Arsip Kategori: Environment

Blueseed Kota Terapung Ditengah Laut ala Silicon Valley Siap Di Luncurkan

Blueseed adalah sebuah kota terapung yang terletak di perairan internasional, tidak jauh dari Silicon Valley, California Amerika Serikat. Namun jangan dikira ini adalah sebuah pulau kecil yang dihuni oleh orang-orang.

Blueseed rencananya akan berupa kapal tongkang atau kapal pesiar yang dirombak. Di dalamnya bakal disediakan ruang akomodasi baik ruang tamu, ruang kerja hingga fasilitas tempat hiburan.

Pengguna yang ingin merasakan fasilitas tersebut harus membayar sekitar 1.200-3.000 dollar AS per bulan. Namun tempat ini hanya berkapasitas hingga 1.000 orang saja dengan dengan awak kapal sekitar 200-300 orang.

Proyek kota terapung ini didirikan oleh Max Marty dan Dario Mutabdzija serta dipimpin oleh Co-Founder PayPal Peter Thiel. Blueseed ini akan ditempatkan di perairan internasional, 12 mil dari pantai California.

“Kapal ini juga bisa dinikmati oleh pengusaha atau startup di luar AS dan bisa bekerja di dekat Silicon Valley, tanpa memerlukan visa kerja AS,” kata Peter.

Ternyata, kapal tongkang yang disulap bak kapal pesiar ini juga diminati setidaknya lebih dari 100 perusahaan teknologi internasional. Dalam riset yang dirilis oleh Blueseed, sekitar 20,3 persen berasal dari AS, 10,5 persen dari India dan 6 persen dari Australia.

Sekadar catatan, perusahaan-perusahaan yang sekarang menghuni Lembah Silikon, di antara lain adalah Adobe Systems, Apple Computer, Cisco Systems, eBay, Google, Hewlett-Packard, Intel, dan Yahoo!.

Blueseed akan diluncurkan secara resmi pada kuartal III-2013.

Mahasiswa ITS Temukan Kran Hemat Air Untuk Wudhu

Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro ITS Surya Mahendra bersama dua rekannya merancang kran hemat air, terutama untuk kran air wudhu.

“Kalau dipakai kran air wudhu bisa menghemat 1,5 liter air. Biasanya, setiap orang membutuhkan empat liter air wudhu, tapi dengan kran itu hanya 2,5 liter,” katanya di Surabaya, Rabu.

Didampingi dosen pembimbing Suwito, ia menjelaskan, penghematan itu dapat dilakukan dengan menggunakan sensor dan alat otomatis yang disebut “solenoid valve”.

“Kran hemat air itu memang memakai baterai berdaya enam watt, tapi dalam kondisi tidak dipakai memakai 0,1 watt. Untuk pengganti baterai bisa menggunakan sel surya,” kata mahasiswa semester 6 itu.

Menurut dia, sel surya mampu menyerap energi 100 watt saat matahari bersinar terang dan bisa disimpan untuk kebutuhan malam hari.

“Yang jelas, saat merancang alat yang dapat dibuat dalam waktu satu jam itu karena saya sering menyaksikan kran wudhu di masjid yang tidak dimatikan,” katanya.

Dipuji Dahlan

Suwito mengatakan, kran hemat air itu sempat dipuji Menteri BUMN Dahlan Iskan saat berkunjung ke ITS pada 1 April 2012.

“Pak Dahlan Iskan memuji karena ajaran agama bahwa boros itu saudaranya setan seringkali sulit dipraktikkan, tapi ajaran agama untuk tidak boros itu akan terlaksana dengan kran hemat air. Jadi, teman-teman ITS bisa berdakwah lebih efektif,” katanya.

Alat itu juga sempat dipamerkan dalam Expo ITS dan loka karya “Selamatkan Air Sekarang” beberapa waktu lalu.

“Insya Allah, kami akan mencoba untuk merealisasikan alat itu pada Masjid Manarul Ilmi ITS untuk menyemarakkan Hardiknas,” katanya.

Lain halnya dengan alat rancangan mahasiswa Jurusan Elektro lainnya yakni Maulana Djatikusuma.

“Saya merancang alat deteksi kedalaman air banjir di kawasan tertentu,” katanya.

Dengan alat itu, kata mahasiswa semester 6 tersebut, kedalaman air banjir di wilayah tertentu dapat dihubungkan dengan “traffic light” untuk menampilkan kedalaman air banjir pascalampu merah itu.

