Arsip Kategori: Food

Gula Terbukti Membuat Bodoh dan Menurunkan Kinerja Otak

Mengkonsumsi terlalu banyak gula bisa menggerogoti otak manusia! Itulah hasil studi yang disiarkan beberapa ilmuwan pada Selasa (15/5).

Studi itu memperlihatkan bagaimana konsumsi sirup jagung yang berisi gula secara terus-menerus membunuh daya ingatan tikus. Beberapa peneliti di University of California Los Angeles (UCLA) memberi makan dua kelompok tikus cairan yang berisi sirup jagung berkadar gula tinggi –bahan umum dalam makanan olahan– sebagai air minum selama enam pekan.

Satu kelompok tikus diberi asupan asam lemak Omega-3, yang mendorong daya otak, dalam bentuk minyak biji rami dan asam docosahexaenoic (DHA), sementara kelompok lain tidak.

Sebelum minuman gula tersebut diberikan, tikus itu dibuat menjalani babak pelatihan lima-hari di tempat rumit. Setelah enam pekan di dalam cairan manis, semua tikus itu lalu ditempatkan di tempat yang membingungkan untuk cara hewan tersebut membebaskan diri.

“Hewan yang DHA mereka sudah dilucuti tersebut lebih lamban, dan otak mereka memperlihatkan kemerosotan di tempat kurungan sinapsis,” kata Fernando Gomez-Pinilla, profesor bedah syaraf di David Geffen School of Medicine di UCLA.

“Sel otak mereka saling memberi isyarat yang bermasalah, sehingga mengganggu kemampuan tikus itu untuk secara jernih dan mengingat jalur yang telah mereka pelajari enam pekan sebelumnya,” katanya.

Kajian yang lebih dekat mengenai otak tikus mengungkapkan bahwa tikus yang tak diberi asupan DHA juga telah mengembangkan tanda perlawanan terhadap insulin, hormon dan kendali gula darah serta mengatur fungsi otak.

“Karena insulin dapat memasuki penghalang darah-otak, hormon tersebut mungkin menandai syaraf untuk memicu reaksi yang mengganggu pembelajaran dan mengakibatkan hilangnya memori,” kata Gomez-Pinilla.

Dengan kata lain, mengkonsumsi terlalu banyak zat gula dapat mencampuri kemampuan insulin untuk mengatur bagaimana sel menggunakan dan menyimpan gula, yang diperlukan dalam pemrosesan pikiran dan emosi.

“Studi kami memperlihatkan konsumsi zat gula dalam kadar tinggi membahayakan otak serta tubuh. Ini adalah sesuatu yang baru,” kata Gomez-Pinilla.

Sirup jagung dengan kadar gula tinggi biasa ditemukan pada soda, bumbu, saus apel, makanan bayi dan cemilan-olahan lain.

Studi tersebut disiarkan di Journal of Physiology, demikian AFP.

Manfaat dan Efek Samping Asam Amino Taurin Dalam Minuman Berenergi dan Suplemen

Ketika beberapa orang merasa kelelahan atau membutuhkan energi tambahan, mereka biasanya akan menenggak minuman berenergi untuk menghidupkan kembali stamina yang hilang. Beberapa jenis minuman energi umumnya mengandung taurin, bahan yang sering diteliti terkait asal-usulnya dan pengaruhnya terhadap risiko kesehatan.

Tetapi apa sebenarnya taurin itu? Apakah senyawa ini cukup aman dikonsumsi pada minuman berenergi dan suplemen? Untuk mengetahuinya lebih dalam, berikut ini adalah ulasan mengenai seluk beluk taurin, beserta manfaat serta efek sampingnya, seperti dikutip Symptompfind:

Apa itu Taurin?

Taurin adalah asam amino, tetapi bukan asam amino esensial yang perlu didapatkan dari makanan. Taurin sebenarnya disebut sebagai asam amino kondisional, yang berarti bahwa diproduksi oleh tubuh dan sebagian besar ditemukan dalam jantung dan otak.

Selama ini, kepercayaan populer menyebutkan bahwa taurin berasal dari testis banteng. Padahal, zat ini tidak berasal dari testis banteng meskipun dapat ditemukan dalam empedu banteng serta pada sapi betina. Taurin juga biasa ditemukan dalam sumber makanan seperti daging dan ikan, tetapi sering dibuat secara sintetis untuk produk komersial seperti minuman energi dan suplemen.

Asam amino ini seringkali ditambahkan ke produk-produk minuman karena banyak yang percaya dapat meningkatkan kinerja saat melakukan aktivitas fisik. Taurin juga biasa diresepkan untuk orang yang menderita kondisi seperti :

* Tekanan darah tinggi
* Gagal jantung kongestif
* ADHD
* Penyakit hati
* Tinggi kolesterol
* Cystic fibrosis
* Kondisi mata progresif

Risiko dan efek samping

Minuman energi tidak dianjurkan untuk wanita hamil, anak-anak dan mereka yang sensitif terhadap kafein. Tapi apa sebenarnya efek samping dari taurin? Apakah mereka benar-benar menyebabkan masalah kesehatan atau hanya sekedar mitos?

