Informasi Tentang Dunia Teknologi Terkini

Entries categorized as ‘Genetics’

Nenek Moyang Orang Asia Berasal Dari Asia Tenggara dan Sunda Land

Desember 20, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hasil riset terbaru DNA (deoxyribonucleic acid) tentang asal-usul manusia Asia menyimpulkan bahwa Asia Tenggara merupakan sumber geografis utama dari populasi di Asia yang kemudian menyebar ke utara.

“Nenek-moyang bangsa-bangsa Asia yang keluar dari Afrika sekitar 100 ribu tahun lalu itu menyusuri sepanjang pesisir selatan ke arah timur dan lebih dulu berpusat di Asia Tenggara sekitar 60 ribu tahun lalu, baru kemudian menyebar ke berbagai kawasan di utaranya di Asia,” kata Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Dr Sangkot Marzuki kepada pers di Jakarta, Jumat.

Kesimpulan terbaru ini, disebutkan Sangkot, membantah teori sebelumnya yang menyebut bahwa ada jalur majemuk migrasi nenek moyang bangsa Asia, yakni melalui jalur utara dan jalur selatan, dan membantah bahwa bangsa Asia Tenggara (yang berbahasa Austronesia) berasal dari Taiwan.

Hal itu terlihat pula dari keanekaragaman genetik yang makin ke selatan semakin tinggi, sedangkan etnik-etnik di kawasan Asia lebih utara lebih homogen, ujar Sangkot yang merupakan salah satu pemrakarsa riset tersebut.

Riset ini dilakukan oleh lebih dari 90 ilmuwan dari konsorsium Pan-Asian SNP (single-nucleotide polymorphisms) dinaungi Human Genome Organisation (HUGO) yang meneliti 73 populasi etnik Asia di 10 negara (Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, India, China, Korea, Jepang dan Taiwan) dengan total sekitar 2.000 sample.

Menurut Sangkot, kesimpulan dari riset yang memakan waktu tiga tahun dan telah dirilis di jurnal Science pada 10 Desember 2009 berjudul “Mapping Human Genetic Diversity in Asia” itu jauh lebih akurat dibanding riset-riset sebelumnya yang hanya menggunakan DNA mitokondria atau kromosom Y, karena menganalisis seluruh kromosom.

Ia menolak menyimpulkan secara spesifik bahwa pusat peradaban bangsa Asia pada sekitar 60 ribu tahun lalu itu ada di Indochina atau di semenanjung Malaya, karena masih memerlukan riset yang lebih detil lagi.

“Bisa saja pusatnya sebenarnya ada di Sundaland (di laut China Selatan -red) yang sudah tenggelam pada sekitar 12.000 hingga 8.000 tahun lalu,” katanya.

Dikatakan dia, penjelasan menyeluruh dari sejarah genetik populasi Asia memerlukan suatu studi lanjutan mengenai genom dengan lebih banyak sample dan marka yang densitasnya lebih tinggi lagi. Saat ini dari setiap individu sample dianalisis 50 ribu marka.

“Fase berikutnya kami akan lebih banyak memasukkan berbagai etnik, sehingga percabangannya akan menjadi lebih detil terlihat,” katannya.

Pemetaan keanekaragaman genetik ini, tambah dia, juga sangat penting bagi penelusuran dan penanganan berbagai penyakit genetik seperti hepatitis, thalasemia, dan lain-lain.

Kategori: Archeology · Genetics

Mikoriza, Penolong Tanaman di Daerah Kering Karena Bisa Bersimbiosis

September 20, 2009 · 1 Komentar

Jamur jenis Mikoriza yang bersimbiosis dengan tumbuhan ternyata bermanfaat meningkatkan daya tahan tanaman hingga tidak sampai mati, atau layu akibat menipisnya persediaan air didalam tanah selama kemarau panjang.

“Penggunaan jamur mikoriza cocok diterapkan didaerah-daerah yang minus air seperti di Gunung Kidul, Yogyakarta dan NTB,” kata Yayat Rukiat, peneliti dari Balai Litbang Deptan, di Bekasi, Selasa.

