Informasi Tentang Dunia Teknologi Terkini

Entries categorized as ‘Environment’

Gurita Asal Indonesia Mampu Membuat Rumah Dari Batok Kelapa

Desember 22, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Para ilmuwan Australia telah menemukan gurita di Indonesia yang mengumpulkan batok kelapa untuk dijadikan rumah. Ini bisa jadi merupakan penemuan perilaku tingkat lanjut yang pertama bagi binatang invertebrata (tanpa tulang belakang) yang mampu memakai alat.

Para ilmuwan memfilmkan gurita Amphioctopus marginatus itu yang tengah memilah kumpulan batok-batok kelapa di dasar lautan, mengosongkan isinya, dibawa di bawah tubuhnya sejauh 20 meter, dan kemudian mengatur dua batok sehingga membentuk bola tempat bersembunyi.

Julian Finn dan Mark Normann, dari Musium Victoria di Melbourne, selama beberapa kali mengunjungi Sulawesi Utara dan Bali untuk menyelam, antara periode 1998 sampai 2008, telah melihat aktivitas janggal dilakukan oleh empat gurita berbeda. Penemuan mereka diterbitkan, Selasa (15/12/2009) di majalah Current Biology.

“Saya sampai tercengang,” kata Finn, seorang peneliti pakar biologi dari musium yang berspesialisasi pada Cephalopoda. “Maksudku, aku sering melihat gurita bersembunyi di balik batok kelapa, tapi aku tadinya belum pernah melihat ada yang bisa mengambil batok, dan menariknya. Aku sampai harus menahan tawa.”

Gurita seringkali memakai barang apa saja untuk berlindung. Tapi para ilmuwan telah menemukan bahwa gurita berpembuluh darah itu selangkah lebih maju karena bisa menyiapkan batok-batoknya, dengan cara membawanya cukup jauh, lalu mengaturnya di tempat lain.

“Itu adalah contoh pemakaian alat, yang mana belum pernah ditemukan pada mahluk invertebrata sebelumnya,” kata Finn.

“Bedanya dari umang-umang darat ialah gurita ini mengumpulkan batok-batok untuk digunakan belakangan, jadi ketika memindahkan batok, gurita itu tak terlindungi,” kata Finn. Hal ini unik karena batok itu tak langsung dipakai, berarti gurita itu bisa berpikir untuk masa depan. “Karena bisa mengumpulkan batok untuk digunakan nanti maka gurita ini unik.”

Para peneliti berteori bahwa kemungkinan besar jenis gurita itu dulunya memang bercangkang. Tapi begitu manusia tahu membelah kelapa dan membuang batoknya ke laut, gurita-gurita itu menemukan cara yang lebih baik untuk berlindung, tutur Finn.

Penemuan ini berarti, karena ini menunjukkan bahwa hewan mampu untuk menunjukkan perilaku yang lebih rumit, menurut Simon Robson, lektor kepala bidang biologi tropis dari Universitas James Cook di Townsville.

“Gurita memang menonjol sebagai hewan invertebrata yang cerdas,” Robson memaparkan. “Mereka memiliki indra penglihatan yang cukup berkembang dan otak yang cukup cerdas. Jadi aku rasa penemuan ini menunjukkan kemampuan perilaku rumit yang bisa dilakukan organisme ini.”

Di kalangan ilmiah memang selalu ada perdebatan tentang definisi ‘penggunaan alat’ dalam dunia hewan, menurut Robson. Para peneliti Australia menjabarkan ‘alat’ sebagai barang yang dibawa atau disimpan untuk keperluan mendatang. Tapi ada juga ilmuwan lainnya yang beda pendapat, jadi sulit untuk menentukan dengan pasti apakah ini memang perilaku penggunaan alat pada hewan invertebrate atau bukan, kata Robson. Tapi biar bagaimanapun ia tetap menganggap penemuan ini sangat menarik.

“Ini satu lagi contoh yang membuat kita sadar betapa miripnya manusia dengan alam. Kita hanyalah perpanjangan dari planet ini,” tandasnya.

Kategori: Biology · Environment

Indonesia Siap Kembangkan Senjata Nuklir Karena Sudah Ditemukan Tambang Uranium Di Bengkulu

Desember 20, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamdin, Jumat, mengungkapkan hasil penelitian beberapa ilmuwan menyimpulkan bahwa dalam perut bumi Provinsi Bengkulu ternyata ada kandungan uranium, sumber energi nuklir, namun belum tergali benar.

“Kita masih terus kembangkan penelitian, isu awal itu dijadikan referensi bila memang ada potensinya bisa digunakan untuk kesejahteraan masyarkat,” katanya di Bengkulu, Jumat.

