Informasi Tentang Dunia Teknologi Terkini

Entries categorized as ‘Nuclear’

Teknologi Nuklir Berpotensi Untuk Pertanian Tapi Awas Efek Sampingnya

November 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Teknologi nuklir merupakan salah satu teknologi moderen yang berkembang pesat dalam bidang pertanian. Pemanfaatan teknik nuklir pada tanaman dapat digunakan untuk perbaikan varietas melalui mutasi dengan radiasi. Di Indonesia, kegiatan penelitian aplikasi teknik nuklir dalam bidang pertanian khususnya untuk pemuliaan tanaman telah dilakukan Badan Tenaga Nuklir Nasional.

Tujuan pengembangan penelitian teknik nuklir untuk pemuliaan tanaman adalah untuk memberi kontribusi kepada pemerintah dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan nasional, kata peneliti dari BATAN Ita Dwimahyani, dalam seminar sehari yang diprakarsai Women in Nuclear Indonesia, organisasi yang beranggotakan para perempuan peneliti bidang teknologi nuklir , Selasa (11/11), di gedung pertemuan BATAN, Jakarta.

Presiden Women in Nuclear Indonesia Tri Murni S Soentono menyatakan, selama ini istilah nuklir sering dikaitkan oleh sebagian besar masyarakat dengan bom nuklir atau bom atom karena efek negatifnya yang berpotensi dapat merusak kehidupan manusia di muka bumi. Oleh karena itu, sering terjadi pro dan kontra berkenaan dengan teknik ini. Meski nuklir merupakan teknologi berbahaya bagi manusia, tapi punya efek positif bila dapat memanfaatkan sifat-sifat hakiki dari tenaga ini untuk maksud damai.

Banyak orang belum mengetahui, bahwa dengan memanfaatkan sifat-sifat inti atom yang tidak stabil, teknologi nuklir dapat digunakan dalam bidang pertanian, peternakan, pengawetan makanan, hidrologi, industri, dan kedokteran. Pada akhirnya, pemanfaatan teknologi nuklir akan dapat meningkatkan mutu kehidupan dan kesejahteraan masyarakat, Ita menegaskan.

Aplikasi teknik nuklir dalam pemuliaan mutasi bisa digunakan untuk memperbaiki satu atau dua sifat yang kurang menguntungkan pada tanaman. Program pemuliaan mutasi di Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi BATAN lebih diarahkan pada tanaman pangan, hortikultu ra, dan industri. Dari hasil program pemuliaan mutasi tanaman telah dilepas secara nasional beberapa varietas unggul, antara lain 15 varietas kedelai, satu varietas kacang hijau dan satu varietas kapas.

Selain itu, banyak galur mutan harapan dari beberapa jenis tanaman yang masih dalam proses untuk dikembangkan menjadi varietas antara lain, padi, kedelai, kacang hijau, ka cang tanah, sorgum, gandum, bawang, artemisia atau tanaman obat, kapas, jarak pagar, dan tanaman hias. “Ini menunjukkan, teknik nuklir terbukti memberi sumbangan nyata dalam pembangunan pertanian yang akan berdampak langsung pada program pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan dan industri,” ujarnya.

Kategori: Biology · Nuclear

Iran Berhasil Meluncurkan Satelit Mata Mata Pertamanya

Agustus 18, 2008 · & Komentar

Iran, Minggu, menyatakan bahwa mereka telah meluncurkan satelit pertamanya yang dibuat di dalam negeri, demikian dilaporkan Kantor Berita IRNA.

“Satelit Omid (Harapan) Iran diluncurkan Minggu dengan menggunakan roket pembawa satelit Safir (Duta Besar),” kata IRNA mengutip sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh angkatan bersenjata Iran.

Iran, yang terlibat dalam perselisihan dengan Barat menyangkut program nuklirnya, menyulut kekhawatiran internasional pada Februari, ketika negara itu menguji roket yang dirancang untuk membawa satelit.

Teknologi balistik yang digunakan untuk membawa satelit ke angkasa juga bisa digunakan untuk meluncurkan senjata, namun Iran menyatakan tidak punya rencana untuk melakukan hal itu.

Barat menuduh Iran berusaha membuat senjata nuklir dengan selubung program sipil. Iran, produsen minyak terbesar keempat dunia, menekankan bahwa mereka membutuhkan teknologi nuklir untuk menghasilkan listrik.

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad hadir di pusat antariksa Iran dan membaca penghitungan detik-detik terakhir peluncuran, siar televisi pemerintah.

