Informasi Tentang Dunia Teknologi Terkini

Entries categorized as ‘Math’

Bagi Sergei Brin, Ilmu Pengetahuan adalah Pencerahan dan Ketidaktahuan Bukan Berkah

Desember 10, 2008 · 1 Tanggapan

“Sergey Brin, salah satu pendiri Google, yakin bahwa pengetahuan selalu merupakan hal baik—dan (karena itu) mestinya ada lebih banyak lagi pengetahuan yang bisa dibagi.” (The Economist, Enlightenment Man, 6-12/12)

Sebagai salah satu pendiri perusahaan internet terbesar di dunia (Google), Sergey Brin adalah sosok yang besar pengaruhnya, selain sebagai salah seorang terkaya Amerika.

Belum lama ini muncul kisah tentang sosok kelahiran Moskwa 35 tahun silam yang ahli matematika ini. Tanggal 18 September 2008 ia meluncurkan blog pribadi di too.blogspot.com. Dalam posting pertama, Brin—seperti dilaporkan Michael Arrington di situs Techcrunch—tampak bercanda. Namun, dalam posting kedua, ia terdengar serius. Ia bicara tentang perusahaan 23andMe (yang salah satu pendirinya adalah istrinya, Anne Wojcicki). Menurut perusahaan yang bergerak dalam riset DNA ini, ia punya mutasi gen yang terkait dengan penyakit parkinson (G2019S). Dengan itu, Brin termasuk orang yang bisa terkena penyakit parkinson.

Tetapi, laporan kali ini bukan untuk membahas kemungkinan Brin terkena parkinson, melainkan untuk mengupas sikap dan pandangannya tentang keterbukaan informasi dan pengetahuan. Hal ini ia sampaikan dalam Konferensi Zeitgeist yang diselenggarakan Google. Inilah pertemuan eksklusif bagi kaum inteligensia. (Zeitgeist, dari Bahasa Jerman, zeit ’waktu’ dan geist ’semangat’. Selain harfiah berarti ”semangat zaman”, ungkapan ini menguraikan suasana keintelektualan, keberbudayaan, moral, etik, iklim politik satu zaman.)

Di forum ini, mereka yang dikenal sebagai ”pemimpin pemikiran” (thought leaders) dunia berkumpul selama dua hari untuk membicarakan upaya menemukan jalan keluar bagi problem dunia paling berat dengan menerapkan nilai-nilai penalaran dan sains pencerahan yang didukung oleh Google.

Dalam kaitan penemuan 23andMe, salah seorang hadirin Pertemuan Zeitgeist menanyakan, apakah mengetahui dirinya berpotensi terkena parkinson baik atau tidak bagi Brin. Dalam satu hal, orang mengatakan ”Tidak tahu itu merupakan berkah”. Bukankah setelah Brin tahu tentang gen parkinson, ia akan hidup dilanda kecemasan?

Mendapat pertanyaan itu, Brin pertama-tama menyampaikan, ”Siapa yang cemas?” Toh yang ia sampaikan hanyalah statistik bahwa untuk orang seperti dirinya, peluang mendapat parkinson adalah 20 persen hingga 80 persen. Itu saja.

Selebihnya, dengan mengetahui adanya kans sebesar itu, ia justru lalu mengambil langkah agar bisa terhindar dari penyakit tersebut. Ia, seperti dikutip The Economist di atas, menyebutkan bahwa olahraga membantu (mencegah parkinson).

Arti pengetahuan

Dengan uraiannya tentang peluang terkena parkinson, baik di blog pribadinya maupun di Konferensi Zeitgeist, Sergey Brin ingin menegaskan bahwa pengetahuan itu baik dan selalu lebih baik dari ketidaktahuan.

Berbekal pandangan itu, Brin lalu mendanai dan mendorong dilakukannya riset terhadap mutasi gen yang juga disebut dengan nama LRRK2 dan juga terhadap penyakit parkinson.

