Arsip Kategori: Hadiah Nobel Prize

Daniel Shechtman Raih Nobel Kima tahun 2011 Karena Penemuan Struktur Materi Quasicrystal

Peneliti kimia asal Israel Institute of Technology, Daniel Shechtman hari ini diumumkan meraih Nobel bidang kimia. Pria berusia 70 tahun ini melakukan penelitian signifikan terhadap struktur material.

“Penghargaan diberikan atas penemuan quasicrystal,” sebut Royal Swedish Academy of Sciences di laman resminya.

Struktur quasicrystal memiliki keteraturan sebagaimana kristal pada umumnya. Meski susunan ini tidak periodik, struktur kristal bisa memenuhi keseluruhan ruang.

Shechtman menemukan struktur ini setelah mempelajari campuran logam aluminium dan manganese pada 8 April 1982. Sejak saat itu, berbagai material quasicrystal ditemukan di laboratorium, termasuk saat ilmuwan meneliti mineral dari sebuah sungai di Rusia.

Pola quasicrystal sendiri sudah dikenal sejak abad pertengahan lampau. Ketika itu ahli matematika dan arsitek merancang pola teratur tak periodis sebagai penghias dinding istana, perpustakaan, dan mesjid di Ishafan, Iran.

Pola yang menyita perhatian seniman dan matematikawan ini kemudian dirayakan lagi oleh ahli matematika setelahnya. Mereka mencari pola quasicrystal paling minimal yang bisa menyusun ruang.

Di kemudian hari, Roger Penrose menemukan dua jenis keping unik yang tersusun membentuk “Ubin Penrose”. Pola ini menjadi struktur paling unik yang pernah ditemukan.

Shechtman berhak mendapatkan uang sekitar US$ 1,5 juta atau sekitar Rp 13,3 miliar. Upacara penyerahan baru dilakukan Desember mendatang.

Mario Vargas Llosa dari Peru Meraih Nobel Sastra

Penulis kelahiran Peru, Mario Vargas Llosa (74), diumumkan sebagai pemenang hadiah Nobel Sastra tahun ini. Penghargaan tertinggi untuk dunia sastra ini diumumkan oleh The Royal Swedish Academy of Sciences atau RSAS, institusi yang berwenang menyeleksi pemenang Nobel, di Stockholm, Swedia, Kamis (7/10).

Dalam pernyataan resminya, akademi tersebut menyatakan, Vargas Llosa berhak mendapatkan Nobel atas ”kemampuan pemetaan struktur kekuasaan dan penggambaran tajam atas perlawanan, pemberontakan, dan kekalahan seseorang”.

Sekretaris tetap RSAS, Peter Englund, mengatakan, Vargas Llosa adalah seorang pendongeng yang diberkati dengan bakat untuk membuat tulisan-tulisan yang mampu menyentuh pembacanya. ”Dia adalah salah seorang pengarang besar di negara-negara pengguna bahasa Spanyol,” tutur Englund.

Englund juga menyebut penulis kelahiran kota Arequipa, Peru, 28 Maret 1936, ini adalah salah seorang tokoh di balik kebangkitan sastra Amerika Latin era 1960-1970-an.

Karyanya yang terkenal, antara lain, The Green House (1966), Conversation in The Cathedral (1969), dan The Feast of The Goat (2000).

Menurut catatan Reuters, Vargas Llosa adalah penulis Amerika Latin pertama yang meraih Nobel Sastra sejak penulis asal Meksiko, Octavio Paz, meraih penghargaan itu, 1990. Ia berhak membawa pulang hadiah uang sebesar 10 juta kronor Swedia (sekitar Rp 12 miliar) pada malam penganugerahan Nobel 2010 di Stockholm, 10 Desember mendatang.

Englund mengatakan, Varga Llosa sedang berada di New York, AS, saat dia ditelepon untuk diberi kabar tentang kemenangan tersebut. Vargas Llosa mendapat kesempatan mengajar di Princeton University, New Jersey, AS, sepanjang semester ini.

Selain sebagai penulis lebih dari 30 judul novel, skenario teater, dan esai, Vargas Llosa juga dikenal sebagai wartawan, kolumnis, dan mantan calon presiden.

Pada 1990, dia nekat maju dalam pemilihan presiden Peru, mewakili koalisi partai-partai konservatif bernama FREDEMO. Namun, dia dikalahkan telak oleh Alberto Fujimori yang kemudian menjadi Presiden Peru hingga tahun 2000.

