Arsip Kategori: Geology

Benua Afrika Ternyata Memiliki Cadangan Air Terbesar Dunia dan Tersembunyi Dibawah Gurun

Para ilmuwan mengatakan, benua Afrika yang kering berada di atas cadangan air tanah yang besar. Mereka mengatakan, volume total air di bawah tanah 100 kali lebih besar dari yang ditemukan di permukaan.

Tim itu telah membuat peta yang merinci skala dan potensi sumber air tersembunyi tersebut. Dalam tulisan di jurnal Environmental Research Letters, mereka menekankan bahwa pengeboran berskala besar bukan jalan terbaik untuk meningkatkan persediaan air.

Di seluruh Afrika terdapat lebih dari 300 juta orang yang tidak memiliki akses untuk air minum yang aman.

Kebutuhan air dipastikan bertambah dalam beberapa dekade mendatang seiring pertumbuhan populasi dan keperluan irigasi lahan.

Danau dan sungai air tawar sering mengalami banjir atau kekeringan sehingga tidak sepenuhnya bisa diandalkan untuk konsumsi atau pertanian. Saat ini hanya 5 persen lahan yang mendapat irigasi.

Kini, para ilmuwan untuk pertama kalinya dapat melaksanakan analisis benua terhadap air yang tersembunyi di bawah permukaan. Para ilmuwan dari Survei Geologi Inggris (BGS) dan University College London telah memetakan jumlah dan potensi dari cadangan air tersebut.

Helen Bonsor dari BGS adalah salah satu penulis artikel itu. Ia mengatakan, hingga saat ini air tanah itu masih belum terlihat dan ia berharap peta itu dapat membuka mata dunia terhadap potensinya.

“Ada cadangan air yang sangat besar di Afrika Timur, yaitu di Libya, Aljazair, dan Chad,” kata dia. “Jumlahnya sama dengan 75 m ketebalan air di seluruh wilayah itu, sangat besar.”

Peristiwa kuno

Berdasarkan perubahan iklim yang mengubah Sahara menjadi gurun pasir dalam beberapa abad, terakhir kalinya ceruk air bawah tanah terisi penuh adalah 5.000 tahun silam. Para ilmuwan mengumpulkan informasi dari peta hidro-geologi dari pemerintah negara-negara Afrika dan 283 studi.

Mereka mengatakan, peta baru itu mengindikasikan bahwa banyak negara yang mengalami kekeringan ternyata memiliki simpanan air. Namun, mereka menganjurkan masyarakat menggunakan pompa air manual biasa dan bukan pengeboran agar cadangan tersebut tidak cepat habis.

Menurut Helen Bonsor, terkadang cara ekstraksi yang lebih lambat bisa lebih efisien.

Bukit Buatan Akan Dibangun Untuk Antisipasi Gempa dan Tsunami Di Mentawai

Salah satu gempa besar yang dikhawatirkan merusak adalah gempa Mentawai. Besaran gempa diperkirakan mencapai 8,9 Skala Richter dan berpotensi menimbulkan tsunami. Area paling terancam antara lain Pagai, Mentawai, Sipora, dan Kota Padang.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, potensi bahaya gempa dan tsunami yang berpusat di Mentawai itu harus diwaspadai. Sejumlah analisis memperkirakan tingkat bahaya yang bisa ditimbulkan.

“Dalam waktu 20-30 menit, tsunami akan mencapai Kota Padang. Ketinggian gelombang tsunami 6-10 meter dan mencapai jarak 5 km,” ungkap Sutopo dalam konferensi pers di gedung BNPB, Juanda, Jakarta Pusat, Kamis (19/4/2012).

Sebagai antisipasi gempa dan tsunami yang belum bisa diperkirakan waktu kejadiannya itu, Badan Nasional Penanggulan Bencana bekerja sama dengan lembaga di dalam dan luar negeri mengembangkan strategi untuk meminimalisasi resiko bencana.