* Taurin dapat mengganggu memori jangka pendek : Efek samping ini sebenarnya adalah sebuah mitos. Sebuah studi yang di mana melibatkan sejumlah mahasiswa menunjukkan bahwa taurin yang di kombinasi dengan kafein, tidak menghasilkan efek pada memori dalam jangka pendek.

* Taurin dapat mempengaruhi denyut jantung : Ini bukan mitos melainkan sebuah fakta. Dalam sebuah riset yang sama, peneliti menemukan bahwa detak jantung siswa menurun, sementara tekanan darah arteri mereka meningkat setelah menelan taurin. Beberapa peneliti menyarankan bahwa kafein mungkin telah memainkan peran dalam memicu reaksi ini.

Pengaruh kedua taurin dan kafein masih perlu diteliti secara mendalam, tetapi banyak orang menduga bahwa kombinasi dari dua dapat menghasilkan efek samping yang berbahaya.

Salah satu kombinasi yang sudah terbukti berbahaya adalah campuran minuman energi dan alkohol. Kombinasi dari stimulan dan depresan dapat menyebabkan masalah jantung seperti detak jantung yang abnormal. Kombinasi ini juga dapat menyebabkan dehidrasi karena keduanya bertindak sebagai diuretik.

Manfaat

Meskipun telah ada banyak spekulasi tentang risiko dan efek samping dari taurin, belum banyak penelitian yang berbicara tentang manfaat taurin. Berikut adalah beberapa manfaat yang bisa Anda peroleh dari Taurin:

* Taurin memiliki sifat antioksidan – Taurin bertindak seperti antioksidan untuk melawan radikal bebas dan melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat oksidasi.

* Taurin dapat meningkatkan kinerja para atletik – Sebuah studi para peneliti dari Austria menunjukkan bahwa taurin dapat meningkatkan kapasitas tubuh untuk mengangkut oksigen dan pada gilirannya, meningkatkan aktifitas fisik tanpa merasa kelelahan.

* Taurin dapat memberikan kontribusi untuk kesehatan jantung – Taurin dapat mengurangi peradangan yang terkait dengan penyakit arteri koroner dan bahkan dapat mencegah aterosklerosis, yang merupakan penumpukan plak di sepanjang arteri. Taurin juga dapat mengurangi efek hipertensi, atau tekanan darah tinggi, dan dapat meningkatkan kapasitas latihan dari mereka yang mengalami gagal jantung kongestif.

* Taurin juga dapat bermanfaat bagi penderita diabetes – Penelitian menunjukkan bahwa tingkat lebih rendah dari taurin dalam tubuh dapat berkontribusi pada perkembangan diabetes. Bahkan suplemen taurin dapat mengurangi risiko hiperglikemia dan resistensi insulin.

Beberapa studi menunjukkan, taurin juga mungkin memiliki dampak positif pada kinerja mental. Dalam kajiannya para peneliti mengindikasikan bahwa taurin dapat memperbaiki memori dan bahkan meningkatkan mood Anda, tetapi efek ini perlu diteliti lebih lanjut.

Perlu Diingat

Meskipun sudah ada banyak pembicaraan tentang taurin dan banyak mitos yang tidak benar. Walau bagaimana pun, taurin aman dikonsumsi dan dapat meningkatkan kesehatan orang dengan masalah jantung dan kondisi medis lainnya.

Mereka yang gemar mengonsumsi minuman energi dengan taurin harus menyadari bahwa taurin yang terkandung di dalam minuman energi mungkin bersifat sintetis (buatan) dan tidak menawarkan semua manfaat dari taurin yang umumnya ditemukan dalam sumber makanan atau dalam tubuh manusia.

Minuman energi juga sarat dengan kafein dan gula, yang tidak bermanfaat bagi kesehatan Anda. Jadi, jika Anda ingin mengonsumsi minuman energi, minumlah dengan porsi moderat. Moderasi adalah kunci untuk mengonsumsi suplemen taurin. Jangka pendek penggunaan suplemen taurin tidak akan menimbulkan efek yang berbahaya. Tetapi perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efek konsumsi taurin pada jangka panjang.

Taurin bukanlah zat yang beracun. Kelebihan taurin dalam tubuh biasanya akan dikeluarkan melalui ginjal. Jadi, apabila Anda mengonsumsi 1-4 gram taurin per hari, atau bahkan mingguan, dapat memberi Anda manfaat yang besar tanpa efek samping berbahaya.

Daftar 9 Jenis Makanan Yang Dapat Menimbulkan Sensasi Heart Burn Seperti Serangan Jantung

Apakah Anda pernah mengalami rasa panas di dada sehabis makan atau ketika tidur? Hati-hati, mungkin Anda mengalami heartburn atau rasa panas di dada seperti terbakar akibat naiknya asam lambung ke kerongkongan.

