Informasi Tentang Dunia Teknologi Terkini

Entries categorized as ‘Health’

Ibu Menyusui Jarang Terkena Kanker Payudara dan Sangat Baik Untuk Menambah Kecerdasan

Maret 19, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Selain baik bagi kecerdasan otak anak, menyusui juga dapat mengurangi risiko terkena kanker payudara bagi sang ibu, kata dr Dradjat R Suardi, spesialis kanker payudara.

“Ibu menyusui dapat mengurangi risiko tekena kanker payudara sebesar 10-15 persen,” katanya pada peresmian Yayasan Kanker Payudara Jawa Barat di Bandung, Rabu.

“Pupuk” kanker adalah hormon estrogen dalam tubuh. Ketika masa hamil dan menyusui, muncul hormon progesterone. Hormon ini kemudian meningkat dan melakukan proteksi, sehingga hormon estrogen tidak lagi dominan,katanya.

Ia menjelaskan, jika sang ibu menyusui setelah melahirkan, maka terdapat jangka waktu 27 bulan bagi sang ibu dimana hormon estrogen tidak dominan dalam tubuh. Dikatakannya, bahwa dalam jangka waktu tersebut, risiko ibu terkena kanker payudara berkurang.

Meskipun pupuk kanker berasal dari hormon estrogen, tidak berarti kaum pria terhindar dari risiko kanker payudara.

Dalam tubuh pria juga terdapat hormon estrogen meskipun kadarnya tak sebanyak yang terkandung dalam tubuh wanita.

“Laki-laki itu juga punya kelenjar payudara, hanya saja tidak berkembang seperti perempuan,” katanya lagi.

Risiko pria terkena kanker payudara adalah sebesar 1 persen. Gejala-gejala yang timbul pada pria yang terkena kanker ini serupa dengan wanita, seperti munculnya benjolan di payudara dan keluar cairan dari puting.

Umumnya gejala kanker payudara pada pria lebih mudah dikenali dibandingkan dengan wanita.

“Kalau ada benjolan pada payudara lelaki akan lebih muddah terlihat, karena payudara mereka tidak berkembang seperti perempuan,” tambahnya

Kategori: Health

Orang Optimis Hidup Lebih Lama Dari Pesimis

Maret 9, 2009 · 1 Komentar

Orang yang optimistis hidup lebi lama, lebih sehat dibandingkan orang yang pesimistis, kata beberapa peneliti AS, Kamis (5/3), dalam studi yang mungkin memberi kaum pesimistis satu lagi alasan untuk menggerutu.

Para peneliti di University of Pittsburgh mengkaji angka rata-rata kematian dan kondisi kesehatan kronis di kalangan pasien dalam studi Women`s Health Initiative –yang telah mengikuti perkembangan lebih dari 100.000 perempuan yang berusia 50 tahun ke atas sejak 1994.

Perempuan yang memiliki sifat optimistis –orang yang memperkirakan sesuatu yang baik dan bukan buruk akan terjadi– 14 persen kurang mungkin untuk meninggal akibat penyebab apa pun dibandingkan dengan orang yang pesimistis, dan 30 persen kurang mungki untuk menghembuskan nafas akibat sakit jantung setelah delapan tahun pengamatan dalam studi tersebut.

Orang yang optimistis juga kurang mungkin untuk menghadapi tekanan darah tinggi, diabetes atau menghisap rokok.

Tim tersebut, yang dipimpin oleh Dr. Hilary Tindle, juga meneliti perempuan yang sangat tak percaya pada orang lain –satu kelompok yang mereka sebut “bermusuhan sangat sinis”– dan membandingkan mereka dengan perempuan yang lebih mempercayai orang lain.

Perempuan di dalam kelompok bermusuhan secara sinis cenderung untuk setuju dengan pertanyaan seperti: “Saya seringkali harus menerima perintah dari seseorang yang tak mengetahui sebanyak yang saya ketahui” atau “Paling aman tak mempercayai seorang pun”, kata Tindle dalam suatu wawancara telefon dengan wartawan kantor berita Inggris, Reuters.

