Informasi Tentang Dunia Teknologi Terkini

Entries categorized as ‘Food’

Sapi Bali Menghasilkan Sapi Bibit Unggul Lewat Rekayasa Budidaya

Desember 13, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dengan introduksi teknik rekayasa pembibitan dan budidaya, Indonesia mulai berswasembada beras dan berencana mengekspornya tahun depan. Prestasi ini memicu perlakuan sama untuk peternakan sapi. Target Indonesia berswasembada daging ternak ini dalam lima tahun mendatang.

Sejak lama Indonesia menghadapi defisit daging sapi. Kebutuhan komoditas pangan ini belum dapat dipenuhi oleh produksi daging sapi dalam negeri sehingga impor daging sapi atau sapi bakalan masih dilakukan. Pada tahun 2007, impor daging sapi dari berbagai negara mencapai 270.000 ton dan cenderung terus meningkat. Hingga tahun 2015 dengan penduduk mencapai 253 juta jiwa diperkirakan defisit daging sapi hampir 334.000 ton.

Untuk itu pemerintah mulai melirik sapi bali sebagai sapi lokal unggulan. Menurut Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman ketika berkunjung ke Agro Techno Park (ATP) Jembrana dan Nusa Penida, Bali, pekan lalu, budidaya sapi bali dengan teknik peternakan modern memungkinkan Indonesia berswasembada sapi dalam lima tahun mendatang.

Sapi bali terpilih untuk program nasional pengembangan peternakan sapi potong karena memiliki beberapa kelebihan. Sapi yang hidup di Pulau Dewata dan Nusa Penida dikenal sebagai sapi bali murni. Kemurnian genetikanya telah dilindungi dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2004 dan Perda No 2/2003 yang melarang bibit sapi bali betina keluar dari wilayah provinsi ini.

Khusus sapi bali Nusa Penida, selain bebas empat macam penyakit, yaitu jembrana, penyakit mulut dan kuku, antraks, serta MCF, juga tinggi tingkat reproduksi dan kualitas dagingnya. Sapi Nusa Penida juga menghasilkan vaksin penyakit jembrana.

Saat ini, rasio populasi sapi bali di Nusa Penida antara betina dan jantan tergolong ideal dijadikan pusat pengembangan sapi, yaitu 2,4: 1 pada tahun 2006—menurut data Dinas Peternakan Bali. Nusa Penida ditetapkan sebagai kawasan Konservasi Sapi Bali.

Pengembangan sapi bali di Nusa Penida diusulkan oleh Sentana Putra, pakar teknologi peternakan dari Universitas Udayana (Unud). Potensi sebagai pusat konservasi dan pengembangan sapi Bali dirumuskan tahun 2000 dan 2005 melalui pengkajian peneliti dari Unud dan Pemkab Klungkung dan Pemprov Bali.

Pengembangan Nusa Penida sebagai daerah pengembangan sapi bali terbuka dengan kesepakatan Pemprov Bali dan pemerintah pusat untuk membangun fasilitas pelabuhan, penyediaan kapal roro, pembangkit listrik dan pompa air, dan mesin pengolah biji jarak.

Menurut riset peneliti dari Unud, lokasi yang layak dijadikan kawasan pusat konservasi dan pengembangbiakan sapi adalah Bukit Mundi, Desa Klumpu—10 hektar. Di sana dilakukan produksi semen beku, pemuliaan bibit, penggemukan, pemantauan penyakit, penanaman pakan, pabrik mini untuk formulasikan dan memproduksi ransum ternak, pengolahan limbah peternakan menjadi gas bio dan pupuk organik.

ATP Jembrana

Di Pulau Bali, pemprov bekerja sama dengan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) mengembangkan ATP Jembrana di Bali Barat di lahan seluas 5 hektar bekas kebun koleksi tanaman hortikultura Provinsi Bali.

ATP Jembrana mulai dikembangkan Maret 2007 hingga lima tahun mendatang dengan melibatkan peneliti dari LPND Ristek terkait antara lain LIPI, BPPT, dan Batan.

Pengembangan sapi bali di kawasan ATP ini, kata I Wayan Budiastra, Koordinator ATP KNRT, diharapkan dapat mengatasi tiga masalah besar, yaitu menurunnya populasi dan mutu sapi bali, persilangan satu keluarga (imbreeding), dan terbatasnya akses petani/peternak akan teknologi peternakan modern, termasuk teknologi pertanian terpadu (biocyclofarming).

Untuk menstimulasi peningkatan populasi dilakukan program intensifikasi sapi potong, pelaksanaan program sejuta akseptor inseminasi buatan (IB), pembangunan pusat penanaman bibit sapi di pedesaan dan pendirian pusat agrobisnis komoditas unggul.

Upaya peningkatan populasi sapi perlu diakselerasi melalui penerapan teknologi agar sasaran swasembada daging pada tahun 2010 dapat tercapai.