Heartburn adalah gejala utama dari penyakit GERD (Gastroesophageal Reflux Disease). Stres dan merokok diduga sebagai penyebab utama dari masalah ini. Kondisi orang dengan heartburn, biasanya akan semakin memburuk ketika mereka berbaring, membungkuk dan makan berlebihan.
Berikut ini adalah beberapa jenis makanan yang wajib Anda hindari untuk mencegah munculnya heartburn, seperti dikutip symtomfind:

1. Jeruk

Segala macam produk jeruk, seperti lemon dan grapefruits, dapat menjadi pemicu timbulnya heartburn pada beberapa orang. Jeruk mengandung sejumlah besar asam yang dapat meningkatkan gejala heartburn. Jika Anda salah satu pecinta buah jeruk, hindari mengkonsumsi buah tersebut pada waktu perut kosong.

2. Tomat

Tomat juga tinggi akan kandungan asam. Orang dengan heartburn biasanya akan mengalami peningkatan gejala setelah mereka mengonsumsi tomat. Jumlah asam yang terkadung di tomat segar jauh lebih banyak ketimbang setelah dimasak. Meskipun tomat tinggi antioksidan, tetapi makanan ini tidak dianjurkan dikonsumsi dalam dosis besar pada orang dengan gejala heartburn.

3. Bawang putih

Bawang putih adalah makanan super yang dikenal memiliki manfaat kesehatan luar biasa. Setiap potongan siung bawang putih dapat memberikan solusi alami terbaik untuk membantu pengobatan tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, penumpukan plak di arteri, gula darah tinggi dan pembekuan darah. Bahkan beberapa ahli menyakini, bawang putih dapat membantu mencegah kanker dengan menghambat pertumbuhan tumor dan mengurangi ukuran mereka.

Bawang juga mengandung antibiotik, memiliki sifat antivirus dan antijamur serta dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Namun beberapa senyawa pada bawang putih juga dapat meningkatkan produksi asam di lambung, yang memicu heartburn atau rasa panas di dada.

4. Makanan pedas

Sama seperti bawang putih, makanan pedas seperti lada dan cabai dapat memicu timbulnya heartburn. Tidak seperti beberapa makanan lainnya, mengonsumsi makanan pedas dalam jumlah sedang tidak akan mengurangi gejala heartburn. Bahkan jika dikonsumsi dalam jumlah kecil sekalipun.

5. Pepermin

Banyak orang yang terkejut mengetahui bahwa pepermin sebagai pemicu umum dari heartburn. Pasalnya, pepermin selama ini dikenal membantu menenangkan perut dengan relaksasi otot-otot perut dan membantu empedu untuk mencerna lemak. Pasien dengan heartburn, relaksasi otot-otot perut dapat menyebabkan asam lambung bocor keluar dan mengalir kembali ke kerongkongan, sehingga menimbulkan rasa panas di dada yang meningkat.

6. Keju, kacang dan steak

Keju, kacang dan daging merupakan jenis makanan yang berkontribusi dalam memicu sensasi rasa panas pada dada, karena tinggi kandungan lemak. Perlu diketahui, makanan yang tinggi lemak tidak dapat dicerna secepat makanan rendah lemak. Perut tidak dapat dikosongkan dengan cepat ketika mengandung makanan berlemak, akibatnya makanan menumpuk di perut dan menekan esophageal sphincter (cincin otot antara esophagus bagian bawah dan lambung).

Untuk mencegah heartburn, Anda hanya perlu memilih susu rendah lemak dan mengurangi konsumsi daging. Untuk mengurangi kandungan lemak, hindari penyajian daging dengan cara digoreng.

7. Alkohol

Alkohol, termasuk bir, anggur dan minuman keras, semua dapat berkontribusi untuk timbulnya heartburn. Anggur merah memiliki efek yang sama seperti tomat dan buah jeruk. Moderasi adalah kunci untuk menghindari masalah ini. Beberapa orang dengan gejala heartburn mungkin dapat minum dua gelas tanpa ada efek samping, tetapi untuk orang lain, hal ini bisa menimbulkan rasa panas di dada meski hanya meneguk beberapa gelas.

8. Kafein

Selain kopi dan teh, soda dan minuman berkafein dapat dengan cepat memicu sensasi panas. Sebelum menikmati secangkir kopi atau teh, pastikan Anda sudah mengisi perut dengan makanan ringan atau snack. Roti adalah pilihan yang baik karena mereka akan membantu menyerap asam yang berkeliaran di dalam perut.

