandara lain, terutama di daerah yang terletak pada garis lintang tinggi dan tengah, pada bulan dengan temperatur sangat rendah. Variabel kuncinya adalah apakah di dekatnya juga terdapat lapisan awan yang mengandung butiran air pada temperatur jauh di bawah titik beku, sesuatu yang umum ditemukan.

Namun, para peneliti belum berani memastikan apakah hujan dan salju yang turun di sekitar lapangan terbang akibat efek itu cukup signifikan. Temuan ini masih membutuhkan sejumlah riset lain yang lebih detail.

“Tampaknya efek yang disebabkan oleh pesawat ini terjadi secara luas,” kata Heymsfield. “Secara tak disengaja pesawat menyebabkan hujan atau salju ketika mereka terbang melalui awan tertentu. Ini bukan berarti hujan dan salju yang tercipta cukup besar untuk mempengaruhi iklim global, tapi jumlahnya cukup di sekitar bandara besar di daerah pada garis lintang tengah.”

Para ilmuwan tidak menghitung jumlah total hujan atau salju yang akan dihasilkan oleh terbentuknya awan bolong itu. Meski demikian, analisis data radar mengindikasikan tingkat hujan salju nyaris mencapai 1 inci per jam setelah beberapa pesawat melintasi kawasan itu.

Selama beberapa dasawarsa para ilmuwan berusaha mengungkap asal muasal lubang dan kanal awan misterius itu. Tahun lalu Heymsfield juga mengepalai sebuah studi yang mengungkap bahwa celah yang terbentuk, yang terkadang tampak seperti lubang raksasa di langit, terjadi ketika pesawat terbang menembus awan di ketinggian menengah yang mengandung butiran air superdingin.

Ketika sebuah pesawat turboprop terbang menembus lapisan awan dengan temperatur sekitar minus 15 derajat Celsius atau lebih rendah, ujung baling-balingnya dapat menyebabkan udara tersebar dengan cepat. Ketika tersebar, udara akan mendingin dan menyebabkan butiran air superdingin membeku menjadi partikel es yang melenyapkan butiran air, jatuh ke bumi sebagai salju atau hujan.

Pesawat jet membutuhkan temperatur jauh lebih dingin, antara minus 20 hingga minus 25 derajat Celsius, untuk menciptakan efek hujan mendadak itu. Udara terdesak untuk menyebar ke atas sayap pesawat ketika pesawat bergerak maju, mendinginkan dan membekukan butiran air dalam awan.

Meski demikian, efek ini tak ada hubungannya dengan jejak uap air terkondensasi yang dihasilkan semburan emisi gas buang mesin jet, yang disebut sebagai contrail.

Dalam riset baru ini, tim studi menggunakan pengukuran awan, yang diambil oleh satelit CALIPSO milik NASA, untuk menghitung seberapa sering kondisi itu terjadi dalam radius 100 kilometer di beberapa bandar udara yang kawasan yang sering berawan. Mereka memilih radius 100 kilometer karena itu adalah jarak yang dibutuhkan sebuah pesawat komersial untuk terbang mencapai ketinggian 10 ribu kaki, lokasi lapisan awal superdingin berada.

Dari beberapa bandar udara besar yang diamati, mereka menemukan bahwa bandar udara Frankfurt, DeGaulle, dan O’Hare adalah lokasi yang paling sering mengalami kondisi yang tepat bagi pesawat berbaling-baling untuk menghasilkan hujan mendadak. Dalam setiap kasus, kondisi itu terjadi lebih dari 5 persen dalam setahun. Para peneliti menemukan bahwa kondisi yang tepat itu hanya terjadi sekitar 3 persen dari seluruh aktivitas pesawat jet di Heathrow, Frankfurt, dan Seattle-Tacoma.

Sebaliknya, bandar udara Yellowknife di Kanada lebih sering mengalami kondisi semacam itu, sekitar 10 persen untuk pesawat berbaling-baling dan 5 persen untuk pesawat jet. Itu kemungkinan terjadi karena kondisi awan yang lebih dingin pada daerah yang berada di garis lintang lebih tinggi. Namun, lapangan terbang Byrd di Antartika kerap mengalami kondisi sangat dingin yang tak memungkinkan pesawat jet menimbulkan awan berlubang secara tak disengaja.

Para ilmuwan juga menemukan bahwa berbagai jenis pesawat dapat memicu terjadinya hujan atau salju. Mereka membandingkan observasi awan bolong dan awan kanal yang dilakukan oleh satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dengan catatan jalur penerbangan dari Federal Aviation Administration.