“Kalau ketinggian air banjir melebihi ukuran ban mobil, maka seorang pengendara dapat membelokkan mobilnya untuk menghindarinya, sekaligus tidak menyebabkan mobilnya mogok yang akhirnya menimbulkan kemacetan panjang,” katanya.

Hingga saat ini, alat yang dirancangnya itu masih memiliki radius deteksi 200 meter hingga satu kilometer.

“Jadi, alat itu mirip `early warning system` yang mendeteksi cekungan kedalaman air,” katanya.

Kini Komunitas Pecinta Capung Indonesia telah Lahir

Tabita Makitan, 18 tahun, berendam di air Sungai Wendit, Pakis, Malang, yang sedalam pahanya, pagi itu. Cuacanya cukup dingin dan masih banyak embun menempel di dedaunan. Meski dingin, ia rela berbasah-basah demi mendokumentasikan metamorfosis nimfa menjadi capung muda.

Usahanya tidak sia-sia. Ia berhasil mendapati nimfa merayap keluar dari air melalui ranting tanaman. Bergegas ia menjepret momen itu dengan kamera digital. “Saya mengamatinya dari jarak 2 meter,” kata Tabita, pekan lalu.

Nimfa adalah salah satu dari tiga tahap siklus hidup capung, yaitu sesudah menjadi telur dan sebelum menjadi capung dewasa. Sebagian besar siklus capung dalam bentuk nimfa. Menurut Tabita, nimfa itu wujudnya mirip jangkrik. Sifat dan bentuknya sama dengan capung dewasa, hanya hidupnya di air.

Aktivitas seperti yang dilakukan Tabita adalah salah satu kegiatan Departemen Penelitian dan Pengembangan Indonesia Dragonfly Society (IDS). Tabita adalah anggota organisasi pencinta capung yang berdiri pada September 2010 itu.

Awalnya, organisasi ini bernama Dempo Dragonfly Society (DDS). Diganti menjadi IDS setahun kemudian. Nama Dempo dipakai karena komunitas ini dirintis oleh Sekolah Menengah Atas Kejuruan (SMAK) Saint Albertus, Malang, yang dikenal dengan sebutan SMAK Dempo, sesuai dengan nama jalan di dekat sekolah tersebut.

Adalah Wahyu Sigit Rgd., Ketua IDS, yang memperkenalkan Tabita dengan capung. Guru sosiologi di SMAK Saint Albertus inilah yang merintis DDS. Wahyu mengajak klub fotografi sekolah memburu capung. Beberapa orang itu kemudian sepakat menjaga kelestarian pusaka alam melalui capung sebagai fokus kegiatannya.

Minimal satu minggu sekali IDS menyusuri Sungai Wendit. Selain memakai kamera foto untuk pengamatan, senjata lainnya adalah jaring serangga, pH meter, serta pengukur kelembapan udara. Observasi dimulai pukul 07.00 dan berakhir pukul 12.00. “Jangkauan pengamatan sekitar seribu meter di sepanjang aliran sungai,” kata Wahyu, pekan lalu.

Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan IDS, Nur Christian, mencatat sampai kini terdapat 32 spesies capung (capung jarum dan capung besar) di Sungai Wendit dan sekitarnya. Tiga di antaranya belum diketahui jenisnya. Hasil observasi itu kemudian dilaporkan ke World Dragonflies Association (WDA) untuk identifikasi.

Tantangan lainnya adalah identifikasi. Pasalnya, belum ada buku referensi tentang capung Indonesia. Peneliti biasanya meminta bantuan entomolog dalam mengidentifikasinya. Atau mencari buku identifikasi ordo Odonata (segala jenis capung) yang iklimnya mirip dengan di Indonesia.

Selama IDS dibentuk, baru 20-an orang bergabung. Mereka tersebar di Malang dan Yogyakarta. Kantor IDS berada di Jalan Gresik Nomor 14, Malang, Jawa Timur. Sedangkan di Yogyakarta baru dirintis oleh Tabita, yang kuliah antropologi di Universitas Gadjah Mada. Artikel penelitian IDS bisa dilihat di www.indonesiadragonfly.wordpress.com atau di laman jejaring sosial Facebook (Odonata Nusantara) dan akun Twitter (@IDS_dragonfly).

Anggotanya mahasiswa, guru, dosen, serta kaum profesional. Ada juga budayawan, seperti Eka Budianta. Selain meneliti, mereka melakukan transformasi pengetahuan ke sekolah formal dan komunitas. Mereka juga mengeksplorasi persepsi dan kedekatan masyarakat terhadap capung, seperti cerita rakyat, mitos, dan legenda capung. Pada Juni 2012, IDS menggelar Festival Capung dengan tema “Saatnya Mencintai Capung di Negeri Sendiri”.