“Pertanyaan ini membuktikan rasa tak percaya umum pada orang lain,” kata Tindle, yang menyajikan studinya pada Kamis dalam pertemuan tahunan American Psychosomatic Society di Chicago. Pola berfikir semacam itu merenggut korban.

“Perempuan yang bermusuhan secara sinis 16 persen lebih mungkin untuk meninggal (selama masa studi) dibandingkan dengan perempuan yang tak terlalu bermusuhan secara sinis,” kata Tindle.

Mereka juga 23 persen lebih mungkin menemui ajal akibat kanker.

Tindle mengatakan studi itu tak membuktikan sikap negatif mengakibatkan dampak kesehatan negatif, tapi ia mengatakan semua temuan tersebut benar-benar akan memperlihatkan keterkaitan pada suatu hari nanti.

“Saya kira kita benar-benar memerlukan penelitian lebih lanjut guna merancang pengobatan yang akan ditujukan kepada sikap manusia guna melihat apakah semua itu dapat diubah dan apakah perubahan itu bermanfaat bagi kesehatan,” katanya.

Dan Tindle mengatakan meskipun seorang pesimitis mungkin berpendapat, “Takdir saya sudah diputuskan. Tak ada yang dapat saya lakukan, saya tak yakin itu benar. Kita `kan tidak tahu”

Kategori: Health · Psychology

Tips dan Cara Agar Nyamuk Tak Sebarkan Demam Berdarah

Januari 10, 2009 · & Komentar

Memasuki musim hujan, serangan penyakit demam berdarah dengue patut diwaspadai. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk itu telah menelan banyak korban.

Namun, segala upaya untuk memutus mata rantai penularan penyakit itu masih kurang efektif.

Di tengah ketidakberdayaan melawan demam berdarah dengue di berbagai negara tropis di dunia, sekelompok peneliti Australia didanai miliarder Bill Gates mengklaim telah menghasilkan riset yang dapat membantu memerangi DBD dengan cara menghentikan jalur penularan penyakit itu.

Mereka berhasil menginfeksi nyamuk penyebar penyakit tropis itu dengan bakteri Wolbachia sehingga kemampuannya menularkan dengue ke manusia berkurang.

Caranya, dengan menginfeksi nyamuk pembawa penyakit itu dengan parasit yang memperpendek masa hidup nyamuk itu. Dalam paparan hasil penelitian pada jurnal Science dijelaskan, bakteri Wolbachia menyebar dengan baik melalui uji laboratorium pada nyamuk-nyamuk yang berkembang biak.

Dengue hanya dibawa nyamuk dewasa sehingga membunuh mereka bisa memutus mata rantai penularan DBD. Mereka telah menginfeksi 10.000 embrio nyamuk dengan bakteri itu. Tes itu untuk melihat sejauh mana bakteri itu bisa mengurangi masa hidup serangga tanpa membunuhnya atau mencegah perkembangbiakan mereka

Para peneliti dari Universitas Queensland di Brisbane, Australia, mengambil strain yang dikenal dengan nama Wolbachia untuk memperpendek masa hidup nyamuk vektor DBD. Nyamuk yang membawa virus dengue tak secara alami rentan terhadap bakteri sehingga peneliti membuat nyamuk beradaptasi agar infeksi itu berhasil.

Bakteri itu dapat menyebar dari nyamuk betina yang terinfeksi kepada keturunannya. Hal ini bisa memperpendek masa hidup nyamuk itu dan embrionya.

Penentuan apakah hal itu dapat menghilangkan nyamuk pembawa virus merupakan tantangan tersendiri. Virus itu menyerang manusia saat nyamuk membawa virus tersebut dalam darah. Selama ini pemberantasan nyamuk dilakukan dengan insektisida, tetapi hal ini bisa menimbulkan resistensi nyamuk terhadap paparan bahan kimia.

Potensi Wolbachia sebagai satu jalan pengendalian populasi nyamuk cukup menjanjikan. Studi terakhir menawarkan harapan—meskipun di bawah kondisi laboratorium—bahwa hal itu kemungkinan berjalan efektif. ”Kuncinya adalah hanya nyamuk berusia sangat tua yang dapat menularkan penyakit itu,” kata Prof Scott O’Neill, peneliti.