Sutopo mengatakan, ada 1,3 juta jiwa yang hidup di tepi pantai Sumatera Barat. Sejumlah warga harus menuju tempat lebih tinggi selama 40 menit. Sementara tsunami datang dalam waktu 20-30 menit, waktu mengungsi tak mencukupi.

Sebagai solusinya, direncanakan pembangunan shelter vertikal. Tujuannya adalah menjadi tempat penampungan sejumlah warga agar terhindar dari dampak tsunami. Pembangunan shelter direncanakan pada tahun 2013-2014.

“Padang perlu 300-500 shelter. Saat ini baru ada 7. Semua bangunan shelter ini harus tahan gempa,” ungkap Sutopo.

Untuk mendukung shelter, direncanakan juga pembangunan bukit buatan yang mampu menampung 30.000 – 75.000 penduduk saat tsunami terjadi. Bukit berukuran 100 x 130 meter. “Sudah ada 11 lokasi potensial untuk bukit buatan di Padang,” papar Sutopo.

Shelter dan bukit buatan juga akan dibangun di Bandara Tabing. Namun, pembangunannya masih akan dikaji untuk mengetahui dampak pembangunan pada aktivitas penerbangan di bandara setempat.

Untuk memenuhi kebutuhan shelter, diharapkan masyarakat juga ikut berpartisipasi. salah satu bentuknya adalah pembangunan shelter mandiri. Saat ini, salah satu shelter mandiri adalah Masjid Al Muhajirin di Pasir Putih Padang.

Shelter dalam bentuk tempat ibadah adalah salah satu yang efektif. Di Mentawai, di mana kebanyakan penduduk adalah Kristiani, shelter mandiri bisa berupa gereja.

Selain shelter dan bukit buatan, direncanakan juga pemenuhan kebutuhan 1000 sirene, 553 Digital Video Broadcast, 200 seismometer, dan lainnya. BNPB juga berencana untuk mengedukasi masyarakat menyelamatkan diri saat gempa dan tsunami.

“Pemerintah menyediakan Rp 3-5 triliun untuk pembangunan, sistem peringatan dini, dan kebutuhan lainnya,” kata Sutopo.

Proses Terjadinya Pembalikan Medan Magnet Bumi Beserta Akibatnya Pada Manusia

Sepanjang sejarah, kutub magnetik bumi mengalami pembalikan hingga ratusan kali. Kini ilmuwan, seperti dikutip Livescience, mengamati peristiwa pembalikan tersebut mulai terjadi.

Kutub magnetik bumi dihasilkan oleh atom-atom besi di inti bumi yang bersusun bersama membentuk magnet raksasa. Batang magnet raksasa di tengah bumi inilah yang menyebabkan jarum kompas selalu mengarah ke kutub utara dan selatan.

Namun catatan geologi dari tanah di dasar Samudera Atlantik menunjukkan kutub magnetik bisa berbalik arah oleh sebab yang belum diketahui. Perubahan ini menyebabkan jarum kompas berputar 180 derajat dari posisi saat ini.

Proses pembalikan arah memakan waktu tak singkat yaitu sekitar 1.000-10.000 tahun. Selama waktu itu pula medan magnet bumi melemah. “Bumi akan memiliki lebih dari dua kutub magnet hingga inti mengumpulkan kekuatannya,” ujar Monika Korte, Direktur ilmiah dari Niemegk Geomagnetic Observatory, Jerman.

Pelemahan medan magnet selama proses pembalikan akan mempengaruhi kehidupan di bumi. Maklum saja, medan magnet merupakan tameng pelindung bumi dari serangan partikel kosmik berbahaya yang datang dari luar angkasa. Apakah pelemahan ini mengancam keselamatan manusia?

Profesor Geofisika dari University of Rochester, John Tarduno mengatakan, tanpa medan magnet, bumi mudah ditembus badai matahari. Partikel kosmik bereaksi dengan atmosfer menciptakan lubang ozon besar yang bertahan selama 1-10 tahun. “Penyakit kanker kulit akan meningkat,” ujar dia.

