Category Archives: Nuclear

Kupu-kupu di Fukushima Alami Mutasi Genetik Karena Paparan Radioaktif Reaktor Nuklir


Para ilmuwan menemukan mutasi bentuk sayap, antena, serta kaki pada kupu-kupu yang dikumpulkan setelah insiden kegagalan fungsi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima I menyusul gempa dan tsunami di Sendai, Jepang, tahun 2011.

Manurut hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Scientific Reports, para peneliti menemukan hubungan antara mutasi kupu-kupu dan materi radioaktif dalam serangkaian percobaan laboratorium.

Dua bulan setelah kecelakaan pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi pada Maret 2011, tim peneliti Jepang mengumpulkan 144 kupu-kupu dewasa jenis Zizeeria maha dari 10 lokasi di Jepang, termasuk daerah Fukushima.

Dengan membandingkan mutasi pada kupu-kupu yang dikumpulkan dari lokasi yang berbeda, tim peneliti menemukan bahwa daerah dengan paparan radiasi paling tinggi menjadi tempat berkembangbiak kupu-kupu dengan sayap lebih kecil dan mata yang tidak tumbuh baik.

“Serangga dipercaya sangat tahan radiasi. Dalam hal ini hasil penelitian kami tak terduga,” kata pemimpin peneliti Joji Otaki dari University of the Ryukyus, Okinawa, seperti dikutip laman BBC.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Otaki membiakkan kupu-kupu di laboratorium yang berjarak 1.750 kilometer dari lokasi peristiwa Fukushima di mana paparan radiasi buatan sulit dideteksi.

Dari pembiakan kupu-kupu itu, para peneliti mengetahui beberapa kelainan yang tidak ditemukan pada generasi kupu-kupu yang sebelumnya dikumpulkan dari Fukushima seperti kelainan bentuk antena yang digunakan serangga untuk mengeksplorasi lingkungan dan mencari pasangan.

Namun penemuan dari penelitian terbaru mereka menunjukkan bahwa radionuklida yang terlepas pada peristiwa Fukushima masih mempengaruhi perkembangan binatang, bahkan setelah residu radiasi di lingkungan tak ada lagi.

Penemuan tim peneliti Jepang ini konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukan bahwa burung dan kupu-kupu merupakan alat penting untuk menyelidiki dampak jangka panjang dari kontaminasi radioaktif di lingkungan.

Tips Membangun Reaktor Nuklir Pembangkit Listrik Dirumah Sendiri


Entah apa yang ada di pikiran pria ini, sehingga ia sungguh-sungguh mencoba membuat reaktor nuklir di ruang dapur apartemennya sendiri. Richard Handl (31), warga kota pantai Angelholm, Swedia selatan, akhirnya harus berurusan dengan polisi dengan tuduhan kepemilikan ilegal materi radioaktif.

Saat ditemui awak media, Rabu (3/8/2011) atau Kamis (4/8) WIB, Handl mengaku hanya melakukannya untuk menyalurkan minat dan hobinya di bidang fisika dan kimia. “Saya selalu tertarik dengan fisika dan kimia,” ujar Handl, sambil menambahkan ia hanya ingin melihat apakah mungkin membelah inti atom di dapur rumah.

Entah bagaimana, Handl berhasil mengumpulkan berbagai jenis materi radioaktif, seperti radium, amerisium, dan uranium di apartemennya. Ia lalu sungguh-sungguh mencoba membangun sebuah reaktor nuklir mini, dan menuliskan perkembangan eksperimennya di blog pribadi. Handl mengaku sempat membuat lelehan kecil berbagai materi radioaktif itu di kompornya.

Setelah berbulan-bulan menjalankan “hobi”-nya itu, Handl baru tahu bahwa aktivitasnya itu bisa jadi tidak diizinkan oleh hukum. Lalu dengan polosnya, Juli lalu ia mengontak Badan Keselamatan Radiasi Swedia untuk menanyakan apakah ia boleh membangun reaktor nuklir sendiri di rumah.

Badan Keselamatan Radiasi Swedia menjawab pertanyaan Handl itu dengan menelepon polisi. Polisi langsung menggerebek apartemen Handl dan menahan pria tersebut. Saat ini, Handl menghadapi ancaman hukuman denda atau penjara hingga dua tahun.

Polisi mengaku tidak mendeteksi tingkat radiasi yang berbahaya di apartemen tersebut. Handl sendiri mengaku punya detektor radiasi Geiger Counter-nya sendiri, sehingga bisa selalu mengecek level radiasi di rumahnya.

Salah satu materi radioaktif yang ia miliki, amerisium-241, diduga diambil dari perangkat detektor asap. Handl kini mengakui gagasan “brilian”-nya itu ternyata bukan ide bagus. “Mulai sekarang, saya akan belajar teori saja,” ungkap dia

Ledakan Reaksi Nuklir Adalah Penyebab Planet Mars Berwarna Merah


Dr John Brandenburg, ilmuwan senior di Orbital Technologies Corporation mengutarakan pendapat bahwa reaksi nuklir secara alami juga terdapat di Mars. Reaksi nuklir itulah yang menyebabkan planet Mars berwarna merah.

Seperti dikutip Foxnews (1/4/2011), Brandenburg mengatakan, “Permukaan Mars punya lapisan tipis senyawa radioaktif, meliputi uranium, thorium dan potassium radioaktif. Radiasi muncul dari zona tertentu di Mars.”

“Ledakan nuklir bisa menyebarkan debu ke seluruh planet. Citra sinar gamma menunjukkan adanya bintik merah besar seperti debu radioaktif. Di bagian Mars lain juga terdapat bintik merah,” lajut Brandenburg.