Pencinta capung terwadahi dengan adanya Kongres Capung Sedunia (International Congress of Odonatology), yang digelar oleh WDA setiap tahun. Tahun ini diadakan pada 28 Juli hingga 2 Agustus 2012 di Odawara, Jepang. “Saya dan Nur mengikuti kongres tersebut pertama kalinya atas nama Indonesia Dragonfly Society, bukan atas nama pribadi,” kata Tabita.

Dalam kongres, ia dan Nur akan mempresentasikan hasil penelitian capung di Malang. Sebenarnya keinginan mengikuti kongres sudah ada sejak tahun lalu. Salah satu usaha IDS adalah mengirim surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ternyata surat itu direspons positif. Tabita berharap usahanya didukung pemerintah. “Jangan sampai capung di Indonesia punah,” ujarnya.

Diruangan Super Sunyi Manusia Hanya Butuh 45 Menit Sebelum Berhalusinasi

Pepatah menyebutkan diam adalah emas, tapi manusia ternyata tak tahan terhadap kesunyian selama lebih dari 45 menit. Itu adalah rekor waktu terlama yang dicapai oleh sukarelawan dalam “bilik anechoic” di laboratorium Orfield di Minneapolis Selatan, Amerika Serikat.

Laboratorium itu menjadi tempat untuk menguji batas kesabaran manusia dalam menghadapi keheningan. Tempat paling senyap di dunia ini berupa ruangan berukuran 3 x 3 meter persegi, yang terdiri atas papan akustik fiberglass setebal 1 meter yang ditempel tegak lurus, ditambah dinding ganda berlapis baja insulasi dan tembok beton setebal 30 sentimeter.

Konfigurasi seperti itu membuat ruangan menyerap 99,99 persen suara dan menciptakan tingkat keheningan sebesar -9,4 desibel. Telinga manusia umumnya dapat mendengar suara lebih tinggi dari nol desibel.

Sebelumnya, ruangan milik Eckel Industries ini dipakai untuk menguji kebisingan berbagai mesin dan peranti elektronik. Salah satu peralatan yang diuji dalam ruangan ini adalah suara monitor telepon seluler pintar.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) berencana memakai ruangan ini untuk menguji daya tahan astronaut. Dalam kondisi tanpa suara, diperkirakan manusia mengalami rasa canggung karena mendengar suara yang seharusnya tak terdengar. NASA ingin mengetahui seberapa baik astronaut berkonsentrasi dalam kesunyian.

Pemilik laboratorium, Steven Orfield, mengatakan manusia bisa mendengar detak jantungnya sendiri di dalam ruangan ini. Suara gerakan perut juga terdengar amat lantang. Terkadang suara jantung bisa terdengar. “Di dalam ruangan ini, tubuh Anda menjadi sumber bunyi,” kata Orfield.

Pengalaman yang tak lazim inilah yang mengacaukan pengalaman manusia. Dalam kondisi disorientasi seperti ini, kata dia, orang harus duduk. Bila terlalu lama berada dalam ruangan itu, akan mulai mengalami halusinasi.

Catatan laboratorium memperlihatkan batas kemampuan manusia bertahan di dalam ruangan sunyi ini adalah 45 menit. Orfield sendiri hanya bisa bertahan selama 30 menit di dalam kesunyian. Rupanya ia tak tahan mendengar suara mesin dari jantung buatan yang terpasang di badannya.

Penyebab Serangan Serangga Tomcat Di Komplek Apartemen Eastcoast dan Palm Spring Regency Surabaya

Guru Besar Entomologi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Ir. Aunu Rauf, M.Sc mengatakan, serangan serangga Tomcat terhadap warga penghuni komplek apartemen di Surabaya karena pembangunan pemukiman penduduk berada di perkembangbiakan binatang ini.

“Misalnya di dekat persawahan atau di pinggiran dekat hutan yang lembab atau rawa,” kata Aunu kepada Tempo di Bogor, Selasa 20 Maret 2012.

Menurut dia, ada beberapa kemungkinan yang bisa menjelaskan ledakan atau outbreak kumbang tomcat, sehingga masuk rumah penghuni apartemen. “Terjadi peningkatan populasi kumbang tomcat menjelang berakhirnya musim hujan. Sebelumnya masih dalam stadia larva dan pupa,” dia menjelaskan.