Pelemahan medan magnet seperti ini juga dikaitkan dengan penyusutan populasi manusia Neandertal oleh ahli dari geologi dari Institute of Earth Physics of Paris, Jean-Pierre Valet.

Korte berbeda pendapat dengan dua peneliti sebelumnya. Menurut dia, selama proses pembalikan, atmosfer bekerja sebagai tameng cadangan dan menepis partikel berbahaya. Karenanya tak akan ada dampak berbahaya pada tubuh manusia.

Meski demikian, ia mengingatkan, teknologi komunikasi dan jaringan listrik menjadi rentan dirusak oleh partikel kosmik. “Penting bagi manusia menemukan strategi mitigasi,” ujar Korte.

Pembalikan medan magnetik bumi terakhir kali terjadi sekitar 780 ribu tahun lalu ketika manusia berada di Zaman Batu. Sejak 160 tahun terakhir, ilmuwan mengamati tumbuhnya benih pembalikan medan magnetik di sekitar Brasil dan Atlantik Selatan. “Pertumbuhan berada pada tingkat yang membahayakan,” kata Tarduno.

Pulau Sumatera dan Jawa Masih Menyatu Sampai Tahun 416 Masehi

Para ahli telah bersepakat bahwa Pulau Jawa dengan Sumatera dulu menyatu. Bersama Kalimantan, kemudian membentuk dataran yang disebut Sunda Besar. Pemisahan Jawa dan Sumatera diyakini adalah akibat gerakan lempeng Bumi, walaupun tak sedikit yang berpendapat bahwa letusan Gunung Krakatau sebagai penyebab pemisahan ini.

Pendapat yang mendukung pemisahan Jawa dan Sumatera karena letusan Krakatau biasanya mengacu pada Pustaka Raja Purwa, yang ditulis pujangga Jawa, Ronggowarsito, pada tahun 1869. Dalam buku ini dikisahkan, letusan Gunung Kapi—yang belakangan diidentifikasi sebagai Gunung Krakatau—menjadi penyebab pemisahan Pulau Jawa dan Sumatera. Peristiwa ini disebutkan terjadi pada tahun 416 Masehi.

Peneliti dari Los Alamos National Laboratory (New Mexico), Ken Wohletz, termasuk yang mendukung tentang kemungkinan letusan besar Krakatau purba hingga memisahkan Pulau Jawa dan Sumatera. Dia membuat simulasi tentang skenario letusan super. Namun, berbeda dengan Ronggowarsito, Ken menyebutkan, letusan itu kemungkinan terjadi puluhan ribu tahun lalu.

Melalui penanggalan karbon dan radioaktif, para ahli geologi memastikan bahwa Krakatau pernah beberapa kali meletus hebat. “Sepertinya pembentukan Selat Sunda tidak mungkin karena sebuah letusan tunggal besar, seperti ditulis dalam legenda (Pustaka Raja Purwa) itu. Setidaknya ada dua periode letusan besar di Krakatau, tetapi itu sekitar ratusan bahkan ribuan tahun lalu, tidak pada tahun 416 Masehi,” sebut Zeilinga de Boer dan Donald Theodore Sannders dalam Volcanoes in Human History, 2002.

Walaupun pencatatan Ronggowarsito tentang waktu letusan masa lalu Krakatau diragukan ketepatannya, pujangga ini barangkali benar soal “pemisahan” Pulau Jawa dengan Sumatera yang berkaitan erat dengan letusan Krakatau. Namun, pemisahan Jawa dan Sumatera sepertinya bukan karena letusan Krakatau. Sebaliknya, Krakatau terbentuk karena pemisahan kedua pulau ini sebagai produk gerakan tektonik di dalam Bumi.

Geolog dari Museum Geologi, Indyo Pratomo, mengatakan, pemisahan Jawa dan Sumatera terjadi karena gerakan tektonik. ”Pulau Jawa dan Sumatera bergerak dengan kecepatan dan arah yang berbeda akibat tumbukan lempeng Indo-Australia ke Euro-Asia. Perbedaan ini menyebabkan terbukanya celah di dalam Bumi,” kata Indyo.