9. Cokelat

Cokelat dapat menjadi penyebab serangan heartburn. Cokelat memiliki efek relaksasi pada otot perut, sehingga meningkatkan naiknya asam lambung ke kerongkongan. Mengkonsumsi cokelat setelah makan dapat membantu mengurangi timbulnya heartburn. Anda tidak perlu menghindari konsumsi cokelat sama sekali. Dengan membatasi porsinya, hal itu sudah dapat membantu meringankan timbulnya sensasi panas di dada.

Kantor Ketahanan Kota Padang Berhasil Membuat Pohon Jambu Berbuah Cengkeh

Pohon jambu dengan pucuk cengkeh berhasil dipersatukan sehingga memproduksi buah cengkeh, demikian hasil penelitian dari Kantor Ketahanan Pangan Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, Rasmi R, S.St. M.Si.

“Tekhnologinya cukup sederhana, antara lain jambu yang sudah relatif besar dipotong dahannya, setelah bertunas muda langsung disambungkan dengan pucuk cengkeh. Setelah 21 hari entris akan menyatu, maka akan muncul sebatang cengkeh yang siap berbuah cengkeh,” kata Rasmi R, di Padang, Rabu.

Menurut dia, penyambungan pohon jambu –yang dimanfaatkan sebagai batang bawah– itu dengan pucuk cengkeh, nantinya akan memproduksi cengkeh tanpa repot-repot menanam dari awal.

Sedangkan buah cengkeh sendiri, katanya, bernilai komersial karena merupakan salah satu komoditas non migas berskala ekspor ketimbang buah jambu.

“Cengkeh atau `eugenia aromatica` merupakan tanaman yang berasal dari pulau Zanzibar ini pernah menjadi primadona pada hasil perkebunan di Indonesia,” katanya, namun kini pamor cengkeh relatif menurun lebih disebabkan oleh monopoli tataniaga, kuota dan serangan hama atau penyakit tanaman.

Ia mengakui dengan merosotnya komoditi cengkeh, penelitian terhadap komoditas itu juga menjadi tidak menarik, mulai dari budidaya, hama dan penyakit.

Hal ini, katanya lagi, juga dipengaruhi adanya kecenderungan penelitian dilakukan pada hal-hal terkini atau yang menjadi populer.

Sementara tanaman jambu sendiri juga masuk genus eugenia dan famili eugenaceae. Genus ini memiliki banyak spesies seperti eugenia jambula (jambu ), eugenia sp (jambu keling) dan jambu air (eugenia sp. ), daun salam dan lainnya.

Setiap spesies ini mempunyai kelebihan dan keunikan tersendiri. Mulai dari ketahanan terhadap tekanan lingkungan, kemampuan adaptasi yang tinggi, ketahanan terhadap hama, penyakit serta pertumbuhan yang cepat.

“Sebagai dasar dalam ilmu budidaya tanaman dan ilmu biologi menjelaskan bahwa tanaman yang satu genus bisa dilakukan penyambungan (enten ), tempelan (okulasi ), susuan dan lain-lain,” katanya.

Karena itu pilihan dalam melakukan rekayasa budidaya ini tergantung dengan keahlian yang dimiliki karena mempunyai kelemahan dan kelebihan tersendiri.

Sedangkan jambu yang paling tinggi daya tahannya adalah jambu keling, yang buahnya berwarna hitam kalau sudah tua yang ukurannya sebesar ibu jari tangan.

“Tanaman ini banyak tumbuh di daerah padang alang-alang Kabupaten Solok, walau sudah puluhan kali terbakar di bawahnya dia tetap hidup dan batangnya relatif besar. Kalau jambu air juga cukup banyak tumbuh liar di lereng tebing, tepi sungai, dan Ngarai Sianok Bukittinggi,” katanya.

BATAN Seleski Gandum Mutan Untuk Bibit Unggul

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menyeleksi ribuan biji gandum mutan hasil radiasi untuk dijadikan benih varietas unggul yang mampu ditanam di dataran rendah tropis Indonesia.

“Gandum adalah makanan pokok kedua setelah padi tapi kita mengimpor gandum 100 persen. Penyebabnya tanaman ini sulit ditanam di dataran rendah tropis, sedangkan di dataran tinggi bisa, tetapi kalah bersaing dengan sayur-mayur,” kata pakar pemuliaan tanaman Batan Prof Dr Suranto Human di Jakarta, Selasa.

Karena itu untuk mengurangi impor gandum nasional yang pada 2010 sudah mencapai hampir 6 juta ton, Batan terus mencari bakal benih yang memiliki daya adaptai tinggi di daerah tropis sekaligus memiliki produktivitas tinggi.

“Radiasi dengan dosis 200-300 Gy akan menghasilkan ragam genetik terbanyak. Dari ribuan populasi hasil penyinaran ini kemudian ditanam hingga panen dan dicari galur yang terbaik, seperti yang cepat berbuah, yang malaynya besar atau bijinya banyak,” katanya.

Hasil dari penanaman yang pertama kemudian ditanam lagi dan seterusnya sampai generasi keempat atau lebih, baru kemudian dibawa ke Konsorsium Gandum Indonesia dan diajukan ke Kementerian Pertanian untuk disertifikasi.