Aunu memaparkan, pada saat yang bersamaan terjadi kegiatan panen. Sehingga kumbang Tomcat berterbangan dan bergerak menuju sumber cahaya di pemukiman.

Outbreak kumbang tomcat seperti terjadi di Surabaya, pernah pula dilaporkan terjadi di negara lain, seperti di Okinawa-Jepang (1966), Iran (2001), Sri Lanka (2002), Pulau Pinang- Malaysia (2004 dan 2007), India Selatan (2007), dan Iraq (2008).

Menanggapi serangan serangga tomcat, Dinas Pertanian Surabaya membuka layanan call center. “Kami buka tujuh hari hingga pukul 22.00 WIB,” kata Kepala Bidang Pertanian dan Kehutanan Dinas Pertanian Surabaya, Alexandro S. Yahaya, ketika dihubungi pada Selasa, 20 Maret 2012.

Nomor yang bisa dihubungi warga Surabaya adalah 031-8275404. Penelepon bisa mengadukan serangan serangga tomcat ke nomor ini dan meminta bantuan ke Dinas Pertanian. Menurut Alex, nomor layanan itu sudah ada sejak tahun lalu.

“Dulu dipakai ketika ada serangan ulat bulu,” kata dia. Kini nomor yang sama dibuka lagi menghadapi serangan kumbang bernama latin Paederus riparius itu. Menurut Alex, nomor ini adalah nomor khusus untuk kejadian luar biasa.

Sejak Jumat, 16 Maret 2012, sejumlah daerah di Surabaya menjadi persinggahan serangga tomcat. Misalnya Apartemen Eastcoast, daerah Mulyorejo, perumahan Palm Spring Regency, daerah Ngagel Rejo, hingga kawasan Semampir.

Kumbang berwarna oranye itu rajin menyambangi kawasan tersebut pada sore hingga malam. “Korban rata-rata di daerah itu setiap hari ada puluhan orang,” ujar dia. Bahkan tercatat ada 50-60 puluhan siswa SD Mustaqim yang menderita gatal akibat tomcat.

Cara Menikmati Hari Tanpa Bayangan

Matahari adalah bintang yang berjalan. Sepanjang tahun, benda langit ini menempuh perjalanan mondar-mandir dari utara ke selatan.

Perjalanan matahari itu disebabkan oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi terhadap bidang edar matahari. Kemiringan sebesar 23,5 derajat inilah yang membuat tampak berayun sepanjang tahun matahari.

Selama perjalanan tersebut, matahari menyinggahi berbagai kota di Bumi. Persinggahan dilakukan bergilir sesuai posisi lintang kota di bola Bumi. Pontianak, misalnya, yang berada pada lintang 0 derajat, mendapat kesempatan disinggahi matahari sebanyak dua kali dalam setahun.

“Matahari di atas Pontianak setiap tanggal 21 Maret dan 23 September,” ujar Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan Antariksa (Lapan) Thomas Djamaluddin saat dihubungi, Jumat, 2 Maret 2012.

Beda lagi dengan Jakarta. Matahari singgah di atas Ibu Kota setiap tanggal 4 Maret dan 8 Oktober. Maklum, kota yang dulu dipanggil Batavia ini berbeda lintang dengan Pontianak. Jakarta berada 6,2 derajat lebih selatan dari Pontianak yang berada di khatulistiwa.

Saat matahari singgah di atas kota, terjadi fenomena unik. Selama lima menit, benda-benda tegak seolah kehilangan bayangan. Peristiwa ini terjadi tepat tengah hari, sebelum azan zuhur berkumandang.

Lenyapnya bayangan benda terjadi karena perspektif pencahayaan. Sumber cahaya yang berada di atas benda seperti tabung atau balok maka bayangan akan jatuh di alasnya. Jika sumber cahaya bergeser sedikit saja, bayangan akan bergeser keluar dari alas. Bayangan serta-merta terbentuk.

“Pada hari tanpa bayangan, matahari persis di atas kepala sehingga bayangan jatuh di bawah bangunan,” kata Thomas.

Karena jatuh di bawah benda, bukan berarti bayangan benar-benar menghilang. Jika benda tersebut memiliki penampang alas lebih kecil ketimbang penampang atas, maka bayangan tetap bisa terlihat. Hal ini bisa diamati pada pohon.

Saat matahari tepat di titik tertinggi langit Jakarta pada Minggu, 4 Maret 2012 nanti, rimbun daun pepohonan akan menghasilkan bayangan di tanah. Karenanya, bayangan tak benar-benar menghilang pada hari Minggu nanti di Jakarta.