Ini berarti hanya nyamuk dewasa yang berbahaya bagi manusia dan dengan membunuh nyamuk-nyamuk itu akan mengurangi kemampuan mereka menginfeksi. Upaya ini dinilai jalan murah untuk mengatasi masalah itu, khususnya di daerah urban saat metode lain pengendalian penyakit itu sulit dilakukan

Kategori: Biology · Environment · Health

Gen Virus H9N2 Hong Kong Berasal dari Unggas

Januari 9, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pusat bagi Perlindungan Kesehatan (CHP) Departemen Kesehatan Hong Kong, Rabu, mengumumkan bahwa hasil pengurutan gen virus H9N2 yang didapat dari seorang bayi perempuan menunjukkan semua gen berasal dari unggas.

Bayi perempuan itu, yang berusia dua bulan, dikonfirmasi terinfeksi virus H9N2 –jenis ringan flu unggas– pada Desember tahun lalu. CHP, Rabu, menuntaskan pengurutan gen pada contoh virus yang diambil dari bocah perempuan tersebut.

Juru bicara CHP mengatakan pemeriksaan DNA atas gen itu memperlihatkan bahwa semuanya berasal dari unggas dan belum ditemukan penggolongan kembali dengan gen yang berasal dari influensa manusia.

“Virus tersebut sangat mirip dengan virus H9N2 yang dipisahkan dari kasus lain yang melibatkan anak perempuan berusia sembilan bulan pada 2007,” katanya. Juru bicara itu mengatakan virus tersebut, yang ditemukan pada bayi perempuan itu, sensitif terhadap Tamiflu dan Amantadine, dua jenis obat anti-virus.

Bayi perempuan tersebut masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Tuen Mun karena penyakit itu. Gejala infeksi H9N2 yang dialaminya telah reda dan semua orang yang melakukan kontak langsung dengan dia tak memperlihatkan gejala infeksi H9N2.

“Temuan genetika dan epidemiologi sejauh ini menunjukkan bahwa virus H9N2 tak memperlihatkan tanda mengenai peningkatan risiko penularan dari manusia ke manusia,” kata juru bicara tersebut.

Kategori: Biology · Health

1.415 Spesies Binatang Ancam Kesehatan Manusia

Desember 22, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dalam konteks organisme sebagai agen penyakit, diidentifikasi ada 1.415 spesies yang mampu menular ke manusia, terdiri atas 217 virus dan prion, 538 bakteri dan rickettsia, 307 jamur, 66 protozoa, serta 287 jenis cacing.

Dari 1.415 spesies itu, sebanyak 868 diklasifikasikan sebagai agen penyebab zoonosis dan 175 spesies patogen diasosiasikan dengan penyakit baru. Dari kelompok 175 patogen yang baru muncul ini, 132 adalah agen penyebab zoonosis.

Demikian terungkap dalam seminar ”Konsep One Health dalam Rangka Penanggulangan Penyakit Zoonosis” yang diselenggarakan untuk memperingati HUT Ke-3 Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS) di Bogor, Sabtu (20/12).

Tri Satya Putri Naipospos, Ketua Badan Pengurus CIVAS, dalam makalahnya menyampaikan, zoonosis yang muncul pada dekade ini telah menciptakan suatu lensa kaleidoskop baru di dalam kita memandang dunia ini. Kemunculan penyakit-penyakit baru diprediksi bukan hanya akan terus berlanjut, melainkan juga kemungkinan meningkat.

Pengertian zoonosis adalah penyakit yang dapat ditularkan secara alamiah antara manusia dan hewan domestik atau satwa liar. Sebenarnya, dalam pengertian tersebut terkandung beberapa perbedaan sesuai dengan gambaran epidemiologi penyakit.

Bagus Purmajaya dari Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian mengatakan, dari aspek kesehatan masyarakat, deteksi dini wabah penyakit hewan dengan mengetahui potensi zoonotik dapat dilakukan dengan menggunakan tolok ukur angka morbiditas dan mortalitas. Deteksi dini penting dalam pengendalian penyakit, termasuk zoonosis.