Brandenburg berpendapat, ledakan yang setara dengan 1 juta kali 1 megaton bom hidrogen pernah terjadi di wilayah Mars bernama Mare Acidalium, sebuah wilayah yang punya konsentrasi radioaktif tinggi.

Ledakan itu mengisi atmosfer Mars dengan radioisotop. Selain itu, Brandenburg mengatakan bahwa ledakan nuklir alami juga telah melalap semua yang ada di permukaan Mars sehingga permukan planet itu kini dipenuhi pasir kering.

Menanggapi pendapat Brandenburg, manajer program penelitian Mars di Jet Propulsion Laboratory NASA Dr David Beaty mengatakan bahwa pendapat itu mengagumkan, namun masih harus dibuktikan kebenarannya.

Mengekspresikan keraguan, ia mengatakan bahwa geologi Mars telah bertahan selama ribuan tahun. Apa yang ada di Mars sekarang juga telah ada dalam jangka waktu lama, hanya terdapat perubahan kecil.

Sementara, Dr Lars Borg dari Lawrence Livermore National Lab mengatakan, pendapat Brandenburg tak mengejutkan. Apa yang disebut Brandenburg sebagai reaksi nuklir sebenarnya adalah proses geologis biasa.

“Kami meneliti meteorit Mars selama 15 tahun dan melihat pengukuran isotop secara detail. Tak cuma satu dari 100 orang yang berpendapat ini berkaitan dengan adanya ledakan nuklir di sana,” katanya.

Brandenburg yang pernah bekerja di Livermore mempertahankan pendapatnya. Ia mengatakan bahwa sebenarnya terdapat beberapa ahli yang tak bisa disebutkan namanya sebenarnya menyetujui pendapatnya.

Lebih mengejutkan, Brandenburg berpendapat bahwa reaksi nuklir alami juga terdapat di Bumi. Salah satu wilayah Afrika bernama The Oklo, Gabon memiliki sedimen berlapis uranium yang berasal dari ledakan nuklir 2 milyar tahun lalu.

Brandenburg berpendapat, data radiasi sinar gamma menunjukkan peningkatan radiasi Xenon-129 di Mars beberapa tahun terakhir. Gejala sama juga terjadi di Bumi setelah bencana nuklir di Chernobyl tahun 1986 dan krisis Nuklir di Jepang.

Hujan Asam Ancam Dunia Karena Kebocoran Reaktor Nuklir Jepang


Ledakan di instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi, Jepang, sempat memicu beredarnya kabar bohong, yaitu hujan asam bakal menerjang wilayah searah barat daya Jepang sampai 5.000 kilometer. Kabar bohong teratasi, kekhawatiran lain muncul, yaitu hujan asam menjadi bayang- bayang dilema penutupan PLTN.

Hujan asam adalah hujan dengan keasaman tinggi. Sekilas sama dengan hujan biasa. Yang membedakan, tingginya kandungan asam pada air hujan asam dapat merusak kulit, mematikan tumbuhan, dan menyebabkan logam-logam cepat berkarat.

Secara ekstrem, akumulasi asam tinggi di alam bisa memusnahkan seluruh spesies di sebuah danau.

Ada dua penyebab utama hujan asam, yaitu alami dan ulah manusia. Salah satu penyebab alami adalah letusan gunung berapi. Sementara ulah manusia terkait penggunaan bahan bakar fosil, seperti batu bara dan minyak di dunia industri (pabrik), kendaraan bermotor, hingga pembangkit listrik.

Penjelasannya, hasil pembakaran energi fosil akan menjadi polutan bagi atmosfer. Komposisi polutannya membawa sifat asam yang meliputi asam sulfat, asam nitrat, atau klorida.

Letusan gunung berapi misalnya, yang menimbulkan berbagai komposisi asam di atmosfer. Penggunaan pupuk pertanian juga menimbulkan asam, tetapi persentasenya berbeda-beda.

Berbagai komposisi asam itu penyebab utama pengendapan asam di atmosfer. Secara teknis, pengendapan asam dari atmosfer ke permukaan bumi tak hanya melalui air hujan, tetapi juga melalui salju, kabut, embun, dan aerosol.

Hujan asam biasanya memiliki perbandingan 62 persen asam sulfat, 32 persen asam nitrat, dan 6 persen asam klorida.

Bukan dari PLTN

Menurut Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) As Natio Lasman, hujan asam tidak mungkin terjadi akibat proses reaksi nuklir. Hujan asam juga kecil kemungkinannya akibat ledakan hidrogen di instalasi PLTN Fukushima.

Oleh karena itu, As Natio memastikan bahwa hujan asam sebagai dampak ledakan di instalasi PLTN Fukushima—seperti yang banyak beredar selama ini—sebagai kabar bohong. Ia menduga, informasi hujan asam berkembang pascatindakan darurat pekerja PLTN Fukushima saat mendinginkan reaktor nuklir menggunakan zat boron, yang menghasilkan asam borat.

”Asam borat tidak menyebabkan hujan asam. Asam borat justru baik untuk kulit sehingga banyak digunakan di industri kosmetik,” katanya.

Ahli nuklir Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sihana, mengatakan, tidak ada hujan asam yang ditimbulkan dari proses reaksi nuklir. Ledakan dan kebakaran di PLTN Fukushima akibat suhu tinggi dan ledakan hidrogen.

”Kebakaran di unit 4 PLTN Fukushima diperkirakan akibat bocornya refrigerant pendingin tempat penyimpanan limbah bahan bakar nuklir,” katanya.

Dilema PLTN

Ledakan di PLTN Fukushima akibat gempa dan tsunami tak dimungkiri menginspirasi publik, seperti di Jerman dan negara lain untuk menekan pemerintahnya agar sesegera mungkin menutup PLTN berisiko.