Fenomena hari tanpa bayangan akan terjadi di Jakarta pada Minggu, 4 Maret 2012. Pada saat itu, matahari akan berada tepat di atas Kota Jakarta dan membuat hampir semua benda tegak kehilangan bayangan selama beberapa menit pada tengah hari.

Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan Antariksa (Lapan) Thomas Djamaluddin mengatakan lenyapnya bayangan di sebuah kota terjadi dua kali setiap tahun. Fenomena ini bagian dari rute gerak matahari yang bergerak dari selatan ke utara dan sebaliknya dalam satu tahun.

“Jika posisi matahari tepat di atas lintang sebuah kota maka benda tegak tak akan menunjukkan bayangan,” ujarnya saat dihubungi Tempo pada Jumat, 2 Maret 2012.

Pada Minggu nanti, matahari akan berada pada posisi 6,25 derajat Lintang Selatan, hampir sama dengan letak Kota Jakarta di 6,20 derajat Lintang Selatan. Tepat tengah hari, sekitar pukul 12.04 WIB, matahari akan berada tepat di atas kepala. Akibatnya, bayangan seolah lenyap karena jatuh tepat di tempat berpijak benda tersebut.

Lenyapnya bayangan pada tengah hari juga terjadi di kota lain. Pada Ahad, Serang juga mengalami peristiwa serupa.

Kota lain, yang terletak lebih selatan daripada Jakarta, akan mengalami fenomena itu lebih cepat. Bogor dan Semarang, misalnya, akan mengalami tengah hari tanpa bayangan pada Sabtu, 3 Maret 2012, sehari lebih dulu ketimbang Jakarta.

Sepekan terakhir, matahari memang berada di atas Pulau Jawa. Akibatnya, beberapa kota bergantian disinari matahari dari zenit. Kota Yogyakarta dan Surabaya berturut-turut kehilangan bayangan pada 1 Maret 2012 dan 29 Februari.

Bandung dan Sukabumi yang berada di 6,9 Lintang Selatan mengalami tengah hari tanpa bayangan pada Jumat, 2 Maret 2012. Namun Pelaksana Teknis Kepala Bidang Matahari dan Antariksa Lapan Sungging Emanuel Mumpuni mengatakan kantor Lapan di Bandung tak melakukan kegiatan khusus menyambut peristiwa ini. Alasannya, hal ini merupakan fenomena biasa yang tak banyak berpengaruh terhadap cuaca.

Menurut Thomas, fenomena lenyapnya bayangan untuk Jakarta selalu terjadi setiap tanggal 4 Maret dan 8 Oktober setiap tahun. Fenomena pada tanggal 4 Maret merupakan bagian dari perjalanan matahari dari Australia menuju khatulistiwa. Sementara pada 8 Oktober, matahari sedang dalam perjalanan dari khatulistiwa menuju Australia.

Lenyapnya bayangan lebih populer dengan Kota Pontianak, Kalimantan Barat, yang terletak persis di khatulistiwa. Di kota ini, bayangan menghilang setiap tanggal 21 Maret dan 23 September setiap tahun. Selama waktu ini, Monumen Khatulistiwa akan diterangi matahari dari atas sehingga tak meninggalkan jejak bayangan.

Tak hanya di Indonesia, Kakbah di Mekah juga mengalami tengah hari tanpa bayangan pada 18 Juli nanti. Selama ini bayangan jatuh menjauh dari Mekah sehingga bisa dipakai sebagai penanda arah kiblat oleh umat Islam.

Selain membuat bayangan hilang, posisi matahari yang berada di atas kota juga membuat suhu udara sedikit lebih tinggi dibandingkan hari biasa. Syaratnya, matahari tak terhalang awan dan angin berembus pelan. “Jika langit mendung dan angin kencang, suhu udara normal,” ujar Thomas.

Matahari merupakan benda langit yang berayun dari utara ke selatan dalam setahun. Bintang induk ini berada pada titik paling selatan setiap 21 Desember, mengakibatkan musim panas di Benua Amerika Selatan, Afrika bagian selatan, dan Australia. Enam bulan kemudian, pada 21 Juni, matahari berada di titik paling utara, mengakibatkan musim panas di Benua Eropa dan Amerika Utara, serta negara seperti Jepang dan Korea.

Hari tanpa bayangan matahari akan terjadi pada 21-22 Maret dan 21-22 September 2012. Peristiwa alam pada tengah hari itu hanya bisa dilihat di kota atau daerah tertentu di Indonesia. Pulau Jawa termasuk yang terkena pengaruh fenomena ini.