Walaupun tidak menjelaskan secara rinci letak dan keberadaan potensi uranium tersebut, tapi Gubernur menyebutkan bahwa uraniuam selalu dekat dengan keberadaan emas.

Bengkulu sendiri sudah terkenal sebagai penghasil emas, dengan situs pertambangannya yang paling terkenal di Kabupaten Lebong dan sebagian kecil Bengkulu Utara.

Dari situ, Agusrin mencoba menarik kesimpulan sementara bahwa kandungan uranium tersebut diperkirakan juga berada di dua daerah itu.

Uranium adalah salah satu unsur kimia dalam tabel periodik memiliki lambang U dan nomor atom 92.

Uraniam termasuk logam berat, beracun, berwarna putih keperakan dan merupakan unsur radioaktif alami yang termasuk seri aktinida (actinide series).

Isotopnya, 235U ,digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir dan senjata nuklir.

Agusrin mengungkapkan, bila memang potensi itu ada, salah satunya dapat dimanfaatkan untuk menjadi sumber pembangkit tenaga listrik.

Tetapi untuk mengambilnya dibutuhkan biaya besar, terutama pada tahap eksplorasi lebih mengetahui kandungan terukur Uranium dan perlu ada peran pihak ketiga untuk penelitian lebih lanjut.

Sebab jika tak diolah dengan baik akan menjadi bumerang dan membahayakan kehidupan manusia, apalagi jika dipakai bagi kepentingan tak bertanggungjawab.

Namun bila diolah dengan baik dan sempurna dapat mendukung kesejahteraan kehidupan manusia.

“Dahulu pernah ada ada kebocoran pengolahan uranium di Uni Soviet, sehingga radiasinya bisa menyebabkan kerugian bahkan hingga kematian bagi manusia dan benda hidup disekitarnya,” ujarnya.

Radiasi yang dihasilkan Uranium, kata Gubernur, tidak hanya berguna sumber energi seperti listrik dan senjata, namun juga sektor lain, seperti rekayasa genetika dalam bidang kesehatan, peternakan dan pertanian.

Kewenangan atas urusan barang strategis seperti uranium berada di tangan pemerintah pusat, pemerintah daerah tidak mempunyai kewenangan untuk mengolah energi tersebut.

“Jauh lebih penting memagari uranium Indonesia agar tidak dicolong dan digunakan untuk merusak perdamaian dunia. Apalagi Indonesia adalah salah satu penandatangan konsensus internasional uranium untuk perdamaian,” tandas Agusrin

Kategori: Electricity · Energy · Environment · War Machine

Ditemukan Planet Biru Seperti Bumi Yang Sangat Berlimpah Air

Desember 20, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Penemuan “dunia tirta” baru (planet serupa Bumi yang berlimpah air) yang mengorbiti satu bintang dalam jarak 40 tahun cahaya menjadi planet pertama yang diketahui mirip Bumi dan membuat manusia menjadi cukup dekat untuk bisa mengendus atmosfernya, kata para astronom seperti dikutip jurnal Nature.

Dinamai GJ 1214b, ukuran planet ini hanya sekitar 2,7 kali ukuran Planet Bumi dengan massa kira-kira 6,5 kali lebih berat dari Bumi.

Berdasarkan berat jenisnya, para ilmuwan mengira GJ 1214b mengandung 3/4 air likuid dengan inti padat dari besi dan nikel serta atmosfer hidrogen dan helium yang merupakan mirip dengan Bumi.

Namun dalam banyak cara lainnya, planet ini adalah “binatang kejam yang sangat berbeda” dari Bumi yang kita tinggali, kata para ilmuwan.

“Pada dasarnya ini adalah satu samudera luas,” kata kepala peneliti David Charbonneau dari Pusat Astrofisika Smithsonian, Universitas Harvard, Cambridge, Massachusetts.

“(Di planet ini) tidak ada satu pun benua yang mengambang di atas atau menyeruak dari air.”

Lebih dari itu, GJ 1214b lebih panas dibandingkan Bumi dan atmosfernya sepuluh kali lebih tebal dibandingkan planet kita, kata para peneliti.

Hal ini mungkin membuat apapun sulit untuk hidup seperti selama ini kita ketahui. Untuk para pemula, tekanan atmosfer terhadap permukaan planet itu besar sekali dan cahaya yang sangat sedikit sulit menembus kabut demi mencapai samudera planet tersebut.

Planet baru menyerupai Bumi ini tetaplah sangat asing.