Sebagai tokoh internet terkemuka, Brin lalu memperlakukan gen tadi sebagai penyakit (bug) pada kode personalnya, jadi tidak ada bedanya dengan bug di komputer yang setiap hari dibereskan oleh teknisi Google. Brin—selain melakukan upaya mendahului (pre-emptive)—juga mengembangkan semangat berbagi. Dengan menolong dirinya sendiri, ia lalu bisa menolong orang lain.

Selain menjunjung pengetahuan, dalam sikap Brin juga terkandung pencerahan, hal yang tecermin dari visi yang kemudian juga dijadikan moto Google, yakni membuat semua informasi di dunia ini ”bisa diakses dan dimanfaatkan secara universal”. Bersama dengan mitranya, pendiri Google lainnya, Larry Page, kedua tokoh ini terus berupaya membawa semua informasi ke internet.

Daya transformatif

Dalam hidup, kita juga pernah mendengar kalimat bijak yang menyebutkan, ”berbeda dengan uang, ilmu yang dibagikan tak akan habis, tapi malah bertambah”. Dengan caranya, Brin tampak meyakini makna penyebaran pengetahuan.

Kisah Google sendiri sebelum ini telah ditulis oleh David Vise dan Mark Malseed dalam buku The Google Story (2006).

Dari kesehatan, Google dan kedua pendirinya juga mencoba berbuat untuk kebajikan lain. Di China mereka sepakat untuk menyensor hasil pencarian melalui mesin pencari Google. Mungkin itu untuk menyenangkan pihak Komunis, tetapi mereka berpandangan hal itu dilakukan dengan keyakinan bahwa di luar informasi yang disensor, warga China akan bisa mendapatkan informasi lebih banyak, dan itu akan membuat mereka lebih sejahtera.

Dalam Konferensi Zeitgeist, Brin mengumumkan, biarkan setiap orang menemukan genomnya masing-masing, lalu nyamanlah untuk berbagi kode yang diperoleh tadi agar pihak lain—pasien, dokter, dan peneliti—bekerja memecahkan sandi dan menemukan biang kerok (bug).

Semangat zaman yang diusung Brin bercorak keterbukaan informasi, yang diharapkan bisa memacu terbentuknya masyarakat berbasis pengetahuan. Untuk tujuan pragmatis, hal itu dimaksudkan agar masyarakat tersebut lebih berdaya saing. Namun, Brin tak menyinggung soal ini. The Economist juga mengaitkan Zeitgeist ala Brin lebih dalam konteks pencerahan

Kategori: Cognitive Science · Computer · Health · Internet · Math · Web Development

Hasil Riset BPPT Mulai Dilirik Pengusaha dan Kalangan Industri

November 7, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hasil riset Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT mulai dilirik industri. Pemilik perusahaan Ciputra Grup, Ciputra, dan PT Martina Berto, Martha Tilaar, Kamis (6/11), menandatangani nota kesepakatan dengan BPPT untuk mengembangkan riset aplikatif.

”Ciputra Grup mengharapkan riset kantong aspal yang tahan panas sampai 120 derajat Celsius. PT Martina Berto mengharapkan riset pengembangan alat ekstraksi tanaman untuk minyak aroma herbal,” kata Pelaksana Tugas Kepala BPPT Wahono Sumaryono dalam konferensi pers seusai penandatanganan nota kesepakatan atau letter of intent (LoI) tersebut.

Menurut Wahono, momentum ini mempertemukan inventor (penemu) dengan investor yang jarang terjadi. Selama ini banyak temuan-temuan BPPT yang kurang dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat, termasuk kalangan industri. Temuan tersebut merupakan hasil kerja keras periset BPPT yang sekitar 500 orang berjenjang pendidikan doktor dan sekitar 600-700 orang berjenjang pendidikan master.

Harus dipasarkan

Ciputra mengatakan, hasil-hasil riset BPPT jangan cuma didokumentasikan, tetapi harus bisa dikomersialkan. Caranya, bisa saja BPPT menawarkan hasil risetnya ke pasar, atau mencari tahu riset apa yang dibutuhkan pasar. Ciputra tidak menyalahkan sepenuhnya periset yang lebih berorientasi kepada riset, tanpa berorientasi komersial.