Akar tumbuhan yang diselimuti muselium hasil simbiosis dengan mikoriza menjadikan tanaman tahan terhadap menipisnya persediaan air didalam tanah sementara unsur hara pada tanah tetap terpelihara.

Mikoriza sendiri bersimbiosis dengan dua kelompok jamur yaitu hektomikoriza yang biasa digunakan untuk farmasi, akasia dan tanaman perkebunan seperti Melinjo serta pinus. Ia mengatakan, sebanyak 93 persen tumbuhan di dunia berasosiasi dengan jamur mikoriza. Adanya mikoriza juga mempermudah penyerapan unsur hara oleh akar tanaman.

Dengan menggunakan mikoriza maka penggunaan pupuk untuk tanaman juga bisa dihemat seperti kelapa sawit yang membutuhkan banyak pupuk bisa dihemat setengahnya. Akar tanaman yang diselimuti mikoriza juga tahan terhadap serangan hama. “Penyakit akar tak bisa masuk, dan jamur itu juga membentuk unsur phospor pada tanaman,” ujarnya.

Dalam memanfaatkan mikoriza, cara yang tepat dilakukan menurut Yayat adalah ketika pembenihan melalui inkolasi bibit dengan mikoriza. Cara itu telah dikembangkan di balai penelitian dan selanjutnya hasil benih itu akan dipasarkan secara luas.

Jamur mikoriza sudah diterapkan di Gorontalo pada tanaman jagung dengan hasil memuaskan, tahan terhadap penyakit dan penggunaan pupuk lebih hemat.

Kategori: Environment · Genetics

Spesies Baru Yang Tahan Radiasi dan Mampu Hidup Dalam Air Mendidih Ditemukan

Maret 28, 2009 · 1 Komentar

Beberapa ilmuwan India menemukan mikroorganisme baru dinamai “extremophiles” yang dapat bertahan hidup dalam air mendidih dan radiasi sinar ultraviolet, lapor tabloid Mail Today baru-baru ini.

Para ilmuwan menemukan mikroorganisme itu pada ketinggian 40 kilometer di atas permukaan Bumi.

Upaya itu pelopori ilmuwan dari Pusat Sel dan Mikrobiologi di kota Hyderabad, India Selatan, S. Shivaji, yang telah meneliti bakteri di Antartika, Kutub Utara dan Gletser Himalaya.

“Ketiga spesies baru yang ditemukan sekarang dapat dibedakan dari semua spesies yang sejauh ini dilaporkan ada dalam catatan ilmiah,” kata surat kabar itu mengutip Shivaji.

Bakteri itu dapat bertahan pada dosis lebih tinggi radiasi ultravioalet, tumbuh dalam kondisi gizi rendah, dan memiliki susunan asam lemak yang memungkinkan mereka bertahan hidup dalam kondisi ekstrem.

Spesies baru itu diisolasi setelah analisis luas mengenai contoh udara yang dikumpulkan dari atmosfir daerah yang lebih tinggi. Semua contoh dikumpulkan dari ketinggian antara 20 – 41,4 kilometer pada April 2005, tapi temuan baru terjadi belum lama ini.

Para ilmuwan mengatakan sulit untuk meramalkan bagaimana bakteri dapat bertahan hidup di lingkungan yang rendah oksigen semacam itu.

Penelitian “extremophile” ini sendiri menimbulkan pertanyaan mengenai kelangsungan hidup bentuk kehidupan dan dapat mengarah kepada pengenalan lebih lanjut mengenai rangkaian baru dan menemukan beragam penerapan produk yang berlandaskan bioteknologi

Kategori: Biology · Genetics

Indonesia Mengembangkan Teknologi Bioteknologi Rumput Laut

Maret 9, 2009 · 1 Komentar

Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) mengembangkan bioteknologi berasal dari rumput laut untuk dijadikan energi ramah lingkungan.

“Kita ingin kembangkan bioteknologi memanfaatkan rumput laut untuk energi,” kata Sekjen Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Widi Agoes Pratikno, kepada ANTARA di Jakarta, Minggu.

Ia mengatakan Indonesia memiliki sumber daya laut yang berlimpah untuk dikembangkan menjadi energi tergantikan.

