Arsip Kategori: Energy

Pesawat Solar Impulse Akan Keliling Dunia Tanpa Memakai Bahan Bakar

Pesawat bertenaga surya buatan Swiss dengan nama Solar Impulse, yang terbesar di antara jenisnya di dunia, akan terbang perdana melintasi benua pada Mei atau Juni. Demikian pernyataan perusahaan itu pada Selasa.

Pesawat yang dipiloti bersama oleh Bertrand Piccard dan Andre Borschberg itu akan berupaya terbang perdana sejauh lebih dari 2.500 kilometer dengan lepas landas di Payerne, Swiss barat, kemudian menyeberangi Pyrenees dan Laut Tengah tanpa menggunakan bahan bakar setetes pun hingga akhirnya mendarat di Maroko, Afrika. Tanggal pasti penerbangan tersebut akan diputuskan sesuai dengan keadaan cuaca.

Bertrand Piccard dan Andre Borschberg akan bergantian menerbangkan pesawat dalam perjalanannya selama 48 jam, dengan jadwal pemberhentian pertengahan di dekat Madrid, Spanyol, untuk mengganti pilot.

Penerbangan dengan waktu lama itu akan menjadi gladi resik bagi penerbangan keliling dunia 2014 dan akan memberikan tim sejumlah pengalaman dalam bekerja sama dengan sejumlah bandara internasional, menyatukan purwarupa hingga menjadi bentuk kendaraan udara yang sewajarnya dan mengelola logistik perawatan, kata Borschberg yang juga menjabat Wakil Pendiri dan Direktur Utama Solar Impulse.

Solar Impulse, pesawat pertama yang bisa terbang siang dan malam tanpa bahan bakar minyak atau mengeluarkan gas buang, memiliki rentang sayap selebar 63,4 meter, selebar Airbus A340, dan memiliki bobot hanya 1.600 kilogram.

Pesawat tersebut memiliki 12 ribu sel surya yang dipasang di kedua sayap sehingga dapat memberikan tenaga gerak bagi keempat mesin listriknya.

Pesawat tersebut melakukan terbang perdana internasional dari Swiss menuju Brussels pada 13 Mei 2011 dan menandai penerbangan internasional keduanya ke Paris pada Juni 2011.

Kafein Membuat Pekerja Rajin Semakin Rajin Sedang Amfetamin Membuat Pemalas Jadi Rajin

Efek stimulus kafein hanya berpengaruh pada pekerja yang kehilangan motivasi saat mengerjakan pekerjaannya. Namun bagi para pemalas, kafein tak memberi pengaruh apapun. Demikian simpulan para peneliti di University of British Columbia.

Para peneliti melakukan percobaan mereka di laboratorium dengan tikus sebagai objek penelitian. Mereka membagi tikus menjadi dua kelompok berdasarkan preferensi mereka untuk kesulitan tinggi/penghargaan tinggi atau kesulitan rendah/penghargaan rendah. “Hal ini dilakukan untuk menentukan apakah obat tertentu akan mempengaruhi mereka secara berbeda,” menurut psikolog Jay Hosking, yang melakukan penelitian dengan Catharine Winstanley.

Hasil penelitian, tikus pekerja keras cenderung memilih tugas yang kurang menantang ketika diberikan baik kafein atau amfetamin. Sebaliknya, tikus pemalas memilih tugas yang menantang lebih sering ketika diberikan amfetamin, tetapi menunjukkan tidak ada perubahan ketika diberi kafein.

Alkohol tidak berpengaruh pada pilihan yang dibuat baik oleh pemalas atau pekerja, menurut penelitian yang diterbitkan Rabu di jurnal Nature Neuropsychopharmacology.

Penelitian ini dirancang sedemikian rupa sehingga pilihan tugas tikus mirip manusia membuat pilihan tentang pekerjaan, terutama tugas-tugas yang membutuhkan lebih banyak perhatian dan konsentrasi. Hal ini dilakukan untuk mengukur efek dari obat-obatan seperti kafein dan amfetamin yang digunakan oleh manusia untuk mengatasi kelelahan pikiran.

“Paduan Amfetamin dan kafein mengubah pekerja menjadi pemalas dan amfetamin mengubah pemalas berubah menjadi pekerja,” katanya.