“Saat ini gandum yang kami tanam di Cipanas sudah generasi kedua. Benihnya adalah hasil radiasi dari benih yang saya peroleh dari Australia pada Oktober 2010 lalu. Dari asalnya memang sudah memiliki ketahanan terhadap temperatur tinggi,” katanya.

Untuk tahap pertama, galur-galur ini ditanam di dataran tinggi lebih dulu (Cipanas adalah dataran tinggi, sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut), baru kemudian secara bertahap diujicobakan ke dataran sedang dan berikutnya di dataran rendah.

Selain menanam biji-biji gandum mutasi baru, pihaknya bersama Konsorsium Gandum Indonesia juga sedang meneliti 15 galur gandum terbaik, tujuh di antaranya galur hasil radiasi Batan, misalnya CBD17 yang sudah ditanam di dataran rendah dan bisa tumbuh dengan baik.

“Yang ditanam di Bogor dan Sukabumi itu sudah generasi kelima. Produktivitasnya bisa 4-5 ton per hektare. Meski kalah jauh dengan gandum di Amerika Serikat atau Eropa yang produktivitasnya mencapai 10-11 ton per hektare, ini sudah bagus untuk dataran rendah tropis,” katanya.

Gandum ujarnya, tanaman yang sangat sensitif, karena hanya mau ditanam di daerah dingin tapi kering, kalau ditanam di daerah dingin tapi memiliki curah hujan tinggi, gandum tak mau tumbuh.

Fortifikasi Vitamin A Pada Minyak Goreng untuk Membantu Penduduk Miskin

Indonesia bersiap melakukan fortifikasi vitamin A pada minyak goreng curah untuk meningkatkan asupan vitamin A pada penduduk miskin. Dua dari 97 pabrik minyak goreng di Indonesia sudah melakukan fortifikasi, tetapi masih sebatas pada minyak goreng kemasan.
”Diharapkan tahun 2012 semua minyak goreng curah di Indonesia sudah mengandung vitamin A,” Prof Soekirman, Direktur Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI), memaparkan hal itu, Rabu (13/7) di Kongres Nutrisi Asia XI di Singapura.
Fortifikasi adalah proses pengayaan bahan makanan untuk meningkatkan kadar gizi. Minyak goreng dipilih karena paling banyak dikonsumsi masyarakat. Penambahan vitamin A akan menaikkan harga minyak goreng sekitar Rp 50 per kilogram.
Soekirman mengatakan, Indonesia menghadapi masalah kekurangan vitamin A kronis. Hasil penelitian ahli gizi menunjukkan, banyak anak dan ibu hamil punya kadar vitamin A rendah dalam darah. Standar internasional, kadar vitamin A dalam darah minimal 20 international unit (IU). Kadar vitamin A pada anak-anak Indonesia rata-rata 30-40 persen di bawah standar normal.

Kekurangan vitamin A bisa menimbulkan gangguan penglihatan dan menurunkan daya tahan tubuh. Di Indonesia, asupan vitamin A terbukti mampu menurunkan angka kematian hingga 25 persen dari total angka kematian anak di Indonesia. Secara alami, kebutuhan vitamin A bisa diperoleh dari produk hewani.
Bantu asupan gizi

Di Indonesia, program fortifikasi dilakukan sejak 1994. Fortifikasi pertama yang dilakukan adalah pemberian yodium pada garam. Kemudian tahun 2001 pemerintah menerapkan kebijakan fortifikasi zat besi, asam folat, vitamin B1 dan B2 pada tepung terigu. Menurut penelitian, masyarakat miskin lebih banyak mengonsumsi mi daripada beras. Tahun ini, KFI mengkaji fortifikasi beras untuk penduduk miskin bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Perum Bulog, dan Kementerian Pertanian.

Minarto, Direktur Bina Gizi Kementerian Kesehatan, mengatakan, pemerintah sejak lama menyosialisasikan menu makanan dengan gizi seimbang, tetapi terkendala daya beli masyarakat yang rendah sehingga harus dibantu dengan fortifikasi.
Program fortifikasi minyak goreng dilakukan secara internasional. KFI mendapat dana dari International Global Alliance for Improved Nutrition, organisasi nirlaba yang dibiayai oleh Bill Gates, Organisasi Kesehatan Dunia, dan Bank Dunia.

Mahasiswa Brawijaya Berhasil Membuat Mie Instan Kaya Zat Besi

Laboratorium Food Production and Training Centre (FPTC) Fakultas Ilmu dan Teknologi Pertanian (FITP) Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, Jumat siang pekan lalu, 24 Juni 2011. Suasana hiruk-pikuk. Ada yang sedang membungkus aneka kudapan, ada yang memasak, ada pula yang sedang melayani pembeli.