Namun, Widi mengatakan Indonesia membutuhkan teknologi dan modal untuk bisa mengembangkan energi dari “deep sea water” tersebut.

“Kebetulan Korea memiliki teknologinya untuk pemanfaatan rumput laut menjadi energi. Jadi kenapa kita tidak coba melakukan kerjasama dengan Korea,” ujar Widi.

Ia juga mengatakan kerjasama kedua negara untuk melaukan pengembangan energi dari rumput laut tentu akan berlanjut pada kerjasama lainnya, seperti pengolahan produk perikanan maupun budidaya.

“Yang penting sudah ada MoU dulu, nanti ke depannya peluang investasi pasti akan mudah,” ujar dia.

Sementara itu, Presiden Korea Institute of Industrial Technology (Kitech), Kyoung-Hoan Na mengatakan, kerjasama dua negara diawali dengan penandatanganan MoU untuk melakukan riset pengembangan energi ramah dari rumput laut.

Pilihan kerjasama jatuh ke Indonesia karena Indonesia memiliki sumber daya alamnya yakni rumput laut sedangkan Korea memiliki terknologinya.

“Jadi kita akan membawa teknologinya, Indonesia menyediakan sumber daya alam dan sumber daya manusianya,” tambah dia.

Kategori: Biology · Genetics

Jepang Kloning Sapi Legendaris Sebelum Mammoth

Januari 10, 2009 · 1 Komentar

Memasuki Tahun Sapi (Year of Ox) di awal tahun 2009 ini, para ilmuwan Jepang mengumumkan kesuksesannya mengkloning sapi legendaris khas Jepang. Keberhasilan tersebut tidak sekadar prestasi baru penelitian bioteknologi di Jepang, tetapi membuka kesempatan untuk menyediakan stok pangan berkualitas yang terjamin di masa depan.

Jenis sapi yang berhasil dikloning adalah Hida-gyu yang merupakan sapi khas Prefektur Gifu, bagian tengah Jepang. Para peneliti dari Universitas Kinki dan lembaga riset peternakan Gifu berhasil menghasilkan empat ekor sapi kloning antara November 2007 dan Juli 2008. Namun, hanya dua ekor yang bertahan hidup sampai sekarang.

Keempat sapi kloning tersebut dikembangbiakkan dari sel testikel seekor sapi legendaris yang diberi nama Yasufuku yang merupakan cikal bakal sapi Hida-gyu. Testikel tersebut telah dibekukan selama 13 tahun sejak kematiannya.

Keberhasilan kloning sapi Hidqa-gyu ini menjanjikan dunia peternakan Jepang karena jenis sapi tersebut dikenal berkualitas tinggi dan berharga mahal. Pemerintah Jepang telah membentuk panel untuk menilai kelayakan daging kloning untuk konsumsi dan kelihatannya segera mengizinkannya seperti yang dilakukan Pemerintah AS dan negara-negara Eropa.

Namun, para peneliti mengatakan, tujuan utama riset saat ini adalah mempelajari jenis gen dan struktur protein yang membuat daging sapi Hida-gyu lebih lezat. Perlakukan terhadap sapi Hida-gyu memang terkenal unik karena sering kali peternak memberikan makanan sampanye dan secara rutin memijatnya.

Selain meneliti kualitas daging sapi, para ilmuwan Jepang juga menjadikannya batu loncatan sebelum menggapai ambisinya mengkloning hewan-hewan yang telah punah. Antara lain mammoth, sejenis gajah yang hidup di zaman es.

“Mimpi kami menciptakan mammoth, itulah mimpi besarnya,” ujar Kazuhiro Saeki, profesor di Universitas Kinki seperti dilansir AFP. Saat ini para peneliti telah menemukan sumber sel mammoth dari Siberia. Namun, mereka belum berhasil menemukan cara mengekstrak dan menanam inti sel mammoth ke dalam sel telur gajah yang merupakan hewan paling dekat kekerabatannya sebelum menaruhnya ke dalam rahim gajah betina.