Pemanas Air Berbahan Gas Lebih Sering Bermasalah Daripada Pemanas Air Tenaga Listrik dan Surya Yang Sering Dipakai Di Hotel Bintang 5

Desainer kondang Ade Chandra Kierana alias Adesagi Kierana ditemukan tewas bersama temannya, Randy Yana di kamar mandi sebuah rumah jalan Cimandiri 28 A Bandung, Ahad 1 Januari 2012 lalu. Hasil otopsi yang dilakukan oleh Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, penyebab kematian Adesagi dan Randy diduga akibat keracunan gas karbon monoksida yang berasal dari pemanas air.(baca:Adesagi dan Randi Diduga Tewas Keracunan)

Pemanas air berbahan bakar gas memang banyak dipakai warga kebanyakan. Pemakaian pemanas ini memang menjadi pilihan karena paling tidak, punya dua keuntungan. Selain harganya lebih murah, air panasnya juga cepat jadi.

Namun ternyata, jenis mesin itu paling sering bermasalah, hingga mengundang maut. Menurut teknisi pemasang dan perbaikan alat mesin pemanas air di Bandung, Dadan Darmawan, 28 tahun, seringkali kasus yang ditanganinya karena masalah mesin berbahan gas.

Sedangkan untuk perbaikan pemanas air listrik atau solar (tenaga matahari), ia mengaku sangat jarang menerima panggilan. “Kalau di Bandung kebanyakan memakai gas,” ujarnya kepada Tempo, Selasa, 3 Januari 2012.

Pemakai mesin pemanas air berbahan gas umumnya kalangan rumah tangga. Adapun mesin pemanas di hotel dan villa, kata dia, memakai tenaga listrik “Pakai pemanas gas, mandi jadi nggak nunggu air panas,” kata teknisi berpengalaman 7 tahun itu. Jika memakai tenaga listrik, ujar dia, perlu waktu hingga setengah jam untuk memanaskan air di penampung berukuran 20 liter, atau 1-2 jam untuk 100-200 liter air.

Masalah mesin pemakai gas elpiji yang kerap diperbaiki, mulai dari kerusakan regulator gas, saluran air tersumbat tumpukan kotoran, juga tekanan air yang kurang sehingga mesin tak bisa bekerja. Jika dipaksakan mesin terus dinyalakan, kata Dadan, bisa berbahaya karena gas terus keluar. ”Kalau dinyalakan dengan pemantik api, bisa timbul ledakan di ruangan tertutup, sama saja seperti kompor gas,” katanya.

Penempatan mesin pemanas berbahan gas di dalam ruang kamar mandi yang tertutup rapat, ujar pakar kimia anorganik dan fisik dari ITB Ismunandar, bisa mengakibatkan kematian.

Tanpa ventilasi yang cukup untuk akses gas oksigen, pembakaran mesin pemanas bakal tak sempurna. Akibatnya menghasilkan gas beracun karbon monoksida.baca: Korban Adesagi, Waspada Racun Karbon Monoksida). “Oksigen di ruangan tertutup kan terbatas, dan makin lama makin habis dihirup orang di kamar mandi,” katanya.

Selain berada di bagian atas, ventilasi di kamar mandi pemakai mesin pemanas berbahan gas juga disarankan ada di bawah. Gunanya agar gas karbon monoksida atau karbon dioksida yang berat dan mengalir turun bisa langsung keluar ruangan.

Atau bisa juga, kata Dadan, dipasang blower. Fungsi lainnya untuk mengeluarkan asap dari pembakaran mesin yang apinya berwarna merah karena selang gas kotor. Kondisi aman jika mesin pemanas ditempatkan di luar kamar mandi yang tertutup rapat.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bangun 102 Rumah Dengan Tenaga Surya

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) saat ini tengah meyiapkan tak kurang 102 kavling tanah unyuk membangun sebuah perumahan berkonsep hemat energi bagi para pegawainya, baik dosen maupun karyawan.

Perumahan seluas 100 ribu meter persegi yang terletak di Desa Bangunjiwo, Kasihan, Bantul Yogyakarta itu dibangun dengan menerapkan penerangan sistem `solar cell` yang merupakan hasil penelitian mahasiswa.