”Pendidikan di Indonesia memang lebih suka melahirkan akademisi semata. Seharusnya, juga mendidik entrepreneur yang bisa mengomersialisasikan hasil-hasil riset,” kata Ciputra.

Martha Tilaar mengkritik, selama ini banyak periset sampai tingkat profesor pun masih menyimpan hasil-hasil risetnya sendiri. ”Tidak ada upaya untuk menjadikan hasil-hasil riset tersebut sebagai komoditas yang bermanfaat untuk masyarakat banyak,” ujar dia.

Wahono mengungkapkan, perspektif riset sekarang cenderung terbatas pada kepentingan periset, karena minimnya dana dan infrastruktur. Semestinya dalam kondisi seperti sekarang, riset lebih berorientasi pada kebutuhan pasar.

”Peneliti atau perekayasa masih banyak yang mengejar kepuasan batin semata. Ke depan, ini tinggal diarahkan saja supaya penelitian bisa bersinergi dengan kebutuhan entrepreneur, termasuk kalangan industri, sehingga bisa lebih berguna bagi masyarakat,” kata Wahono.

Paten lama

Menurut Wahono, kendala aplikasi riset untuk menunjang sektor industri terletak pada proses memperoleh paten yang sangat lama. Dalam 10 tahun terakhir, misalnya, BPPT hanya memperoleh 79 paten dari ratusan temuan yang diusulkan patennya.

”Proses pengajuan paten tidak pernah dijawab dengan tegas, bisa atau tidak. Seperti hasil riset saya, sudah delapan tahun tidak pernah jelas bisa memperoleh paten atau tidak,” kata Wahono.

Kesulitan memperoleh paten juga dialami Martha Tilaar. Dalam lima tahun terakhir, perusahaan yang dipimpinnya mengusulkan 29 paten, tetapi baru satu paten yang diperoleh.

”Teknologi yang berkembang sangat cepat, semestinya bisa diimbangi dengan proses memperoleh paten yang cepat pula,” kata Martha Tilaar.

Menurut Wahono, pengujian untuk memperoleh paten paling cepat 18 bulan. Waktu ini dinilai terlalu lama

Kategori: Bio Fuel · Biology · Energy · Environment · Food · Gadget · Health · Math · Medicine · Telecomunication · Transportation

Disleksia Mempengaruhi Kemampuan Membaca – Ada Kaitan dengan Gen Dan Menyebabkan Peningkatan Kecerdasan

Oktober 5, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

a Disleksia ada hubungannya dengan gen atau plasma pembawa sifat tertentu. Namun, gen tersebut hanya memengaruhi kemampuan membaca, tetapi tidak memengaruhi intelegensia bahkan cenderung meningkatkan intelegensia secara signifikan terutama kecerdasan spasial/gambar.

Disleksia merupakan gangguan yang memengaruhi pengembangan keterampilan literasi dan bahasa, yaitu seperti membaca dan mengeja.

Para peneliti dari Welcome Trust Center for Human Genetics di University of Oxford tengah meneliti gen yang disebut KIAA0319. Para peneliti itu sebelumnya telah mengidentifikasi sebuah haplotipe atau karakteristik genetik yang menandai suatu populasi (sekuen DNA-deoxyribose nucleic acid bagian ter- tentu dari gen tersebut).

Gen itu rupanya terlibat dalam perkembangan area otak yang bertanggung jawab untuk proses membaca. Mereka meneliti 6.000 anak dari keluarga-keluarga di Inggris usia sembilan tahun.

Penelitian itu dikenal juga Avon Longitudinal Study of Parents and Children (ALSPAC). Studi yang mirip pernah dilakukan secara independen oleh para peneliti di Cardiff University terhadap anak kembar. ”Umumnya, orang yang membawa variasi genetik tersebut cenderung kurang baik dalam tes kemampuan membaca,” ujar Silvia Paracchini dari Welcome Trust Center for Human Genetics di University of Oxford, pemimpin studi itu.

Sekitar 15 persen dari responden yang membawa versi mutasi gen itu cenderung mempunyai masalah membaca, termasuk mereka yang tidak masuk kategori disleksia. ”Bahkan, ketika mereka tidak dinyatakan memiliki gangguan disleksia masih punya masalah membaca,” ujar Silvia.