Program ATP Jembrana, kata Syahruddin Said, peneliti Bioteknologi Reproduksi Ternak LIPI, difokuskan pada penerapan dan alih teknologi pembibitan sapi bali, yaitu transfer embrio dan IB sexing dan program lain yang mendukung pembibitan sapi Bali dan siklus pertanian terpadu seperti teknologi pakan, pengolahan kotoran sapi, biogas dan budidaya hijauan makanan ternak (HMT), termasuk juga budidaya hortikultura dan teknologi pembenihan ikan.

Pembibitan sapi unggul difokuskan pada kelompok tani dengan supervisi teknologi dari ATP. Sebanyak 17 kelompok tani terikat perjanjian gaduh sapi dengan ATP (model yang umum dipakai Direktorat Jenderal Peternakan). Setiap kelompok mendapat 10 induk sapi betina sehingga sapi ATP yang ada di kelompok berjumlah 180 ekor.

Sebanyak 20 ekor sapi betina akan menjadi kelompok setelah mengembalikan 20 anak sapi paling lama tiga tahun. Anak sapi yang dikembalikan akan digulirkan kembali pada kelompok lain yang belum mendapat sapi gaduh. ”Diharapkan dengan program ini populasi sapi bali akan meningkat menurut deret ukur,” urainya.

Kegiatan embrio transfer juga dilaksanakan di ATP Jembrana. Pada 2008 telah dihasilkan 2.200 straw atau dosis sperma sexing dan telah diaplikasikan pada 220 sapi betina, menghasilkan 52 anak sapi.

Teknologi penggemukan sapi dilakukan pada 78 sapi jantan di ATP dengan menerapkan kombinasi HMT dan formulasi konsentrat pakan hasil litbang Batan, BPPT, dan LIPI. Untuk mengatasi keterbatasan HMT, khususnya pada musim kemarau, digunakan teknologi pakan suplemen UMMB dan SPM berbasis sumber daya lokal yang menjadi target pengembangan ATP mendatang

Kategori: Food · Genetics

Petani Bantul Berhasil Menemukan Penyusir Hama Yang Efektif

Desember 9, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sejumlah petani di Desa Srihardono, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menciptakan alat pengusir hama yang sederhana namun efektif.

“Bahan-bahannya sederhana karena terdapat disekitar kita, seperti jamur, bambu, tanaman liar dan lain sebagainya,” kata ketua Regu Pengendali Tanaman (RPT) `Srikaton`,
Hartoyo, saat pameran di Kecamatan Imogiri, Minggu.

Salah satu contonya adalah ramuan pengusir lalat buah, bahanny terbuat dari daun selasih yang ditumbuk halus, dan diberi air kelapa dan tebu. Ramuan yang tercipta khas aroma lalat buah yang betina.

“Ramuan tersebut kita taruh di sebuah wadah, nantinya lalat buah jantan akan datang dan mengeluarkan sperma, setelah itu lalat tersebut langsung mati ditempat,” katanya.

Alat pengusir lalat buah di pasaran lumayan mahal, sekitar Rp 100.000 per botol, sedangkan ramuan alami yang dibuat Hartoyo, jika ditotal hanya mengeluarkan dana Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per botol, dengan isi 4 kali lipat lebih banyak.

Hartoyo mengatakan temuannya yang lain adalah ramuan pengusir hama tikus. Yaitu singkong direbus dengan air kelapa, dan jika tikus meminumnya, dia akan kehilangan nafsu makannya dan beberapa hari kemudian tikus akan mati.

Hartoyo mengatakan awal ia dan kesembilan temannya belajar banyak ramuan itu dari pelatihan yang diberikan oleh dinas pertanian Kabupaten Bantul, lalu ia kombinasikan dengan banyak membaca buku-buku yang terkait.

Alat-alat dan ramuan yang ditemukan berlaku untuk pengendalian hama untuk jenis apapun. “Bahannya alami, dan mudah ditemukan dimanapun, misalnya untuk jamur beuferiabassiana sangat mudah ditemukan atau jamur trikodona sering berada di bawah bambu, hasilnya juga sudah diuji di laboratorium milik Provinsi DIY,” katanya.

Ia memamerkan alat-alat dan ramuannya di tiap ada kesempatan, seperti pameran pertanian. Ia juga mengatakan tidak akan mematenkan temuan ia dan teman-temannya itu, apalagi hingga menjual.

“Saya tidak akan menjual, namun jika ada yang tertarik, saya lebih baik mengajarkannya saja, saya rasa hal itu lebih berguna,” katanya.

Kategori: Environment · Food

Otzi Manusia Es Berumur 5200 Tahun Telah Mengetahui Manfaat Lumut Untuk Mengobati Luka

Desember 3, 2008 · 3 Tanggapan

Mumi manusia es yang dikenal dengan nama Otzi mungkin sempat makan lumut sebelum tewas mengenaskan. Berdasarkan analisis terbaru, di dalam perutnya ditemukan 6 jenis lumut berbeda.

Jasad Otzi ditemukan tanpa sengaja pada tahun 1991 oleh seorang turis Jerman di Pegunungan Alpen bagian Timur di bawah lapisan es. Tubuhnya tidak membusuk dan terjaga dengan baik dalam kondisi lingkungan yang beku.