Para analis karbon di Eropa mulai menimbang dampak penutupan PLTN. Matteo Mazzoni, seorang analis karbon Italy’s Nomisma Energia, seperti dikutip Reuters, Rabu lalu, menyebutkan, ada imbas potensi hujan asam makin besar dari rencana penutupan tujuh PLTN tertua di Jerman pada Juni 2011.

Imbas itu akibat suplai karbon dioksida yang bertambah 8 juta-11 juta ton karbon dioksida dalam sebulan. Alasannya, suplai listrik dari tujuh PLTN tertua di Jerman itu belum memungkinkan diganti semuanya dengan energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Produksi energi terbarukan masih terlampau sedikit. Sejauh ini, energi dari bahan bakar fosil yang dianggap paling memungkinkan. Fakta ini menjadi tantangan dunia.

Di sanalah dilema muncul. Pembangkit listrik berbahan bakar fosil jelas-jelas meningkatkan konsentrasi polutan, yang menjadi penyebab hujan asam.

Di dunia, saat ini setidaknya tercatat ada 437 reaktor nuklir. Potensi bahaya reaktor nuklir memang besar. Namun, dari 437 reaktor itu, sejauh ini hampir semuanya terbukti mampu dikendalikan.

Masyarakat pun menerima banyak manfaat berupa energi listrik dari PLTN, yang jauh lebih murah dibandingkan listrik dari bahan bakar fosil. Di sisi lain, ancaman radiasi nuklir nyata adanya.

Kini, ketika ada keinginan menutup operasional reaktor nuklir, pada saat bersamaan ada ancaman lain, yaitu hujan asam yang bisa jadi bukan lagi kabar bohong

Makan Garam Beryodium Dapat Mencegah Manusia Terkena Dampak Radiasi Nuklir


Gempa 8,9 skala richter yang diikuti tsunami di Jepang, Jumat, 11 Maret 2011 lalu membuat pembangkit tenaga nuklir di Jepang meledak. Radiasi yang ditimbukan dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi mereka yang tinggal di Fukushima, 240 kilometer sebelah utara Tokyo, tempat pembangkit itu berada.

Pemerintah Jepang pun sibuk mengungsikan sekitar 110.000 hingga 160.000 warga yang tinggal di dekat PLTN itu.

Bagaimana meminimalisir racun radioaktif itu? Menurut Guru besar Kimia dari Institut Teknologi Bandung, Ismunandar untuk menangkal racun radiaktif, yodium aktif cukup ampuh untuk menangkalnya. Yodium dipakai sebagai salah satu penangkal agar sistem tubuh tidak rusak. “Supaya kelenjar gondok tidak terkena,” katanya, Ahad (13/3).

Sebelumnya disebutkan, pemerintah Jepang meminta warganya mengkonsumsi yodium untuk menangkal radiasi akibat meledaknya reaktor nuklirnya.

Menurut Ismunandar, reaktor nuklir itu berbahan utama Uranium 232 pada prosesnya terbelah menjadi beberapa zat. Diantaranya yang cukup banyak adalah jenis yodium. Dalam sistem pembangkit, zat tersebut adalah limbah nuklir.

Yodium radioaktif, ujar guru besar termuda di ITB itu, tidak langsung mematikan orang. “Tapi yodium aktif harus dikonsumsi atau diminum agar yodium radioaktif tidak terserap oleh tubuh,” ujarnya. Yodium aktif ini misalnya terdapat pada garam dapur.

Dosen laboratorium nuklir fisika ITB, Zaki Suud mengatakan, pembelahan nuklir menghasilkan 1.000 lebih jenis bahan. Selain yodium radiokatif, limbah nuklir yang terbanyak diantaranya juga menghasilkan caesium. Seluruh zat radioaktif tersebut tidak terlihat karena berbentuk debu.

Menurut guru besar yang beberapa kali bertandang ke reaktor di Fukushima Jepang itu, kerusakan pembangkit nuklir tersebut tidak separah tragedi Chernobyl. “Yang meledak di sistem pendinginan karena terganggu, bukan pada bagian utama yang berisi bahan bakar nuklir,” katanya.

Meski begitu, langkah evakuasi warga tetap diperlukan karena itu menjadi bagian standar penyelematan ketika terjadi gangguan reaktor.

Jepang, menurut Suud, punya dua jenis pembangkit nuklir. Sistem Boiling Water Reactor seperti di Fukushima, ditempatkan di bagian utara Jepang. Sistem tersebut memakai tiga langkah, yaitu proses pembelahan massa uranium, air yang dididihkan dari proses nuklir itu, selanjutnya menghasilkan uap air sebagai pemutar turbin penghasil listrik.

Daya listrik yang dihasilkan, kata Suud, lebih besar daripada reaktor yang dibangun di selatan Jepang. Sistem dua langkah itu hanya memakai proses nuklir dan pendinginan.

Partikel Anti Materi Berhasil Dibuat dan Menelan Biaya US$ 62 Triliun


Maximilian Kohler terpana dan tak percaya ketika Vittoria Vetra menuturkan keberhasilannya membuat lawan materi–antimateri. Direktur Badan Penelitian Nuklir Eropa (CERN) itu mengatakan tak ada lagi antimateri di bumi. “Bahkan mungkin tak ada lagi di galaksi ini,” Kohler menyergah.