“Presiden menyampaikan selamat kepada bangsa Iran atas prestasi besar itu,” katanya.

Televisi Iran menunjukkan roket itu di tempat peluncurannya di gurun namun tidak menunjukkan lepas-landasnya.

Washington menuduh Iran berusaha memperlengkapi rudal-rudalnya dengan hulu-ledak nuklir.

Iran memiliki rudal-rudal yang bisa menjangkau jarak 2.500 kilometer, yang berarti bisa menghantam sasaran-sasaran di Israel atau pangkalan militer AS di Teluk.

Dewan Keamanan PBB telah memberlakukan tiga babak sanksi terhadap Iran karena membangkang tuntutan agar menghentikan program pengayaan uraniumnya.

Kategori: Computer · Nuclear · Space

Tanah Di Bulan Dapat Dipakai Sebagai Bahan Bakar Nuklir

Agustus 16, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Jika suatu saat manusia benar-benar berhasil membangun koloni di Bulan, sumber energi adalah salah satu masalah yang harus terpenuhi. Para ilmuwan dari badan antariksa berbagai negara tengah menyiapkan bahan bakar yang diambil dari bahan galian di perut Bulan.

Bahan bakar yang dimaksud adalah helium-3, salah satu isotop unsur gas. Helium-3 secara teori dapat dipakai sebagai bahan baku pembangkit listrik tenaga nuklir. Proses konversi menjadi listrik bahkan lebih ramah lingkungan daripada reaktor nuklir di Bumi karena hanya menghasilkan sedikit limbah.

Penggunaan Helium-3 berbeda dengan Uranium. Pembangkit listrik tenaga nuklir yang menggunakan uranium dilakukan melalui reaksi fisi, di mana inti atom dibelah-belah menjadi  lebih kecil untuk melepaskan energi. Sementara Helium-3 dapat dipakai dalam reaksi fusi di mana, inti atom-atomnya yang bertabrakan membentuk inti atom baru lebih besar dan melepaskan energi.

“Ia merupakan sumber energi yang lebih bersih dan aman daripada bahan bakar buklir,” ujar Gerald Kulcinski, direktur Institut Teknolog Fusion di Universitas Winconsin, Madison, AS. Sekitar 40 ton Helium-3 cukup untuk memasok kebutuhan energi di seluruh AS selama setahun.

Helium-3 sangat jarang ditemukan di Bumi namun banyak terkandung dalam tanah Bulan. Sejumlah negara yang telah memulai program eksplorasi Bulan seperti China, Rusia, dan India menjadikan Helium-3 sebagai target sumber energi masa depan untuk program ruang angkasanya.

Namun, membangun reaktor fusi lebih sulit daripada reaksi fisi karena menbutuhkan energi awal yang sangat besar. Belum ada satu pun reaktor fusi yang beroperasi di Bumi. Baru satu prototip yang tengah dibangun, yakni fasilitas yang diberi nama ITER (International Thermonuclear Experimental Reactor) di Cadarache, Perancis. Reaktor percobaan tersebut baru akan beroperasi mulai 2016 dan mulai menghasilkan energi 20 tahun kemudian. bahan baku yang digunakan di sana bukan Helium-3 melainkan deuterium dan tritium.

Kategori: Bio Fuel · Electricity · Geology · Nuclear · Physics · Space

Pemerintah Jepang Sangat Berminat Bangun PLTN Nuklir Di Indonesia Walaupun Berbahaya

Agustus 16, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pemerintah Jepang dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) akan mengundang sembilan negara sedang berkembang di Asia, termasuk Indonesia, untuk membahas lebih lanjut soal pengelolaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang berlangsung di Hanoi, Vietnam.

Hal itu disampaikan Kementerian Luar Negeri Jepang kepada ANTARA News melalui surat elektroniknya di Tokyo, Jumat, mengingat negara-negara tersebut kerap menyampaikan keinginannya untuk mengembangkan lebih lanjut penggunaan nuklir untuk tujuan damai seperti keperluan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir.

Sembilan negara itu adalah, Vietnam, Bangladesh, Indonesia, Nepal, Filipina, Malaysia, Thailand, Laos, dan Singapura. Kepada negara-negara tersebut akan diberikan manajemen energi nuklir yang berfokus pada “3S”, yaitu masalah Security (keamanan), Safety (keselamatan), dan Safeguard (pemeliharaan/perlindungan).

“Jepang akan mengirimkan sejumlah pakar nuklirnya ke seminar di Hanoi itu, untuk berbagi pandangan tentang manajemen nuklir, terutama yang menyangkut 3S tadi,” kata pejabat Kementerian Luar Negeri Jepang.