Penelitian menunjukkan pria tersebut diperkirakan tewas 5200 tahun lalu pada usia 45 tahun. Sebelum tewas, ia terluka di bagian bahu terkena anak panah dan kemungkinan tewas karena trauma. Ia mungkin seorang pemburu semasa hidupnya.

Sebelumnya, makanan terakhirnya sebelum tewas diperkirakan daging. Namun, di dalam perutnya ternyata ditemukan lumut. James Dickson dari Universitas Glasgow dan koleganya menyatakan temuan ini mengejutkan karena lumut termasuk jenis tumbuhan yang tidak enak apalagi bergizi.

Jadi, kemungkinan lumut tanpa sengaja tertelan saat makan atau minum. Ada kemungkinan lumut tersebut ikut terbawa makanan karena salah satu jenis lumut yang ditelannya kemungkinan dipakai untuk membungkus makanan. Misalnya jenis Neckera complanata.

Kemungkinan lainnya, Otzi minum air yang tercampur lumut di hari-hari terakhirnya. Lumut yang biasa ikut terbawa dalam minuman adalah jenis Hymenostylum recurvirostrum.

Namun, bisa jadi ia juga menelan lumut lainnya dari jenis Spaghnum imbricatum yang merupakan bagian ramuan untuk mengobati luka. Lumut jenis tersebut hanya ditemukan paling dekat 30 kilometer dari lokasi penemuan mayat Otzi. Artinya, manusia es itu membawa lumut tersebut dalam perjalanannya.

“Jika dia tahu manfaat lumut tersebut–dan kedengarannya masuk akal–ia mungkin mengumpulkannya untuk mengobati lukanya,” ujar para peneliti yang melaporkannya dalam jurnal Vegetation History and Archaeobotany edisi terbaru.

Sebagian kecil lumut tersebut mungkin menempel di tangannya dan ikut termakan saat makan daging atau roti. Alasan tersebut sangat mungkin karena selain di bahunya, Otzi juga diketahui luka di telapak tangan kanannya.

Kategori: Archeology · Food · Health · Medicine

Komoditas Jagung Hibrida Bima, Bukti Kerja Keras Peneliti

November 15, 2008 · 7 Tanggapan

Anggapan kinerja peneliti atau pemulia tanaman pangan di Indonesia loyo kini terbantahkan. Hal itu setidaknya tecermin dari keberhasilan mereka merakit jagung hibrida varietas Bima-1 sampai dengan Bima-6 yang memiliki produktivitas sangat tinggi.

Jagung varietas Bima-5, misalnya, potensi hasil per hektar mencapai 14,4 ton jagung pipilan kering. Adapun rata-rata hasil—setelah lewat uji multilokasi dan adaptasi di berbagai tempat—mencapai 11,3 ton.

Panjang tongkol mencapai 18,2 sentimeter, jumlah baris biji per tongkol 12-14 helai, bobot 1.000 butir dengan kadar air 15 persen sekitar 270 gram, tinggi tanaman 204 cm, umur masak fisiologis atau siap panen 103 hari, warna biji jingga, dan masuk golongan hibrida silang tunggal (single cross).

”Apabila mendapatkan sentuhan yang benar—teknik penanaman, pemupukan, irigasi yang baik, tanah subur, dan perawatan yang baik—hasil 15 ton per hektar jagung pipilan kering bisa dicapai,” ungkap pemulia muda Balai Penelitian Tanaman Serelia, Maros, Agustina di Makassar beberapa waktu lalu.

>w 9538m<Meskipun belum menyamai produktivitas Bima-5, varietas Bima yang lain juga memiliki produktivitas rata-rata di atas 9 ton jagung pipilan kering. Kelebihan lainnya, tanaman jagung varietas Bima memiliki daun berwarna hijau meski tanaman sudah memasuki umur masak fisiologis.>w 9738m<

Daun dan batang yang masih hijau menguntungkan petani. Selain mereka bisa mendapatkan keuntungan dari usaha tani jagung, juga bisa memanfaatkan daun dan batang jagung yang masih hijau untuk pakan ternak. Berbeda dengan varietas jagung non-Bima yang daun dan batang umumnya mengering dan berwarna kuning begitu jagung masuk usia panen.

Bagus di lahan marginal

Keunggulan lainnya, tanaman jagung varietas Bima bisa menghasilkan produksi yang tinggi meskipun ditanam di lahan marginal sekalipun. Artinya, di lahan yang tidak begitu subur, seperti tegalan. Misalnya saja Bima-3 yang dapat di tanam di dataran rendah dengan ketinggian sampai 1.200 meter di atas permukaan laut (dpl).

Hebatnya lagi, jagung varietas Bima bertongkol ganda, antara tongkol satu dan lainnya hampir sama besar. Bobot satu tongkol saat di lakukan penanaman di lahan percobaan bahkan ada yang hampir mencapai satu kilogram, dengan tongkol hampir sebesar botol air mineral kemasan 600 mililiter.

Kepala Pusat Penelitian Tanaman Pangan pada Balai Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian Suyamto mengungkapkan, lahirnya Bima-1 sampai dengan Bima-6 sebagai varietas merupakan hasil kerja keras para peneliti di Balit Tanaman Serelia, Maros, Sulawesi Selatan.