Haplotipe yang sama mampu mengurangi aktivitas gen KIAA0319 selama masa perkembangan fetus (janin) yang memengaruhi pengembangan cerebral cortex, area yang berperan dalam proses membaca.

Bagian otak tersebut merupakan pusat-pusat sensor. Percobaan terhadap binatang menunjukkan, dengan mengurangi aktivitas KIAA0319 akan memengaruhi migrasi neuron pada bagian otak yang berperan pada proses membaca.

Proses tersebut memungkinkan sel syaraf yang menciptakan lapisan bagian dalam area cerebral cortex untuk bermigrasi keluar, ke tujuan akhir mereka.

Penemuan lain yang menarik, gen tersebut terkait dengan lambatnya pertumbuhan di daerah tertentu otak dan percepatan pada bagian lain daerah otak yang bertanggung jawab atas proses berpikir kritis, logika, matematika hingga spasial. Riset itu jadi sangat dibutuhkan untuk identifikasi awal disleksia dan usulan intervensi dini saat otak masih berkembang sehingga nantinya ada hasil positif terkait keterampilan membaca.

Hasil penelitian itu hanya menemukan sebagian jawaban teka teki mengapa sejumlah orang memiliki kemampuan membaca rendah namun cerdas dalam bidang sains dan berpikir kritis. ”Ada faktor-faktor lain yang berkontribusi,” ujar Silvia.

Wakil Presiden British Dyslexia Association Prof Margaret Snowling mengatakan, gen lainnya dan faktor lingkungan juga memainkan peran penting dalam menentukan kemampuan membaca. Dia menekankan, banyak sekali individu dengan gangguan disleksia terbukti berhasil mengompensasi gangguan tersebut dengan kemampuan spasial dan berpikir diatas rata-rata hingga sukses berkarier, sekalipun mereka membawa variasi gen tersebut.

Kategori: Biology · Cognitive Science · Health · Math · Physics

Ditemukan Bilangan Prima Terbesar Sampai Saat Ini Yaitu 13 Juta Digit

Oktober 4, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Masih ingat definisi bilangan prima yang mulai diperkenalkan sejak di tingkat sekolah dasar? Ya bilangan prima adalah bilangan yang hanya memiliki dua faktor pembagi, 1 dan bilangan itu sendiri. Seperti, 2, 3, 5, dan seterusnya.

Baru-baru ini, pecinta matematika di Universitas California di Los Angeles (UCLA), berhasil mengungkapkan bilangan prima terbesar yang berhasil dihitung sejauh ini. Tentu sulit untuk menyebutkan maupun menuliskannya karena bilangan tersebut terdiri dari 13 juta digit atau angka.

Untuk menghitungnya tidak mudah karena yang harus dicari adalah bilangan prima Mersenne yang pertama kali diperkenalkan matamatikawan Perancis Marin Mersenne pada abad ke-17. Bilangan tersebut didefiniskan sebagai hasil dari 2pangkat P dikurangi 1 dengan P yang juga bilangan prima.

Bilangan yang ditemukan itu dengan nilai P sebesar 43.112.609. Angka yang baru ditemukan merupakan bilangan prima Mersenne ke-46. Tim UCLA sudah menemukan delapan bilangan prima Mersenne dengan jutaan digit.

Untuk menghitungnya digunakan jaringan 75 komputer yang menggunakan sistem operasi Windows XP. Bilangan tersebut telah diverifikasi sebagai bilangan prima dengan algoritma berbeda.

“Kami sangat senang. Sekarang kami sedang berusaha mencari bilangan berikutnya, meski aneh,” ujar Edson Smith, ketua tim dari UCLA. Upaya timnya mencari bilangan prima terbesar tak sia-sia karena keberhasilannya diganjar 100.000 dollar AS oleh Electronic Frontier Foundation yang menjadikannya sebagai kompetisi Great Internet Mersenne Prime Search (GIMPS).

