Informasi Tentang Dunia Teknologi Terkini

Entries categorized as ‘Medicine’

Kasus Gagal Ginjal Di Indonesia Sangat Tinggi

Desember 19, 2008 · 2 Tanggapan

Kasus gagal ginjal di Indonesia setiap tahunnya masih terbilang tinggi, pasalnya masih banyak masyarakat Indonesia tidak menjaga pola makannya dan kesehatan tubuhnya.

“Meski belum dilakukan survei secara nasional, tetapi berdasarkan perbandingan data dengan negara lain kasus gagal ginjal di Indonesia tinggi. Di negara Amerika Serikat saja perbandingannya untuk klasifikasi orang dewasa dari sebanyak sepuluh orang satu diantaranya terkena gagal ginjal,” kata Konsultan Ginjal dan Hipertensi, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, (Unair) Surabaya dan RSU Dr Sutomo, Dr Djoko Santoso Sp PD-KGH, PhD pada Seminar Kesehatan di Kota Sukabumi, Kamis.

Menurut dia, kondisi di Indonesia akan lebih banyak, apalagi banyak orang Indonesia yang tidak bisa menjaga pola makan dan menjaga kesehatannya.

Ia mengatakan, tingginya kasus gagal ginjal berpotensi pada tingginya kasus kematian, pasalnya dalam satu tahun cuci darah saja hanya terdapat 70 pasien yang masih bertahan dari total seratus penderita yang berobat ke satu dokter.

“Penyebab kematian biasanya karena gagal ginjalnya tidak dapat ditanggulangi dan ditambah dengan serangan jantung, stroke dan sesak napas,” jelas Djoko.

Djoko menyebutkan, penanganan terhadap pasien gagal ginjal saat ini terkendala dengan tingginya biaya pengobatan, karena biaya pengobtan bagi penderita gagal ginjal mencapai Rp3 juta/bulan. Ini menjadi dilema tersendiri bagi petugas kesehatan dan pemerintah dan keluarga pasien untuk membantu biaya pengobatan,” ujarnya.

Selain itu, masih sedikitnya ahli penyakit gagal ginjal menjadi tantangan dalam menangani pasien gagal ginjal di Indonesia, karena saat ini dokter spesialis ahli gagal ginjal baru mencapai di bawah 80 orang.

“Ironisnya, kebanyakan dokter tersebut hanya tersebar di kota-kota besar saja yang terdapat Fakultas Kedokterannya. Jika tidak ada FK nya, maka tidak ada ahli gagal ginjalnya sehingga harus dirujuk ke rumah sakit daerah lain,” papar Djoko seraya mengatakan kebanyakan penderita gagal ginjal berasal dari golongan ekonomi lemah.

Ia menambahkan untuk mengantisipasi meningkatnya penderita gagal ginjal perlu adanya sosialisasi pencegahan gagal ginjal, karena ini merupakan pilihan terbaik dibandingkan harus mengeluarkan biaya yang rekatif besar untuk mengobati penyakit gagal ginjal.

“Sosialisasi ini tidak hanya dari tim medis saja, tapi pemerintah juga ikut berperan dalam menanggulangi penyakit gagal ginjal,” katanya

Kategori: Health · Medicine

Ciuman Penuh Nafsu Dapat Menyebabkan Penurunan Pendengaran Hingga Tuli

Desember 9, 2008 · 2 Tanggapan

Ciuman yang penuh birahi memecahkan gendang telinga seorang wanita muda di China selatan, media negara melaporkan, Senin, seperti dilansir AFP.

Gadis berusia sekitar 20 tahun dari Zhuhai, Provinsi Guangdong, itu dirawat para dokter rumah sakit setelah pendengarannya pada telinga kiri lenyap sama sekali, tulis China Daily, mengutip Guangzhou Daily.

“Ciuman itu mengurangi tekanan di dalam mulut, mendorong ke luar gendang telinga dan menyebabkan kerusakan telinga, kata dokter yang merawatnya, dengan nama panggilan Li, sambil menambahkan pendengaran wanita itu akan pulih sekitar dua bulan lagi.