Jepang bersama IAEA akan mendiskusikan pengelolaan PLTN dan juga penggunaan nuklir untuk maksud-maksud damai lainnya yang berbasis 3S.

Penyelenggaraan seminar nuklir itu merupakan tindak lanjut dari KTT G8 di Hokkaido Juli lalu, yang menyerukan inisiatif perluasan bagi penggunaan energi nuklir bagi tujuan damai dengan mengutamakan prinsip 3S

Kategori: Electricity · Nuclear · Physics

Indonesia Sarang Para Ilmuwan Muda Dunia

Agustus 6, 2008 · 1 Komentar

”Seperti halnya satu permainan papan di mana kotak yang berisi aturan main hilang sejak lama, tidak ada seorang pun yang tahu persis bagaimana bisa memenangi (hadiah) Nobel.” (Hal Cohen, ”The Scientist”, 28/10/2002)

Agustus kini diperkaya dengan pelbagai event ilmiah. Ada Asian Science Camp di Bali dan LIPI Expo, serta Ritech Expo, dua-duanya di Jakarta. Ini membesarkan hati. Kita mengenang dan merayakan bulan kemerdekaan tidak semata dari sisi sejarah, tetapi juga dari sisi sains dan teknologi. Itulah dimensi yang seyogianya mewarnai perjalanan sejarah kebangsaan Indonesia.

Sekadar tambahan, Rabu (6/8) ini di LIPI juga berlangsung Temu Ilmiah Peneliti Muda Indonesia, ajang yang tidak kalah penting untuk mengenal sosok peneliti muda Indonesia yang telah menorehkan prestasi, baik di lingkup nasional maupun internasional.

Jadi, meski anggaran riset nasional masih di bawah 0,1 persen, peneliti Indonesia masih tetap bisa berprestasi dan berkontribusi bagi pengembangan sains nasional. Tentu menarik untuk diketahui, apa yang mendorong para ilmuwan muda tersebut setia pada sains, bidang yang di satu sisi semakin dinilai penting bagi upaya peningkatan kemakmuran dan kejayaan satu bangsa, tetapi pada sisi lain masih dipandang nonprioritas.

Sosok ilmuwan

Amy, mahasiswi berusia 20-an tahun, pernah bertanya dalam salah satu forum online mengenai karakteristik pribadi yang harus dikembangkan bila seseorang ingin menjadi ilmuwan yang baik. Jawaban pun muncul dari berbagai penjuru.

Seorang guru besar mencoba memberi jawaban dengan mengangkat ”SCIENCE” sebagai akronim. ”S” melambangkan bidang studi yang dihayati dengan serius. ”C” adalah curiosity dan kemauan untuk memperbaiki pendapat manakala muncul fakta yang bertentangan dengan pandangan yang kita yakini. ”I” adalah intelligence karena pengetahuan yang dituntut oleh sains sangat tinggi. ”E” adalah enthusiasm agar siapa pun yang ingin menjadi ilmuwan kuat manakala menemui kekecewaan. ”N” melukiskan never-ending attention to detail yang akan membuat riset calon ilmuwan bisa bertahan dari ujian rekan sejawat. ”C” adalah commitment terhadap hidup pribadi dan profesional yang jujur dan bertanggung jawab. Terakhir, ”E” untuk enduring respect dan apresiasi terhadap karya ilmuwan terdahulu yang telah membuka jalan bagi pekerjaan kita.

Komentar lain masih banyak, tetapi umumnya menyebut ”rasa ingin tahu”, ”ulet”, ”mengandalkan data”, dan ”punya kemampuan analisis data” sebagai sifat-sifat penting lain.

Karena dipenuhi dengan proses yang sering tidak jelas ujungnya, tak jarang peneliti dilanda keletihan mental kalau bukan frustrasi. Kadang hanya keyakinan kepada diri sendiri dan keyakinan bahwa pengetahuan yang sedang diteliti akan bernilai bagi orang banyaklah yang membuat peneliti bisa terus bertahan.

Ada pula penelitian di bidang psikologi, juga ilmu sosial, yang coba mengungkap sifat-sifat yang bisa mendorong seseorang untuk menerjuni dan unggul di bidang ilmiah. Namun, secara umum dipercayai bahwa anak yang tumbuh di lingkungan yang di sekelilingnya dipenuhi oleh orangtua dan orang-orang yang berpendidikan menyukai pemikiran, penuh rasa ingin tahu, dan senang memberi dorongan kepada anak untuk mengembangkan rasa ingin tahunya mempunyai peluang lebih baik untuk menjadi seorang ilmuwan dibandingkan dengan anak lain yang tidak memiliki hal-hal di atas.