Ribuan orang di sleuruh dunia telah berpartisipasi dalam ajang tersebut. Lomba tersebut mengajakan para pecinta matematika di seluruh dunia menggunakan kekuatan komputer untuk menghitung bilangan prima Mersenne yang minimal terdiri dari 10 juta digit.

Kategori: Math

Indonesia Sarang Para Ilmuwan Muda Dunia

Agustus 6, 2008 · 1 Tanggapan

”Seperti halnya satu permainan papan di mana kotak yang berisi aturan main hilang sejak lama, tidak ada seorang pun yang tahu persis bagaimana bisa memenangi (hadiah) Nobel.” (Hal Cohen, ”The Scientist”, 28/10/2002)

Agustus kini diperkaya dengan pelbagai event ilmiah. Ada Asian Science Camp di Bali dan LIPI Expo, serta Ritech Expo, dua-duanya di Jakarta. Ini membesarkan hati. Kita mengenang dan merayakan bulan kemerdekaan tidak semata dari sisi sejarah, tetapi juga dari sisi sains dan teknologi. Itulah dimensi yang seyogianya mewarnai perjalanan sejarah kebangsaan Indonesia.

Sekadar tambahan, Rabu (6/8) ini di LIPI juga berlangsung Temu Ilmiah Peneliti Muda Indonesia, ajang yang tidak kalah penting untuk mengenal sosok peneliti muda Indonesia yang telah menorehkan prestasi, baik di lingkup nasional maupun internasional.

Jadi, meski anggaran riset nasional masih di bawah 0,1 persen, peneliti Indonesia masih tetap bisa berprestasi dan berkontribusi bagi pengembangan sains nasional. Tentu menarik untuk diketahui, apa yang mendorong para ilmuwan muda tersebut setia pada sains, bidang yang di satu sisi semakin dinilai penting bagi upaya peningkatan kemakmuran dan kejayaan satu bangsa, tetapi pada sisi lain masih dipandang nonprioritas.

Sosok ilmuwan

Amy, mahasiswi berusia 20-an tahun, pernah bertanya dalam salah satu forum online mengenai karakteristik pribadi yang harus dikembangkan bila seseorang ingin menjadi ilmuwan yang baik. Jawaban pun muncul dari berbagai penjuru.

Seorang guru besar mencoba memberi jawaban dengan mengangkat ”SCIENCE” sebagai akronim. ”S” melambangkan bidang studi yang dihayati dengan serius. ”C” adalah curiosity dan kemauan untuk memperbaiki pendapat manakala muncul fakta yang bertentangan dengan pandangan yang kita yakini. ”I” adalah intelligence karena pengetahuan yang dituntut oleh sains sangat tinggi. ”E” adalah enthusiasm agar siapa pun yang ingin menjadi ilmuwan kuat manakala menemui kekecewaan. ”N” melukiskan never-ending attention to detail yang akan membuat riset calon ilmuwan bisa bertahan dari ujian rekan sejawat. ”C” adalah commitment terhadap hidup pribadi dan profesional yang jujur dan bertanggung jawab. Terakhir, ”E” untuk enduring respect dan apresiasi terhadap karya ilmuwan terdahulu yang telah membuka jalan bagi pekerjaan kita.

Komentar lain masih banyak, tetapi umumnya menyebut ”rasa ingin tahu”, ”ulet”, ”mengandalkan data”, dan ”punya kemampuan analisis data” sebagai sifat-sifat penting lain.

Karena dipenuhi dengan proses yang sering tidak jelas ujungnya, tak jarang peneliti dilanda keletihan mental kalau bukan frustrasi. Kadang hanya keyakinan kepada diri sendiri dan keyakinan bahwa pengetahuan yang sedang diteliti akan bernilai bagi orang banyaklah yang membuat peneliti bisa terus bertahan.

Ada pula penelitian di bidang psikologi, juga ilmu sosial, yang coba mengungkap sifat-sifat yang bisa mendorong seseorang untuk menerjuni dan unggul di bidang ilmiah. Namun, secara umum dipercayai bahwa anak yang tumbuh di lingkungan yang di sekelilingnya dipenuhi oleh orangtua dan orang-orang yang berpendidikan menyukai pemikiran, penuh rasa ingin tahu, dan senang memberi dorongan kepada anak untuk mengembangkan rasa ingin tahunya mempunyai peluang lebih baik untuk menjadi seorang ilmuwan dibandingkan dengan anak lain yang tidak memiliki hal-hal di atas.