Sebagaimana Indyo, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono juga meyakini proses tektoniklah yang membentuk Krakatau. Pulau Jawa, menurut Surono, bergerak ke arah timur dengan kecepatan sekitar 5 sentimeter (cm) per tahun, sedangkan Pulau Sumatera bergerak ke arah timur laut dengan kecepatan 7 cm per tahun. Proses ini menyebabkan Pulau Sumatera bergerak ke arah utara dan meninggalkan Pulau Jawa sehingga membuka kerak Bumi di Selat Sunda.

Sejauh ini, Sumatera telah berputar sekitar 40 derajat dibandingkan Jawa. Jelle Zeilinga dan Donald Theodore menyebutkan, separuh dari putaran ini terjadi dalam waktu dua juta tahun. Perputaran ini menyebabkan adanya perenggangan di antara dua pulau, menjadi jalan bagi batu yang meleleh, atau magma, untuk keluar di sepanjang zona rekahan Krakatau, sehingga membentuk tubuh gunung ini dari dasar laut.

Penyaluran energi

Surono mengatakan, letusan gunung api pada prinsipnya terjadi sebagai bentuk penyaluran energi dari bawah Bumi yang dikumpulkan oleh gerakan lempeng Bumi. Selain berupa letusan gunung api, energi ini juga bisa dilepaskan dalam bentuk gempa bumi.

“Letusan gunung api dan gempa bumi biasanya saling mengisi,” katanya. Di Sumatera, energi dari gerakan lempeng lebih banyak disalurkan dalam bentuk tingginya intensitas gempa di sepanjang Sesar Besar Sumatera. “Kondisi ini menyebabkan di Sumatera tidak ada lagi letusan gunung api yang berskala besar.”

Letusan supervolcano Toba yang mengubah Bumi, terakhir terjadi sekitar 74.000 tahun lalu. “Saat itu, mungkin sesar besar Sumatera kondisinya tidak seaktif sekarang sehingga akumulasi energinya dilepaskan dalam bentuk letusan gunung api Toba,” kata Surono.

Sebaliknya, di Pulau Jawa, intensitas gempa darat relatif sedikit dibandingkan Sumatera. Namun, letusan gunung apinya relatif lebih sering. “Energi yang dikumpulkan dari tumbukan lempeng kebanyakan disalurkan dalam bentuk letusan gunung karena sesar darat di Jawa tidak ada yang besar,” katanya.

Bagaimana dengan Krakatau yang berada di antara dua sistem geologi Jawa dan Sumatera yang berbeda ini?

Krakatau yang berada di titik engsel antara Pulau Jawa dan Sumatera menjadi unik. Ditambah lagi dengan keberadaan lautan yang mengelilingi pulau gunung api ini, Krakatau menjadi sangat berbahaya. Jika terjadi kebocoran dan air laut menembus ke dalam Bumi hingga mendekati kantong magma yang mendidih, letusan besar bisa terjadi. Padahal, jika terjadi letusan besar, kemungkinan terjadinya tsunami juga sangat tinggi.

Kemunculan kembali Anak Krakatau dari dalam laut pada tahun 1930-an, setelah letusan besar pada Agustus 1883 dan menghancurkan nyaris seluruh tubuh pulau gunung api ini, menandakan aktivitas tektonik yang menyuplai magma terus terjadi. Akankah Anak Krakatau menjadi seperti “ibunya” yang meletus hebat, mengirim tsunami besar sehingga menewaskan lebih dari 36.000 jiwa?

Geolog dan juga penulis buku populer, Simon Winchester (2003), menyebutkan, proses-proses yang mengarah pada kejadian petaka tahun 1883 tidak bisa dihentikan. Selama proses subduksi atau penunjaman lempeng masih terjadi, selama itu pula pasokan energi dan magma ke Krakatau masih akan terus terkumpul.