Kategori: Biology · Genetics

Sapi Bali Menghasilkan Sapi Bibit Unggul Lewat Rekayasa Budidaya

Desember 13, 2008 · 1 Komentar

Dengan introduksi teknik rekayasa pembibitan dan budidaya, Indonesia mulai berswasembada beras dan berencana mengekspornya tahun depan. Prestasi ini memicu perlakuan sama untuk peternakan sapi. Target Indonesia berswasembada daging ternak ini dalam lima tahun mendatang.

Sejak lama Indonesia menghadapi defisit daging sapi. Kebutuhan komoditas pangan ini belum dapat dipenuhi oleh produksi daging sapi dalam negeri sehingga impor daging sapi atau sapi bakalan masih dilakukan. Pada tahun 2007, impor daging sapi dari berbagai negara mencapai 270.000 ton dan cenderung terus meningkat. Hingga tahun 2015 dengan penduduk mencapai 253 juta jiwa diperkirakan defisit daging sapi hampir 334.000 ton.

Untuk itu pemerintah mulai melirik sapi bali sebagai sapi lokal unggulan. Menurut Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman ketika berkunjung ke Agro Techno Park (ATP) Jembrana dan Nusa Penida, Bali, pekan lalu, budidaya sapi bali dengan teknik peternakan modern memungkinkan Indonesia berswasembada sapi dalam lima tahun mendatang.

Sapi bali terpilih untuk program nasional pengembangan peternakan sapi potong karena memiliki beberapa kelebihan. Sapi yang hidup di Pulau Dewata dan Nusa Penida dikenal sebagai sapi bali murni. Kemurnian genetikanya telah dilindungi dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2004 dan Perda No 2/2003 yang melarang bibit sapi bali betina keluar dari wilayah provinsi ini.

Khusus sapi bali Nusa Penida, selain bebas empat macam penyakit, yaitu jembrana, penyakit mulut dan kuku, antraks, serta MCF, juga tinggi tingkat reproduksi dan kualitas dagingnya. Sapi Nusa Penida juga menghasilkan vaksin penyakit jembrana.

Saat ini, rasio populasi sapi bali di Nusa Penida antara betina dan jantan tergolong ideal dijadikan pusat pengembangan sapi, yaitu 2,4: 1 pada tahun 2006—menurut data Dinas Peternakan Bali. Nusa Penida ditetapkan sebagai kawasan Konservasi Sapi Bali.

Pengembangan sapi bali di Nusa Penida diusulkan oleh Sentana Putra, pakar teknologi peternakan dari Universitas Udayana (Unud). Potensi sebagai pusat konservasi dan pengembangan sapi Bali dirumuskan tahun 2000 dan 2005 melalui pengkajian peneliti dari Unud dan Pemkab Klungkung dan Pemprov Bali.

Pengembangan Nusa Penida sebagai daerah pengembangan sapi bali terbuka dengan kesepakatan Pemprov Bali dan pemerintah pusat untuk membangun fasilitas pelabuhan, penyediaan kapal roro, pembangkit listrik dan pompa air, dan mesin pengolah biji jarak.

Menurut riset peneliti dari Unud, lokasi yang layak dijadikan kawasan pusat konservasi dan pengembangbiakan sapi adalah Bukit Mundi, Desa Klumpu—10 hektar. Di sana dilakukan produksi semen beku, pemuliaan bibit, penggemukan, pemantauan penyakit, penanaman pakan, pabrik mini untuk formulasikan dan memproduksi ransum ternak, pengolahan limbah peternakan menjadi gas bio dan pupuk organik.

ATP Jembrana

Di Pulau Bali, pemprov bekerja sama dengan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) mengembangkan ATP Jembrana di Bali Barat di lahan seluas 5 hektar bekas kebun koleksi tanaman hortikultura Provinsi Bali.

ATP Jembrana mulai dikembangkan Maret 2007 hingga lima tahun mendatang dengan melibatkan peneliti dari LPND Ristek terkait antara lain LIPI, BPPT, dan Batan.

Pengembangan sapi bali di kawasan ATP ini, kata I Wayan Budiastra, Koordinator ATP KNRT, diharapkan dapat mengatasi tiga masalah besar, yaitu menurunnya populasi dan mutu sapi bali, persilangan satu keluarga (imbreeding), dan terbatasnya akses petani/peternak akan teknologi peternakan modern, termasuk teknologi pertanian terpadu (biocyclofarming).