Akhirnya, peneliti dari Argonne National Laboratory, Ali Khounsary, mengatakan bahwa—meski tidak ada jaminan— kombinasi orangtua yang tercerahkan dan penuh dedikasi, serta lingkungan rumah, sekolah, dan guru, role model, serta teman, bisa mendorong seorang anak untuk belajar dan menjelajahi dunia dan mungkin memilih karier di bidang sains (www.newton.dep.anl.gov).

Dalam Temu Ilmiah Peneliti Muda di LIPI, atau pertemuan siswa SMA dengan peneliti dunia dan pemenang Nobel, diharapkan muncul pula penjelasan mengenai hal-hal yang terkait dengan karakter untuk menjadi ilmuwan.

Menuju Nobel?

Penggagas Asian Science Camp Prof Yohanes Surya acap mengaitkan program Olimpiade Fisika atau acara di Bali sebagai jalur untuk menuju Hadiah Nobel. Dengan program itu, sepertinya hadiah Nobel menjadi one step closer. Sebagai sarana untuk memotivasi tentu saja tidak ada kelirunya.

Namun, selanjutnya, program pengembangan ilmuwan masih perlu dilengkapi dengan segi-segi yang lain. Misalnya saja, kita juga perlu menanamkan daya imajinasi calon ilmuwan? Juga daya konsentrasinya—hal yang semakin relevan ketika distraksi dalam wujud hiburan dan godaan duniawi semakin kuat— serta integritasnya mengingat di tengah masyarakat juga cenderung tumbuh budaya ”jalan pintas” dan ”sukses instan”.

Berikutnya, terlalu berorientasi pada Nobel boleh jadi juga membatasi keleluasaan minat dan imajinasi. Memang setelah pemberian hadiah ke-107 tahun lalu, Nobel tetap diakui sebagai prestise prestasi ilmiah. Namun, di kalangan ilmiah juga muncul kemasygulan bahwa hadiah tersebut terbatas dalam jumlah dan bidangnya, seperti dikemukakan oleh Harriet Zuckerman, penulis buku Scientific Elite yang mengupas hadiah Nobel, para pemenangnya, dan penciptaan kelas yang dimunculkannya pada sains abad ke-20.

Dengan hanya diberikan untuk bidang fisika, kimia, dan kedokteran—di luar perdamaian dan ekonomi—Nobel memang masih menyisakan banyak bidang sains lain, seperti sains kelautan, matematika, dan astronomi. Untuk Indonesia, ketiga bidang terakhir termasuk penting dan sebagian telah menjadi tradisi. Kita juga membutuhkan ilmuwan di bidang-bidang yang berkaitan dengan lingkungan alam kita, seperti vulkanologi dan geologi serta geofisika dan meteorologi.

Dari sisi upaya untuk mencapai apa yang sering disebut sebagai ”stratosfer sains eksklusif” ini, yang dibutuhkan bukan hanya riset super unggul. Ini karena tidak seorang pun tahu secara pasti, bagaimana sebenarnya memenangi hadiah Nobel.

Justru oleh kenyataan itu, yang sebenarnya perlu ditanamkan adalah karakter untuk menjadi ilmuwan sejati dan bukan untuk menjadi pemenang Nobel. Namun, diakui bahwa inisiatif seperti dilakukan oleh Prof Yohanes Surya maupun oleh LIPI melalui Temu Ilmuwan Muda berperan dalam penciptaan massa kritis bagi bergulirnya tradisi ilmiah yang baik untuk penyemaian ilmuwan muda.

Kategori: Biology · Cognitive Science · Computer · Geology · Internet · Math · Medicine · Nuclear · Physics · Robotics · Space · Telecomunication

Digelar 100 Penemuan Bangsa Indonesia untuk Peringati Hari Kebangkitan Teknologi

Juli 29, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan menggelar LIPI Expo 2008, di Jakarta, (4-6 Agustus), yang akan memamerkan 100 hasil penemuan (invensi) LIPI untuk memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) sekaligus 100 tahun Kebangkitan Nasional.

“Alhamdulillah Wakil Presiden berkenan membukanya,” kata Kepala LIPI Prof Dr Umar Anggara Jenie seusai menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di kantor Wapres, di Jakarta, Selasa.

Dalam acara tersebut, selain memamerkan 100 invensi LIPI, juga digelar seminar hasil penelitian kompetitif LIPI dengan pidato kunci lima manteri, dua Gubernur, Ketua Kamar Dagang dan Industri serta Dirut Pertamina.