Masalahnya, kita tidak akan pernah tahu kapan dan seberapa kuat gunung api akan meletus. “Kalau ada alat yang dapat meramalkan letusan gunung api akan saya beli semua. Termasuk penjualnya,” Surono berkelakar. “Kita tidak bisa melawan alam. Akan tetapi, yang bisa dilakukan adalah bagaimana kita membangun sistem mitigasi bencana yang kuat dan menyiapkan masyarakat untuk terus waspada,” lanjutnya.

Ditemukan Kawah Gunung Berapi Raksasa Dibawah Permukaan Es Antartika

Para ilmuwan dari British Antarctic Survey berhasil memetakan rangkaian gunung berapi di bawah laut beku di dekat Antartika. Beberapa di antaranya masih aktif. Ini merupakan penemuan gunung berapi bawah laut pertama di kawasan tersebut.

Menggunakan kapal yang dilengkapi dengan teknologi pemetaan dasar laut RRS James Clark Ross, para ilmuwan menemukan 12 gunung berapi di daerah tersebut. Tinggi gunung bervariasi dan ada yang mencapai 3.000 meter lebih dari dasar laut.

Dalam ekspedisi ini, mereka juga menemukan kawah berdiameter 5.000 meter. Kawah ini diduga terbentuk akibat letusan gunung berapi. Sebanyak tujuh gunung yang aktif terhampar membentuk rantai mirip gugusan pulau.

Penemuan ini sangat penting untuk memahami apa yang sesungguhnya terjadi ketika gunung berapi di bawah laut meletus atau runtuh. Juga untuk mengetahui seberapa besar potensi terjadinya tsunami yang bisa ditimbulkan.

Selain itu, hal ini menarik untuk melihat ragam serta seberapa banyak kehidupan makhluk laut yang berada di lanskap bawah laut tersebut. Itu terkait dengan air panas yang ditimbulkan oleh aktivitas gunung berapi.

Berbicara pada simposium internasional bertema “Antarctic Earth Sciences” di Edinburgh, Inggris, pada awal bulan ini, Phil Leat dari British Antarctic Survey menuturkan, “Masih banyak rahasia aktivitas gunung berapi di bawah laut yang belum kita pahami.”

Menurut Leat, teknologi pemetaan bawah laut yang ada saat ini tak hanya menyuguhkan sepotong cerita tentang evolusi bumi, “Tapi juga memberi petunjuk mengenai seberapa bahaya ancaman yang ditimbulkan terhadap wilayah padat penduduk.”

Rangkaian gunung berapi bawah laut ini terbentang di South Sandwich Islands. Letaknya terkucil dan air laut di atasnya sebagian tertutup salju. Terakhir kali terjadi letusan di wilayah ini pada 2008. Leat mengaku tim yang dipimpinnya cukup terkejut oleh penemuan itu.

“Kami tak bermaksud mencari gunung berapi di sana. Kami mendatangi wilayah ini karena ada daerah yang tak dikenal di peta dan kami juga tak tahu ada apa di bawah sana. Kami hanya ingin mengisi kekosongan itu,” ucap Leat.

Selama penjelajahan, Leat mengaku banyak hal mengejutkan terjadi. “Sangat menyenangkan melihatnya,” ucap Leat. “Ketika kami sedang asyik mengamati gambar sonar dasar laut di layar monitor, tiba-tiba dasar laut seolah menjulang menghampiri kapal.”

Lain waktu, dia menuturkan, pada suatu malam mereka bertemu dengan gunung berapi yang sangat besar. Gunung tersebut sangat dekat dan seolah akan menerjang kapal RRS James Clark Ross. “Sangat menakutkan. Kami kira kapal akan membentur puncak gunung tersebut,” ujarnya.

Beruntung, kapal tersebut segera memutar haluan. Ketika pada siang hari mereka kembali ke daerah itu, ternyata didapati beberapa puncak gunung memang timbul ke permukaan laut. Tingginya sekitar 50 meter dari permukaan laut.

Meski kebanyakan dari puncak gunung tersebut tak terlihat dari permukaan laut dan harus dibantu dengan perangkat pemetaan tiga dimensi untuk mendeteksinya, para ilmuwan berkeyakinan bahwa yang mereka temukan adalah gunung berapi.