“Sistem solar cell ini untuk memanfaatan sinar matahari dengan menggunakan panel surya, yakni panel yang dapat menyerap tenaga matahari untuk disimpan ke dalam baterai dan menjadi energi penerangan, baik perumahan maupun jalan sekitarnya,” kata Wakil Rektor II UMY Suryo Pratolo saat melakukan peletakan batu pertama perumahan itu, Selasa 20 Desember.

Sebanyak 25 unit rumah bertipe 36 dengan luas tanah masing-masing 80 meter persegi mulai dibangun untuk ditawarkan pada pemesan pertama. Rumah itu dirancang sehingga bisa hemat energi. Rumah tersebut dirancang tidak menggunkan Air Conditioner (AC), menghindari cahaya lampu yang berlebih, dan mempunyai sumber energi yang mandiri. “Hal ini juga sebagai upaya memberikan pembelajaran pada masyarakat tentang rumah yang mengkonservasi energi,” kata dia.

Sebagai pengganti efek sejuk, rumah tersebut dibangun menghadap utara atau selatan untuk memanfaatkan hembus angin yang lebih maksimal di wilayah itu. Bagian jendela rumah pun dirancang lebih fleksible sehingga bisa diatur cara pembukaannya dan ventilasi bisa dimaksimalkan. Pengaturan ini juga diterapkan untuk mengatur ketinggian atap atau `ceiling`, `ventilation shaft` untuk mengalirkan udara, plantation, penggunaan lampu LED hemat energi, serta penggunaan `solar water heater`.

Solar Water Heater merupakan alat konversi energi untuk memanaskan air yang memanfaatkan energi matahari sebagai sumber energi dengan menggunakan sistem thermosiphon.

Perumahan ini, lanjut Suryo, disediakan untuk seluruh pegawai UMY meliputi karyawan dan dosen. “Rumah ini diberikan dengan pinjaman lunak dan diangsur sampai 15 tahun,” kata dia.

Sementara Rektor UMY Dasron Hamid mengatakan program perumahan pegawai menjadi satu bentuk kepedulian UMY kepada para pegawai.
“Harapannya dengan kemudahan ini, pegawai akan lebih fokus dalam meningkatkan kinerja,” kata dia.

Tesla Luncurkan Roadster Mobil Sport Kecepatan Tinggi Hingga 392 mph Bertenaga Listrik Murni

Produsen mobil listrik asal Palo Alto, California, Amerika Serikat, Tesla Motors, menjual 150 ribu unit Roadster bertenaga setrum besutannya di 30 negara lebih. Menurut pabrikan itu, Tesla menyumbang penghematan bahan bakar hingga 500 ribu galon atau sekitar 1,9 juta liter.

artinya keberadaan mobil tersebut telah menyumbang mengurangi emisi CO2 setara 5,3 juta kilogram. “Kami telah berhutang kepada pengendara Roadster di seluruh dunia karena menjadi pionir pengguna kendaraan listrik,” kata Elon Musk, pendiri sekaligus Kepala Eksekutif Tesla Motors dalam autoevolution.com, Selasa 29 Maret.

Tesla pertama kali meluncurkan Roadster pada 2008. Mobil sport merupakan mobil bertenaga setrum murn. Jika terisi baterai penuh, Roadster mampu melesat hingga 392 kilometer per jam (kpj). Adapun sprint atau kecepatan gerak dari 0 – 100 kpj dicapai hanya dalam tempo 3,7 detik.

Musk menambahkan produknya terbukti sebagai kendaraan kelas dunia. “praktis dan menyenangkan,”katanya.

Oktober 2010, saham Tesla dibeli Toyota senilai US$ 50 juta atau sekitar Rp 445,2 miliar. Toyota juga berinvestasi US$ 60 juta atau sekitar Rp 534,24 miliar untuk pengembangan Crossover Toyota RAV4 dengan teknologi listrik milik Tesla.

Teori Baru Runtuhnya Menara WTC

Menara kembar pencakar langit World Trade Centre (WTC) di New York, yang dihantam dua pesawat pada 11 September 2001, tidak runtuh akibat kebakaran, tetapi akibat melelehnya aluminium dua pesawat tersebut. Demikian laporan harian Belanda, Spits, yang terbit dengan “Teori Baru Mengenai 9/11″, sebagaimana dikutip Radio Nederland, Kamis (22/9/2011).