Selain sebagai penghasil makanan olahan, FPTC juga berfungsi sebagai toko. Di tempat ini, mahasiswa dan dosen FITP bisa menjual makanan atau minuman hasil inovasinya. “Kami mencoba menjual mi instan di tempat ini. Saya yakin laku keras,” kata Meidina Nurfitrasari, mahasiswa semester VIII FITP yang sedang memasak di dapur FPTC.

Meidina Nurfirasi baru saja menemukan mi instan kaya akan zat besi. Meneliti bersama Ricki Setiawan dan Maya Mukti yang sama-sama mahasiswa FITP, mi instannya berasal dari campuran tepung terigu, singkong, ubi jalar kuning, belut, dan tempe. “Semua dari bahan lokal,” ujar Meidina.

Penelitian 3 mahasiswa ini dimulai lima bulan lalu. Berawal dari keinginan mereka mengikuti kompetisi pangan antarmahasiswa sedunia yang diadakan oleh Institute of Food Technologists (IFT). Tema kompetisi tersebut adalah cara menanggulangi kekurangan zat besi melalui pangan di negara berkembang.

Awal penelitian dimulai dengan studi literatur selama sebulan. Mereka menemukan belut dan tempe banyak mengandung zat besi. Dalam banyak literatur disebutkan, kandungan zat besi dalam belut dan tempe mencapai sekitar 25-30 persen.

Dalam studi literatur, Indonesia tercatat sebagai negara yang paling banyak mengkonsumsi mi setelah Cina. Pada 2009, jumlah mi yang dikonsumsi orang Indonesia sebanyak 139,3 juta bungkus dan meningkat menjadi 144 juta bungkus pada 2010.

Setelah menemukan jenis makanan yang akan diproduksi, mereka kemudian mempelajari cara membuat mi.

Ternyata, dibutuhkan bahan lain, selain belut dan tempe, yakni tepung terigu. Mereka berpikir mi yang akan diproduksi tak akan banyak berbeda dengan mi pada umumnya jika campurannya hanya tepung terigu.

Mi buatan Mei dan dua temannya ini dibuat dalam kemasan 70 gram dengan kandungan zat besi sebesar 40 persen. Soal bentuk, tergantung selera. Bisa bulat atau kotak. Mi juga bisa dibuat basah atau kering. Namun, trio mahasiswa ini memilih membuat mi kering agar tahan lama. “Masa kedaluwarsanya 6 hingga 8 bulan,” kata Ricki.

Kerja keras mereka tak sia-sia. Dalam Kompetisi Teknologi Pangan se-Dunia 2011 yang digelar oleh IFT di New Orleans, Lousiana, Amerika Serikat, 11-14 Juni 2011 lalu, mereka sukses.

Penelitiannya yang diberii judul “Melawan Masalah Kekurangan Zat Besi Melalui Produksi Mi Instan Kaya Zat Besi dengan Memanfaatkan Bahan-Bahan lokal” berhasil menyabet juara pertama. Sedangkan juara kedua diraih oleh tim dari Universitas Gadjah Mada Yogtakarta dan juara ketiga disabet oleh tim dari Institue of Chemical Technology India.

Menurut dosen pembimbing mahasiswa, Agustin Krina Wardani, keunggulan mi buatan mahasiswa FITP ini terletak pada besarnya kandungan zat besi. Selain itu, produknya akan digemari masyarakat karena mi merupakan produk yang populer dan menggunakan bahan-bahan lokal. “Produk mereka bisa membantu program pemerintah dalam mengatasi masalah kekurangan zat besi dan mendorong peningkatan produk pertanian,” katanya.

Mie Buatan Mahasiswa Universitas Brawijaya Rebut Juara Pertama Kompetisi Pangan Internasional di New Orleans

Mie buatan tiga mahasiswa Universitas Brawijaya (Unibraw) Kota Malang, Jawa Timur, berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi pangan internasional yang digelar di New Orleans, Lousiana, Amerika Serikat (AS), pada 11-14 Juni 2011.

Ricky Setyawan (22), salah seorang mahasiswa tersebut, pada Selasa mengatakan bahwa kompetisi yang diikuti sejumlah negara itu bertujuan mencari solusi pangan bagi negara-negara berkembang dengan ketentuan nilai pangan harus memiliki zat besi lebih.

Untuk itu, dirinya bersama dua rekan lainnya, Meidina Nurfitriani (22) dan Masa Mukti (19), terinspirasi membuat mie dengan bahan-bahan asli Indonesia, seperti campuran tepung ubi jalar, tempe, singkong, serta belut.

“Pembuatan mie pada umumnya menggunakan 100 persen tepung gandum, namun kita eksplorasi dengan bahan-bahan lain, seperti tepung tempe dan belut, serta ubi jalar dan singkong,” kata Ricky dalam keterangan persnya di Malang.