Dengan kalem, Vittoria kemudian mempertunjukkan “mesin” pembuat antimateri dan bagaimana dia bekerja menghasilkan lawan materi itu. Vittoria juga menjelaskan bagaimana dia bersama ayahnya, Leonardo Vetra, membuat alat “penjebak” antimateri. Alat ini perlu dibuat khusus karena antimateri akan luruh apabila bersentuhan dengan materi apa pun, termasuk partikel udara. “Hee…bat,” Kohler terbata memuji seraya terbatuk-batuk.

Karya besar Vittoria memang hanya imajinasi Dan Brown di novelnya, Angels & Demons, yang terbit sepuluh tahun lalu. Imajinasi Dan Brown itu menjadi kenyataan sekarang. Kolaborasi fisikawan partikel dari 15 perguruan tinggi pelbagai negara yang tergabung di tim Alpha CERN berhasil membuat dan memerangkap antimateri antihidrogen. Hasil penelitian mereka ini dipublikasikan di jurnal Nature edisi 17 November lalu.

Paul Adrien Maurice Dirac, fisikawan asal Inggris, pertama kali mencetuskan teori soal keberadaan antimateri pada 1928. Dia mengkombinasikan teori kuantum Erwin Schrodinger-Werner Heisenberg dengan teori relativitas khusus. Dirac, yang kala itu baru berusia 26 tahun, mengatakan setiap keberadaan partikel pasti diikuti pasangannya, antipartikel, yang berbeda muatan. Misalnya, jika ada elektron, akan ada antielektron yang sama dalam segala hal kecuali antielektron ini memuat listrik positif.

Serupa dengan bayangan di cermin, ketika ada materi, akan ada pula pasangannya, antimateri. Lalu sekarang ada di mana antimateri ini? Antimateri sudah sekian lama menghilang. Para fisikawan berteori, setelah terjadi ledakan besar (Big Bang) yang mengawali terciptanya alam semesta, lahirlah materi dan juga pasangannya, antimateri, dalam jumlah hampir sama. Jumlah materi sedikit lebih banyak daripada antimateri.

“Cacat simetri di awal alam semesta inilah yang membuat jumlah antimateri terus menyusut,” kata Terry Mart, fisikawan dari Universitas Indonesia. Antimateri berumur pendek karena, ketika bertumbukan dengan materi, ia akan meluruh. Apalagi, menurut Laksana Tri Handoko, fisikawan dari Pusat Penelitian Fisika, antimateri cenderung tidak stabil. Pada akhirnya, walaupun sama sekali belum terang benar bagaimana prosesnya, hampir seluruh semesta hanya tersusun dari materi.

Dengan memelototi sifat antimateri, jawaban atas pertanyaan terbesar dalam dunia fisika partikel itu mungkin bisa sedikit tersingkap. Yang jadi soal, mengamati sifat dan perilaku antimateri bukan soal gampang. Fisikawan CERN berhasil membuat sembilan atom antimateri antihidrogen pertama kali pada 1995. Namun antihidrogen itu melintas dengan kecepatan cahaya sehingga mustahil bisa diamati. Dua tahun kemudian, peneliti di Fermilab, Chicago, Amerika Serikat, juga berhasil membuat ratusan atom antihidrogen. Tapi, sekali lagi, atom itu hanya tampak selama beberapa mikrodetik dan kemudian luruh setelah menumbuk materi. Uji coba tim Athena CERN pada 2002 pun belum mampu menahan lama umur antimateri.

Setelah lewat 15 tahun, baru kali inilah para fisikawan partikel berhasil menangkap dan menjebak 38 atom antihidrogen. Walaupun tim Alpha CERN hanya mampu menahan atom antihidrogen selama 170 milidetik, Cliff Surko, fisikawan dari University of California, San Diego, menilainya sebagai satu kemajuan besar.

Untuk menghasilkan atom antimateri, tim Alpha CERN menautkan 10 juta antiproton dengan 700 juta positron (antielektron) dengan menggunakan medan osilasi listrik. Antiproton sendiri didapat lewat tumbukan proton pada logam dengan kecepatan sangat tinggi dalam perangkat Large Hadron Collider. Sedangkan positron diperoleh dari sumber radioaktif sodium-22.

Yang paling sulit, menurut Joel Fajans, anggota tim Alpha CERN, justru bagaimana memerangkap antihidrogen itu. “Mereka bergerak terlalu cepat,” kata Fajans. Selain bergerak dengan kecepatan mendekati cahaya melintas, temperatur atom-atom antihidrogen ini kelewat panas. Untuk mendinginkan dan memperlambat laju atom antihidrogen, atom-atom itu dilewatkan dalam medan magnet octupole.

Dari jutaan atom antihidrogen yang dapat dibuat, hanya 38 atom yang bisa dihambat lajunya dan ditangkap. Itu pun perlu 335 kali uji coba. “Memerangkap antihidrogen ribuan kali lebih sulit daripada membuatnya,” kata Fajans. Dan 38 atom itu pun hanya berumur sepersekian detik. “Hanya beberapa detik sudah menyenangkan, walaupun kalau bisa bertahan selamanya tentu lebih bagus.” Walhasil, tak banyak informasi yang didapat dari 38 atom antihidrogen itu.

***

Ketika setengah gram antimateri dibawa kabur dari laboratorium bawah tanah CERN dan disembunyikan di salah satu lorong Vatikan, negara kecil itu panik. Sebab, bila setengah gram antimateri yang kira-kira sebesar sebutir beras itu bersentuhan dengan materi apa pun dan meledak, kekuatannya setara dengan 5.000 ton dinamit. Pusat gereja Katolik itu akan berubah menjadi kubangan besar. Tapi untunglah “bom antimateri” hanya terjadi di novel Dan Brown.