Keruntuhan disebabkan oleh kombinasi melelehnya dinding aluminium akibat suhu panas yang luar biasa ditambah semburan air dari alat-alat pemadam kebakaran otomatis di setiap ruangan. Itulah yang menyebabkan ledakan yang menghancurkan konstruksi bangunan.

Laporan harian itu berdasarkan hasil penelitian Christian Simensen, seorang ilmuwan Norwegia, yang disampaikan dalam sebuah kongres teknologi di San Diego, Amerika Serikat. Simensen bekerja di sebuah lembaga penelitian Norwegia, Sintef.

Simensen mengambil contoh percobaan yang dilakukan oleh pabrik aluminium Alcoa beberapa tahun lalu. Para ilmuwan mencampur 20 kilogram aluminium yang meleleh dengan 20 liter air. Serta merta, timbul ledakan dahsyat yang menghancurkan ruangan laboratorium dan membuat lubang selebar 30 meter. Kandungan aluminium kedua pesawat yang menghantam kedua gedung World Trade Centre New York mencapai 30 ton.

Teori Simensen cocok dengan keterangan saksi mata yang mendengar ledakan dahsyat saat kedua gedung pencakar langit World Trade Centre runtuh. Ledakan hebat tersebut sampai menimbulkan tuduhan bahwa kedua gedung itu sengaja diledakkan oleh aparat keamanan Amerika.

Menurut Spits, selama sepuluh tahun, Pemerintah Amerika Serikat melakukan berbagai penelitian mengenai penyebab runtuhnya kedua gedung pencakar langit itu.

Volvo Berhasil Kembangkan Mobil Listrik Dengan Jarak Tempuh 1000 KM Untuk Sekali Pengisian Baterai

Volvo membuat langkah baru dengan proyek pengembangan mobil listrik “Range Extender” yang mampu menempuh jarak 1.000 km. Proyek ini dilakukan perusahaan mobil asal Swedia tersebut karena keterbatasan mobil listrik saat ini kemampuan jelajahnya terbatas. Range Extender adalah mobil listrik yang dilengkapi dengan mesin bensin (motor bakar).

Menurut Volvo, proyek ini mendapat bantuan dari Swedish Energy Agency dan Uni Eropa. Untuk ini Volve mengembangkan tiga kombinasi konsep teknologi dan diharapkan sudah bisa dilakukan uji-coba pada kuartal pertama 2012.

“Ini menunjukkan kami makin fokus dalam pengembangan mobil listrik. Selama mobil listrik punya keterbatasan, yaitu harga dan ukuran beterai. Akibatnya, jarak tempuh jadi sangat terbatas, tergantung jenis baterai dan ukuran. Dengan Range Extender, mobil listrik secara efektif bisa menambah jarak tempuhnya ribuan kilometer, namun bisa emisi di bawah 50 g/km,” beber Derek Crabb, Vice President Power Train Engineering Volvo Car Corporation.

Pengembangan teknologi mengarah menyatukan tiga teknologi berbeda, mesin bensin 3-silinder membantu motor listrik memutar roda depan. Semua konsep dilengkapi dengan brake energy renegeration atau regenerasi energi rem.

Mesin bensin yang digunakan juga bisa diberi asupan etanol (E85). Dua konsep dicoba pada Volvo C30 Electric. Untuk ini Volvo harus melakukan modifikasi antara lain ukuran baterai diperkecil sehingga mesin bensin dan tangki bahan bakar bisa dipasang tanpa menimbulkan masalah baru.

Konsep I: Hubungan Seri
Menggunakan mobil listrik Volvo C30. Untuk ini digunakan mesin bensin 3-silinder bertenaga 60 PS (945kW) ditaruh di bagasi belakang. Tangki bensin berkapasitas 40 liter.

Mesin dihubungkan ke generator 40 kW. Tenaga yang dihasilkannya digunakan untuk memutar motor listrik dengan tenaga 111 PS atau (82 kW). Penggemudi juga bisa memilih dan memanfaatkan generator untuk mengisi baterai.

Dengan cara ini, jarak tempuh baterai juga bertambah bila digunakan untuk menjalankan mobil. Total jarak tempuh gabungan ini 1.000 km. Kalau hanya menggandalkan energi baterai murni, sekitar 110 km.