Kejadian tersebut mendorong berbagai koran menyajikan berbagai petunjuk tentang ciuman yang aman.

Sekalipun ciuman pada umumnya aman, para dokter mendesak semua orang agar berhati-hati, kata China Daily.

“Ciuman yang membara boleh jadi menyebabkan ketidakseimbangan tekanan udara di bagian dalam telinga, sehingga mengakibatkan pecahnya gendang telinga, tulis Shanghai Daily, sebuah koran berbahasa Inggris, dengan judul “Ciuman Tuli”

Kategori: Health · Medicine

Otzi Manusia Es Berumur 5200 Tahun Telah Mengetahui Manfaat Lumut Untuk Mengobati Luka

Desember 3, 2008 · 3 Tanggapan

Mumi manusia es yang dikenal dengan nama Otzi mungkin sempat makan lumut sebelum tewas mengenaskan. Berdasarkan analisis terbaru, di dalam perutnya ditemukan 6 jenis lumut berbeda.

Jasad Otzi ditemukan tanpa sengaja pada tahun 1991 oleh seorang turis Jerman di Pegunungan Alpen bagian Timur di bawah lapisan es. Tubuhnya tidak membusuk dan terjaga dengan baik dalam kondisi lingkungan yang beku.

Penelitian menunjukkan pria tersebut diperkirakan tewas 5200 tahun lalu pada usia 45 tahun. Sebelum tewas, ia terluka di bagian bahu terkena anak panah dan kemungkinan tewas karena trauma. Ia mungkin seorang pemburu semasa hidupnya.

Sebelumnya, makanan terakhirnya sebelum tewas diperkirakan daging. Namun, di dalam perutnya ternyata ditemukan lumut. James Dickson dari Universitas Glasgow dan koleganya menyatakan temuan ini mengejutkan karena lumut termasuk jenis tumbuhan yang tidak enak apalagi bergizi.

Jadi, kemungkinan lumut tanpa sengaja tertelan saat makan atau minum. Ada kemungkinan lumut tersebut ikut terbawa makanan karena salah satu jenis lumut yang ditelannya kemungkinan dipakai untuk membungkus makanan. Misalnya jenis Neckera complanata.

Kemungkinan lainnya, Otzi minum air yang tercampur lumut di hari-hari terakhirnya. Lumut yang biasa ikut terbawa dalam minuman adalah jenis Hymenostylum recurvirostrum.

Namun, bisa jadi ia juga menelan lumut lainnya dari jenis Spaghnum imbricatum yang merupakan bagian ramuan untuk mengobati luka. Lumut jenis tersebut hanya ditemukan paling dekat 30 kilometer dari lokasi penemuan mayat Otzi. Artinya, manusia es itu membawa lumut tersebut dalam perjalanannya.

“Jika dia tahu manfaat lumut tersebut–dan kedengarannya masuk akal–ia mungkin mengumpulkannya untuk mengobati lukanya,” ujar para peneliti yang melaporkannya dalam jurnal Vegetation History and Archaeobotany edisi terbaru.

Sebagian kecil lumut tersebut mungkin menempel di tangannya dan ikut termakan saat makan daging atau roti. Alasan tersebut sangat mungkin karena selain di bahunya, Otzi juga diketahui luka di telapak tangan kanannya.

Kategori: Archeology · Food · Health · Medicine

Pinggang Lebar Meningkatkan Risiko Kematian

November 14, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Memiliki garis pinggang lebar dapat meningkatkan hampir dua kali-lipat risiko orang meninggal pradini bahkan jika massa tubuh tak melebihi indeks ukuran “normal”.

Demikian hasil satu studi baru terhadap lebih dari 350.000 orang di seluruh Eropa, yang disiarkan Rabu di dalam majalah AS New England Journal of Medicine.

Studi tersebut memberi bukti kuat bahwa menyimpan kelebihan lemak di sekitar pinggang menimbulkan risiko besar kesehatan, bahkan pada orang yang tak dianggap kelebihan berat tubuh atau kegemukan.