Planet Super-Earth baru itu ditemukan dengan menggunakan proyek MEarth, satu unit perangkat teleskop kecil berbasis di Bumi yang digunakan untuk mendeteksi perubahan dari menit ke menit dari kekuatan cahaya bintang-bintang merah nan redup yang disebut dengan M dwarfs (bintang cebol).
]
Kelipan periodikv cahaya bintang bisa disebabkan oleh planet-planet yang secara terpisah transit atau mengitari bintang-bintangnya. Karena bintang cebol M dwarfs lebih buram ketimbang bintang-bintang seperti Matahari, maka menjadi lebih mudah menjejak pengurangan kekuatan cahaya yang disebabkan oleh planet-planet seukuran Bumi yang lebih kecil massanya.

Kendati GJ 1214b tidak langsung terlihat, perubahan pasti dalam cahaya bintang karena jejak perjalanannya, memungkinkan para astronom bisa menakar ukuran dan massa planet tersebut, yang nantinya menawarkan petunjuk-petunjuk terhadap komposisi planet itu.

Dan karena dunia tirta begitu dekat ke Bumi, demikian Charbonneau, teleskop optik yang berbasis di antariksa seperti Hubble atau Kepler bisa seharian digunakan untuk mengendus kandungan kimia pasti dari atmosfer planet serupa Bumi itu.

“Sejumlah cahaya dari bintang cebol itu menembus atmosfer planet serupa Bumi tersebut (seperti cahaya Matahari menembus Bumi), dan menempel pada fitur-fitur atom dan molekul apa saja yang ada,” kata Charbonneau.

Secara keseluruhan, penemuan ini adalah “pencapaian yang menjadi tonggak” yang bisa menutup kesenjangan ilmiah dalam planetologi, kata Greg Laughin, ilmuwan astrofisika pada Universitas California, Santa Cruz, yang tidak terlibat dalam penelitian itu.

“Saya selalu membayangkan seperti apakah bentuk planet bermassa enam kali dari Bumi itu. Kini kita mengetahuinya. Planet itu benar-benar sangat berbeda dari sistem tata surya kita,” kata Laughlin.

Kategori: Astronomy · Biology · Environment

Retakan Tanah Di Gurun Ethiopia Afrika Akan Meluas dan Menciptakan Samudra Baru

Desember 1, 2009 · 1 Komentar

Celah sepanjang 55 kilometer di gurun Ethiopia diperkirakan akan berkembang menjadi samudra baru. Celah selebar 6 meter di beberapa titik tersebut mulai terbuka tahun 2005, dan sejumlah ahli geologi yakin itu akan menjadi cikal bakal samudra baru.

Dalam sebuah penelitian yang melibatkan tim peneliti internasional dan dilaporkan dalam jurnal Geophysical Research Letters, terungkap bahwa proses terbentuknya celah itu serupa dengan yang terjadi di dasar samudra. Aktivitas yang sama saat ini juga terjadi di Laut Merah.

Menggunakan kumpulan data seismik dari 2005, para peneliti mencoba merekonstruksi peristiwa itu untuk menunjukkan bahwa celah itu terbuka sepanjang 55 kilometer hanya dalam waktu beberapa hari. Mulanya, Dabbahu, yang merupakan gunung berapi di ujung utara celah, meletus, lalu aliran magma mendorong melalui tengah-tengah celah dan mulai membuka retakan di kedua arah.

“Kita tahu bahwa pegunungan dasar laut muncul akibat desakan magma seperti ini, tapi kita tak pernah tahu bahwa desakan magma bisa membuatnya terpecah seperti ini,” kata Cindy Ebinger, Profesor Ilmu Bumi dan Lingkungan Hidup di Universitas Rochester.

Hal itu menunjukkan bahwa gunung berapi aktif di sepanjang tepi lempeng tektonik samudra bisa tiba-tiba pecah dalam bagian yang luas, dan bukan dalam bagian kecil-kecil seperti yang diyakini selama ini. Peristiwa retakan yang datang tiba-tiba di daratan akan lebih berbahaya bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya,” ucap Ebinger.

Lempengan Afrika dan Arab yang bertemu di padang terpencil Afar Ethiopia Utara kini mulai merekah akibat proses itu dengan laju kurang dari 1 inci per tahun selama 30 juta tahun terakhir. Celah ini membentuk depresi Afar sepanjang 300 km hingga Laut Merah. Melalui jalur itu, Laut Merah diperkirakan akan mengalir ke rekahan Ethiopia dan membentuk laut baru sekitar sejuta tahun mendatang. Laut baru itu akan menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden, serta Laut Arab antara Yaman di Jazirah Arab dan Somalia di Afrika Timur.

