Informasi Tentang Dunia Teknologi Terkini

Entries categorized as ‘Hadiah Nobel Prize’

Tiga Dokter Penemu HIV dan HPV Berbagi Hadiah Nobel Kedokteran Tahun 2008

Oktober 9, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

iga orang ilmuwan Eropa berbagi penghargaan Nobel Kedokteran 2008 yang diumumkan di Stockholm, Swedia, Senin (6/10). Masing-masing dua peneliti Perancis, Francoise Barre-Sinoussi dan Luc Montagnier, serta seorang peneliti Jerman, Harald zur Hausen.

Mereka dinilai besar dalam kontribusinya mendeteksi penyebaran virus penyakit mematikan yang menyerang manusia saat ini. Francoise Barre-Sinoussi dan Luc Montagnier adalah penemu virus HIV (human immunodeficiency virus), sementara Zur Hausen adalah penemu HPV (human papillioma virus) yang menyebabkan kanker leher rahim.

Dalam pengumumannya, Komite Nobel menyatakan bahwa penemuan Barre-Sinoussi dan Montegnier merupakan landasan utama untuk memahami sifat biologi penyakit AIDS dan cara pengobatannya. Hasil penelitian keduanya pada awal tahun 1980-an membuat penelitian virus semakin berkembang pesat.

“Kombinasi antara penemuan dan pengobatan berhasil menurunkan penyebaran penyakit dan benar-benar meningkatkan harapan hidup penderitanya,” demikain kesimpulan yang diambil komite tersebut.

Demikian pula dengan temuan Zur Hausen bahwa HPV tertentu menyebabkan kanker leher rahim yang saat ini merupakan jenis kanker pembunuh kedua di dunia. Penemuan tersebut membuat pembuatan obat dan vaksin tepat sasaran. Mereka berhak mendapatkan hadiah total 10 juta kronor atau setara dengan Rp 13,4 miliar. Hadiah tersebut akan dibagi empat, masing-masing untuk ketiga peneliti dan untuk Pusat Riset Kanker Jerman (GCRC) di Heidelberg

Kategori: Hadiah Nobel Prize

Penemu Protein Yang Bisa Bersinar Meraih Nobel Kimia Tahun 2008

Oktober 9, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Protein yang satu ini memang luar biasa. Dia bersinar kehijauan. Penemu Green Fluorescent Protein, yang ditemukan pada ubur-ubur Aequorea victoria pada tahun 1962, pada hari Rabu (8/10) ditetapkan oleh Royal Swedish Academy of Sciences sebagai penerima penghargaan Nobel Kimia 2008.

Tiga penemu yang menerima Hadiah Nobel Kimia itu adalah doktor kimia organik Osamu Shimomura, warga negara Jepang, Martin Chalfie ahli neurobiology, warga negara Amerika Serikat, lahir tahun 1947, besar di Chicago, AS, dan yang ketiga adalah Roger Y Tsien, warga AS, kelahiran New York, AS. Gelar doktor di bidang fisiologi dari Cambridge University, Inggris. Masing-masing mendapat sepertiga total hadiah 10 juta krone Swedia, sekitar Rp 14 miliar—bukan Rp 14 juta seperti pada Kompas, Rabu (8/10).

Protein yang semula hanya ditemukan warna hijau itu kini menjadi salah satu alat yang amat bermanfaat di bidang biosains.

Dengan memanfaatkan Green Fluorescent Protein (GFP), para peneliti meningkatkan cara mengamati proses-proses dalam tubuh yang semula tak terlihat. Misalnya, perkembangan sel-sel saraf di dalam otak atau bagaimana penyebaran sel kanker.

Puluhan ribu protein yang beragam terdapat di dalam tubuh makhluk hidup. Protein-protein ini mengendalikan proses-proses kimia penting secara detail.

Bila mesin protein ini malfungsi, biasanya disusul dengan jatuh sakit. Itu sebabnya, biosains merasa perlu memetakan berbagai protein yang ada dalam tubuh.

Pengembangan

Penghargaan Nobel Kimia 2008 ini jatuh pada peneliti yang menemukan pertama kali GFP dan peneliti-peneliti yang melakukan penelitian lanjutan atas temuan GFP itu. Pengembangannya telah berhasil sampai dimanfaatkannya GFP sebagai alat pencari dan pengikat pada biosains.

Dengan menggunakan teknologi deoxyribo nucleic acid (DNA), para ilmuwan tersebut mampu menghubungkan GFP pada protein-protein lainnya.

Dengan menggunakan protein GFP sebagai penanda yang bersinar (di tempat gelap) telah memungkinkan mereka mengamati gerakan, posisi, dan interaksi dari protein-protein yang terikat.