Studi itu menyatakan para dokter mesti mengukur garis pinggang pasien dan pinggul mereka serta indeks massa tubuh mereka sebagai bagian dari standard pemeriksaan kesehatan, kata para peneliti itu, dari Imperial College London, German Institute of Human Nutrition, dan lembaga penelitian lain di seluruh Eropa.

Setelah para peneliti membandingkan objek dengan indeks massa tubuh yang sama, mereka menyatakan risiko kematian pradini meningkat sejalan dengan pertambahan garis lingkar pinggang.

risiko kematian pradini meningkat hampir dua-kali lipat pada orang dengan ukuran pinggang lebih lebar –lebih dari 120 centimeter bagi pria dan lebih dari 100 centimeter bagi perempuan, dibandingkan dengan subjek yang memiliki pinggang lebih kecil (kurang dari 80 centimeter buat pria dan kurang dari 65 centimeter bagi perempuan).

Indeks massa tubuh biasanya digunakan untuk menilai apakah seseorang memiliki berat “normal”.

Penambahan lingkar pinggang setiap 5 centimeter meningkatkan risiko kematian sebesar 17 persen pada pria dan 13 persen pada perempuan, kata studi tersebut.

Peningkatan risiko kematian mungkin secara khusus berkaitan dengan penimbunan lemak di sekitar lingkar pinggang karena jaringan lemak di daerah itu mengeluarkan “cytokines”, hormon dan zat yang aktif secara metabolis yang dapat memberi sumbangan bagi perkembangan penyakit kronis, terutama penyakit jantung dan kanker, kata para penulis studi itu.

Tobias Pischon, pemimpin penulis studi tersebut, berkata, “Hasil paling penting dari studi kami ialah temuan bahwa bukan hanya menjadi kegemukan, tapi juga pembagian lemak tubuh, mempengaruhi risiko kematian pradini pada masing-masing orang.”

Kategori: Biology · Health · Medicine

60 Persen Penduduk Indonesia Cacingan

November 8, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sekitar 60 persen dari 220 juta penduduk Indonesia menderita cacingan dengan kerugian lebih dari Rp500 miliar atau setara dengan 20 juta liter darah per tahun.

Guru Besar Bidang Ilmu Parasitologi Klinik Universitas Brawijaya Malang Prof.Dr.dr.Teguh Wahju Sardjono menyatakan, angka prevalensi 60 persen itu 21 persen di antaranya menyerang anak usia Sekolah Dasar (SD) dan rata-rata kandungan cacing per orang rata-rata enam ekor yang berpengaruh terhadap asupan karbohidrat dan gizi penderita.

Ia mengakui, data tersebut diperoleh melalui survei dan penelitian yang dilakukan di beberapa provinsi pada tahun 2006. Namun hasil penelitian sebelumnya (2002-2003) di 40 SD di 10 provinsi menunjukkan prevalensi antara 2,2 persen hingga 96,3 persen.

Hanya saja, kata dosen Fakultas Kedokteran Unibraw itu di Malang, Jumat, penyakit yang masuk kategori parasit tersebut tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah padahal kerugian akibat infeksi cacing tersebut cukup tinggi apalagi kalau melihat kondisi masyarakat Indonesia yang lebih dari 30 juta jiwa berada di bawah garis kemiskinan.

Teguh mengatakan, pada kasus ringan cacingan memang tidak menimbulkan gejala nyata, tetapi pada kasus-kasus infeksi berat bisa berakibat fatal. Ascaris pada cacing dapat bermigrasi ke organ lain yang menyebabkan peritonitis akibat perforasi usus dan ileus obstruksi akibat bolus yang dapat berakhir dengan kematian.

Infeksi usus akibat cacingan, kata Teguh, juga berakibat menurunnya status gizi penderita yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun sehingga memudahkan terjadinya infeksi penyakit lain termasuk HIV/AIDS, Tuberkulosis dan Malaria.