Dalam kesempatan itu, Bagus mengatakan, untuk mencegah makin merebaknya wabah rabies di Bali, Dinas Peternakan Bali telah melakukan vaksinasi massal selama dua hari, Sabtu dan Minggu. Ini dilakukan agar rabies sedapat mungkin dicegah dan tidak makin meluas

Kategori: Biology · Health

Kasus Gagal Ginjal Di Indonesia Sangat Tinggi

Desember 19, 2008 · & Komentar

Kasus gagal ginjal di Indonesia setiap tahunnya masih terbilang tinggi, pasalnya masih banyak masyarakat Indonesia tidak menjaga pola makannya dan kesehatan tubuhnya.

“Meski belum dilakukan survei secara nasional, tetapi berdasarkan perbandingan data dengan negara lain kasus gagal ginjal di Indonesia tinggi. Di negara Amerika Serikat saja perbandingannya untuk klasifikasi orang dewasa dari sebanyak sepuluh orang satu diantaranya terkena gagal ginjal,” kata Konsultan Ginjal dan Hipertensi, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, (Unair) Surabaya dan RSU Dr Sutomo, Dr Djoko Santoso Sp PD-KGH, PhD pada Seminar Kesehatan di Kota Sukabumi, Kamis.

Menurut dia, kondisi di Indonesia akan lebih banyak, apalagi banyak orang Indonesia yang tidak bisa menjaga pola makan dan menjaga kesehatannya.

Ia mengatakan, tingginya kasus gagal ginjal berpotensi pada tingginya kasus kematian, pasalnya dalam satu tahun cuci darah saja hanya terdapat 70 pasien yang masih bertahan dari total seratus penderita yang berobat ke satu dokter.

“Penyebab kematian biasanya karena gagal ginjalnya tidak dapat ditanggulangi dan ditambah dengan serangan jantung, stroke dan sesak napas,” jelas Djoko.

Djoko menyebutkan, penanganan terhadap pasien gagal ginjal saat ini terkendala dengan tingginya biaya pengobatan, karena biaya pengobtan bagi penderita gagal ginjal mencapai Rp3 juta/bulan. Ini menjadi dilema tersendiri bagi petugas kesehatan dan pemerintah dan keluarga pasien untuk membantu biaya pengobatan,” ujarnya.

Selain itu, masih sedikitnya ahli penyakit gagal ginjal menjadi tantangan dalam menangani pasien gagal ginjal di Indonesia, karena saat ini dokter spesialis ahli gagal ginjal baru mencapai di bawah 80 orang.

“Ironisnya, kebanyakan dokter tersebut hanya tersebar di kota-kota besar saja yang terdapat Fakultas Kedokterannya. Jika tidak ada FK nya, maka tidak ada ahli gagal ginjalnya sehingga harus dirujuk ke rumah sakit daerah lain,” papar Djoko seraya mengatakan kebanyakan penderita gagal ginjal berasal dari golongan ekonomi lemah.

Ia menambahkan untuk mengantisipasi meningkatnya penderita gagal ginjal perlu adanya sosialisasi pencegahan gagal ginjal, karena ini merupakan pilihan terbaik dibandingkan harus mengeluarkan biaya yang rekatif besar untuk mengobati penyakit gagal ginjal.

“Sosialisasi ini tidak hanya dari tim medis saja, tapi pemerintah juga ikut berperan dalam menanggulangi penyakit gagal ginjal,” katanya

Kategori: Health · Medicine

Bagi Sergei Brin, Ilmu Pengetahuan adalah Pencerahan dan Ketidaktahuan Bukan Berkah

Desember 10, 2008 · 1 Komentar

“Sergey Brin, salah satu pendiri Google, yakin bahwa pengetahuan selalu merupakan hal baik—dan (karena itu) mestinya ada lebih banyak lagi pengetahuan yang bisa dibagi.” (The Economist, Enlightenment Man, 6-12/12)

Sebagai salah satu pendiri perusahaan internet terbesar di dunia (Google), Sergey Brin adalah sosok yang besar pengaruhnya, selain sebagai salah seorang terkaya Amerika.