”Lahirnya varietas Bima itu sekaligus menegaskan bahwa para pemulia tanaman di Indonesia masih ’ada’. Dengan kata lain, kualitas para pemulia Indonesia sejajar dengan peneliti dari negara lain ataupun peneliti swasta,” tegas Suyamto.

Masalah yang sesungguhnya dalam merevitalisasi perbenihan nasional saat ini bukan pada kualitas peneliti, tetapi sarana dan prasarana. Serta yang paling penting ke depan adalah bagaimana membangun industri benih nasional yang propetani dengan memanfaatkan hasil penelitian para pemulia tanaman yang ada sekarang ini.

”Perusahaan benih saat ini banyak, tetapi hanya sedikit dari mereka yang memihak petani,” tuturnya. Sebagian besar perusahaan besar benih mengembangkan benih untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari petani.

Memang lahirnya benih baru yang unggul akan menambah keuntungan bagi petani. Namun, harga benih yang amat tinggi juga menjadi beban bagi petani.

Apabila sebagian dari keuntungan penjualan benih yang besar itu ”disumbangkan” untuk menambah keuntungan petani melalui penjualan benih yang lebih murah, petani pasti akan lebih sejahtera.

Suyamto menyatakan, selama ini banyak varietas baru hasil rakitan para pemulia tanaman hanya tersimpan di laci. Bukan karena penelitinya tidak mampu bersaing, tetapi karena industri benih belum menyambut baik hasil kerja keras peneliti.

>w 9638m<Yang terjadi kemudian, varietas-varietas baru hasil rakitan pemulia itu tidak sampai ke petani. ”Padahal, memproduksi dan mendagangkan benih itu bukan tugas peneliti,” ujar Suyamto.>w 9738m<

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian Sutarto Alimoeso menyatakan, perakitan jagung hibrida varietas Bima merupakan prestasi. ”Sayang kalau tidak kita kembangkan sendiri,” katanya.

Menurut dia, jagung varietas Bima sebaiknya dikembangkan sendiri, tidak perlu melibatkan swasta. Karena, kalau sudah diserahkan ke swasta, akan terjadi perubahan orientasi dari semula ingin menolong petani kemudian bergeser untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya.

Belum lagi kalau swasta yang diajak bekerja sama punya ”agenda” lain. Kerja sama pengembangan dan komersialisasi benih yang semula bertujuan memudahkan petani mendapatkan benih unggul justru, sebaliknya, tidak akan pernah dapat karena benih yang seharusnya dikembangkan ”dipetieskan” atas nama persaingan usaha.

Libatkan petani

Sutarto menyatakan, lebih baik apabila petani diajak bekerja sama mengembangkan dan memproduksi sekaligus menjual benih hibrida unggulan varietas Bima. ”Petani atau penangkar benih kita sudah pandai-pandai. Jangan anggap petani tidak bisa memproduksi benih jagung hibrida, mereka hanya butuh sedikit pelatihan,” paparnya.

Menurutnya, saat ini pemerintah telah memiliki lembaga perbenihan, seperti Balai Benih Induk, Balai Benih Utama, dan Balai Benih Pembantu. Balai-balai benih tersebut tersebar di wilayah hingga tingkat kabupaten sehingga bisa menjadi ujung tombak industri perbenihan nasional berbasis petani.

Selain balai-balai benih tersebut, terdapat ratusan ribu penangkar benih. Selama ini mereka yang memasok kebutuhan benih padi dan jagung nasional. Para petani-penangkar ini memiliki kemampuan memproduksi benih sebar.

Sumber daya dan sarana pengembangan benih nasional sudah ada, tinggal bagaimana memanfaatkan balai penelitian dan ratusan ribu penangkar itu untuk memproduksi benih jagung varietas Bima agar bisa diakses petani jagung nasional.

”Biarkan para penangkar itu memproduksi benih sebar (extention seed/ES). Adapun fondation seed (FS), benih penjenis (breeder seed/BS), benih pokok (stock seed/SS) diproduksi balai-balai benih itu. Kalau tidak, kapan petani mandiri,” tegasnya.

Apa pun yang akan dilakukan pemerintah, yang paling penting bagi petani adalah kapan mereka bisa mendapatkan benih jagung hibrida varietas Bima? Kali ini petani butuh kepastian.

Kategori: Biology · Environment · Food

Hasil Riset BPPT Mulai Dilirik Pengusaha dan Kalangan Industri

November 7, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hasil riset Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT mulai dilirik industri. Pemilik perusahaan Ciputra Grup, Ciputra, dan PT Martina Berto, Martha Tilaar, Kamis (6/11), menandatangani nota kesepakatan dengan BPPT untuk mengembangkan riset aplikatif.

”Ciputra Grup mengharapkan riset kantong aspal yang tahan panas sampai 120 derajat Celsius. PT Martina Berto mengharapkan riset pengembangan alat ekstraksi tanaman untuk minyak aroma herbal,” kata Pelaksana Tugas Kepala BPPT Wahono Sumaryono dalam konferensi pers seusai penandatanganan nota kesepakatan atau letter of intent (LoI) tersebut.