Menteri yang hadir yaitu Menkokesra Aburizal Bakrie, Menteri Kesehatan Fadilah Supari, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, Menperin Fahmi Idris, dan Mendiknas yang diwakili oleh Dirjen Fasli Djalal.

Menurut Umar, Wapres Jusuf Kalla pada pertemuan itu memberi sugesti bahwa hasil penelitian harus bisa diserap dan dimanfaatkan masyarakat.

“Artinya kalau penelitian itu baik dan canggih tetapi mahal maka tidak ada artinya,” kata Umar menirukan pernyataan Wapres.

Hasil-hasil penelitian di bidang pangan yang akan dipamerkan antara lain mengunggulkan padi tahan kekeringan dan tahan hama. Selain itu juga ada kedelai plus yang dengan teknologi rizobium, produktivitasnya bisa ditingkatkan, serta teknologi inseminasi buatan untuk ternak.

Di bidang energi LIPI misalnya menghasilkan perangkat penghemat listrik Electrical Fuel Treatment (EFT) untuk menghemat bahan bakar yang sudah dipasarkan dan diekspor.

Selain itu di acara LIPI Expo akan ada peluncuran buku berjudul “Beranda Perdamaian: 3 Tahun MOU Helsinki” karya pakar politik LIPI Prof Dr Ikrar Nusa Bhakti diikuti paparan LIPI, Universitas Syahkuala Aceh dan Pemda Nanggroe Aceh Darussalam.

Umar mengatakan, acara yang akan memamerkan hasil penelitian LIPI kepada masyarakat itu juga akan dihadiri para “stakeholder” LIPI seperti Lembaga Penelitian Non Departemen (LPND) lainnya di bawah Kementrian Ristek, perguruan tinggi, dan kalangan industri.

Selain itu acara tersebut juga akan menghadirkan para finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) dan Pemilihan Peneliti Muda Indonesia (PPMI) yang penghargaannya akan diserahkan oleh Menristek

Kategori: Biology · Cognitive Science · Computer · Electricity · Environment · Food · Gadget · Geology · Health · Internet · Math · Medicine · Nuclear · Physics · Psychology · Robotics · Space · Telecomunication · Web Development

Pemerintah Indonesia Cinta Nuklir Dan Menutup Mata Atas Teknologi Hijau Untuk Listrik

Maret 9, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Riset mengenai pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia tidak akan dihentikan. Hal tersebut disampaikan Menteri Negara Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman, pada pertemuan milis Forum Pembaca Kompas di Gedung BPPT, Jakarta, Jumat (29/2).

Menurutnya, pembangunan PLTN diamanatkan undang-undang. Ia mengatakan dalam undang-undang mengenai rencana jangka panjang nasional, PLTN menjadi salah satu sumber energi yang harus sudah tersedia sejak tahun 2015.

“Pemerintah punya kewajiban meneruskan amanat undang-undang tersebut, kalau tidak, bisa di-impeach. Kalau memang PLTN bukan pilihan, kita harus amandemen dulu undang-undang itu,” lanjut Kusmayanto. Selama masih diamanatkan undang-undang, riset PLTN jalan terus. Sejauh ini, Batan Tenaga Atom Nasional (BATAN), yang ditunjuk sebagai pengembang teknologi, sudah berhasil mengoperasikan pembangkit tenaga nuklir, meskipun hanya skala kecil 5 megawatt.

Pihaknya akan tetap fokus ke PLTN dan terus mengkaji dampak positif dan negatifnya dari perspektif teknologi, sosial, dan ekonomi. Hasil kajian ini yang akan dibawa kepada pemerintah dan DPR untuk memutuskan meneruskan pembangunan atau tidak.

“Pro kontra mengenai PLTN itu biasa. Justru ini ongkos pembelajaran publik yang paling murah,” ujar Kusmayanto. Ia menyayangkan jika kajian mengenai PLTN berhenti hanya karena kepentingan politik. Di lain pihak, ia ingin tema teknologi seperti PLTN menjadi pembicaraan utama di panggung politik. “Saya ingin iptek seksi di politik,” ujarnya.

Milis pembaca Kompas di Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com menjadi salah satu wadah tempat berinteraksi dan bertukap pikiran. Milis yang lahir secara mandiri oleh komunitas pembaca Harian Kompas dan dimoderatori Agus Hamonangan ini sudah diikuti lebih dari 3000 anggota yang berasal dari berbagai latar belakang.

Kategori: Nuclear