Patahan Lempengan Tektonik Masih Aktif Bergerak Sebanyak 2 MM Per Tahun

Patahan Lembang yang terletak di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, aktif bergerak. Perhitungan oleh pakar geologi dari Institut Teknologi Bandung terkait pergerakan itu sebesar 2 milimeter per tahun. Masyarakat harus diberi pemahaman tentang risiko bencana dan upaya mitigasi.

Peneliti Irwan Meilano memasang sejumlah sensor yang dipantau lewat satelit di dua kelompok lokasi yang terbagi oleh patahan. ”Alat global positioning system yang terpasang menunjukkan bahwa ada pergerakan dengan rata-rata 2 milimeter per tahun. Ini menunjukkan bahwa Patahan Lembang tetap aktif bergerak,” kata Irwan, Jumat (25/3) di Bandung.

Irwan menyatakan, pergerakan dengan ukuran itu tergolong rendah.

Dosen Teknik Geologi ITB, Agus Handoyo Harsolumakso, mengatakan, belum banyak masyarakat yang mengetahui keaktifan Patahan Lembang. Gempa besar di patahan itu pun belum pernah tercatat secara ilmiah. ”Bukti-bukti keaktifannya masih terus diteliti,” kata Agus.

Pakar Geologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto, yakin gempa bumi telah terjadi berulang kali. Ia menemukan tanah yang berlapis-lapis di lereng patahan, misalnya di Situ Umar. Lapisan tanah itu terjadi karena gempa bumi yang berulang kali.

”Pada kedalaman sekitar 150 sentimeter, ada perbedaan lapisan tanah di Situ Umar. Di bawahnya terdapat tanah dengan kontur lapisan yang cenderung tidak beraturan. Kontur semacam itu terjadi karena guncangan gempa. Kontur serupa ditemukan di lapisan tanah dengan kedalaman 3,5 meter,” kata Eko.

Berdasarkan perhitungannya, gempa terakhir di tempat itu terjadi sekitar 500 tahun lalu.

Bertolak dari itu, peneliti dari LIPI, Danny Hilman Natawidjaja, menyimpulkan, Patahan Lembang adalah patahan yang masih aktif. Salah satu kriterianya adalah bentuk riil yang bisa terlihat secara kasatmata saat ini. Selain itu, pola penumpukan lapisan tanah menunjukkan adanya pergerakan lempeng secara vertikal.

Keaktifan lempeng ini menunjukkan wilayah Lembang dan Kota Bandung rentan terhadap dampak gempa bumi. Kawasan patahan kini semakin padat penduduk. Terlebih lagi, Kota Bandung yang berjarak sekitar 15 kilometer arah selatan dari patahan itu berdiri di atas tanah dengan tingkat kematangan rendah.

”Kota Bandung adalah cekungan rendah dengan tingkat kematangan tanah yang paling muda dibandingkan area sekitarnya. Dari sisi geologi, Bandung tidak mantap,” ujar dosen Teknik Geologi ITB, Budi Brahmantyo.

Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat akan bencana gempa bumi harus segera disosialisasikan. Menurut Budi, salah satu aspek yang terlupakan adalah jalur evakuasi dan lokasi berkumpul yang aman jika terjadi gempa.

Pulau Honshu Di Jepang Bergeser 2,4 Meter Akibat Tsunami dan Gempa

Gempa berkekuatan 8,9 skala Richter yang mengguncang Jepang telah menggeser Pulau Honshu sejauh delapan kaki atau sekitar 2,4 meter dari posisinya semula. Demikian disampaikan US Geological Survey (USGS), Sabtu (12/3/2011).

“Itu adalah angka yang masuk akal,” ujar ahli seismologi dari USGS, Paul Earle. Dikatakan Earle, pergeseran juga seharusnya terjadi di pulau-pulau di Indonesia dan Cile yang terkena imbas tsunami Jepang.