Menurut Wahono, momentum ini mempertemukan inventor (penemu) dengan investor yang jarang terjadi. Selama ini banyak temuan-temuan BPPT yang kurang dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat, termasuk kalangan industri. Temuan tersebut merupakan hasil kerja keras periset BPPT yang sekitar 500 orang berjenjang pendidikan doktor dan sekitar 600-700 orang berjenjang pendidikan master.

Harus dipasarkan

Ciputra mengatakan, hasil-hasil riset BPPT jangan cuma didokumentasikan, tetapi harus bisa dikomersialkan. Caranya, bisa saja BPPT menawarkan hasil risetnya ke pasar, atau mencari tahu riset apa yang dibutuhkan pasar. Ciputra tidak menyalahkan sepenuhnya periset yang lebih berorientasi kepada riset, tanpa berorientasi komersial.

”Pendidikan di Indonesia memang lebih suka melahirkan akademisi semata. Seharusnya, juga mendidik entrepreneur yang bisa mengomersialisasikan hasil-hasil riset,” kata Ciputra.

Martha Tilaar mengkritik, selama ini banyak periset sampai tingkat profesor pun masih menyimpan hasil-hasil risetnya sendiri. ”Tidak ada upaya untuk menjadikan hasil-hasil riset tersebut sebagai komoditas yang bermanfaat untuk masyarakat banyak,” ujar dia.

Wahono mengungkapkan, perspektif riset sekarang cenderung terbatas pada kepentingan periset, karena minimnya dana dan infrastruktur. Semestinya dalam kondisi seperti sekarang, riset lebih berorientasi pada kebutuhan pasar.

”Peneliti atau perekayasa masih banyak yang mengejar kepuasan batin semata. Ke depan, ini tinggal diarahkan saja supaya penelitian bisa bersinergi dengan kebutuhan entrepreneur, termasuk kalangan industri, sehingga bisa lebih berguna bagi masyarakat,” kata Wahono.

Paten lama

Menurut Wahono, kendala aplikasi riset untuk menunjang sektor industri terletak pada proses memperoleh paten yang sangat lama. Dalam 10 tahun terakhir, misalnya, BPPT hanya memperoleh 79 paten dari ratusan temuan yang diusulkan patennya.

”Proses pengajuan paten tidak pernah dijawab dengan tegas, bisa atau tidak. Seperti hasil riset saya, sudah delapan tahun tidak pernah jelas bisa memperoleh paten atau tidak,” kata Wahono.

Kesulitan memperoleh paten juga dialami Martha Tilaar. Dalam lima tahun terakhir, perusahaan yang dipimpinnya mengusulkan 29 paten, tetapi baru satu paten yang diperoleh.

”Teknologi yang berkembang sangat cepat, semestinya bisa diimbangi dengan proses memperoleh paten yang cepat pula,” kata Martha Tilaar.

Menurut Wahono, pengujian untuk memperoleh paten paling cepat 18 bulan. Waktu ini dinilai terlalu lama

Kategori: Bio Fuel · Biology · Energy · Environment · Food · Gadget · Health · Math · Medicine · Telecomunication · Transportation

Mengenali Gejala Penyakit Jantung Koroner Penyebab Kematian

Oktober 24, 2008 · 3 Tanggapan

Gejala penyakit jantung koroner (PJK) perlu dikenali sejak dini, agar masyarakat dapat mencegah serangan PJK yang mengakibatkan kematian mendadak, kata dr Isman Firdaus, SpJP, FIHA dari Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler FKUI/RS Jantung Harapan Kita Jakarta, Rabu.

Dalam Seminar Peringatan Hari Jantung Sedunia yang diadakan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu, Isman mengatakan, gejala PJK bervariasi, namun yang sering timbul adalah sakit dada kiri (angina) dan nyeri terasa berasal dari dalam.

“Nyeri dada yang dirasakan pasien juga bermacam-macam seperti ditusuk-tusuk, terbakar, tertimpa benda berat, disayat, panas. Nyeri dada dirasakan di dada kiri disertai penjalaran ke lengan kiri, nyeri di ulu hati, dada kanan, nyeri dada yang menembus hingga punggung, bahkan ke rahang dan leher,” katanya.

Selain gejala nyeri dada, juga terdapat tanda-tanda seperti jantung berdebar (denyut nadi cepat), keringat dingin, sesak nafas, cemas dan gelisah.

Isman menegaskan, PJK adalah penyakit yang disebabkan ketidakcukupan antara suplai koroner dan kebutuhan kardiomiosit akibat proses aterosklerosis yang menyumbat aliran darah koroner. Penyebab serangan jantung dan kematian mendadak berawal dari kerusakan endotel yang faktor risiko utamanya adalah karena merokok, penyakit kencing manis (diabetes melitus), tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi (dislipidemia), keturunan.

Menurut dia, pengobatan PJK adalah meningkatkan suplai (pemberian obat-obatan nitrat, antagonis kalsium) dan mengurangi demand (pemberian beta bloker), pemberian pengencer darah untuk mencegah pemebekuan darah seperti aspirin dan yang penting mengendalikan risiko utama seperti kadar gula darah bagi penderita kencing manis, optimalisasi tekanan darah, kontrol kolesterol dan berhenti merokok.