Alasan menggunakan campuran itu, menurut Ricky, karena bahan tersebut sangat murah dan mudah dicari di Indonesia, selain itu nilai kandungan zat besi juga banyak dan cocok bagi negara berkembang.

“Dalam presentasi yang kita lakukan di depan panelis dari berbagai negara, kita mendapatkan nilai lebih, sebab selain banyaknya kandungan zat besi, mie yang kita buat memiliki nilai ekonomis,” kata mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) itu.

Ricky menjelaskan, pesaing terberat dalam kompetisi itu berasal dari Amerika dan India, dengan membuat roti dan biskuit dari bahan singkong.

“Amerika dalam kompetisi itu mengikutkan roti berbentuk burger dan biskuit, namun dalam presentasinya mereka kalah dengan kita. Oleh karena itu patut kita syukuri,” kata Ricky.

Menanggapi prestasi anak didiknya, Rektor Unibraw, Prof Yogi Sugito, menyambut baik kemenangan tersebut, karena diraihnya juara pertama mahasiswanya tersebut adalah kali pertama dalam kompetisi pangan internasional.

“Sebelumnya kita juga pernah ikut dalam kompetisi itu, dan tahun 2010 hanya menduduki peringkat tiga besar,” kata Yogi.

Rencananya, Unibraw akan mematenkan produk mie instan itu dan memberikan penghargaan kepada tiga mahasiswa yang telah mengaharumkan nama akademisi di tingkat internasional.

“Kita akan berikan beasiswa lanjutan bagi ketiga mahasiswa itu, dan hasil karyanya akan kita pantenkan, jika perlu akan kita produksi secara massal dengan membuat pabrik mie instan itu,” katanya menambahkan.

Ilmuwan Jepang Temukan Cara Membuat Daging Sapi Dari Kotoran Manusia

Mitsuyuki Ikeda, seorang peneliti dari Laboratorium Okayama, Jepang, melakukan terobosan baru dengan membuat daging burger yang berasal dari kotoran manusia.

Ide ini muncul ketika dia diminta memberikan solusi bagaimana acara mendaur ulang sampah atau limbah kota. Menurut Ikeda, kotoran yang ada dalam sistem pembuangan sampah “dibungkus” dengan protein karena penuh dengan bakteri.

Timnya kemudian mengekstraksi protein tadi supaya berbentuk seperti steak. Untuk menampilkan daging seperti aslinya, Ikeda menambahkan zat pewarna makanan supaya warna daging menjadi merah dan membumbuinya dengan kedelai.

“Kami memberikan unsur tambahan ini supaya menghasilkan daging artifisial,” katanya dalam postingan di video YouTube.

Setelah daging buatan itu jadi, Ikeda kemudian mengukur zat yang terkandung di dalamnya. Hasilnya, daging dari bahan kotoran manusia ini terdiri dari 63 persen protein, 25 persen karbohidrat, 3 persen lipid dan, 9 persen mineral.

Tapi, bagaimana cara mempopulerkan daging buatan itu? Bisa dipastikan tidak ada orang yang mau melahap daging yang berasal dari kotoran manusia.

Ikeda kemudian melakukan uji coba kepada sejumlah orang tanpa memberi tahu asal-usul daging artifisial itu. Ikeda mengklaim setiap orang yang memakan daging tersebut mengatakan rasanya lezat seperti daging sapi.

Ikeda mengatakan daging buatan ini adalah makanan ramah lingkungan. Selain karena dibuat dari limbah, dia berpendapat, selama ini peternakan adalah salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca yang cukup besar.

Sayangnya, harga daging kotoran manusia itu masih jauh lebih mahal dibanding daging sapi. Harga itu menjadi konsekuensi dari biaya riset dan berbagai peralatan yang digunakan. Namun, Ikeda mengatakan jika daging buatan itu bisa diproduksi secara massal, harganya bisa jauh lebih murah.

Teknologi Dripping Irrigation Dari China Mampu Meningkatkan Produktivitas Tebu

Ada yang menarik perhatian begitu menjejakkan kaki di area perkebunan tebu milik Guangken Sugar Group, anak perusahaan GuangDong Agribusiness Corporation Group. Sebuah perusahaan negara di bawah Kementerian Pertanian China.

GSG merupakan perusahaan gula terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pemasaran produk. Baik dalam bentuk gula maupun hasil sampingnya.

Kelebihan GSG dalam mengelola perkebunan tebunya adalah menggunakan mekanisasi.

Dalam bidang irigasi, GSG mengembangkan sistem irigasi model dripping atau irigasi tetes yang dikontrol otomatis oleh komputer. Jaringan irigasi model dripping berada di tengah hamparan lahan tebu.

”Dengan adanya irigasi tetes, produktivitas tebu bisa dinaikkan 20 ton per hektar,” ujar Wakil Direktur Biro Pertanian Zhanjiang Huang Guogiang, pertengahan Februari lalu.