Kecewa dengan kekalahan ini dan pemerintahan ala diktator Fujimori, Vargas Llosa memutuskan pindah ke Spanyol dan menjadi warga negara Spanyol.

Empat tahun kemudian, ia menjadi penulis Amerika Latin pertama yang terpilih menjadi anggota Real Academia Española, otoritas tertinggi bahasa Spanyol. Ia baru mengisi posisi di akademi terhormat tersebut pada 1996, setahun setelah ia meraih penghargaan tertinggi untuk karya sastra berbahasa Spanyol, Hadiah Cervantes, pada 1995

Hadiah Nobel Kimia 2010 Di Umumkan

Tiga ilmuwan, satu orang dari Amerika Serikat dan dua lainnya dari Jepang, berbagi penghargaan Nobel Kimia, Rabu (6/10). Mereka membuat terobosan dalam cara melekatkan atom-atom karbon bersama-sama. Metode ini kini digunakan di dunia obat dan komputer.

Richard F Heck (AS) serta Ei-ichi Negishi dan Akira Suzuki—keduanya dari Jepang—sukses dengan penemuan mereka pada 40 tahun lalu. Metode ini kini disebut dengan palladium- catalyzed cross coupling. Dengan metode baru itu, terbentuk molekul baru yang lebih kompleks. Seperti diumumkan oleh The Royal Swedish Academy of Sciences, molekul kini digunakan untuk peralatan elektronik canggih.

Heck (79) adalah profesor emeritus pada University of Delaware dan sekarang tinggal di Filipina. Negishi (75) adalah seorang profesor kimia dari Purdue University di West Lafayette, Indiana. Sementara Suzuki (80) merupakan seorang pensiunan profesor dari Hokkaido University di Sapporo, Jepang.

Negishi kepada para wartawan di Stockholm, melalui telepon dari Indiana, mengatakan, dia amat gembira dan kaget menerima telepon dari Komite Nobel pada pagi buta kemarin. Dia mengaku memimpikan penghargaan tersebut ”setengah abad lalu”. ”Penghargaan Nobel menjadi mimpi saya ketika saya berusia 20-an,” ujarnya. Dia akan menggunakan hadiah sebesar 10 juta kronor (sekitar Rp 12 miliar) untuk melakukan riset.

”Saya baru mencapai separuh cita-cita saya dan saya masih akan bekerja beberapa tahun lagi,” ujar Negishi. Heck dari Filipina berkomentar, ”Awalnya seperti pekerjaan yang terus berlangsung, tidak jelas apakah berhasil atau tidak.”

Menurut Komite Nobel, pada musim semi tahun ini sejumlah ilmuwan mengumumkan telah berhasil melekatkan atom palladium pada graphene—temuan terobosan pemenang Nobel Fisika 2010.

Ultratipis

Dua ilmuwan kelahiran Rusia, Andre Geim (52) dan Konstantin Novoselov (36), menerima Nobel Fisika tahun ini. Keduanya adalah peneliti dan guru besar di Universitas Manchester, Inggris.

Keduanya sukses menemukan material karbon yang ultratipis dan dikenal sebagai material terkuat, 100 kali lipat lebih kuat dari logam, yang dikenal sejauh ini. Material ini disebut graphene.

Graphene merupakan materi yang vital untuk komputer supercepat dan layar sentuh yang transparan.

Sekarang, dalam berbagai percobaan, graphene terbuka kemungkinan untuk digunakan sebagai bahan pembuatan satelit, pesawat udara, dan mobil. Demikian ditegaskan Komite Nobel di Stockholm. ”Transistor graphene diprediksi akan jauh lebih cepat dibandingkan dengan transistor silikon yang sekarang ada. Hasilnya adalah komputer yang amat efisien,” tulis situs resmi Nobelprize.com.

Keduanya asli Rusia dan memulai karier fisikanya di Rusia. Mereka bekerja sama di Belanda sebelum pindah ke Inggris

Tiga Dokter Penemu HIV dan HPV Berbagi Hadiah Nobel Kedokteran Tahun 2008

iga orang ilmuwan Eropa berbagi penghargaan Nobel Kedokteran 2008 yang diumumkan di Stockholm, Swedia, Senin (6/10). Masing-masing dua peneliti Perancis, Francoise Barre-Sinoussi dan Luc Montagnier, serta seorang peneliti Jerman, Harald zur Hausen.