Kategori: Environment · Geology

Mikoriza, Penolong Tanaman di Daerah Kering Karena Bisa Bersimbiosis

September 20, 2009 · 1 Komentar

Jamur jenis Mikoriza yang bersimbiosis dengan tumbuhan ternyata bermanfaat meningkatkan daya tahan tanaman hingga tidak sampai mati, atau layu akibat menipisnya persediaan air didalam tanah selama kemarau panjang.

“Penggunaan jamur mikoriza cocok diterapkan didaerah-daerah yang minus air seperti di Gunung Kidul, Yogyakarta dan NTB,” kata Yayat Rukiat, peneliti dari Balai Litbang Deptan, di Bekasi, Selasa.

Akar tumbuhan yang diselimuti muselium hasil simbiosis dengan mikoriza menjadikan tanaman tahan terhadap menipisnya persediaan air didalam tanah sementara unsur hara pada tanah tetap terpelihara.

Mikoriza sendiri bersimbiosis dengan dua kelompok jamur yaitu hektomikoriza yang biasa digunakan untuk farmasi, akasia dan tanaman perkebunan seperti Melinjo serta pinus. Ia mengatakan, sebanyak 93 persen tumbuhan di dunia berasosiasi dengan jamur mikoriza. Adanya mikoriza juga mempermudah penyerapan unsur hara oleh akar tanaman.

Dengan menggunakan mikoriza maka penggunaan pupuk untuk tanaman juga bisa dihemat seperti kelapa sawit yang membutuhkan banyak pupuk bisa dihemat setengahnya. Akar tanaman yang diselimuti mikoriza juga tahan terhadap serangan hama. “Penyakit akar tak bisa masuk, dan jamur itu juga membentuk unsur phospor pada tanaman,” ujarnya.

Dalam memanfaatkan mikoriza, cara yang tepat dilakukan menurut Yayat adalah ketika pembenihan melalui inkolasi bibit dengan mikoriza. Cara itu telah dikembangkan di balai penelitian dan selanjutnya hasil benih itu akan dipasarkan secara luas.

Jamur mikoriza sudah diterapkan di Gorontalo pada tanaman jagung dengan hasil memuaskan, tahan terhadap penyakit dan penggunaan pupuk lebih hemat.

Kategori: Environment · Genetics

Pemerintah Denmark Tertarik Menjalin Kerjasama Efesiensi Energi BBM Dengan Indonesia Karena Sangat Menjanjikan Keuntungan Yang Besar

Maret 18, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pemerintah Denmark mengutarakan ketertarikannya menjalin kerja sama teknologi efesiensi energi atau bahan bakar minyak (BBM) dengan Indonesia khususnya dengan Sumatera Utara, karena daerah itu memiliki potensi sumber daya alam (SDA) pengganti BBM seperti crude palm oil (CPO) yang cukup besar.

Ketertarikan itu disampaikan Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Borge Petersen ketika bertemu gubernur Sumut, H Syamsul Arifin di Medan, Selasa.

Menurut Petersen, Sumut memiliki potensi CPO yang melimpah dan sangat tepat untuk dimanfaatkan sebagai pengganti BBM yang sumber dayanya terus menipis. “Kita punya teknologi efisiensi energi BBM yang sudah dikembangkan dan kiranya teknologi tersebut sangat tepat untuk diterapkan di Indonesia, khususnya di Sumut,” katanya.

Sumut sendiri tercatat sebagai salah satu produsen CPO terbesar di tanah air. Pada 2006 daerah itu bahkan mengekspor 3,316 juta ton CPO senilai 1.395,44 juta dolar AS lebih, sedangkan pada 2007 Sumut mengekspor sebanyak 1,533 juta ton CPO senilai 1.451,28 juta dolar AS.

Sementara itu, pada 2008 (per-15 Desember) sumut mengekspor sebanyak 1,670 juta ton CPO dengan perolehan devisa mencapai 1.682,64 juta dolar AS.

Pada kesempatan itu Borge Petersen juga menawarkan kerja sama bidang peningkatan kualitas air minum, termasuk teknologi pengolah air limbah dan antisipasi tingkat kebocoran pipa air yang menurut penelitian mencapai 50 persen dari yang didistribusikan ke pelanggan.

Selain itu Pemerintah Denmark juga menawarkan kerja sama peningkatan produktivitas pertanian padi berikut teknologi pembibitannya. “Kami punya teknologi dan pengalaman tentang hal ini. Karenanya melalui kerja sama yang akan dijalin kelak kami berharap pihak swasta bisa dilibatkan untuk lebih menjamin keberhasilannya,” katanya.