Hasilnya, pesawat jet komersial seperti Boeing 757 dan McDonnell Douglas MD-80, pesawat militer B-52, berbagai pesawat jet pribadi, dan regional, turboprop, hingga pesawat baling-baling dapat menimbulkan turunnya hujan atau salju. “Tampaknya pesawat jenis apa pun yang terbang menembus awan, yang mengandung air dalam fase cair pada temperatur di bawah titik beku, dapat menyebabkan efek ini,” kata Heymsfield.

Analisis data satelit yang dilakukan tim peneliti memperlihatkan bahwa lubang dan kanal awan itu dapat sering terjadi. Sebagai contoh, 92 awan aneh terlihat pada lapisan awan di atas Texas pada 29 Januari 2007. Beberapa awan kanal dan bolong bertahan hingga lebih dari 4 jam dengan panjang mencapai lebih dari 96 kilometer.

Dalam studinya, Heymsfield dan timnya juga menggunakan perangkat lunak canggih, yang disebut sebagai pemodelan ramalan cuaca dan riset, untuk mempelajari bagaimana lubang itu terbentuk dan berkembang. Mereka menemukan bahwa lubang itu dengan cepat menyebar sekitar 30 hingga 90 menit setelah sebuah pesawat melintas. Inilah waktu puncak terjadinya presipitasi yang diasosiasikan dengan efek awan hujan. Setelah 90 menit, es dan salju mulai meninggalkan awan.

Cessna Kembangkan Kulit Untuk Pesawat Terbang Yang Dapat Memperbaiki Diri Sendiri dan Anti Tabrakan

Pesawat masa depan buatan Cessna mungkin akan dibungkus material yang bisa memperbarui diri jika mengalami kerusakan kecil dan melindungi pesawat dari bahaya luar seperti sambaran petir dan gangguan elektromagnetik.

Cessna mengembangkan kulit sakti yang akan melindungi eksterior pesawat terbang dari petir, tabrakan, temperatur ekstrem, bahkan interferensi elektromagnetik. Semakin sakti, kulit itu bisa menyembuhkan diri sendiri kalau mengalami retakan.

Ide teknologi ini berasal dari teknologi pesawat yang diselesaikan tahun lalu, STAR-C2. Idenya adalah membuat kulit luar dari film yang dapat menyalurkan listrik dan busa penyerap energi yang melapisi seluruh badan pesawat.

Tim GE/Cessna menyatakan bahwa kulit seperti itu dapat mengurangi separuh beban dari alat penangkal bahaya lingkungan. Kulit ini juga didesain untuk menampilkan kerusakan dengan jelas sehingga para penyidik di darat bisa melihat kerusakan pada badan pesawat.

Kulit pembungkus itu sendiri dapat memperbaiki dirinya saat robek atau tertusuk. Bonus lain, kebisingan di kabin akibat mesin dapat dikurangi.

Namun, teknologi ini jangan diharap segera diterapkan. Para ilmuwan mungkin baru selesai membuatnya 20 atau 25 tahun lagi.

Peneliti Massachusetts Institut of Technology MIT Mampu Membuat Daun Buatan Yang Bisa Lakukan Fotosintesis

Berhasil diciptakan daun buatan yang bisa memproses sinar matahari dan air menjadi energi seefisien daun asli. Pada ajang National Meeting of the American Chemical Society, belum lama ini, peneliti dari Massachusetts Institut of Technology (MIT) mengumumkan keberhasilan mereka dalam membuat daun artifisial yang terbuat dari bahan-bahan yang stabil dan tidak mahal, tapi memiliki sifat seperti daun asli.

Daun artifisial menggunakan sinar matahari untuk memecah air menjadi hidrogen dan oksigen yang dapat dipakai untuk menciptakan listrik.

Meskipun sifatnya mirip, jangan harap rupanya seperti daun natural. Daun artifisial ini dibuat dari silikon dan berbagai katalis yang memacu reaksi kimia untuk menghasilkan listrik. “Dengan ditempatkan dalam segalon air dan diletakkan di bawah sinar matahari, daun buatan ini dapat menyediakan listrik untuk keperluan mendasar di rumah,” jelas Dr. Daniel Nocera

Daun ini bukan daun pertama yang bisa menirukan proses fotosintesis. Tapi percobaan-percobaan berikutnya menghasilkan daun yang terbuat dari bahan-bahan tidak stabil dan mahal serta tidak tanah lama. Nocera dan tim yang dipimpinnya membuat daun artifisial dari bahan yang tidak mahal dan umum, seperti nikel dan kobalt. Di laboratorium mereka, daun artifisial berukuran kartu remi dapat bertahan selama 45 jam tanpa penurunan kinerja.

Pada penelitian berikutnya Nocera akan berusaha meningkatkan efisiensi dan umur materi fontosintesis.