Energi yang dihasilkan dari tumbukan antimateri dengan materi memang luar biasa besar. “Satu kilogram antimateri saja bisa menghancurkan satu kota besar,” kata Terry Mart. Kekuatan ledakan satu kilogram antimateri kira-kira setara dengan 3.000 bom atom yang dijatuhkan di Kota Hiroshima, Jepang.

Untungnya lagi, bom antimateri ini hanya akan mungkin terjadi dalam angan-angan Dan Brown. Sebab, menurut Jeffery Hangst, juru bicara tim Alpha CERN, untuk mendapatkan satu gram antimateri saja, perlu waktu 300 miliar tahun. Dan karena sifatnya yang sangat tidak stabil, sampai sekarang juga belum ada teknologi yang cukup aman untuk menyimpannya.

Seperti halnya bom antimateri, berharap antimateri menjadi sumber energi besar seperti ketika antimateri menjadi bahan bakar pesawat penjelajah angkasa USS Enterprise di film seri Star Trek pun hanya impian belaka. “Sama sekali tidak efisien,” kata Cliff Surko. “Kalaupun efisiensinya bisa digenjot, berapa banyak antimateri yang bisa dibuat?”

Antimateri adalah materi paling mahal. Badan Antariksa Amerika Serikat memperkirakan, untuk mendapatkan satu gram antimateri, butuh biaya US$ 62 triliun. Dengan semua halangan itu, Vatikan tak perlu takut tulisan Dan Brown menjadi kenyataan.

Virus Computer Stuxnet Dibuat Khusus Untuk Cyberwar dan Serang Instalasi Nuklir Iran Supaya Meledak Sendiri


‘Senjata Super’ cyber pertama di dunia telah dirancang untuk menyerang sebuah stasiun tenaga nuklir di Iran, para ahli percaya.

Sebuah virus komputer yang disebut Stuxnet digambarkan sebagai ‘worm’ yang paling canggih yang pernah dibuat dan telah menginfeksi lebih dari 45.000 jaringan di seluruh dunia.

‘Worm’ adalah jenis virus komputer yang dapat mereproduksi dengan mengirimkan salinan dirinya ke setiap PC yang terhubung ke mesin yang terinfeksi.

Sekarang pakar keamanan Internet takut bahwa Stuxnet, yang pertama kali terdeteksi pada Juni, adalah ‘worm’ pertama yang secara khusus dibuat untuk menyerang infrastruktur dunia nyata seperti pembangkit listrik dan pembangkit tenaga air.

Dan mereka mengatakan bahwa virus tersebut sangat canggih hanya sebuah negara dengan pemrograman komputer tingkat tinggi tahu bagaimana menciptakannya.

Banyak yang percaya bahwa virus itu dirancang untuk menyerang fasilitas industri di Iran termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr yang semula akan dibuka bulan lalu.

Setelah virus meretas PC, Stuxnet mencari perangkat lunak Siemens yang menjalankan sistem kontrol fasilitas di industri seperti pabrik dan pembangkit listrik.

Kemudian meluncurkan serangan dengan memprogram ulang perangkat lunak untuk menyebarkan instruksi berbahaya pada mesin industri.

Sehingga dapat mengendalikan perintah dan memicu rangkaian yang dapat menyebabkan seluruh sistem hancur dengan sendirinya, kata para ahli.

David Emm, seorang peneliti senior keamanan di Kaspersky mengatakan, apa yang membuat Stuxnet berbeda dari virus lainnya adalah virus itu dapat menyerang dengan sendirinya.

Perusahaannya telah bekerja sama dengan Microsoft untuk menemukan lubang dalam kode mereka yang dapat dimanfaatkan oleh worm.

Mr Emm mengatakan: Apa yang membuatnya beda adalah bahwa virus itu tidak pandang bulu. Kebanyakan virus yang dibuat dapat meledak seperti sebuah blunderbuss. Namun Stuxnet hanya menargetkan sistem tertentu.

“Virus itu menemukan celah dalam kode dan beroperasi seperti membuka jendela di rumah, dengan linggis kecil untuk membuat celah yang lebih besar,” katanya.

Dia mengatakan Stuxnet tampaknya dirancang murni untuk sabotase.

Ralph Langner, seorang peneliti keamanan cyber Jerman, telah memecahkan kode Stuxnet dan membuat temuan publik. Dia mengatakan, virus itu dirancang untuk mencari dan menghancurkan potongan kunci infrastruktur.

Dia berkata: “Stuxnet adalah 100 persen diarahkan untuk serangan cyber yang bertujuan menghancurkan proses industri di dunia fisik. Ini bukan tentang spionase, karena beberapa mengatakan ini adalah serangan sabotase 100 persen. “

Iran yang paling terpukul oleh Stuxnet hampir 60 persen dari semua PC yang terinfeksi ditemukan di sana.

Mr Langer berpendapat bahwa pabrik nuklir Bushehr menjadi sasaran penyerangan.

Bushehr saat ini memuat bahan bakar nuklir tetapi tidak diaktifkan pada Agustus seperti yang telah direncanakan.

Mr Langer mengatakan bahwa kecanggihan virus hanya sebuah nation state yang bisa mengembangkannya.

Dia menulis: “Dengan forensik kita telah membuat Stuxnet sebagai bukti dan serangan sabotase yang melibatkan pengetahuan insider berat.

“Ini tidak seperti beberapa peretas yang duduk di basement rumah orang tuanya. Bagi saya, virus itu seperti sumber daya yang dibutuhkan untuk tahapan serangan ke sebuah negara.”

Mr Langer juga berpendapat bahwa virus Stuxnet sudah mengincar targetnya – kita hanya belum mendengarnya, demikian Daily Mail.