Bahkan kini para peneliti dapat mengikuti ”nasib” berbagai jenis sel dengan bantuan GFP. Misalnya, sel saraf yang rusak pada penyakit Alzheimer, atau bagaimana sel beta penghasil insulin terbentuk di pankreas saat pertumbuhan embrio (bakal bayi).

Dalam sebuah percobaan yang spektakuler, ilmuwan sukses mengikat beragam sel saraf otak tikus dengan bermacam warna GFP. Warna-warna selain hijau ditemukan Roger Y Tsien. Dia juga menemukan penjelasan mengapa GFP bisa bersinar di kegelapan (fluorescents).

Kategori: Hadiah Nobel Prize

Hadiah Nobel Untuk Bidang Fisika Tahun 2008 Dimenangi Oleh Tiga Orang

Oktober 8, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Yoichiro Nambu (87) seorang warga Amerika Serikat kelahiran Tokyo dan Makoto Kobayashi (64) bersama Toshihide Maskawa (68) dari Jepang berbagi penghargaan Nobel Fisika yang diumumkan Royal Swedish Academy of Sciences pada Selasa (7/10) di Stockholm, Swedia, karena penemuan mereka di bidang fisika subatomik.

Ilmuwan Amerika Serikat dan Jepang tersebut mengerjakan penelitian secara terpisah yang akhirnya mampu membantu menjelaskan mengapa sebagian besar dari alam semesta terbuat dari materi dan bukan dari anti-materi. Penjelasan itu didapatkan dari sebuah proses yang disebut sebagai broken symmetries.

Melalui penelitian tersebut mereka mencari penjelasan tentang keberadaan (eksistensi) dan perilaku partikel terkecil yang disebut quarks.

Mendasari model standar

Nambu, seorang profesor pada University of Chicago, dikenal luas akan penemuannya pada tahun 1964 tentang mekanisme spontaneous broken symmetry. Penemuan itu kemudian mendasari Model Standar fisika yang menyatukan tiga dari empat kekuatan fundamental alam: kuat (strong), lemah (weak), dan elektromagnetik—meninggalkan hal yaitu gravitasi (gravity).

Hasil penelitian Nambu juga memengaruhi perkembangan quantum chromodynamics-—sebuah teori yang menjelaskan sejumlah interaksi antara proton dan neutron yang membentuk atom, dan quarks yang membentuk proton dan neutron.

Sementara itu, Kobayashi dan Maskawa tahun 1972 menemukan enam tipe quarks, yaitu atas (up), bawah (down), asing (strange), menarik (charm), dasar (bottom), dan bagian atas (top). Semua itu kemudian ditemukan dalam percobaan-percobaan fisika partikel energi tinggi (high-energy particle physics).

”Fakta bahwa dunia kita tidak beperilaku secara simetris sempurna karena ada penyimpangan dari simetri yang terjadi pada ukuran mikroskopik,” demikian diungkapkan Komite Nobel. Broken symmetry memungkinkan partikel dari materi mengatasi partikel anti-materi.

Terkait ledakan besar

Dari hasil penelitian di tingkat mikroskopis tersebut kini diketahui bahwa proses seperti itulah yang menyelamatkan semua bentuk kehidupan. Hal ini kemudian dikaitkan dengan Teori Ledakan Besar, teori tentang asal mula terbentuknya alam semesta.

Pasalnya, jika alam semesta simetris, anti-materi akan secara konstan berjumpa dengan materi dan akan menghasilkan ledakan energi.

Para ahli fisika kini mencari spontaneous broken symmetry dan mekanisme Higgs yang membawa ketidakseimbangan pada peristiwa Ledakan Besar, sekitar 13,7 miliar tahun lalu. Para ilmuwan pada akselerator terbesar dan berkekuatan amat tinggi, Large Hadron Collider (LHC) di European Organization for Nuclear Research (CERN) di Swiss saat ini sedang mencari partikel Higgs saat mengoperasikan lagi LHC pada musim semi 2009.

Komentar berbeda

Dua peneliti Jepang berbeda komentarnya akan penghargaan yang mereka terima.

Kobayashi menyatakan, ”Ini benar penghormatan besar bagi saya dan saya tidak percaya ini.”

Namun, Masakawa mengungkapkan kepada kantor berita Kyodo, ”Ada pola tentang Penghargaan Nobel. Sampai tahun lalu, saya tidak berharap mendapat Nobel, namun tahun ini saya telah meramalkannya.” Namun, ”Saya tidak terlalu suka karena hiruk pikuk perayaannya.”

Nambu akan menerima separuh hadiah uang tunai sebesar 10 juta krone Swedia (sekitar Rp 14 juta)—berarti sekitar Rp 7 juta. Sementara Kobayashi dan Masakawa mendapat masing-masing seperempatnya.

Kategori: Hadiah Nobel Prize · Physics