Gubernur H Syamsul Arifin mengaku sangat menyambut baik tawaran kerja sama tersebut. “Kita harapkan kabupaten dan kota se Sumut bisa menangkap peluang ini, karena daerah kita sebenarnya punya potensi yang banyak meski dimanfaatkan secara maksimal,” ujarnya.

Syamsul juga mengakui alih teknologi yang ditawarkan Denmark harus bisa disikapi dengan positif. “Terus terang saya bersyukur mulai ada pandangan positif pihak luar terhadap Sumut. Besok (Rabu, 18/3) juga akan datang Dubes Kanada dan Srilanka, dan mudah-mudahan kedatangan mereka bisa membawa kebaikan untuk Sumut dan masyarakatnya,” ujarnya.

Kategori: Bio Fuel · Electricity · Energy · Environment

Kotoran Ikan Ternyata Seperti Pupuk Yang Sehatkan Lautan

Januari 25, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kalau ditanya hewan apa yang paling banyak hidup di lautan, tentu jawabnya adalah ikan. Menurut para ilmuwan ternyata ikan pula yang menentukan baik tidaknya kualitas air laut. Kotorannya ternyata mengendalikan siklus karbon di air laut sehingga tahan terhadap perubahan iklim.

Pemodelan komputer menunjukkan bahwa populasi ikan menghasilkan kotoran yang mengandung karbon anorganik kalsium karbonat dalam kadar tinggi yang bermanfaat untuk mengendalikan keasaman air laut. Selain mengendalikan keasaman, kalsium karbonat yang berwujud putih seperti kapur juga berguna untuk mendukung ekosistem laut dan pembentukan terumbu karang.

“Senyawa tersebut membantu pengendalian jumlah karbon dioksida yang diserap lautan dari atmosfer pada masa depan,” ujar Villy Christensen dari University British Columbia yang melaporkan penelitiannya dalam jurnal Science teranyar seperti dilansir Reuters.

Selama ini, sumber kalsium karbonat hanya diketahui berasal dari organisme renik plankton. Namun, ternyata kotoran ikan menyumbang 3-15 persen kalsium karbonat di laut atau sekitar 110 juta ton per tahun. Itu pun baru populasi bony fish, sekelompok ikan yang tubuhnya bertulang keras saja. Bony fish mewakili 90 persen populasi ikan di samudera. Hiu dan pari tidak masuk dalam kelompok ini.

“Populasi bony fish yang diperkirakan antara 812 juta hingga 2 miliar ekor menekan dampak perubahan iklim melalui siklus karbonnya,” ujar Christensen. Karena dampak perubahan iklim terus meningkat, peranan ikan akan semakain besar dalam mengendalikan siklus kimia lautan di masa depan.

Kategori: Biology · Environment

Tips dan Cara Agar Nyamuk Tak Sebarkan Demam Berdarah

Januari 10, 2009 · & Komentar

Memasuki musim hujan, serangan penyakit demam berdarah dengue patut diwaspadai. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk itu telah menelan banyak korban.

Namun, segala upaya untuk memutus mata rantai penularan penyakit itu masih kurang efektif.

Di tengah ketidakberdayaan melawan demam berdarah dengue di berbagai negara tropis di dunia, sekelompok peneliti Australia didanai miliarder Bill Gates mengklaim telah menghasilkan riset yang dapat membantu memerangi DBD dengan cara menghentikan jalur penularan penyakit itu.

Mereka berhasil menginfeksi nyamuk penyebar penyakit tropis itu dengan bakteri Wolbachia sehingga kemampuannya menularkan dengue ke manusia berkurang.

Caranya, dengan menginfeksi nyamuk pembawa penyakit itu dengan parasit yang memperpendek masa hidup nyamuk itu. Dalam paparan hasil penelitian pada jurnal Science dijelaskan, bakteri Wolbachia menyebar dengan baik melalui uji laboratorium pada nyamuk-nyamuk yang berkembang biak.

Dengue hanya dibawa nyamuk dewasa sehingga membunuh mereka bisa memutus mata rantai penularan DBD. Mereka telah menginfeksi 10.000 embrio nyamuk dengan bakteri itu. Tes itu untuk melihat sejauh mana bakteri itu bisa mengurangi masa hidup serangga tanpa membunuhnya atau mencegah perkembangbiakan mereka

Para peneliti dari Universitas Queensland di Brisbane, Australia, mengambil strain yang dikenal dengan nama Wolbachia untuk memperpendek masa hidup nyamuk vektor DBD. Nyamuk yang membawa virus dengue tak secara alami rentan terhadap bakteri sehingga peneliti membuat nyamuk beradaptasi agar infeksi itu berhasil.