Belum lama ini muncul kisah tentang sosok kelahiran Moskwa 35 tahun silam yang ahli matematika ini. Tanggal 18 September 2008 ia meluncurkan blog pribadi di too.blogspot.com. Dalam posting pertama, Brin—seperti dilaporkan Michael Arrington di situs Techcrunch—tampak bercanda. Namun, dalam posting kedua, ia terdengar serius. Ia bicara tentang perusahaan 23andMe (yang salah satu pendirinya adalah istrinya, Anne Wojcicki). Menurut perusahaan yang bergerak dalam riset DNA ini, ia punya mutasi gen yang terkait dengan penyakit parkinson (G2019S). Dengan itu, Brin termasuk orang yang bisa terkena penyakit parkinson.

Tetapi, laporan kali ini bukan untuk membahas kemungkinan Brin terkena parkinson, melainkan untuk mengupas sikap dan pandangannya tentang keterbukaan informasi dan pengetahuan. Hal ini ia sampaikan dalam Konferensi Zeitgeist yang diselenggarakan Google. Inilah pertemuan eksklusif bagi kaum inteligensia. (Zeitgeist, dari Bahasa Jerman, zeit ’waktu’ dan geist ’semangat’. Selain harfiah berarti ”semangat zaman”, ungkapan ini menguraikan suasana keintelektualan, keberbudayaan, moral, etik, iklim politik satu zaman.)

Di forum ini, mereka yang dikenal sebagai ”pemimpin pemikiran” (thought leaders) dunia berkumpul selama dua hari untuk membicarakan upaya menemukan jalan keluar bagi problem dunia paling berat dengan menerapkan nilai-nilai penalaran dan sains pencerahan yang didukung oleh Google.

Dalam kaitan penemuan 23andMe, salah seorang hadirin Pertemuan Zeitgeist menanyakan, apakah mengetahui dirinya berpotensi terkena parkinson baik atau tidak bagi Brin. Dalam satu hal, orang mengatakan ”Tidak tahu itu merupakan berkah”. Bukankah setelah Brin tahu tentang gen parkinson, ia akan hidup dilanda kecemasan?

Mendapat pertanyaan itu, Brin pertama-tama menyampaikan, ”Siapa yang cemas?” Toh yang ia sampaikan hanyalah statistik bahwa untuk orang seperti dirinya, peluang mendapat parkinson adalah 20 persen hingga 80 persen. Itu saja.

Selebihnya, dengan mengetahui adanya kans sebesar itu, ia justru lalu mengambil langkah agar bisa terhindar dari penyakit tersebut. Ia, seperti dikutip The Economist di atas, menyebutkan bahwa olahraga membantu (mencegah parkinson).

Arti pengetahuan

Dengan uraiannya tentang peluang terkena parkinson, baik di blog pribadinya maupun di Konferensi Zeitgeist, Sergey Brin ingin menegaskan bahwa pengetahuan itu baik dan selalu lebih baik dari ketidaktahuan.

Berbekal pandangan itu, Brin lalu mendanai dan mendorong dilakukannya riset terhadap mutasi gen yang juga disebut dengan nama LRRK2 dan juga terhadap penyakit parkinson.

Sebagai tokoh internet terkemuka, Brin lalu memperlakukan gen tadi sebagai penyakit (bug) pada kode personalnya, jadi tidak ada bedanya dengan bug di komputer yang setiap hari dibereskan oleh teknisi Google. Brin—selain melakukan upaya mendahului (pre-emptive)—juga mengembangkan semangat berbagi. Dengan menolong dirinya sendiri, ia lalu bisa menolong orang lain.

Selain menjunjung pengetahuan, dalam sikap Brin juga terkandung pencerahan, hal yang tecermin dari visi yang kemudian juga dijadikan moto Google, yakni membuat semua informasi di dunia ini ”bisa diakses dan dimanfaatkan secara universal”. Bersama dengan mitranya, pendiri Google lainnya, Larry Page, kedua tokoh ini terus berupaya membawa semua informasi ke internet.

Daya transformatif

Dalam hidup, kita juga pernah mendengar kalimat bijak yang menyebutkan, ”berbeda dengan uang, ilmu yang dibagikan tak akan habis, tapi malah bertambah”. Dengan caranya, Brin tampak meyakini makna penyebaran pengetahuan.