Akhirnya, peneliti dari Argonne National Laboratory, Ali Khounsary, mengatakan bahwa—meski tidak ada jaminan— kombinasi orangtua yang tercerahkan dan penuh dedikasi, serta lingkungan rumah, sekolah, dan guru, role model, serta teman, bisa mendorong seorang anak untuk belajar dan menjelajahi dunia dan mungkin memilih karier di bidang sains (www.newton.dep.anl.gov).

Dalam Temu Ilmiah Peneliti Muda di LIPI, atau pertemuan siswa SMA dengan peneliti dunia dan pemenang Nobel, diharapkan muncul pula penjelasan mengenai hal-hal yang terkait dengan karakter untuk menjadi ilmuwan.

Menuju Nobel?

Penggagas Asian Science Camp Prof Yohanes Surya acap mengaitkan program Olimpiade Fisika atau acara di Bali sebagai jalur untuk menuju Hadiah Nobel. Dengan program itu, sepertinya hadiah Nobel menjadi one step closer. Sebagai sarana untuk memotivasi tentu saja tidak ada kelirunya.

Namun, selanjutnya, program pengembangan ilmuwan masih perlu dilengkapi dengan segi-segi yang lain. Misalnya saja, kita juga perlu menanamkan daya imajinasi calon ilmuwan? Juga daya konsentrasinya—hal yang semakin relevan ketika distraksi dalam wujud hiburan dan godaan duniawi semakin kuat— serta integritasnya mengingat di tengah masyarakat juga cenderung tumbuh budaya ”jalan pintas” dan ”sukses instan”.

Berikutnya, terlalu berorientasi pada Nobel boleh jadi juga membatasi keleluasaan minat dan imajinasi. Memang setelah pemberian hadiah ke-107 tahun lalu, Nobel tetap diakui sebagai prestise prestasi ilmiah. Namun, di kalangan ilmiah juga muncul kemasygulan bahwa hadiah tersebut terbatas dalam jumlah dan bidangnya, seperti dikemukakan oleh Harriet Zuckerman, penulis buku Scientific Elite yang mengupas hadiah Nobel, para pemenangnya, dan penciptaan kelas yang dimunculkannya pada sains abad ke-20.

Dengan hanya diberikan untuk bidang fisika, kimia, dan kedokteran—di luar perdamaian dan ekonomi—Nobel memang masih menyisakan banyak bidang sains lain, seperti sains kelautan, matematika, dan astronomi. Untuk Indonesia, ketiga bidang terakhir termasuk penting dan sebagian telah menjadi tradisi. Kita juga membutuhkan ilmuwan di bidang-bidang yang berkaitan dengan lingkungan alam kita, seperti vulkanologi dan geologi serta geofisika dan meteorologi.

Dari sisi upaya untuk mencapai apa yang sering disebut sebagai ”stratosfer sains eksklusif” ini, yang dibutuhkan bukan hanya riset super unggul. Ini karena tidak seorang pun tahu secara pasti, bagaimana sebenarnya memenangi hadiah Nobel.

Justru oleh kenyataan itu, yang sebenarnya perlu ditanamkan adalah karakter untuk menjadi ilmuwan sejati dan bukan untuk menjadi pemenang Nobel. Namun, diakui bahwa inisiatif seperti dilakukan oleh Prof Yohanes Surya maupun oleh LIPI melalui Temu Ilmuwan Muda berperan dalam penciptaan massa kritis bagi bergulirnya tradisi ilmiah yang baik untuk penyemaian ilmuwan muda.

Kategori: Biology · Cognitive Science · Computer · Geology · Internet · Math · Medicine · Nuclear · Physics · Robotics · Space · Telecomunication

Digelar 100 Penemuan Bangsa Indonesia untuk Peringati Hari Kebangkitan Teknologi

Juli 29, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan menggelar LIPI Expo 2008, di Jakarta, (4-6 Agustus), yang akan memamerkan 100 hasil penemuan (invensi) LIPI untuk memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) sekaligus 100 tahun Kebangkitan Nasional.