Sekitar 30.000 penyedia layanan internet atau internet provider di Iran terserang virus canggih bernama Stuxnet. Virus ini diduga sengaja diciptakan oleh sebuah organisasi yang disponsori Israel dan AS. Sasarannya adalah sektor industri, terutama lagi fasilitas nuklir Iran.

Koran Iran Daily di halaman 2, edisi Minggu (26/9), menuliskan, Sekretaris Dewan Teknologi Informasi Kementerian Industri Iran Mahmoud Liayi mengatakan, virus diciptakan sejalan dengan agenda perang elektronik Barat terhadap Iran. Virus itu berperan mentransfer informasi soal industri negara Iran.

Kebanyakan sistem otomatisasi komputer di Iran dan negara lain diproduksi di bawah merek Siemens SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition). ”Sistem ini menjadi sasaran utama. Jka semua internet provider (IP) yang terinfeksi dibersihkan, ancaman tetap ada, virus belum hilang,” ungkap Liayi.

Stuxnet adalah virus canggih. ”Jika IP diaktifkan, Stuxnet mulai mentransfer data tentang jalur-jalur produksi industri dan otomatisasi ke tempat yang ditentukan. Di sana, data diproses oleh para arsitek virus untuk dibiakkan dan dikirim balik untuk menyerang,” lanjut Liayi.

Sistem dan unit industri Iran kini sedang berjuang untuk melengkapi sebuah sistem antivirus khusus untuk menghadang Stuxnet. Semua perusahaan Iran disarankan tidak menggunakan peranti lunak (software) antivirus yang disediakan Siemens SCADA karena bisa membawa virus versi baru. Perusahaan bisa juga menggunakan mekanisme khusus membarui komputernya.

Liayi berpendapat, maksud di balik produksi dan penggandaan Stuxnet sangat mirip dengan sebuah proyek pemerintah. Ia dengan tegas mengatakan, ”Stuxnet bukanlah virus biasa atau spam.” Sebuah kelompok kerja khusus terdiri dari wakil-wakil departemen dan badan-badan eksekutif terkait telah dibentuk untuk memerangi virus Stuxnet.

Terancam

Menteri Telekomunikasi dan Teknologi Informasi Reza Taqipour mengatakan, Stuxnet belum sampai merusak sistem industri dan sistem pemerintah. Namun, lembaga yang tidak memiliki pengaman memang terancam.

Dirut Perusahaan Teknologi Informasi Saeid Mahiyoon mengatakan, proses penghapusan virus sudah berjalan.

Virus itu mungkin merupakan bagian AS atau Israel untuk menyerang Iran. Stuxnet dilihat sebagai bagian malware komputer paling berbahaya yang pernah ditemukan. Virus canggih ini mengenali jaringan pengendali fasilitas khusus, lalu merusaknya.

Mereka juga mengatakan, virus ini memiliki desain yang sangat canggih itu. Virus ini mungkin juga diciptakan oleh sebuah organisasi khusus yang didukung AS atau Israel. Tujuannya adalah menyerang perangkat lunak pengendali khusus yang digunakan di sektor industri, termasuk reaksi nuklir Iran yang berada di kota pelabuhan Bushehr di sekitar Teluk Persia.

”Berdasarkan ciri-ciri yang ada, saya menegaskan bahwa ini (virus Stuxnet) diciptakan oleh sebuah negara,” ungkap Frank Rieger, pakar teknologi yang berkecimpung dalam perakitan telepon seluler, seperti disiarkan Bloomberg Television.

”Fasilitas-fasilitas nuklir Iran mungkin menjadi target,” kata Rieger, yang juga dibenarkan Richard Falkenrath dari Chertoff Group, penasihat perusahaan keamanan di Washington.

Falkenrath mengungkapkan, ”Secara teoretis, kecil kemungkinan (virus) dibuat oleh Pemerintah AS. Mungkin saja Israel.”

Mutiara 1 Kacang Kedelai Super Besar Akibat Radiasi Nuklir


Menteri Pertanian Suswono mendeskripsikannya sebagai kedelai superbesar. Varietas kedelai hasil iradiasi nuklir yang diberi nama Mutiara 1 itu dikerjakan para periset Badan Tenaga Nuklir Nasional selama enam tahun antara 2004 dan 2010.

Riset ini mengikuti tuntutan pasar yang menghendaki kedelai varietas lokal, tetapi berbiji besar seperti kedelai impor,” kata Harry Is Mulyana di Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (Patir) Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Jakarta.

Harry bersama Arwin, Tarmizi, Masrizal, dan Muchlis Adie merupakan para periset kedelai Mutiara 1 yang diluncurkan sebagai varietas unggul oleh Menteri Pertanian Suswono pada 22 Juli 2010. Deskripsi kedelai Mutiara 1 yang superbesar didasarkan pada bobot rata-rata 23,2 gram per 100 biji. Ini lebih besar daripada kedelai impor Amerika Serikat yang hanya sekitar 18 gram per 100 biji.

Iradiasi gama

Harry menyebutkan, Mutiara 1 merupakan hasil iradiasi sinar gama. Iradiatornya yang dimiliki disebut Gammacell-220. Kapasitas penyinarannya hanya untuk 1 kilogram biji kedelai.

Ini disebut iradiasi nuklir, yaitu penyinaran memanfaatkan radioisotop untuk mengubah sifat kimiawi dan sifat fisis yang memancarkan sinar radioaktif. Istilah iradiasi berbeda dengan radiasi. Radiasi adalah pancaran sinar radioaktif ke segala arah tak menentu, sedangkan iradiasi adalah radiasi itu sendiri yang diarahkan pada fokus tertentu.