“Jenis penyakit parasit ini kecil sekali perhatiannya dari pemerintah bila dibandingkan dengan HIV/AIDS yang menyedot anggaran cukup besar padahal semua bentuk penyakit sama pentingnya dan sikap masyarakat sendiri juga `acuh` terhadap penyakit jenis ini,” katanya menambahkan

Kategori: Environment · Health · Medicine

Hasil Riset BPPT Mulai Dilirik Pengusaha dan Kalangan Industri

November 7, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hasil riset Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT mulai dilirik industri. Pemilik perusahaan Ciputra Grup, Ciputra, dan PT Martina Berto, Martha Tilaar, Kamis (6/11), menandatangani nota kesepakatan dengan BPPT untuk mengembangkan riset aplikatif.

”Ciputra Grup mengharapkan riset kantong aspal yang tahan panas sampai 120 derajat Celsius. PT Martina Berto mengharapkan riset pengembangan alat ekstraksi tanaman untuk minyak aroma herbal,” kata Pelaksana Tugas Kepala BPPT Wahono Sumaryono dalam konferensi pers seusai penandatanganan nota kesepakatan atau letter of intent (LoI) tersebut.

Menurut Wahono, momentum ini mempertemukan inventor (penemu) dengan investor yang jarang terjadi. Selama ini banyak temuan-temuan BPPT yang kurang dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat, termasuk kalangan industri. Temuan tersebut merupakan hasil kerja keras periset BPPT yang sekitar 500 orang berjenjang pendidikan doktor dan sekitar 600-700 orang berjenjang pendidikan master.

Harus dipasarkan

Ciputra mengatakan, hasil-hasil riset BPPT jangan cuma didokumentasikan, tetapi harus bisa dikomersialkan. Caranya, bisa saja BPPT menawarkan hasil risetnya ke pasar, atau mencari tahu riset apa yang dibutuhkan pasar. Ciputra tidak menyalahkan sepenuhnya periset yang lebih berorientasi kepada riset, tanpa berorientasi komersial.

”Pendidikan di Indonesia memang lebih suka melahirkan akademisi semata. Seharusnya, juga mendidik entrepreneur yang bisa mengomersialisasikan hasil-hasil riset,” kata Ciputra.

Martha Tilaar mengkritik, selama ini banyak periset sampai tingkat profesor pun masih menyimpan hasil-hasil risetnya sendiri. ”Tidak ada upaya untuk menjadikan hasil-hasil riset tersebut sebagai komoditas yang bermanfaat untuk masyarakat banyak,” ujar dia.

Wahono mengungkapkan, perspektif riset sekarang cenderung terbatas pada kepentingan periset, karena minimnya dana dan infrastruktur. Semestinya dalam kondisi seperti sekarang, riset lebih berorientasi pada kebutuhan pasar.

”Peneliti atau perekayasa masih banyak yang mengejar kepuasan batin semata. Ke depan, ini tinggal diarahkan saja supaya penelitian bisa bersinergi dengan kebutuhan entrepreneur, termasuk kalangan industri, sehingga bisa lebih berguna bagi masyarakat,” kata Wahono.

Paten lama

Menurut Wahono, kendala aplikasi riset untuk menunjang sektor industri terletak pada proses memperoleh paten yang sangat lama. Dalam 10 tahun terakhir, misalnya, BPPT hanya memperoleh 79 paten dari ratusan temuan yang diusulkan patennya.

”Proses pengajuan paten tidak pernah dijawab dengan tegas, bisa atau tidak. Seperti hasil riset saya, sudah delapan tahun tidak pernah jelas bisa memperoleh paten atau tidak,” kata Wahono.

Kesulitan memperoleh paten juga dialami Martha Tilaar. Dalam lima tahun terakhir, perusahaan yang dipimpinnya mengusulkan 29 paten, tetapi baru satu paten yang diperoleh.

”Teknologi yang berkembang sangat cepat, semestinya bisa diimbangi dengan proses memperoleh paten yang cepat pula,” kata Martha Tilaar.

Menurut Wahono, pengujian untuk memperoleh paten paling cepat 18 bulan. Waktu ini dinilai terlalu lama

Kategori: Bio Fuel · Biology · Energy · Environment · Food · Gadget · Health · Math · Medicine · Telecomunication · Transportation

Peneliti Menemukan Empat Gen Yang Membuat Penyakit Alzheimer

November 4, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Beberapa peneliti AS telah mengidentifikasi empat gen yang mungkin berhubungan dengan bentuk paling umum penyakit Alzheimer, demikian hasil suatu studi baru.