Bakteri itu dapat menyebar dari nyamuk betina yang terinfeksi kepada keturunannya. Hal ini bisa memperpendek masa hidup nyamuk itu dan embrionya.

Penentuan apakah hal itu dapat menghilangkan nyamuk pembawa virus merupakan tantangan tersendiri. Virus itu menyerang manusia saat nyamuk membawa virus tersebut dalam darah. Selama ini pemberantasan nyamuk dilakukan dengan insektisida, tetapi hal ini bisa menimbulkan resistensi nyamuk terhadap paparan bahan kimia.

Potensi Wolbachia sebagai satu jalan pengendalian populasi nyamuk cukup menjanjikan. Studi terakhir menawarkan harapan—meskipun di bawah kondisi laboratorium—bahwa hal itu kemungkinan berjalan efektif. ”Kuncinya adalah hanya nyamuk berusia sangat tua yang dapat menularkan penyakit itu,” kata Prof Scott O’Neill, peneliti.

Ini berarti hanya nyamuk dewasa yang berbahaya bagi manusia dan dengan membunuh nyamuk-nyamuk itu akan mengurangi kemampuan mereka menginfeksi. Upaya ini dinilai jalan murah untuk mengatasi masalah itu, khususnya di daerah urban saat metode lain pengendalian penyakit itu sulit dilakukan

Kategori: Biology · Environment · Health

Mikroba Tenaga Kerja Bioplastik Yang Tidak Kenal Lelah

Januari 9, 2009 · 1 Komentar

Keberadaan mikroba sebagai jasad renik yang sangat beragam jenisnya dan memiliki fungsi sebagai pengurai kini salah satunya telah diubah menjadi ”tenaga kerja” untuk memproduksi bioplastik oleh Khaswar Syamsu. Ia seorang perekayasa dari Institut Pertanian Bogor yang berhasil merekayasa pembuatan plastik terbuat dari bahan pati sagu dan lemak sawit sehingga menjadi plastik ramah lingkungan atau bioplastik.

”Mikroba itu tenaga kerja yang tidak pernah menunggu perintah dan tidak pernah demo,” ujar Khaswar, Kamis (8/1) di laboratoriumnya yang berisi perlengkapan-perlengkapan yang usianya tergolong tua.

Perlengkapan tua itu termasuk bioreaktor buatan Jerman yang dibeli 23 tahun silam atau pada 1986. Bioreaktor itu telah menemani Khaswar setidaknya ketika memulai riset produksi bioplastik sejak tahun 2000 hingga 2006 ketika ia berhasil menemukan metode pembuatan bioplastik dan mendaftarkan patennya.

Sedikitnya ada tujuh uji coba bioplatik yang dilaksanakan. Uji coba itu meliputi kekuatan tarik, elastisitas, perpanjangan putus, sifat termal, derajat kristalinitas, gugus fungsi dalam struktur kimia, dan biodegradabilitas atau keteruraiannya.

Uji coba yang terakhir mengenai keteruraiannya ini, bioplastik hasil rekayasa Khaswar dapat terurai atau termakan mikroba dalam waktu 80 hari.

”Dibandingkan dengan bahan organik lainnya, seperti kertas, laju terurai pada bioplastik ini lebih cepat,” ujar Khaswar.

Menimbun plastik

Khaswar mengutip sebuah referensi yang menunjukkan fenomena yang berlangsung saat ini berupa timbunan plastik sebagai salah satu produk utama sampah yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia. Padahal, sampah plastik itu tidak akan terurai dan akan merusak lapisan tanah.

”Pada 2003 kebutuhan plastik di Indonesia mencapai 1,35 juta ton per tahun. Setelah menjadi sampah, pemerintah hanya mampu mengelola 20-30 persennya. Selebihnya ditimbun ke area pembuangan sampah,” katanya yang kini menjabat Kepala Divisi Rekayasa Bioproses dan Bahan Baru pada Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi IPB.

Pada 2000 dan 2001, Khaswar menggunakan dana riset dari program Riset Hibah Bersaing Direktorat Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan saat itu. Dana riset Rp 29,9 juta per tahun.

Kemudian dilanjutkan pada 2005 dan 2006 menggunakan dana riset dari program Riset Unggulan Terpadu Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Dana riset setiap tahun Rp 97 juta dan Rp 93 juta. Dari kegiatan riset selama empat tahun itulah lalu dihasilkan bioplastik.

Menurut dia, harga produksi bioplastik ini antara lima sampai tujuh kali harga pembuatan plastik konvensional yang terbuat dari bahan berbasis petrokimia atau minyak bumi.