Konsep II: Hubungan Paralel
Mobil memperoleh tenaga dari mesin 3-silinder yang ditempatkan di belakang dengan tangki bensin juga 40 liter. Perbedaan dengan konsep pertama, versi ini sumber tenaganya terhubung secara paralel. Untuk ini digunakan mesin bensin turbo 190 PS yang bekerja memutar roda belakang melalui transmisi otomatik 6-percepatan.

Dengan cara ini, efisiensi mobil ketika dikebut di jalan tol lebih baik. Pasalnya, mobil tenaga hanya mengandalkan tenaga listrik dari baterai,juga yang dihasilkan mesin bensin melalui generator. Untuk ini digunakan generator 40 kW.

Motor motor listrik yang digunakan menghasilkan tenaga 111 PS (82 kW). Kedua sumber penggerak itu kalau digabung akan menghasilkan tenaga 300 PS dan diperkirakan mampu sprint 0 –100 km/jam dalam 6 detik. Range Extender 1.000 km, sedangkan dengan baterai saja 75 km.

Konsep III: V60 Paralel
Pada konsep ini, seluruh paket penggerak berada bagian depan (ruang mesin). Motor listrik 111 PS dilengkapi dengan mesin bensin turbo yang menghasilkan tenaga 140 kW, transmisi otomatid 2-tahap dan generator 40 kW. Tenaga dari mesin bensin menggerakkan roda depan melalui transmisi dan mengisi ulang baterai bila diperlukan.
Sampai kecepatan 50 km/jam, mobil selalu mengunakan tenaga listrik. Mesin bensin akan bekerja pada kecepatan tinggi. Selain itu, mesin bensin ini juga bertugas mengisi baterai bila energinya sudah berada di bawah batas yang telah ditentukan.

Baterai ditempatkan di bagasi belakang dan menghasilkan jarak tempuh 50 km (energi dari baterai saja). Kapasitas tangki lebih besar, 45 liter dan dirancang bisa menggunakan bensin dan etanol. Jarak tempuh total 1.000 km.

“Melalui tiga proyek tersebut memungkinkan kami mengevaluasikan berbagai kemungkinan Range Extender. Antara lain mobil listrik C30 dan Hibrida Plug-in V60. Sasarannya, menekan emisi karbondioksida tanpa mengurangi kebutuhan, kenyamanan dan kepraktisan menggunakan mobil,”tegas Derek Crabb.

Volvo merupakan produsen mobil yang paling lengkap melakukan berbagai pengujian terhadap kendaraan yang dibuatnya, terutama aspek keamanan. Nah, berkenaan dengan niat perusahaan itu memproduksi mobil listrik, yaitu C30 Electric, berbagai tes pun dilakukan.

Salah satu tes yang menarik dan sangat mempengaruhi kinerja baterai adalah suhu dingin. Untuk itu Volvo menguji mobil listriknya pada minus 20 derajat celcius. Ternyata, menurut perusahaan tersebut, mobil listrik yang dibuatnya bisa beroperasi dengan lancar.

Dijelaskan, tes suhu di bawah nol dilakukan karena Volvo menerapkan kriteria tes yang sama dengan mobil konvensional yang dibuatnya. Khusus untuk mobil listrik, beberapa metode tes baru dikembangkan sehingga bagian yang dites mencapai 200 item.

“Kami harus memastikan, C30 Listrik tetap bekerja dengan baik ketika dijalankan, parkir dan mengisi baterai pada berbagai kondisi, dari suhu normal sampai sangat dingin dan panas. Utara Swedia merupakan tempat paling pas untuk melakukan tes di bawah nol derajat,” jelas Lennar Stegland, Direktur Khusus Volvo Cars.

Volvo C30 dites dengan tiga sistem pengatur suhu. Pertama menggunakan pemanas dan pendingin untuk penumpang . Kedua, penggunaan pendingin dan pemanas untuk baterai (bila diperlukan). Selanjutnya, motor listrik dan “power electronic” atau kontrol elektronik didinginkan dengan menggunakan air.

Pemanas Bio-Etanol
Pada tes ini, Volvo mengatakan, berhasil membuat solusi inovatif, yaitu membuat pemanas tanpa mengorbankan kinerja baterai (jarak tempuh). Untuk ini, Volvo menggunakan pemanas bio-etanol yang dipasang di mobil. Tangki yang digunakan dapat membawa 14,5 liter bio-etanol.