Keempat gen baru tersebut ditemukan setelah para peneliti melakukan penyaringan gen dari ratusan keluarga dengan sejarah gangguan syaraf parah, demikian antara lain isi studi oleh Massachusetts General Hospital-Mass General Institute for Neurological Disease (MGH-MIND).

Para peneliti itu mula-mula memeriksa sebanyak setengah juta penanda DNA dalam contoh yang dikumpulkan dari lebih 400 keluarga dengan sedikitnya tiga pasien Alzheimer.

Lima penanda diungkapkan memperlihatkan hubungan genetika dengan penderita Alzheimer termasuk Apolipoprotein E (APOE), satu-satunya gen yang terbukti meningkatkan resiko serangan-akhir Alzheimer.

Guna mengkonfirmasi keempat penanda baru tersebut, para peneliti seperti dilaporkan Xinhua menganalisis contoh dari 900 keluarga dengan sejarah menderita Alzheimer dan mendapat penanda paling kuat pada chromosome 14.

“Hubungan genetika penyakit Alzheimer dengan gen chromosome 14, yang seperti APOE muncul untuk mempengaruhi usia penderita, cukup kuat bagi dikeluarkannya penyelidikan lanjutan secara seksama mengenai perannya dalam proses kematian sel syaraf dalam penyakit ini,” kata pemimpin studi itu Rudolph Tanzi, Direktur Unit Penelitian Usia Lanjut dan Genetika di MGH-MIND.

Satu penanda lain yang baru diidentifikasi ialah satu gen yang diketahui menyebabkan gangguan gerak yang disebut spinocerebellar ataxia, yang melibatkan kematian sel syaraf di bagian lain sistem syaraf pusat.

Gen tersebut terlibat dalam sistem kekebalan bawaan (bagian sistem pertahanan tubuh terhadap bakteri dan virus) dan yang keempat adalah gen yang menghasilkan synaptic protein.

Temuan tersebut, yang disiarkan di dalam American Journal of Human Genetics, terbitan November, adalah hasil pertama dari Alzheimer’s Genome Project, yang didukung oleh Cure Alzheimer’s Fund dan U.S. National Institutes of Mental Health.

“Sebenarnya, semua pendekatan saat ini mengenai berbagai terapi dilandasi atas gen Alzheimer yang sudah diketahui; sehingga masing-masing gen baru yang kami temukan bukan hanya meningkatkan kemampuan kami untuk meramalkan dan mendiagnosis penyakit tersebut, tapi juga memberi petunjuk baru yang berharga mengenai peristiwa biokimiawi dan jalur yang terlibat dalam proses penyakit itu,” kata Tanzi.

Kategori: Biology · Health · Medicine

Jantung Kini Sudah Dapat Dibuat Dengan Printer Dan Tanpa Kloning

Oktober 24, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Mengagumkan sekali upaya profesor Makoto Nakamura. Profesor dari sekolah sains dan teknologi bidang riset di Universitas Toyama Jepang ini telah berhasil membuat printer inkjet-nya mengeluarkan sel-sel. Nantinya ia berharap dapat mencetak ribuan sel per detik dan membangunnya menjadi organ tiga dimensi.

Nakamura bertekad untuk mencetak sebuah jantung dari printer inkjet. Ia mengatakan, butuh 20 tahun untuk mengembangkan sebuah jantung, dan jika ini tercapai ia akan memproduksi “jantung-jantung bagus” secara massal untuk para pasien yang sedang menanti giliran transplantasi.

Saat ini Nakamura sudah berhasil membangun sebuah tabung dengan sel-sel hidup yang setipis rambut manusia. Ia termotivasi untuk membangun mesin pencetak sel karena frustrasi menyaksikan anak-anak dengan jantung bermasalah meninggal. Terobosan diperolehnya ketika ia mendapatkan bahwa tetesan dari printer inkjet sama besarnya dengan sel-sel manusia.