Mereka dinilai besar dalam kontribusinya mendeteksi penyebaran virus penyakit mematikan yang menyerang manusia saat ini. Francoise Barre-Sinoussi dan Luc Montagnier adalah penemu virus HIV (human immunodeficiency virus), sementara Zur Hausen adalah penemu HPV (human papillioma virus) yang menyebabkan kanker leher rahim.

Dalam pengumumannya, Komite Nobel menyatakan bahwa penemuan Barre-Sinoussi dan Montegnier merupakan landasan utama untuk memahami sifat biologi penyakit AIDS dan cara pengobatannya. Hasil penelitian keduanya pada awal tahun 1980-an membuat penelitian virus semakin berkembang pesat.

“Kombinasi antara penemuan dan pengobatan berhasil menurunkan penyebaran penyakit dan benar-benar meningkatkan harapan hidup penderitanya,” demikain kesimpulan yang diambil komite tersebut.

Demikian pula dengan temuan Zur Hausen bahwa HPV tertentu menyebabkan kanker leher rahim yang saat ini merupakan jenis kanker pembunuh kedua di dunia. Penemuan tersebut membuat pembuatan obat dan vaksin tepat sasaran. Mereka berhak mendapatkan hadiah total 10 juta kronor atau setara dengan Rp 13,4 miliar. Hadiah tersebut akan dibagi empat, masing-masing untuk ketiga peneliti dan untuk Pusat Riset Kanker Jerman (GCRC) di Heidelberg

Penemu Protein Yang Bisa Bersinar Meraih Nobel Kimia Tahun 2008

Protein yang satu ini memang luar biasa. Dia bersinar kehijauan. Penemu Green Fluorescent Protein, yang ditemukan pada ubur-ubur Aequorea victoria pada tahun 1962, pada hari Rabu (8/10) ditetapkan oleh Royal Swedish Academy of Sciences sebagai penerima penghargaan Nobel Kimia 2008.

Tiga penemu yang menerima Hadiah Nobel Kimia itu adalah doktor kimia organik Osamu Shimomura, warga negara Jepang, Martin Chalfie ahli neurobiology, warga negara Amerika Serikat, lahir tahun 1947, besar di Chicago, AS, dan yang ketiga adalah Roger Y Tsien, warga AS, kelahiran New York, AS. Gelar doktor di bidang fisiologi dari Cambridge University, Inggris. Masing-masing mendapat sepertiga total hadiah 10 juta krone Swedia, sekitar Rp 14 miliar—bukan Rp 14 juta seperti pada Kompas, Rabu (8/10).

Protein yang semula hanya ditemukan warna hijau itu kini menjadi salah satu alat yang amat bermanfaat di bidang biosains.

Dengan memanfaatkan Green Fluorescent Protein (GFP), para peneliti meningkatkan cara mengamati proses-proses dalam tubuh yang semula tak terlihat. Misalnya, perkembangan sel-sel saraf di dalam otak atau bagaimana penyebaran sel kanker.

Puluhan ribu protein yang beragam terdapat di dalam tubuh makhluk hidup. Protein-protein ini mengendalikan proses-proses kimia penting secara detail.

Bila mesin protein ini malfungsi, biasanya disusul dengan jatuh sakit. Itu sebabnya, biosains merasa perlu memetakan berbagai protein yang ada dalam tubuh.

Pengembangan

Penghargaan Nobel Kimia 2008 ini jatuh pada peneliti yang menemukan pertama kali GFP dan peneliti-peneliti yang melakukan penelitian lanjutan atas temuan GFP itu. Pengembangannya telah berhasil sampai dimanfaatkannya GFP sebagai alat pencari dan pengikat pada biosains.

Dengan menggunakan teknologi deoxyribo nucleic acid (DNA), para ilmuwan tersebut mampu menghubungkan GFP pada protein-protein lainnya.

Dengan menggunakan protein GFP sebagai penanda yang bersinar (di tempat gelap) telah memungkinkan mereka mengamati gerakan, posisi, dan interaksi dari protein-protein yang terikat.

Bahkan kini para peneliti dapat mengikuti ”nasib” berbagai jenis sel dengan bantuan GFP. Misalnya, sel saraf yang rusak pada penyakit Alzheimer, atau bagaimana sel beta penghasil insulin terbentuk di pankreas saat pertumbuhan embrio (bakal bayi).