Kisah Google sendiri sebelum ini telah ditulis oleh David Vise dan Mark Malseed dalam buku The Google Story (2006).

Dari kesehatan, Google dan kedua pendirinya juga mencoba berbuat untuk kebajikan lain. Di China mereka sepakat untuk menyensor hasil pencarian melalui mesin pencari Google. Mungkin itu untuk menyenangkan pihak Komunis, tetapi mereka berpandangan hal itu dilakukan dengan keyakinan bahwa di luar informasi yang disensor, warga China akan bisa mendapatkan informasi lebih banyak, dan itu akan membuat mereka lebih sejahtera.

Dalam Konferensi Zeitgeist, Brin mengumumkan, biarkan setiap orang menemukan genomnya masing-masing, lalu nyamanlah untuk berbagi kode yang diperoleh tadi agar pihak lain—pasien, dokter, dan peneliti—bekerja memecahkan sandi dan menemukan biang kerok (bug).

Semangat zaman yang diusung Brin bercorak keterbukaan informasi, yang diharapkan bisa memacu terbentuknya masyarakat berbasis pengetahuan. Untuk tujuan pragmatis, hal itu dimaksudkan agar masyarakat tersebut lebih berdaya saing. Namun, Brin tak menyinggung soal ini. The Economist juga mengaitkan Zeitgeist ala Brin lebih dalam konteks pencerahan

Kategori: Cognitive Science · Computer · Health · Internet · Math · Web Development

Ciuman Penuh Nafsu Dapat Menyebabkan Penurunan Pendengaran Hingga Tuli

Desember 9, 2008 · & Komentar

Ciuman yang penuh birahi memecahkan gendang telinga seorang wanita muda di China selatan, media negara melaporkan, Senin, seperti dilansir AFP.

Gadis berusia sekitar 20 tahun dari Zhuhai, Provinsi Guangdong, itu dirawat para dokter rumah sakit setelah pendengarannya pada telinga kiri lenyap sama sekali, tulis China Daily, mengutip Guangzhou Daily.

“Ciuman itu mengurangi tekanan di dalam mulut, mendorong ke luar gendang telinga dan menyebabkan kerusakan telinga, kata dokter yang merawatnya, dengan nama panggilan Li, sambil menambahkan pendengaran wanita itu akan pulih sekitar dua bulan lagi.

Kejadian tersebut mendorong berbagai koran menyajikan berbagai petunjuk tentang ciuman yang aman.

Sekalipun ciuman pada umumnya aman, para dokter mendesak semua orang agar berhati-hati, kata China Daily.

“Ciuman yang membara boleh jadi menyebabkan ketidakseimbangan tekanan udara di bagian dalam telinga, sehingga mengakibatkan pecahnya gendang telinga, tulis Shanghai Daily, sebuah koran berbahasa Inggris, dengan judul “Ciuman Tuli”

Kategori: Health · Medicine

Penderita Hipertensi Sebaiknya Tidak Makan Daging

Desember 9, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Penderita hipertensi atau tekanan darah tinggi diminta waspada dalam mengonsumsi daging saat merayakan Hari Raya Idul Adha karena dapat memicu tekanan darah menjadi tidak normal.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, Umar Zein, di Medan, Senin, mengatakan, tekanan darah penderita hipertensi akan meningkat karena dipicu garam atau rasa asin lainnya. Jadi jangan menggunakan garam berlebihan saat memasak daging untuk penderita hipertensi.

Jika tidak hati-hati mengkonsumsi daging yang banyak mempergunakan garam, tekanan darah si penderita akan menjadi tidak normal meski pada dasarnya penyakit ini tidak bersumber dari daging.

“Untuk itu cara memasak daging kurban harus benar-benar diperhatikan bagi para penderita hipertensi. Kalau bisa cara memasak daging untuk penderita hipertensi dibedakan meski daging kurban tersebut masih baru dan bagus,”katanya.

Sementara itu, bagi penderita penyakit lain, selain hipertensi, tidak perlu risau jika mengkonsumsi daging terlebih daging kurban yang kondisinya dagingnya masih bagus.