Anak Dengan Asperger Syndrome Ber IQ Diatas 170 Membuat Teori Relativitas Einstein Ketinggalan Zaman

Seorang anak ajaib 12 tahun telah mengejutkan para profesor universitas setelah dia bergulat dengan beberapa konsep paling maju dalam matematika.

Jacob Barnett memiliki IQ 170 – lebih tinggi dari Albert Einstein – dan sekarang begitu maju dalam studinya di universitas Indiana sehingga para profesor itu antre meminta dia terlibat dalam penelitian PHD.

Anak ajaib itu, yang belajar sendiri kalkulus, aljabar, geometri dan trigonometri dalam seminggu, sekarang mengajari sesama teman kuliah setelah jam kuliah.

Dan sekarang Jake telah memulai proyek yang paling ambisius – versinya sendiri dari teori relativitas Einstein.

Ibunya, yang tidak yakin apakah anaknya sedang berbicara omong kosong atau jenius, mengirim video teorinya ke Institut for Advanced Studi di dekat Princeton University.

Menurut Indiana Star, profesor astrofisika institut itu Scott Tremaine – seorang ahli terkenal di dunia – membenarkan keaslian teori Jake.

Dalam sebuah email ke keluarga, Tremaine menulis: “Saya terkesan oleh minatnya dalam fisika dan jumlah yang ia telah pelajari sejauh ini. Teori yang dia sedang kerjakan melibatkan masalah paling sulit dalam astrofisika dan fisika teori. Siapa pun yang memecahkan ini akan pantas untuk Hadiah Nobel.”

Namun bagi ibunya, Kristine Barnett, 36, dan keluarganya, matematika tetap menjadi subjek rumit. Berbicara kepada harian itu, Ny. Barnett mengatakan: “Saya gagal dalam matematika. Saya tahu (bakat) ini tidak datang dari saya.”

Dan itu juga, menurutnya, bukan minat Jake. “Setiap kali saya mencoba berbicara tentang matematika dengan siapa pun di keluarga saya, mereka hanya menatap kosong”.

Jake didiagnosis dengan sindrom Aspergers, penyakit yang sama dengan Bill Gates, dari usia dini. Orang tuanya yang khawatir ketika dia tidak bicara sampai usia dua tahun, mencurigai dia abnormal.

Hanya saat ia mulai tumbuh dewasa mereka menyadari betapa spesialnya dia. Dia akan mengisi buku catatan dengan gambar bentuk dan perhitungan geometris kompleks, sebelum mengambil pena dan menulis persamaan di jendela.

Pada usia tiga ia memecahkan puzzle yang memiliki 5.000 potongan dan ia bahkan mempelajari peta jalan negara, membaca setiap jalan raya dan awalan plat luar kepala.

Pada usia delapan ia telah meninggalkan sekolah menengah atas dan masuk kelas astrofisika lanjutan di Indiana University – Purdue University Indianapolis. Kehadirannya di kelas cukup menakutkan bagi banyak siswa berusia 18 tahun.

Berbicara kepada Indy Star, Wanda Anderson, seorang ahli biokimia terkenal, berkata: “Ketika saya pertama kali masuk dan melihatnya, saya berpikir, “Oh Tuhan, saya pergi ke sekolah dengan Doogie Howser (dokter muda dalam sebuah acara komedi).”

Dia menambahkan: “Banyak orang datang padanya untuk meminta bantuan ketika mereka tidak memahami masalah fisika.”

Orang-orang datang kepadanya setiap saat dan berkata, “Hei Jake, Anda dapat membantu saya.”

“Banyak orang berpikir orang jenius sulit untuk diajak bicara, tapi Jake menjelaskan hal-hal yang masih di luar kepala mereka.”

Dan profesornya, John Ross, mengatakan penampilannya di kuliah telah menonjol. “Ketika dia bertanya, ia selalu dua langkah di depan materi kuliah. Semua orang di kelas terdiam. Dia duduk tepat di barisan depan, dan mereka semua hanya melihat ke arahnya.”

“Dia akan datang menemui saya pada jam kantor dan mengajukan pertanyaan bahkan lebih rinci. Dan Anda bisa tahu dia sudah memikirkan hal-hal ini.”

“Anak-anak seusianya biasanya akan mempunyai masalah menambahkan fraksi, dan dia membantu beberapa teman-temannya.”

Menurut orang tuanya, Jake memiliki masalah tidur di malam hari saat ia terus memikirkan angka di kepalanya. Tapi jauh dari mengeluh, Jake telah mengubah malam tanpa tidur untuk keuntungannya – membongkar teori big bang.

Langkah berikutnya, menurut Profesor Ross, adalah Jake untuk meninggalkan kelas sama sekali dan mengambil peran penelitian dibayar.