Untuk menstimulasi peningkatan populasi dilakukan program intensifikasi sapi potong, pelaksanaan program sejuta akseptor inseminasi buatan (IB), pembangunan pusat penanaman bibit sapi di pedesaan dan pendirian pusat agrobisnis komoditas unggul.

Upaya peningkatan populasi sapi perlu diakselerasi melalui penerapan teknologi agar sasaran swasembada daging pada tahun 2010 dapat tercapai.

Program ATP Jembrana, kata Syahruddin Said, peneliti Bioteknologi Reproduksi Ternak LIPI, difokuskan pada penerapan dan alih teknologi pembibitan sapi bali, yaitu transfer embrio dan IB sexing dan program lain yang mendukung pembibitan sapi Bali dan siklus pertanian terpadu seperti teknologi pakan, pengolahan kotoran sapi, biogas dan budidaya hijauan makanan ternak (HMT), termasuk juga budidaya hortikultura dan teknologi pembenihan ikan.

Pembibitan sapi unggul difokuskan pada kelompok tani dengan supervisi teknologi dari ATP. Sebanyak 17 kelompok tani terikat perjanjian gaduh sapi dengan ATP (model yang umum dipakai Direktorat Jenderal Peternakan). Setiap kelompok mendapat 10 induk sapi betina sehingga sapi ATP yang ada di kelompok berjumlah 180 ekor.

Sebanyak 20 ekor sapi betina akan menjadi kelompok setelah mengembalikan 20 anak sapi paling lama tiga tahun. Anak sapi yang dikembalikan akan digulirkan kembali pada kelompok lain yang belum mendapat sapi gaduh. ”Diharapkan dengan program ini populasi sapi bali akan meningkat menurut deret ukur,” urainya.

Kegiatan embrio transfer juga dilaksanakan di ATP Jembrana. Pada 2008 telah dihasilkan 2.200 straw atau dosis sperma sexing dan telah diaplikasikan pada 220 sapi betina, menghasilkan 52 anak sapi.

Teknologi penggemukan sapi dilakukan pada 78 sapi jantan di ATP dengan menerapkan kombinasi HMT dan formulasi konsentrat pakan hasil litbang Batan, BPPT, dan LIPI. Untuk mengatasi keterbatasan HMT, khususnya pada musim kemarau, digunakan teknologi pakan suplemen UMMB dan SPM berbasis sumber daya lokal yang menjadi target pengembangan ATP mendatang

Kategori: Food · Genetics

Mammoth Purba Bangkit Dari Kematian Lewat Klonning Karena Kode Genetiknya Telah Lengkap Dipetakan

November 22, 2008 · & Komentar

Mimpi menghidupkan kembali dinosaurus dan hewan-hewan purba seperti dalam sekuel Jurassic Park selangkah lagi mendekati kenyataan. Para ilmuwan berhasil memetakan sebagian besar kode genetika mammoth purba, saudara tua gajah yang memiliki tubuh berambut lebat.

Daftar kode genetik tersebut diterjemahkan dari ekstrak sel 20 gumpalan rambut mammoth yang diambil dari mumi mammoth yang ditemukan di lapisan es Siberia, Rusia. Mamoth yang dapat tumbuh hingga setinggi lebih dari 5 meter hidup sekitar 10.000 tahun lalu.

Jika seluruh peta genetika (genom) selesai dikodekan, bukan tidak mungkin mammoth dapat dihidupkan kembali melalui bioteknologi. Ilmuwan yang melakukan penelitian tersebut memprediksi dalam 10-20 tahun ke depan, mammoth bisa dihidupkan kembali seiring semakin majunya perkembangan teknologi kloning, sel induk, dan sejenisnya.

“Itu memungkinkan. Yang perlu dipertanayakan justru karena kita tahu dapat melakukannya suatau ketika, apakah kita harus melakukannya?” ujar Stephan Schuster, pakar biokimia Pennsylvania State University yang melakukan penelitian tersebut.