“Alhamdulillah Wakil Presiden berkenan membukanya,” kata Kepala LIPI Prof Dr Umar Anggara Jenie seusai menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di kantor Wapres, di Jakarta, Selasa.

Dalam acara tersebut, selain memamerkan 100 invensi LIPI, juga digelar seminar hasil penelitian kompetitif LIPI dengan pidato kunci lima manteri, dua Gubernur, Ketua Kamar Dagang dan Industri serta Dirut Pertamina.

Menteri yang hadir yaitu Menkokesra Aburizal Bakrie, Menteri Kesehatan Fadilah Supari, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, Menperin Fahmi Idris, dan Mendiknas yang diwakili oleh Dirjen Fasli Djalal.

Menurut Umar, Wapres Jusuf Kalla pada pertemuan itu memberi sugesti bahwa hasil penelitian harus bisa diserap dan dimanfaatkan masyarakat.

“Artinya kalau penelitian itu baik dan canggih tetapi mahal maka tidak ada artinya,” kata Umar menirukan pernyataan Wapres.

Hasil-hasil penelitian di bidang pangan yang akan dipamerkan antara lain mengunggulkan padi tahan kekeringan dan tahan hama. Selain itu juga ada kedelai plus yang dengan teknologi rizobium, produktivitasnya bisa ditingkatkan, serta teknologi inseminasi buatan untuk ternak.

Di bidang energi LIPI misalnya menghasilkan perangkat penghemat listrik Electrical Fuel Treatment (EFT) untuk menghemat bahan bakar yang sudah dipasarkan dan diekspor.

Selain itu di acara LIPI Expo akan ada peluncuran buku berjudul “Beranda Perdamaian: 3 Tahun MOU Helsinki” karya pakar politik LIPI Prof Dr Ikrar Nusa Bhakti diikuti paparan LIPI, Universitas Syahkuala Aceh dan Pemda Nanggroe Aceh Darussalam.

Umar mengatakan, acara yang akan memamerkan hasil penelitian LIPI kepada masyarakat itu juga akan dihadiri para “stakeholder” LIPI seperti Lembaga Penelitian Non Departemen (LPND) lainnya di bawah Kementrian Ristek, perguruan tinggi, dan kalangan industri.

Selain itu acara tersebut juga akan menghadirkan para finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) dan Pemilihan Peneliti Muda Indonesia (PPMI) yang penghargaannya akan diserahkan oleh Menristek

Kategori: Biology · Cognitive Science · Computer · Electricity · Environment · Food · Gadget · Geology · Health · Internet · Math · Medicine · Nuclear · Physics · Psychology · Robotics · Space · Telecomunication · Web Development

Lima Peraih Nobel Kumpul Di Bali

Juli 28, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Lima peraih nobel bidang fisika dan kimia dari Jepang, Taiwan dan AS akan menghadiri Asia Science Camp (ASC) 2008 yang diikuti 350 siswa Indonesia dan 150 siswa peserta Asia di Bali pada 3-9 Agustus 2008.

“Siswa dan siswi peserta diseleksi ketat oleh International Board of Asian Science Camp (IIBASC), yaitu organisasi nirlaba yang terdiri dari institusi-institusi pendidikan non pemerintah,” kata Prof Yohanes Surya dari `Surya Istitute` selaku tuan rumah ASC 2008 di Jakarta, Senin.

Sebagian siswa siswi peserta ada yang secara otomatis diundang sebagai peserta, yaitu para peraih kejuaraan lomba sains nasional dan internasional, antara lain peraih prestasi Indonesia di Ajang International Physics Olympiad (IPhO), Asian Physyics Olympiad (APhO), International Biology Olympiad (IBO) dan lain-lain.

Didampingi Anugerah Pekerti Ph.D, Dewan Direksi Internasional Habitat for Humanity International, ia menyatakan, penyelengaraan ASC 2008 menjadi kesempatan berharga bagi Indonesia karena kemungkinan baru akan terulang 20 tahun mendatang.