Lazimnya, lempengan Pasifik bergeser sekitar 83 milimeter setiap tahunnya. Namun, gempa besar dapat menggeser lempengan Pasifik secara drastis, yang disusul dengan konsekuensi katastropik.

Gempa bumi yang diikuti tsunami telah memorak-porandakan kota-kota yang berada di wilayah timur laut Jepang. Perdana Menteri Naoto Kan mengatakan, gempa kali ini merupakan bencana nasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Gempa juga menyebabkan kebocoran pada bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi yang dioperasikan Tokyo Electric Power Co atau Tepco, Sabtu. Hingga kini, warga yang berada pada radius 20 kilometer telah diungsikan.

Telur Telur Bisa Berdiri Pada Siang Hari Saat Perayaan Imlek

Telur Telur Berdiri pada Perayaan Imlek

Telur Telur Berdiri pada Perayaan Imlek

Tahun baru Imlek berasal dari ribuan tahun, sejarah, dan budaya dengan perayaan yang beragam dari berbagai mitos dan tradisi.

Beragam cara untuk merayakan ritual dan kegiatan ibadah dalam menyambut perayaan imlek, yang selalu diadakan pada bulan pertama dalam kalender tahun China.

Moment inilah yang dimanfaatkan oleh Teddy Ngangi, selaku pemilik Lembaga Bimbel Primagama di Batam, untuk mengajarkan kepada siswa-siswi tentang pelajaran gravitasi bumi yang terjadi sekali dalam satu tahun.

Dan itupun hanya berlangsung dalam waktu satu jam yakni pukul 12 siang hingga pukul 1 siang. Dengan cara menggunakan telur Ayam, lalu telur tersebut diletakkan dalam keadaan berdiri.

Kalau pada hari biasa telur tidak bisa berdiri, hanya ketika momen Imlek inilah semua bisa dilakukan.

“Gravitasi bumi ini hanya terjadi dalam satu tahun sekali, dan itu selalu terjadi pada perayaan Imlek, ini dibuktikan lewat telur Ayam. Saya sudah sering melakukannya dan saat ini saya ingin siswa-siswa saya juga mengetahui hal ini bahwa sebagai pembuktian daya tarik dari bumi tersebut luar biasa dahsyat” ujarnya.

Menyaksikan hal tersebut banyak siswa yang ikut mencoba dan lantas ketika telur tersebut bisa berdiri, siswa terkejut sekaligus senang karena ini merupakan suatu hal yang menjadi pelajaran baru yang mereka dapatkan disaat bergabung dengan lembaga bimbel tersebut. Percaya atau tidak, tak ada salahnya jika ada pun mulai mencoba.

Sinar Matahari Dapat Dipakai Memprediksi Gempa Dengan Tingkat Akurasi 80 Persen

Para ahli bersikukuh gempa bumi sulit diprediksi. Namun R Shanmugasundaram mencoba mematahkan anggapan itu. Ia mengembangkan metode sinar matahari untuk memprediksi datangnya gempa.

Caranya, dengan melihat jatuhnya sinar matahari pada titik bumi.

Matahari adalah bintang yang paling dekat dengan planet bumi. Jarak antara bumi dan matahari sekitar 94,5 juta mil pada Aphelion (1 Juli) dan 91,5 juta mil pada Perihelion (1 Januari). Jarak dari dua tanggal tersebut tidak terlalu jauh dari rata-rata jarak, yaitu 93 juta mil. Namun, jumlah radiasi yang diterima adalah 7 persen lebih besar pada Perihelion daripada Aphelion.

Teori Fisika dari planet Bumi menunjukkan bahwa bumi berputar pada porosnya sendiri dengan kemiringan 23,5 derajat dan melengkapi satu kali siklus dalam 24 jam. Sebagai tambahan, dalam perjalanan bumi mengelilingi matahari, dijaga kestabilannya dengan garis Axis (garis imajiner sekitar yang objek yang berputar), yang jarak sudutnya 66,5 derajat dari orbit. Akibatnya, sudut di mana sinar matahari jatuh di titik bumi juga berubah.