“Kalau daging hewan kurban itu bagus, tidak ada masalah. Namun, kalau dagingnya disimpan dulu di lemari es, tidak langsung dikonsumsi, cara memasaknya harus benar-benar diperhatikan dengan baik,” katanya

Kategori: Health

Bunuh Diri Karena Ketiadaan Cinta dan Dukungan

Desember 4, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Psikolog yang juga pengajar di FKIP Universitas Lampung (Unila) Diah Utaminingsih, mengatakan maraknya aksi bunuh diri diantaranya karena kehilangan dukungan sosial dan kegagalan mendapatkan cinta dan perhatian baik dari pasangan maupun lingkungan.

“Umumnya pelaku bunuh diri adalah remaja dan orang dewasa, bahkan mereka pun berpendidikan. Hal itu diantaranya karena tidak adanya faktor protektif, cinta dan kehilangan dukungan sosial,” kata dia, di Bandarlampung, Kamis.

Ia mencontohkan, kasus ayah bunuh istri dan anak di Jawa Timur, kemudian bunuh diri, dari keterangan beberapa saksi pelaku sebagai sosok ramah dan pandai bergaul yang mendadak menjadi pendiam karena faktor kehilangan dukungan sosial.

Artinya, ketika mendapatkan suatu masalah tidak bisa membagi ke orang lain yang dapat memberikan solusi karena seluruh lingkungan sudah membenci dia.

Selain itu, sebagai orang dewasa dituntut harus mandiri, mampu menanggung konsekuensi tanpa menyalahkan orang lain dan karena kurang berhasilnya dalam kehidupan sosial (mungkin disebabkan karena terlalu berfokus pada diri sendiri), ia merasa dilabel oleh lingkungan pribadi yang gagal, sehingga jalan pintas yang diambil adalah bunuh diri.

Terkait mengajak atau membunuh orang lain, seperti yang juga terjadi di Lampung beberapa hari lalu seorang ayah sebelum bunuh diri membunuh kedua putranya, Diah mengatakan dari perspektif ilmu psikologi seseorang yang ingin bunuh diri ada tiga yakni mempunyai sifat untuk membunuh, dibunuh dan mati.

“Sehingga, punya keinginan untuk membunuh orang lain terlebih dahulu sebelum bunuh diri,” katanya.

Menurut Diah, yang juga mantan atlet senam itu, pada kasus ayah membunuh anak kemudian bunuh diri, bisa saja adanya kekecewaan, yakni selama ini telah melaksanakan tugas sang istri, kemudian mendapat label tidak menyenangkan dari lingkungan.

Ketika berkumpul kembali dengan istri, keinginan yang diharapkannya tidak tercapai, sehingga membunuh anak-anak sebagai tanggungjawabnya selanjutnya bunuh diri.

Sementara pada kasus remaja bunuh diri, biasanya pelaku hanya ingin protes terhadap orang-orang di sekitarnya, bahwa tidak ada yang menyayanginya.

“Maka, beberapa kasus sering ditemukan remaja mencoba bunuh diri dan masih dapat diselamatkan, karena pelaku sebenarnya tidak ingin mati hanya berusaha untuk selalu menjadi pusat perhatian,” kata dia lagi.

Psikolog itu menambahkan, umumnya pelaku bunuh diri adalah sosok pribadi yang ramah dan pandai bergaul yang mendadak kehilangan dukungan sosial karena terlalu fokus pada diri sendiri hingga akhirnya menjadi pendiam dan pemurung.

Sementara itu, di Lampung dalam dua hari terakhir terjadi aksi bunuh diri yakni seorang ayah sebelum bunuh diri, membunuh kedua putranya yang masih berusia sembilan dan delapan tahun. Ketiganya ditemukan tewas tergantung.

Kemudian, seorang yang diduga waria, bunuh diri juga dengan cara mengikat lehernya dan menggantungkan ke bagian rumah, dan sempat membawa keponakannya dengan cara digantung.

Namun, keponakannya tersebut sempat tertolong sehingga selamat.

Kategori: Cognitive Science · Health · Psychology