Ekstraksi DNA dari rambut snagat menjanjikan dibandingkan dari fosil tulang yang selama ini ditemukan pada makhluk-makhluk purba lainnya. Sebagai gambaran, ekstrak sel dari tulang manusia Neanderthal hanya menyisakan 6 persen dari daftar seluruh DNA.

Sementara dari rambut mammoth, seperti dilaporkan dalam jurnal Nature terbaru, sudah berhasil mengungkap 80 persen dari daftar DNA. Kode sisanya tinggal menunggu waktu mengingat sel yang diekstrak masih sangat utuh tersimpan baik di dalam lapisan es.

Meski demikian, belum ada satupun ilmuwan yang tahu bagaimana cara memanfaatkan kode genetika tersebut untuk menghidupkan kembali mammoth. Pastinya, para ilmuwan harsu menemukan cara menghasilkan embrio mammoth dari materi genetika tersebut.

Setidaknya ada dua cara yang mungkin dapat dipakai untuk mengubah materi genetika tersebut menjadi mammoth hidup. Cara pertama adalah menggunakan sel gajah sebagai perantara yang memiliki ko genetika tak jauh berbeda. Cara lainnya adalah menghasilkan organisme baru dengan merangkai bagian per bagain kode gentika. Kedua cara tersebut sama-sama kompleks dan sulit dilakukan saat ini namun bukan mustahil kelak.

Para ilmuwan Jepang yang terlibat dalam penelitian mumi mammoth Siberia bahkan punya ambisi lain yang lebih memungkinkan. Saat ini mereka masih berupaya mencari sisa sperma yang mungkin terawetkan dalam tubuh bangkai mammoth. Jika sperma tersebut masih utuh bukan tidak mungkin mammoth dapat dilahirkan dari kandungan seekor gajah.

BANGKAI MAMMOTH PURBA DIBAWA KEJEPANG

Bangkai seekor bayi mammoth yang ditemukan dalam kondisi terawetkan di lapisan es kutub diangkut ke Jepang untuk dipelajari. Fosil berusia 37.000 tahun itu berasal dari pelosok Siberia.

“Hewan berwarna abu-abu kecokelatan setinggi 1,2 meter tersebut sudah tiba di Bandara Internasional Tokyo, Sabtu sore,” kata Mitsuyoshi Uno, salah satu pejabat dalam proyek kerja sama penelitian mammoth antara Jepang-Russia.

Mammoth muda tersebut ditemukan pertama kali oleh seorang penggembala rusa kutub di wilayah Yamal-nenets, Siberia bagian utara, pada Mei 2007 lalu. Sebagian besar bagian tubuhnya, termasuk belalai dan matanya, masih utuh dan terdapat sejumlah bulu di badannya. Namun, telinga dan ekornya sepertinya hilang karena tergigit.

Fosil mammoth yang sebleumnya diperkirakan hanya berusia 10.000 tahun itu akan dibawa ke Universitas Kedokteran Jikei, Tokyo untuk dipindai menggunakan pemindai tomografi. Pemindaian tiga dimensi (CT scan) memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajari organ dalamnya tanpa harus melakukan pembedahan.

“Bangkai mammoth dan foto hasil pemindaiannya akan dipamerkan kepada publik mulai 4 Januari 2008 di salah satu gedung perkantoran di pusat Kota Tokyo,” ujar Uno.

Ini bukanlah bangkai mammoth pertama yang terawetkan di es. Sebelumnya, bangkai serupa juga pernah ditemukan di Siberia dan diteliti bersama antara ilmuwan Russia dan Jepang.

Para ilmuwan memperkirakan mammoth hidup sejak 4,8 juta tahun lalu hingga 4.000-an tahun lalu. Penelitian menunjukkan perubahan iklim global dan perburuan yang dilakukan manusia menjadi pemicu terbesar punahnya hewan yang mirip gajah ini

EVAKUASI FOSIL MAMMOTH LANGKA DI PERANCIS

Penemuan fosil tengkorak mammoth di Perancis sangat bernilai. Sebab, fosil tersebut berasal dari jenis mammoth yang langka dan merupakan peralihan dua spesies mammoth yang lebih sering dikenal selama ini.