“Jika dengan pengobatan tidak dapat mengurangi keluhan sakit dada, maka harus dilakukan tindakan untuk membuka pembuluh koroner yang menyempit secara intervensi perkutan atau tindakan bedah pintas koroner (CABG). Intervensi perkutan yaitu tindakan intervensi penggunaan kateter halus yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah untuk dilakukan balonisasi yang dilanjutkan pemasangan ring (stent) intrakoroner,” katanya.

Sementara itu, dr Fiastuti Witjaksono, MS.SpGK dari Departemen ilmu Gizi FKUI, mengatakan, diet (perencanaan makan) berperan dalam pencegahan PJK, khususnya mengurangi risiko PJK yakni hiperkolesterolemia (kelebihan koleterol), hipertensi (tekanan darah tinggi) dan diabetes melitus.

“Diet terbagi atas 3 J yaitu Jumlah yakni jumlah kalori sesuai kebutuahn, Jadwal yakni waktu makan terjadwal dengan baik dan Jenis, yakni komposisi karbohidrat, protein dan lemak seimbang, nutrien spesifik terpenuhi,” katanya.

Jumlah kalori sesuai kebutuhan yaitu berat ideal (tinggi badan-100) dikalikan 1 kg atau berat idaman 90 persen dari (tinggi badan-100) dikalikan 1 kg, serta ukuran lingkar pinggang ideal bagi wanita kurang dari 80 cm dan pria kurang dari 90 cm. Kebutuhan kalori per hari badan gemuk 1300-1500 kalori, sedang 1700-2100 kalori dan kurus 2300-2500 kalori.

Seminar PJK tersebut juga menampilkan pakar penyakit dalam dan jantung FKUI, seperti dr Em Yunir, SpPD dan dr Rachmad Wisnu Hidayat, SpKO dan dimoderatori Guru Besar FKUI Prof Dr dr Sjamsuridjal Djauzi, SpPD, KAI.

Kategori: Biology · Food · Health · Medicine

Makan Secara Berlebihan Membuat Otak Manusia Menjadi Tumpul dan Rusak

Oktober 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Makan secara berlebihan membuat otak jadi rusak, sehingga menyulut rangkaian kerusakan yang dapat mengakibatkan diabetes, sakit jantung dan penyakit lain, kata beberapa peneliti AS, Kamis.

Makan terlalu banyak tampaknya mengaktifkan jalur sistem kekebalan tubuh yang biasanya tak aktif di otak, dan mengerahkan sel kekebalan untuk menyerang dan merusak penyerang yang tak ada di sana, kata Dongsheng Cai dari University of Wisconsin-Madison dan rekan-rekannya.

Temuan tersebut, yang dilaporkan di jurnal Cell, dapat membantu menjelaskan mengapa kegemukan mengakibatkan demikian banyak penyakit yang beragam. Itu juga dapat menawarkan cara untuk mencegah kegemukan itu sendiri.

“Jalur ini biasanya ada tapi tak aktif di otak,” kata Cai dalam satu pernyataan, seperti dilaporkan Reuters.

Kegemukan adalah masalah global yang terus berkembang. Sebanyak 1,8 miliar orang diperkirakan memiliki kelebihan berat badan atau kegemukan pada 2007. Obat-obatan yang sejauh ini dipasarkan untuk memerangi kegemukan hanya memiliki keberhasilan terbatas dan, seringkali, menimbulkan dampak samping yang parah.

Tem Cai melakukan percobaan pada tikus, dalam upaya menjelaskan berbagai studi yang telah memperlihatkan bahwa kegemukan mengakibatkan radang kronis di seluruh tubuh. Radang itu ditemukan di sejumlah penyakit yang berkaitan dengan kegemukan, termasuk sakit jantung dan diabetes.

Semua itu terkumpul pada zat yang dikenal dengan nama IKKbeta/NK-KappaB.

Sel-sel kekebalan tubuh seperti “macrophages” dan “leukocytes” memanfaatkannya tapi tim Cai mendapatinya di dalam “hyphothalamus”, bagian otak yang berhubungan dengan metabolisme pada tikus dan manusia.

“Hyphothalamus adalah `markas` bagi pengaturan energi,” tulis mereka.

Mereka mendapati sangat banyak zat di sana tapi itu biasanya tak aktif.

Ketika mereka memberi tikus makanan berkadar lemak tinggi, zat itu menjadi sangat aktif. Dan ketika zat tersebut aktif, badan mengabaikan isyarat dari “leptin”, hormon yang biasanya membantu mengatur nafsu makan, dan insulin, yang membantu mengubah makanan jadi energi.

Merangsang IKKbeta/NK-kappaB membuat tikus makan lebih banyak, sementara menekannya membuat hewan tersebut makan lebih sedikit.

Cai percaya timnya telah menemukan tombol utama bagi bermacam penyakit yang disebabkan oleh makan berlebihan.