”Dari 1 kilogram biji kedelai yang diiradiasi di Gammacell-220 itu kemudian ditanam. Biji kedelai sudah mengalami mutasi gen. Benih yang dihasilkan lalu diseleksi untuk mendapatkan kedelai yang sesuai dengan yang dikehendaki,” kata Harry.

Iradiasi sinar gama ini memperbanyak keragaman genetik. Pengaruh yang ditimbulkan pada generasi pertama kali biasanya terjadi kerusakan fisik. Pada generasi kedua terjadi segregasi atau keragaman genetik seleksi. Kemudian mulai dipetakan untuk mendapatkan sifat yang diinginkan.

Menurut Harry, Mutiara 1 merupakan hasil mutasi gen pada kedelai lokal varietas Muria. Perubahan gen yang dikehendaki tidak bisa diperoleh serta-merta. Inilah yang membutuhkan waktu relatif lama hingga enam tahun untuk mendapatkan benih Mutiara 1 dengan gen yang dikehendaki.

Mutiara 1, selain berbiji besar, juga memiliki sifat tahan penyakit karat daun (Phakospora pachirhyzi Syd) dan tahan terhadap penyakit bercak atau hawar daun coklat (Cercospora). Mutiara 1 juga tahan hama penggerek pucuk (Melanagromyza sojae).

”Benih Mutiara 1 sebelum dilepas kepada petani harus stabil. Stabil artinya sudah tidak berubah lagi susunan gennya. Biasanya sampai pada generasi keempat,” kata Harry.

Biji kedelai setelah disinar gama kobalt (Co) 60 selama sekitar 15 menit dengan dosis 150 gray itu mengalami perubahan komposisi gen. Ini sebagai benih inti. Benih inti kemudian ditanam untuk menghasilkan benih penjenis. Hasil benih penjenis diperoleh lagi benih dasar. Dari benih dasar diperoleh benih pokok. Kemudian, dari penanaman benih pokok ini diperoleh yang disebut sebagai benih sebar.

”Benih sebar ini yang kemudian disertifikasi Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih untuk dikonsumsi sebagai benih siap tanam oleh petani,” kata Harry.

Ada sedikitnya empat tingkatan pemuliaan benih untuk mendapatkan Mutiara 1 agar bisa ditanam petani. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Suswono Nomor 2602/Kpts/SR.120/7/2010 tentang Pelepasan Galur Mutan Kedelai 37 MBB sebagai Varietas Unggul dengan Nama Mutiara 1, usia tanam kedelai ini tergolong genjah.

Dengan ketinggian batang rata-rata 46,8 sentimeter, kedelai Mutiara 1 dapat dipanen pada usia kira-kira 82 hari. Pada usia 30 hari, Mutiara 1 sudah berbunga warna ungu.

Hasil panen kedelai Mutiara 1 tak ubahnya dengan varietas kedelai lokal lain yang memiliki kadar protein 37,7 persen dan kadar lemak 13,8 persen. Ini sangat cocok untuk produksi tahu dengan rendemen sangat tinggi sampai 373,3 persen. Cocok pula untuk produksi tempe dengan rendemen 193,3 persen. Kedelai varietas lokal justru lebih disukai cita rasanya untuk tahu-tempe ketimbang kedelai impor.

Terus meningkat

Deputi Bidang Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir Batan Taswanda Tary mengatakan, hasil penelitian kedelai ini terus meningkat. Sebelumnya sudah diperoleh kedelai varietas Muria, Tengger, Meratus, Rajabasa, dan Mitani dengan cara iradiasi sinar gama Co 60 pula.

”Pelepasan pertama kali varietas Muria pada 1987. Terakhir dihasilkan kedelai varietas Mutiara yang memiliki produktivitas 2,4 ton hingga 4,1 ton per hektar,” kata Taswanda.

Varietas Muria memiliki produktivitas 1,8 ton per hektar dengan kelebihan tahan penyakit karat daun. Varietas Tengger dilepas pada 1991 dengan produktivitas 1,4 ton hingga 1,7 ton per hektar.

Varietas Meratus hampir mirip Tengger. Kemudian menginjak pada varietas Rajabasa terjadi peningkatan produktivitas berkisar 2,05 ton hingga 3,9 ton per hektar yang dilepas pada 2004. Bijinya besar, tahan penyakit karat daun, serta toleran terhadap lahan kering dan masam.

Diikuti pada 2008 dengan pelepasan varietas Mitani. Angka produktivitasnya mencapai 2 ton hingga 3,2 ton per hektar. Varietas ini tahan terhadap penyakit karat daun, tahan terhadap hama Aphis sebagai vektor penyakit virus, serta memiliki kadar protein yang tergolong tinggi.

Dari generasi Mitani ini kemudian disusul generasi Mutiara 1. Mutiara 1 telah lolos uji lokasi di 16 wilayah di Indonesia. Salah satunya di Nusa Tenggara Barat yang telah dipanen pada 29 Juli 2010. Sekarang saatnya petani menunggu penyebaran benih kedelai biji superbesar ini. Konsumen menanti tahu dan tempe varietas kedelai lokal.

Insentif Khusus bagi Industri Pengguna Riset Aplikasi Penelitian


Untuk memacu pemanfaatan hasil-hasil penelitian perguruan tinggi ataupun lembaga penelitian, pemerintah perlu memberikan insentif khusus bagi industri yang menggunakan hasil riset dalam negeri. Insentif bagi industri itu akan turut mendorong berkembangnya penelitian dan penyediaan dana riset bagi para peneliti.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Anton J Supit di Jakarta, Selasa (31/8), mengatakan, tidak sinkronnya hubungan antara hasil penelitian dan industri sudah berlangsung sejak lama. Kondisi itu salah satunya terlihat dari tidak termanfaatkannya temuan benih-benih unggulan berbagai jenis tanaman, seperti padi atau jagung, yang dihasilkan sejumlah lembaga penelitian.