”Negara Korea saat ini berhasil menyimulasikan produksi bioplastik hanya dengan biaya tiga kali biaya pembuatan plastik berbasis petrokimia. Ketika bahan petrokimia yang terbatas dan tidak teruraikan itu ke depan makin mahal, produksi bioplastik akan makin murah dan yang lebih penting ramah lingkungan,” ujar Khaswar.

Mikroba impor

Mikroba yang disebut-sebut Khaswar sebagai tenaga kerja bioplastik, yang bekerja dengan tidak pernah menunggu perintah dan tidak pernah mendemo, adalah Ralstonia eutropha impor dari Jepang.

”Sebetulnya, mikroba itu juga ada di dalam tanah di mana pun di Indonesia ini. Namun, di Indonesia tidak ada badan nasional yang secara khusus menangani masalah pemetaan dan pengoleksian mikroba seperti di Jepang,” kata Khaswar.

Secara terpisah, Kepala Bidang Biologi Sel dan Jaringan pada Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Puspita Lisdiyanti mengatakan, keberadaan badan nasional yang secara khusus menangani pemetaan dan pengoleksian berbagai mikroba di Indonesia belum dirintis.

”Saat ini para peneliti atau perekayasa yang membiakkan mikroba itu hanya menggunakannya demi kepentingan masing-masing. Semestinya, memang ada badan nasional yang secara khusus menangani koleksi mikroba dan pemanfaatannya untuk kepentingan bersama,” kata Puspita.

Pada era ke depan, menurut Puspita, bidang mikroorganisme ini memiliki peranan sangat penting untuk menunjang kehidupan yang berkelanjutan. Mikroba terbukti dapat menciptakan bahan bioplastik sekaligus akan mengurainya kembali. Dengan rantai ini, keseimbangan alam tercipta.

Kategori: Biology · Environment

Kodok Adalah Binatang Paling Rentan Terhadap Perubahan Cuaca dan Akan Punah Paling Awal

Desember 17, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kodok adalah kelompok binatang yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan, seperti polusi air, perusakan hutan, ataupun perubahan iklim. Karena kepekaan mereka, amfibi dapat dijadikan indikator perubahan lingkungan.

Perubahan lingkungan yang dampaknya sangat nyata terhadap kodok jelas terlihat pada turunnya populasi disertai turunnya keragaman jenis. Pada saat ini ada lebih dari 6.000 jenis amfibi di dunia.

Dari 6.000 jenis, 5.915 telah ditelaah statusnya oleh IUCN (International Union for Conservation and Natural Resources). Hasilnya, 1.893 dalam status terancam dan menuju kepunahan. Ancaman utama yang dihadapi kodok saat ini adalah hilangnya habitat (tempat hidup yang sesuai), polusi, pemanfaatan, dan penyakit.

Berawal dari kekhawatiran para ahli kodok di dunia yang tergabung dalam Amphibian Specialist Group—lembaga swadaya masyarakat di bawah naungan IUCN—disepakati tahun 2008 sebagai Tahun Kodok (Year of Frogs). Tujuannya agar kelompok binatang kodok menjadi pusat perhatian dunia, ditambah dengan isu pemanasan global yang mengakibatkan kehidupan mereka semakin rentan.

Diharapkan, dengan ditetapkan sebagai Tahun Kodok, tahun ini kelompok binatang kodok tidak lagi dipandang sebagai kelompok binatang tidak penting dan selalu berada pada posisi marjinal.

Kodok di Indonesia ada 351 jenis yang telah terdeskripsi dengan benar. Sekitar lebih dari 100 jenis dalam proses pendeskripsian menjadi jenis baru, terutama untuk jenis-jenis kodok yang berasal dari Papua.

Masalah utama di Indonesia adalah hilangnya habitat alami kodok, seperti penggundulan hutan hujan tropis, pencemaran air sungai, dan konversi lahan basah menjadi areal perkebunan. Jenis-jenis kodok asli hutan hidupnya sangat bergantung pada keberadaan hutan. Maka, rusaknya hutan akan berdampak negatif pada kelangsungan hidup jenis-jenis itu.

Kerusakan hutan hujan tropis paling besar di Indonesia terjadi di Pulau Jawa karena pulau ini berpenduduk paling banyak, sedangkan lahan yang digarap untuk menunjang kehidupan penduduknya semakin sempit. Karena itu, hutan-hutan yang tersisa di dalam kawasan lindung atau taman nasional mendapat tekanan sangat berat dari aktivitas manusia.

Kerusakan hutan tropis di Pulau Jawa berdampak sangat nyata pada status jenis-jenis kodok yang ada di dalamnya, terutama jenis-jenis endemik (tidak terdapat di pulau lain).