“Hyphothalamik IKKb/NF-kB dapat mendasari seluruh keluarga penyakit modern yang disebabkan oleh kelebihan gizi dan kegemukan,” tulis timnya.

Cai tak mengetahui mengapa zat itu akan berada di otak dan di sistem kekebalan tubuh tapi menduga zat tersebut berkembang sudah lama di dalam tubuh makhluk primitif yang tak memiliki sistem kekebalan tubuh yang sama canggihnya dengan hewan modern, termasuk tikus dan manusia.

“Itu diperkirakan memainkan peran dalam membimbing daya tahan kekebalan tubuh,” kata Cai dalam suatu wawancara telefon. “Di dalam masyarakat saat ini, jalur ini digerakkan oleh bermacam tantangan lingkungan hidup –kelebihan gizi.”

“Melumpuhkan” gen tersebut dengan menggunakan rekayasa genetika membuat tikus makan secara normal dan mencegah kegemukan. Itu tak dapat dilakukan pada manusia tapi Cai percaya satu obat, atau bahkan terapi gen, mungkin berhasil.

Dengan terapi gen, satu virus atau yang lain yang disebut “vector” digunakan untuk memperbaiki DNA ke dalam tubuh, tapi pendekatan tersebut masih bersifat percobaan.

Kategori: Biology · Cognitive Science · Food · Health · Medicine

Cara Mudah Mendeteksi dan Mengenali Makanan dan Minuman Berbahaya

Oktober 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Makanan dan minuman menjadi pilihan wajib bagi siapa pun untuk menjaga kesehatan sekaligus meneruskan keberlangusngan hidupnya. Namun, makanan dan minuman yang diolah secara tidak benar justru dapat menjadi pembunuh nomor wahid lantaran mengandung zat racun bagi tubuh.

Hal itulah yang mengilhami peneliti Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) melakukan penelitian dan akhirnya mempublikasikan dalam “Expo Karya Wima (Widya Mandala)” di kampus setempat pada 21-22 September 2008.

“Tips mengenali makanan dan minuman yang berbahaya dan yang aman itu penting pada masa-masa menjelang Lebaran,” kata peneliti UKWMS, Caroline SSi MSi Apt.

Dalam percakapannya dengan ANTARA News di Surabaya, ia menyampaikan metode pengenalan paling mudah dari berbagai sudut yakni warna, kandungan boraks, kandungan formalin, daging gelonggongan, ayam basi, ikan basi, makanan kaleng, bahaya snack, dan bahaya kemasan plastik.

“Kalau ada makanan yang warnanya mencolok dan menarik justru harus dicurigai, misalnya saos yang warnanya membekas di tangan memungkinkan pewarna yang digunakan adalah pewarna tekstil yang dapat menyebabkan kanker,” katanya.

Untuk boraks, katanya, dapat diamati dari bakso. “Kalau kenyal atau mudah dipantulkan seperti memantulkan bola karet di tanah, maka berarti banyak mengandung boraks. Bisa juga dari tanda-tanda gigitan yang kembali ke bentuk semula setelah digigit,” katanya.

Sebaliknya, katanya, tahu putih yang terlalu keras justru patut diduga mengandung formalin. “Kalau tahu kuning yang keras, kami belum melakukan penelitian, tapi kalau tahu putih yang tidak lembek dapat diduga ada kandungan formalin di dalamnya,” ucapnya.

Tentang daging gelonggong (daging yang diisi air), dosen Fakultas Farmasi (FF) UKWMS itu mengatakan daging seperti itu dapat dikenali dari air yang menetes bila digantung.

“Jadi, pilih saja daging yang digantung. Kalau ada air yang menetes berarti daging gelonggongan. Cara lain mengenali dari warna daging yang asli masih merah segar dan serat-serat di dalam daging juga tidak menggelembung,” katanya.

Harga yang tidak wajar juga merupakan pertanda. “Harga daging yang wajar itu Rp46 ribu perkilogram, nah kalau harganya lebih murah dari itu berarti patut dicurigai sebagai daging gelonggongan,” ungkapnya.

Kalau daging ayam, bagaimana cara mengenali daging dari ayam yang mati?

“Daging ayam yang masih segar itu berwarna agak kekuning-kuningan, kalau warnanya putih bersih justru dimungkinkan dari bekas ayam mati, apalagi kalau ada warna biru seperti bekas memar serta bau sangat amis,” katanya.

Bahkan, katanya, ada pula daging ayam yang direndam formalin agar awet. “Kita dapat mengenali daging ayam berformalin dengan menekan atau mendorongnya dengan jari telunjuk. Kalau keluar lendir atau air berarti pernah direndam dengan formalin,” katanya.

Namun, katanya, formalin dalam makanan juga dapat dihilangkan. “Caranya, makanan yang mencurigakan itu direndam dengan air panas sekitar 30 menit atau dipanaskan dengan oven bersuhu 121 derajat tiga menit. Kalau ikan dapat direndam dengan air cuka 5 persen selama 15 menit atau direndam air garam selama 30 menit untuk ikan asin,” katanya.