Paleontolog bernama Frederic Lacombat dari Museum Croatier Perancis dan Dick Mol dari Museum Sejarah Nasional Rotterdam Belanda mulai melakukan penggalian pada 15 Agustus 2008 di kawasan Auvergne. Mereka memperkirakan mammoth tersebut jenis mammoth stepa (Mammuthus trogontherii) yang hidup di zaman Peistocene Pertengahan antara 300.000-800.000 tahun lalu. Hewan yang perawakannya mirip gajah tersebut diperkirakan berumur 35 tahun saat tewas. Jenis ini dapat tumbuh hingga 3,7 meter.

Mammoth stepa diperkirakan peralihan antara mammoth selatan (Mammuthus meridionalis) yang hidup di zaman Pleistocene Awal antara 2,6 juta-800.000 tahun lalu dan mammoth berbulu (Mammuthus primigenius) yang hidup di zaman Pleistocene Akhir antara 300.000-4.000 tahun lalu.

Setiap spesies memiliki karakter berbeda. Mammoth selatan hidup di padang sabana dan termasuk hewan penjelajah. Makanannya dedaunan dan ranting pohon. Sementara mammoth padang rumput dan mammoth berbulu beralih makan rumput dilihat dari struktur gigi gerahamnya.

Hal tersebut mungkin bentuk adaptasi akibat terjadinya perubahan iklim. Saat lingkungan makin dingin dan kering pada zaman Pleistocene, sabana mulai menghilang dan berganti stepa yang lebih banyak padang rumput.

“Kami membutuhkannya untuk mengungkap apa yang kami sebut ‘rantai yang hilang’ dalam evolusi mammoth,” ujar Mol. Sebelumnya, fosil mammoth stepa beberapa kali ditemukan namun hanya dapat dipelajari dari sisa giginya, jarang sekali yang ditemukan lengkap dengan tengkorak yang utuh.

Karena itu, ekskavasi dan pemindahan fosil tengkorak mammoth yang langka tersebut pada Minggu (7/9) dilakukan dengan penuh hati-hati. Tengkorak dikeluarkan dari dalam tanah dalam kondisi utuh dan diangkut menggunakan crane ke atas trailer yang membawanya ke Museum Croatier Perancis. Mulai 2010, fosil tersebut akan dipamerkan keliling dunia setelah dipelajari secara menyeluruh.

Kategori: Archeology · Biology · Genetics

Gen Kangguru dan Manusia Serupa dan Berevolusi Di China

November 19, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kanguru Australia secara genetika serupa dengan manusia dan mungkin pertama kali berevolusi di China.

Beberapa ilmuwan Australia, Selasa (18/11), mengatakan, mereka untuk pertama kali telah memetakan kode genetika hewan khas Australia tersebut dan mendapati kebanyakan gen itu serupa dengan gen manusia. Demikian keterangan Centre of Excellence for Kangaroo Genomics, lembaga yang didukung pemerintah.

“Ada sedikit perbedaan, kami memiliki beberapa tambahan ini, kurang dari itu, tapi semuanya adalah gen yang sama dan banyak di antaranya memiliki susunan yang sama,” kata Direktur lembaga tersebut Jenny Graves kepada wartawan di Melbourne.

“Kami mulanya mengira semuanya akan tercampur penuh, tetapi ternyata tidak. Ada banyak potongan genome manusia yang berada tepat di dalam genome kanguru,” kata Graves, sebagaimana dilaporkan AAP.

Manusia dan kanguru terakhir memiliki nenek moyang yang sama setidaknya 150 juta tahun lalu, demikian temuan para peneliti tersebut, sementara tikus dan manusia berpisah satu sama lain hanya 70 juta tahun lalu.

Kanguru pertama kali berevolusi di China, tapi pindah melewati dataran Amerika ke Australia dan Antartika. “Kanguru adalah sumber informasi yang sangat besar mengenai seperti apa kita 150 juta tahun lalu,” kata Graves.