“ASC pertama kali diselenggarakan diTaiwan pada 2007 dan menjadi ajang tahunan tingkat internasional untuk memotivasi generasi muda Asia berusia 17-22 tahun untuk meraih prestasi bidang sains sekaliber peraih nobel dan ilmuwan dunia lainnya yang akan hadir,” katanya.

Selama enam hari di Bali, akan mencakup plenary session dan paralel session dengan para peraih nobel dan ilmuwan dunia, bahkan para peserta nantinya akan memperoleh kesempatan bergiliran duduk bersama para peraih nobel agar dapat berdialog langsung dalam sebuah kelompok, katanya.

“Siswa siswi yang terseleksi boleh merasa bangga karena sebelum terpilih mereka diuji dengan cara mengirimkan karya esai dalam bahasa Inggris serta harus memiliki kemampuan berbahasa Inggris,” katanya.

Lima peraih hadiah nobel yang hadir yaitu Prof Masatoshi Koshiba (Nobel Laureate 2002 bidang Fisika, Jepang), Prof Yuan Tseh Lee (Nobel laureate 1986, Kimia, Taiwan), Prof Douglas Osherroff (Nobel Laureate 1996, Fisika, USA).

Prof Richard Robert Ernst (Nobel Laureate 1991, Kimia, Swiss) dan Prof David Gross (nobel Laureate 2004, Fisika, USA).

Sementara ilmuwan dunia yang akan tampil antara lain Prof Chintamani Nagesa Ramachandra Rao (Hughes medal 2000 of Royal Society) dari India dan Prof Myriam P Sarachick (L`oreal/Unesco Woman in Science Laureate 2005) dari USA

Kategori: Biology · Math · Medicine · Physics

Bangsa Aztek Jago Matematika

April 7, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Meski dikenal sebagai pembantai yang suka mengobankan sesamanya, bangsa Aztek ternyata sudah menguasai aritmatika dalam kesehariannya. Mereka telah menguasai sistem pecahan dan menggunakannya untuk menghitung dan menentukan formula pajak.

Hal tersebut terungkap dari hasil analisis terhadap Codex Vergara, dua manuskrip dari tahun 1540 hingga 1544, berisi kode-kode tulisan yang ditemukan di daerah Tepetlaoztoc, Meksiko. Catatan tersebut berisi denah tanah berikut ukurannya dan mungkin jumlah pajak yang harus dibayar pemiliknya.

“Teks kuno ini sangat rinci dan disusun dengan rapi karena pemilik tanah sering harus membayar upeti sesuai nilai hartanya,” ujar Maria del Carmen Jorge y Jorge, salah satu peneliti dari National Autonomous University, Meksiko City. Catatan matematis ini tidak hanya menggunakan kode matematika yang diketahui dikembangkan bangsa Aztek namun juga menggunakan gambar-gambar tubuh manusia sebagai lambang operasi aritmatika.

Sebelumnya, para ilmuwan telah mengungkap rahasia matematika bangsa Aztek yang bertumpu pada sistem penomoran vigesimal atau angka 20 sebagai unit satuan. Sebagai pembanding, perhitungan matematika saat ini menggunakan sistem desimal. Dalam aritmatika Aztek, satu titik setara dengan, satu garis setara dengan 5, dan simbol lain untuk 20 berikut kelipatannya.

Namun, dokumen Codex Vergara juga menggunakan gambar-gambar. Setidaknya mereka menggunakan tiga simbol, yakni hati, tangan, dan anak panah. Kelihatannya, gambar-gambar ini melambangkan angka pecahan.

Peneliti lainnya Barbara Williams dari University of Wisconsin-Rock County mengungkapkan bahwa ukuran ini ibarat inci dan kaki. Hati mungkin menggambarkan jarak antara ujung jari ke jantung atau setengah tangan, jarak ujung jari tangan kanan dan kiri.

Bangsa Aztek menggunakan satu unit panjang tanah sekitar 2,5 meter. Jika pengukuran sedikit lebih panjang, mereka menggunakan unit pecahan tersebut untuk menambahkan

Kategori: Archeology · Math