Dalam sebuah percobaan yang spektakuler, ilmuwan sukses mengikat beragam sel saraf otak tikus dengan bermacam warna GFP. Warna-warna selain hijau ditemukan Roger Y Tsien. Dia juga menemukan penjelasan mengapa GFP bisa bersinar di kegelapan (fluorescents).

Hadiah Nobel Untuk Bidang Fisika Tahun 2008 Dimenangi Oleh Tiga Orang

Yoichiro Nambu (87) seorang warga Amerika Serikat kelahiran Tokyo dan Makoto Kobayashi (64) bersama Toshihide Maskawa (68) dari Jepang berbagi penghargaan Nobel Fisika yang diumumkan Royal Swedish Academy of Sciences pada Selasa (7/10) di Stockholm, Swedia, karena penemuan mereka di bidang fisika subatomik.

Ilmuwan Amerika Serikat dan Jepang tersebut mengerjakan penelitian secara terpisah yang akhirnya mampu membantu menjelaskan mengapa sebagian besar dari alam semesta terbuat dari materi dan bukan dari anti-materi. Penjelasan itu didapatkan dari sebuah proses yang disebut sebagai broken symmetries.

Melalui penelitian tersebut mereka mencari penjelasan tentang keberadaan (eksistensi) dan perilaku partikel terkecil yang disebut quarks.

Mendasari model standar

Nambu, seorang profesor pada University of Chicago, dikenal luas akan penemuannya pada tahun 1964 tentang mekanisme spontaneous broken symmetry. Penemuan itu kemudian mendasari Model Standar fisika yang menyatukan tiga dari empat kekuatan fundamental alam: kuat (strong), lemah (weak), dan elektromagnetik—meninggalkan hal yaitu gravitasi (gravity).

Hasil penelitian Nambu juga memengaruhi perkembangan quantum chromodynamics-—sebuah teori yang menjelaskan sejumlah interaksi antara proton dan neutron yang membentuk atom, dan quarks yang membentuk proton dan neutron.

Sementara itu, Kobayashi dan Maskawa tahun 1972 menemukan enam tipe quarks, yaitu atas (up), bawah (down), asing (strange), menarik (charm), dasar (bottom), dan bagian atas (top). Semua itu kemudian ditemukan dalam percobaan-percobaan fisika partikel energi tinggi (high-energy particle physics).

”Fakta bahwa dunia kita tidak beperilaku secara simetris sempurna karena ada penyimpangan dari simetri yang terjadi pada ukuran mikroskopik,” demikian diungkapkan Komite Nobel. Broken symmetry memungkinkan partikel dari materi mengatasi partikel anti-materi.

Terkait ledakan besar

Dari hasil penelitian di tingkat mikroskopis tersebut kini diketahui bahwa proses seperti itulah yang menyelamatkan semua bentuk kehidupan. Hal ini kemudian dikaitkan dengan Teori Ledakan Besar, teori tentang asal mula terbentuknya alam semesta.

Pasalnya, jika alam semesta simetris, anti-materi akan secara konstan berjumpa dengan materi dan akan menghasilkan ledakan energi.

Para ahli fisika kini mencari spontaneous broken symmetry dan mekanisme Higgs yang membawa ketidakseimbangan pada peristiwa Ledakan Besar, sekitar 13,7 miliar tahun lalu. Para ilmuwan pada akselerator terbesar dan berkekuatan amat tinggi, Large Hadron Collider (LHC) di European Organization for Nuclear Research (CERN) di Swiss saat ini sedang mencari partikel Higgs saat mengoperasikan lagi LHC pada musim semi 2009.

Komentar berbeda

Dua peneliti Jepang berbeda komentarnya akan penghargaan yang mereka terima.

Kobayashi menyatakan, ”Ini benar penghormatan besar bagi saya dan saya tidak percaya ini.”

Namun, Masakawa mengungkapkan kepada kantor berita Kyodo, ”Ada pola tentang Penghargaan Nobel. Sampai tahun lalu, saya tidak berharap mendapat Nobel, namun tahun ini saya telah meramalkannya.” Namun, ”Saya tidak terlalu suka karena hiruk pikuk perayaannya.”

Nambu akan menerima separuh hadiah uang tunai sebesar 10 juta krone Swedia (sekitar Rp 14 juta)—berarti sekitar Rp 7 juta. Sementara Kobayashi dan Masakawa mendapat masing-masing seperempatnya.