Saat ini diketahui terdapat dua jenis kodok endemik Jawa berstatus kritis (CR), yaitu kodok merah (Leptophryne cruentata)—hanya ada di hutan tropis dataran tinggi Jawa Barat; dan kodok pohon ungaran (Philautus jacobsoni)—hanya ada di hutan tropis Jawa Tengah.

Selain itu, ada empat jenis endemik lainnya yang berstatus rentan (VU), yaitu kongkang jeram (Huia masonii), kodok pohon mutiara (Nyctixalus margaritifer), kodok pohon kaki putik (Philautus pallidipes), dan kodok pohon jawa (Rhacophorus javanus).

Pemanfaatan

Ancaman lain yang sangat nyata berpengaruh pada status populasi kodok adalah dari segi pemanfaatan. Indonesia adalah negara pengekspor terbesar daging paha kodok. Mulai dari jenis penghuni sawah (Fejervarya spp) hingga penghuni perairan berarus deras (Limnonectes spp) yang umumnya berukuran besar (macrodon).

Selain itu, kodok juga sebagai komoditas ekspor bahan baku sarung tangan—dari jenis kodok berkulit kasar (Bufo spp) yang dagingnya mengandung racun. Aktivitas ekspor tersebut menghasilkan devisa negara.

Masalah yang dihadapi adalah pemanfaatan berlebihan sehingga tidak memikirkan apakah 10 tahun ke depan jenis-jenis kodok itu masih ada atau sudah habis di alam. Fenomena pemanfaatan kodok 10 tahun belakangan ini tidak berkelanjutan tanpa peduli pada pelestarian.

Ancaman dari polusi perairan juga jelas nyata berpengaruh pada penurunan populasi dan keanekaragaman jenis kodok. Hampir 80 persen jenis kodok di Indonesia tidak dapat toleransi terhadap polusi air berupa limbah rumah tangga dan logam berat. Mereka biasanya mati pada tingkat metamorfosa (perubahan bentuk) dari telur ke berudu, sedang jenis-jenis yang tahan umumnya akan mengalami cacat tangan atau kaki.

Organ jari tangan kodok yang dinamakan tonjolan ibu jari sangat berperan pada proses kawin kodok; jadi bila bentuknya tidak normal atau tidak tumbuh, maka sangat perpengaruh pada berlanjutnya keturunan jenis kodok. Akibatnya, berangsur-angsur jenis yang tahan terhadap polusi air juga punah.

Ancaman lain, yaitu penyakit disebabkan jamur dan virus. Jamur yang mematikan adalah dari kelompok Chytridiomycota; jamur yang menyerang berudu dan kodok dewasa adalah Batrachochytrium dendrobatidis. Kasus kematian massal kodok karena infeksi jamur banyak dijumpai di dataran tinggi Australia dan juga di Amerika Utara dan Selatan.

Selain itu, Ranavirus juga menyebabkan kematian massal pada kodok di tahap embrio dan berudu. Ranavirus adalah virus dari genus Ranavirus, famili Iridoviridae. Virus ini berukuran besar (diameter 120-300 nm). Kasus kematian massal berudu disebabkan Ranavirus terjadi di Amerika Utara, Eropa, dan Australia. Di Indonesia belum pernah ada penelitiannya.

Menghadapi kondisi seperti itu, masyarakat ilmuwan biologi lingkungan harus berbuat sesuatu untuk mempertahankan kodok jenis-jenis asli Indonesia untuk tidak punah, terutama jenis-jenis yang endemik.

Langkah awal yang diambil Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) adalah dengan menyadartahukan (memberikan awareness) masyarakat sebelum terlambat bahwa dunia kodok di dunia dan Indonesia, khususnya, sedang berada dalam bayang-bayang kepunahan yang pasti.

Usaha penyadartahuan akan berdampak positif bila dimulai dari sekarang pada siswa-siswa sekolah menengah dan mahasiswa. Mereka harus paham betul manfaat dari kekayaan jenis kodok yang terdapat di Indonesia.

Melalui kegiatan pelatihan pengenalan jenis, ekologi, dan perikehidupan kodok dan mengetahui betapa banyak spesimen dari berbagai jenis kodok di Indonesia yang tersimpan di Museum Zoologi Bogor, diharapkan dapat mengubah cara pikir mereka bahwa kodok adalah kelompok binatang yang harus disayangi dengan cara menjaga lingkungan tempat hidupnya.

HELLEN KURNIATI Bidang Zoologi, Puslit Biologi-LIPI

Kategori: Biology · Environment