Pemanas tersebut juga bisa memanfaakan listrik dari baterai. Pada mode listrik, digunakan pemanas celup yang menghangat pendingin pada suhu dingin. “Pengemudi bisa memogram dan mengontrol unit pengatur suhu sesuai dengan kondisi perjalanannya. Pemanas etanol adalah mode dasar. Dengan cara ini jarak tempuh kendaraan dengan baterai makin jauh. Untuk jarak pendek, bisa mengoperasikan sistem pengatur suhu listrik yang memperoleh energi dari baterai,” jelas Lennart Stegland.

Sistem pengisian baterai tanpa kabel atau nirkabel (wireless), bisa juga tanpa colokan atau stekker untuk mobil listrik dan hibrida plug-in, makin diminati produsen mobil dunia. Kalau sebelumnya, Toyota sudah memproklamirkan bekerja sama dengan WiTricity (AS) untuk mengembangkan sistem pengisian nirkabel, kini giliran Volvo bekerjasama dengan perusahaan Belgia.

Cara ini dianggap lebih nyaman dan menyenangkan. Karena pemilik mobil tak repot menggulung kabel usai mengisi atau manarik ketika akan mencolokkan ke stop kontak. Versi terbaru – sebenarnya masih dalam tahap pengembangan – mobil yang akan diisi baterainya diparkir di atas pelat pengisi (charging plate) yang tersembunyi di bawah lantai atau permukaan jalan.

Pengisian nirkabel yang dikembangkan Volvo –melalui kerjasama dengan Flander Drive dari Belgia – adalah sistem induksi. Dengan sistem ini, energi listrik dipindahkan dari sumber pengisi ke mobil tanpa menggunakan kabel. Dengan cara ini pula, terjadi perubahan atau modifikasi pada sistem pengisian yang berada di mobil.

“Target utama harus menyenangkan pemilik mobil listrik,” jelas Johan Konnberg, manajer proyek dari Divisi Kendaraan Khusus Volvo Car Corporation. Pada proyek ini Volvo menggunakan C30 listrik yang harus dimofikasi dulu sistem pengisiannya.

Cara Kerja Pengisian induktif, pelat pengisi ditanam di bawah tanah, misalnya di bawah permukaan jalan ke rumah atau di garasi. Pelat pengisi terdiri dari koil yang membangkitkan medan magnetik bila dialiri oleh arus listrik.

Nah, ketika mobil diparkir di atasnya, energi dari pelat dipindahkan ke tanpa kontak fisik ke koil “penarik” induksi pada mobil. Arus dipindahkan dalam bentuk arus bolak-balik (AC).

Selanjutnya pada mobil, arus listrik diubah menjadi arus searah (DC) melalui konverter untuk mengisi baterai. Khusus pada Volvo C30 Listrik, kapasitas baterainya mencapai 24 kWh, membutuhkan waktu sekitar 1 jam satu jam 20 menit untuk pengisian penuh.

Ditambahkan, Volvo akan mengirimkan 250 mobil listrik kepada pelanggan terpilih mereka di Eropa pada semester kedua tahun ini. Ini merupakan langkah untuk mengakselerasi masyarakat menggunakan memilih mobil listrik!

Energi Hijau Lebih Berpeluang Di Indonesia Daripada Energi Nuklir

Pengembangan energi terbarukan saat ini lebih berpeluang dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga nuklir. Saat berkunjung ke Jepang pekan lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, Indonesia tidak akan membangun PLTN selama masih ada sumber energi lain.

”Presiden Yudhoyono berada di jalur yang tepat untuk memilih sumber listrik selain PLTN,” kata juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara, Arif Fiyanto, Kamis (23/6), di Jakarta.

Arif mengatakan, ancaman bahaya PLTN lebih besar dibandingkan dengan keuntungannya. Sebaliknya, sumber energi terbarukan tak ada ancaman. ”Ini menjadi sinyal bagi pemerintah untuk mencoret rencana pembangunan PLTN dan segera beralih pada pembangunan sumber energi terbarukan seperti panas bumi, tenaga surya, dan angin,” katanya.