Pada tahun 2002 ia meminjam sebuah printer Epson dari tempat kerjanya dan mencoba mengeluarkan sel-sel dari printer tersebut. Namun nozzle inkjet kemudian tersumbat. Ia lalu menelepon customer service Epson tetapi tidak mendapatkan solusi tentang apa yang harus dilakukan jika ada bahan organik tersumbat di nozzle. Setelah menelepon beberapa kali, Nakamura terhubung dengan seorang pejabat Epson yang tertarik dengan proyeknya dan sepakat untuk memberinya dukungan teknis.

Setahun kemudian ia bisa menghasilkan sel-sel dari sebuah proses ceta

Kategori: Biology · Computer · Health · Medicine

Mengenali Gejala Penyakit Jantung Koroner Penyebab Kematian

Oktober 24, 2008 · 3 Tanggapan

Gejala penyakit jantung koroner (PJK) perlu dikenali sejak dini, agar masyarakat dapat mencegah serangan PJK yang mengakibatkan kematian mendadak, kata dr Isman Firdaus, SpJP, FIHA dari Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler FKUI/RS Jantung Harapan Kita Jakarta, Rabu.

Dalam Seminar Peringatan Hari Jantung Sedunia yang diadakan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu, Isman mengatakan, gejala PJK bervariasi, namun yang sering timbul adalah sakit dada kiri (angina) dan nyeri terasa berasal dari dalam.

“Nyeri dada yang dirasakan pasien juga bermacam-macam seperti ditusuk-tusuk, terbakar, tertimpa benda berat, disayat, panas. Nyeri dada dirasakan di dada kiri disertai penjalaran ke lengan kiri, nyeri di ulu hati, dada kanan, nyeri dada yang menembus hingga punggung, bahkan ke rahang dan leher,” katanya.

Selain gejala nyeri dada, juga terdapat tanda-tanda seperti jantung berdebar (denyut nadi cepat), keringat dingin, sesak nafas, cemas dan gelisah.

Isman menegaskan, PJK adalah penyakit yang disebabkan ketidakcukupan antara suplai koroner dan kebutuhan kardiomiosit akibat proses aterosklerosis yang menyumbat aliran darah koroner. Penyebab serangan jantung dan kematian mendadak berawal dari kerusakan endotel yang faktor risiko utamanya adalah karena merokok, penyakit kencing manis (diabetes melitus), tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi (dislipidemia), keturunan.

Menurut dia, pengobatan PJK adalah meningkatkan suplai (pemberian obat-obatan nitrat, antagonis kalsium) dan mengurangi demand (pemberian beta bloker), pemberian pengencer darah untuk mencegah pemebekuan darah seperti aspirin dan yang penting mengendalikan risiko utama seperti kadar gula darah bagi penderita kencing manis, optimalisasi tekanan darah, kontrol kolesterol dan berhenti merokok.

“Jika dengan pengobatan tidak dapat mengurangi keluhan sakit dada, maka harus dilakukan tindakan untuk membuka pembuluh koroner yang menyempit secara intervensi perkutan atau tindakan bedah pintas koroner (CABG). Intervensi perkutan yaitu tindakan intervensi penggunaan kateter halus yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah untuk dilakukan balonisasi yang dilanjutkan pemasangan ring (stent) intrakoroner,” katanya.

Sementara itu, dr Fiastuti Witjaksono, MS.SpGK dari Departemen ilmu Gizi FKUI, mengatakan, diet (perencanaan makan) berperan dalam pencegahan PJK, khususnya mengurangi risiko PJK yakni hiperkolesterolemia (kelebihan koleterol), hipertensi (tekanan darah tinggi) dan diabetes melitus.

“Diet terbagi atas 3 J yaitu Jumlah yakni jumlah kalori sesuai kebutuahn, Jadwal yakni waktu makan terjadwal dengan baik dan Jenis, yakni komposisi karbohidrat, protein dan lemak seimbang, nutrien spesifik terpenuhi,” katanya.

Jumlah kalori sesuai kebutuhan yaitu berat ideal (tinggi badan-100) dikalikan 1 kg atau berat idaman 90 persen dari (tinggi badan-100) dikalikan 1 kg, serta ukuran lingkar pinggang ideal bagi wanita kurang dari 80 cm dan pria kurang dari 90 cm. Kebutuhan kalori per hari badan gemuk 1300-1500 kalori, sedang 1700-2100 kalori dan kurus 2300-2500 kalori.