Irigasi model tetes sangat membantu di China. Maklum, topografi China tidak seperti Indonesia. Meski lahan banyak hamparan, pasokan air irigasi model tradisional, seperti memanfaatkan dam atau bendung, tidak akan bisa menjangkau ke semua area pertanian.

Tanpa merancang sistem irigasi yang sesuai kondisi lingkungan, produksi tanaman tebu tidak akan optimal. Beda dengan di Indonesia. Iklim di Jawa relatif tegas, kecuali belakangan ini hujan berkepanjangan.

Sebelumnya, Oktober-Maret musim hujan, sedangkan April-September musim kemarau. Pola iklim tegas sangat memudahkan teknis budidaya. Apalagi pada masa-masa pemasakan, tebu tidak banyak butuh air agar rendemen gula tinggi.

Di area tebu milik GSG di Zhanjiang, Guangdong, pasokan air terbatas. Meski pada saat pemasakan kondisi ini sangat membantu, tetapi mengganggu pada saat pertumbuhan karena kurangnya pasokan air. Irigasi model tetes dapat mengatasi masalah kekurangan air.

Mengairi lahan 30 hektar

Sistem irigasi ini mampu menjangkau dan mengairi tanaman tebu seluas 30 hektar. Menurut Wu Guizhou, Director Foreign Economic Office GDA, irigasi tetes beroperasi selama 18 jam, setara dengan curah hujan 30 mm per hari.

Zhang Li Fu, Deputi Kepala Produksi dan Teknologi Zhanjiang State Farm Bureau, mengatakan, prinsipnya bagaimana menyedot air dari dalam tanah atau dari sumber lain, lalu dipompa untuk menyiram tanaman tebu.

Di sepanjang bentangan pipa horizontal terdapat selang atau pipa kecil yang disusun vertikal dan dirancang khusus. Ketika air bertekanan melewatinya, langsung disemprotkan ke segala arah.

Agar mampu menjangkau pengairan hingga 30 hektar di sekelilingnya, bentangan pipa itu bisa diputar, dengan poros utama tetap pada saluran isap. Sistem pemutarnya tidak menggunakan cara otomatis, tetapi mekanis. Ditarik oleh kendaraan yang dirancang khusus.

Ini mungkin dilakukan karena di sepanjang bentangan pipa, pada jarak 10-15 meter, dipasang tiang-tiang penyangga beroda. Roda-roda itulah yang ditarik berputar, menjangkau hamparan tanaman tebu.

Menurut Wu Guizhou, investasi yang dibutuhkan sekitar 1 juta yuan (Rp 1,4 miliar) untuk peralatan dan penggalian sumur. Sistem irigasi bisa menggunakan tenaga listrik ataupun generator berbahan bakar solar.

Dengan mengadopsi sistem irigasi tetes, peningkatan produktivitas terjadi sangat nyata. Kalau tanpa ada irigasi, tanaman tebu hanya mengandalkan pasokan air hujan. Dalam situasi iklim tak menentu seperti sekarang, itu merupakan hambatan.

Sebelum ada irigasi sistem dripping, produktivitas per hektar tanaman tebu di GSG hanya 90 ton per hektar. Dengan irigasi tersebut, produktivitas bisa ditingkatkan hingga 110 ton.

Alat panen

Mesin pemanen tebu (harvester) yang dirancang khusus juga sangat menarik perhatian.

Jika ingin memanen, mesin pemangkas tebu tinggal diarahkan pada lajur tanaman. Roda bergerak di lajur yang kosong. Jika mesin tinggal dijalankan, tanaman tebu secara otomatis terpangkas, terpotong-potong dalam ukuran tertentu, dan dipisahkan dari sampah daun.

Sebuah truk mengiringi jalannya mesin pemanen. Bak truk diarahkan tepat di bawah lubang pemasok tebu dari mesin pemanen hingga bak truk terisi tebu hasil panen. Truk yang berisi tebu langsung meluncur ke area penampungan, selanjutnya dibawa ke pabrik gula.

Begitu mesin pemanen selesai bekerja, mesin pembalik lahan langsung jalan. Mesin membalikkan lahan di sekitar rumpun tebu dan menimbunnya, sementara sampah tertimbun secara otomatis dan langsung dapat dijadikan pupuk.

Tidak banyak tenaga manusia yang dibutuhkan. Hanya perlu dua-tiga orang untuk mengoperasikan mesin pemanen dan truk pengangkut. Selain lebih cepat, penggunaan mesin pemanen juga sangat efisien.

Dirut PT Industri Gula Nusantara Kamadjaya mengatakan, sistem irigasi dan mekanisasi dalam pemanenan tebu ini sangat cocok diterapkan di area perkebunan tebu yang datar dan kerap mengalami kekeringan.

Di Indonesia, sistem seperti ini bisa dikembangkan di luar Jawa karena di sana banyak tempat yang memungkinkan dilakukan sistem pengairan secara modern. Apalagi lahan yang tersedia masih sangat luas.