Pakar teknologi nuklir yang pernah bekerja di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Iwan Kurniawan, mengatakan, tidak dibangunnya PLTN bukan berarti ahli-ahli nuklir di Batan akan menjadi pengangguran. Teknologi nuklir masih perlu mendapat perhatian serius untuk meningkatkan perekonomian di bidang pertanian dan kesehatan.

”Persoalannya mungkin pada anggaran yang telanjur dialokasikan sebesar Rp 450 miliar untuk periode 2011-2013 untuk studi lokasi di Bangka Belitung dan sosialisasi PLTN,” kata Iwan. Dana sebesar itu termaktub dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014.

”Dana itu akan lebih bermanfaat untuk pengembangan riset teknologi nuklir lain, termasuk kemungkinan untuk mengembangkan kemampuan memproduksi komponen PLTN seperti selongsong bahan bakar nuklir,” kata Iwan

Mata Manusia Terbukti Mampu Melihat Medan Magnetik

Binatang yang sering bepergian jauh seperti kura-kura dan paus bungkuk bisa mengindera medan magnetik bumi sebagai alat bantu navigasi. Namun, dalam sebuah penelitian terbaru ditemukan bahwa manusia juga memiliki bakat melihat medan magnetik itu.

Kemampuan melihat medan magnetik pada manusia berasal dari protein cryptochrome yang tersimpan di dalam mata. Protein unik ini membantu binatang mengenali medan magnetik saat bermigrasi jarak jauh.

“Mungkin kemampuan melihat medan magnet bisa dianggap sebagai indra keenam pada manusia,” ujar peneliti dari University of Massachusetts Medical School, Steven Reppert kepada LiveScience.

Untuk membuktikan kemampuan melihat medan magnet pada manusia, peneliti memasang protein cryptochrome ke tubuh lalat buah yang telah dililit kumparan. Lalat buah sendiri diketahui tidak memiliki cryptochrome.

Selanjutnya, peneliti mengalirkan arus listrik melalui kumparan sehingga terjadi induksi magnetik. Dengan mengubah posisi induksi dan kekuatan medan magnet, peneliti menemukan lalat buah dalam percobaan ini menjadi sensitif terhadap medan magnet.

Saat ini Reppert melanjutkan penelitiannya pada cara kerja otak membaca informasi dari protein cryptochrome. “Pada tingkat dasar, kami tertarik bagaimana informasi dari cryptochrome dipindahkan ke sel saraf,” ujarnya.

Peneliti lain dari University of Illinois, Klaus Schulten, yang tidak terlibat dalam penelitian ini menyambut temuan Reppert. “Laporan di dalam makalah penelitian ini sangat mengagumkan,” kata dia.

Menurut dia, efek protein cryptochrome sebagai penyerap medan magnetik baru bisa dipastikan pada lalat buah. Namun, manusia bisa saja membutuhkan protein ini dalam tahapan evolusi sebelumnya. “Sangat beralasan jika manusia memiliki respons terhadap medan magnet. Akan sangat menguntungkan bagi manusia zaman dulu,” kata Schulten.

Pembangkit Listrik Tenaga Mikroba Ditemukan Oleh Tim Dari University of East Anglia di Inggris

Mikroba ternyata dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik alami. Menurut para ilmuwan, organisme mikroskopik yang sebagian besar berupa satu sel ini mampu melepaskan muatan listrik kecil.

Salah satu mikroba bermuatan listrik yang telah ditemukan memiliki “kabel” super kecil yang ‘keluar’ dari dinding sel mereka. Menurut laporan Jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, Amerika Serikat, dari ‘tentakel’ kecil itu, bakteri tersebut membersihkan diri dari minyak atau polusi uranium.

“Temuan ini dapat digunakan sebagai alternatif sumber listrik,” kata penulis utama Tom Clarke dari University of East Anglia di Inggris.

Dengan ditemukannya struktur mikroba tersebut, maka peneliti dapat membuat desain elektroda khusus supaya bakteri tadi dapat melepaskan energi listriknya dan bisa digunakan manusia.

Saat ini, para peneliti itu sedang membuat sebuah perangkat menyerupai baterai yang diisi dengan mikroba berlistrik. Baterai tersebut rencananya dapat digunakan sebagai tenaga lampu atau telepon selular.