Seminar PJK tersebut juga menampilkan pakar penyakit dalam dan jantung FKUI, seperti dr Em Yunir, SpPD dan dr Rachmad Wisnu Hidayat, SpKO dan dimoderatori Guru Besar FKUI Prof Dr dr Sjamsuridjal Djauzi, SpPD, KAI.

Kategori: Biology · Food · Health · Medicine

Nikotin Berperan Dalam Penyebaran Kanker Payudara

Oktober 21, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Nikotin mungkin menyulut penyebaran kanker payudara, dan mendorong banyak sel tumor ke bagian lain tubuh, demikian isi studi yang disiarkan dalam terbitan paling akhir Cancer Research, jurnal yang dikeluarkan American Association for Cancer Research.

Meskipun para ilmuwan memerlukan waktu untuk memastikan peran sesungguhnya yang mungkin dimainkan nikotin dalam penyebaran kanker payudara, tak ada keraguan bahwa nikotin mungkin memberi sumbangan bagi “metastasis” yang sangat sering membunuh pasien, kata studi tersebut –yang disiarkan awal bulan ini.

Selain menjadi peringatan tambahan terhadap perokok, temuan tersebut juga mungkin menunjuk ke sasaran baru bagi obat kanker, kata studi itu, yang diselengarakan oleh para peneliti di Beth Israel Deaconess Medical Center dan Harvard Medical School, Boston.

Nikotin, salah satu komponen tembakau, telah dihubungkan dengan bermacam penyakit berbahaya –bukan hanya kanker paru-paru, tapi juga kanker kepala dan tengkuk, kanker prostat dan lain-lain.

“Telah diketahui bahwa ada 10 sampai 12 reseptor nikotin yang terlihat pada permukaan bermacam sels,” kata Dr. Chang Yan Chen, dari Departemen Radiasi Onkologi, yang ikut dalam studi itu.

“Kami tak mengetahui mengapa reseptor nikotin terlihat di semua permukaan sel dari berbagai asal jaringan, tapi benar-benar mengetahui bahwa nicotineis adalah penghantar neuron penting di sistem syaraf pusat. Telah dilaporkan bahwa nikotin dapat mendorong pemancaran intra-seluler tertentu dalam kanker paru-paru,” katanya.

Oleh karena itu, meskipun kebanyakan penelitian mengenai nikotin telah dipusatkan pada dampanya terhadap sistem syaraf, penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa nikotin juga dapat mengaktifkan jalur pemancaran di dalam sel non-syaraf, termasuk sel tumor, kata studi tersebut.

Dalam serangkaian percobaan laboratorium, Chen dan rekannya mendapati bahwa sel ephitelial tertentu payudara menghasilkan beragam sub-jenis reseptor nikotin nAChR, seperti yang dilakukan sel tertentu tumor payudara.

Ketika reseptor itu terikat dengan nikotin, semuanya mulai memberi tanda kepada sel untuk berkembang dan berpindah, kata studi tersebut. Temuan itu dikonfirmasi pada tikus.

Nikotin kelihatanya tak cukup untuk menyebabkan perpindahan tumor dengan sendirinya, meskipun para ilmuwan belum mengetahui molekul mana yang bermitra dengan nikotin untuk melakukan itu.

“Saya mengambil dua jalur sel dan memeriksa untuk melihat apakah sel-sel tersebut memperlihatkan reseptor nikotin, dan saya mendapati ternyata benar,” kata Chen. “Saya mendapati bahwa bahwa pemberian tanda tertentu adalah peningkatan susunan, tapi (nikotin) itu sendiri tak dapat mendorong sel untuk melakukan `tumorigenesis` (pembentukan kanker). Kesimpulannya ialah barangkali nikotin dapat mengaktifkan pemberian isyarat intra-seluler tertentu, tapi sungguh, itu tergantung atas latar-belakang genetika setiap orang

Kategori: Biology · Health · Medicine