Lain halnya cara mengenali ikan basi. “Kalau ditekan justru lembek, warna insang tampak merah tua, atau mata ikan justru terlihat bening, maka cirinya ikan itu basi atau diberi formalin. Paling mudah ya beli saja ikan yang masih ada tanda-tanda hidup,” katanya.

Caroline juga menyarankan agar masyarakat jangan membeli makanan kaleng yang kemasan kalengnya sudah penyok.

“Kaleng yang penyok akan mengubah konsentrasi di dalam kemasan, karena kaleng penyok dapat mengandung racun akibat adanya kandungan botulimun (bahan dasar kosmetik). Kalau mau aman ya dipanaskan seperti ikan atau dibakar agar racunnya mati. Biasanya, supermarket justru memberi diskon,” katanya.

Untuk snack (makanan ringan) yang banyak disukai anak-anak, katanya, justru perlu dilihat komposisi zat warna-nya dan nomor registrasi. “Kalau warna-warnanya mencolok atau tanggal produk-nya kadaluarsa justru berbahaya,” katanya.

Satu lagi bahaya yang sering tak disadari adalah kemasan dari plastik, styrofoam, dan melamin. “Kalau kemasan itu diisi dengan bakso panas, soto panas, teh panas, dan makanan atau minuman serba panas akan dapat menyebabkan kanker,” katanya.

Kategori: Biology · Food · Health

Sudan Ingin Bekerjasama Dengan Institut Pertanian Bogor Dibidang Agraria

September 6, 2008 · 2 Tanggapan

Label perguruan tinggi ilmu pertanian tropika terbesar di Asia Tenggara yang disandang Institut Pertanian Bogor (IPB) membuat negara sahabat Sudan, tertarik untuk menjalin kerja sama dengan IPB.

Pernyataan itu, seperti keterangan yang diterima ANTARA News dari Hubungan Masyarakat (Humas) IPB di Bogor, Jumat, disampaikan Menteri Pendidikan Sudan, Prof Dr Fathi Mohammed El-Khalifa saat berkunjung ke IPB pada akhir Agustus 2008.

“Kami tertarik untuk melakukan kerjasama dengan IPB karena Sudan adalah negara agraris. Jadi kedatangan kami ke sini ingin mengetahui sistem administrasi di IPB,” katanya.

Sebelum berkunjung ke IPB, rombongan Menteri Pendidikan Sudan juga telah melakukan pertemuan dengan Mendiknas, Bambang Sudibyo, Menteri Agama (Menag), Maftuh Basyuni dan berkunjung ke beberapa universitas yakni Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Universitas Mulawarman (Unmul), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Univeristas Padjadjaran (Unpad).

Dalam kunjungan ke IPB, rombongan sempat diantar mengunjungi Rumah Sakit Hewan dan Pusat Pengembangan Ilmu dan Teknologi Pertanian dan Pangan Asia Tenggara (SEAFAST) Center IPB yang berada di lingkup Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM).

Ikut serta dalam kunjungan itu antara lain Rektor Khartoum University, Prof Dr Ir. Mohammed Ahmed El-Sheikh dan Rektor Jazirah University, Prof Dr Ismail Hassan Husein.

Rombongan diterima langsung oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof Dr Ir Yonny Koesmaryono, MS di Ruang Sidang Rektor, Gedung Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Darmaga, yang didampingi sejumlah pejabat IPB diantaranya Dekan FMIPA Dr Hasim, DEA, Sekretaris Eksekutif, Dr Ir Aceng Hidayat, MT, Kepala Sub
Direktorat Program Internasional, Dr drh Muhammad Agil dan dua orang mahasiswa IPB asal Sudan.

Kategori: Food

Asam Ursodeoksikolat Perbaiki Kolestasis

September 4, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Asam ursodeoksikolat dapat memperbaiki kolestasis terkait sepsis dengan cara menurunkan asam empedu di dalam darah.

”Kolestasis adalah keadaan kuning karena penyakit hati, sedangkan sepsis adalah infeksi berat pada bayi lahir dan mengakibatkan kegagalan multi-organ,” kata Hanifah Oswari di Jakarta, Rabu (3/9), dalam sidang Dewan Penguji disertasi untuk meraih gelar doktor di bidang Ilmu Kedokteran pada Universitas Indonesia.

Disertasi Hanifah Oswari berjudul ”Mekanisme Peran Asam Ursodeoksikolat terhadap Kolestasi Terkait Sepsis”. Hanifah dinyatakan lulus dengan yudisium 3,92.

Hanifah Oswari memaparkan, sepsis merupakan penyebab utama kematian pada pasien dengan penyakit kritis, penyebab kedua kematian pasien-pasien di ruang rawat intensif nonkoroner dan penyebab ke-10 secara keseluruhan penyakit di Amerika Serikat.

Sepsis juga merupakan penyebab utama pasien dirawat di ruang rawat Neonatologi RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Pada penelitian Kohort prospektif, dari 1.625 neonatus yang datang/lahir di RSCM sejak 1 Februari-30 Juni 2007, didapatkan 138 pasien sepsis, dan pada 65,9 persen di antaranya di dapatkan kolestasis

Kategori: Food · Health · Medicine