Astronom dari Institut Teknologi Bandung Danny Herdiwijaya mengatakan hari tanpa bayangan matahari pada tengah hari bisa diamati di Pontianak, Riau, Jambi, serta Palu. “Di daerah yang dilewati garis ekuator atau garis nol derajat,” ujarnya, Jumat 2 Maret 2012.

Fenomena alam itu terjadi akibat pergerakan bumi terhadap matahari. Bagi penduduk bumi, yang terjadi seperti sebaliknya, yaitu matahari yang bergerak dari utara ke selatan bumi dan sebaliknya.

Saat matahari seolah-olah bergerak dari selatan bumi ke utara seperti yang terjadi saat ini, matahari akan melewati garis ekuator. Ketika sampai tepat di garis itu pada 21 atau 22 Maret tengah hari, matahari tepat berada di atas benda apa pun. Bayangannya pun jadi nihil.

Peristiwa serupa akan terulang pada 21 atau 22 September 2012. Saat itu matahari seperti bergerak dari utara ke selatan Bumi.

Di daerah lain atau di luar daerah garis ekuator, bayangan matahari pada tengah hari akan terlihat seperti biasa. “Karena posisi Bumi itu miring 23,5 derajat,” kata mantan Direktur Observatorium Bosscha, Lembang, tersebut.

Di Indonesia, pengamatan tengah hari tanpa bayangan itu leluasa dilakukan banyak orang di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Sedangkan di Riau, kata Danny, letaknya di daerah hutan. Adapun di Palu agak ke utara. “Di daerah Maluku atau Irian jatuhnya di lautan,” katanya.

Khusus tugu titik nol derajat di Pontianak, ujar Danny, kini telah bergeser cukup jauh hingga puluhan meter dari tempatnya semula. “Dulunya dekat Sungai Kapuas, sekarang makin menjauh,” ujarnya. Pergeseran itu diduga kuat akibat pergerakan lempeng Bumi.

Cairnya Es Kutub Utara Lepaskan Ribuan Ton Merkuri ke Lautan

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) melansir temuan terbaru mengenai kaitan es Kutub Utara dengan tingkat pencemaran merkuri di lautan. Menurut penelitian NASA, penurunan es di Kutub Utara secara signifikan selama satu dekade terakhir terbukti meningkatkan reaksi kimia yang menyebabkan endapan ribuan ton merkuri beracun di lautan.

Penelitian menemukan bahwa es di Laut Artik yang terkenal tebal dan abadi perlahan digantikan oleh es yang lebih tipis dan lebih asin. Son Nghiem, seorang peneliti NASA di Jet Propulsion Laboratory di Pasadena, mengatakan lapisan es pengganti ini melepaskan bromin ke udara ketika berinteraksi dengan sinar matahari dan hawa dingin.

Meningkatkanya jumlah bromin, unsur kimia dengan lambang Br, memicu reaksi kimia yang disebut “ledakan bromin” yang mengubah gas merkuri di atmosfer menjadi polutan beracun yang jatuh di salju, tanah, dan es. Polutan beracun juga dapat terakumulasi dalam tubuh ikan di lautan.

“Menyusutnya luas permukaan es saat musim panas telah menarik banyak perhatian untuk mengeksploitasi sumber daya alam di Kutub Utara dan memperbaiki rute-rute perdagangan maritim,” kata Nghiem.

Namun perubahan komposisi es laut juga berdampak besar pada lingkungan. “Mengubah kondisi di Kutub Utara akan meningkatkan ledakan brom di masa depan,” sambung dia.

Nghiem mengatakan pelepasan bromin ke udara dapat menghapus lapisan ozon dari tingkat terendah atmosfer, yaitu troposfer.

Berbeda dengan sejumlah penelitian sebelumnya yang hanya memusatkan perhatian pada lapisan es Kutub Utara saat musim panas, penelitian NASA kali ini juga mengamati lautan es abadi selama musim dingin dan saat peralihan ke musim semi. Penelitian NASA diterbitkan dalam Journal of Geophysical Research-Atmospheres.

Nghiem mengatakan, para ilmuwan masih mencari tahu penyebab hilangnya es Kutub Utara seluas satu juta kilometer persegi selama 10 tahun terakhir. Namun hipotesis sementara menyebutkan perubahan pola angin di Kutub Utara menjadi pemicu pencairan es abadi di kawasan tersebut.