Menurut dia, peneliti dan industri yang memanfaatkan hasil penelitian atau membiayai riset perlu mendapatkan insentif khusus dari pemerintah. Insentif itu diperlukan untuk merangsang para peneliti mau melakukan penelitian secara berkesinambungan dan industri mau terus mendanai penelitian tersebut.

Insentif bagi peneliti dapat diberikan dalam bentuk pengadaan dana-dana penelitian yang memadai dan berkesinambungan. Sedangkan bagi industri, insentif dapat diberikan dalam bentuk potongan pajak.

Kebijakan pemerintah, menurut Anton, seharusnya mendorong semua pengusaha untuk mau memanfaatkan kemampuan para peneliti dalam negeri. Langkah ini akan menggerakkan roda perekonomian sekaligus mengembangkan dunia penelitian dan pendidikan.

”Perlu aturan jelas yang mengatur pemanfaatan hasil penelitian perguruan tinggi atau lembaga penelitian dengan industri,” katanya.

Kurang komunikasi

Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Wawan Gunawan A Kadir mengatakan, kecilnya jumlah penelitian yang dimanfaatkan industri merupakan akibat lamanya waktu yang diperlukan bagi hasil riset perguruan tinggi untuk dapat diterapkan di dunia industri, antara 5 dan 25 tahun. Lamanya waktu dan besarnya biaya riset membuat industri memilih membeli lisensi produk asing untuk diproduksi di Indonesia.

Komunikasi antara peneliti dan pelaku industri juga dinilai Wawan sangat kurang. Para dosen harus aktif mendekati industri agar mau memanfaatkan kemampuan atau menggunakan hasil riset mereka. Sedangkan permintaan riset dari industri juga lebih banyak memanfaatkan hubungan personal mereka dengan dosen-dosen tertentu saja yang telah mereka kenal.

Selain itu, kecilnya rasio hasil riset yang dimanfaatkan industri dengan jumlah perguruan tinggi disebabkan riset-riset yang termanfaatkan masih didominasi oleh hasil penelitian lima perguruan tinggi besar. Perguruan tinggi itu adalah ITB, Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

”Butuh kemauan politik untuk mendorong industri agar mau memanfaatkan hasil riset dalam negeri serta mendorong perguruan tinggi agar melakukan riset yang sesuai dengan kebutuhan industri,” katanya.

Indonesia Punya Cadangan Uranium Sedikitnya 53.000 Ton Dan Belum Termasuk Yang Dikuasai Sepihak Oleh Freeport


Indonesia memiliki cadangan uranium 53 ribu ton yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), yakni sebanyak 29 ribu ton di Kalimantan Barat dan 24 ribu ton sisanya ada di Bangka Belitung.

“Selain itu Papua juga diindikasikan memiliki cadangan uranium yang cukup besar. Tapi soal ini masih akan diteliti dulu,” kata Deputi Pengembangan Teknologi Daur Bahan Nuklir dan Rekayasa Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Dr Djarot S Wisnubroto kepada pers di Jakarta, Selasa malam.

Perkiraan bahwa Pulau Papua menyimpan cadangan uranium atau bahan baku nuklir dalam jumlah besar didasarkan pada kesamaan jenis batuan Papua dengan batuan Australia yang telah diketahui menyimpan cadangan uranium terbesar di dunia, ujarnya.

Jika suatu PLTN seukuran 1.000 MW membutuhkan 200 ton Uranium per tahun, maka dengan cadangan di Kalbar saja yang mencapai 29 ribu ton Uranium, urai Djarot, itu berarti bisa memasok Uranium selama 145 tahun.

“Namun demikian tidak berarti kita akan memproduksi Uranium sendiri untuk PLTN. Karena untuk kondisi sekarang harga Uranium cukup murah, kita lebih efisien membeli saja dari negara lain. Cadangan Uranium bisa digunakan untuk kebutuhan masa depan,” katanya.

Menurut Djarot, untuk menjadi bahan baku PLTN, Uranium hasil penambangan harus diproses lebih dulu melalui purifikasi atau pemurnian yang menjadikan bahan Uranium ke tingkat kemurnian yang tinggi sehingga berderajad nuklir dan bebas dari unsur-unsur pengotor lainnya.

Lalu dilakukan pengayaan untuk meningkatkan kadar 235U sehingga menjadi 2-4 persen dan akhirnya fabrikasi untuk menyiapkan bahan bakar nuklir dalam bentuk fisik yang sesuai dengan jenis yang dibutuhkan oleh reaktor nuklir, misalnya berbentuk pelet dengan diameter 10 mm.

“Untuk bahan baku Uranium di Reaktor Nuklir Riset di Serpong, kita memang membelinya dari luar, tapi harus diingat, bahwa kita memfabrikasi Uranium itu sendiri di dalam negeri,” katanya.

Djarot juga menegaskan, bahwa suatu PLTN membutuhkan teknologi pengolahan limbah dan tempat pembuangan lestari karena tingkat radioaktivitas limbah nuklir tidak mungkin dilepas atau dibuang langsung ke lingkungan.

Lokasi pembuangan lestari limbah nuklir, urainya, haruslah di lokasi yang bebas gempa dan memiliki lokasi jebakan limbah sehingga tidak akan lari ke lingkungan serta jenis tanah liat.

“Selama ini memang kamilah yang mengolah limbah radioaktif dari industri dan rumah sakit. Sedangkan limbah akhirnya misalnya dari reaktor yang ada di Serpong, kita kembalikan ke negara asal,” katanya.