Kategori: Biology · Genetics

Jagung Transgenik Sebabkan Kesuburan Rendah dan Kemandulan

November 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Setelah pengamatan dan penelitian lama, beberapa ilmuwan Austria telah menemukan bahwa tikus percobaan memperlihatkan kesuburan yang lebih rendah dan anak yang lebih lemah dengan berat badan lebih ringan setelah lama mengkonsumsi jagung transgenik.

Sebagaimana dilaporkan Xinhuna, Badan Kesehatan dan Keamanan Makanan Austria (AGES), Selasa, menyiarkan temuan hasil penelitian yang dipercayakan oleh Kementerian Kesehatan, Keluarga dan Pemuda Federal Austria (BMGFJ) dan dilaksanakan oleh Veterinary University Vienna.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Professor Juergen Zentek dari Veterinary University Vienna, dengan tujuan menemukan apakah konsumsi lama jagung transgenik akan memiliki dampak berbahaya pada tikus.

Para ilmuwan tersebut membagi tikus percobaan dalam dua kelompok, satu diberi makan jagung transgenik produksi Amerika “NK603xMON810″ dan satu lagi jagung lokal biasa Austria.

Setelah 20 pekan, anak kedua kelompok tikus tersebut mulai menunjukkan perbedaan. Tikus yang diberi makan jagung transgenik melahirkan lebih sedikit bayi dengan bobot lebih ringan. Setelah beberapa generasi, organ reproduksi tikus betina, yang makan jagung transgenik terus-menerus, mulai berubah.

Namun Professor Jurgern Zentek menyatakan dalam taklimat mengenai temuan hasil penelitian itu bahwa “kami tak dapat menyatakan kondisinya sama pada manusia hanya dengan berpegang pada hasil yang diperoleh dari tikus percobaan”.

Ia menekankan bahwa dampak berbahaya jagung transgenik pada kesuburan hewan lain perlu penelitian lebih lanjut.

Kategori: Biology · Genetics

Lemur Terbang Asal Indonesia dan Malaysia Ternyata Berbeda Secara Genetika

November 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Lemur terbang yang ditemukan di Jawa dan Kalimantan ternyata punya sifat genetika berbeda dengan lemur yang hidup di daratan Malaysia. Temuan ini membuat jumlah spesies lemur terbang menjadi empat kelompok.

Sebelumnya, lemur terbang atau dalam bahasa Indonesia disebut kubung pelanduk hanya dikelompokkan dalam dua spesies. Masing-masing kubung pelanduk Sunda (Galeopterus variegatus) dan kubung pelanduk Filipina (Cynocephalus volans) di Filipina.

Kubung pelanduk Sunda hidup menyebar di kawasan Indochina dan paparan Sunda dengan Malaysia sebagai pusat penyebaran hingga ke Jawa, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Kenyataannya lemur terbang dari Jawa dan Kalimantan punya keunikan yang membuatnya berbeda dengan lemut terbang di Malaysia.

Keduanya juga memiliki ciri morfologi yang sedikit berbeda. Misalnya, kubung pelanduk dari Kalimantan berukuran lebih kecil. Namun, Kubung Kalimantan memiliki variasi pola warna rambut yang lebih beragam daripada lemur sejenis dari Jawa dan Malaysia.

Jan Janecka dari Texas A&M University, AS memperkirakan terpisahnya lemur di tiga pulau utama di paparan Sunda itu terjadi antara 4-5 juta tahun lalu. Selama masa tersebut, kenaikan muak air laut menyebabkan paparan sunda yang tadinya menjadi satu daratan terpisah menjadi pulau-pulau.

Hewan tersebut memiliki keunikan karena kemampuannya melayang di udara sehingga seolah-olah terbang. Dengan selaput di antara kaki-kakinya, kubung pelanduk dapat melompat dari batang pohon ke pohon lainnya hingga sejauh 136 meter.

Selain itu, kubung pelanduk juga dikenal sebagai mamalia yang menjadi kerabat terdekat primata yang memisahkan diri sekitar 86 juta tahun lalu. Hal ini penting untuk penelitian biologi maupun kedokteran karena dalam cabang genetika manusia dikelompokkan dalam primata.

Kategori: Biology · Genetics