Menurut catatan NASA, pada bulan Maret 2008 Kutub Utara kehilangan lapisan es seluas gabungan negara bagian Texas dan Arizona, dan mencapai titik penyusutan terendah sepanjang 50 tahun terakhir. Lapisan es yang hilang ini telah digantikan oleh lapisan es yang lebih muda, yakni lapisan es musiman yang lebih asin karena tidak mengalami proses pembersihan garam.

Penelitian skala besar ini dilakukan oleh tim ilmuwan gabungan dari Amerika Serikat, Kanada, Jerman, dan Inggris. Mereka juga mengkompilasi data gabungan dari NASA, satelit Badan Antariksa Eropa dan Badan Antariksa Kanada serta pengamatan lapangan dan model.

Dua Badai Radiasi Hebat Sinar Matahari Akan Menerpa Bumi dan Planet Mars

Bumi bukan satu-satunya planet yang terancam oleh badai matahari. Mars yang terletak 1,5 kali lebih jauh dari matahari juga akan terdampak.

Peristiwa ledakan matahari kali ini terjadi tak sampai sepekan setelah peristiwa oposisi Mars pada Minggu, 4 Maret 2012. Karena itu susunan Mars, Bumi, dan matahari saat ini berada dalam posisi segaris.

“Badai kali ini berdampak pada Bumi dan Mars,” kata lembaga penerbangan dan antariksa Amerika Serikat (NASA) dalam siaran pers yang diterbitkan pada Kamis, 8 Maret 2012.

Partikel bermuatan dari matahari bergerak dengan kecepatan 1.800-2.000 kilometer per detik membutuhkan waktu 3-4 hari untuk mencapai Bumi. Karena itu bumi akan dihantam badai besok siang. Adapun Mars yang terletak lebih jauh akan mengalaminya paling telat Minggu, 11 Maret 2012.

Beberapa satelit yang sedang mengorbit Mars juga mendapat ancaman gangguan selama badai. Ancaman yang sama juga terjadi pada satelit komunikasi dan navigasi yang berada di sekitar Bumi.

Dua badai matahari besar kembali mengunjungi Bumi setelah dua ledakan terjadi di bintang terdekat tersebut pada Rabu, 7 Maret 2012. Serangan badai berenergi tinggi ini diperkirakan akan mengganggu satelit komunikasi dan navigasi.

Laporan dari badan penerbangan dan antariksa Amerika Serikat (NASA) hari ini menyebutkan bahwa dua badai besar sedang bergerak mendekati Bumi dengan kecepatan 1.800-2.000 kilometer per detik. Badai ini mengandung partikel bermuatan yang dilontarkan matahari saat ledakan kelas terbesar terjadi beberapa hari lalu.

Data dari dua satelit pemantau matahari milik NASA memperlihatkan badai matahari pertama kali mencapai Bumi pada Jumat, 8 Maret 2012, sekitar pukul 14.25 WIB.

“Angin partikel akan menghasilkan badai magnetik yang sangat kuat,” tulis NASA dalam siaran pers hari ini.

Serangan partikel ini diperkirakan akan mengempas banyak satelit di orbit. Satelit komunikasi dan navigasi yang berkaitan dengan banyak aktivitas manusia berpotensi mengalami gangguan selama beberapa jam. Satelit penelitian seperti Messenger, Spitzer, dan STEREO-B milik NASA juga akan menerima gangguan.

Peneliti cuaca antariksa dari National Oceanic and Atmospheric Administration’s Space Weather Prediction Center, Joseph Kunches, mengatakan ancaman bahaya akan berlangsung hingga Sabtu.

Dampak badai tak hanya dirasakan di antariksa, melainkan juga di Bumi. Menurut dia, pesawat yang mengangkasa berpotensi mengalami gangguan, saluran komunikasi berpotensi terputus selama penerbangan. “Maskapai komersial sudah diberikan peringatan dini,” kata Kunches seperti dilansir MSNBC.

Gangguan lain berpotensi terjadi pada pembangkit listrik, terutama untuk negara-negara yang berada di dekat kutub. Menurut dia, partikel bermuatan di angkasa bisa menginduksi arus listrik yang mengalir di jaringan pembangkit. Kejadian lumpuhnya listrik di sebuah provinsi di Kanada pada abad ke-19 dan dua dekade lalu bisa saja terulang.

Efek lain yang juga bisa dirasakan adalah munculnya aurora yang sangat terang. Cahaya aurora ini dipastikan bisa dilihat oleh negara-negara yang berada dekat kutub.

Sistem Pertanian Berpindah Dengan Membuka Hutan Suku Bantu Membuat Sebagian Afrika Menjadi Gurun Pasir

Hutan tropis Afrika tergolong unik karena memiliki savana luas. Penelitian terbaru menunjukkan manusia Afrika yang hidup ribuan tahun lalu mengubah bentang alam hutan tropis.