Ketika bumi berputar pada porosnya sendiri, dengan kemiringan 23,5 derajat, untuk alasan yang tidak diketahui, tingkat derajatnya akan mengalami kemiringan selama beberapa hari dan akan kembali normal. Hal ini memungkinkan lava untuk mendorong mantel bumi.

Dengan kata lain, kenaikan dari sudut kemiringan bumi secara otomatis mengaturnya dengan benar pada posisi semula. Kondisi ini mengaktifkan platetektonik dan lava cair untuk cenderung menusuk bagian lebih yang lemah pada piring bumi yang menyebabkan gempa bumi dan erupsi vulkanik. Hal ini tergantung pada kerak bumi di mana isinya akan cenderung keluar.

Jadi, variasi ini dapat dicatat setiap hari pada permukaan yang halus dan dibangun di arah Utara/Selatan. Yaitu, dengan menggunakan sinar matahari terus-menerus dan tergantung tempat bencana anomali ditentukan. Ini hanya salah satu metode yang terus-menerus dicatat untuk melihat deformasi kerak bumi sehingga gempa kecil maupun besar dapat diprediksi.

Seperti dikutip dari earthquake.itgo.com, metode ini telah diuji coba selama beberapa tahun terakhir secara berkesinambungan. Hasilnya menunjukan tingkat akurasi hingga 80 persen.

Gunung Berapi Titan Meletus Mengeluarkan Es Beku dan Bukan Lava Panas

Cassini, pesawat ruang angkasa milik NASA, menemukan gunung berapi berselimut es di Titan. Temuan itu tampak dari hasil pemetaan tiga dimensi di Sotra Facula, wilayah di Titan yang merupakan bulan terbesar planet Saturnus. Tampak dua puncak gunung dengan ketinggian sekitar 3.000 kaki.

“Kami terkesan karena bentuknya mirip gunung berapi Etna di Italia dan Laki di Islandia,” kata Randolph Kirk, koordinator pemetaan 3-D. Tim peneliti kemarin memaparkan hasil foto-foto Cassini pada pertemuan American Geophysical Union di San Francisco.

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan berdebat apakah gunung berapi es yang biasa disebut cryovolcanoes itu memang benar ada di bulan yang tertutup es. Juga apa ciri-cirinya? Kini, dengan informasi terbaru dan peta permukaan bulan, memungkinkan ilmuwan membuat analisis yang lebih baik tentang gunung berapi dan letusannya, yang mirip di Bumi, pada sistem tata surya.

Para peneliti yakin aktivitas geologi di bawah permukaan gunung itu menghangatkan lingkungan sekitar yang dingin. Bahkan mungkin melelehkan bagian interior satelit dan mengirimkan es cair atau bahan lain melalui suatu lubang ke permukaan. Gunung berapi di Io, bulan Jupiter dan di Bumi biasanya memuntahkan lava silikat.

Beberapa cryovolcanoes memang sedikit mirip gunung berapi di daratan Bumi. Seperti garis-garis di tubuh harimau pada bulan Saturnus lain yang bernama Enceladus. Di lokasi lain, letusan dari material padat mungkin membentuk puncak gunung berapi.

Di Sotra, cryovolcanism memiliki dua puncak setinggi 3.000 kaki. Ada pula kawah yang dalam dan bekas aliran. “Ini bukti terbaik topografi gunung berapi yang tercatat di satelit yang diselimuti es,” kata Jeffrey Kargel dari Universitas Arizona, Tucson. Boleh jadi, ujarnya, hal ini adalah pegunungan tektonik.

Kirk dan rekannya terus menganalisis gambar-gambar terbaru Cassini. Gambar ini menampakkan peta topografi berdimensi 3-D di Sotra Facula. Titan adalah salah satu dari beberapa bulan dalam tata surya yang diselimuti gas nitrogen dan metana yang cukup tebal. Dari mana sumber metana memang masih misteri. Namun keberadaan gunung berapi dapat membantu menjelaskan pertanyaan ini.