Fakta tersebut ditarik dari penelitian sedimen yang diangkat dari hulu Sungai Kongo. Tanah yang tenggelam di dasar sungai terdalam dunia ini menunjukkan campur tangan manusia dalam menciptakan savana di Afrika Tengah.

Pada lapisan sedimen berumur 3.500 tahun, peneliti menemukan terjadinya penumpukan endapan humus. Padahal, pada masa tersebut, curah hujan cenderung tak berubah banyak ketimbang waktu sebelumnya.

Penjelasan yang sangat mungkin mengenai fenomena ini adalah diterapkannya sistem pertanian oleh orang Bantu. Pemukim baru di sekitar daerah aliran Sungai Kongo menanam tumbuhan yang membutuhkan banyak cahaya matahari seperti kelapa sawit, sorgum mutiara, dan singkong. Karenanya mereka harus membuka hutan tropis agar pohon tak membayangi tanah. Kayu hasil tebangan juga bisa dijadikan arang yang berguna untuk membakar bahan pembuat senjata dan gerabah.

Perubahan lahan terbuka bekas hutan menjadi savana ini berlangsung cepat. Apalagi pada saat bersamaan terjadi fluktuasi cuaca akibat faktor alamiah seperri erupsi gunung berapi atau tabrakan meteorid.

“Fluktuasi cuaca bersamaan dengan migrasi orang Bantu yang menerapkan pertanian intensif berdampak pada hutan hujan tropis Afrika,” ujar peneliti iklim dari Unite de Recherche Geosciences Marines, Germain Bayon, melalui makalah yang diterbitkan jurnal Nature.

Terumbu Karang Mampu Memutuskan Bunuh Diri Bila Air Laut Terlalu Panas

Ilmuwan Australia menemukan mekanisme molekuler yang menjelaskan kematian terumbu karang di seluruh dunia akibat pengubahan iklim bumi.

Bukti nyatanya adalah Pemutihan koral yang merupakan peristiwa kerusakan terluas yang mempengaruhi terumbu karang di bumi. Proses pemutihan terjadi karena kenaikan suhu laut.

Kenaikan suhu memicu tekanan panas yang menganggu simbiosis antara karang dan alga. Alga sebagai sumber energi karang ternyata tak kuat panas, sehingga mati atau tak layak makan bagi karang.

Ilmuwan dari ARC Center of Excellence of Coral Reef Studies dan Universitas James Cook mengungkap bahwa rangkaian sinyal molekuler yang kompleks telah menyebabkan karang dan alga bunuh diri. Mereka memutuskan mati ketika permukaan air laut mulai menghangat.

Para Ilmuwan ini meneliti karang Acropora yang terdapat dari Pulau Heron. Mereka menemukan rangkain sinyal”bunuh diri” mulai kelihatan ketika suhu air laut lebih rendah tiga derajat daripada suhu normal ketika karang mulai mengalami pemutihan.

Lalu terjadilah proses kulminasi dalam apoptosis atau kematian sel yang terprogram. Kondisi ini terjadi dimana organisme hidup (termasuk karang dan manusia) sengaja menghancurkan sel tubuh yang lemah atau terinfeksi. Atau pada intinya adalah bunuh diri sel atau amputasi yang didesain untuk melindungi bagian tubuh lain yang masih sehat.

“Kajian kami menyimpulkan bahwa pengendalian apoptosis sangat sulit pada karang dan alga simbiotik,” jelas salah satu peneliti Tracy Ainsworth. Rangkaian kematian sel apoptosis memegang kunci dalam kehidupan sel yang kritis atau keseimbangan kematian sebelum terjadinya pemutihan karang.

“Sangat jelas bahwa reaksi berantai ini merespon pengubahan harian dari suatu lingkungan dan kenaikan suhu permukaan laut,” ujar Ainsworth.

Maka pengaruh pengubahan lingkungan dan kenaikan suhu, jelas memberikan efek yang nyata sehingga membantah pemikiran yang beredar saat ini bahwa mereka hanya berpengaruh sedikit pada fungsi karang dan alga simbiotik.

Yang sungguh paradoks adalah tim peneliti juga berhasil mengidentifikasi suatu sinyal molekuler unik. Sinyal ini mampu mendukung dan mengecilkan kematian sel yang terprogram pada karang. Artinya dia mampu membuat karang bunuh diri atau justru bertahan hidup.